About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Thursday, April 26, 2007

Derita Winarti


KETABAHAN hati Winarti (23) benar-benar sedang didera dengan cobaan hidup yang bertubi-tubi. Setelah dihianati calon suaminya saat hamil empat bulan, warga Dusun Cikalan Desa Banyurojo Mertoyudan Kabupaten Magelang ini harus berjuang sendirian merawat buah hatinya yang ternyata menderita Hydrocephalus(pembesaran kepala akibat cairan berlebihan, red).

Bayi berjenis laki-laki yang malang itu bernama Deni Kurniawan. Akibat penyakit yang dideritanya, bayi yang pada 10 Mei mendatang genap berumur setahun ini hanya bisa tertidur di atas potongan busa bekas yang dilapisi kain sarung. Di rumah orang tuanya di RT 2/IX yang kecil dan berpenghuni enam orang itulah Winarti selama ini menyimpan segala dukanya.
Untunglah orang tuanya, Kasmudi (51) dan Sumariyah (52) cukup tabah menerima kenyataan pahit. Termasuk Sri Wahyuni (27) kakak Winarti yang turut menjaga bayi yang hanya bisa bicara melalui tatapan mata saat dia bekerja. "Kalau ibunya sedang pergi bekerja, saya dan emak yang menungguinya," ujar Sri Wahyuni yang ditemui di kediamannya, Kamis (26/4).

Memang bayi yang dari lahir sampai saat ini tidak pernah ditimbang berart badannnya serta diberikan imuniasi itu hanya bisa menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. Matanya yang semakin mengecil akibat pembesaran di kapalnya hanya bisa melihat ke atas.

"Anak ini tidak pernah berkeringat, juga sulit untuk menangis," katanya.
Berbagai upaya telah dilakukan pihak keluarga, termasuk membawanya ke RS dr Sardjito Jogja. Selama 26 hari bayi malang itu dirawat, dokter menyarankan operasi. Karena ketidakpunyaan biaya pada akhirnya saran itu hanya sampai pada sebuah kata-kata. "Karena tidak ada perubahan yang berarti akhirnya keluarga patah arang dan membawa Deni kembali pulang ke Mertoyudan. Dari diagnosis dokter, keponakan saya ini juga mengalami kelainan jantung," tutur Wahyuni menyesal keluarganya tak bisa berbuat apa-apa.
Memang, upah yang diterima Winarti sebagai penjaga sebuah rental di Ruko Prayudan jauh dari cukup untuk biaya operasi. Bekerja jam 07.00-17.00 atau jam 13.00-21.00 ia hanya mendapatkan upah sebesar Rp 10.000.
Penghasilan orang tuanya sebagai buruh di New Armada pun hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan mata berkaca-kaca, Sri Wahyuni menguatkan diri untuk mengawali kisah pilu yang menimpa adiknya itu.

Kisah itu dimulai saat adik perempuannya itu hamil oleh hubungan dengan kekasihnya. Katanya, pada bulan-bulan pertama kekasihnya yang warga desa di Kecamatan Sawangan itu masih sering dating bahkan menemani berobat. Namun setelah menginjak empat bulan, orang tua laki-laki itu mengetahui kehamilan tersebut.

Yang mengagetkan ternyata orang tua si laki-laki mengawinkan dengan perempuan lain tepat saat janin berusia empat bulan. Akhirnya, janin itu tetap diperjuangkan lahir ke dunia meski tanpa seorang bapak. Saat kelahiran tiba, persalinan dilakukan secara cesar di Rumah Sakit Bersalin Aisiyah Muntilan.
Sekitar 15 hari Winarti menginap di rumah sakit tersebut. Sayangnya saat akan menebus bayi yang dilahirkan dalam kondisi tidak normal itu, keluarga winarti tak punya cukup uang. Karena tak bisa membayar biaya persalinan sebesar Rp 1.200.000, untuk membawa pulang Deni Kurniawan pihak keluarga akhirnya menjaminkan BPKB sepeda motor kepada pihak rumah sakit.

Perjanjian pun disepakati dan biaya persalinan itu akan dicicil Rp 100.000 per bulan selama setahun. "Sampai sekarang BPKB masih berada di rumah sakit. Bahkan saat kami akan meminjam sehari untuk memperpanjang STNK pun tidak diperbolehkan," ujar Wahyuni menyebutkan pihak RS bisa memberikan BPKB setelah membayar uang Rp sebesar 2.000.000.

Sumariyah yang lama terdiam akhirnya bersuara. Dirinya pasrah menerima takdir, karena sudah tidak bias berbuat apa-apa. Satu harapan yang tersisa adalah ada malaikat yang turun atas perintah tuhan memberikan pertolongan. "Nggih sak meniko naming pasrah mawon," imbuh Sumariyah buru-buru mengusap mata yang tiba-tiba basah....

Saturday, April 21, 2007

pameran foto

AKHIRNYA pameran foto teman2 wartawan di Magelang dilaksanakan juga, 21-23 April 2006. Sebanyak 19 wartawan dari 11 media ikut memamerkan karyanya dalam pameran yang digelar di Klenteng Liong Hok Bio. Pada pameran ini merupakan kali ketiga aku ikut memamerkan karyaku.

Nggak ketinggalan enam foto yang pernah aku potret di Magelang aku kumpulin untuk ikut pajang bersama 99 foto lainnya. Diantaranya saat aku liputan Jumat Agung dalam prosesi 1000 salib, setahun lalu. Pertama, aku tertarik pada seorang pria yang memanggul anakknya di sebelah kiri dan di tangan kanan memang kayu salib.

