About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Thursday, November 27, 2008

No Smoking?

MELIHAT dua petani yang tengah asyik merasai hisapan lintingan tembakau di pematang sawah di Kecamatan Sadang Kabupaten Kebumen, baru-baru ini, membuat saya cemburu. Meski setiap tahun didera harga pupuk yang melambung, mereka masih tetap bertahan sebagai petani.

Meski bukan seorang perokok, saya tidak pernah berharap suatu saat ada pemeritahan yang kurang kerjaan hingga melarang seorang petani merokok saat bekerja di sawah. Apalagi sampai mereka diwajibkan membayar denda atau dikurung penjara, tidak pernah berharap.***

Friday, November 21, 2008

Naik Rakit

JIKA disuruh mengajukan tiga permintaan, sebagian warga Desa Seboro Kecamatan Sadang Kabupaten Kebumen tentu salah satunya akan mengajukan permohonan untuk dibangunkan jembatan di atas sungai Luk Ulo yang membelah desa mereka. Ketiadaan jembatan membuat mereka terpaksa menumpang rakit untuk menyeberang ke pusat desa, maupun pergi ke kota.

Mainah (40), Harti (45) Sodikun (37) warga Dusun Karanganyar Desa Seboro adalah tiga dari ribuan warga Desa Seboro yang menggunakan jasa "jembatan berjalan" untuk keperluan mengurus surat-surat, ke pasar maupun bekerja baik di instansi pemerintah maupun swasta. Maklum selain Dusun Karanganyar di sisi timur sungai Luk Ulo masih terdapat enam dusun lagi yang bernasip sama dengan penduduk sekitar 3.000 jiwa. Jika tidak menyeberangi sungai itu, warga harus memutar melewati jembatan di Desa Wonosari dengan jarak 4 KM lebih panjang atau melalui Dusun Legok sekitar 5 KM lebih jauh.

Kepala Desa Seboro, Muhadi (41) mengungkapkan, selain digunakan untuk pergi ke pasar atau ke balai desa, jalur itu juga dilalui untuk menguburkan jenazah. Mengingat letak tempat pemakaman umum (TPU) berada di seberang sungai. Bahkan beberapa tahun lalu pernah terjadi, jenazah yang akan dikuburkan hampir hanyut di sungai Luk Ulo.
"Gara-garanya, saat berada di atas rakit, sungai tiba-tiba banjir," kenang Muhadi.

Setiap hari, di sungai tersebut terdapat tiga rakit yang siap menyeberangkan warga mulai pukul 07:00 sampai pukul 16:00. Setiap rakit terdiri dari tiga orang kru, satu orang di depan dan dua lainnya mendorong dari belakang. Sebagai imbal jasa, biasanya warga memberikan uang Rp 1.000 per orang. Sedangkan untuk sepeda motor mereka memberikan Rp 3.000. Meski adapula pula yang hanya memberikan ucapan terimakasih, namun tidak membuat para tukang rakit itu tidak melayani.

"Itung-itung untuk menolong warga," ujar Sutarto (36) salah satu tukang rakit yang mengaku penghasilan setiap hari sekitar Rp 100.000-Rp 120.000 untuk setiap rakit.***

Wednesday, November 5, 2008

batik kebumen

INDUSTRI batik tulis sebagian besar sudah meninggalkan penggunaan bahan pewarna alami. Tidak terkecuali, para perajin batik tulis di Kebumen. Mereka mayoritas menggunakan pewarna kimiawi. Padahal penggunaan zat tersebut membawa risiko bagi perajin dan lingkungannya.

Namun salah satu kelompok perajin batik di Kebumen yang mencoba kembali menggunakan zat alami untuk bahan pewarnaan. Kelompok perajin batik "Kenanga" di Dusun Lengkong Desa Jemur Kecamatan Pejagoan mencoba menggunakan bahan seperti sepet kelapa, mahoni, kunyit buah pace untuk proses pewarnaan batik mereka. Perajin batik yang merupakan binaan Dharma Wanita "Persatuan" Kebumen tersebut akhirnya berhasil membuat sebuah batik dengan pewarna alami.

Hasilnya ternyata tak kalah bersaing jika dibandingkan batik yang menggunakan pewarna kimiawi. Adapun kelebihan pewarna alami yang dahulu dipakai sejak jaman nenek moyang itu adalah aman dan ramah lingkungan. Dari penelitian, efek negatif pewarna kimiawi dalam proses pewarnaan oleh perajin batik tulis adalah risiko terkena kanker kulit. Selain itu, limbah pewarna yang dibuang juga mencemari lingkungan.

"Kami memang baru mencoba dan ternyata berhasil. Kami senang sekali, ke depan akan memproduksi batik tulis dengan pewarnaan alami," ujar Ketua Kelompok Perajin Batik "Kenanga" Baroyah (47) saat ditemui di rumahnya, kemarin.

Penggunaan kembali warna alami oleh perajin batik tidak lepas atas dorongan dari Dharma wanita "Persatuan" Kebumen. Merujuk adanya kebijakan oleh beberapa negara maju terutama di Eropa sejak tahun 1996 melarang penggunaan zat warna berbahan kimia bagi produk footwear, clothing, termasuk batik.

"Kami pernah ikut pameran, ternyata beberapa negara di Eropa senang dengan pewarna yang ramah lingkungan. Untuk itu kami mendorong kepada kelompok batik "Kenanga" menggunakan pewarna yang alami," ujar Mieke Irwanto, Wakil Ketua Dharma Wanita "Persatuan" Kebumen.

Kelompok batik yang beranggotakan 15 orang tersebut juga relatif cukup inovatif dalam mengembangkan batik Kebumen. Atas dukungan Arieke Batik & Craft dan Murni Batik, dilakukan berbagai terobosan untuk mengangkat derajat batik Kebumen ke level tingkat menengah atas. Selain motif yang berfariatif, para perajin juga menggunakan bahan dasar yang berkelas. Tidak saja menggunakan kain mori/premis kualitas nomor satu, mereka juga sudah memakai kain sutera super, kain songket, serat nanas dan kayu rani dari India. Adapun motif-motif yang digunakan di antaranya jagatan rante, undel tombel, gringsing, sirikit, ukel, ripandan dan cengkehan.

"Kami terus mendorong mereka membuat motif-motif baru yang lebih menarik," ujar perempuan dengan Arieke Batik dan Craftnya mengikuti sejumlah ajang pameran nasional dan internasional.

Nyatanya, dengan menggunakan bahan dasar yang berkelas serta motif yang inovatif dan penggerapan yang halus, batik-batik karya kelompok perajin yang pernah menjadi juara I lomba motif Dekranasda 2005 dan juara II lomba motif batik Disperindagkop Kebumen 2008 ini diminati konsumen kelas atas. Pemasaran batik tersebut sudah masuk ke hotel di Jakarta, Balai Graha Santika dan melalui DWP Jakarta.

Di pasaran Harga batik tulis Kebumen cukup tinggi. Misalnya sutera super batik tulis warna biasa Rp 1 juta, sutera super batik tulis berbahan alam yakni dari batok kelapa, kunyit dan daun mangga Rp 1,2 juta. Sedangkan bahan biasa kualitas nomor satu harganya mulai Rp 150.000 sampai dengan Rp 900.000. Tidak hanya itu, sejumlah tokoh juga pernah memakai batik hasil karya perajin ini. Sebut saja, Kartika Soekarno Putri, Seto Mulyadi, dokter Boyke, sejumlah menteri antara lain menteri kesehatan, menteri pertanian, menteri percepatan desa tertinggal, dan Menko Kesra pernah memakai batik hasil karya mereka.

Dengan sentuhan itu, nilai batik Kebumen tidak lagi dipandang sebelah mata dan sejajar dengan batik-batik dari daerah lain di Nusantara. "Industri batik saat ini sangat dihargai oleh negara-negara maju. Harga jual batik yang menggunakan pewarna alami juga cukup tinggi," tandas Mieke.***

Thursday, October 30, 2008

Derita Salsabil

SELINTAS kondisi kesehatan Salsabil Maitsa Zulfa (7 bulan) tampak normal layaknya balita pada umumnya. Namun siapa sangka, buah kasih pasangan Agus Widodo (28) dan Nurita (26) warga Dusun Pringamba Desa Pohkumbang Kecamatan Karanganyar Kebumen itu memiliki kelainan fisik. Bayi perempuan itu dilahirkan tanpa memiliki lubang anus.

Saat membuang air besar, bayi kelahiran 22 Maret 2008 tersebut mengeluarkan melalui alat kelaminnya. Kondisi tersebut baru diketahui oleh orang tuanya saat bayi tersebut berumur 43 hari. Ketika itu, oleh orang tuanya dia mulai diberi makan selain air susu ibu (ASI) yakni pisang yang dihaluskan. Namun saat hendak buang air besar bayi malang itu selalu selalu menangis. Sedangkan berak yang keluar kecil-kecil seperti batang lidi.

"Itu pertama kali saat saya mengetahui kalau Salsabil tidak memiliki lubang anus," ujar Nurita saat ditemui di rumah orang tuanya, Kamis (30/10).

Melihat kondisi tersebut, akhirnya dia membawa anaknya ke Rumah Sakit Palang Biru Gombong. Di rumah sakit tersebut, anaknya sempat mondok selama tiga hari. Namun dokter rumah sakit tersebut merekomendasikan untuk melakukan operasi setelah bayi tersebut berumur satu tahun.

Setelah pulang dari rumah sakit, kondisi anaknya tidak lebih baik dari sebelumnya. Saat buang air besar, anak semata wayangnya itu meringis seperti tengah menahan sakit yang sangat amat. Dalam kondisi begitu, apalagi tanpa ditungguisuaminya Nurita pun hanya bisa bersedih. Ya, suaminya yang bekerja menjadi satpam di sebuah apartemen di Jakarta hanya bisa pulang sebulan sekali.

"Kami ingin sekali anak kami dioperasi, namun biayanya sangat besar labih dari Rp 10 juta," imbuhnya mengaku prihatin melihat perkembangan anaknya yang tampak kurus yakni memiliki berat badan 5,5 kg. Padahal berat badan balita seusianya sudah ada yang mencapai 8-10 kg.

Berbagai usaha telah dilakukan, termasuk membawanya ke RSUD Kebumen. Namun hanya kecewa yang dia dapat. Pihak rumah sakit mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab, keluarganya tidak tercatat sebagai pemegang kartu Jamkesmas. Kesulitan biaya untuk operasi pun menjadi kendala bagi keluarga muda yang masih hidup menumpang di rumah orang tuanya tersebut.

