About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Friday, June 29, 2007

pulang sekolah

WAKTU melintas di Bendungan Kaligending Karangsambung Kebumen, Jateng saat akan liputan sebuah demonstrasi warga menuntut pemilihan ulang Pilkades, baru2 ini aku ngeliat dua anak sepulang sekolah tiba2 turunn ke sungai. Sebelumnya, keduanya melepas sepatu lalu menjinjingnya saat mereka turun ke air.

Tidak hanya dua anak itu saja yang melakukan hal itu, sebagian besar warga sekitar bendungan turun ke kali jika mereka ingin cepat sampai ke rumah mereka. Sebab jika melewati jalan biasa mereka harus memutar jauh beberapa kilometer.

Kesempatan itu tak aku sia-siakan, lha aku kirim aja ke redaksi, esoknya puas foto ini jadi headline di wilayah kebumen. Sayang gambarnya BW jadi tone airnya nggak begitu kelihatan .

Foto ini juga aku kirim ke FN, untuk berbagai dengan pencinta fotografi. Lumayan banyak juga yang coment.



Thursday, June 28, 2007

ambal resmi

Lagi, gambar bapak-bapak naik sepeda yang aku jepret tidak jauh di dari Pantai Ambal Kebumen, Jateng. Aku tertarik ama pohon2 yang berderet, sayang rasanya tidak segera membingkai pemandangan itu dengan kamera yang aku bawa.

Habis itu, makan setengah porsi sate Ambal dan minum es teh menjadi menebus kelelahan seharian liputan . Sengaja cuma separo, karena satu porsi sate Ambal berjumlah 25 tusuk.

Belum pernah ngerasain, coba aja. Pokoke rika ketagihan lah.

Dua hari kemudian aku kembali lagi lewat Ambal bareng Aacuppu dari Jogja ke Pantai Petanahan yang ditempuh lewat jalur Deandels . Ngeri & capek deh.. liputan Festival Layang-layang Jarum 86, eh... Jarum 76 ...

Melintas Sutet

Aku motret bapak2 bersepeda pulang dari sawah melintas di bawah saluran udara tegangan tinggi 500 kV (SUTET) di Kebumen Jateng, di sela-sela liputan kekeringan lahan.

Melihat SUTET, aku jadi inget pas liputan di Jogja, dua tahun lalu . Pembangunan jalur di Jawa bagian selatan mengalami hambatan. Masyarakat di beberapa lokasi seperti Klaten, Bantul menolak rencana pembangunan saluran itu.

Setidaknya terdapat delapan tower SUTET yang ditolak masyarakat di antaranya Desa Jimbrung di Klaten, Dukuh Kersen Bantul. Sisanya 6 terdapat di Desa Jabon Mekar dan Pamegarsari Depok.

Dilematis memang bicara soal sutet.

Monday, June 25, 2007

merti dusun

BERBAGAI sesaji berupa gunungan, tumpeng langgeng dan panjang ilang diarak ratusan warga dalam upacara Merti Dusun di Dusun Krebet Desa Sendangsari, Pajangan Bantul, Sabtu (23/6) kemarin.
Arak-arakan sesaji itu dikawal para prajurit berpakaian Jawa sebagai simbol pelindung. Sebelum sampai balai desa, bersama-sama mereka membawa sesaji berupa hasil bumi desa tersebut berkeliling desa. Setelah didoakan, gunungan pun diperebutkan warga sebagai simbol pemberian rejeki.
Sedangkan tumpeng langgeng dan panjang ilang yang berisi makanan seperti nasi, lau pauk, jajanan pasar di dusun tersebut dinikmati seluruh masyarakat serta tamu undangan yang hadir. Digelarnya ritual Merti Dusun setiap bulan Jawa Jumadil Akhir tersebut sebagai tanda syukur warga atas semua rejeki yang telah diberikan Tuhan kepada mereka.
"Kami ingin menjaga keseimbangan antara warga dan lingkungan agar kami yang telah diberikan rejeki melimpah tidak serakah," ujar Kepala Dusun Kerebet, Kemiskidi.
Selain itu, dengan pembuatan sesaji berupa hasil bumi di dusun tersebut, mereka ingin membuang 'segala hal yang buruk'. Sehingga dusun itu akan aman dan bersih dari hal-hal yang tidak diinginkan. Diaraknya sesaji berkeliling desa, imbuh Kemiskidi, untuk mengenalkan tradisi Merti Dusun kepada masyarakat luas. Dengan demikian tradisi itu akan terus lestari dan tidak punah pada jaman yang semakin modern ini.
"Selain itu upacaranya sendiri akan mendatangkan wisatawan sehingga bisa menjadi aset wisata yang berharga bagi dusun ini sendiri," imbuhnya.
Liputan ini sebenarnya nggak sengaja, pas nganterin aacuppu ke Bantul. pas motret, sayang kalau gak ada beritanya.......

