About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Friday, November 2, 2007

Kembar Tiga

TIGA bayi kembar lahir dengan selamat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kebumen, Rabu (24/10). Ketiga bayi berjenis kelamin perempuan itu lahir dari rahim Sri Hastuti (33) istri Arifin (37) warga Jetis RT 2 RW III Desa Kutosari, Kebumen melalui operasi caesar.
Operasi di yang ditangani dokter Suroso SpOG dan anastesi oleh dokter Rahmat itu berjalan cukup sukses. Jeda kelahiran tiap bayi yang semuanya mempunyai tinggi 40 cm tersebut hanya terpaut sekitar dua menit.

Bayi pertama dengan berat badan 2 Kg lahir pukul 12.20, disusul bayi kedua dengan berat 2,1 Kg pada pukul 12.22, dan bayi ketiga dengan berat badan 1,9 Kg. Ketiga bayi mungil yang belum diberi nama itu hingga kemarin masih dirawat secara intensif di ruang inkubator rumah sakit.

Adapun kesehatan bayi yang dilahirkan dalam kondisi sehat dan normal. Berat badan ketiga bayi kembar itu juga normal. Selain itu, dari observasi medis diketahui dari pernafasan, gerakan, warna kulit, nadi, dan reaksi rangsang ketiga bayi itu juga cukup bagus. "Paska operasi di Instalasi Bedah Sentral, kondisi ketiga bayi cukup sehat," ujar Erawati Kepala Ruang Perinatologi Risiko Tinggi (Peristi) RSUD Kebumen.

Menurut dia, di rumah sakit itu kelahiran bayi kembar tiga merupakan peristiwa yang langka. Bayi kembar tiga pernah lahir di rumah saki tersebut, tapi sudah beberapa tahun yang lalu. "Biasanya hanya bayi kembar dua," ujarnya.


Sementara itu SRI Hastuti (33) masih terbaring lemah di ruang pemulihan RSUD Kebumen, Kamis (25/10). Maklum sehari setelah operasi caesar untuk mengeluarkan ketiga bayi kembarnya, kondisi perempuan itu masih belum stabil.

Rupanya ingin sekali ia melihat buah hatinya yang masih dalam perawatan intensif di ruang inkubator. Namun kondisi tubuhnya yang masih lemah, memaksa ia harus bersabar menunda melihat senyum darah dagingnya.

Warga Jetis RT 2 RW 3 Desa Kutosari Kebumen itu tiba-tiba terharu setelah melihat sejumlah gambar tiga bayi mungil yang berjajar dari LCD kamera Suara Merdeka. Senyuman bahagia mengembang dari bibirnya yang agak kering. Matanya seolah tak ingin lepas dari pandangan. Matanya berkaca-kaca, meski air mata kebahagiaan itu tidak sampai tumpah dari kelopak matanya. "Saya bahagia, karena bayi saya sehat semua," ujar Sri Hastuti dengan masih terbaring lemah.

Bagi istri Arifin (37) itu, kehamilan ketiga bayi kembar itu merupakan kehamilan yang ketiga kali. Kehamilan pertama tahun 1997 melahirkan anak laki-laki bernama Tiar Mei Pratama. Kini bocah laki-laki itu berumur 10 tahun dan sudah duduk di bangku kelas lima sekolah dasar.

Sementara kehamilan kedua, setahun silam yakni tahun 2006 mengalami keguguruan dalam kandungan. Pada kehamilan ketiga, ia maupun suaminya tidak pernah terbersit bahwa di dalam kandungan itu terdapat tiga bayi kembar yang akan lahir ke dunai. Ia baru mengetahui jika kandungannya terdapat tiga bayi setelah usia kehamilan delapan bulan. Hal itu diketahui dari hasil USG yang diberikan dokter Hari Suprapto. Bahkan, sebelum itu dia dan suaminya telah mempersiapakan dua alternatif nama untuk diberikan pada si jabang bayi yang lahir. Jika bayi yang dilahirkan laki-laki akan dinamakan Akbar Aditia. Namun bila berjenis kelamin perempuan nama cantik sudah disiapkan, yakni Alika Dwi Sasmita. "Lha, karena bayinya tiga orang, kami bingung nama itu akan diberikan kepada siapa," imbunya. Namun ada yang ikut mengusulkan, agar nama Alika Dwi Sasmita yang rencananya itu dimasukkan sebagai salah satu bagian dari nama ketiga bayi tersebut. Namun ia mengaku belum mempunyai rencana akan memberi nama kepada ketiganya. Sementara itu, selama mengandung, Hastuti merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Sejak masih usia empat bulan, kandungannya sudah tampak besar. Ia juga merasakan kandungan yang dialaminnya terasa lebih berat dari pada kehamilan sebelumnya. Namun demikian ia tidak pernah menyangka dirinya akan melahirkan bayi kembar. Apalagi tiga sekaligus. Terus terang senang dan bingung, katanya. Senang karena ia dikarunia Tuhan tiga orang bayi yang lucu. Di sisi lain juga bingung bagaimana membesarkan ketiganya sekaligus. Di tengah biaya sekola yang tinggi, tentu berat menyekolahkan tiga orang sekaigus. Maklum, suaminya yang hanya bekerja sebagai karyawan toko alat-alat sekolah di bilangan A Yani hanya pas-pasan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Kendati demikian, ia tetap percaya bahwa setiap anak mempunyai rejekinya sendiri-sendiri. Ia pun kemudian tersenyum lebar, saat berpikir jauh kedepan. Bagaimana repotnya pada waktu lebaran harus membelikan tiga baju kembar untuk ketiga buah hatinya.

"Kami bersyukur, telah diberi anugerah Tuhan berupa bayi kembar tiga," katanya menyebutkan dari kakek buyutnya memang mempunyai gen kembar.

Friday, September 14, 2007

Ziarah

NURSIDAH (28) tampak khusuk berdoa sembari menengadahkan kedua tangannya di hadapan pusara orangtuanya di pemakaman Desa Karangraja, Petanahan, Rabu (12/9). Dibantu adik dan anak semata wayangnya, perempuan yang kini ikut suaminya tinggal di Desa Sugihwaras Kecamatan Adimulyo itu, terlebih dahulu membersihkan nisan tersebut.
Memang, sejak tinggal beda kecamatan, ia mengaku tak bisa rutin mengunjungi makam bapak ibunya. Hanya hari-hari tertentu saja, seperti peringatan meninggal (haul), bulan-bulan besar seperti sehari menjelang Idul Fitri, serta saat ia akan punya gawe. "Selebihnya, hanya mendoakan usai sholat lima waktu agar mereka diberikan tempat yang baik di sisi Allah," ujarnya usai ziarah, Rabu (12/9).

Kendati sudah berbeda alam, kata dia, dirinya merasa masih ada kedekatan emosional layaknya ketika kedua orangtuanya masih hidup. Oleh karenanya, ia membagi kebahagiaan dengan berdoa dan membacakan ayat-ayat Alquran yang ia bisa. "Karena saya sudah tidak bisa berbakti secara fisik, yang bisa saya lakukan adalah mendoakan," imbuhnya.

Bagi sebagian umat Islam terutama di Indonesia, ziarah kubur sudah menjadi tradisi.
Mendatangi pusara orang tua, atau keluarga yang sudah meninggal membawa perasaan haru tersendiri. Tentunya hal itu mengingatkan bahwa suatu saat, entah kapan mereka akan menyusul. Atas alasan itu pula, Muhammad Amari warga Adikarso, Kebumen menyempatkan diri ziarah ke makam almarhumah istrinya.

Sebelum pergi bertugas, anggota Polri yang dinas di Polsek Ambal itu mampir ke kompleks pemakaman Si Jago, Desa Selang, Kebumen. Lengkap dengan seragam Polri, pria asli Cepu, Blora yang sudah 27 tahun tinggal di Kebumen itu khusyuk berdoa di hadapan nisan istrinya yang sudah meninggal setahun silam.

Tak lupa, ia juga turut berdoa di makam keluarga mertua yang dikuburkan tidak jauh dari makam istrinya. Sejak pagi hingga sore, jumlah peziarah yang datang ke makam tersebut cukup banyak. Puncaknya sekitar pukul 15.30-17.00. Sejumlah rombongan berduyun-duyun mendatangi pemakaman yang terletak di pertigaan Jalan Si Jago tersebut. "Harus disempatkan, sekalian ketemu kelurga di kampung, Mas" ujar Kirmanto peziarah yang kini bekerja di Surabaya.

Sebelumnya, sejumlah ahli waris di pemakaman tersebut melakukan kerja bakti bersih-bersih kubur. Warga bergotong-royong membersihkan rumput yang mulai tumbuh subur di sekitar nisan leluhurnya.

Mencari Ikan dan Keindahan di Pantai Manganti



Bahu membahu mendaratkan perahu
PESISIR selatan di Kebumen mempunyai potensi yang tak akan habis digali. Pantai ini menjadi tantangan tersendiri bagi investor yang berminat mengembangkan investasi. Sebab, sampai hari ini keindahan dan kekeyaan alam itu masih saja bersembunyi di balik gugusan bukit dan karang. Tidak berlebihan jika wilayah wisata Kebumen dimasukkan ke dalam 33 tujuan wisata unik di Indonesia.
Beristirahat sejak, menikmati angin pantai.
Meski usia tak lagi muda, semengat bekerja tetap membara.

Dalam sebuah artikel wisata, objek wisata di Kebumen disejajarkan dengan keunikan wisata Citarik, ekowisata Gunungmas, petik stroberi di Ciwidey Bandung, bursa permata di Rawa Bening, Ujung Genteng
Sukabumi, ekowisata Gunung Halimun dan sejumlah objek wisata lainnya. Memang ada bermacam keindahan yang dapat dinikmati di pesisir selatan Kebumen. Gua Jatijajar, Gua Petruk, dan puluhan gua lain, serta wisata Pantai Logending, Ayah, Petanahan, Karangbolong, dan Pantai Manganti yang terkenal dengan gudang lobsternya.


Menghitung raman, alias nilai produksi barhari.
Di antara pantai itu, Manganti atau Menganti adalah satu pantai yang mempunyai keunikan tersendiri. Meski belum setenar Logending, keindahan pantai itu luar biasa. Di kawasan tersebut terdapat gugusan bukit dengan panorama sangat manawan yang dinamakan Tanjungbata. 
Ratusan perahu terparkir di  Pantai Menganti.
Kerasnya ombak pantai selatan tidak menggoyahkan tebing karang yang tegar. Bentuk karang laut inilah yang membuat lokasi itu disebut sebagai Tanjungbata. Yakni karena bentuknya yang mirip batu bata raksasa yang tersusun rapi. Dari atas ketinggian itu, mata akan bebas melempar padangan ke birunya samudera hindia.

Ikan hasil tangkapan hari ini.
Dibandingkan pantai lainnya, Manganti sedikit sulit terjangkau karena lokasinya yang tersembunyi di balik bukit di Desa Karangduwur, sekitar tujuh kilometer dari Pantai Ayah. Wisatawan bisa menempuh dengan mobil atau sepeda motor untuk menuju lokasi itu. Perlu hati-hati karena untuk sampai harus melewati jalan terjal berbukit. Namun jangan khawatir, semua lelah itu pasti terobati setelah pandangan Anda menyapu bukit yang berwarna keperak-perakan. 
Yang menarik pantai itu adalah pasir putihnya yang menawan. Jika
pernah ke Pantai Kuta Bali, maka dipastikan kekaguman yang sama ketika melihat pasir putih di Pantai Manganti. Tak hanya ada keindahan, pantai ini merupakan tempat yang tepat mencari ikan. Ratusan perahu nelayan berjajar di parkiran bibir pantai.


Pasir putih Pantai Menganti terlihat dari atas bukit.
Menjelang sore para nelayan mulai bermunculan dari tengah lautan. Bermula dari titik kecil, biduk yang perlahan membesar mendekati daratan membawa hasil
Ini ikan tangkapanku!!!!
tangkapan. Kedatangan mereka disambut para pedagang ikan yang menunggu di tempat pelelangan ikan. MAU?

