About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Thursday, July 19, 2007

masih perlukah

RITUAL yang digelar pada tiap tahun ajaran baru dengan kemasan Masa Orientasi Siswa (MOS) ternyata masih tradisi jaman 'asu raenak' alias jadul banget. Wong bangsa ini keluar dari penjajahan agar bisa hidup lebih bermartabat, eh anak-anak kita di sekolahan malah diajarin hidup dengan cara yang nggak nggenah .

Nggak keren blazz.. bercaping senik, kata orang kampung sayasambil membawa dot bayi Menurutku itu nggak ada faedahnya sama sekali.
Saya jadi prihatin melihat hampir sekolah memperlakukan hal yang sama terhadap siswa barunya.
Saya yakin, waktunya dia jadi senior hal yang serupa akan terulangi. Kayaknya sudah saatnya cara-cara nggak intelek di bangku sekolah itu dihilangkan . Setuju nggak!!!!

Monday, July 16, 2007

Kesetiaan Mulyanto

DI TENGAH maraknya hiburan orgen tunggal dan orkes dangdutan tidak membuat hati Mulyanto (29) berpaling dari seni tradisional Kuda Kepang. Bersama rombongan kesenian Sudi Waluyo, warga Dusun Kadirenggo Desa Karangkemiri Kecamatan Karangayar, Kebumen ini tetap setia melakoni aktivitas berkesenian yang ia sebut sebagai upaya nguri-nguri seni tradisi.

Memang kehidupan sehari-hari ayah dua anak ini tidak bisa dilepaskan dengan kuda kepang. Sebab, selain aktif dalam rombongan kesenian itu, dengan dibantu istrinya Tarsih, sejak empat tahun silam dia bertekad melestarikan kesenian yang mulai tergusur hiburan modern itu dengan menjadi perajin kuda kepang.

Tidak banyak uang yang ia dapatkan dari mengayam bambu, membentuknya, memberi pinggiran lalu mewarnai dengan cat minyak hingga menjadi kuda kepang. Namun demikian, di rumahnya yang sederhana itu, ia tetap bertahan mengayam bambu-bambu yang sudah dikeringkan berbulan-bulan, dipotong kecil-kecil dan dihaluskan itu menjadi kuda kepang berbagai ukuran. Dalam sehari rata-rata ia bisa menghasilkan lima kuda kepang ukuran kecil. Sedangkan untuk ukuran besar ia hanya bisa menyelesaikan satu sampai dua kuda kepang.

Untuk ukuran kecil yang dibuat mainan anak-anak usai TK ia jual Rp 15.000, sedangkan ukuran besar yang dipakai untuk orang dewasaa dijual dengan harga Rp 60.000. Selain grup kesenian kuda lumping, pembeli perorangan pun banyak untuk dijadikan sebagai hiasan rumah. "Tidak tentu, Mas. Kadang ramai pesanan tapi juga kadang sepi sekali," ujarnya saat ditemui Suara Merdeka di rumah kediamannya, belum lama ini.

Seluruh proses pembuatan kuda kepang dikerjakan sendiri, mulai dari menebang bambu, proses pengeringan, sampai memotong-motong bambu menjadi bilah-bilah kecil. Selanjutnya kuda kepang yang telah selesai dipajang di kiosnya sembari menjadi penjual bensin di jalan Karanganyar-Karanggayam. "Biar mudah saja, kalau di rumah kan sulit kalau orang mau mencarinya," aku perajin yang telah menyelesaikan obsesinya, membuat kuda kepang raksasa agar karyanya diabadikan Museum Rekor Indonesia (MURI).

Sayangnya, hingga kini kuda kepang dengan panjang 16 meter dan tinggi 10 itu dengan menghabiskan 200 batang bambu masih berdiri kokoh tidak jauh dari kiosnya. Jangankan untuk mendaftrakan ke lembaga milik Jaya Suprana itu, kapan kuda kepang raksasa yang menelan Rp 6 juta itu diresmikan, dia tidak tahu. "Tidak ada biaya untuk mendaftarkan," katanya menyebutkan biaya pembuatan kuda kepang raksasa itu disokong warga setempat.

Dari ukuran kuda kepang buatan Mulyanto sudah melebihi pemecah rekor sebelumnya dari Banjarnegara dengan pajang 12 meter dan tinggi enam meter. “Kami masih perlu dukungan dana agar kuda kepang ini bisa dicatat Muri sebagai kuda kepang terbesar di Indonesia,” ujar Mulyanto.

Di tengah perjuangan itu, Mulyanto sadar bertahan menjadi perajin kuda kepang keluarganya tidak akan hidup dalam uang berlebih. Lihat saja rumahnya yang sederhana, meja kayu menjadi penyambut tamu yang datang. Namun demikian ia tetap melakoninya dengan hati tawakal. Ia merasa beruntung karena istrinya menerima kondisi itu.