Foto kedua adalah waktu kirab dewa bumi se jawa . Foto yang aku ikutkan adalah gambar orang-orang yang membentangkan kain di depan Klenteng. Menurutku foto itu nggak terlalu istimewa, hanya tone-nya kata sebagian kawan menarik. Foto lainnya waktu aku meliput di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Canguk Magelang sekitar pukul 04.00 pagi. Aku jepret kepala sapi yang tergeletak begitu saja. Sedangkan tak jauh dari kepala itu sebuah pisau tergeletak di atas ceceran darah yang jampir menggumpal. Kata teman2 itu sadis, tapi waktu aku ngeliat UU 40/1999 kok nggak masuk dalam kategori sadisme. hehehehehehe

Foto lainnya adalah ritual nyadran di lereng Gunung Merbabu, juga seorang anak yang melambai ketika melepas orang tuanya pergi haji, dan tiga anak yang baru pulang sekolah melewati jembatan gantung di Kali Progo. Mereka anak2 di Kabupaten Magelang namun lebih memilih sekolah di Kota Magelang.

Kendati konsep dan pengambilan angle foto cukup sederhana, namun aku suka sekali foto ini karena nilai human interest yang cukup tinggi.

*Sukses buat pamerannya, tahun depan pasti lebih sempurna....

kartini sumbing

PAGI belum sempurna, matahari pun belum terlihat sinarnya dari di
Desa Sutopati Kecamatan Kaliangrik Kabupaten Magelang, Jumat
(20/4). Namun Karminah (42) bersama beberapa perempuan lainnya
sudah selesai mengikat rumput yang mereke dapatkan. Selanjutnya
mereka beriring-iringan menggendong rumput berkilo-kilo meter
menuju rumahnya.

Demikian setiap hari sejumlah perempuan termasuk Karminah
menjalani hidupnya. Setiap harinya, sebelum anak2 dan suaminya
terbangun Karminah sudah terjaga. Lalu ia mendidihkan air hangat
dan memasak nasi untuk sarapan keluarga.

Baru perempuan yang mempunyai dua anak itu, keluar rumah
sembari membawa sabit dan tali ke lahan. Karena tak hanya
keluarganya yang butuh makan, hewan peliharannya juga butuh
makanan.

"Beban berat sudah menjadi hal yang bagi perempuan yang tinggal
di lereng Gunung Sumbing itu. Lahir dan besar di lereng gunung
membuat ia terbiasa hidup dengan jalan menanjak dan bersanding
dengan alam. Jadi untuk menggendong rumput sampai tiga kilometer ia
pun tak lagi menggeluh.

"Buat pakan sapi, Mas. Kalau tidak pagi nanti tidak bisa
mengerjakan yang lainnya," katanya dengan bahasa Jawa di sela-sela aktivitas merumputnya.

Karminah mengaku bahagia jika sedikit rumput yang ia berikan
menjadi rebutan ternak peliharaanya. Karena kesehariannya hanya itu
yang menjadi hiburannya. Selain memandangi anaknya saat pulas
tertidur ia pun senang melihat hewan saling berebut makanan.

Tidak berhenti di situ saja pekerjaan Karminah. Setelah puas
melihat ternaknya biasanya dia baru sarapan. "Kalau saya pulang,
anak saya yang ragil sudah pergi sekolah. Baru saya makan lalu
menyusul suami saya ke ladang," katanya yang sudah menjalani
perkawaninan selama 26 tahun.

Terpisah, kesetiaan menjalani garis nasip juga dijalani Sri
Suwariyah (78) sepanjang hidupnya. Hingga sekarang hampir 60 tahun
warga Dusun Tegalsari Krajan Kaliangkrik ini berjualan anyaman dari
bambu.

Setiap pagi perempuan yang mengaku hanya mempunyai anak semata
itu sudah membawa barang dagangannya menuju jalan besar sekitar 1,5
kilometer dari rumahnya. Lalu ia pun dengan sabar menungu angkutan
yang akan membawanya ke pasar menjajakan dagangannya.

"Sak lebare geger londo, kulo sampun dodolan," katanya dengan
logat yang unik.

Untuk kerajinan ceting yang ia beli dari Ngripah Wonosobo, ia
jual 2.500 Rp 3.000. Sedangkan anyaman besek yang ia beli Rp 1.000
(per lima pasang ia jual sedikit di atasnya. "Oleh setitik ya digawe nempur," katanya.

Sejak kecil, Suwariyah tidak pernah mengeyam bangku sekolah.
Jaman dulu, kisahnya orang miskin apalagi perempuan tidak boleh
sekolah. Jadi yang bisa sekolah hanya anaknya orang kaya, padahal
kadangkala kepandaian mereka pas-pasan.

"Tapi sekarang sudah beda. Anak orang miskin yang pinter tetap? bisa sekolah. "Ngoten nboten?" tandasnya balik bertanya.

Wednesday, April 18, 2007

jembatan gantung

SEBELUM tahun 1984, masyarakat yang tinggal di wilayah Guntur Desa Rejosari, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang menyeberangi Kali Progo agar cepat sampai ke Kota Magelang. Ketika air sungai meluap pada musim penghujan biasanya warga menyewa jasa gethek. Sedangkan pada musim kemarau saat sair sungai surut banyak masyarakat yang nekat menyeberang dengan menuruni sungai.

Bagi warga Rejosari dan sekitarnya, menyeberang sungai merupakan jalan pintas untuk sampai ke Kota Magelang. Hanya dengan menelusuri pematang sawah mereka sudah tembus di Kampung Ngembik Lor, Kelurahan Kramat, Kota Magelang. Meski sangat berbahaya, jalan tembus tersebut banyak dilalui para pedagang, karyawan, maupun buruh yang bekerja di pasar.

Baru pada tahun 1984 seorang warga Kampung Gembik, mempunyai gagasan untuk membuat jalan yang menghubungkan warga sehingga tidak perlu turun ke sungai. Gagasan Kojin yang juga pernah menjadi penyedia jasa Gethek di sungai tersebut didasari atas keprihatinan banyaknya korban warga meninggal karena hanyut di sungai.