"Terus terang, uang puluhan juta untuk membiayai operasi terlalu berat untuk kami tanggung," ujarnya sembari berharap ada tangan dermawan yang membantu pembiayaan operasi.

Kasus ini mendapat perhatian serius dari anggota Komisi C DPRD Kebumen M Stevani Dwi Artiningsih. Dengan berbagai cara, anggota dewan dari PDI Perjuangan tersebut membantu mengupayakan agar balita malang itu dapat dioperasi. Sehingga ke depan dia akan melanjutkan hidup sebagai orang normal. Atas rekomendasi dokter, Salsabila bisa dioperasi di Rumah Sakit Dr Sarjito Yogyakarta. Namun sebelum itu, diperlukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter ahli.

"Saat ini Bagian Kesra Setda Kebumen sudah bersedia akan membantu dana untuk menambah biaya operasi," ujar Stevani Dwi didampingi Kepala Desa Pohkumbang Sudiyono saat mengunjungi Salsabil.

Operasi yang akan dilakukan, kata Stevani akan dilakukan tiga kali. Operasi pertama dilakukan untuk membuat saluran pembuangan, kemudian operasi kedua untuk melubangi anus dan operasi ketiga dilakukan untuk mengembalikan fungsi anus seperti pada manusia normal. "Dengan sekuat tenaga kami akan membantu agar Salsabil bisa dioperasi," ujar Stevani.***

Tuesday, October 28, 2008

Konveksi Roworejo

PADA dasawarsa yang lalu, perkembangan perekonomian di Desa Roworejo Kecamatan/Kabupaten Kebumen tergolong maju pesat. Hal itu tak lepas dari suksesnya industri kecil dan rumah tangga dalam bidang konveksi di desa itu.
Sayang, riwayat kejayaan "kerajaan' konveksi Roworejo tidak sanggup bertahan lama. satu per satu mereka tumbang, sedangkan yang mampu bertahan bisa dihitung dengan jari. Antara tahun 1995-1999 hampir setiap rumah di Desa Roworejo memiliki usaha bidang konveksi khususnya produksi celana di desa itu. Ratusan produk celana berbagai model yang dipasarkan di sejumlah daerah di Indonesia merupakan hasil produksi sebanyak 120 perajin di desa itu.
Boleh dibilang, kala itu setiap warga di desa itu menjadi juragan celana. Ibaratnya, tukang ngarit pun menjadi bos setelah terjun membuat konveksi. Desa itu pun mirip perusahaan tekstil yang mampu menyerap tenaga kerja. Lihat saja, setiap unit usaha memiliki sebanyak lima hingga 30 karyawan yang berasal dari luar desa. "Wah, dulu di sini sudah mirip pusat industri tekstil. Lalu lalang di jalan dapat pasti menemui orang bawa produk celana," kenang Slamet (32) salah satu perajin di Dusun Krajan Roworejo, belum lama ini.
Ya, Slamet adalah satu dari sekitar 15 perajin yang masih bertahan berproduksi. Selebihnya, para pelaku usaha rumahan itu sudah gulung tikar. Berbagai penyebab menjadikan sebagian besar perajin di desa bangkrut. Kehabisan modal seiring dengan habisnya bahan baku dan hasil produksi, menyebabkan mereka terpaksa menghentikan produksi.
"Ibaratnya, berhenti dengan tidak meninggalkan hutang saja sudah lumayan," imbuhnya.
Menjadi hal menarik memang, dicari sebabnya. Bagaimana sentra industri kecil yang sudah sukses tiba-tiba kolaps begitu mudah. Dari penelusuran Suara Merdeka ada tiga hal utama yang menyebabkan runtuhnya "kerajaan" konveksi Roworejo. Yakni imbas dari ekonomi secara makro, imbas persaingan yang tidak sehat antar pedagang dan akibat dari kesalahan managemen keuangan tiap-tiap perajin yang berakar pada rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM).
Tiga hal itu saling terkait hingga bermuara pada sebuah kebangkrutan. Bagaimana tidak, di saat harga bahan baku mulai naik, para perajin justru menjual barang produksi sangat murah. Itu dampak antar perajin berjalan sendiri-sendiri, hingga harga dipermainkan tengkulak.
Celakanya, saat mereka menjual barang produksi dengan harga rendah, mereka imbangi dengan melakukan penurunan kualitas. Lama kelamaan para perajin pun mencapai titik nadzir yakni dengan habisnya modal usaha.
Padahal pada saat bersamaan barang produksi mereka habis. Sementara konsumen tidak lagi percaya karena rendahnya kualitas produksi. Meski berbagai usaha dilakukan untuk mempertahankan usaha, mulai dari menjual sepeda motor, menggadaikan sertivikat tanah, namun semua tidak menolong.
"Pokoknya habis-habisan lah, Mas yang penting bisa bertahan," ujar mantan juragan yang enggan disebutkan namanya.
Memang, sejumlah warga yang pada masa jayanya menjadi bos kini banyak yang kembali menjadi petani. Adapula yang merantau ke luar kota, bahkan adapula yang memilih menjadi TKI di luar negeri. Pada prinsipnya, mereka bekerja untuk bisa bertahan menghidupi keluarga dan ada yang untuk melunasi hutang.
Adapula yang bercita-cita mengumpulkan modal untuk mendirikan kembali usaha yang pernah mereka lakoni. Tentu tidak mudah karena masih terbalut trauma yang menjadikan psimis. Selain persaingan yang tidak sehat antar perajin, kata mantan perajin itu, penyebab yang tidak kalah berpengaruh besar pada keruntuhan usaha adalah, kesalahan menagemen pribadi.
Diakuinya, saat usahanya sedang berada di puncak, menjadikan ia lupa diri. Ketidaksiapan dengan uang banyak juga menjadikan dia euforia sebagai orang kaya baru. Itu memengaruhi gaya hidup, mulai dari hal yang kecil mulai dari menu makanan hingga berfoya-foya.
"Kalau mengingat-ingat dulu ya, menyesal juga," katanya mengaku ingin berusaha kembali mendirikan usaha yang pernah dirintisnya.
Sementara bagi para pelaku yang masih bertahan, pengalaman pahit masa lalu itu menjadi bahan pembelajaran yang cukup berharga. Setidaknya, bagaimana itu tidak terulang lagi pada para pelaku usaha yang saat ini masih bertahan. Dari pengalaman itulah, kini mereka mencoba mengembang usaha agar lebih besar.
Salah satu perajin yang saat ini cukub berhasil adalah Asir (35). Bermula dari bekerja di salah satu unit usaha di desa itu, 12 tahun lalu ia kemudian mendirikan usaha sendiri. Berkat kerja keras dan hati-hati dalam pengelolaan dan melakukan perhitungan bisnis, usahanya kini maju pesat. Dengan sebanyak 30 karyawan, dalam sehari Zizis Colection miliknya bisa memproduksi sebanyak 10 kodi/hari. Produk-produk celana itu dipasarkan di sejumlah wilayah di Jawa Barat, dan lokal Jawa Tengah seperti Purwokerto, Cilacap dan Banyumas.
"Kalau kapasitasnya 10 liter ya, harus diisi 10 liter, jangan sampai serakah karena bisa rugi sendiri," katanya selalu mengukur diri setiap akan melakukan langkah mengembangkan usahanya.
Diaku memang, banyak kendala, namun ia menyikapi dengan proporsional. Diantaranya, saat ini belum terbentuk semacam pegayuban di antara perajin. Namun meski masih berjalan sendiri-sendiri, persaingan masih sehat tidak seperi yang terdahulu.
Hal itu karena SDM perajin yang masih bertahan cukup baik, sehingga peritungan bisnis cukup rasional, tidak dengan emosi. Memang dulu, di Roworejo sudah pernah terbentuk paguyuban bahkan sudah ada kopersi. Namun lembaga ekonomi desa itu belum menunjukan kapasitas SDM yang memadai.
Paguyuban perajin konveksi yang tidak berjalan sama sekali. Kepala Disperindagkop Dirman Supardi SH mengkakui industri kecil di Roworejo dulu cukup baik. Namun saat ini mengalami keterpurukan. Pihaknya akan melakukan invetarisir penyebab keterpurukan industri kecil di desa itu.***

Sunday, October 19, 2008

Negeri Koruptor

Beberapa waktu yang lalu percakapan antara jaksa Urip dan Artalyta (Ayin) dalam kasus BLBI jadi pusat perhatian, bahkan sampai dijadikan ring-tone (nada panggil ) HP

Kasus serupa terjadi di Kabupaten Boalemo, Propinsi Gorontalo. Rekaman percakapan antara jaksa kejaksaan negeri setempat dengan staf pemerintahan kabupaten juga menghebohkan dan dijadikan ring-tone.

Bedanya, percakapan Urip dan Ayin banyak memakai kata sandi, sedangkan percakapan di Boalemo malah sangat vulgar dan jelas.

Dari suaranya, diduga yang berbicara adalah Kepala Kejaksaan Negeri Boalemo, Tilamuta Ratmadi Saptono SH.

dalam Percakapan berdurasi 34 menit itu disebut2 soal janji menyerahkan uang...

Salah satu cuplikan rekaman percakapan telpon itu:
"... paling kasih 15 juta. proyek dia miliaran, Handoyo kalau ngasih dibawah 50 juta, saya ndak akan terima. kasih tahu dia.... kalau dia ngasih 20 juta, nggak usah temui saya. Saya tangkap dia nanti..."

Rekaman itu mulai beredar di masyarakat sepekan lalu dan kini kian banyak warga yang mencarinya.

Justru setelah menyebar, yang sudah punya rekaman malah berhati-hati. Mereka tidak serta merta mengizinkan orang lain merekamnya.
"dengar saja dulu, jangan dulu rekam. Soalnya jangan sampai orang terbawa-bawa lagi", kata warga yang memiliki rekaman ketika ditemui Gorontalo Post.

Mencuatnya peredaran rekaman percakapan itu memunculkan tanggapan warga. Menurut warga, rekaman itu menguatkan indikasi adanya permainan dalam upaya penegakan hukum.
Kata warga: "Ini terbukti bahwa kasus korupsi yang seharusnya diusut tuntas, malah didiamkan karena diberi upeti".

Kalau menurut saya:
Itu benar, malah yang lebih menakutkan adalah kemungkinan yang lain, yakni bahwa orang harus melakukan korupsi agar bisa memberi upeti.
Jika tidak bisa memberi upeti akan ditangkap.
Artinya JIKA TIDAK KORUPSI, MAKA AKAN DITANGKAP.

dari rekaman pembicaraan antara Kepala kejaksaan negeri Boalemo dengan staf pemerintahan kabupaten setempat. yang dibicarakan adalah suplier/ rekanan/ pemborong yang mengerjakan sebuah proyek di kabupaten tersebut.