Monday, August 20, 2007

merti dusun

RATUSAN warga Desa Jambidan Kecamatan Pleret, Bantul pada berebut gunungan pada Merti Dusun, Sabtu (19/8). Merti dusun yang digelar setiap tahun ini bagi masyarakat setempat dipercaya membersihkan desa dari sengkala atau marabahaya.

Foto ini aku ambil pas nganterin 'aacuppu' liputan untuk laporan budaya. Seperti biasa, nganterin sekaligus jadi juru jepret andalannya...

Friday, August 3, 2007

kades haryanto

DENGAN sistem demokrasi, siapa saja mempunyai kesempatan untuk menjadi seorang pemimpin. Karena pemimpin tidak hanya harus datang dari kalangan ningrat, rakyat jelata pun bisa melahirkan seorang pemimpin. Teguh Haryanto (36) warga Desa Wonosari, Kebumen membuktikannya. Seorang tukang becak yang biasa mangkal di Pasar Jatisari itu, oleh masyarakat setempat dipilih menjadi orang nomor satu di desanya. Pada Pilkades 25 Juni lalu, alumnus SMK Bakti 2 itu berhasil mengalahkan dua pesaingnya yakni Yuswadi dan Sutaryo dengan selisih sekitar 400 suara. Ternyata rakyat lebih memilihnya meskipun satu di antara kandidat kades tersebut seorang sarjana. Tak pernah berpikir sebelumnya, bahwa enam tahun mengayuh becak ia dipercaya warga untuk menjadi kades mereka. Bangga, bahagia, dan haru bercampur menjadi satu saat ia kali pertama mengenakan pakaian dinas Kades tersebut. Bersama 127 kades terpilih Pilkades tahap dua, suami Rusmini yang pada hari Rabu dan Minggu berjualan nasi rames di Pasar Hewan Kebumen itu dilantik Bupati Dra Hj Rustriningsih MSi di gedung Setda, Senin (22/7) lalu. "Ada dorongan dari masyarakat, lalu saya minta doa restu kepada orang tua. Karena direstui saya memberanikan diri mengikuti Pilkades," ujar Teguh Haryanto yang baru dua hari ngator itu kepada Suara Merdeka, kemarin. Memasuki balai desa pertama kali, Teguh begitu biasa disapa mengaku kikuk karena belum terbiasa. Namun ia berusaha menempatkan diri pada posisinya saat ini. Bahkan ia pun masih terlihat kerepotan mengoperasikan handphone saat memberikan nomornya kepada Suara Merdeka. "Saya belum ingat nomor sendiri, maklum belum lama punya handphone," ujarnya merendah. Memulai aktivitasnya sebagai kades bapak dua putra Edi Sujarwo (5 tahun) dan Dwi Raharjo (7 bulan) ini mulai belajar tentang seluk beluk pemerintah. Namun waktu senggang Teguh masih mengingat ketika pada pagi hari ia mengantarkan istrinya berjualan ke pasar hewan dengan becak yang dibelinya dari hasil merantau di Jakarta itu. Karena tidak lagi menjadi penarik becak, sumber penghidupan keluarga selama enam tahun itu pun hingga saat kini di simpan untuk dijadikan kenang-kenangan. Ditambah lagi, pendukungnya juga berharap becak tersebut juga tidak boleh dijual. Saat ini Teguh mulai berusaha merealisasikan janjinya dalam kampanye yakni membangun desa dan masyarakat dengan kejujuran. "Saya tidak muluk-muluk waktu kampanye," katanya. Pidato Khalifah Abu bakar Assiddiq ra saat dilantik menjadi pemimpin ummat sepeninggal Muhammad Saw menjadi teladan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik. Bahwa sifat jujur adalah amanah, sedangkan kebohongan adalah pengkhianatan. Pada saat itu, Abu Bakar berkata, "Aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik di antara kalian semuanya. Untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku."

hidup petani

Kata orang bijak jadikan hidup itu seperti petani; hidup hari ini untuk masa depan. Bukan seperti pemburu yang hidup untuk hari ini....

Seorang petani tengah mengayuh sepeda melintasi persawahan di Kebumen. Setiap hari mereka harus pergi pagi dan baru pulang pada sore hari.

Thursday, July 19, 2007

masih perlukah

RITUAL yang digelar pada tiap tahun ajaran baru dengan kemasan Masa Orientasi Siswa (MOS) ternyata masih tradisi jaman 'asu raenak' alias jadul banget. Wong bangsa ini keluar dari penjajahan agar bisa hidup lebih bermartabat, eh anak-anak kita di sekolahan malah diajarin hidup dengan cara yang nggak nggenah .

Nggak keren blazz.. bercaping senik, kata orang kampung sayasambil membawa dot bayi Menurutku itu nggak ada faedahnya sama sekali.
Saya jadi prihatin melihat hampir sekolah memperlakukan hal yang sama terhadap siswa barunya.
Saya yakin, waktunya dia jadi senior hal yang serupa akan terulangi. Kayaknya sudah saatnya cara-cara nggak intelek di bangku sekolah itu dihilangkan . Setuju nggak!!!!

Monday, July 16, 2007

Kesetiaan Mulyanto

DI TENGAH maraknya hiburan orgen tunggal dan orkes dangdutan tidak membuat hati Mulyanto (29) berpaling dari seni tradisional Kuda Kepang. Bersama rombongan kesenian Sudi Waluyo, warga Dusun Kadirenggo Desa Karangkemiri Kecamatan Karangayar, Kebumen ini tetap setia melakoni aktivitas berkesenian yang ia sebut sebagai upaya nguri-nguri seni tradisi.

Memang kehidupan sehari-hari ayah dua anak ini tidak bisa dilepaskan dengan kuda kepang. Sebab, selain aktif dalam rombongan kesenian itu, dengan dibantu istrinya Tarsih, sejak empat tahun silam dia bertekad melestarikan kesenian yang mulai tergusur hiburan modern itu dengan menjadi perajin kuda kepang.

Tidak banyak uang yang ia dapatkan dari mengayam bambu, membentuknya, memberi pinggiran lalu mewarnai dengan cat minyak hingga menjadi kuda kepang. Namun demikian, di rumahnya yang sederhana itu, ia tetap bertahan mengayam bambu-bambu yang sudah dikeringkan berbulan-bulan, dipotong kecil-kecil dan dihaluskan itu menjadi kuda kepang berbagai ukuran. Dalam sehari rata-rata ia bisa menghasilkan lima kuda kepang ukuran kecil. Sedangkan untuk ukuran besar ia hanya bisa menyelesaikan satu sampai dua kuda kepang.

Untuk ukuran kecil yang dibuat mainan anak-anak usai TK ia jual Rp 15.000, sedangkan ukuran besar yang dipakai untuk orang dewasaa dijual dengan harga Rp 60.000. Selain grup kesenian kuda lumping, pembeli perorangan pun banyak untuk dijadikan sebagai hiasan rumah. "Tidak tentu, Mas. Kadang ramai pesanan tapi juga kadang sepi sekali," ujarnya saat ditemui Suara Merdeka di rumah kediamannya, belum lama ini.

Seluruh proses pembuatan kuda kepang dikerjakan sendiri, mulai dari menebang bambu, proses pengeringan, sampai memotong-motong bambu menjadi bilah-bilah kecil. Selanjutnya kuda kepang yang telah selesai dipajang di kiosnya sembari menjadi penjual bensin di jalan Karanganyar-Karanggayam. "Biar mudah saja, kalau di rumah kan sulit kalau orang mau mencarinya," aku perajin yang telah menyelesaikan obsesinya, membuat kuda kepang raksasa agar karyanya diabadikan Museum Rekor Indonesia (MURI).

Sayangnya, hingga kini kuda kepang dengan panjang 16 meter dan tinggi 10 itu dengan menghabiskan 200 batang bambu masih berdiri kokoh tidak jauh dari kiosnya. Jangankan untuk mendaftrakan ke lembaga milik Jaya Suprana itu, kapan kuda kepang raksasa yang menelan Rp 6 juta itu diresmikan, dia tidak tahu. "Tidak ada biaya untuk mendaftarkan," katanya menyebutkan biaya pembuatan kuda kepang raksasa itu disokong warga setempat.

Dari ukuran kuda kepang buatan Mulyanto sudah melebihi pemecah rekor sebelumnya dari Banjarnegara dengan pajang 12 meter dan tinggi enam meter. “Kami masih perlu dukungan dana agar kuda kepang ini bisa dicatat Muri sebagai kuda kepang terbesar di Indonesia,” ujar Mulyanto.

Di tengah perjuangan itu, Mulyanto sadar bertahan menjadi perajin kuda kepang keluarganya tidak akan hidup dalam uang berlebih. Lihat saja rumahnya yang sederhana, meja kayu menjadi penyambut tamu yang datang. Namun demikian ia tetap melakoninya dengan hati tawakal. Ia merasa beruntung karena istrinya menerima kondisi itu.

Thursday, July 12, 2007

seniman kecil

BARONGAN berlarian di antara para prajurit, setelah anak panah yang melesat dari busur seorang pengeran mengenai tubuhnya. Terkena anak panah itu sang barongan tidak serta merta dibunuh, melainkan dibiarkan melarikan diri dari hutan yang akan dibangun kerajaan.

Alur cerita itu adalah akhir dari fragmen yang dipentaskan grup kesenian Kuda Kepang Roso Jati Birowo pada pembukaan Tri Lomba Juang Tingkat Jateng 2007, di Bumi Perkemahan Widoro, Karangsambung, Kebumen, belum lama ini. Diiringi musik senderhana, pentas yang dimainkan grup kesenian dari Desa Kejawang Rt I/II Kecamatan Sruweng itu cukup membuat peserta maupun tamu undangan di mimbar utama berdecak kagum.

Terlepas dari itu semua, kisah perang pangeran melawan barongan sebagai simbol sesuatu keburukan itu tidak harus matikan. Melainkan cukup dipindahkan ke suatu tempat yang tidak mengganggu manusia. Itu adalah cerminan kasih sayang manusia dengan makhluk hidup lainnya. "Itu terlihat ketika Barongan dipanah pangeran, tidak jatuh mati, melainkan pergi menyingkir," ujar Darsono (52) pimpinan kelompok kesenian itu bertutur makna fragmen yang dipentaskan.

Setidaknya begitulah makna kasih sayang yang ingin ditunjukkan dari pentas grup kesenian tradisional di bawah pimpinan seniman yang juga pemilik pembuatan gamelan. Dalam pentas yang dipersiapkan selama empat hari itu juga diselipkan sebuah ritual. Tujuannya untuk kelancaran acara dan menjauhkan dari sengkala atau aura kejahatan. "Barongan simbol sengkolo yang ada di sekitar lokasi ini dipindahkan agar tidak mengganggu selama acara berlangsung," ujarnya.

Memang, dalam kancah kesenian di Kebumen, grup kesenian itu adalah cukup dikenal. Berdiri tahun 1982 sejumlah pentas di luar daerah sudah sering dilakukan. Di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, grup ini setidaknya sudah pentas sebanyak 12 kali.

Tidak tentu berapa orang yang dilibatkan dalam setiap pentas. Bisa sedikit sekitar 20 orang namun bisa sampai 200 orang. Itu tergantung besar kecil event yang akan dimeriahkan. Pada pentas hari itu misalnya, selain para pemain dewasa, anak-anak juga turut dilibatkan menjadi pemain kuda kepang.

"Khusus anak usai sekolah ini ikut pada waktu mereka liburan saja. Selain untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang positif, mereka juga mendapatkan penghasilan dari setiap pentas yang diikuti," katanya.

Met baca aa cuppu !!!!

