About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Thursday, March 22, 2007

Pengusaha Mengerti?

PEMERINTAH Kota Magelang meminta kepada para pengusaha di Jalan Beringin VI untuk mengerti terhadap pembangunan pasar sementara di kawasan itu. Pasalnya Pemkot mengalami kesulitan dalam mencari lokasi penampungan untuk pedagang Pasar Gotong Royong
tersebut.

"Pembangunan penampungan sementara memang akan mengganggu
aktivitas usaha. Namun dengan dukungan aparat terkait, kami
berusaha meminimalisir terjadinya risiko gangguan," ujar Ketua I
tim pembangunan pasar GR, Budi Prasetyo saat menemui
puluhan pengusaha, Kamis (22/3).

Kedatangan puluhan pengusaha yang didampingi Ketua Apindo
Edy Sutrisno ingin mengajukan protes terhadap pembangunan penampungan
sementara. Dengan alasan tidak pernah diberitahukan sebelumnya,
trotoar untuk kios dan dilakukan secara mendadak. Namun alasan
utama adalah dengan dibangunnya pasar di jalan itu akan mengganggu
aktivitas usaha mereka.

Sementara itu, untuk menjembantani kepentingan pengusaha,
Pemkot menawarkan untuk menyediakan parkir di pangkalan truk di
Jalan Sukarno Hatta sebelum memasukkan truk mereka ke gudang. Akan
tetapi diperingatkan kepada para pengusaha bahwa Jalan Beringin VI
merupakan jalan kelas III, yang hanya bisa dilewati oleh kendaraan
bermuatan 8 ton.

"Kami sudah memperhitungkan agar relokasi tidak mengganggu
usaha," tambah Budi Prasetyo yang pada saat itu didampingi Asisten
Sekda II Margiyono Dwi Yuwono, Kepala Disperindag Drs Bambang
Pangarso, serta sejumlah pejabat lainnya.

Kepala SMA Tarakanita Theo Tri Sunarto didampingi sejumlah
komite sekolah juga turut hadir untuk kembali mengajukan
keberatannya. Mulai dari kekhawatiran terhadap matinya akses jalan,
masuknya pedagang ke area sekolah, sampai kekhawatiran gangguan
siswa menjelang Ujian Nasional disampaikan.

"Sekali lagi kami khawatir dengan keberadaan pedagang akan
membuat gangguan bagi proses pembelajaran di sekolah," ujar Theo
Tri Sunarto.

Namun demikian, rencana Pemkot untuk membangun pasar sementara
di lokasi itu tampaknya sudah menjadi keputusan final. Hanya saja
diakui di depan area SMA tersebut tidak akan dibangun kios, karena
yang akan dibangun hanya sisi barat saja.

"Untuk pembangunan di depan SMA itu kesalahan pelaksana,
karena dalam perencanaan tidak ada," ujar Budi seolah cuci tangan.

Dikatakan Kepala Bapeko itu, pada nantinya sepanjang trotoar
Beringin VI sebelah timur akan diisi pedagang besi dan onderdil.
Sedangkan trotoar sebelah barat akan diisi untuk sepeda. Para
penjual basahan seperti sayuran, ikan, dan daging akan ditempatkan
di lapangan.

"Bangunan kios yang akan didirikan sejumlah 606 yang terdiri
dari 306 di Beringin VI, 200 di lapangan dan 100 buah di Jalan
Beringin IV," ujarnya.

Budi berharap kepada puluhan pengusaha yang terdiri dari bengkel, rumah makan, percetakan, penjual bakso, distributor produk, sampai pabrik kecab yang pada awalnya menolak relokasi pasar sementara di lokasi tempat usaha mereka. "Tanpa adanya dukungan dari masyarakat pembagunan tidak akan berhasil," tandasnya.

Wednesday, March 21, 2007

Guru Temanku

SEORANG teman yang menjadi guru SMP swasta di Sleman DIY mengeluh kepada saya tentang sepeda motornya yang sering ngadat. Terkadang sepeda motor yang ia beli sejak setahun lalu, itu mogok di tengah perjalanan pulang mengajar. Tidak jarang pula vespa tua kesayangannya itu sudah macet ketika ia baru sekitar 100 meter meninggalkan rumah kontrakannya.