“Ddalam satu tahun pasti ada saja warga yang hanyut di sungai,” ungkap Kojin mengisahkan bagaimana awal mula berdirinya jembatan gantung yang dikelolanya, Rabu 30 Agustus 2006.

Dari catatannya kurang lebih 28 orang mejadi tumbal keganasan arus Kali Progo. Kebanyakan para korban tersebut nekat menyeberang sungai saat alirannya sedang deras. Apa yang terjadi, sesampainya di tengah sungai ada yang tidak kuat menahan desarnya arus, kemudian terseret dan akhirnya tenggelam.

Pada waktu itu, bersama seorang warga, Kojin mendirikan jembatan sederhana yang membentang di atas Kali Progo. Sayang, jembatan itu hanya kuat bertahan sampai ketika banjir besar pada tahun 1989 membawa serta jembatan tersebut.

Tak pantang menyerah, pada tahun yang sama, pria kelahiran tahun 1952 tersebut berniat mendirikan kembali bangunan jembatan yang sama. Tentunya dengan konstruksi yang lebih kuat. Bersama dua orang warga Guntur Bandongan yaitu, Cipto dan Suwarno, pria yang sehari-hari menjadi buruh tani tersebut membangun kembali jembatan Gantung itu.

Dengan mengandalkan empat buah tali pancang dari bekas tambatan kapal yang ia beli dari Semarang jembatan itu dirikan. Selama 17 tahun kini jembatan itu masih berdiri. Dengan dasar ayaman bambu, jembatan tersebut dalam sehari setidaknya menghubungkan sekitar 400 warga.

“Alhamdulillah, yang kedua ini awet sampai sekarang. jembatan ini dibangun oleh perorangan. Tidak ada bantuan dari pemerintah,” ujar Kojin yang kini menjadi penjaga di bagian timur.

Keberadaan jembatan tersebut membawa dampak sosial bagi warga di dua wilayah. Sebelum adanya jembatan tersebut, nyaris tidak ada anak sekitar Rejosari yang sekolah di Kota Magelang. Adapun setelah ada jembatan tersebut banyak anak-anak yang sekolah di perkotaan.

“Ibadah itu kan tidak hanya sembahyang di masjid to, Mas. Menolong orang seperti ini juga termasuk ibadah,” celetuk bapak tiga anak itu.

Memang, sebagai biaya perawatan pengguna jasa jembatan tersebut di kenai sumbangan sebesar Rp 100 untuk pejalan kaki dan Rp 200 untuk pengendara. Sementara anak-anak dan petani dan anak-anak sekolah tidak dipungut biaya.

“Ada pula yang cuek sering lewat tetapi tidak banyar, ya tidak dilarang,” ungkap Kojin.

Dia mengakui, beberapa kali mencuat wacana dari Pemerintah Propinsi Jawa Tengah yang akan membangun jembatan permanen di area itu. Sampai sekarang rencana tersebut hanya sebuah wacana. Pasalnya banyak hal yang menjadi kendala, termasuk tingginya biaya yang harus dikeluarkan. Selain itu, keberatan dari warga sekitar, karena mereka dimungkinkan tidak mau jika dilakukan pembebasan tanah untuk jalan tembus.

“Sudah berkali-kali para pejabat dari provinsi meninjau, tetapi belum jelas kapan realisasinya,” ujarnya. ***

Getuk Gondok

SIAPA yang menyangka kota sekecil Magelang memiliki koleksi makanan yang cukup beragam. Boleh menyebut beberepa diantaranya Tahu Kupat, Senerek, Wajik dan Getuk. Dengan getuknya misalnya, kota yang hanya memiliki luas wilayah 12,18 km2 naik tersebut menjadi naik daun. Wajar jika kemudian wilayah yang berjarak 65 km dari Semarang dan 42 km dari Jogja, dijuluki sebagai kotanya getuk.

Jika sempat berkunjung ke Kota Magelang atau sekadar mampir sewaktu pulang mudik lebaran, jangan lupa membawa oleh-oleh jajanan khas Magelang ini. Beragam getuk diproduksi di kota ini, dan yang terkenal adalah Getuk Trio. Perlu diketahui getuk berbahan dasar singkong ini memang hanya ditemukan di Kota Magelang dan sekitarnya saja. Trio memang bukan saja merek dagangnya, melainkan juga karena getuknya terdiri dari tiga warna, yaitu putih, cokelat dan merah jambu. Jika belum pernah mencoba, rasanya sangat enak, manis, dan gurih.

Sebagai kota getuk, tentu tak cuma Getuk Trio buatan Herry Wiyanto yang ada di kota yang hanya memiliki dua kecamatan dan 14 kelurahan. Ada lagi getuk lain yang dikenal sebagai Getuk Gondok. Berbeda dengan Getuk Trio yang banyak dijual di toko dan pusat oleh-oleh, untuk mendapatkan penjual Getuk Gondok ini biasanya kita harus mendatangi ke pasar tradisional.

Getuk Gondok pertama dan paling enak adalah yang berada di kawasan Pasar Rejowinangun tepatnya di Jalan Mataram yaitu Toko Panorama tekstile dan Toko Mas Lompetan. Maka kemudian, ada pula yang menyebut getuk tersebut dengan nama Getuk Panorama atau Lompetan.
Memang, di sanalah Getuk Gondok yang asli berada. Sebab hingga saat ini belum ada tempat lain yang menjual getuk tersebut. Kendati hanya berjualan di pasar tradisional dan berlokasi hanya di emperan jalan, tapi penggemar getuk yang satu ini cukup banyak.