Sudah menjadi rahasia umum saat ini bahwa dalam proyek pemerintahan kabupaten/kota sampai propinsi dan seterusnya, bahwa pimpinan proyek atau kepala dinas atau instansi pemerintah yang bersangkutan harus setor upeti pada aparat hukum. Jika tidak, maka akan dicari-cari kesalahannya agar bisa diperas. Makanya pak.. kalau mau selamat korupsi aja proyek pembangunan yang ada.
Sebab jika anda tidak korupsi atau minta fee pada suplier/ rekanan/ pemborong yang melaksanakan proyek ditempat anda... anda gak bisa kasih setoran.
Jika anda bekerja bersih sudah sesuai aturan, tidak korupsi, tidak menerima fee.. wah bisa fatal... karena pasti dicari-cari kesalahan anda

Itu masih untung, kadang bahkan sudah diperas masih dijadikan "obyek jalur prestasi". Artinya sudah diperas sampai kering, masih harus dijadikan target harus dihukum karena untuk dapat penilaian berprestasi, sehingga dapat naik pangkat.. naik jabatan dan sebagainya.

Selain itu, obyek pemerasan yang lain adalah suplier/ rekanan/ pemborong yang mengerjakan proyek. Karena dianggap untung, maka harus menyisihkan keuntungan sebagai upeti. Jika tidak setor upeti... wah jangan coba-coba deh...

kadang bahkan mintanya berlebihan, seperti dalam rekaman tadi. Mungkin saja
si pemborong setelah mengerjakan proyek sekian bulan untung kotor tidak sampai 100 juta.. dipotong operasional, gaji karyawan dan sebagainya mungkin bersih untung 75 juta, maka dia menawar bagaimana kalau kepala kejaksaan negeri itu diberi upeti 20an juta...
hehehe ya jelas marah... keinginan penguasa yang punya wewenang tanpa batas untuk menyengsarakan manusia kok ditawar...
kalau mau selamat korupsi aja bos....

Coba bayangkan saja... pernah ada berita menarik... dimana pemborong mengerjakan pembuatan meja, dengan spesifikasi panjang lebar harus 50cm x 100cm. karena panjang mejanya hanya kurang 1 milimeter!!! maka ya harus terima nasib dijadikan bulan-bulanan dengan tuduhan korupsi. Meskipun lebar meja melebihi ketentuan yakni lebih 1cm...
Makanya kadang saya bingung dengan berita bahwa aparat ini berhasil membongkar korupsi... setelah saya baca lengkap ternyata.... ........
Yang lain lagi... saya baca.. dituduh korupsi karena administrasi kurang baik...
dan sebagainya.. .

Makanya daripada kerja dengan benar dan jujur... tapi anda tidak bisa kasih upeti...
Karena tidak bisa kasih upeti... anda bisa dihukum...
Lebih baik anda korupsi aja deh.. karena dengan itu anda bisa beri upeti...
kemungkinan selamat ada...
kemungkinan tidak selamat juga ada.... hehehehe

Karena sekarang memang zamannya...
Dimana Korupsi terbesar adalah ada pada para aparat penegak hukum....

Maka bisa dibaca berita di media massa...
dimana anggaran belanja pembangunan dibanyak daerah hanya terserap kurang dari 20%, artinya dari dana yang ada untuk pembangunan yang terpakai hanya kurang dari 20%. sisanya dianggarkan lagi tahun depannya...
karena semua takut...
Kalau anggaran belanja rutin ya terserap semua... karena untuk gaji pegawai negeri dan sebagainya.. . kalau tidak... pegawai negeri tidak gajian..hehehe

Jadinya saya ini kadang kadang mikir...
Ingat semboyan iklan tentang pajak di TV...
Bayar pajaknya... awasi penggunaannya. ..
Apa kata dunia....

Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara (APBN) ini kan sebagian besar berasal dari pajak.
Ternyata ... kita semua ini yang taat bayar pajak (pajak bumi bangunan, pajak kendaraan bermotor,... makan direstoran harganya sudah termasuk ada pajaknya, beli kebutuhan ditoko/minimarket harganya sudah termasuk pajaknya.. dan sebagainya)
Semua itu ternyata sebagian besar adalah untuk membayari para pegawai negeri termasuk juga aparat hukum....
Tapi orang-orang yang kita gaji dari pajak kita itu tidak melayani kita...
jika tidak setor uang... urusan dipersulit.. . (malah di Indonesia ini, jangankan menuntut hak... melaksanakan kewajiban saja dipersulit.. . mau contoh konkret, mau bayar pajak kendaraan bermotor saja, jika ingin cepat ya pakai jasa calo. Lihat dikantor pajak.. betapa orang melaksanakan kewajiban perpajakan harus antri panjang...d ansebagainya)
Aparat hukum yang kita gaji dari pajak kita... jika tidak kasih upeti... wah rawan bencana....

Sumber:
Harian Gorontalo Post, Sabtu 11 Oktober 2008

Saturday, October 18, 2008

Peristiwa Kanonade (3-habis)

SERANGAN Belanda ke Desa Candi Kecamatan Karanganyar, Kebumen pada 19 Oktober 1947 sudah menjadi sejarah. Perisitiwa yang dikenal dengan sebutan Kanonade atau Kanon Candi yang menelan korban 786 rakyat tak berdosa itu menegaskan bahwa betapa kemerdekaan bangsa ini ditebus dengan darah dan air mata leluhur kita.

Banyak korban berguguran baik dari para pejuang kemerdekaan maupun rakyat jelata. Setengah abad lebih berlalu dari peristiwa itu. Para selaku sejarah sudah banyak yang meninggal. Tinggal beberapa orang saja yang masih hidup. Itu pun sudah berusia lanjut. Kalau tidak generasi sekarang, siapa lagi yang menghargai pengorbanan mereka. Ironisnya, tidak banyak generasi sekarang yang tahu sejarah perjuangan itu.

Ya, dalam pelajaran sejarah di sekolah, perjuangan rakyat Kebumen melawan penjajah memang tidak begitu dikenal. Padahal perlawanan mereka begitu heroik.
Para guru tampaknya perlu menyisipkan perjuangan lokal para pejuang untuk menumbuhkan rasa nasionalisme. Bahwa orang tua mereka juga ikut memperjuangkan negeri ini.

"Hanya ada mahasiswa yang melakukan penelitian tentang sejarah penyerangan Belanda ke Desa Candi termasuk Desa Plarangan," ujar Tugiyo Hadi Subroto (78) veteran yang juga mantan Kepala Desa Candi periode 1965-1989.

Untuk mengenang korban peristiwa Kanon Candi pada tahun 1950 di kawasan pasar Candi didirikan sebuah monumen Kanonade. Minumen pertama yang dibuat oleh Tentara Pelajar (TP) itu kemudian diperbarui tahun 1985. Adapun monumen yang asli dipindahkan di balai Desa Candi. Namun tanpa pengetahuan, monumen saja tidak cukup untuk menumbuhkan rasa nasionalisme generasi muda.

"Di monumen itu dulu sering digunakan untuk malam renungan oleh Sekolah Calon Tamtama (Secata) Gombong," katanya.

Pria yang pernah bertugas di Front Semarang itu menceritakan penyerangan Belanda ke Desa Candi bisa dikatakan penyerangan yang cukup besar di Jawa Tengah pada masa Kles I. Karena di daerah lain, meski ada serangan namun jumlah korban tidak seban
yak seperti di Desa Candi yang mencapai hampir 1000 orang.

Veteran yang usai masa perang bergabung sebagai anggota TNI dan bertugas di Dinas Teknik Tentara (DTT) Semarang sampai 1965 itu menceritakan bagaimana perjuangan rakyat Kebumen melawan Belanda. Pada Kles I Gombong diduduki Belanda. Belanda juga melebarkan kekuasaanya dan tentu saja para pejuang melakukan perkawanan.

Untuk membendung Serangan Belanda pejuang membentuk pertahanan di Kemit. Di Sektor Kemit pertahanan dibagi menjadi tiga yakni di bagian selatan bermarkas di Puring yakni di Desa Sidobunder. Di bagian tengah pertahanan di Karanganyar yang diabadikan dengan Monumen Kemit. Sedangkan di wilayah utara berada Karanggayam.

Guna memperingati terjadinya pertempuran sengit antara Tentara Pelajar (TP) saat terjadinya Kles II di Desa Sidobunder terdapat monumen perjuangan. Sekitar 23 TP yang gugur di desa tersebut dan juga dari masyarakat sekitar. Banyaknya korban jatuh karena kebanyakan tentara pelajar tersebut kurang memahami peta wilayah.

"Desa Sidobunder merupakan basis pertahanan dari serangan musuh Belanda yang bermarkas di Gombong," katanya.

Dalam literatur diterangkan, pada 19 Agustus 1947 pasukan Belanda masuk ke Karanggayam melalui Randakeli. Terjadi kontak senjata antara Belanda dengan pasukan yang dipimpin Letnan Yatiman. Pada pertempuran ini Belanda kecele karena akhirnya saling tembak antara pasukan Belanda yang datang lebih awal dengan yang datang belakangan. Mereka mengira di tengah mereka masih ada pasukan Letnan Yatiman.

Dalam peristiwa itu dari pihak tentara Indonesia terdapat 23 orang yang gugur. Di antara 23 pasukan yang gugur ada seorang yang berasal dari Jepang, yang bernama Usman/kuper. Pertempuran di Karanggayam itu diabadikan dengan Monumen Purangga.

Karena terus terjadi gencatan senjata di Karanggayam, Wonoharjo, Kenteng, Sidobunder, dan Kemit, lalu diadakan gencatan senjata yang kemudian menimbulkan sebuah garis perbatasan kekuasaan yang dinamakan Status Quo.

Pada tanggal 19 Desember 1948 dimulai pukul 05.00 pagi, hari minggu Belanda kembali melakukan gencatan senjata. TNI mengetahui rencana penyerangan Belanda dari intel-intel TNI yang ada di daerah pendudukan khususnya gombong. Ternyata Belanda akan menyerang melalui timur menuju Yogyakarta. TNI yang semula berpusat di Yogyakarta menjadi terpecah. Adapun sistem perang yang digunakan adalah sistem perang gerilya yang diinstruksikan oleh Jenderal Sudirman.

"Saat Belanda akan lewat, kami melubangi jalan-jalan dengan alat tradisional. Tapi tenyata Belanda dengan mudah meratakan kembali dengan alat berat," kenangnya.

