About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Thursday, May 10, 2007

Mbah Jo Gong

PARJO (77) hampir menyelesaikan Saron yang dipesan seorang dari Jepara saat matahari tepat di atas belahan kepala, Selasa (8/5). Di depan rumahnya di Dorowati I Kelurahan Krobokan Semarang inilah pria yang dikenal dengan sebutan Mbah Jo Gong ini sudah selama 55 tahun setia membuat gamelan.

Berbagai alat musik modern boleh datang dan pergi. Begitu pula alirannya silih berganti diikuti dan ditinggal para pemujanya. Namun kesetiaan Mbah Jo Gong pada alat musik tradisi gamelan tidak lekang zaman. Meskipun, kini ia benar-benar merasa sendiri mempertahankan ikon Jawa itu, menjadi perajin gamelan. Seiring menurunnya minat masyarakat terhadap gamelan, kini ia pun sepi orderan.

“Sejak munculnya campur sari, peminat gamelan mulai sepi. Apalagi setelah ada karaoke,” ujar pria yang sejak tahun 1952 menjadi perajin gamelan di Semarang, kemarin.

Pada zamannya, pria yang telah belajar membuat gamelan sejak berusia 16 tahun ini telah merasakan masa keemasan musik gamelan. Namun ketika musik gamelan mengalami masa suram, ia pun masih bertahan. Itulah sebabnya oleh orang-orang sekitar kampungnya, pria asli Bekong Surakarta yang mengenal gamelan di Gendingan Mangkunegaran, dikenal dengan panggilan Mbah Jo Gong. “Jo itu pethilan nama saya, Parjo. Lha “Gong” itu satu nama dari gamelan,” terang Mbah Jo menceritakan asal muasal sebutan namanya.

Masa keemasan gamelan, menurut dia sudah menjadi masa lalu yang sulit untuk diraih kembali. Ibarat kerajaan kerajinan gamelan ibaratnya sudah mau runtuh, tinggal menunggu waktu. “Kalau dulu dua bulan paling tidak satu pesanan, kini setengah tahun tidak mesti ada yang pesan,” katanya menyebutkan penurunan terjadi sejak tahun 1980.

Mbah Jo menuturkan, harga satu set gamelan beraneka ragam tergantung jenis bahan bakunya. Untuk satu set gamelan dari bahan perunggu mencapai Rp 360 juta. Sedangkan gamelan yang terbuat dari besi (slendro pelok) lebih murah yaitu sekitar Rp 40 juta. “Satu set gamelan berisi peking, saron, demung, siter, gender (slendro, pelok, pathet siji, pathet pitu) gambang, senthem, boning, tenong 11 biji, kempul 10 biji, dan gong,” katanya menjelaskan.

Tapi ada juga yang hanya pesan satu jenis saja, seperti gong atau saron. Untuk sebuah gong besi dijual Rp 1,2 juta, sedangkan untuk gong yang berbahan dari perunggu mencapai Rp 10 juta.
Namun kini, terbersit di hati Mbah Jo Gong rasa khawatir terhadap masa depan musik gamelan. Sebab musik ini sudah mulai ditinggalkan, terutama generasi muda. Bahkan empat anaknya pun tidak ada yang mewarisi profesinya menjadi seorang perajin gamelan.

“Hanya satu yang mau membantu. Itu pun hanya kadang-kadang. Bagi mereka banyak pekerjaan lain yang lebih menghasilkan daripada sekadar membuat gamelan,” tandasnya.

No comments:

Post a Comment

terima kasih Anda telah memberikan komentar di blog ini