Monday, July 9, 2007

soto petanahan

SUDAH berapa jenis soto yang Anda pernah coba? Jangan mengkalim telah merasai semua soto di negeri ini sebelum mencicipi lezatnya Soto Petanahan khas Kebumen.
Memang tak terhitung jenis soto yang ada di Indonesia. Begitu banyaknya, setiap daerah yang memiliki soto menyebut soto buatannya sesuai nama kotanya. Sebut saja Soto Betawi di Jakarta, Soto Yogya (Kadipiro, Pak Soleh dll), Taoto Pekalongan, Coto Makassar, Soto Banjar, Soto Kudus, Soto Lamongan, tak terkecuali Soto Petanahan.
Sesuai namanya Soto Petanahan berasal dari salah satu desa sekaligus menjadi kota kecamatan di Kebumen; Petanahan. Secara umum, soto jenis ini hampir sama dengan soto yang lain. Namun ada yang begitu mencolok membuat kekhasan soto tersebut berbeda dengan yang lain.Yakni jika soto-soto yang lain dicampur dengan nasi, soto khas Petanahan dilengkapi dengan lontong kupat. Selain itu, ayam kampung yang disuwir atau masih lengkap menjadi penanda kekhasan soto ini.

Selain itu hampir sama yakni taoge namun tidak memakai kubis. Sajian berkuah khas negeri ini memang paling enak disantap saat hangat. Kuahnya yang gurih menghangatkan mulut dan tenggorokan. Belum lagi aneka isi yang ada dalam kuahnya. Daging ayam kampung, jeroan, suun, telur rebus, tauge, daun bawang serta taburan bawang merah goreng menjadi penggugah selera.

Bersyukur, Indonesia kaya dengan sajian yang digolongkan sebagai sup atau sajian pembuka ini. Tiap daerah memiliki keunikan dalam racikan bumbu dan isinya sehingga memiliki kelezatan yang berbeda. Untuk bisa mencicipi kelezatan soto Petanahan, bisa datang langsung ke Petanahan. Kebetulan jika Anda punya rencana berlibur ke pantai Petanahan, mampir saja ke Pasar Petanahan. Di sanalah para pedagang soto khas Petanahan berada.

Salah satu penjual soto yang cukup tersohor adalah Sutarman (57). Namun ia lebih kondang dengan sebutan Soto Kored. Bertanya tentang Soto Kored, di setiap sudut Petanahan warga sekitar pasti dengan detail menunjukkannya.

Meski di dalam pasar, soto ini cukup laris. Apalagi saat hari Minggu atau liburan seperti saat ini. Selain warga sekitar, soto ini menjadi jujugan wisawatan usai dari pantai. Pada puncaknya pada waktu lebaran yang sehari bisa menghabiskan sebanyak 40-50 potong ayam. Namun jangan pernah mencari Soto Kored di pasar Petanahan sebelum jam 14.00. Karena ia masih berjulan di rumahnya di gang Pasar RT 1/I sekitar 200 meter dari pasar. "Kami biasa bejualan dari jam 14.00 hingga pukul 19.00," ujar Umi Ngatimah (50) istri Sutarman.

Selain itu, setiap Senin, Soto Kored juga libur berjualan. Sebenarnya dipilih hari minggu, namun banyaknya pembeli pada hari itu, memaksa mengubah hari libur menjadi senin. "Sayang jika minggu tutup, karena sangat ramai pembeli," ujar Umi menyebutkan rata-rata sehari mengabiskan 13 kg beras untuk lontong kupatnya.

Tidak mahal untuk dapat menikmati seporsi Soto Petanahan. Cukup merogoh kocek Rp 6.000 untuk bisa mencicipi lezatnya seporsi soto spesial plus daging ayam kampungnya yang lezat. Sementara itu, menjaadi penjual soto bagi keluarga Sutarman merupakan warisan turun temurun dari leluhur.
Bahkan 'Kored' Sutarman sendiri merupakan generasi ke tiga. Ayah empat anak ini sudah 26 tahun menjalani hidup sebagai penjual soto. Saat ini ia sudah mengajarkan kepada anaknya untuk meracik bumbu soto. Diharapkan anak-anaknya dapat melanjutkan dan mengembangkan soto Petanahan bisa sampai dikenal sampai ke luar daerah.

Friday, July 6, 2007

hidup petani

MELIHAT petani yang bekerja di sawah, belum lama ini memaksa aku merenungkan kata2 yang sering aku dengar tapi aku terus melupakannya.

Jadikan hidup laksana seorang petani, menanam dahulu, memupuk, merawat hingga menuai hasilnya. Jangan seperti pemburu yang hidup untuk hari ini saja, tembak dapat bawa pulang, begitu seterusnya.


"Jiwa petani semoga mengalir pada anak kita meskipun mereka tidak lahir di desa".

kuda kepang

TIDAK perlu membayangkan berapa besar orang yang akan memainkan kuda kepang buatan Mulyanto (29) warga Dusun Kendirogo Desa Karangkemiri Kecamatan Karanganyar Kebumen. Sebab tidak akan ada orang yang bisa menunggangi kuda kepang raksasa dengan panjang 16 meter dan tinggi 10 meter itu.

Untuk membuatnya saja, kuda kepang yang diyakini pembuatanya sebagai kuda kepang terbesar di Indonesia bahkan dunia itu menghabiskan sebanyak 200 batang bambu.
Dibantu sejumlah pemuda di dusunnya, pada 14 Februari lalu pria yang sehari-hari menjadi perajin kuda kepang itu mulai mengerjakan obsesisnya; memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI).

Kendati dengan dana terbatas yang di dapat dari swadaya dan bantuan masyarakat setempat, akhirnya bulan Juni lalu ia dapat merampungkan pekerjaannya. Sekitar Rp 6 juta habis untuk menggarap kuda kepang itu. Angka itu memang tidak berlebihan, karena untuk memberi warna kuda kepang itu, menghabiskan sebanyak 50 kg cat minyak.

Lalu pada 13 Juni lalu, saking besarnya, untuk mendirikan kuda kepang rakasa itu harus dengan bantutuan sekitar 50 warga setempat. Proses mendirikannya pun diwarnai dengan selamatan yang dihadiri dari pemerintah desa dan kecamatan. Kuda kepang itu hingga kini masih berdiri kokoh di pinggir jalan. Belum diresmikan karena terbentur biaya. "Tujuan utama membuat kuda kepang raksasa ini adalah untuk nguri-nguri kesenian Jawa yang hampir hilang," ujar Mulyanto didampingi Saring (30) salah satu warga yang ikut membantunya, Jumat (6/7) kemarin.

Sejujurnya, jika ada kesempatan Mulyanto ingin mendaftarkan karyannya itu ke MURI. Karena dilihat dari ukuran kuda kepang tersebut sudah mengalahkan pemagang rekor MURI yang berukuran 13x6 meter yang pegang pada gelar budaya Wonorejo, Banjarnegara 2004. Namun niatan ayah dua anak yang sudah empat tahun menekuni usaha kuda kepang itu menjadi jauh karena ketiadaan dana. Bahkan kapan peresmiannya saja belum bisa dipastikanm, karena lagi-lagi terganjal uang. Ia pun berharap ada yang peduli dengan itu semua.

Kecintaan Mulyanto pada kuda kepang memang cukup mendalam. Selain sebagai perajin, dia juga aktif dalam grup kesenian tradisional kuda kepang 'Sudi Waluyo' di desa itu. "Sayangnya di sekitar sini tidak ada lokasi wisata, sehingga tidak banyak dilihat orang. Namun paling tidak, kuda kepang itu menjadi ikon Desa Karangkemiri, menandai belum punahnya kesenian tardisional," tegasnya.

Tuesday, July 3, 2007

hari anak

SEJUMLAH anak tergesa mendekati dump truk pengangkut sampah milik Bidang Kebersihan dan Pertamanan Dinas Kimprasda Kebumen yang berhenti di TPA Kaligending, Kecamatan Karangsambung, Sabtu (30/6).

Berbekal keranjang sampah mereka memilah satu persatu plastik dan kertas yang telah bercampur kotoran berbau busuk itu. Adalah Andri (13), Riki (12), Tato (12) dan Yudi (12) empat sekawan yang terpaksa menghabiskan masa liburannya di tempat yang penuh dengan kotoran itu.

Saat teman-teman sebayanya mengisi liburan dengan bermain maupun kursus mereka bergelut dengan bau busuk yang menyengat. Di antara kotoran itu, tanpa alas kaki dan masker anak-anak di Dusun Kraminan itu tanpa takut terkena penyakit, dengan susah payah memenuhi keranjang mereka dengan plastik dan kertas yang mereka dapatkan.

Setelah mendapatkan banyak, plastik dan kertas tersebut mereka jual kepada pengepul. Mereka mendapatkan Rp 300 untuk setiap 1 kg kertas yang mereka dapatkan. Sedangkan untuk jenis plastik mereka lebih banyak mendapatkan uang yakni Rp 700/kg. "Kalau pas liburan, sehari bisa dapat dua keranjang. Tapi kalau pas sekolah rata-rata hanya bisa satu keranjang," ujar Andri, salah satu pemulung yang baru lulus SD Kaligending.

Pada musim liburan, mereka mulai memungut sampah sejak pagi, sekitar pukul 07.00. Bahkan ketika para pemulung dewasa belum mulai beroperasi, mereka sudah berada di TPA tersebut. Mereka pulang untuk makan siang lalu kembali lagi untuk memenuhi keranjang hingga matahari mulai tenggelam. "Sehari kadang dapat Rp 20.000 sampai Rp 25.000," ujar Andri yang sudah menjadi pemulung sejak kelas 3 SD.

Sedangkan jika tidak liburan mereka hanya mencari sampah seusai pulang sekolah hingga sore hari. Meskipun uang yang didapat tidak banyak, mereka mengaku senang mencari sampah. Sebab itu dapat membantu meringankan beban orang tua mereka yang pada umunya dengan tingkat perekonomian yang terbatas. "Dikumpulkan, Mas. Untuk membeli buku sekolah, juga buat jajan," ujar Riki pemulung anak yang beru Kelas V SD itu.

Meski orang tuanya bukan seorang pemulung, Riki tidak pernah dilarang ketika ke TPA untuk mencari sampah. Dia juga senang dan tidak menyesal tidak bisa bermain dengan teman-teman sebayanya. Setidaknya di TPA seluas 1,5 hektare itu, terdapat sekitar 10 pemulung yang masih berusia anak-anak. Mereka berusaha berebut sampah dengan pemulung dewasa yang lebih kuat tenaganya. "Selain untuk beli buku, ya buat nambahi bayar sekolah," tambah Andri yang bercita-cita melanjutkan sekolah ke SMP Karangsambung yang letaknya tidak jauh dari sekolahnya dulu.

Meski dengan biaya terbatas ia ingin sekali tamat SMP. Ketika melanjutkan SMP nanti, ia masih tetap memungut sampah untuk biaya sekolah. Saat diterima di SMP nanti, ia mengaku akan rajin belajar tidak seperti waktu SD. Dengan hasil dari memungut sampah itu, akan ditabung untuk membeli buku pelajaran sekolah.

Friday, June 29, 2007

pulang sekolah

WAKTU melintas di Bendungan Kaligending Karangsambung Kebumen, Jateng saat akan liputan sebuah demonstrasi warga menuntut pemilihan ulang Pilkades, baru2 ini aku ngeliat dua anak sepulang sekolah tiba2 turunn ke sungai. Sebelumnya, keduanya melepas sepatu lalu menjinjingnya saat mereka turun ke air.

Tidak hanya dua anak itu saja yang melakukan hal itu, sebagian besar warga sekitar bendungan turun ke kali jika mereka ingin cepat sampai ke rumah mereka. Sebab jika melewati jalan biasa mereka harus memutar jauh beberapa kilometer.

Kesempatan itu tak aku sia-siakan, lha aku kirim aja ke redaksi, esoknya puas foto ini jadi headline di wilayah kebumen. Sayang gambarnya BW jadi tone airnya nggak begitu kelihatan .