Bukan kali pertama, teman saya itu berkeluh kesah. Sudah sejak dua bulan lalu, ia berencana akan menjual sepeda motornya dan menggantinya dengan yang baru, dengan sistem kredit tentunya. Namun rencana itu gagal setelah tabungan yang sedianya dialokasikan untuk menambah uang muka habis buat biaya anaknya yang sakit mendadak.

Sebagai teman yang masih melajang, hampir setiap kesempatan teman saya itu selalu bercerita tentang kepahitan yang menimpanya. Mulai dari belitan hutang, kontrakan yang belum lunas, sampai anaknya yang sering rewel ia ceritakan kepada saya.

Anehnya, meskipun sebagai seorang pendidik, jarang sekali ia menceritakan bagaimana kondisi sekolahnya, para siswa, guru-guru, termasuk mata pelajaran yang diampunya. Bisa dikatakan, ia tidak pernah menyinggung terhadap kebijakan baru di dunia pendidikan dalam setiap perbincangan.

Termasuk saat hangat-hangatnya kemunculan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai pengganti Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang banyak diperbincangkan, teman saya itu hanya menaggapi dingin dan sangat sederhana. Ia lebih memilih omongan soal bagaimana memperbaiki sepeda motornya yang sering macet dan masalah kehidupan lainnya. Apalagi ia akan sangat senang apabila diajak berdiskusi soal model sepeda motor keluaran terbaru dengan uang muka terjangkau.

Barangkali teman yang saya ceritakan di atas, tidaklah sendirian. Saya yakin masih banyak lagi guru-guru yang lebih tertarik membicarakan masalah ekonomi keluarga ketimbang mata pelajaran ekonomi di kelasnya. “Kondisi ekonomi keluarga lebih penting untuk diselamatkan daripada pelajaran ekonomi,” begitu jawannya yang saya peroleh saat pertanyaan lontarkan kepadanya.

Mendengar jawaban itu, mungkin akan terkesan bahwa guru semacam itu bukanlah guru yang baik. Ekstrimnya sudah selayaknya jika guru semacam itu diberhentikan saja. Namun persoalannya tidak sesederhana itu. Karena pertanyaan yang akan muncul selanjutnya adalah, apakah jika sebagian besar guru di Indonesia memilih bersikap pragmatis semuanya itu lebih baik diberhentikan saja. Juga apakah para penggantinya akan lebih baik atau bahkan sama saja?

Memang secara konseptual, perubahan kurikulum merupakan upaya pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) untuk memperbaiki mutu pendidikan nasional. Namun jika kemudian secara faktual pelaksanaannya terjadi kekurangan di sana-sini, itu disebabkan karena konsep yang ada tidaklah dipahami dan dilaksanakan secara benar oleh para praktisinya, yaitu guru.

Pantas saja jika sejumlah pihak memasang sikap psimistik ketika menghadapi perubahan kurikulum baru ini. Prof Djohar MS adalah salah satunya. Dalam sebuah diskusi pendidikan belum lama ini, pakar pendidikan yang kini menjadi rektor Universitas Sarjana Wiyata (UST) Yogyakarta berani memprediksikan bahwa penetapan KTSP akan mengalami kegagalan. Karena penerapan kurikulum baru ini tidak dimbangi dengan persiapan yang matang oleh sekolah. Padahal tanpa diimbangi dengan sosialisasi, pemahaman dan pelaksanaan, pemahaman yang diyakini para guru hanya setengah-setengah.

Bahkan Johar menilai, kurikulum terbitan pemerintah yang selalu berganti-ganti adalah “omong kosong”. Sebab secara kenyataan di lapangan tidak ada pengaruhnya terhadap metode pembelajaran yang diterapkan sekolah . Malah kurikulum yang berganti-ganti menunjukkan bahwa pendidikan justru tidak memiliki tujuan yang jelas.