“Bermacam-macam, tidak hanya dari Magelang dan sekitarnya, namun dari Jogja, Semarang, sampai Jawa Timur. Ada pembeli merupakan orang asli Magelang yang singgah atau sekadar lewat dan membeli Getuk buat oleh-oleh,” jelas Hj Sri Rahayu saat ditemui Bernas Magelang di kediamannya Kelurahan Karet, Bulurejo, belum lama ini.

Sri sudah berjualan getuk Gondok sejak tahun 1985. Dia meneruskan usaha keluarga yang telah digeluti secara turun temurun dari ibu yang menggantikan sang menek, Ny Ali Mohtar. Kendati ia mengaku sudah lupa sejak kapan getuk ini tercipta, menurut cerita Sri, nama Getuk Gondok bukan nama asli dari produk getuk ini.

Ceritanya, dulu ada seorang pembeli yang tak sengaja menyebut getuk yang berbentuk bulat-bulat itu dengan sebutan getuk gondok. Mungkin karena penjualnya yang tidak lain nenek Sri Rahayu yang menderita gondok. Sejak itu, getuk itu dikenal sebagai Getuk Gondok, penjualnya dikenal pula dengan nama Mbah Gondok. Sri Rahayu merupakan generasi ketiga Getuk Gondok. Namun demikian pembuatannya dipertahankan masih secara tradisional.

Sejak pagi, sekitar enam orang karyawan keluarga sendiri sudah mulai bekerja membuat adonan. Karena bahan baku Getuk Gondok adalah ketela, gula, garam, perwarna yang terdiri dari ketela, gula garam sedikit dan mentega. Sampai saat ini Getuk Gondok mempunyai enam jenis getuk yaitu Gondok atau mawur, polada (bulat ada cokelatnya), cokelat gula merah, merah muda, hijau, dan pelangi empat macam).

Getuk yang dijamin pembuatnya tidak ada pengawet, tanpa sakarin atau pemanis buatan lainnya ini masih bertahan dengan system pasarkan secara mandiri. Harganya pun jauh dari mahal, sampai konsumen yang hanya membeli Rp 1.000 pun dilayani. Sedangkan dalam setiap dusnya dijual Rp 5.000 berisi 20 potong getuk yang terdiri dari empat macam ditambah Rolade dua potong dan Gondok dua potong.

Kini Getuk Gondok sudah berkembang di daerah lain. Pasalnya anak pertama Sri Rahayu telah mengembangkan ketuk Gondok ke Kediri. Meskipun bahan dasarnya sama getuk yang dikembangkan di Kediri dikenal kepada masyarakat sebagai Getuk Ayu Panorama. “Namun di sana hanya ada dua macam saja, yaitu Rolade dan Pelangi dan ditambah Klepon dan Jonkong,” katanya.

Saya pernah nyoba, asli lho enaknya.

Jamu Godog

LAMPU rating sebelah kiri sebuah truk menyala, pertanda mobil bak tinggi tersebut akan berhenti. Sesaat setelah deru truk pengangkut pasir itu berhenti, pria setengah baya bergegas masuk kedai jamu di bilangan Jalan Jenderal Sarwo Edhi Wibowo Kota Magelang, Rabu 26 April 2006 lalu.
“Biasa Mas, pegel linu,” ujar pria setengah baya pendek kepada penjaga kedai.

Bangunan yang di desain secara tradisional tersebut khusus menyediakan berbagai racikan tanaman obat. Mulai dari asam urat, darah tinggi, gatal-gatal, kolesterol, masuk angin, pegel linu, sehat pria, dan sehat wanita tersedia di sana.

Berbagai racikan itu ada yang sudah siap dikonsumsi, namun adapula yang dijual secara paketan. Tanaman obat yang terdiri dari berbagai jenis daun-daunan, daging buah-buahan, batang-batangan dan akar-akaran tersebut dibedakan dari jenis khasiatnya. Tak ketinggalan, berbagai jenis empon-empon seperti jahe, maupun temu lawak tak ketinggalan dari paket tersebut.

Salah satu penjaga kedai, Muntarin mengungkapkan masyarakat saat ini mulai menyukai jenis tanaman maupun obat-obatan yang bersifat natural. Selain murah, obat-obatan herbal juga cukup aman di konsumsi. Hal ini dikarenakan tidak mengandung bahan pengawet dan bahan-bahan kimia.

“Memang secara jangka pendek dampak mengkonsumsi obat-obatan kimia tidak akan terlihat. Namun dalam jangka panjang efek negatif itu akan mencul,” tandasnya.

Menurut Ari, ramuan yang sering dicari pengunjung baik para supir sampai para pejabat adalah jamu dengan kategori obat kuat.
“Umumnya mereka minta obat kuat dan obat penyakit asam urat,”tambahnya.

Direktur Merapi Farma Magelang Gunawan Eko, menjelaskan bahwa Indonesia memiliki tanaman yang obat berlimpah. Untuk itu dengan tanaman itu sebenarnya masyarakat berusaha untuk sehat. Karena kesehatan adalah investasi yang sangat besar nilaiany.
Disebutkan, berbagai penelitian sudah dilakukan terhadap sejumlah tanaman obat yang biasa diramu menjadi jamu godog ini. Portulaca oleracea L atau yang lazin disebut tanaman Krokot misalnya, ternyata berkhasiat untuk mengobati penyakit diare dan panas dalam.