Foto ini juga aku kirim ke FN, untuk berbagai dengan pencinta fotografi. Lumayan banyak juga yang coment.



Thursday, June 28, 2007

ambal resmi

Lagi, gambar bapak-bapak naik sepeda yang aku jepret tidak jauh di dari Pantai Ambal Kebumen, Jateng. Aku tertarik ama pohon2 yang berderet, sayang rasanya tidak segera membingkai pemandangan itu dengan kamera yang aku bawa.

Habis itu, makan setengah porsi sate Ambal dan minum es teh menjadi menebus kelelahan seharian liputan . Sengaja cuma separo, karena satu porsi sate Ambal berjumlah 25 tusuk.

Belum pernah ngerasain, coba aja. Pokoke rika ketagihan lah.

Dua hari kemudian aku kembali lagi lewat Ambal bareng Aacuppu dari Jogja ke Pantai Petanahan yang ditempuh lewat jalur Deandels . Ngeri & capek deh.. liputan Festival Layang-layang Jarum 86, eh... Jarum 76 ...

Melintas Sutet

Aku motret bapak2 bersepeda pulang dari sawah melintas di bawah saluran udara tegangan tinggi 500 kV (SUTET) di Kebumen Jateng, di sela-sela liputan kekeringan lahan.

Melihat SUTET, aku jadi inget pas liputan di Jogja, dua tahun lalu . Pembangunan jalur di Jawa bagian selatan mengalami hambatan. Masyarakat di beberapa lokasi seperti Klaten, Bantul menolak rencana pembangunan saluran itu.

Setidaknya terdapat delapan tower SUTET yang ditolak masyarakat di antaranya Desa Jimbrung di Klaten, Dukuh Kersen Bantul. Sisanya 6 terdapat di Desa Jabon Mekar dan Pamegarsari Depok.

Dilematis memang bicara soal sutet.

Monday, June 25, 2007

merti dusun

BERBAGAI sesaji berupa gunungan, tumpeng langgeng dan panjang ilang diarak ratusan warga dalam upacara Merti Dusun di Dusun Krebet Desa Sendangsari, Pajangan Bantul, Sabtu (23/6) kemarin.
Arak-arakan sesaji itu dikawal para prajurit berpakaian Jawa sebagai simbol pelindung. Sebelum sampai balai desa, bersama-sama mereka membawa sesaji berupa hasil bumi desa tersebut berkeliling desa. Setelah didoakan, gunungan pun diperebutkan warga sebagai simbol pemberian rejeki.
Sedangkan tumpeng langgeng dan panjang ilang yang berisi makanan seperti nasi, lau pauk, jajanan pasar di dusun tersebut dinikmati seluruh masyarakat serta tamu undangan yang hadir. Digelarnya ritual Merti Dusun setiap bulan Jawa Jumadil Akhir tersebut sebagai tanda syukur warga atas semua rejeki yang telah diberikan Tuhan kepada mereka.
"Kami ingin menjaga keseimbangan antara warga dan lingkungan agar kami yang telah diberikan rejeki melimpah tidak serakah," ujar Kepala Dusun Kerebet, Kemiskidi.
Selain itu, dengan pembuatan sesaji berupa hasil bumi di dusun tersebut, mereka ingin membuang 'segala hal yang buruk'. Sehingga dusun itu akan aman dan bersih dari hal-hal yang tidak diinginkan. Diaraknya sesaji berkeliling desa, imbuh Kemiskidi, untuk mengenalkan tradisi Merti Dusun kepada masyarakat luas. Dengan demikian tradisi itu akan terus lestari dan tidak punah pada jaman yang semakin modern ini.
"Selain itu upacaranya sendiri akan mendatangkan wisatawan sehingga bisa menjadi aset wisata yang berharga bagi dusun ini sendiri," imbuhnya.
Liputan ini sebenarnya nggak sengaja, pas nganterin aacuppu ke Bantul. pas motret, sayang kalau gak ada beritanya.......

menambang padas

KETINGGIAN dan ancaman longsor yang sewaktu-waktu bakal menimpa tidak menyurutkan tekad Ritno (35) dan kawan-kawannya untuk terus menambang batu padas di Dusun Tangkil Desa Gemeksekti Kebumen.

Dari ketinggian sekitar 10 meter, satu demi satu bongkahan batu padas itu ditambang dengan alat tradisional. Bongkahan padas yang jatuh menimbulkan suara bergemuruh. Mereka hanya melongok sebentar lalu meneruskan kembali kerjanya. Mulai pagi hari dengan gesit mereka naik ke tebing untuk mulai bekerja. Menjelang istirahat siang, mereka turun mengumpulkan bongkahan padas itu mempersiapkan jika ada pembeli yang menginginkannya.

Di lokasi penambangan itu, Ritno tidak sendirian. Sejumlah penambang lain seperti Sadiri (35) dan Rusi serta penambang lainnya melakukan kegiatan serupa. Kendati apa yang mereka dari hasil cucuran peluh tidak seimbang dengan risiko dan kerja keras yang mereka lakukan, namun mereka menjalaninya dengan semangat.

Bayangkan saja, satu truk batu padas yang mereka kumpulkan seharian itu hanya laku Rp 30.000. Tambahan yang didapat hanya dari jasa tenaga menaikkan batu tersebut. Tapi terkadang mereka harus merelakan kenyataan, saat pembeli telah membawa tenaga pengangkut sendiri. Padahal, uang yang diterima itu tidak semata-mata masuk ke kantong saku. Jumlah itu masih dikurangi dengan berbagai potongan. Antara lain Rp 2.500 untuk pemilik tanah dan Rp 2.000 buat jasa jembatan yang dibangun perorangan. "Ya bagaimana lagi, wong hanya ini yang bisa kami lakukan," ujar Ritno saat ditemui di lokasi penambangan, belum lama ini.

Kegiatan menambang batu padas di tanah berbukit itu memang menjadi sumber rizki bagi warga sekitar. Selain itu, pemilik tanah pun mengambil keuntungan dari kegiatan itu. Sebab dengan diratakannya tanah berbukit itu, nilai tanah menjadi bertambah tinggi.

Hal itu diakui Halimi (51) salah satu pemilik tanah di lokasi tersebut. Ia mengaku, ketika masih berbukit, dulu harga jualnya masih rendah, yakni Rp 400.000 per ubin atau 4 m2. Padahal ketika sudah dalam kondisi datar, harganya bisa mencapai Rp 1 juta per ubin. "Rumah-rumah di pinggir jalan itu dulunya juga berupa tanah berbukit. Setelah bertahun-tahun ditambang dan menjadi datar kemudian baru didirikan bangunan," ujar Halimi.

Warga RT 9 RW 3 ini mempunyai tanah seluas 74 ubin yang berbukit, saat ini dia sudah bisa memanfaatkan tanah tersebut untuk berbagai keperluan. Misalnya ia mendirikan warung di bekas tanah berbukit yang saat ini sudah rata.

Sengaja, warga di dusun itu tidak menggunakan alat berat untuk mengeruk bukit agar menjadi rata. Selain harga sewanya yang mahal, dengan dikeruk melalui cara tradisional dapat menjadi lahan bekerja sebagian warga yang biasa menjadi penambang. "Di lokasi ini, penambangan sudah dilakukan selama tujuh tahun. Entah sudah berapa truk batu padas yang dihasilkan," ujarnya

Thursday, May 10, 2007

Mbah Jo Gong

PARJO (77) hampir menyelesaikan Saron yang dipesan seorang dari Jepara saat matahari tepat di atas belahan kepala, Selasa (8/5). Di depan rumahnya di Dorowati I Kelurahan Krobokan Semarang inilah pria yang dikenal dengan sebutan Mbah Jo Gong ini sudah selama 55 tahun setia membuat gamelan.

Berbagai alat musik modern boleh datang dan pergi. Begitu pula alirannya silih berganti diikuti dan ditinggal para pemujanya. Namun kesetiaan Mbah Jo Gong pada alat musik tradisi gamelan tidak lekang zaman. Meskipun, kini ia benar-benar merasa sendiri mempertahankan ikon Jawa itu, menjadi perajin gamelan. Seiring menurunnya minat masyarakat terhadap gamelan, kini ia pun sepi orderan.

“Sejak munculnya campur sari, peminat gamelan mulai sepi. Apalagi setelah ada karaoke,” ujar pria yang sejak tahun 1952 menjadi perajin gamelan di Semarang, kemarin.

Pada zamannya, pria yang telah belajar membuat gamelan sejak berusia 16 tahun ini telah merasakan masa keemasan musik gamelan. Namun ketika musik gamelan mengalami masa suram, ia pun masih bertahan. Itulah sebabnya oleh orang-orang sekitar kampungnya, pria asli Bekong Surakarta yang mengenal gamelan di Gendingan Mangkunegaran, dikenal dengan panggilan Mbah Jo Gong. “Jo itu pethilan nama saya, Parjo. Lha “Gong” itu satu nama dari gamelan,” terang Mbah Jo menceritakan asal muasal sebutan namanya.

Masa keemasan gamelan, menurut dia sudah menjadi masa lalu yang sulit untuk diraih kembali. Ibarat kerajaan kerajinan gamelan ibaratnya sudah mau runtuh, tinggal menunggu waktu. “Kalau dulu dua bulan paling tidak satu pesanan, kini setengah tahun tidak mesti ada yang pesan,” katanya menyebutkan penurunan terjadi sejak tahun 1980.

Mbah Jo menuturkan, harga satu set gamelan beraneka ragam tergantung jenis bahan bakunya. Untuk satu set gamelan dari bahan perunggu mencapai Rp 360 juta. Sedangkan gamelan yang terbuat dari besi (slendro pelok) lebih murah yaitu sekitar Rp 40 juta. “Satu set gamelan berisi peking, saron, demung, siter, gender (slendro, pelok, pathet siji, pathet pitu) gambang, senthem, boning, tenong 11 biji, kempul 10 biji, dan gong,” katanya menjelaskan.

Tapi ada juga yang hanya pesan satu jenis saja, seperti gong atau saron. Untuk sebuah gong besi dijual Rp 1,2 juta, sedangkan untuk gong yang berbahan dari perunggu mencapai Rp 10 juta.
Namun kini, terbersit di hati Mbah Jo Gong rasa khawatir terhadap masa depan musik gamelan. Sebab musik ini sudah mulai ditinggalkan, terutama generasi muda. Bahkan empat anaknya pun tidak ada yang mewarisi profesinya menjadi seorang perajin gamelan.

“Hanya satu yang mau membantu. Itu pun hanya kadang-kadang. Bagi mereka banyak pekerjaan lain yang lebih menghasilkan daripada sekadar membuat gamelan,” tandasnya.

Wednesday, May 2, 2007

tradisi nyadran

SAYA sepakat jika Islam sebagai agama yang dianut oleh orang Jawa mesti terlepas dari atribut bangsa arab. Karena menjadi sebuah keniscayaan terjadinya sebuag akulturasi budaya dan agama. Sebab ketika Islam datang di tanah Jawa, leluhur kita sudah mempunyai budaya tersendiri. Hanya saja yang perlu diberikan pemahaman adalah pemilahan mana budaya mana agama.
Hal sepeti itu aku temukan di sebuah dusun di lereng Gunung Merbabu Jawa Tengah menjelang bulan Ramadan tahun lalu. Sudah menjadi tradisi bagi orang Islam khususnya jawa melakukan Nyadran. Sebuah tradisi untuk mendoakan para leluhur yang telah meninggal agar mereka tenang di alam sana.






nyai kendit

PUNCAK Merapi terlihat cerah dari Cekdam Sungai Blongkeng di Dusun Berokan Desa Pucanganom Srumbung Magelang, Sabtu (9/12) pagi. Gemericik air di sungai yang dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai jalan para lelembut menuju puncak Merapi masih terdengar syahdu belum terganggu raungan mesin pengeruk pasir yang menderu.
Sampai saat ini Sungai Blokeng masih perawan belum tersentuh tangan-tangan besi mesin pemakan tanah. Di tempat itulah, seniman asal lereng Gunung Merapi, Agus "Merapi" Suyitno, melakukan ritual nyai kendit.