Thursday, July 12, 2007

seniman kecil

BARONGAN berlarian di antara para prajurit, setelah anak panah yang melesat dari busur seorang pengeran mengenai tubuhnya. Terkena anak panah itu sang barongan tidak serta merta dibunuh, melainkan dibiarkan melarikan diri dari hutan yang akan dibangun kerajaan.

Alur cerita itu adalah akhir dari fragmen yang dipentaskan grup kesenian Kuda Kepang Roso Jati Birowo pada pembukaan Tri Lomba Juang Tingkat Jateng 2007, di Bumi Perkemahan Widoro, Karangsambung, Kebumen, belum lama ini. Diiringi musik senderhana, pentas yang dimainkan grup kesenian dari Desa Kejawang Rt I/II Kecamatan Sruweng itu cukup membuat peserta maupun tamu undangan di mimbar utama berdecak kagum.

Terlepas dari itu semua, kisah perang pangeran melawan barongan sebagai simbol sesuatu keburukan itu tidak harus matikan. Melainkan cukup dipindahkan ke suatu tempat yang tidak mengganggu manusia. Itu adalah cerminan kasih sayang manusia dengan makhluk hidup lainnya. "Itu terlihat ketika Barongan dipanah pangeran, tidak jatuh mati, melainkan pergi menyingkir," ujar Darsono (52) pimpinan kelompok kesenian itu bertutur makna fragmen yang dipentaskan.

Setidaknya begitulah makna kasih sayang yang ingin ditunjukkan dari pentas grup kesenian tradisional di bawah pimpinan seniman yang juga pemilik pembuatan gamelan. Dalam pentas yang dipersiapkan selama empat hari itu juga diselipkan sebuah ritual. Tujuannya untuk kelancaran acara dan menjauhkan dari sengkala atau aura kejahatan. "Barongan simbol sengkolo yang ada di sekitar lokasi ini dipindahkan agar tidak mengganggu selama acara berlangsung," ujarnya.

Memang, dalam kancah kesenian di Kebumen, grup kesenian itu adalah cukup dikenal. Berdiri tahun 1982 sejumlah pentas di luar daerah sudah sering dilakukan. Di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, grup ini setidaknya sudah pentas sebanyak 12 kali.

Tidak tentu berapa orang yang dilibatkan dalam setiap pentas. Bisa sedikit sekitar 20 orang namun bisa sampai 200 orang. Itu tergantung besar kecil event yang akan dimeriahkan. Pada pentas hari itu misalnya, selain para pemain dewasa, anak-anak juga turut dilibatkan menjadi pemain kuda kepang.

"Khusus anak usai sekolah ini ikut pada waktu mereka liburan saja. Selain untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang positif, mereka juga mendapatkan penghasilan dari setiap pentas yang diikuti," katanya.

Met baca aa cuppu !!!!

Monday, July 9, 2007

soto petanahan

SUDAH berapa jenis soto yang Anda pernah coba? Jangan mengkalim telah merasai semua soto di negeri ini sebelum mencicipi lezatnya Soto Petanahan khas Kebumen.
Memang tak terhitung jenis soto yang ada di Indonesia. Begitu banyaknya, setiap daerah yang memiliki soto menyebut soto buatannya sesuai nama kotanya. Sebut saja Soto Betawi di Jakarta, Soto Yogya (Kadipiro, Pak Soleh dll), Taoto Pekalongan, Coto Makassar, Soto Banjar, Soto Kudus, Soto Lamongan, tak terkecuali Soto Petanahan.
Sesuai namanya Soto Petanahan berasal dari salah satu desa sekaligus menjadi kota kecamatan di Kebumen; Petanahan. Secara umum, soto jenis ini hampir sama dengan soto yang lain. Namun ada yang begitu mencolok membuat kekhasan soto tersebut berbeda dengan yang lain.Yakni jika soto-soto yang lain dicampur dengan nasi, soto khas Petanahan dilengkapi dengan lontong kupat. Selain itu, ayam kampung yang disuwir atau masih lengkap menjadi penanda kekhasan soto ini.

Selain itu hampir sama yakni taoge namun tidak memakai kubis. Sajian berkuah khas negeri ini memang paling enak disantap saat hangat. Kuahnya yang gurih menghangatkan mulut dan tenggorokan. Belum lagi aneka isi yang ada dalam kuahnya. Daging ayam kampung, jeroan, suun, telur rebus, tauge, daun bawang serta taburan bawang merah goreng menjadi penggugah selera.