Sedangkan daun Sangitan yang nama latinnya Sambicus javani Reinw dapat dipakai untuk mengobati badan bengkak pada penyakit ginjal, beri-beri atau reumatik. Sementara daun Legundi atau Vitex trifolia L mampu mengobati asma, muntah darah, turun peranakan, dan eksim.
Di Indonesia satu-satunya bagian yang dimanfaatkan adalah rimpang temulawak untuk dibuat jamu godog. Rimpang ini mengandung 48-59,64 persen zat tepung, 1,6-2,2 persen kurkumin dan 1,48-1,63 persen minyak asiri dan dipercaya dapat meningkatkan kerja ginjal serta anti inflamasi.
Sampai saat ini Merapi Farma sudah memproduksi tanaman obat sendiri sehingga sudah bisa dikonsumsi masyarakat yang membutuhkan. Ada sebagian tanaman yang sudah bisa diolah sendiri sehingga menjadi ramuan yang bisa menyembuhkan penyakit.

Namun sayangnya, masyarakat belum bisa memperoleh tanaman berkhasiat ini di toko obat atau di apotek. Sebab distribusi tanman obat ini belum dipasarkan secara bebas. Hanya para anggota saja yang bisa menjual. Sedangkan mereka yang bukan anggota tidak bisa untuk memasarkannya.

“Ini untuk menjaga agar racikan yang sudah ada benar-benar masih orisinil dan tidak di campur-campur,” ujar Gunawan.

Tapi, masyarakat bisa datang ke sini. Kami melayani ramuan itu di sini, baik yang tinggal diminum atau paketan," tandasnya.

Kalau pas lewat kesana, mampir boleh juga. Sehat kok.

Onthel Suparjo

MUSIM kemarau membuat siang hari di Kota Magelang panas menyengat. Pejalan kaki dipaksa memakai payung untuk menghidarinya. Begitu juga pengendara sepeda motor, membungkus wajah dan tangannya dengan masker dan sarung. Namun, tidak bagi Suparjo (71). Di tengah terik, warga kelurahan Magersari, itu serius dengan sepeda kumbang di sebuah trotoar Jalan Panglima Sudirman.

Meski tak tangguh dahulu, kedua tangan Suparjo masih cukup kuat melepaskan velg sepeda. Begitu juga kedua matanya, masih cukup awas untuk melepaskan dan membedakan skrup sepeda. Meski tak jarang, waktunya habis untuk mencari skrup jatuh. Kendati demikian, Parjo masih setia menekuni profesinya menjadi bengkel sepeda.

Tidak banyak memang, orang yang setia dalam melakoni profesinya, seperti bapak tiga anak itu. Dapat dimaklumi saking lamanya, ia hampir lupa menyebutkan angka pasti tahun berapa ia memulai pekerjaanya. Yang ia ingat, selama lebih dari 50 tahun ia menjalani pekerjaan yang menghidupi keluarganya sampai seluruh anak-anaknya mandiri.

"Sudah lama sekali. Sejak kecil saya sudah mulai jadi bengkel. Ingat saya setelah zaman Jepang saya sudah menjadi bengkel sepeda," ujar pria kelahiran Bumirejo, Mertoyudan Kabupaten Magelang tahun 1935 tersebut.

Karena tidak memiliki lokasi tetap, dalam menjalani pekerjaannya itu, suami dari Bingah, selalu berpindah-pindah.Setidaknya ia pernah beroperasi di sejumlah trotoar di Kota Magelang seperti di pertigaan Karang Gading, Alun-alun, dan di depan New Armada. Sampai akhirnya ia berada di trotoar di Jalan Soedirman dan bertahan hingga saat ini.

Dari kesetiaannya pada sepeda, Parjo adalah saksi hidup mulai runtuhnya kejayaan sepeda onthel. Katanya, mulai tahun 1960 bengkel sepeda onthel mulai menurun dari orderan. Apalagi sekarang, orang lebih memilih sepeda motor sebagai alat transportasi sehari-hari ketimbang sepeda pancal. Dipastikan jika pendapatannya menjadi seorang bengkel juga ikut menurun.

"Sekarang lebih ngenes dan tidak menentu. Tapi kalau dibuat rata-rata hanya Rp 3.000-4.000 perhari," ujarnya, mengisahkan lelakon
kehidupan masa tuanya yang semakin susah.

Untunglah, Bingah istrinya masih menyokong ekonomi keluarga dengan menjadi penjual rokok kaki lima. Diakui, itu menambah penghasilan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Bersama istrinya Parjo mereka hidup berdua, setelah anak terakhirnya sudah membina keluarga sendiri.

Sementara itu di tengah sepinya orang yang datang membutuhkan jasanya, laki-laki yang tubuhnya sudah dimakan usia itu hanya duduk termenung. Dalam hatinya, ia masih bersyukur, meski hidup jauh dari kecukupan, seluruh anaknya sudah mandiri. Kini ia bersama istrinya tinggal menunggu sang penguasa umur memanggilnya dengan tenang.

"Cukuplah Mas, untuk memberi uang jajan cucu," ujarnya sembari menyelesaikan tambalan ban sepeda kumbang yang ia kerjakan. Untuk sebuah tambalan ia meminta uang lelah Rp 2.000. Namun untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih sulit ia kadang mematok tarif Rp 3.000 sampai Rp 3.500. Pekerjaan itu ia lakukan setiap hari, berangkat dari rumah sekitar pukul 07.00, lalu kembali pulang pada pukul 16.00.

Ia rela harus berjemur di tengah terik setiap hari. Sadar trotoar bukan miliknya karena ada hak orang lain, yaitu pejalan kaki yang lewat di sana. Tapi bagaimana lagi selain trotoar tidak ada lagi tempat baginya mengais sisa rizki. Untuk itu ia tidak memasang tenda untuk menaungi dirinya dari panas matahari. "Nanti digaruk Satpol. Tapi kalau memang masih digaruk, saya ikhlas. Apalagi kalau diberi makan," katanya meski kekurangan ia mengaku tidak pernah mendapatkan Sumbangan Langsung Tunai (SLT) dari pemerintah.*

catatan: Kalau pas lewat di Jalan Sudirman Kota Magelang trus ada laki2 tua di trotoar sebelah timur jalan, itu dia yang bernama Suparjo.