Ritual itu sebagai wujud ungkapan syukur kepada Tuhan yang menciptakan Gunung Merapi dengan kesuburan tanah lerengnya, juga yang melimpahkan air begitu jernih. Selain itu juga merupakan simbol tanda penghormatan kepada Nyai Kendit yang dipercayai sebagai sang dewi hujan, awan dan kabut Merapi.
Sebagian warga yang tinggal di sekitar lereng Merapi sampai saat ini masih meyakini bahwa pada bulan Desember ini sang dewi hujan sudah mulai menguyurkan hujan yang sudah lama tersimpan di awan. Hujan itu berfungsi membersihkan jejak kyai petruk, yang dipercayai sebagai salah satu penghuni Gunung Merapi dengan letusan lima bulan lalu, juga tebaran debu nyai gandung melati yang diyakini sebagai sang dewi kesuburan Merapi.

Nyai kendit dipersonifkasikan sebagai sosok perempuan cantik dengan selendang warna hijau muda. Selendang yang diikatkan pada tubuhnya itu merupakan simbol bahwa ada keterkaitan antara GUnung Merapi dengan laut selatan. Secara kosmologi dipercayai bahwa GUnung Merapi dan laut selatan mempunyai keterkaitan magis yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Salah satunya adalah air hujan yang mengguyur Merapi itu dipercaya diambil dari segara kidul. Dengan digelarnya ritual itu, ada harapan yang terbersit semoga hUjan yang turun menjadi berkah bagi orang-orang yang tinggal di lereng Merapi, bukan berubah menjadi bencana yang akan meluluhlantakkan lereng gunung tersebut. Ada sebuah ketakutan tersendiri bagi mereka yang tinggal di lereng Merapi jika sang dewi menjadi murka karena ulah manusia.

Dimana sungai-sungai sebagai tepat untuk menyimpan air telah diaduk-aduk dan dijarah manusia yang serakah untuk diambil pasir-pasirnya. Kini sungai-sungai di lereng Merapi tinggal batu-batuan blantak yang tak lagi mampu menyimpan air. Prosesi ritual yang digelar dengan dilengkapi lukisan nyai kendit tersebut juga dijadikan simbol permohonan maaf karena hutan-hutan yang dipercaya sebagai kasur hijau sang dewi sudah banyak yang ditebang. Sehingga tak lagi bisa bermain di ujung-ujung pinus lalu berkejaran lalu turun beristirahat di bawah hangatnya pasir Merapi.
"Janganlah engkau mambuat sungai baru yang melewati sawah dan kampung kami, cukup menutupi luka-luka di dasar sangai kami. Kami minta maaf karena jatuhmu begitu sakit di atas batu-batu blantak," ungkap pelukis dan pengelola Merapi Rumah Seni itu saat melakukan ritual. Pada tahun 1960 Sungai Blonkeng menjadi saksi kedahsyatan hujan dari lereng Merapi yang membawa lahar dingin dengan disertai pasir dan batu panas. Kedahsyatan banjir lahar yang terjadi pada waktu itu sampai membelah sebuah desa yang dilewati menjadi dua wilayah. Saat ini peritiwa dipercayai sebagai pesta besar perkawinan nyai kendit dan kyai sapujagad sang penguasa lahar dingin itu akan terjadi lagi, sehingga perlu dipanjatkan doa-doa keselamatan. Pada prosesi ritual itu, berbagai sesaji diberikan berupa asap kemenyan dan dupa, bunga tujuh rupa, sebagai simbol keharuman, jernih dan kemilau. Sehingga jika mampir ke sawah-sawah menjadi subur, ikan-ikan di kolam pun sehat, kalau ke sumur dan mata air untuk memasak mandi dan minum tubuh ini menjadi segar dan sehat. Sedangkan diberikan sesaji berupa jajan pasar berupa salak, nasi mengono, ikan sebagai simbol permohonan maaf atas orang-orang yang telah merusak pasir, akar-akar pohon, dan hutan. Prosesi ritual ditutup dengan larung bunga tujuh rupa dengan disertai doa-doa keselamatan. Prosesi itu dimaksudkan agar aliran sungai Blongkeng agar tetap terjaga dari berbagai kerusakan. Selanjutnya nasi megono dan ikan yang telah diberikan doa-doa itu dimakan supaya hasil panen warga di lereng Merapi terus melimpah. "Karena saat ini warga desa di lereng Merapi sudah mulai merasakan dampak dari kerusakan alam. Sungai-sungai mulai kering, sumur-sumur mulai dalam, jutaan pohon salak yang kering dan mati. Tanah tak lagi basah, sehingga uret-uret banyak berpesta makan akar salak," tandas Agus.

Dewa Bumi

“Semoga angin bertiup lembut, hujan pada masanya, negara aman rakyat aman santosa.”

DEMIKIAN harapan ribuan umat Tri Dharma (Budha, Tao dan Kong Hu Cu) yang mengikuti ruwat bumi dengan melaksanakan kirab Kongco Hok Tek Tjing Sin (Dewa Bumi) di sepanjang jalan utama Kota Magelang, Sabtu (17/3).

Umat Tri Dharma yang sebagian besar merupakan warga Tionghoa tersebut mempunyai keyakinan, dengan kirab bersama-sama yang disertai hati yang tulus, Dewa Bumi akan memberikan berkah pada seluruh negeri. Sekitar 27 klenteng se-Jawa turut serta dalam arak-arakan yang dimulai dari kelenteng atau Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Liong Hok Bio di Alun-alun Kota Jasa.


Selain dari tuan rumah, hadir umat klenteng antara lain dari Cilacap, Kudus, Lasem, Semarang, dan Temanggung. Setiap kelenteng ramai-ramai mengarak Kimsin (arca) Hok Tek Tjing Sin dengan sebuah tandu kebesaran. Tiga ogoh-ogoh yang menggambarkan Dewa Rezeki, Dewa Kebahagiaan, dan Dewa Panjang Umur juga diusung dalam kirab yang digelar berkenaan dengan HUT Dewa Hok Tek Tjing Sin tersebut. Peserta kirab mengambil rute mulai dari Klenteng Liong Hok Bio melalui kawasan pertokoan Pecinan di Jalan Pemuda, Jalan Tidar, Tentara Pelajar, dan kembali lagi ke klenteng yang sudah berumur 143 tahun itu.


Sepanjang perjalanan, arak-arakan ini menjadi hiburan tersendiri bagi warga setempat. Apalagi sejumlah kelompok kesenian tradisional seperti Reog Ponorogo, Jatilan dan Kesenian Ndolalak juga dilibatkan untuk memeriahkan kirab Dewa Bumi.


Walikota Magelang Fahriyanto didampingi Wakil Walikota Noor Muhammad beserta tokoh masyarakat setempat juga menyaksikan kirab dari panggung utama di timur alun-alun. Pagi sebelum kirab para umat mendahuluinya dengan sembahyang kebesaran di klenteng yang dibangun pada tahun 1864.
Bersama-sama mereka melakukan pai (sembah) dan pembacaan mantra suci berisi puji syukur dan tolak bala. Lalu sejumlah warga mengusung dua tabut berisi patung Dewa Bumi berlari keluar dari dalam klenteng menuju halaman bangunan klenteng.
Beberapa orang lainnya terlihat menaburkan berbagai bunga dan uang logam di jalan-jalan yang dilalui peserta kirab. Sontak beberapa umat yang mengikuti kirab berebut mengambil uang tersebut. Puluhan warga keturunan Tionghoa membawa kain berwarna-warni menari-nari di sepanjang jalan prosesi. Sebagai pembuka diwarnai pelepasan balon dengan kain pita bertuliskan “HUT Konco Hok Tek Tjing Sin, Ruwat Bumi Jut Bio” yang dilakukan tokoh warga Tionghoa Kota Magelang, Lim Wan King atau David Hermanjaya.
“Berbagai bencana yang menimpa menjadi keprihatinan seluruh masyarakat. Untuk itu sikap manusia terhadap bumi perlu dilihat ulang, mengingat selama ini eksploitasi terhadap bumi hanya untuk mendapatkan keuntungan sesaat,” ungkap David yang merupakan Ketua Paguyuban Umat Beriman Magelang.
Bagi umat Tri Dharma, Dewa Hok Tek Cing Sin yang kebanyakan orang menyebut Tao Pek Kong merupakan sosok dewa yang diyakini dapat memberikan kemakmuran, kesejahteraan, kerukunan bagi umat manusia. Sehingga dewa inilah yang paling banyak dipuja oleh umat Tri Dharma.
"Secara khusus pada tahun ini kirab dewa bumi sebagai bagian permohonan doa agar bangsa kita segera terbebas dari berbagai bencana dan masyarakat hidup sejahtera," kata Ketua Panitia Kirab Ardiyanto Rusli atau Lie Ren Sek.
Lebih dari itu, kirab ini juga ditujukan untuk meningkatkan tali persaudaraan antar umat Tri Dharma, serta lintas budaya dan agama pada umumnya. Juga untuk mensosialisasikan keberagamaan budaya Indonesia sehingga dapat senantiasa terpelihara kerukunan beragama, berbangsa dan bernegara.

bulan maria

DALAM tradisi Gereja Katolik, para umat memberikan penghormatansecara khusus kepada Bunda Maria yang Ibu Yesus Kristus itu selama Bulan Mei dengan melakukan doa rosario. Mereka melakukan ziarah di berbagai Goa Maria yang kini telah banyakberkembang di berbagai daerah.

Seperti yang dilakukan ratusan umat Kristen Katolik dari sejumlah daerah di sekitar Magelang mengikuti misa kudus pembukaan Bulan Maria di Goa Maria Desa SumurArum, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Senin (30/4) malam. Misa dipimpin Kepala Gereja Katolik Kevikepan Kedu Romo A. Wahadi Pr secarakhusuk mulai sekitar pukul 18.00 hingga 20.00 WIB.
Umat yang datang ke Goa Maria Grabag baik laki-laki, perempuan,pemuda, remaja dan anak-anak itu antara lain dari Magelang, Salatiga,Boyolali, Yogyakarta, Temanggung, Ambarawa dan Semarang.


Goa Maria yang terkenal baik di dalammaupun luar negeri selama ini adalah Sendang Sono di PegununganMenoreh, Kulon Progo, Yogyakarta. Goa Maria Grabag diberkati olehUskup Agung Semarang Mgr Ignatius Suharyo Pr untuk menjadi tempatziarah umat Katolik beberapa tahun lalu.


Sebelum misa dimulai para umat secara bergiliran menyalakan lilin dibawah kaki Patung Bunda Maria yang dihiasi tangannya dengan rosario.Mereka juga meletakkan air suci di depan goa itu.


"Banyaknya berkembang Goa Maria membantu umat untuk mendekatkan dirikepada Tuhan. Goa Maria di Grabag ini juga menawarkan kepada umatuntuk mendekatkan diri kepada Tuhan," kata Romo Wahadi dalam kotbahnya.


Bunda Maria dipercaya umat Katolik memberikan rahmat dari Allahkepada mereka terutama yang sedang gelisah menghadapi persoalan hidupsehari-hari.


Bunda Maria juga pernah gelisah ketika bersamasuaminya Yusuf mengajak Yesus yang berumur 13 tahun ke tempat ibadahdi Kota Yerusalem.


Ketika semua orang telah meninggalkan Bait Allah di Yerusalem untukkembali ke kampungnya di Nazaret, ternyata Yesus tanpa diketahui orangtuanya masih tinggal di tempat itu dan berdialog dengan para pemukaagama.


Maria dan Yusuf dengan kegelisahannya mencari-cari Yesus danmenemukan di Bait Allah itu. Yesus ketika itu juga sebagai figur yangsedang gelisah, ingin memperdalam kehidupan rohaninya sehingga tetaptinggal di Bait Allah untuk bertemu pada pemuka agama.