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Jika merunut pengalaman yang ada, perubahan kurikulum, sering menjadi sebuah rutinitas formal dari tahun ke tahun. Konsep kurikulum hanya menjadi sebuah dokumen tanpa makna. Secara singkat dapat dikatakan, apapun kurikulum yang diterapkan yang terpenting adalah pada gurunya. Sehebat apapun kurikulum yang berlaku jika para guru tidak mengaplikasikan secara benar di dalam kelas maka akan percuma saja.

Sulit memang mengurai benang kusut di dalam pendidikan kita. Sulit menemukan ujung pangkal dan pokok persoalan. Apakah berasal dari kesalahan pemerintah sebagai pembuat kebijakan, sekolah dalam hal ini guru sebagai pelaksana, system yang ada atau malah anak didik yang menjadi faktor utama tidak berhasilnya kurikulum yang dilaksanakan.

Barangkali teman guru yang saya ceritakan di atas dapat dijadikan sebagai salah satu sample. Mengapa ia lebih senang berbicara masalah ekonomi keluarga daripada pelajaran ekonomi. Tentu saja pada akhirnya teori piramida kebutuhan berlaku. Dimana kebutuhan mendesak yang harus ia penuhi adalah pemenuhan ekonomi. Jika tidak, memikirkan kebutuhan ekonomi keluarga yang di depan mata saja sudah pusing rasanya tidak jika harus ditambah lagi dengan kurikulum baru.
Sudah menjadi rahasia umum, tidak hanya siswa yang ingin cepat pulang. Teman saya itu juga mengaku sering kepingin cepat pulang ketika berada di sekolahan. Alasannya ia ingin cepat menyelesaikan garapan. Maklum saja, teman saya itu mempunyai usaha sambilan membuka rental komputer di rumahnya.

Apakah sikap itu bisa disalahkan? Menurut saya tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Sebagai seorang guru barangkali ia bisa dikatakan sebagai orang tidak bertanggungjawab dengan provesinya. Namun di sisi lain sebagai kepala keluarga ia adalah orang tua yang bertanggung jawab.

Masalahnya, apakah pemerintah di dalam mengeluarkan setiap kebijakan sudah sampai menyentuh hal-hal yang demikian. Mungkin bagi guru yang berstatus PNS mereka masih sempat berpikir soal kurikulum baru seperti KTSP. Namun meskipun saya belum melakukan survey tapi saya yakin banyak di antara para guru yang membaca Peraturan Pemerintah (PP) 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Jika PP saja belum dibaca, bagaimana mungkin para guru itu sempat memahami Peraturan Menteri (Permen) 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, Permen 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Kelulusan dan Permen 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Permen 22 dan 23 tahun 2006.

Saya berani berkata demikian karena mendasarkan mengakuan seorang pengawas SMP/SMA di Kabupaten Kendal, Drs Utomo MPd di depan ratusan guru di Kota Magelang. Ia pernah melakukan penelitian sengan sampel 80 orang guru, hasilnya sebagian besar guru tidak bisa menjawab tujuan pendidikan baik secara nasional, institusional maupun secara kurikuler.

Sebenarnya saya hanya ingin mengatakan, terlepas apa yang menjadi latar belakangnya banyak yang mempunyai kondisi seperti teman saya. Desakan ekonomi membuat guru tidak sempat berpikir tentang ideal sebuah pendidikan. Boleh jadi para guru yang berstatus PNS masih bisa mengejar ketinggalan karena kondisi ekonomi yang lebih baik. Tetapi bagaimana nasib guru swasta apalagi yang berada di daerah pinggiran yang sisa waktu mengajarnya dipakai untuk menjadi tukang ojek maupun pedagang kaki lima.

Benarlah adanya bahwa selama ini konsep yang diberikan pemerintah tidak sepenuhnya dipahami oleh para guru apalagi dilaksanakan. Celakanya dengan dalih sosialisasi kurikulum baru, pemerintah daerah dalam hal ini dinas pendidikan provinsi atau kabupaten/kota memanfaatkannya untuk sekadar mencari proyek dadakan dengan menggelar pelatihan, workshop dan seminar untuk para guru.

