About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Friday, September 14, 2007

Ziarah

NURSIDAH (28) tampak khusuk berdoa sembari menengadahkan kedua tangannya di hadapan pusara orangtuanya di pemakaman Desa Karangraja, Petanahan, Rabu (12/9). Dibantu adik dan anak semata wayangnya, perempuan yang kini ikut suaminya tinggal di Desa Sugihwaras Kecamatan Adimulyo itu, terlebih dahulu membersihkan nisan tersebut.
Memang, sejak tinggal beda kecamatan, ia mengaku tak bisa rutin mengunjungi makam bapak ibunya. Hanya hari-hari tertentu saja, seperti peringatan meninggal (haul), bulan-bulan besar seperti sehari menjelang Idul Fitri, serta saat ia akan punya gawe. "Selebihnya, hanya mendoakan usai sholat lima waktu agar mereka diberikan tempat yang baik di sisi Allah," ujarnya usai ziarah, Rabu (12/9).

Kendati sudah berbeda alam, kata dia, dirinya merasa masih ada kedekatan emosional layaknya ketika kedua orangtuanya masih hidup. Oleh karenanya, ia membagi kebahagiaan dengan berdoa dan membacakan ayat-ayat Alquran yang ia bisa. "Karena saya sudah tidak bisa berbakti secara fisik, yang bisa saya lakukan adalah mendoakan," imbuhnya.

Bagi sebagian umat Islam terutama di Indonesia, ziarah kubur sudah menjadi tradisi.
Mendatangi pusara orang tua, atau keluarga yang sudah meninggal membawa perasaan haru tersendiri. Tentunya hal itu mengingatkan bahwa suatu saat, entah kapan mereka akan menyusul. Atas alasan itu pula, Muhammad Amari warga Adikarso, Kebumen menyempatkan diri ziarah ke makam almarhumah istrinya.

Sebelum pergi bertugas, anggota Polri yang dinas di Polsek Ambal itu mampir ke kompleks pemakaman Si Jago, Desa Selang, Kebumen. Lengkap dengan seragam Polri, pria asli Cepu, Blora yang sudah 27 tahun tinggal di Kebumen itu khusyuk berdoa di hadapan nisan istrinya yang sudah meninggal setahun silam.

Tak lupa, ia juga turut berdoa di makam keluarga mertua yang dikuburkan tidak jauh dari makam istrinya. Sejak pagi hingga sore, jumlah peziarah yang datang ke makam tersebut cukup banyak. Puncaknya sekitar pukul 15.30-17.00. Sejumlah rombongan berduyun-duyun mendatangi pemakaman yang terletak di pertigaan Jalan Si Jago tersebut. "Harus disempatkan, sekalian ketemu kelurga di kampung, Mas" ujar Kirmanto peziarah yang kini bekerja di Surabaya.

Sebelumnya, sejumlah ahli waris di pemakaman tersebut melakukan kerja bakti bersih-bersih kubur. Warga bergotong-royong membersihkan rumput yang mulai tumbuh subur di sekitar nisan leluhurnya.

No comments:

Post a Comment

terima kasih Anda telah memberikan komentar di blog ini