Tidak dipungkiri, kata Wahadi, orang tua terkadang gelisah menghadapianak-anaknya yang juga sedang gelisah dalam pencarian diri menujukedewasaan.


"Seringkali kita tak bisa memahami tingkah polah anak-anak, tidakmampu memahami dunia mereka karena godaan anak-anak sekarang lebihbanyak. Kita perlu belajar dari Bunda Maria untuk dapat menjadipendamping anak dalam kegelisahan," katanya.


Para orang tua pada zaman sekarang menjadi teman dan sahabat rohaniyang baik bagi keluarga dan anak-anak seperti halnya telah dilakukanBunda Maria saat mengasuh Yesus, demikian kata Romo Wahadi.

Tradisi Bali


IF there’s a heaven, it’s better like Bali.

Begitulah kira-kira ungkapan Michael, seorang wisatawan asal Kanada saat menikmati suguhan tari Kecak sembari memandangi surya yang mulai redup menurun di ufuk barat Pura Luhur Uluwatu, Rabu (28/3).

Pemandangan di kawasan pura yang bertengger persis di atas batu karang yang menjorok ke laut itu memang luar biasa indahnya, terlebih-lebih tatkala senja mulai tiba saat surya akan tenggelam. Berada di ujung paling barat semenanjung Bukit, Kabupaten Badung, Pura Sad Kahyangan itu dipercaya masyarakat setempat menjadi penyangga salah satu dari sembilan arah mata angin.

Dari cerita masyarakat setempat, pura ini pertama-tama dipakai sebagai tempat untuk memuja seorang pendeta suci bernama Empu Kuturan yang datang pada abad ke-11. Dialah yang menurunkan ajaran Desa Adat dengan segala peraturan tata tertibnya. Berikutnya pura itu dipakai untuk pemujaan pendeta suci Dang Hyang Nirartha, yang datang ke Bali di akhir tahun 1550 dan mengakhiri perjalanan sucinya dengan moksah atau ngeluhur di tempat ini.

Selanjutnya kata itu dipakai melengkapi nama pura yakni Pura Luhur Uluwatu. Keindahan alam serta keunikan seni dan budaya yang dijiwai agama Hindu yang dijaga masyarakat yang secara turun menurun serta ditunjang berbagai sarana akomodasi di wilayah ini, menjadikan sektor pariwisata sebagai primadona dan sumber PAD utama. Lebih dari 90 persen Pendapatan Asli Daerah (PAD) di wilayah ini tahun 2006 mencapai Rp 362,45 miliar diperoleh dari sektor pariwisata.

Melihat realitas yang ada, pengembangan pariwisata oleh pemerintah pun tidak akan menanggalkan adat dan tradisi masyarakat Bali. Bahkan prinsip itu secara gamblang hal itu dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung yang mempunyai visi membangun Badung berdasarkan Tri Hita Karana yaitu menuju masyarakat yang adil, sejahtera dan ajeg.

Sedangkan salah satu misi kabupaten ini adalah peningkatan srada dan bhakti masyarakat terhadap ajaran agama, serta peningkatan eksistensi adat budaya dalam rangka mengajegkan Bali di era kekinian. “Kalau hanya hotel mewah dan mall megah, di luar Bali apalagi luar negeri barangkali sudah biasa. Namun adat istiadat dan tradisi yang dilakukan masyarakat tidak bisa didapati di manapun,” kata Kasubdin Pemasaran dan Penyuluhan Dinas Pariwisata Kabupaten Badung, I Wayan Bagiartha.

Lihat saja betapa banyak wisata budaya di kabupaten ini, antara lain kawasan luar Pura Uluwatu, Garuda Wisnu Kencana (GWK), Pura Sada Kapal, kawasan luar Pura Taman Ayu, Monumen Tragedi Kemanusiaan (MTK). Sekitar 95% penduduk Bali menganut agama Hindu. Sedangkan 5% sisanya adalah penganut agama Islam, Kristen, Katholik, Budha dan Kong Hu Cu.
Tujuan hidup sesuai ajaran Hindu adalah Untuk mencapai keseimbangan dan kedamaian hidup lahir dan bathin. Masyarakat Bali termasuk Badung dalam hidupnya sehari-hari melalui keanekaragaman upacara agamanya. Orang Bali menganggap hidup ini adalah seni, menuju ketenangan dan kesunyian. Setiap hari mereka menyanyikan lagu kasih sayang yang diperlihatkan dengan beraneka ragam rajutan dan anyaman sesajen terbuat dari daun kelapa muda.

Lihat saja di sejumlah pantai Pantai Kuta, Pantai Legian, pantai jimbaran, pantai Nusa Dua, dan Tanak Wuk masyarakat Bali menghaturkan sesuatu yang diperoleh kepada Tuhan. Dengan harumnya aroma dupa di tangan, membaca mantra suci dengan gerakan tangan penuh makna, memercikkan air suci memohon keselamatan.

Dalam pemeritahan, selain lembaga administrasi di kabupaten yang mempunyai enam kecamatan diantaranya Kecamatan Petang, Abiansemal, Mengwi, Kuta Utara, Kuta, Kuta selatan ini juga terdapat lembaga adat yang terdiri dari 119 desa adat, 523 banjar dan 523 Sekaa Teruna. Lembaga - lembaga adat ini memiliki peran yang sangat strategis dalam pembangunan di wilayah Badung pada khususnya dan Bali pada umumnya.

Sebagaimana lazimnya sebuah lembaga, anggota masyarakat adat ini terikat dalam suatu aturan adat yang disebut awig - awig. Keberadaan awig-awig ini sangat mengikat warganya sehingga umumnya masyarakat sangat patuh kepada adat. Oleh karena itu keberadaan Lembaga Adat ini merupakan sarana yang sangat ampuh dalam menjaring partisipasi masyarakat. "Banyak program yang dicanangkan pemerintah berhasil dilaksanakan dengan baik di daerah ini, berkat keterlibatan dan peran serta lembaga adat yang ada," tambah Bagiartha.


Wilayah pembangunan Badung dibadi menjadi tiga wilayah pembangunan, Badung Utara, Tengah dan Selatan. Badung Utara dengan pusat pengembangan di Blahkiuh, didominasi aktivitas perkebunan dan tanaman pangan, wisata alam, petermnakan kerajinan da konservasi. Badung Tengah dengan pusat pengembangan di Mengwi didominasi aktivitas pertanian pariwisata budaya, peternakan, dan kerajinan.

Sedangkan selatan dengan pusat pembangunan di Kuta dengan dominasi aktivitas pariwitata perikanan industri kecil perdagangan dan jasa sarta pusat pendidikan. Sektor pertanian dikembangkan selain untuk memenuhi kebutuhan masyrakat, oleh pemkab setempat juga diarahkan untuk menunjang pertanian. Sedangkan sektor industri selain diarahkan untuk penunjang pariwisata juga dikembangkan untuk ekspor dan pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Mempunyai 7 buah kelompok industri logam, mesni elektrnik dan aneka (ILMEA) yang menyerap 433 orang, investasi Rp 312,2 miliar, dan nilai produksi 3.9 miliar. Hasil industri hutan 53 buah, industri kerajinan khas 159 patung kayu, 15 keramik, 43 anyaman bambu dan 33 industri perak.

Thursday, April 26, 2007

Derita Winarti


KETABAHAN hati Winarti (23) benar-benar sedang didera dengan cobaan hidup yang bertubi-tubi. Setelah dihianati calon suaminya saat hamil empat bulan, warga Dusun Cikalan Desa Banyurojo Mertoyudan Kabupaten Magelang ini harus berjuang sendirian merawat buah hatinya yang ternyata menderita Hydrocephalus(pembesaran kepala akibat cairan berlebihan, red).

Bayi berjenis laki-laki yang malang itu bernama Deni Kurniawan. Akibat penyakit yang dideritanya, bayi yang pada 10 Mei mendatang genap berumur setahun ini hanya bisa tertidur di atas potongan busa bekas yang dilapisi kain sarung. Di rumah orang tuanya di RT 2/IX yang kecil dan berpenghuni enam orang itulah Winarti selama ini menyimpan segala dukanya.
Untunglah orang tuanya, Kasmudi (51) dan Sumariyah (52) cukup tabah menerima kenyataan pahit. Termasuk Sri Wahyuni (27) kakak Winarti yang turut menjaga bayi yang hanya bisa bicara melalui tatapan mata saat dia bekerja. "Kalau ibunya sedang pergi bekerja, saya dan emak yang menungguinya," ujar Sri Wahyuni yang ditemui di kediamannya, Kamis (26/4).

Memang bayi yang dari lahir sampai saat ini tidak pernah ditimbang berart badannnya serta diberikan imuniasi itu hanya bisa menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. Matanya yang semakin mengecil akibat pembesaran di kapalnya hanya bisa melihat ke atas.

"Anak ini tidak pernah berkeringat, juga sulit untuk menangis," katanya.
Berbagai upaya telah dilakukan pihak keluarga, termasuk membawanya ke RS dr Sardjito Jogja. Selama 26 hari bayi malang itu dirawat, dokter menyarankan operasi. Karena ketidakpunyaan biaya pada akhirnya saran itu hanya sampai pada sebuah kata-kata. "Karena tidak ada perubahan yang berarti akhirnya keluarga patah arang dan membawa Deni kembali pulang ke Mertoyudan. Dari diagnosis dokter, keponakan saya ini juga mengalami kelainan jantung," tutur Wahyuni menyesal keluarganya tak bisa berbuat apa-apa.
Memang, upah yang diterima Winarti sebagai penjaga sebuah rental di Ruko Prayudan jauh dari cukup untuk biaya operasi. Bekerja jam 07.00-17.00 atau jam 13.00-21.00 ia hanya mendapatkan upah sebesar Rp 10.000.
Penghasilan orang tuanya sebagai buruh di New Armada pun hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan mata berkaca-kaca, Sri Wahyuni menguatkan diri untuk mengawali kisah pilu yang menimpa adiknya itu.

Kisah itu dimulai saat adik perempuannya itu hamil oleh hubungan dengan kekasihnya. Katanya, pada bulan-bulan pertama kekasihnya yang warga desa di Kecamatan Sawangan itu masih sering dating bahkan menemani berobat. Namun setelah menginjak empat bulan, orang tua laki-laki itu mengetahui kehamilan tersebut.

Yang mengagetkan ternyata orang tua si laki-laki mengawinkan dengan perempuan lain tepat saat janin berusia empat bulan. Akhirnya, janin itu tetap diperjuangkan lahir ke dunia meski tanpa seorang bapak. Saat kelahiran tiba, persalinan dilakukan secara cesar di Rumah Sakit Bersalin Aisiyah Muntilan.
Sekitar 15 hari Winarti menginap di rumah sakit tersebut. Sayangnya saat akan menebus bayi yang dilahirkan dalam kondisi tidak normal itu, keluarga winarti tak punya cukup uang. Karena tak bisa membayar biaya persalinan sebesar Rp 1.200.000, untuk membawa pulang Deni Kurniawan pihak keluarga akhirnya menjaminkan BPKB sepeda motor kepada pihak rumah sakit.

Perjanjian pun disepakati dan biaya persalinan itu akan dicicil Rp 100.000 per bulan selama setahun. "Sampai sekarang BPKB masih berada di rumah sakit. Bahkan saat kami akan meminjam sehari untuk memperpanjang STNK pun tidak diperbolehkan," ujar Wahyuni menyebutkan pihak RS bisa memberikan BPKB setelah membayar uang Rp sebesar 2.000.000.

Sumariyah yang lama terdiam akhirnya bersuara. Dirinya pasrah menerima takdir, karena sudah tidak bias berbuat apa-apa. Satu harapan yang tersisa adalah ada malaikat yang turun atas perintah tuhan memberikan pertolongan. "Nggih sak meniko naming pasrah mawon," imbuh Sumariyah buru-buru mengusap mata yang tiba-tiba basah....