Secara logika, kata dia, sulit melawan Belanda. Dimana rentara RI hanya menggunakan senapan bekas Jepang, dan senjata seadanya. Sedangkan Belanda lengkap dengan panser yang dilengkapi senjata Kanon. Namun pada waktu itu muncul kepercayaan bahwa perjuangan Rakyat dibantu oleh ratu laut selatan.

"Makanya kami mengggunakan janur kuning untuk membedakan tentara Indonesia dengan Belanda," tuturnya.

Pada bagian lain, bagi pejuang di Gombong, kenangan yang indah adalah ketika terjadi serangan Jum’at Kliwon bulan Februari 1949. TNI melawan Belanda di daerah Kebumen dari perang yang kecil sampai perang yang besar. Pihak TNI berhasil merampas senjata Belanda.

"Pada akhir Desember 1949 Belanda meninggalkan Kebumen. Pasukan belanda yang ada di Gombong melakukan serah terima wilayah dengan TNI di simpang tiga antara Jalan Yos Sudarso dengan Jalan Sempor Lama," kata veteran yang tak pernah memperoleh uang pensiun ini.***

Peristiwa Kanonade (2)

SENJATA kanon merupakan ukuran di atas senapan mesin. Pada perang dunia (PD) II sejumlah negara sudah menggunakan senjata jenis ini. Jerman yang mendobrak menggunakan kanon untuk mempersenjatai Me-109-nya (Rheimental dan Mauser kal 20 dan 30 mm). Negara lain yang menggunakan kanon dalam PD adalah Inggris(Hispano Suiza 20mm), Rusia (VYa kal 23mm dan ShVAK 20mm) dan Jepang dalam (kal 20mm) PD II.

Dampak ledakan peluru ini membawa dampak luar bisa. Luka akibat terkena serpihan peluru kanon itu, Medi yang kini bapak tujuh anak dan kakek 24 cucu tersebut baru bisa sembuh setelah setahun diobatkan di Yogyakarta. Hingga saat ini bekas luka itu masih terlihat, berwar
na hitam seperti bekas terbakar.

"Meski luka tapi saya masih bersyukur tidak mati karena peluru itu," ujar Medi sembari menunjukkan bekas luka di tangannya.

Baniyah (78) saksi lain yang masih hidup menceritakan, saat serangan Belanda ke Desa Candi, benar-benar menakutkan. Banyak orang mati di sembarang tempat. Ada pula yang baru ketemu sampai beberapa hari sebelumnya. "Bahkan setelah seminggu ada yang baru dimakamkan," kata ibu empat anak dengan 15 cucu tersebut.

Dia menuturkan, saat peristiwa itu terjadi, dia baru lulus Sekolah Rakyat (SR). Seperti penduduk yang lain, dia pun ikut bersembunyi. Bahkan yang sulit dilupakan adalah dia melihat salah satu tetangganya Mijan meninggal akibat terkena serpihan kanon. Oleh ibunya bernama Romiyah, mijan didekap sudah dalam keadaan meninggal dunia.

"Kalau ingat saat itu, saya bersyukur bisa menikmati jaman kemerdekaan yang tidak dibayang-bayangi rasa ketakutan," katanya seraya memperlihatkan bekas luka di kakinya yang terkena serpihan peluru kanon.

Ya, Medi dan Baniyah adalah dua orang saksi peristiwa yang masih hidup. Sepuluh tahun lalu masih banyak saksi mata yang masih hidup. Termasuk warga yang dalam kondisi tidak sempurna karena di tubuhnya terdapat bekas luka akibat terkena serpihan puluru kanon. Namun saat ini sebagian besar generasi 1945 sudah banyak yang meninggal, sehingga semakin sulit untuk melengkapi kisah terjadinya peristiwa yang dikenal sebagai Kanonade atau Kanoncandi.

Tanpa Penghuni

Kejelasan peristiwa ini baru terungkap saat Suara Merdeka menemui seorang mantan kepala Desa Candi yang menjadi saksi hidup peristiwa Kanon Candi. Tugiyo Hadi Subroto (78) adalah seorang veteran TNI yang pada masa perang kemerdekaan pernah bergabung dengan Tentara Republik Indonesia (TRI). Pertama kali dia bergabung ke TRI ditempatkan di Batalyon 28 Gentan Kentungan Yogyakarta.

Tidak lama kemudian dia ditugaskan di front Gombong. Namun saat ditarik kembali untuk bertugas yang lain dia memilih tetap bertahan untuk membela tanah leluhurnya. Tugiyo muda pun memilih keluar dari TRI dan bergabung ke Polisi Tentara (PT) dan berjuangan laskar ormas-ormas seperti AOI, Hisbullah, dan BPRI.

Saat itulah dia menyaksikan desa leluhurnya rata dengan tanah. Serangan peluru kanon oleh Belanda, kata Suwito terjadi dalam tiga tahap. Tahap pertama terjadi pukul 07.00. Lima menit kemudian serangan kedua sampai pukul 11.00. Jeda beberapa saat serangan ketiga berakhir pukul 13.00.

Mengapa Desa Candi yang diserang? Sebab desa candi pada waktu itu menjadi markas TRI, dapur umum, dan gudang logistik. Tentara bersatu dengan masyarakat melakukan perlawanan. Sebab saat itu, Belanda sudah menguasai Gombong. Sementara daerah pertahanan Indonesia berada di Kemit.

Sekitar pukul 06.30 pesawat capung pengintai berputar-putar di atas Desa Candi untuk memberi sinyal. Sebelumnya sekitar pukul 06.00 juga terdengar letusan senjata di selatan yakni di Puring. Pada sore hari Belanda menyerang Pertahanan. Akibat serangan itu, banyak tentara yang menjadi korban. Korban paling banyak dialami Tentara Pelajar (TP).

"Mereka masih emosional, dan masih belum tahu betul strategi berperang," tutur bapak enam putra dan kakek 13 cucu tersebut.

Sementara itu, akibat desa hancur, pada malam hari warga mengungsi di sebuah goa yang terletak di sebelah utara desa terpisah dari perkampungan. Trauma akan kejadian itu, warga takut kembali ke desa dan lebih memilih mengungsi di daerah gunung di Desa Giripurno. Selama rentang waktu setahun Desa Candi nyaris tanpa penghuni karena ditinggal warganya mengungsi.

"Senin pagi, Belanda melakukan operasi tanpa perlawanan. Sebab desa Sudah dikosongkan," imbuh suami dari Sri Wahyuni (42) tersebut.

Dia menyebutkan, selain warga Desa Candi, banyak korban berasal dari luar Candi. Sebab, orang-orang yang berada di Pasar Candi sebagian orang luar. Jasad korban sebagian tidak ditemuka karena hanyut di sungai Karanganyar. Namun yang ditemukan dikuburkan di pemakaman Sigedong.***

Thursday, October 16, 2008

Peristiwa Kanonade (1)

DESA Candi Kecamatan Karanganyar Kabupaten Kebumen menjadi saksi kekejaman pemerintah kolonial Belanda pada perang kemerdekaan RI.Pada masa agresi militer Belanda I atau yang dikenal dengan Kles I, Belanda membumihanguskan Desa Candi dengan menggunakan senjata kanon persis pada tanggal 19 Oktober 1947.

Berikut laporan tentang peristiwa yang dikenal sebagai Kanonade atau Kanon Candi yang telah terjadi 61 tahun silam.

MINGGU wage pagi, 19 Oktober 1947 berjalan seperti biasa. Sejak pagi buta pasar Desa Candi cukup ramai dipadati warga. Maklum, kondisi yang tidak memungkinkan akibat perang, Pasar Karanganyar dipindah untuk sementara ke pasar Candi. Di tengah hiruk pikuk tawar menawar di pasar tersebut, tepat pukul 07.00 sebuah desingan peluru terdengar mengalihkan perhatian.

Sedetik kemudian pasar yang penuh orang itu porak poranda akibat terjangan peluru kanon yang muntahkan dari tangsi Belanda di Gombong, sekitar tujuh kilometer dari Desa Candi. Orang-orang pun panik, berlarian untuk menyelamatkan diri. Namun tidak sendikit yang tewas terkena peluru atau serpihan peluru yang konon hanya dengan beberapa butir puluru bisa membelah sebuah pesawat.
Tidak diketahui kanon jenis apa yang dipakai pada saat itu. Namun yang jelas akibat serangan mulai dari pukul 07.00 hingga pukul 13.00 itu dimuntahkan sekitar 600 peluru dan membuat ratusan rumah rusak dan menelan korban 786 rakyat. Anak-anak menjadi yatim dan orang tua kehilangan anak-anaknya.

Medi alias Ahmad Suwito(86)adalah salah satu warga menjadi saksi hidup, bagaimana kedahsyatan serangan Belanda saat itu. Saat serangan kanon pertama Medi yang saat itu berusia 25 tahun tengah berada di gunung. Sebelumnya dia mendengar suara pesawat capung yang berputar-putar. Tidak lama kemudian dia mendengar suara ledakan dahsyat yang terdengar berasal dari arah desa.

Setelah suara ledakan mereda, sekitar pukul 09.00 dia turun pulang untuk mengungsikan ternak kambing ke gunung. Setelah berhasil membawa ternaknya, dia pun pulang kembali untuk mengambil keris pusaka. Namun sebelum dia berhasil membawa kerisnya, sekitar pukul 10.00 tiba-tiba bunyi ledakan kembali terjadi. Dia pun berlindung dengan cara tiarap. Naas tangan kanannya terkena serpihan dari ledakan peluru kanon.

"Akibatnya tangan saya terus mengeluarkan darah," ujar Medi saat menceritakan kejadian itu, kemarin.

Luka akibat terkena serpihan peluru kanon itu, kata bapak tujuh anak dan 24 cucu tersebut baru bisa sembuh setelah setahun diobatkan di Yogyakarta. Hingga saat ini bekas luka itu masih terlihat, berwarna hitam seperti bekas terbakar.

"Meski luka tapi saya masih bersyukur tidak mati karena peluru itu," ujarnya sembari menunjukkan bekas luka di tangannya.

Baniyah (78) saksi lain yang masih hidup menceritakan, saat serangan Belada ke Desa Candi, benar-benar menakutkan. Banyak orang mati di sembarang tempat. Ada pula yang baru ketemu sampai beberapa hari sebelumnya. "Bahkan setelah seminggu ada yang baru dimakamkan," kata ibu empat anak dengan 15 cucu tersebut.

Dia menuturkan, saat peristiwa itu terjadi, dia baru lulus Sekolah Rakyat (SR). Seperti penduduk yang lain, dia pun ikut bersembunyi. Bahkan yang sulit dilupakan adalah dia melihat salah satu tetangganya Mijan meninggal akibat terkena serpihan kanon. Oleh ibunya bernama Romiyah, mijan didekap sudah dalam keadaan meninggal dunia.