menambang padas

KETINGGIAN dan ancaman longsor yang sewaktu-waktu bakal menimpa tidak menyurutkan tekad Ritno (35) dan kawan-kawannya untuk terus menambang batu padas di Dusun Tangkil Desa Gemeksekti Kebumen.

Dari ketinggian sekitar 10 meter, satu demi satu bongkahan batu padas itu ditambang dengan alat tradisional. Bongkahan padas yang jatuh menimbulkan suara bergemuruh. Mereka hanya melongok sebentar lalu meneruskan kembali kerjanya. Mulai pagi hari dengan gesit mereka naik ke tebing untuk mulai bekerja. Menjelang istirahat siang, mereka turun mengumpulkan bongkahan padas itu mempersiapkan jika ada pembeli yang menginginkannya.

Di lokasi penambangan itu, Ritno tidak sendirian. Sejumlah penambang lain seperti Sadiri (35) dan Rusi serta penambang lainnya melakukan kegiatan serupa. Kendati apa yang mereka dari hasil cucuran peluh tidak seimbang dengan risiko dan kerja keras yang mereka lakukan, namun mereka menjalaninya dengan semangat.

Bayangkan saja, satu truk batu padas yang mereka kumpulkan seharian itu hanya laku Rp 30.000. Tambahan yang didapat hanya dari jasa tenaga menaikkan batu tersebut. Tapi terkadang mereka harus merelakan kenyataan, saat pembeli telah membawa tenaga pengangkut sendiri. Padahal, uang yang diterima itu tidak semata-mata masuk ke kantong saku. Jumlah itu masih dikurangi dengan berbagai potongan. Antara lain Rp 2.500 untuk pemilik tanah dan Rp 2.000 buat jasa jembatan yang dibangun perorangan. "Ya bagaimana lagi, wong hanya ini yang bisa kami lakukan," ujar Ritno saat ditemui di lokasi penambangan, belum lama ini.

Kegiatan menambang batu padas di tanah berbukit itu memang menjadi sumber rizki bagi warga sekitar. Selain itu, pemilik tanah pun mengambil keuntungan dari kegiatan itu. Sebab dengan diratakannya tanah berbukit itu, nilai tanah menjadi bertambah tinggi.

Hal itu diakui Halimi (51) salah satu pemilik tanah di lokasi tersebut. Ia mengaku, ketika masih berbukit, dulu harga jualnya masih rendah, yakni Rp 400.000 per ubin atau 4 m2. Padahal ketika sudah dalam kondisi datar, harganya bisa mencapai Rp 1 juta per ubin. "Rumah-rumah di pinggir jalan itu dulunya juga berupa tanah berbukit. Setelah bertahun-tahun ditambang dan menjadi datar kemudian baru didirikan bangunan," ujar Halimi.

Warga RT 9 RW 3 ini mempunyai tanah seluas 74 ubin yang berbukit, saat ini dia sudah bisa memanfaatkan tanah tersebut untuk berbagai keperluan. Misalnya ia mendirikan warung di bekas tanah berbukit yang saat ini sudah rata.

Sengaja, warga di dusun itu tidak menggunakan alat berat untuk mengeruk bukit agar menjadi rata. Selain harga sewanya yang mahal, dengan dikeruk melalui cara tradisional dapat menjadi lahan bekerja sebagian warga yang biasa menjadi penambang. "Di lokasi ini, penambangan sudah dilakukan selama tujuh tahun. Entah sudah berapa truk batu padas yang dihasilkan," ujarnya