Saturday, April 21, 2007

pameran foto

AKHIRNYA pameran foto teman2 wartawan di Magelang dilaksanakan juga, 21-23 April 2006. Sebanyak 19 wartawan dari 11 media ikut memamerkan karyanya dalam pameran yang digelar di Klenteng Liong Hok Bio. Pada pameran ini merupakan kali ketiga aku ikut memamerkan karyaku.

Nggak ketinggalan enam foto yang pernah aku potret di Magelang aku kumpulin untuk ikut pajang bersama 99 foto lainnya. Diantaranya saat aku liputan Jumat Agung dalam prosesi 1000 salib, setahun lalu. Pertama, aku tertarik pada seorang pria yang memanggul anakknya di sebelah kiri dan di tangan kanan memang kayu salib.

Foto kedua adalah waktu kirab dewa bumi se jawa . Foto yang aku ikutkan adalah gambar orang-orang yang membentangkan kain di depan Klenteng. Menurutku foto itu nggak terlalu istimewa, hanya tone-nya kata sebagian kawan menarik. Foto lainnya waktu aku meliput di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Canguk Magelang sekitar pukul 04.00 pagi. Aku jepret kepala sapi yang tergeletak begitu saja. Sedangkan tak jauh dari kepala itu sebuah pisau tergeletak di atas ceceran darah yang jampir menggumpal. Kata teman2 itu sadis, tapi waktu aku ngeliat UU 40/1999 kok nggak masuk dalam kategori sadisme. hehehehehehe

Foto lainnya adalah ritual nyadran di lereng Gunung Merbabu, juga seorang anak yang melambai ketika melepas orang tuanya pergi haji, dan tiga anak yang baru pulang sekolah melewati jembatan gantung di Kali Progo. Mereka anak2 di Kabupaten Magelang namun lebih memilih sekolah di Kota Magelang.

Kendati konsep dan pengambilan angle foto cukup sederhana, namun aku suka sekali foto ini karena nilai human interest yang cukup tinggi.

*Sukses buat pamerannya, tahun depan pasti lebih sempurna....

kartini sumbing

PAGI belum sempurna, matahari pun belum terlihat sinarnya dari di
Desa Sutopati Kecamatan Kaliangrik Kabupaten Magelang, Jumat
(20/4). Namun Karminah (42) bersama beberapa perempuan lainnya
sudah selesai mengikat rumput yang mereke dapatkan. Selanjutnya
mereka beriring-iringan menggendong rumput berkilo-kilo meter
menuju rumahnya.

Demikian setiap hari sejumlah perempuan termasuk Karminah
menjalani hidupnya. Setiap harinya, sebelum anak2 dan suaminya
terbangun Karminah sudah terjaga. Lalu ia mendidihkan air hangat
dan memasak nasi untuk sarapan keluarga.

Baru perempuan yang mempunyai dua anak itu, keluar rumah
sembari membawa sabit dan tali ke lahan. Karena tak hanya
keluarganya yang butuh makan, hewan peliharannya juga butuh
makanan.

"Beban berat sudah menjadi hal yang bagi perempuan yang tinggal
di lereng Gunung Sumbing itu. Lahir dan besar di lereng gunung
membuat ia terbiasa hidup dengan jalan menanjak dan bersanding
dengan alam. Jadi untuk menggendong rumput sampai tiga kilometer ia
pun tak lagi menggeluh.

"Buat pakan sapi, Mas. Kalau tidak pagi nanti tidak bisa
mengerjakan yang lainnya," katanya dengan bahasa Jawa di sela-sela aktivitas merumputnya.

Karminah mengaku bahagia jika sedikit rumput yang ia berikan
menjadi rebutan ternak peliharaanya. Karena kesehariannya hanya itu
yang menjadi hiburannya. Selain memandangi anaknya saat pulas
tertidur ia pun senang melihat hewan saling berebut makanan.

Tidak berhenti di situ saja pekerjaan Karminah. Setelah puas
melihat ternaknya biasanya dia baru sarapan. "Kalau saya pulang,
anak saya yang ragil sudah pergi sekolah. Baru saya makan lalu
menyusul suami saya ke ladang," katanya yang sudah menjalani
perkawaninan selama 26 tahun.

Terpisah, kesetiaan menjalani garis nasip juga dijalani Sri
Suwariyah (78) sepanjang hidupnya. Hingga sekarang hampir 60 tahun
warga Dusun Tegalsari Krajan Kaliangkrik ini berjualan anyaman dari
bambu.

Setiap pagi perempuan yang mengaku hanya mempunyai anak semata
itu sudah membawa barang dagangannya menuju jalan besar sekitar 1,5
kilometer dari rumahnya. Lalu ia pun dengan sabar menungu angkutan
yang akan membawanya ke pasar menjajakan dagangannya.

"Sak lebare geger londo, kulo sampun dodolan," katanya dengan
logat yang unik.

Untuk kerajinan ceting yang ia beli dari Ngripah Wonosobo, ia
jual 2.500 Rp 3.000. Sedangkan anyaman besek yang ia beli Rp 1.000
(per lima pasang ia jual sedikit di atasnya. "Oleh setitik ya digawe nempur," katanya.

Sejak kecil, Suwariyah tidak pernah mengeyam bangku sekolah.
Jaman dulu, kisahnya orang miskin apalagi perempuan tidak boleh
sekolah. Jadi yang bisa sekolah hanya anaknya orang kaya, padahal
kadangkala kepandaian mereka pas-pasan.

"Tapi sekarang sudah beda. Anak orang miskin yang pinter tetap? bisa sekolah. "Ngoten nboten?" tandasnya balik bertanya.

Wednesday, April 18, 2007

jembatan gantung

SEBELUM tahun 1984, masyarakat yang tinggal di wilayah Guntur Desa Rejosari, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang menyeberangi Kali Progo agar cepat sampai ke Kota Magelang. Ketika air sungai meluap pada musim penghujan biasanya warga menyewa jasa gethek. Sedangkan pada musim kemarau saat sair sungai surut banyak masyarakat yang nekat menyeberang dengan menuruni sungai.

Bagi warga Rejosari dan sekitarnya, menyeberang sungai merupakan jalan pintas untuk sampai ke Kota Magelang. Hanya dengan menelusuri pematang sawah mereka sudah tembus di Kampung Ngembik Lor, Kelurahan Kramat, Kota Magelang. Meski sangat berbahaya, jalan tembus tersebut banyak dilalui para pedagang, karyawan, maupun buruh yang bekerja di pasar.

Baru pada tahun 1984 seorang warga Kampung Gembik, mempunyai gagasan untuk membuat jalan yang menghubungkan warga sehingga tidak perlu turun ke sungai. Gagasan Kojin yang juga pernah menjadi penyedia jasa Gethek di sungai tersebut didasari atas keprihatinan banyaknya korban warga meninggal karena hanyut di sungai.

“Ddalam satu tahun pasti ada saja warga yang hanyut di sungai,” ungkap Kojin mengisahkan bagaimana awal mula berdirinya jembatan gantung yang dikelolanya, Rabu 30 Agustus 2006.

Dari catatannya kurang lebih 28 orang mejadi tumbal keganasan arus Kali Progo. Kebanyakan para korban tersebut nekat menyeberang sungai saat alirannya sedang deras. Apa yang terjadi, sesampainya di tengah sungai ada yang tidak kuat menahan desarnya arus, kemudian terseret dan akhirnya tenggelam.

Pada waktu itu, bersama seorang warga, Kojin mendirikan jembatan sederhana yang membentang di atas Kali Progo. Sayang, jembatan itu hanya kuat bertahan sampai ketika banjir besar pada tahun 1989 membawa serta jembatan tersebut.

Tak pantang menyerah, pada tahun yang sama, pria kelahiran tahun 1952 tersebut berniat mendirikan kembali bangunan jembatan yang sama. Tentunya dengan konstruksi yang lebih kuat. Bersama dua orang warga Guntur Bandongan yaitu, Cipto dan Suwarno, pria yang sehari-hari menjadi buruh tani tersebut membangun kembali jembatan Gantung itu.

Dengan mengandalkan empat buah tali pancang dari bekas tambatan kapal yang ia beli dari Semarang jembatan itu dirikan. Selama 17 tahun kini jembatan itu masih berdiri. Dengan dasar ayaman bambu, jembatan tersebut dalam sehari setidaknya menghubungkan sekitar 400 warga.

“Alhamdulillah, yang kedua ini awet sampai sekarang. jembatan ini dibangun oleh perorangan. Tidak ada bantuan dari pemerintah,” ujar Kojin yang kini menjadi penjaga di bagian timur.

Keberadaan jembatan tersebut membawa dampak sosial bagi warga di dua wilayah. Sebelum adanya jembatan tersebut, nyaris tidak ada anak sekitar Rejosari yang sekolah di Kota Magelang. Adapun setelah ada jembatan tersebut banyak anak-anak yang sekolah di perkotaan.

“Ibadah itu kan tidak hanya sembahyang di masjid to, Mas. Menolong orang seperti ini juga termasuk ibadah,” celetuk bapak tiga anak itu.

Memang, sebagai biaya perawatan pengguna jasa jembatan tersebut di kenai sumbangan sebesar Rp 100 untuk pejalan kaki dan Rp 200 untuk pengendara. Sementara anak-anak dan petani dan anak-anak sekolah tidak dipungut biaya.

“Ada pula yang cuek sering lewat tetapi tidak banyar, ya tidak dilarang,” ungkap Kojin.

Dia mengakui, beberapa kali mencuat wacana dari Pemerintah Propinsi Jawa Tengah yang akan membangun jembatan permanen di area itu. Sampai sekarang rencana tersebut hanya sebuah wacana. Pasalnya banyak hal yang menjadi kendala, termasuk tingginya biaya yang harus dikeluarkan. Selain itu, keberatan dari warga sekitar, karena mereka dimungkinkan tidak mau jika dilakukan pembebasan tanah untuk jalan tembus.

“Sudah berkali-kali para pejabat dari provinsi meninjau, tetapi belum jelas kapan realisasinya,” ujarnya. ***

Getuk Gondok

SIAPA yang menyangka kota sekecil Magelang memiliki koleksi makanan yang cukup beragam. Boleh menyebut beberepa diantaranya Tahu Kupat, Senerek, Wajik dan Getuk. Dengan getuknya misalnya, kota yang hanya memiliki luas wilayah 12,18 km2 naik tersebut menjadi naik daun. Wajar jika kemudian wilayah yang berjarak 65 km dari Semarang dan 42 km dari Jogja, dijuluki sebagai kotanya getuk.

Jika sempat berkunjung ke Kota Magelang atau sekadar mampir sewaktu pulang mudik lebaran, jangan lupa membawa oleh-oleh jajanan khas Magelang ini. Beragam getuk diproduksi di kota ini, dan yang terkenal adalah Getuk Trio. Perlu diketahui getuk berbahan dasar singkong ini memang hanya ditemukan di Kota Magelang dan sekitarnya saja. Trio memang bukan saja merek dagangnya, melainkan juga karena getuknya terdiri dari tiga warna, yaitu putih, cokelat dan merah jambu. Jika belum pernah mencoba, rasanya sangat enak, manis, dan gurih.

Sebagai kota getuk, tentu tak cuma Getuk Trio buatan Herry Wiyanto yang ada di kota yang hanya memiliki dua kecamatan dan 14 kelurahan. Ada lagi getuk lain yang dikenal sebagai Getuk Gondok. Berbeda dengan Getuk Trio yang banyak dijual di toko dan pusat oleh-oleh, untuk mendapatkan penjual Getuk Gondok ini biasanya kita harus mendatangi ke pasar tradisional.