"Kalau ingat saat itu, saya bersyukur bisa menikmati jaman kemerdekaan yang tidak dibayang-bayangi rasa ketakutan," katanya seraya memperlihatkan bekas luka di kakinya yang terkena serpihan peluru kanon.

Ya, Medi dan Baniyah adalah dua orang saksi peristiwa yang masih hidup. Sepuluh tahun lalu masih banyak saksi mata yang masih hidup. Termasuk warga yang dalam kondisi tidak sempurna karena di tubuhnya terdapat bekas luka akibat terkena serpihan puluru kanon. Namun saat ini sebagian besar generasi 1945 sudah banyak yang meninggal, sehingga semakin sulit untuk melengkapi kisah terjadinya peristiwa yang dikenal sebagai Kanonade atau Kanoncandi.

"Anak-anak sekarang sudah tidak tahu jika dulunya Desa Candi menjadi markas para pejuang kemerdekaan," imbuh Baniyah.

Senjata kanon merupakan ukuran di atas senapan mesin. Pada perang dunia (PD) II Jerman yang mendobrak menggunakan kanon untuk mempersenjatai Me-109-nya (Rheimental dan Mauser kal 20 dan 30 mm). Negara yang menggunakan kanon dalam PD adalah Inggris(Hispano Suiza 20mm), Rusia (VYa kal 23mm dan ShVAK 20mm) dan Jepang dalam (kal 20mm) PD II.(bersambung)

Wednesday, October 15, 2008

Sate Ambal

MENGAKU pernah singgah di Kabupaten Kebumen, namun belum pernah merasakan lezatnya sate khas Ambal, boleh jadi pengakuan itu diragukan. Sebab belum sempurna rasanya ke Kebumen jika belum menikmati sajian makanan khas yang sudah ada turun temurun ini.

Memang, dari bahan yang digunakan, sate khas Ambal tidak jauh berbeda dengan sate kebanyakan. Dulu seluruhnya menggunakan ayam kampung, namun kini ada juga yang memberikan pilihan manggunakan bahan ayam pedaging.

Perbedaan mencolok pada sate ini adalah pada bumbunya yang dibuat cukup spesial. Bumbu sate Ambal tidak menggunakan bahan kecap sama sekali. Bumbunya juga dicampur dengan tempe yang sudah dihaluskan. Sebelumnya tempe itu direbus terlebih dahulu. "Sate ambal rasanya juga manis, karena bumbunya menggunakan campuran gula jawa," ujar Rohiyati (26) salah satu pemilik warung sate di Desa Ambalresmi, Kecamatan Ambal, kebumen, kemarin.

Memang, puluhan warung sate khas Ambal mudah ditemui di sepanjang Jalan Deandels Ambal. Mulai dari yang cukup besar sampai dengan warung sederhana ada di sana yang rata-rata penduduk desa setempat. Banyak pilihan sehingga tergantung selera. Namun, rasa utama yang ditawarkan tidak jauh berbeda, yakni rasa sate dengan limpahan bumbu khasnya.

Di sejumlah warung banyak diparkir mobil-mobil bernomor polisi luar daerah seperti Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Para pengendara dari Yogyakarta-Jakarta atau sebaliknya yang memilih jalur selatan yang sepi menyempatkan berhenti untuk sekadar melepas lelah. Dengan didukung dengan sikap khas masyarakat pedesaan yang ramah, menjadikan pengujung bertambah betah.

Warung-warung sate itu juga tidak hanya menyediakan sate ayam, namun juga sate dan gulai kambing. Berbagai minuman hangat maupun dingin pun ditawarkan lengkap dengan banyak variasi. Tak ketinggalan, sejumlah makanan pendukung seperti kripik tempe, peyek, gorengan maupun makanan emping mlinjo menjadi pelengkap kenikmatan menyantap sate yang bisa dimakan denngan nasi atau lontong.

"Kalau mau mebawa oleh-oleh emping mlinjo juga banyak yang menyediakan," katanya.
Sementara itu, bagi yang porsi makannya tidak banyak, yang barangkali penting diingat untuk tidak memesan sate satu porsi untuk satu orang. Sebab satu porsi sate Ambal biasanya berisi antara 20 hingga 25 tusuk. Tentu saja, bagi yang porsi makannya sedikit tidak sanggup menghabiskan.
Jangan khawatir, bermasalah dengan harga. Warung sate di Ambal sudah melengkapi daftar menu termasuk daftar harga tiap-tiap item. Jadi tak perlu khawatir jika terlalu kemahalan.

Dapat dijadikan contoh, di warung Rohiyati ini untuk sate Ayam bisa (10 tusuk) Rp 5.000. Sedangkan untuk sate ayam kampung (10 tusuk) Rp 7.000. Sedangkan sate kambing satu porsi Rp 9.000 dan gulai kambing Rp 5.000.

"Saya memang memberi pilihan kepada pengujung dengan 10 tusuk. Sebab banyak yang menganggap satu porsi 10-20 tusuk terlalu banyak," ujar pedagang yang mendapatkan resep bumbu-bumbu secara turun temurun itu. Mau mencoba?***

Gula Kelapa

NGATINI (23) terus mengaduk-aduk air sadapan kelapa yang sedang direbus di tungku dapur rumahnya, di Desa Patukrejo Kecamatan Bonorowo, Kebumen, kemarin. Sesekali ia menghidupkan kembali api yang hampir mati dengan menambahkan kayu bakar lagi.

Ngatini adalah salah satu dari sekitar seratus warga Patukrejo yang bertahan menjadi perajin gula jawa. Selain berprofesi menjadi petani sebagian warga desa ini merupakan seorang pembuat gula jawa.

Setiap pagi laki-laki naik dari satu pohon kelapa ke pohon lainnya untuk menderes airnnya. Setelah terkumpul banyak baru kemudian tugas beralih kepada para perempuan. Mereka giliran memasak air kalapa tersebut hingga mengental sebelum mencetaknya dengan batok kelapa yang dibelah dua.
“Untuk membuat sekilo gula jawa diperlukan nderes enam pohon kelapa,” ungkap Ngatini, kemarin.

Dari merebus sampai mencetak, ia hanya memerlukan waktu sekitar tiga jam lamanya. Setiap pagi dan sore ia bisa membuat 34 biji atau sekitar 5kg gula jawa yang siap dipasarkan. Setiap tiga hari sekali, gula-gula yang sudah dicetak tersebut kemudian disetorkan kepada tengkulak seharga Rp 5.000/kg.

“Sekarang harga gula jawa sedang tinggi. Tapi paling tinggi pada waktu bulan puasa lalu yang mencapai Rp 6.000 dari perajin,” tambahnya.

Dia bersyukur desanya dianugerahi pohon kelapa. Dengan demikian setiap hari warga bisa memanfaatkan airnya untuk dijadikan gula jawa yang bisa menyambung kehidupan keluarga mereka.

“Kita mau membuat gula jawa seberapa banyaknya pasti akan laku. Karena gula jawa banyak dibutuhkan masyarakat,” katanya mengaku enggan memasarkan sendiri produksinya karena keterbatasan waktu.

Hingga saat ini, sebagian besar masyarakat di desa Patukrejo mengandalkan penghasilan dari membuat gula kelapa. Subur, warga Patukrejo lainnya, mengaku bahwa menjadi perajin gula jawa masih menguntungkan. Subur yang mempunyai 10 pohon kelapa ditambah 10 pohon milik mertuanya setiap hari mampu membuat sebanyak 8 kg gula jawa.

“Pokoknya setiap hari pasti nderes kelapa, meski hujan atau tidak. Karena hasil dari itu dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga,” katanya harga gula jawa di tingkat eceran sekitar Rp 6.000. Sebelumnya, sejumlah perajin gula jawa mengaku masih kesulitan mencari kayu bakar.
Karena untuk memasak deresan kelapa hingga menjadi gula diperlukan banyak kayu bakar. “Semakin susah mencari kayu di ladang, padahal untuk membeli, sangat berat,” keluh Ngatini.

Apalagi menggunakan kompor, tambah dia, harga minyak tanah yang tinggi tidak sepadan digunakan untuk mengolah gula jawa. Selain itu jika menggunakan kompor waktu masak juga akan semakin lama. “Mungkin ada cara yang cepat dan murah untuk membuat gula jawa. Tapi sampai saat ini kami masih bertahan memakai cara tradisional seperti ini,” katanya.***

Tekad Ponimin

"DARIPADA menjadi anak buah di kapal pesiar lebih baik menjadi nahkoda di biduk sendiri." Itulah barangkali ungkapan yang pas untuk mewakili tekad kuat Ponimin (53) untuk mandiri.

Bekerja di pabrik pembuatan eternit di Malang Jawa Timur sejak 1973, dua tahun lalu warga Desa Jatiluhur, Karanganyar Kebumen itu akhirnya memilih keluar. Ia membuat dan memasarkan sendiri bahan bangunan dari campuran kalsit, semen dan cacahan kain tersebut.

"Penghasilan lumayan lebih banyak. Namun yang paling berharga bagi saya adalah kebebasan yang saya miliki," ujar Ponimin di sela-sela menyelesaikan eternit yang sudah dipesan pelanggannya, kemarin.

Ada perbedaan cukup mencolok apa yang ia rasakan ketika menjadi buruh dan saat melakoni usaha di belakang rumahnya RT 3 RW 4 di Kampung Jerukgulung itu. Kapan mengawali kerja, istirahat, maupun waktu mengakhirinya dapat ia tentukan sendiri.

Pria yang lebih populer disapa Cuik itu tak perlu tegang dalam bekerja. Tidak ada mandor yang menegur, karena kini ia memandori dirinya sendiri. Meskipun demikian ia mengaku bertambah semangat, mengingat semua yang ia kerjakan bagi dirinya sendiri.

Bekerja dari pukul 08.00 hingga 14.00, rata-rata ia bisa membuat sebanyak 60 lembar eternit. Maklum tenaganya saat ini tidak seperti waktu masih muda ketika menjadi pekerja dulu. waktu itu ia bisa membuat sampai 100 eternit tiap harinya.

Selain di Malang, bapak empat anak itu sudah malang melintang di sejumlah pabrik pembuat eternit. Terakhir ia bekerja di pembuatan eternit milik pengusaha keturunan Tionghoa di Kebumen. Karena merasa umurnya sudah lanjut dan tanaga yang dimilikinya tidak banyak menghasilkan ia mulai ingin berhenti menjadi kuli.

Pada akhirnya, dengan segenap keberanian yang dimilikinya, Cuik lalu meminta ijin pada majikannya untuk berhenti. Dengan keahlian dan pengalaman menjadi pembuat eternit selama puluhan tahun, ia juga menyampaikan niatnya untuk membuat usaha pembuatan eternit sendiri.