Bersyukur, Indonesia kaya dengan sajian yang digolongkan sebagai sup atau sajian pembuka ini. Tiap daerah memiliki keunikan dalam racikan bumbu dan isinya sehingga memiliki kelezatan yang berbeda. Untuk bisa mencicipi kelezatan soto Petanahan, bisa datang langsung ke Petanahan. Kebetulan jika Anda punya rencana berlibur ke pantai Petanahan, mampir saja ke Pasar Petanahan. Di sanalah para pedagang soto khas Petanahan berada.

Salah satu penjual soto yang cukup tersohor adalah Sutarman (57). Namun ia lebih kondang dengan sebutan Soto Kored. Bertanya tentang Soto Kored, di setiap sudut Petanahan warga sekitar pasti dengan detail menunjukkannya.

Meski di dalam pasar, soto ini cukup laris. Apalagi saat hari Minggu atau liburan seperti saat ini. Selain warga sekitar, soto ini menjadi jujugan wisawatan usai dari pantai. Pada puncaknya pada waktu lebaran yang sehari bisa menghabiskan sebanyak 40-50 potong ayam. Namun jangan pernah mencari Soto Kored di pasar Petanahan sebelum jam 14.00. Karena ia masih berjulan di rumahnya di gang Pasar RT 1/I sekitar 200 meter dari pasar. "Kami biasa bejualan dari jam 14.00 hingga pukul 19.00," ujar Umi Ngatimah (50) istri Sutarman.

Selain itu, setiap Senin, Soto Kored juga libur berjualan. Sebenarnya dipilih hari minggu, namun banyaknya pembeli pada hari itu, memaksa mengubah hari libur menjadi senin. "Sayang jika minggu tutup, karena sangat ramai pembeli," ujar Umi menyebutkan rata-rata sehari mengabiskan 13 kg beras untuk lontong kupatnya.

Tidak mahal untuk dapat menikmati seporsi Soto Petanahan. Cukup merogoh kocek Rp 6.000 untuk bisa mencicipi lezatnya seporsi soto spesial plus daging ayam kampungnya yang lezat. Sementara itu, menjaadi penjual soto bagi keluarga Sutarman merupakan warisan turun temurun dari leluhur.
Bahkan 'Kored' Sutarman sendiri merupakan generasi ke tiga. Ayah empat anak ini sudah 26 tahun menjalani hidup sebagai penjual soto. Saat ini ia sudah mengajarkan kepada anaknya untuk meracik bumbu soto. Diharapkan anak-anaknya dapat melanjutkan dan mengembangkan soto Petanahan bisa sampai dikenal sampai ke luar daerah.

Friday, July 6, 2007

hidup petani

MELIHAT petani yang bekerja di sawah, belum lama ini memaksa aku merenungkan kata2 yang sering aku dengar tapi aku terus melupakannya.

Jadikan hidup laksana seorang petani, menanam dahulu, memupuk, merawat hingga menuai hasilnya. Jangan seperti pemburu yang hidup untuk hari ini saja, tembak dapat bawa pulang, begitu seterusnya.


"Jiwa petani semoga mengalir pada anak kita meskipun mereka tidak lahir di desa".

kuda kepang

TIDAK perlu membayangkan berapa besar orang yang akan memainkan kuda kepang buatan Mulyanto (29) warga Dusun Kendirogo Desa Karangkemiri Kecamatan Karanganyar Kebumen. Sebab tidak akan ada orang yang bisa menunggangi kuda kepang raksasa dengan panjang 16 meter dan tinggi 10 meter itu.

Untuk membuatnya saja, kuda kepang yang diyakini pembuatanya sebagai kuda kepang terbesar di Indonesia bahkan dunia itu menghabiskan sebanyak 200 batang bambu.
Dibantu sejumlah pemuda di dusunnya, pada 14 Februari lalu pria yang sehari-hari menjadi perajin kuda kepang itu mulai mengerjakan obsesisnya; memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI).

Kendati dengan dana terbatas yang di dapat dari swadaya dan bantuan masyarakat setempat, akhirnya bulan Juni lalu ia dapat merampungkan pekerjaannya. Sekitar Rp 6 juta habis untuk menggarap kuda kepang itu. Angka itu memang tidak berlebihan, karena untuk memberi warna kuda kepang itu, menghabiskan sebanyak 50 kg cat minyak.

Lalu pada 13 Juni lalu, saking besarnya, untuk mendirikan kuda kepang rakasa itu harus dengan bantutuan sekitar 50 warga setempat. Proses mendirikannya pun diwarnai dengan selamatan yang dihadiri dari pemerintah desa dan kecamatan. Kuda kepang itu hingga kini masih berdiri kokoh di pinggir jalan. Belum diresmikan karena terbentur biaya. "Tujuan utama membuat kuda kepang raksasa ini adalah untuk nguri-nguri kesenian Jawa yang hampir hilang," ujar Mulyanto didampingi Saring (30) salah satu warga yang ikut membantunya, Jumat (6/7) kemarin.