Monday, April 9, 2007

Via Dolorosa

PROSESI Jalan Salib (Via dolorosa) yang dilakukan sejumlah jemaat usai kebaktian Minggu tampak mewarnai perayaan Paskah atau kebangkitan Yesus Kristus di sejumlah kota termasuk Jogja.

Sejumlah Gereja memanfaatkan momentum perayaan Paskah dengan menggelar via dolorosa atau jalan salib. Para jemaat baik anak-anak, remaja-pemuda dan orang tua dengan antusias berbaur melakukan proses fragmen yang menggambarkan penyiksaan Yesus di kayu salib oleh tentara Romawi.

Selain prosesi Jalan Salib, sejumlah jemaat disuguhkan dengan bagi kasih melalui telur Paskah, sebagai bentuk penghargaan kepada sesama manusia. Barangkali proses Jalan Salib bukan sekadar seremonial belaka, tetapi makna dari penderitaan Yesus yang harus manusia implementasikan.

Aku jadi teringat sewaktu masih sering mengunjungi Sendang Sriningsih di Desa Gayamharjo Prambanan Sleman DIY. Sendang Sriningsih biasa digunakan oleh umat Nasrani untuk melakukan kebaktian bersama. Terutama pada hari jumat tertentu, banyak umat yang datang dari jauh untuk ikut melakukan kebaktian bersama.

Waktu itu aku tinggal di desa itu untuk keperluan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jadi lumayan lama juga setiap hari jumat singgah bahkan tak jarang juga ikut kebaktian, meskipun aku bukan seorang Nasrani.

Aku salut pada warga di desa yang terletak di paling tenggara Kabupaten Sleman itu. Sebelah timur desa itu berbatasan dengan klaten, selatan Gunungkidul dan sebelah barat berbatasan dengan Bantul. Di tengah pluralisme di sana umat Muslim dan Nasrani hidup berdampingan secara harmonis.

Waktu lebaran di desa itu, para remaja dan pemuda yang beragama Nasrani ikut membantu mengamankan. Sebaliknya dalam perayaan Natal maupun Paskah remaja muslim di sana ikut membantu proses pelaksanaan.

Aku tak tahu, bagaimana lagi, nasib Dusun Jali yang aku pernah menjadi bagian darinya. Karena akibat gempa Mei 2006 lalu kampung itu luluh lantak digoncang bumi. Sebenarnya aku ingin sekali ke sana, mengantarkan seseorang untuk merayakan Paskah di Sendang Sriningsih.

Koh TSun

Kok Tsun

ITU adalah sifatnya. Walaupun beraneka pakaian bagus ia punya, Koh Tsun lebih suka memilih corak yang itu-itu saja. Ia sering memakai celana bahan dengan stelan hem putih kecoklatan yang kerahnya sudah tambalan.Beberapa sisi celananya ia biarkan mengaga. Kalau diingatkan ia hanya tersenyum dan buru-buru mengalihkan pembicaraan.

Koh Tsun selalu membela diri jika ditanya kenapa ia selalu mengenakan pakaian yang kumal itu. Ia lalu bercerita, perbatasan dukuh Parangan rawan sekali. Di sekitar jembatan gantung yang menghubungkan dengan dukuh Losari banyak sekali begal berkeliaran.

Mereka sering merampok orang-orang yang melintas.Siang hari sekalipun mereka berani membegal para pedagang yang baru pulang dari kota. Koh Tsun mengaku, dengan model pakaian lusuh seperti itu dirinya dapat terhindar dari perampokan.

Warga Dusun Parangan mengenal Koh Tsun sebagai seorang penjual jamu. Di atas sepeda motor merahnya itu ia membawa jamu-jamunya berkeliling desa ke desa. Koh Tsun mengetahui orang-orang pedukuhan hanya punya waktu senggang pada malam hari. Pagi hari mereka harus ke ladang. Sedangkan sore harinya digunakan mencari rumput untuk ternak-ternaknya. Rumah mereka dipenuhi kambing dan sapi. Ada pula yang memelihara babi, namun itu hanya sesekali dapat ditemui.

Waktu yang tepat untuk singgah di dukuh itu ketika senja mengeluarkan siluet merahnya. Saat bukit-bukit yang mengelilingi pedukuhan berubah menjadi bayang-bayang hitam. Saat kelelawar mulai keluar dan kepak sayapnya terdengar jelas di gendang telinga. Angin-angin perbukitan mulai berdesir membawa hawa dingin turun dari pucuk ranting menyisir rambut Koh Tsun yang berlapis minyak kemiri.

Setelah memasukkan ternak, mereka menenangkan ayam yang mengeram di pojok kandang. Ayam-ayam itu terganggu oleh tingkah sapi yang tak ingin dimasukkan.

Gemerap anak-anak berubah senyap. Warga Parangan mulai memakai sorjan dan mengalungkan sarungnya untuk menangkis hawa dingin yang menelusup sampai ke dalam tulang. Mereka duduk di serambi, berkumpul dengan keluarganya sembari memakan umbi rebus dan secangkir kopi panas.

Koh Tsun menghentikan sepeda motornya di sebelah warung kopi di perempatan. Sepeda motor itu ia bunyikan dengan dengungan panjang. Suaranya menandai bahwa ia telah datang di kampung itu. Anak-anak berlari mengejar lalu membaui asap yang keluar dari cerobong knalpotnya. Koh Tsun mengemasi dagangannya kembali sebelum malam benar-benar larut. Ia sadar besok pagi orang-orang dukuh Parangan kembali bekerja. Memandikan ternak-ternak ke sungai lalu berangkat ke ladang.