Tidak dinyana, niatan itu malah mendapat dukungan dari majikannya, termasuk dijanjikan bantuan pemasarannya. Untuk kali pertama, eternit yang dibuat dibeli bekas majikannya itu. Dengan kualitas eternit yang ia produksi, pada akhirnya ia mulai dikenal masyarakat sekitar Desa Jatiluhur. Hingga kini para pemilik toko besi di Karanganyar hampir menjadi pelanggannya.

"Sebenarnya lumayan jika dikembangkan. Sayang belum punya modal dan keberanian yang cukup untuk mengambangkan usaha," imbuhnya.

Semua pekerjaan masih dilakukan secara tradisional. Mulai dari membuat adonan, menaruhnya di cetakan, meratakan, hingga mengepres sampai mengeringkan ia tangani sendiri. Karena tidak mempunyai alat press, Ponimin membuat alternatif dengan membuat silinder beton yang dibuat dari drum yang diisi adonan cor.

"Karayawan hanya membantu pasa banyak pesanan saja," katanya menyebutkan dirinya belum bisa menggaji untuk sampai bisa dipasang sebuah eternit membutuhkan waktu empat hari.
Satu lembar eternit berukuran satu kali setengah meter dijual secara eceran Rp 1.800/lembar. Sedangkan untuk toko bangunan harga lebih rendah yakni Rp 1.600/lembar.

Memang bagi dia tidak ada kata terlambat untuk memulai termasuk memulai mandiri. Meski belum banyak menyerap tenaga kerja, paling tidak satu orang pengangguran di Kebumen berkurang.

Dari data di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) setempat hingga pertengahan Juli 2007, jumlah pencari kerja yang tercatat mencapai 5.139 orang. Itu belum ditambah jumlah pencari kerja tahun sebelumnya yang mencapai 12.396 orang. Padahal lowongan yang yang tersedia sangat terbatas yakni sebanyak 189 lowongan untuk laki-laki dan 907 untuk perempuan.***

Desa Grujugan

Selain anyaman pandan, Kebumen mempunyai sentra kerajinan yang cukup terkenal, yakni kerajinan bambu di Desa Grujugan Kecamatan Petanahan. Produk utama yang dihasilkan secara turun temurun adalah kerajinan tudung (caping). Bagaimana kehidupan sehari-hari warga desa ini, berikut laporannya.
***

SIANG musim kemarau terasa sangat panas. Itu barangkali yang membuat Samiran (54) bertelanjang dada saat mengayam bilah-bilah bambu di serambi rumahnya di Desa Grujugan Kecamatan Petanahan, kemarin. Setelah beberapa ayaman ia selesaikan, lalu dipindahkannya di halaman samping rumah untuk dikeringkan.

"Supaya tidak jamuran, Mas," ujarnya ramah saat saya menghampirinya.

Ya, Samiran adalah satu dari ratusan warga Grujugan yang menggantungkan perekonomian keluarganya dari kerajinan tudung. Di desa yang mempunyai sekitar 170 keluarga ini, sebanyak 70 persennya adalah seorang perajin tudung. Tidak heran jika menengok tiga dusun di desa ini,
Kemranggen, Karangkemiri, dan Dusun Ngentak setiap hari akan mendapati anak-anak hingga orang dewasa membelah bambu, mengirat dan mengayamnya.

Bagi warga desa ini, membuat tudung telah mendarah daging dan sulit meninggalkannya. Tidak jarang mereka yang sudah menjadi seorang pegawai, guru, bahkan kepala sekolah pun di sela-sela kesibukannya meluangkan waktu membuat tudung.

Bagi para petani, membuat tudung merupakan lokomotif utama yang menggerakkan perekonomian keluarga. Maklum sebagai petani mereka tidak setiap hari mendapatkan penghasilan dari lahan pertaniannya itu. Apalagi para buruh tani yang tidak memiliki sawah, membuat tudung adalah jalan keluar agar mereka tetap bisa makan.

Setelah tudung jadi, warga kemudian menjualnya ke Pasar Gamblog di Desa Tanjungsari. Letaknya berada satu kilometer di sebelah timur desa tersebut. keunikan pasar Gamblog adalah secara khusus memperjualbelikan barang serba bambu. Mulai batang bambu hingga hasil kerajinan warga setempat seperti tudung, kukusan, besek, dan lainnya.

Selain itu, pasar Gamblog juga tidak setiap hari buka. Dalam seminggu hanya tiga kali saja pasar itu dipenuhi pedagang dan pembeli yang sedang bertransaksi. Yakni hari Senin, Kamis dan Sabtu mulai pukul 06:00 hingga 08:00.

"Kalau di atas jam sembilan sudah sepi," tambah Sariyono (45) perajin lainnya menyebutkan hari Senin dan Kamis merupakan paling ramai.
Cukup murah harga satu tudung yang ditawarkan para perajin. Tudung yang dijual rata-rata belum dicat itu ditawarkan Rp 1.500 hingga Rp 5.000/ biji sesuai ukurannya. Sedangkan kukusan yang kabanyakn dibuat perempun dijual Rp 3.000/biji. Setiap perajin rata-rata membawa sekitar 20-30 buah tudung yang mereka produksi selama beberapa hari.

"Sulit menghitung sehari dapat berapa sebab cara pembuatannya tidak satu persatu. Tapi jika dibuat rata-rata mulai dari pecah bambu hingga jadi, seorang perajin bisa membuat sekitar lima buah tudung per hari," tambahnya.

Sebagian perajin desa ini, masih sangat sederhana dalam menjalankan usahanya. Yang penting modal yang mereka keluarkan untuk membeli sebatang bambu Rp 8.000 bisa kembali dengan cepat. Satu batang bambu bisa dibuat tudung menjadi sebanyak 40 biji.

"Meski tidak banyak, kami cepat mendapatkan uang. Misalnya Senin beli bambu, hari Kamis sudah bisa menjualnya," ungkap perajin yang sudah sejak kecil belajar menganyam bambu tersebut.

***
SELAIN anyaman pandan, Kebumen memiliki sentra kerajinan yang cukup terkenal, yakni kerajinan bambu di Desa Grujugan Kecamatan Petanahan. Produk utama yang dihasilkan secara turun temurun adalah tudung (caping). Hingga kini sentra kerajinan tersebut masih bertahan.

Bagi warga Grujugan, membuat tudung sudah mendarah daging dan tidak bisa ditinggalkan. Tidak jarang mereka yang sudah menjadi seorang pegawai, guru, bahkan kepala sekolah pun tetap masih meluangkan waktu untuk membuat kerajinan tersebut di sela-sela kesibukannya.

Bagi para petani, membuat tudung merupakan lokomotif utama yang menggerakkan perekonomian keluarga.Maklum sebagai petani, mereka tidak setiap hari mendapatkan penghasilan dari lahan pertaniannya. Apalagi para buruh tani yang tidak memiliki sawah, membuat tudung adalah jalan keluar agar mereka tetap makan.

Samiran (70) adalah satu dari ratusan warga Grujugan yang menggantungkan perekonomian keluarganya dari menjadi perajin Tudung. Di desa yang mempunyai sekitar 170 keluarga ini, sebanyak 70 persennya warganya adalah seorang perajin Tudung. Tidak heran jika menengok tiga dusun di desa itu, Kemranggen, Karangkemiri, dan Dusun Ngentak setiap hari akan mendapati mulai anak-anak hingga orang dewasa membelah bambu, mengirat dan mengayamnya.

Setelah tudung jadi, warga kemudian menjualnya di Pasar Gamblog di Desa Tanjungsari, Petanahan. Namun ada juga yang langsung dibeli oleh para tengkulak. Oleh para tengkulak tersebut tudung-tudung tersebut dijual kembali ke sejumlah daerah. Bahkan tudung dari Kebumen cukup diminati oleh masyarakat ke luar Jawa khususnya Sematera.

"Kebanyakan kita kirim ke Padang, Palembang dan Lampung. Kalau lagi ramai bisa kirim empat kali sebulan. Tapi kalau sedang sepi hanya sekali saja," ujar HM Sariyo salah satu tengkulak di desa itu.
Pria yang terpilih menjadi Kades Grujugan itu menambahkan, sekali mengirim biasanya sebanyak 500 kodi tudung. Satu kodi dipasarkan Rp 35.000 hingga Rp 90.000. "Ramai-ramainya saat menjelang panen pada musim tanam pertama," katanya.

Dari para perajin harga satu tudung memang cukup murah. Tudung yang dijual rata-rata belum dicat ditawarkan Rp 1.500 hingga Rp 5.000 sesuai dengan ukurannya. Sedangkan kukusan yang rata-rata dibuat perempun dijual Rp 3.000/biji.

"Sulit menghitung sehari dapat berapa, karena sistem pembuatannya tidak satu persatu. Tapi jika dibuat rata-rata mulai dari pecah bambu hingga jadi, seorang perajin bisa membuat sekitar lima buah tudung per hari," tambahnya.

Bagi sebagian perajin di desa itu, memang masih sangat sederhana dalam menjalankan usahanya. Bagi mereka yang penting modal yang mereka keluarkan untuk membeli sebatang bambu Rp 8.000 bisa kembali dengan cepat. Satu batang bambu bisa dibuat tudung menjadi sebanyak 40 biji.
"Meski tidak banyak, kita cepat mendapatkan uang. Misalnya Senin beli bambu, hari Kamis sudah bisa menjualnya," ungkapnya.***

Tuesday, October 14, 2008

pekerja proyek

DUA orang pekerja bangunan gerobak berisi peralatan tukang bangunan saat pulang usai mengerjakan perbaikan talut rencana jalan pariwisata di pantai Logending Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen Jawa Tengah yang ambrol.

Di sejumlah titik talut tersebut memang sudah ambrol, meski pekerjaan itu belum selesai. Ada dugaan bahwa pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan bestek, termasuk adanya dugaan penggunakan air asin dan pelaksanaan pekerjaan pondasi tidak sesuai dengan gambar. Benarkah? ***


Friday, September 19, 2008

pacuan kuda

KECAMATAN Ambal Kabupaten Kebumen Jawa Tengah pada liburan Lebaran Idul Fitri mempunyai tradisi menggelar lomba pacuan kuda tradisional. Biasanya pancuan lomba itu dilaksanakan selama empat hari yakni Lebaran ke-4 sampai ke-7.

Sangat menarik menyaksikan lomba pacuan kuda itu. Sayang kemasan yang sangat seadanya, kurangnya profesionalisme penyelenggara dan minimnya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Kebumen membuat event yang menarik tersebut kurang dilaksanakan secara maksimal.