Untuk mendukung pelaksanaan sebuah kurikulum baru di daerah diperlukan komitmen berbagai stakeholder. Setidaknya tiga elemen yaitu pemerintah daerah, sekolah dan masyarkat perlu benar-benar serius. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan jangan menyalahgunakan otoritas yang dimiliki. Adapun sekolah selaku pelaksana kebijakan haruslah memahamkan elemennya tentang visi misi lembaganya. Sedangkan masyarakat melalui komite sekolah ikut memantau kegiatan sekolah, termasuk memberikan kritik konstruktif.

Jika setiap elemen melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing tentu cita-cita pendidikan semakin dekat. Namun sulit mencapai idealitas di atas jika seluruh elemen itu masih sibuk memikirkan ekonomi keluarga. Seperti pengakuan teman saya yang tidak bisa serius mengajar karena sebelum sampai sekolah ia sudah loyo lebih terlebih dahulu. Hal itu karena dia harus menuntun vespanya yang mogok sekitar satu kilometer di atas jalan menanjak.

Kalo ingat begitu, takut aku jadi seorang guru...

Friday, March 16, 2007

Negeri Tahayul

REPOT juga ternyata jika kita dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa masyarakat kita masih menyakini banyak hal2 yang tidak masuk akal. Mitos, tahayul dan apapun sebutannya yang bersifat irasional masih melekat pada pemikiran sebagian warga. Bukan hanya orang jawa saja yang percaya hal itu. Keyakinan para warga keturunan Tionghoa terhadap mitos pun sangat kuat.

Seperti ketika aku mengikuti selamatan oleh puluhan warga Tionghoa umat Klenteng/Tempat Ibadah Tri Dharma Liong Hok Bio di puncak Bukit Tidar Kota Magelang pada 15 Maret 2006. Tiba2 salah seorang dari peserta ritual itu kerasukan makhluk gaib. Roh merasuk ke dalam diri peserta yang bernama Erna mengaku salah satu penghuni bukit yaitu eyang Ismoyo atau yang penduduk setempat menyebut Eyang Semar.

Dari mulut perempuan yang ternyata tamu dari Bali itu tiba-tiba mengucapkan berbagai pesan untuk peserta selamatan sembari memakan daun sirih yang diletakkan di sebuah tempat khusus sebagai salah satu uba rampe sesaji. Adapun sejumlah sesaji juga disediakan seperti dupa, nasi tumpeng, ingkung ayam, nasi kuning, jajan pasar dan empat macam bubur pasar.

Uniknya, roh itu juga ternyata ikut prihatin terhadap konsisi bangsa kita. Dikatakan bahwa Nusantara saat ini sedang sakit. Ibarat
manusia tubuh sudah sakit, tinggal jantungnya saja yang
masih berdetak.

Lebih unik lagi, pada akhir pembicaraan para peserta diminta untuk membagikan sesaji yang dibawa secara merata. Juga meminta meninggalkan kendi berisi air di puncak Bukit Tidar. Permintaan lainnya adalah air dalam kendi tersebut setiap hari harus diganti dengan yang baru sampai selesainya acara kirab.

Memang selain terdapat makam seoarang ulama bernama Syaikh Subakir, di bukit yang dijuluki 'pusarnya' tanah jawa itu diyakini terdapat beberapa penghuni. Salah satu yang tertulis dalam huruf jawa 'So' dalam tugu dipelataran, yaitu Enyang Ismoyo, Eyang Ratu Mangli dan Eyang Purboyo yang merupakan kasepuhan kraton Mataram. Selain itu juga terdapat kuburan keramat Kyai Sepanjang yang diyakini merupakan tombak yang dikubur tidak jauh dari makam Syaikh Subakir.

Terlepas persoalan mitos, sebagian orang masih punya keyakinan bahwa barang siapa yang dapat mendepa sebanyak tiga kali panjang kuburan tersebut, permintaan akan terkabulkan. Bahkan kata juru kuncinya, belum lama ini ada calon bupati di Lampung yang datang berziarah di tempat itu. Mujurnya, setelah melakukannya itu, kabarnya niatnya ternyata dikabulkan.

***

Melihat itu semua tidak mudah untuk membuat bangsa kita berpikir secara rasional. Sehingga dapat meninggalkan dari perbuatan yang dilakukan manusia pada zaman purba. Tanggak waktu diceritakan seperti itu, terbersit dalam benak untuk mencoba. Jangan-jangan?

