Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2007

pulang sekolah

Gambar
WAKTU melintas di Bendungan Kaligending Karangsambung Kebumen, Jateng saat akan liputan sebuah demonstrasi warga menuntut pemilihan ulang Pilkades, baru2 ini aku ngeliat dua anak sepulang sekolah tiba2 turunn ke sungai. Sebelumnya, keduanya melepas sepatu lalu menjinjingnya saat mereka turun ke air.

Tidak hanya dua anak itu saja yang melakukan hal itu, sebagian besar warga sekitar bendungan turun ke kali jika mereka ingin cepat sampai ke rumah mereka. Sebab jika melewati jalan biasa mereka harus memutar jauh beberapa kilometer.

Kesempatan itu tak aku sia-siakan, lha aku kirim aja ke redaksi, esoknya puas foto ini jadi headline di wilayah kebumen. Sayang gambarnya BW jadi tone airnya nggak begitu kelihatan .

Foto ini juga aku kirim ke FN, untuk berbagai dengan pencinta fotografi. Lumayan banyak juga yang coment.



ambal resmi

Gambar
Lagi, gambar bapak-bapak naik sepeda yang aku jepret tidak jauh di dari Pantai Ambal Kebumen, Jateng. Aku tertarik ama pohon2 yang berderet, sayang rasanya tidak segera membingkai pemandangan itu dengan kamera yang aku bawa.

Habis itu, makan setengah porsi sate Ambal dan minum es teh menjadi menebus kelelahan seharian liputan . Sengaja cuma separo, karena satu porsi sate Ambal berjumlah 25 tusuk.

Belum pernah ngerasain, coba aja. Pokoke rika ketagihan lah.

Dua hari kemudian aku kembali lagi lewat Ambal bareng Aacuppu dari Jogja ke Pantai Petanahan yang ditempuh lewat jalur Deandels . Ngeri & capek deh.. liputan Festival Layang-layang Jarum 86, eh... Jarum 76 ...

Melintas Sutet

Gambar
Aku motret bapak2 bersepeda pulang dari sawah melintas di bawah saluran udara tegangan tinggi 500 kV (SUTET) di Kebumen Jateng, di sela-sela liputan kekeringan lahan.

Melihat SUTET, aku jadi inget pas liputan di Jogja, dua tahun lalu . Pembangunan jalur di Jawa bagian selatan mengalami hambatan. Masyarakat di beberapa lokasi seperti Klaten, Bantul menolak rencana pembangunan saluran itu.

Setidaknya terdapat delapan tower SUTET yang ditolak masyarakat di antaranya Desa Jimbrung di Klaten, Dukuh Kersen Bantul. Sisanya 6 terdapat di Desa Jabon Mekar dan Pamegarsari Depok.

Dilematis memang bicara soal sutet.
Gambar

merti dusun

Gambar
BERBAGAI sesaji berupa gunungan, tumpeng langgeng dan panjang ilang diarak ratusan warga dalam upacara Merti Dusun di Dusun Krebet Desa Sendangsari, Pajangan Bantul, Sabtu (23/6) kemarin.
Arak-arakan sesaji itu dikawal para prajurit berpakaian Jawa sebagai simbol pelindung. Sebelum sampai balai desa, bersama-sama mereka membawa sesaji berupa hasil bumi desa tersebut berkeliling desa. Setelah didoakan, gunungan pun diperebutkan warga sebagai simbol pemberian rejeki. Sedangkan tumpeng langgeng dan panjang ilang yang berisi makanan seperti nasi, lau pauk, jajanan pasar di dusun tersebut dinikmati seluruh masyarakat serta tamu undangan yang hadir. Digelarnya ritual Merti Dusun setiap bulan Jawa Jumadil Akhir tersebut sebagai tanda syukur warga atas semua rejeki yang telah diberikan Tuhan kepada mereka. "Kami ingin menjaga keseimbangan antara warga dan lingkungan agar kami yang telah diberikan rejeki melimpah tidak serakah," ujar Kepala Dusun Kerebet, Kemiskidi. Selain itu, denga…

menambang padas

Gambar
KETINGGIAN dan ancaman longsor yang sewaktu-waktu bakal menimpa tidak menyurutkan tekad Ritno (35) dan kawan-kawannya untuk terus menambang batu padas di Dusun Tangkil Desa Gemeksekti Kebumen.

Dari ketinggian sekitar 10 meter, satu demi satu bongkahan batu padas itu ditambang dengan alat tradisional. Bongkahan padas yang jatuh menimbulkan suara bergemuruh. Mereka hanya melongok sebentar lalu meneruskan kembali kerjanya. Mulai pagi hari dengan gesit mereka naik ke tebing untuk mulai bekerja. Menjelang istirahat siang, mereka turun mengumpulkan bongkahan padas itu mempersiapkan jika ada pembeli yang menginginkannya.

Di lokasi penambangan itu, Ritno tidak sendirian. Sejumlah penambang lain seperti Sadiri (35) dan Rusi serta penambang lainnya melakukan kegiatan serupa. Kendati apa yang mereka dari hasil cucuran peluh tidak seimbang dengan risiko dan kerja keras yang mereka lakukan, namun mereka menjalaninya dengan semangat.

Bayangkan saja, satu truk batu padas yang mereka kumpulkan seharian …