Tahun demi tahun, lomba pacuan kuda itu hanya berjalan begitu-begitu saja. Lokasi yang tidak nyaman, minim fasilitas, dan ketidakdisiplinan pononton membuat lomba itu menjadi kurang menarik. Perlu pemikiran dan sentuhan tangan-tangan kreatif untuk mengubah kegiatan itu benar-benar bisa mengangkat potensi lokasi pariwisata setempat. ***

Wednesday, September 17, 2008

Ketahuan Selingkuh?

BAGAIMANA rasanya terjaring razia saat berduaan di dalam kamar Hotel? Lima orang pria bersama dengan pasangan yang diduga selingkuhannya sudah merasakannya. Mereka terjaring razia yang digelar tim gabungan dari Satuan polisi Pamong Praja (Satol PP) dan Polres Kebumen saat berduaan di kamar sejumlah hotel, Selasa (16/9).

Malu, itu pasti. Lihat saja, saat melihat petugas, mereka langsung gelagapan dan berusaha menutupi wajahnya dengan baju dan jaket. Namun demikian mereka masih tetap bersikukuh bahwa mereka tidak melakukan maksiat. Meski berduaan di dalam kamar dengan pintu yang tertutup, mereka juga menolak jika disebut mengumbar syahwat atau sebuan lainnya yang berkonotasi mesum. “Kami hanya ngobrol-ngobrol saja kok,” kata salah seorang pasangan kepada petugas.

Ada pula yang berdalih hanya istirahat dan membahas bisnis. Namun tetap saja, karena setelah melihat identitas, mereka ternyata bukan pasangan resminya, pasangan itu pun kemudian dibawa ke kantor Satpol PP untuk mendapatkan pembinaan. Ya, pada saat itu, tim tengah menggelar razia hotel, penginapan, serta tempat-tempat yang dicurigai dipakai untuk berbuat maksiat di wilayah kota Kebumen, Karanganyar dan Gombong.

Dimulai pukul 10.00, razia diawali di komplek pasar hewan lama di Tamanwinangun. Namun di tempat itu, tidak satu pun sasaran yang didapat petugas. Petugas yang terdiri 20 personel satpol PP dan dibantu anggota Polres Kebumen itu kemudian menyiris kamar-kamar di Hotel Lukulo. Di hotel yang berada tidak jauh dari pasar hewan tersebut didapati tiga pasangan yang tengah berduaan di dalam kamar nomor 7, 10, dan 11.

Pasangan tersebut rata-rata berusia 40 tahun. Yakni Raun (50), asal Karangjongkeng Kabupaten Brebes bersama pasangannya Jumiatun (39) warga Desa Purbowangi Kecamatan Buayan Kebumen. Kemudian Emi Pariatun (56), asal Desa Puliharjo Kecamatan Puring dengan Darmo Suyoto (53) warga Sidototo Kecamatan Padureso. Sedangkan satu pasangan lagi hanya diketahui bernama Sudar dan Yuyun.

Tim melanjutkan operasi ke hotel Cadaka (dulu bernama Hotel Marsiwo) di Gombong dan menjaring dua pasangan yakni Tri Hartati (47) warga Demangsari Ayah dan Ahmad Nasikin (54) warga Wonoyoso Kebumen serta Mahfud Chozin bersama Waginem keduanya warga Sumpiuh Banyumas.

Kepala Kantor Satpol PP Kebumen Ageng Sulistyo Handoko SIP melalui Koordinator Tim Operasi Gigih BJ mengatakan razia tidak hanya digelar sekali saja. Kegiatan serupa juga akan rutin dilakukan selama bulan puasa. "Kami ingin memberikan kenyamanan kepada umat muslim yang menjalankan ibadah puasa," ujarnya.***

Tuesday, September 16, 2008

Dek Ulfy

MELIHAT senyum anak kecil, sulit untuk mengendalikan diri untuk tidak mengambil kamera, lalu memotretnya. Itulah saat aku pulang ke Pati pada awal Ramadan lalu, ketika melihat Dek Ulfy keponakan semata wayangku yang tak lain anak kakakku. Saat habis mandi, langsung aja aku ambil kamera. Dengan boneka lucu milik adikku (yang kini hampir lulus kuliah) beberapa frame aku ambil.

Ya, saat demikian selalu orang tuaku berseloroh, "Kapan kamu memotret anakmu sendiri." Mendengar itu, aku hanya tersenyum dan menjawab sekenanya. "Kapan-kapanlah".

Wednesday, September 10, 2008

peci kebumen

SAAT mengunjungi Desa Bandung, Kecamatan/Kabupaten Kebumen, anda akan sulit melihat warganya berpangku tangan pada siang hari. Meski tetap menjalanan ibadah puasa, mereka tetap aktif dalam kesibukannya yakni memproduksi peci.

Diserambi rumah tampak para ibu-ibu dengan teliti menyelesaikan pembuatan peci. Sementara di jalan desa yang belum beraspal itu banyak berlalu-lalang perempuan membawa kain, kertas maupun peci yang sudah jadi untuk diserahan kepada para perajian yang lebih besar. Ya, begitulah suasana hiruk pikuk Desa Bandung.

Pemandangan itu, tidak hanya terlihat pada waktu siang. Malam hari pun tidak jauh beda. Usai salat tarawih mereka sebagian ada yang lembur menggarap peci mulai dari menjahit hingga finishing sampai dengan pengepakan. Baru sampai larut malam, orang benar-benar selesai dari pekerjaannya. Desa Bandung Kecamatan/Kabupaten Kebumen dikenal sebagai sentra kerajinan peci.Sekitar 150 keluarga dari total 700 keluarga yang ada di desa itu, memutar roda perekonomian dengan menjadi perajin peci. "Dua bulan sebelum lebaran sudah mulai lembur, Mas," ujar Khuriyah (40) warga Bandung yang ikut bekerja kepada salah seorang perajin, Rabu (10/9).

Bukan hanya Khuriyah, Siti Haryati (40) Warga Desa Kalirejo Kecamatan/Kabupaten Kebumen juga ikut terkena berkah. Setiap hari dia datang ke Desa Bandung untuk bekerja mengesum peci-peci yang hampir jadi. Mereka dibayar borongan sesuai dengan hasil yang mereka peroleh.

Menurut salah satu perajin peci, Tholhah (42), Ramadan ini, terjadi peningkatan permintaan mencapai 100 persen dari hari biasa. Peningkatan itu sudah mulai terjadi pada bulan Rajab. Dengan dua orang karyawan, dalam sehari dia bisa membuat sebanyak lima kodi peci."Peci-peci tersebut kami pasok ke sejumlah kota di Jawa Tengah sampai pulau Sumatra," ujar Tholhah sembari menyebutkan Kitab Suci adalah merek peci produksinya.
Dia membuat berbagai model peci. Antara lain model semok, bordir, polosan, dan AC, dan pita. Harga setiap peci bervariasi sesuai dengan model dan kualitas barang. Untuk kualitas rendah harga dari perajin sekitar Rp 11.000/kodi. Ada pula yang harganya Rp 150.000/kodi. "Sedangkan untuk kualitas super, yakni yang bahan dan penggarapannya halus bisa sampai Rp 300.000/kodi," kata Kepala Dusun Kebonsari itu seraya menyebutkan, kondisi Ramadan tahun ini relatif lebih baik dari tahun sebelumnya.
Dia menambahkan, kondisi akan mulai normal kembali setelah bulan Syawal. Sesuai dengan kebisaan, paska bulan haji kondisi bisnis peci mulai lesu sampai bulan Maulud. Setelah itu berangsur-angsur normal kembali dan pada bulan Rajab terjadi peningkatan permintaan sampai akhir puasa."Begitu terjadi setiap tahun. Saat kondisi peci sedang sepi ada sejumlah perajin terutama yang kecil-kecil beralih memproduksi tas, topi maupun seragam sekolah," ujar Tholhah.

***
KERAJINAN peci di Desa Bandung, Kecamatan/Kabupaten Kebumen sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Namun hingga saat ini, para perajin masih belum sepenuhnya percaya diri untuk mengakui hasil produksi mereka sendiri. Padahal dari segi kualitas, peci buatan mereka tidak kalah bersaing dengan songkok buatan luar daerah seperti Gresik.

Lihat saja, hampir sulit menemukan perajin yang sudah berani memasang label produksi dari Kabumen dalam kemasan peci mereka. Mereka lebih memilih untuk mengosongkan tanpa dibubuhi embel-embel "made in Kebumen" atau kata-kata lain yang berhubungan dengan Kebumen. Padahal jumlah peci produksi perajin Desa Bandung sudah banyak mewarnai pasaran peci di Jawa Tengah bahkan sampai luar Jawa.

Kondisi tersebut diakui Khairudin (40) salah satu perajin peci di Dusun Tegong. Alasannya, nama Kebumen belum bisa untuk dijual. Ada ketakutan bagi perajin jika dilabeli Kebumen, harga peci di akan murah. Untuk itu, perajin lebih memilih mengosongkan saja. Kondisi tersebut relatif lebih baik, karena tahun-tahun sebelumnya, para perajin masih mencantumkan label produksi Grasik dalam peci buatannya. Padahal peci tersebut merupakan asli buatan Kebumen.

"Saya sudah punya niat memproduksi peci yang berkualitas bagus dengan mencantumkan Kebumen," ujar perajin yang melabeli peci produksinya dengan nama Al Hakim.

Sebenarnya banyak merek peci hasil produksi perajin di Desa Bandung. Beberapa merek yang terkenal antara lain Abbas produksi H Kharir, Kota Santri produksi H Nur Shodik, Ali Jufri produksi H Mahfud, Kitap Suci Super produksi H Khalid atau Dinamor produksi perajin yang sekaligus Kepala Desa Bandung Sulastri Zubair. Perajin lain yang juga sudah memproduksi peci dengan label sendiri seperti KH Masngudin, H Ma'ruf, dan H Khalid. Adapun sebagian perajin yang kecil belum memiliki label sendiri. Mereka pada umumnya masih menginduk kepada label yang lebih besar dan mapan.

Sedangkan kualitas disesuaikan dengan standar merek yang diikuti. Terlepas dari merekm, model peci dibuat perajin Desa Bandung antara lain model semok, bordir, polosan, dan AC, pita dan susun. Kendati sebagian merek peci tersebut belum dipatenkan oleh pemilik produksinya, namun para perajin di desa tersebut tidak membuat merek yang sama dengan perajin lain. Hal itu diakui sebagai bentuk solidaritas dan etika yang dijaga setiap perajin. Namun ada beberapa merek yang bebas dipakai oleh para perajin. Namun merek tersebut untuk kategori peci kualitas rendah.