Wednesday, March 14, 2007

bakal geger,deh

MENURUT instingku, kayaknya proses pelaksanaan pembangunan pasar Gotong Rotong di Kota Magelang bakalan geger (mudah-mudahan salah. Mulai dari awal saja, sudah banyak indikasi menuju ke arah itu. Banyak banget. Tapi karena tulisan hanya sebatas rasan2 nggak ada kewajiban untuk nyebutin apa saja indikasi itu.

Pertama kali melihat para investor yang akan membangun proyek senilai Rp 4 Miliar itu saja aku dah sangsi. Entahlah, menurut subjektivitas aku mereka kayaknya nggak pantas aja. (subjektif boleh khan?)

Nah, pas penandatangan MoU dengan pemkot banyak ditemui sejumlah kejanggalan. Para investor datang dengan seragam, sepatu dan handphone-nya. Pokoknya nggak mach-lah, antara pakaian dari bawah sampai ke atas.

Nah, yang lebih lucu lagi ada yang seorang dari mereka, aku nggak inget jabatannya, pas mau motret pakai Nokia N 70 ternyata nggak taum caranya. Malah dia nanya ma teman di sampingnya. Lucu kan, kalau itu punyanya sendiri mestinya dia bisa dong sekadar motret. (itu baru satu indikasi).

Belum lagi pada proses relokasi pasar sementara. Kayaknya akan mendapat resistensi dari warga setempat. Sebab, ada kabar beredar ada sejumlah warga yang mengaku belum diberitahu oleh investor. Ujug2 sudah dibangun, katanya.

Bisa dipredikisikan, seperti kasus pembangunan pasar di sejumlah wilayah, setelah penempatan pasar sementara berlangsung beberapa waktu, masalah yang akan timbul adalah masalah sampah atau lebih tepatnya kekumuhan. Padahal tidak jauh dari lokasi itu ada sekolah yang juga berpotensi akan bersuara.

Dari indikasi di atas menjadi PR tersendiri bagi Investor dan Pemkot untuk mengantisipasinya.......

Tuesday, March 13, 2007

Tanam Padi Panen Jerami

AKHIR-akhir ini pak Bambang Daryono punya kebiasan baru. Pak Dar (seorang petani di Dusun Salakan Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang Jateng) itu kini selalu ngajak anjingnya setiap pergi ke sawah.

Bukan lantaran hobi atau gaya bak pencinta hewan. Namun pak tani yang kini punya padi siap panen itu membawa anjingnya agar dapat membantu memburu tikus yang menghabiskan bulir padi miliknya.

Aku yakin, bagi Pak Dar maupun petani lainnya, ketimbang manfaatnya tikus memang lebih banyak dampak buruknya. Ibarat kata, para petani yang miara sawah dengan tetesan keringat, darah dan air
mata, tapi tiba-tiba semuanya ludes oleh ulah tikus.

Selain memburu tikus dengan anjing, Pak Dar yang puluhan tahun
jadi petani itu telah melakukan berbagai hal. Seperti menggunakan racun yang dipasang di lubang persembunyian tikus melalui kepiting sawah yang bagian dalam tubuhnya telah kasih racun.

Catatan pengamat hama penyakit tanaman pangan setempat, wilayah Pak Dar merupakan salah satu dari 12 kecamatan di kabupaten itu yang terserang hama tikus. Artinya, ada ratusan petani di 11 kecamatan lainnya yang bernasip sama seperti Daryono itu.

Maka teori tabur tuai yang selama ini dipercaya, siapa menabur dia yang menuai tidak berlaku lagi. Karena sekitar tiga purnama lalu petani menamam benih padi tapi tiga purnama kemudian dia hanya bisa menuai jerami. Sebab bulir padnya habis dimakan tikus.

***

Melihat kenyataan itu aku jadi inget ma bapak ibuku yang ada di kampung. Juga tentang masa kecil dan remajaku yang dekat dengan sawah. Tentang semua yang berbau pertanian, juga keluargaku yang sebagian ekonominya ditopang sektor pertanian.