Anak-anak juga harus cepat pulang. Mereka harus lebih awal berangkat ke sekolah. Karena untuk sampai ke sana mereka harus mengitari sendang di bukit Ramelo. Tak ada perahu di sendang itu, dan tak ada yang mau menyeberanginya. Sendang itu wingit tidak ada yang berani melanggar aturan dari para leluhur.

“Kok Tsun, kaki saya bengkak-bengkak?
“Dioles salep setiap pagi dan sore, ya,” Kok Tsun memberi obat lalu perempuan tua itu buru-buru itu pergi.
“Kepala saya sakit, Kok,” laki-laki setengah baya mengeluh sembari memegangi kepalanya yang masih terbungkus sarung.
“Pakai jamu,” Kok Tsun menyodorkan bungkusan serbuk berwarna coklat, dan tanpa bertanya laki-laki itu menerimanya.

Koh Tsun begitu meyakinkan. Ia selalu menjadi jalan keluar. Orang-orang mendecak kagum. Apapun penyakit Koh Tsun selalu menyediakan obatnya. Setelah menggunakan obat dari Koh Tsun tak lama kemudian mulai merasakan khasiatnya. Penyakit kulit yang diderita Mbah Madrasi tiba-tiba mengering dan akhirnya sembuh.

Warga dukuh Parangan telah hafal kapan Koh Tsun datang. Di setiap bulan sabit membentuk celeret merah, seperti mereka telah diberitahukan sebelumnya bahwa Koh Tsun akan tiba. Bukan hanya itu, mereka hafal pula jenis-jenis jamu yang dipunyai Koh Tsun. Kadangkala tanpa mengeluh beberapa orang langsung meminta salep, obat kapsul, dan yang lainnya.

Anak-anak mengidolakannya. Jika ditanya apa cita-citanya, mereka menjawab akan menjadi penjual jamu seperti Koh Tsun. Namun anehnya tak satu pun orang di dukuh Parangan yang menjadi penjual jamu. Kebanyakan mereka hanya meneruskan berladang dari lahan para leluhurnya. Mereka berternak sapi dan kambing lalu menggembalakannya di pinggir hutan. Setelah dewasa mereka dikawinkan dengan tetangga masing-masing. Tak satu pun yang seperti Koh Tsun.

Walaupun orang-orang dukuh Parangan sangat mengenal Koh Tsun, namun sampai saat ini mereka tidak tahu asal-usul sebenarnya. Ada yang bilang ia tinggal di kota, orang kaya yang senang keliling desa. Namun ada juga yang bilang Koh Tsun tak punya rumah. Ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain.

Malam ini ia berada di satu dukuh dan malam berikutnya di dukuh yang lain. Tetapi pembicaraan selalu berakhir dan tak satu pun yang tahu persis siapa sebenarnya Koh Tsun.

“Koh Tsun rumahnya di mana, Bu?” tanya anak-anak saat dimandikan ibunya.
“Kok Tsun itu punya anak dan istri, Bu?” tanyanya kemudian di lain hari.
“Entahlah,” kata ibunya menggeleng.

Sejak anak-anak dukuh Parangan masih kecil, sampai mereka menikah dan mempunyai anak, Kok Tsun sudah berada di dukuh itu. Ia sama sekali tak berubah. Pakaiannya, stelan dan rambutnya yang dilapisi minyak kemiri.

“Bagaimana jika Kok Tsun datang seminggu sekali ke sini,” tanya Mbah Madrasi.

Koh Tsun tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Matanya selalu terpejam jika ia tersenyum. Mata sipit itu hilang diapit kedua pipinya. Senyum itu tak memberi kesempatan kepada Mbah Madrasi untuk melanjutkan permohonannya.Koh Tsun tetap datang seperti sedia kala. Satu purnama, tidak kurang tidak lebih. Begitu seterusnya.
Terakhir kedatangannya, Koh Tsun menginap di rumah dukuh Diharjo.

Kok Tsun telah dianggap sebagai keluarga sendiri. Ia sangat dicintai penduduk. Kok Tsun pergi sebelum pagi benar-benar sempurna. Orang-orang menatap kepergiannya dengan perasaan kehilangan. Anak-anak kecil berseragam berlari-lari di pematang. Mereka melambai-lambaikan tangannya dan menjerit tak karuan melihat kelebatan Kok Tsun di atas sepada motornya. Setelah Kok Tsun hilang di antara gugusan jati mereka menjadi murung. Anak-anak itu seperti kehilangan prenjak yang baru diberikan orang tuanya. Keriangan mereka sirna berganti dengan duka panjang. Mereka ingin bertemu Kok Tsun.

***
Purnama menggantung sempurna di pucuk bukit Ramelo. Orang-orang menikmatinya dengan duduk di halaman. Seekor anjing meloncat oleh kagetan anak-anak yang bermain grobak sodor sehingga menumpahkan air dalam ember.

Mereka resapi desiran angin sambil menerawang sinar bulan yang menerobos gugusan jati yang bersinar keperakan. Namun yang pasti, ketika purnama datang serta merta kedatangan Kok Tsun tinggal beberapa hari saja. Orang-orang menghitung hari, sampai yang dinanti datang menghampiri.

Senja mulai menyelimuti lereng Ramelo. Seperti bisanya, ternak-ternak sudah dimasukkan. Asap rumput yang terbakar membumbung putih dari atap rumbia. Bau asap itu mengusir nyamuk-nyamuk yang bersarang di sekitar kandang. Orang-orang Parangan duduk di serambi. Mereka saling bercanda dan yang penting menunggu kedatangan Koh Tsun.