Getuk Gondok pertama dan paling enak adalah yang berada di kawasan Pasar Rejowinangun tepatnya di Jalan Mataram yaitu Toko Panorama tekstile dan Toko Mas Lompetan. Maka kemudian, ada pula yang menyebut getuk tersebut dengan nama Getuk Panorama atau Lompetan.
Memang, di sanalah Getuk Gondok yang asli berada. Sebab hingga saat ini belum ada tempat lain yang menjual getuk tersebut. Kendati hanya berjualan di pasar tradisional dan berlokasi hanya di emperan jalan, tapi penggemar getuk yang satu ini cukup banyak.

“Bermacam-macam, tidak hanya dari Magelang dan sekitarnya, namun dari Jogja, Semarang, sampai Jawa Timur. Ada pembeli merupakan orang asli Magelang yang singgah atau sekadar lewat dan membeli Getuk buat oleh-oleh,” jelas Hj Sri Rahayu saat ditemui Bernas Magelang di kediamannya Kelurahan Karet, Bulurejo, belum lama ini.

Sri sudah berjualan getuk Gondok sejak tahun 1985. Dia meneruskan usaha keluarga yang telah digeluti secara turun temurun dari ibu yang menggantikan sang menek, Ny Ali Mohtar. Kendati ia mengaku sudah lupa sejak kapan getuk ini tercipta, menurut cerita Sri, nama Getuk Gondok bukan nama asli dari produk getuk ini.

Ceritanya, dulu ada seorang pembeli yang tak sengaja menyebut getuk yang berbentuk bulat-bulat itu dengan sebutan getuk gondok. Mungkin karena penjualnya yang tidak lain nenek Sri Rahayu yang menderita gondok. Sejak itu, getuk itu dikenal sebagai Getuk Gondok, penjualnya dikenal pula dengan nama Mbah Gondok. Sri Rahayu merupakan generasi ketiga Getuk Gondok. Namun demikian pembuatannya dipertahankan masih secara tradisional.

Sejak pagi, sekitar enam orang karyawan keluarga sendiri sudah mulai bekerja membuat adonan. Karena bahan baku Getuk Gondok adalah ketela, gula, garam, perwarna yang terdiri dari ketela, gula garam sedikit dan mentega. Sampai saat ini Getuk Gondok mempunyai enam jenis getuk yaitu Gondok atau mawur, polada (bulat ada cokelatnya), cokelat gula merah, merah muda, hijau, dan pelangi empat macam).

Getuk yang dijamin pembuatnya tidak ada pengawet, tanpa sakarin atau pemanis buatan lainnya ini masih bertahan dengan system pasarkan secara mandiri. Harganya pun jauh dari mahal, sampai konsumen yang hanya membeli Rp 1.000 pun dilayani. Sedangkan dalam setiap dusnya dijual Rp 5.000 berisi 20 potong getuk yang terdiri dari empat macam ditambah Rolade dua potong dan Gondok dua potong.

Kini Getuk Gondok sudah berkembang di daerah lain. Pasalnya anak pertama Sri Rahayu telah mengembangkan ketuk Gondok ke Kediri. Meskipun bahan dasarnya sama getuk yang dikembangkan di Kediri dikenal kepada masyarakat sebagai Getuk Ayu Panorama. “Namun di sana hanya ada dua macam saja, yaitu Rolade dan Pelangi dan ditambah Klepon dan Jonkong,” katanya.

Saya pernah nyoba, asli lho enaknya.

Jamu Godog

LAMPU rating sebelah kiri sebuah truk menyala, pertanda mobil bak tinggi tersebut akan berhenti. Sesaat setelah deru truk pengangkut pasir itu berhenti, pria setengah baya bergegas masuk kedai jamu di bilangan Jalan Jenderal Sarwo Edhi Wibowo Kota Magelang, Rabu 26 April 2006 lalu.
“Biasa Mas, pegel linu,” ujar pria setengah baya pendek kepada penjaga kedai.

Bangunan yang di desain secara tradisional tersebut khusus menyediakan berbagai racikan tanaman obat. Mulai dari asam urat, darah tinggi, gatal-gatal, kolesterol, masuk angin, pegel linu, sehat pria, dan sehat wanita tersedia di sana.

Berbagai racikan itu ada yang sudah siap dikonsumsi, namun adapula yang dijual secara paketan. Tanaman obat yang terdiri dari berbagai jenis daun-daunan, daging buah-buahan, batang-batangan dan akar-akaran tersebut dibedakan dari jenis khasiatnya. Tak ketinggalan, berbagai jenis empon-empon seperti jahe, maupun temu lawak tak ketinggalan dari paket tersebut.

Salah satu penjaga kedai, Muntarin mengungkapkan masyarakat saat ini mulai menyukai jenis tanaman maupun obat-obatan yang bersifat natural. Selain murah, obat-obatan herbal juga cukup aman di konsumsi. Hal ini dikarenakan tidak mengandung bahan pengawet dan bahan-bahan kimia.

“Memang secara jangka pendek dampak mengkonsumsi obat-obatan kimia tidak akan terlihat. Namun dalam jangka panjang efek negatif itu akan mencul,” tandasnya.

Menurut Ari, ramuan yang sering dicari pengunjung baik para supir sampai para pejabat adalah jamu dengan kategori obat kuat.
“Umumnya mereka minta obat kuat dan obat penyakit asam urat,”tambahnya.

Direktur Merapi Farma Magelang Gunawan Eko, menjelaskan bahwa Indonesia memiliki tanaman yang obat berlimpah. Untuk itu dengan tanaman itu sebenarnya masyarakat berusaha untuk sehat. Karena kesehatan adalah investasi yang sangat besar nilaiany.
Disebutkan, berbagai penelitian sudah dilakukan terhadap sejumlah tanaman obat yang biasa diramu menjadi jamu godog ini. Portulaca oleracea L atau yang lazin disebut tanaman Krokot misalnya, ternyata berkhasiat untuk mengobati penyakit diare dan panas dalam.

Sedangkan daun Sangitan yang nama latinnya Sambicus javani Reinw dapat dipakai untuk mengobati badan bengkak pada penyakit ginjal, beri-beri atau reumatik. Sementara daun Legundi atau Vitex trifolia L mampu mengobati asma, muntah darah, turun peranakan, dan eksim.
Di Indonesia satu-satunya bagian yang dimanfaatkan adalah rimpang temulawak untuk dibuat jamu godog. Rimpang ini mengandung 48-59,64 persen zat tepung, 1,6-2,2 persen kurkumin dan 1,48-1,63 persen minyak asiri dan dipercaya dapat meningkatkan kerja ginjal serta anti inflamasi.
Sampai saat ini Merapi Farma sudah memproduksi tanaman obat sendiri sehingga sudah bisa dikonsumsi masyarakat yang membutuhkan. Ada sebagian tanaman yang sudah bisa diolah sendiri sehingga menjadi ramuan yang bisa menyembuhkan penyakit.

Namun sayangnya, masyarakat belum bisa memperoleh tanaman berkhasiat ini di toko obat atau di apotek. Sebab distribusi tanman obat ini belum dipasarkan secara bebas. Hanya para anggota saja yang bisa menjual. Sedangkan mereka yang bukan anggota tidak bisa untuk memasarkannya.

“Ini untuk menjaga agar racikan yang sudah ada benar-benar masih orisinil dan tidak di campur-campur,” ujar Gunawan.

Tapi, masyarakat bisa datang ke sini. Kami melayani ramuan itu di sini, baik yang tinggal diminum atau paketan," tandasnya.

Kalau pas lewat kesana, mampir boleh juga. Sehat kok.

Onthel Suparjo

MUSIM kemarau membuat siang hari di Kota Magelang panas menyengat. Pejalan kaki dipaksa memakai payung untuk menghidarinya. Begitu juga pengendara sepeda motor, membungkus wajah dan tangannya dengan masker dan sarung. Namun, tidak bagi Suparjo (71). Di tengah terik, warga kelurahan Magersari, itu serius dengan sepeda kumbang di sebuah trotoar Jalan Panglima Sudirman.

Meski tak tangguh dahulu, kedua tangan Suparjo masih cukup kuat melepaskan velg sepeda. Begitu juga kedua matanya, masih cukup awas untuk melepaskan dan membedakan skrup sepeda. Meski tak jarang, waktunya habis untuk mencari skrup jatuh. Kendati demikian, Parjo masih setia menekuni profesinya menjadi bengkel sepeda.

Tidak banyak memang, orang yang setia dalam melakoni profesinya, seperti bapak tiga anak itu. Dapat dimaklumi saking lamanya, ia hampir lupa menyebutkan angka pasti tahun berapa ia memulai pekerjaanya. Yang ia ingat, selama lebih dari 50 tahun ia menjalani pekerjaan yang menghidupi keluarganya sampai seluruh anak-anaknya mandiri.

"Sudah lama sekali. Sejak kecil saya sudah mulai jadi bengkel. Ingat saya setelah zaman Jepang saya sudah menjadi bengkel sepeda," ujar pria kelahiran Bumirejo, Mertoyudan Kabupaten Magelang tahun 1935 tersebut.

Karena tidak memiliki lokasi tetap, dalam menjalani pekerjaannya itu, suami dari Bingah, selalu berpindah-pindah.Setidaknya ia pernah beroperasi di sejumlah trotoar di Kota Magelang seperti di pertigaan Karang Gading, Alun-alun, dan di depan New Armada. Sampai akhirnya ia berada di trotoar di Jalan Soedirman dan bertahan hingga saat ini.

Dari kesetiaannya pada sepeda, Parjo adalah saksi hidup mulai runtuhnya kejayaan sepeda onthel. Katanya, mulai tahun 1960 bengkel sepeda onthel mulai menurun dari orderan. Apalagi sekarang, orang lebih memilih sepeda motor sebagai alat transportasi sehari-hari ketimbang sepeda pancal. Dipastikan jika pendapatannya menjadi seorang bengkel juga ikut menurun.

"Sekarang lebih ngenes dan tidak menentu. Tapi kalau dibuat rata-rata hanya Rp 3.000-4.000 perhari," ujarnya, mengisahkan lelakon
kehidupan masa tuanya yang semakin susah.

Untunglah, Bingah istrinya masih menyokong ekonomi keluarga dengan menjadi penjual rokok kaki lima. Diakui, itu menambah penghasilan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Bersama istrinya Parjo mereka hidup berdua, setelah anak terakhirnya sudah membina keluarga sendiri.

Sementara itu di tengah sepinya orang yang datang membutuhkan jasanya, laki-laki yang tubuhnya sudah dimakan usia itu hanya duduk termenung. Dalam hatinya, ia masih bersyukur, meski hidup jauh dari kecukupan, seluruh anaknya sudah mandiri. Kini ia bersama istrinya tinggal menunggu sang penguasa umur memanggilnya dengan tenang.

"Cukuplah Mas, untuk memberi uang jajan cucu," ujarnya sembari menyelesaikan tambalan ban sepeda kumbang yang ia kerjakan. Untuk sebuah tambalan ia meminta uang lelah Rp 2.000. Namun untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih sulit ia kadang mematok tarif Rp 3.000 sampai Rp 3.500. Pekerjaan itu ia lakukan setiap hari, berangkat dari rumah sekitar pukul 07.00, lalu kembali pulang pada pukul 16.00.

Ia rela harus berjemur di tengah terik setiap hari. Sadar trotoar bukan miliknya karena ada hak orang lain, yaitu pejalan kaki yang lewat di sana. Tapi bagaimana lagi selain trotoar tidak ada lagi tempat baginya mengais sisa rizki. Untuk itu ia tidak memasang tenda untuk menaungi dirinya dari panas matahari. "Nanti digaruk Satpol. Tapi kalau memang masih digaruk, saya ikhlas. Apalagi kalau diberi makan," katanya meski kekurangan ia mengaku tidak pernah mendapatkan Sumbangan Langsung Tunai (SLT) dari pemerintah.*

catatan: Kalau pas lewat di Jalan Sudirman Kota Magelang trus ada laki2 tua di trotoar sebelah timur jalan, itu dia yang bernama Suparjo.