Aku benar2 bisa merasakan bagaimana perasaan para petani itu, ketika sawah yang sudah hampir panen tiba2 dibabat habis tikus lebih dulu. Sakit benget,tapi gak tau kepada siapa. Jengkel, sedih, geram dan tak bisa berbuat apa2.

Aku pernah merasakan, bagaiman beratnya bergulat dengan terik matahari. Saat orang kantoran belum terbangun, petani sudah bergelut dengan lumpur di sawah. Saat para pegawai sudah tidur nyenyak di rumah (selingkuhannya), para petani musti terjaga menengok aliran air di sawah.

Aku mengerti sebab aku dibesarkan dalam tradisi petani, meski darah seorang pedagang pun mengalir dalam tubuhku. Aku bangga ditakdirkan sebagai anak petani. Dididik dengan kerja keras dan kemandirian serta belajar menjunjung sebuah kejujuran.

Itulah barangkali, kenapa aku suka menulis tentang sawah, tentang para petani, orang dusun dan pedesaan maupun kearifan di lereng bukit. Dengan itu semua, aku seperti mengaca dari mana asalku. Sebuah perkampungan yang terbelah jalan pantura sebelah utara pulau jawa.

bersatulah anak-anak petani seluruh dunia

Friday, March 9, 2007

susahnya jadi orang kecil


Memang susah jadi orang kecil. Apa2 serba susah, tak ada yang seneng2nya. Di hadapan siapa saja orang kecil pasti dibuat akal-akalan. Termasuk oleh negara sekalipun.

Bayangin aja, untuk bayar pajak aja, orang kecil dibuat susah. Dilempar sana dilempar sini. Ujung2nya diminta untuk dicaloki. Payah biokrasi negeri ini.

Di Unit Pelayanan Pendapatan Daerah (UPPD) Samsat Pati, Rabu (7/3) misalnya. Masak baru jam 11.30 loket check fisik udah ditutup. Alasannya sangat lucu, hujan kata seorang petugas dengasn gaya sok sibuk.

Ujung-ujungnya dia minta dititip kepadanya dengan imbalan uang. Bilang aja, dong terus terang kayak pengemis di depan masjid yang nongkrong setiap hari jumat.... kayaknya Kapolwil Pati ato Kapolres Pati perlu mendidik anak buahnya, biar gak leda-lede ngurusin bayar pajak.

Bilangin ke anak buah Bapak, kalo duit pajak itu buat nggaji mereka. Bilangin juga kalo lebih dari 60 persen APBD pati itu juga buat nggaji mereka. Jangan2 anak buah bapak nggak tahu kalau orang2 kecil seperti kami yang membanting keringat untuk menggaji mereka. Nyadar dong, agar tidak leda-lede....

Mau tau cerita lagi, di kecamatan Margorejo untuk ngurus KTP perlu waktu 20 hari. Ha ha ha ha, setahun juga nggak apa2. Kayaknya standar pelayanan pembuatan KTP memang perlu diperpanjang biar para abdi negara lebih santai. Dan puas makan gaji buta.

Pak Tasiman, gimana tu anak buah bapak. Jangan2 di kantor Capil juga malam tambah lama. (mudah2han nggak). Saya usul, mending camatnya distrap biar disiplin waktu.

Para anggota dewan juga, jangan kebanyakan Kunjungan Kerja (kunker). Turun ke bawah lah... lihat tu jalan2 kampung rusak parah. Seperti jalan di desa disebut orang2 yang lewat KALI SAT. Masih perlu dijelasin artinya, ... payah!!!

Lagi-lagi seperti yang aku bilang, memang repot baget jadi orang kecil. Serba tidak menguntungkan. MAU TAU CERITANYA...,.

Jumat (9/3) pagi aku lewat Jalan Kaligawe Semarang. Waduhhh jalannya tenggelam sepaha orang dewasa..karean hujan malam sebelumnya, air menjadi meluap. Tau sendiri jalan vital di kota yang dipimpin Sukawi Sutarip (bapaknya wakil bupati Pati) itu nyaris lumpuh.

