About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Thursday, April 26, 2007

Derita Winarti


KETABAHAN hati Winarti (23) benar-benar sedang didera dengan cobaan hidup yang bertubi-tubi. Setelah dihianati calon suaminya saat hamil empat bulan, warga Dusun Cikalan Desa Banyurojo Mertoyudan Kabupaten Magelang ini harus berjuang sendirian merawat buah hatinya yang ternyata menderita Hydrocephalus(pembesaran kepala akibat cairan berlebihan, red).

Bayi berjenis laki-laki yang malang itu bernama Deni Kurniawan. Akibat penyakit yang dideritanya, bayi yang pada 10 Mei mendatang genap berumur setahun ini hanya bisa tertidur di atas potongan busa bekas yang dilapisi kain sarung. Di rumah orang tuanya di RT 2/IX yang kecil dan berpenghuni enam orang itulah Winarti selama ini menyimpan segala dukanya.
Untunglah orang tuanya, Kasmudi (51) dan Sumariyah (52) cukup tabah menerima kenyataan pahit. Termasuk Sri Wahyuni (27) kakak Winarti yang turut menjaga bayi yang hanya bisa bicara melalui tatapan mata saat dia bekerja. "Kalau ibunya sedang pergi bekerja, saya dan emak yang menungguinya," ujar Sri Wahyuni yang ditemui di kediamannya, Kamis (26/4).

Memang bayi yang dari lahir sampai saat ini tidak pernah ditimbang berart badannnya serta diberikan imuniasi itu hanya bisa menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. Matanya yang semakin mengecil akibat pembesaran di kapalnya hanya bisa melihat ke atas.

"Anak ini tidak pernah berkeringat, juga sulit untuk menangis," katanya.
Berbagai upaya telah dilakukan pihak keluarga, termasuk membawanya ke RS dr Sardjito Jogja. Selama 26 hari bayi malang itu dirawat, dokter menyarankan operasi. Karena ketidakpunyaan biaya pada akhirnya saran itu hanya sampai pada sebuah kata-kata. "Karena tidak ada perubahan yang berarti akhirnya keluarga patah arang dan membawa Deni kembali pulang ke Mertoyudan. Dari diagnosis dokter, keponakan saya ini juga mengalami kelainan jantung," tutur Wahyuni menyesal keluarganya tak bisa berbuat apa-apa.
Memang, upah yang diterima Winarti sebagai penjaga sebuah rental di Ruko Prayudan jauh dari cukup untuk biaya operasi. Bekerja jam 07.00-17.00 atau jam 13.00-21.00 ia hanya mendapatkan upah sebesar Rp 10.000.
Penghasilan orang tuanya sebagai buruh di New Armada pun hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan mata berkaca-kaca, Sri Wahyuni menguatkan diri untuk mengawali kisah pilu yang menimpa adiknya itu.

Kisah itu dimulai saat adik perempuannya itu hamil oleh hubungan dengan kekasihnya. Katanya, pada bulan-bulan pertama kekasihnya yang warga desa di Kecamatan Sawangan itu masih sering dating bahkan menemani berobat. Namun setelah menginjak empat bulan, orang tua laki-laki itu mengetahui kehamilan tersebut.

Yang mengagetkan ternyata orang tua si laki-laki mengawinkan dengan perempuan lain tepat saat janin berusia empat bulan. Akhirnya, janin itu tetap diperjuangkan lahir ke dunia meski tanpa seorang bapak. Saat kelahiran tiba, persalinan dilakukan secara cesar di Rumah Sakit Bersalin Aisiyah Muntilan.
Sekitar 15 hari Winarti menginap di rumah sakit tersebut. Sayangnya saat akan menebus bayi yang dilahirkan dalam kondisi tidak normal itu, keluarga winarti tak punya cukup uang. Karena tak bisa membayar biaya persalinan sebesar Rp 1.200.000, untuk membawa pulang Deni Kurniawan pihak keluarga akhirnya menjaminkan BPKB sepeda motor kepada pihak rumah sakit.

Perjanjian pun disepakati dan biaya persalinan itu akan dicicil Rp 100.000 per bulan selama setahun. "Sampai sekarang BPKB masih berada di rumah sakit. Bahkan saat kami akan meminjam sehari untuk memperpanjang STNK pun tidak diperbolehkan," ujar Wahyuni menyebutkan pihak RS bisa memberikan BPKB setelah membayar uang Rp sebesar 2.000.000.

Sumariyah yang lama terdiam akhirnya bersuara. Dirinya pasrah menerima takdir, karena sudah tidak bias berbuat apa-apa. Satu harapan yang tersisa adalah ada malaikat yang turun atas perintah tuhan memberikan pertolongan. "Nggih sak meniko naming pasrah mawon," imbuh Sumariyah buru-buru mengusap mata yang tiba-tiba basah....

1 comment:

  1. ikut priohatin, tapi ada yayasan di samarang yang barangkali bisa membantu meringankan beban. sayang aku lupa namanya. salam kenal

    ReplyDelete

terima kasih Anda telah memberikan komentar di blog ini