"Persaingan perajin di Bandung cukup sehat. Kami percaya rejeki sudah ada bagiannya sendiri-sendiri," ujar Khairudin yang pada bulan Ramadan ini memproduksi sebanyak tujuh kodi/hari.

Desa Bandung terkenal sebagai sentra kerajinan peci karena sekitar 150 keluarga dari total 700 keluarga menjadi perajin peci. Mereka terdiri dari perajin kecil sedang hingga perajin yang sudah besar. Untuk ketegori perajin besar dan sendang berjumlah tidak lebih 70 perajin. Selebihnya merupakan perajin kecil. Sebagian lain mereka menjadi perajin tas, topi, kopyah haji, dan seragam sekolah.

Pada awalnya jumlah perajin peci di desa hanya puluhan orang.Namun pada perkembangannya sekitar tahun 1975 banyak karyawan yang sudah lama bekerja kemudian memproduksi peci sendiri. Mereka keluar setelah mengetahui detail kerajinan peci mulai dari bahan baku, pembuatan sampai pemasaran.***

Sunday, September 7, 2008

padi supertoy

DUA orang petani di Desa/Kecamatan Grabag Purworejo, Jawa Tengah membawa sisa-sisa padi supertoy yang bisa dipanen, Sabtu (6/9). Para petani di desa itu sebelumnya melakukan aksi pembakaran padi karena merasa dirugikan karena padi mereka tidak bisa dipanen untuk yang kedua kali. Mereka menuntut kepada PT SHI memberikan ganti rugi.

Nasip petani yang sudah susah menjadi semakin sulit. Mereka menjadi korban uji coba orang-orang besar di Jakarta. Tragisnya, saat ujicoba itu gagal mereka dengan seenaknya ditinggalkan. Para petani kini berjuang untuk menuntut ganti rugi.


Tuesday, September 2, 2008

Pakan Ternak

MUSIM kemarau menjadi pilihan sulit yang harus dihadapi para peternak, tidak terkecuali yang ada di Kebumen. Bagaimana tidak, selain tanaman padi mereka banyak yang gagal panen, mereka juga dilanda kesulitan pakan ternak. Maka jerami kering pun menjadi alternatif buat pakan ternak mereka.

Musim kemarau tahun ini, krisis air juga melanda sekitar 82 desa di kabupaten itu. Akibatnya banyak warga yang kesulitan mendapatkan bersih. Yang membuat saya terenyuh, banyak peternak yang mengaku lebih mementingkan untuk keperluan ternak mereka daripada untuk diri mereka sendiri. Misalnya, ada seorang peternak yang rela tidak mandi karena airnya untuk minum ternaknya.***

Pantai Ayah

PANTAI Ayah di Kabupaten Kebumen, Jateng memiliki keindahan yang cukup menawan. Suatu pagi saya melintasi sebuah jembatan di perbatasan Kebumen-Cilacap. Saat itu, sejumlah nelayan tengah menjaring ikan di sungai Bodho yang bermuara di Pantai Loganding. Saya berhenti sebentar untuk sekadar menikmati alam dan mengabadikannya.***

Lentera Jiwa

tulisan Andy F Noya ini dikutip dari: http://kickandy.com/
BANYAK yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena "pecah kongsi dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan.
Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan power yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri. Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.
Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar.
Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.
Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman.
Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.
Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.
Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri. Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang.
Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanya ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.
Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang -- dan membuat mereka tidak bahagia -- adalah karena mengikuti keinginan orangtua.
Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.
Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.
Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.
Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup.
Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya. Hidup saya, katanya.
Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.***

Desa Kedungringin

KEDUNGRINGIN merupakan nama sebuah desa di Kecamatan Sempor Kabupaten Kebumen. Jalan darat yang berbukit menjadi satu-satunya jalur yang harus dilewati warga untuk pergi ke kota kecamatan. Namun sejak ada jalur air, mereka memilih menggunakan jalur ini sebagai alternatif transportasi. Berikut laporannya.
***
SIANG cukup panas, Warjo (40) bersama beberapa teman pemilik perahu penyeberangan di Waduk Sempor, Kebumen duduk-duduk lesehan di atas parkir. Tidak jauh dari mereka sejumlah perahu besar dan kecil ditambatkan di pinggir waduk. Sembari menunggu penumpang, mereka asyik ngobrol soal jatah raskin yang saat itu sedang dibagikan Bulog Kebumen.

Warga Desa Kedungringin ini merupakan salah satu pemilik perahu jasa penyebarangan dari Desa Sempor ke Desa Kedungringin melalui jalur air. Untuk sampai kedesa tujuan, perahu tersebut menyeberangi waduk.

Setidaknya terdapat sembilan perahu besar dengan kapasitas 20 penumpang setia setiap saat mengantarkan warga yang akan pergi ke pasar ataupun sekadar jalan-jalan. Selain itu, sebanyak 30 perahu kecil dengan kapasitas tujuh orang juga menjadi alat yang menghubungkan warga baik yang akan pulang atau pergi ke Kedungringin.

Perahu-perahu itu mayoritas milik warga setepat, baik warga Sempor maupun Kedungringin. Separoh dari jumlah perahu itu ditambatkan pada semacam dermaga kecil di pinggir waduk di Desa Kedungringin. Perahu tersebut mengantarkan warga yang akan pergi ke kota. Sedangkan sisanya ditambatkan di pinggir Waduk Sempor di wilayah Desa Sembor. Perahu-perahu tersebut mengantarkan warga yang akan kembali pulang ke kampung halamannya.

"Sebagian warga memilih menggunakan jalur air karena lebih cepat," ujar Warjo, belum lama ini.
Samirin (39) pemilik perahu lain, menambahkan jika melewati jalur darat, dari sempor ke Kedungringin warga harus melintas jalan berliku dengan menempuh jarak sekitar 15 km. Jalan yang ada pun harus memutar waduk dahulu. Jika melewati arah timur, untuk sampai di Kedungringin harus melintasi beberapa desa yakni Kenteng, Semali dan Karet. Sedangkan jika memutar lewar arah barat, harus melewati Desa Sampang dan Ketileng.

Padahal jika ditempuh dengan menggunakan perahu, jarak Sempor-Kedungringin hanya sekitar 7 km. Dengan memotong kompas menggunakan jalur, paling tidak warga bisa memperpendek jarak 7,5 km dalam sekali perjalanan. Jadi dalam setiap pulang pergi jarak tempuh yang dapat dipotong sepanjang 15 km.

Untuk menggunakan jasa perahu ini, pada umumnya warga desa harus mengeluarkan Rp 5.000 untuk biaya sekali perjalanan dan Rp 10.000 untuk pulang-pergi. Selain kepada warga setempat, pemilik perahu juga menyediakan untuk mengantarkan wisawatan yang ingin mencoba mengelilingi waduk Sempor dengan menggunakan perahu.
***
Waduk Sempor memang menjadi berkah bagi banyak orang, tak terkecuali warga Kedungringin. Selain menyediakan air untuk irigasi persawahan, menggerakkan turbin PLTA dan PDAM, waduk tersebut juga dipakai untuk jalur transportasi alternatif bagi ratusan warga di desa tersebut.

Selain itu, waduk tersebut juga menjadi lahan pekerjaan bagi banyak orang, seperti pencari ikan, pedagang baik di warung atau asongan. Tak terkecuali para pemilik pemilik perahu juga menyediakan untuk mengantarkan wisawatan yang ingin mencoba mengelilingi waduk Sempor dengan menggunakan perahu.

Jika pada umumnya warga desa membayar Rp 5.000 untuk sekali perjalanan, harga tersebut tidak berlaku bagi wisatawan. Apalagi tidak selamanya banyak warga yang memanfaatkan perahu tersebut untuk sarana itu.

Seperti misal, saat saya berada di tempat itu hampir dua jam, belum ada satu pun warga yang datang menggunakan perahu tersebut. Terpaksa seorang penumpang yang sudah datang harus menunggu agak lama. Karena jika satu penumpang dipaksakan diangkatkan pemilik perahu akan rugi, karena tidak sebanding dengan bahan bakar yang mereka keluarkan.
"Kecuali jika membayar lebih dan cocok tetap akan kami angkatkan. Tapi kadangkala kami tidak tega untuk meminta tarif yang agak banyak, terutama bagi warga desa," ungkap Samirin (39) salah satu pemilik perahu.

Akan tetapi berbeda dengan para wisatawan para pemilik perahu, toleransi agak sedikit diberikan. Untuk itu, agar dapat menikmati sebuah panorama cantik dengan sajian yang begitu memesona naik perahu tersebut secara berombongan. Setidaknya itu akan membuat harga lebih murah.
"Lha kalau wisatawan kan, tujuannta ke sini memang untuk senag-senang. Jadi kami menawarkan kalau mereka mau ya diangkatkan, tapi jika tidak ya nggak apa-apa," tambahnya.

Dalam sehari rata-rata perahu hanya dua kali pulang pergi dari pinggir waduk di Desa Sempor ke Kedungringin. Banyaknya perahu di tempat itu membuat mereka harus berbagi satu sama lain.
Dikatakan, dalam sehari mereka tidak menentu penumpang yang datang. Penghasilan mereka pun tidak menentu, kadang banyak tapi kadang juga sedikit. Paling banyak waktu hari minggu. Selain warga banyak yang memanfaatkan, para wisawatan di Waduk Sempor juga relatif lebih banyak ketimbang dengan hari biasa.

Namun paling sepi terjadi ketika musim kemarau tiba. Saat ini air waduk mulai menyusut. Di wilayah Desa Sempor penyusutan air waduk pada musim kemarau mencapai satu kilometer. Namun di wiayah Kedungringin terjadi penyusutan dua kali lipatnya, yakni dua kilometer.

"Jadi setelah turun dari perahu warga terpaksa harus menempuh jarak tiga kilometer," ungkapnya.

Pada saat itu, penumpang menjadi sepi. Mereka kembali menggunakan jalur darat dengan memutari waduk tersebut. Saat itu banyak perahu yang tidak dijalankan. Mereka kembali menjadi petani, ada yang bekerja lain. Akan tetapi ada yang masih bertahan menunggu warga yang akan menyeberangi waduk sempor atau wisawatan yang ingin jalan-jalan di seputar waduk sambil menikmati panorama indah dan udara sejuk menyegarkan di obyek wisata yang terpadu dengan alam itu.


Masuk ke kawasan waduk setiap pengujung di obyek wisata tersebut dikenai retribusi Rp 2.250 plus asuransi. Parkir bus Rp 5.000, roda empat Rp 4.000 dan untuk roda dua Rp 1.000. ***