Senja telah beranjak. Cleret merah di atas bumbungan rumah berlahan mulai sirna. Malam berjelaga. Orang-orang Parangan mulai gelisah. Jerit anak-anak digantikan gangsir, jangkrik, dan kepak codot bersahutan menyambar-nyambar di atas pohon jambu kluthuk. Orang-orang masih berkerumun di perempatan. Semakin lama semakin banyak. Hanya untuk satu pertanyaan; Kok Tsun sudah datang?
“Aku ingin beli salep,”
“Aku jamu pegel linu,”
“Saya hanya ingin dengar ia menyanyi lagu Cina,”

Anak-anak mulai menangis. Mereka menjerit minta untuk ditemukan Koh Tsun. Kalau perlu disusul ke kota. Para orang tua panik. Harus dicari ke mana, rumahnya saja mereka tidak tahu, apalagi asal-usulnya.

Malam telah digantikan pagi. Kokok ayam mengiringi fajar merah yang mulai merekah. Namun Koh Tsun belum juga datang. Orang-orang Parangan masih dalam keterjagaan. Ada menelusuri hutan, mencari Koh Tsun sampai dukuh seberang. Sampai berhari-hari mereka mencari, namun tak ada hasil. Koh Tsun seperti ditelan bumi. Hilang entah ke mana. Tak ada yang tahu hingga mereka sampai di ujung putus asa.

Bulan dan matahari saling berkejaran. Tak pernah sekalipun keduanya bertemu di atas bukit Ramelo. Beberapa purnama telah berganti. Begitu lama menanti kedatangan Koh Tsun. Sampai sekarang mereka selalu berkumpul setiap bulan sabit membentuk celeret merah. Mereka masih menanti, berharap suatu saat Koh Tsun datang kembali. Untuk mengobati kerinduan, orang-orang dukuh Parangan mendongengi anak-anaknya.

Koh Tsun memang begitu. Walaupun beraneka pakaian bagus ia punya, Koh Tsun lebih suka memilih corak yang itu-itu saja. Ia sering memakai celana bahan dengan stelan hem putih kecoklatan yang kerahnya sudah tambalan. Beberapa sisi celananya ia biarkan mengaga. Kalau diingatkan ia hanya tersenyum dan buru-buru mengalihkan pembicaraan.

Lalu jerit tangis anak-anak dusun Parangan terdengar berderai, mengakhiri cerita tentang Koh Tsun dari para orangtua.

Saturday, April 7, 2007

Mengapa menulis?

Menulis kata Gadis Arivia memberikan jeda antara apa yang dirasakan dan dituangkan. Jeda ini memberikan keleluasaan untuk menumpahkan pengalaman-pengalaman kaya yang “berbeda”. Budaya menulis membutuhkan ekstra enersi untuk merangkaikan realitas dengan perspektifnya sendiri, ini berarti berani untuk mengungkapkan karena bagaimanapun juga jejak-jejak telah ditinggalkan untuk ditelusuri kejujurannya.

Budaya menulis sangat berbeda dengan budaya lisan (yang lebih banyak dianut para politisi atau penghotbah), karena kata-kata yang diumbar tidak meninggalkan jejak dan tidak dapat ditelusuri kejujurannya kecuali kalau tertangkap basah.

Selubung budaya lisan sangat melekat, tertutup rapat oleh aturan “moralitas” sedangkan modus puisi dari awal dituntut untuk terbuka dan cenderung untuk memilih pertanggungjawaban diri, tidak ada sandaran justifikasi pada siapa-siapa (apalagi partai politik atau agama tertentu) semua bersandar pada kekuatan diri sendiri. Karena tidak ada justifikasi ini lah, para penyair menurut saya terbuka untuk siapa saja, siapa saja yang tidak ingin terbelenggu dan berupaya “menyihir” dunia menjadi lebih baik.

sahabat 5 gunung


MUSISI yang menetap दी Australia Sawong Jabo, menampilkan sejumlah lagu dalam album terbarunya lorong sunyi. Lagu2 pada album ini berada dalam bingkai musik akustik yang sederhana.

Didampingi istrinya Susan Piper di Studio 'Tanto" Mendut Magelang, Jumat malam, musisi yang bernama asli Muhammad Johansyah ini mengatakan, Lorong Sunyi merupakan perenungannya.

Malam itu jabo hadir bersama sejumlah seniman dan budayawan. Ada Emha Ainun Najib, Darmanto Yatman, Oppie Andaresta. Gurbenur Jateng Mardiyanto malam itu juga hadir di studio yang tak jauh dari Candi Mendut itu.

Jabo membawa lima orang musisi pengiringnya yaitu Abdi Prasetyo (gitar), Firman Sitompul (Celo), Budi (Biola), Aria (Biola, seruling), Ucok Hutabarat (Biola). Sawong Jabo juga membawa istrinya ke atas pentas.

Musisi yang pernah tergabung dalam grup Swami bersama Iwan Fals tersebut empat lagu di bawah temaran lampu sorot yang redup. Sawong Jabo yang mengenakan kaos warna merah dilapisi baju jawa dan sandal gunung tersebut menyanyi dan bermain gitar sambil berdiri pada sebuah pentas tanpa panggung.

Sawong Jabo juga mengajak duet istrinya, dalam beberapa lagu. Dalam lagu Langit Merah, alunan musik seruling yang masuk kadang-kadang menyelinapkan nada-nada dari musik tradisional.

Wednesday, April 4, 2007

berbohong

Orang2 bilang kalo pada awal April ini kita punya kesempatan sehari yang diperbolehkan berbohong. Sehingga pada hari itu banyak didapati temen2 kita pada ngerjain baik lewat telepon gelap, SMS atau secara langsung.

Lucu juga kali, kalo Tuhan punya bonus buat manusia, barang sehari saja untuk lepas dari kekuasannya. Paling tidak hari pengampunan dalam setahun. Apapun perbuatan yang kita lakukan pada hari pengampunan itu akan dimaafkan oleh Tuhan. Gmana, apa yang terjadi kira2?