Sejujurnya, jika ada kesempatan Mulyanto ingin mendaftarkan karyannya itu ke MURI. Karena dilihat dari ukuran kuda kepang tersebut sudah mengalahkan pemagang rekor MURI yang berukuran 13x6 meter yang pegang pada gelar budaya Wonorejo, Banjarnegara 2004. Namun niatan ayah dua anak yang sudah empat tahun menekuni usaha kuda kepang itu menjadi jauh karena ketiadaan dana. Bahkan kapan peresmiannya saja belum bisa dipastikanm, karena lagi-lagi terganjal uang. Ia pun berharap ada yang peduli dengan itu semua.

Kecintaan Mulyanto pada kuda kepang memang cukup mendalam. Selain sebagai perajin, dia juga aktif dalam grup kesenian tradisional kuda kepang 'Sudi Waluyo' di desa itu. "Sayangnya di sekitar sini tidak ada lokasi wisata, sehingga tidak banyak dilihat orang. Namun paling tidak, kuda kepang itu menjadi ikon Desa Karangkemiri, menandai belum punahnya kesenian tardisional," tegasnya.

Tuesday, July 3, 2007

hari anak

SEJUMLAH anak tergesa mendekati dump truk pengangkut sampah milik Bidang Kebersihan dan Pertamanan Dinas Kimprasda Kebumen yang berhenti di TPA Kaligending, Kecamatan Karangsambung, Sabtu (30/6).

Berbekal keranjang sampah mereka memilah satu persatu plastik dan kertas yang telah bercampur kotoran berbau busuk itu. Adalah Andri (13), Riki (12), Tato (12) dan Yudi (12) empat sekawan yang terpaksa menghabiskan masa liburannya di tempat yang penuh dengan kotoran itu.

Saat teman-teman sebayanya mengisi liburan dengan bermain maupun kursus mereka bergelut dengan bau busuk yang menyengat. Di antara kotoran itu, tanpa alas kaki dan masker anak-anak di Dusun Kraminan itu tanpa takut terkena penyakit, dengan susah payah memenuhi keranjang mereka dengan plastik dan kertas yang mereka dapatkan.

Setelah mendapatkan banyak, plastik dan kertas tersebut mereka jual kepada pengepul. Mereka mendapatkan Rp 300 untuk setiap 1 kg kertas yang mereka dapatkan. Sedangkan untuk jenis plastik mereka lebih banyak mendapatkan uang yakni Rp 700/kg. "Kalau pas liburan, sehari bisa dapat dua keranjang. Tapi kalau pas sekolah rata-rata hanya bisa satu keranjang," ujar Andri, salah satu pemulung yang baru lulus SD Kaligending.

Pada musim liburan, mereka mulai memungut sampah sejak pagi, sekitar pukul 07.00. Bahkan ketika para pemulung dewasa belum mulai beroperasi, mereka sudah berada di TPA tersebut. Mereka pulang untuk makan siang lalu kembali lagi untuk memenuhi keranjang hingga matahari mulai tenggelam. "Sehari kadang dapat Rp 20.000 sampai Rp 25.000," ujar Andri yang sudah menjadi pemulung sejak kelas 3 SD.

Sedangkan jika tidak liburan mereka hanya mencari sampah seusai pulang sekolah hingga sore hari. Meskipun uang yang didapat tidak banyak, mereka mengaku senang mencari sampah. Sebab itu dapat membantu meringankan beban orang tua mereka yang pada umunya dengan tingkat perekonomian yang terbatas. "Dikumpulkan, Mas. Untuk membeli buku sekolah, juga buat jajan," ujar Riki pemulung anak yang beru Kelas V SD itu.

Meski orang tuanya bukan seorang pemulung, Riki tidak pernah dilarang ketika ke TPA untuk mencari sampah. Dia juga senang dan tidak menyesal tidak bisa bermain dengan teman-teman sebayanya. Setidaknya di TPA seluas 1,5 hektare itu, terdapat sekitar 10 pemulung yang masih berusia anak-anak. Mereka berusaha berebut sampah dengan pemulung dewasa yang lebih kuat tenaganya. "Selain untuk beli buku, ya buat nambahi bayar sekolah," tambah Andri yang bercita-cita melanjutkan sekolah ke SMP Karangsambung yang letaknya tidak jauh dari sekolahnya dulu.

Meski dengan biaya terbatas ia ingin sekali tamat SMP. Ketika melanjutkan SMP nanti, ia masih tetap memungut sampah untuk biaya sekolah. Saat diterima di SMP nanti, ia mengaku akan rajin belajar tidak seperti waktu SD. Dengan hasil dari memungut sampah itu, akan ditabung untuk membeli buku pelajaran sekolah.