Nekad lah kayak orang2 kecil lainnya. Waduhhhh motore malah mledug. mati.... banyak banget yang kayak gitu. Orang2 yang mau berangkat kerja, yang melintasi jalan itu harus berjuang.

Nah kalo jalan di dusunku kayak kali saat Jalan Kaligawe kayak "Kali Anyaran".

Celakanya, saat warga panik, di situ nggak ada satupun aparat dari poltabes, dinas perhubungan ato Satpol PP. Mereka sembunyi entah dimana??? he lihat donggg.....

Tuesday, March 6, 2007

jurnalis gunung

SIALAN. Harusnya aku pulang kampung hari ini. Eeee... gara-gara di Magelang hujan deres banget jadinya ketunda deh. Padahal aku dah siapin semuanya, termasuk liputan dan nulis berita cepet2. Tapi gimana lagi, kehendak alam itu tak bisa ganggu digugat.

Sebelumnya juga hujan derez banget. Dah gitu aku gak bawa rain choat lagi. Terpaksa pas aku balik dari pemkot numpan berteduh di emperan gereja. Dua minggu lalu SMP/SMA di dekatnya diteror bom orang 'gila', untung gak dibom beneran. Karena hujannya gak mandeg, terpaksa deh nerobos. Basah2 deh.

Kalo hujan campur angin gitu, siap-siap aja hadapi musibah. Inget gak kalo dua minggu lalu satu desa di Magelang kena longsor? 10 orang menjadi mati dan 16 anak yatim. Memang, jadi jurnalis di daerah itu selain perlu otak encer juga wajib punya otot yang tokcer. Kalo dua faktor itu gak imbah bisa-bisa tewas beneran pas liputan di alam. Meski tak kuat banget, tapi aku bersyukur pernah ikut menwa waktu kuliah dulu.

Naik gunung turun gunung itu dah biasa bagi jurnalis didaerah apalagi di Magelang yang banyak gunungnya. Ada Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing lalu ada bukit menoreh dan bukit-bukit kecil yang aku tak inget nama-namanya. Aku jadi inget masa-masa susah liputan erupsi merapi, terbakarnya gunung sumbing dan merbabu, puting beliung di lereng merbabu, tanah longsor dan laen-laen. Semua itu musti dijalanin dengan sabar.

Nah, pas waktu longsor di Windusari lokasinya jauh banget. Kata warga setempat hanya 2 kilo jalan kaki. Tapi pas diantar seorang warga menuju lokasi ternyata jauh banget. Aku yakin lebih dari 2 kilo seperti kata warga itu. Terlebih lagi, jalan setapak yang musti dilalui licin banget karena diguyur hujan.

Aku seh berdoa cepat2 aja dipindah dari daerah... Kalo dah gitu pengen rasanya punya surat kabar sendiri. Bisa nggak seh.

Eh kalau aku inget rumah, aku jadi inget puisiku tentang kampungku yang pernah aku tulis di KR tahun 2004 lalu;

Gunung Rawa:
lihatlah sapi-sapi itu seperti itik putih yang bergerak
juga danau yang mengering itu bagai tanah yang berkerak
tinggal mengikis mencari sisa ikan yang entah kapan menghilang
dan rata rumput yang menghampar seperti savana kecil
dikelilingi bukit yang tinggi

jangan simpan hari ini untuk terpejam
karena tenaga untuk bernafas itu kita habiskan
keluarkan sore ini karena malam akan menyimpan
keindahan untuk mereka yang bermimpi
hingga tak dapat lagi kita saksikan dari kejauhan
karena hanya ada gelap dan suara binatang

naik lebih tinggi agar terlihat kota di bawah sana
mungkin juga cerobong pabrik tempat kita bekerja
bagai keluk putih membumbung tinggi mengapai angkasa

bernafaslah dalam-dalam, teriakkan semua beban
buang udara yang tersisa lalu simpanlah dalam rongga
jangan kau tulisi namamu di atas pualam
lukis saja di dalam ingatan
karena ia abadi bersama kenangan

suatu waktu entah karena angin atau hujan
kau terdampar pada malam yang kelam
ingatlah bahwa pernah kau bercumbu dengan alam

Tlogowungu, 2004