About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Thursday, February 28, 2008

Terapi Lintah

Proses terapi sedot lintah. Foto Ondo Supriyanto
LINTAH (hirudo medicinalis) bagi sebagian orang merupakan binatang yang menjijikkan. Selain bentuknya yang nggilani, binatang sejenis cacing yang hidup ditempat lembab itu dihindari karena sifatnya yang parasit; menghisap darah untuk memperoleh makanan. 
Namun di tangan Ahmad Sugeng (35), lintah bisa bermanfaat bagi banyak orang. Warga RT 02 RW 02 Desa Kawedusan, Kebumen tersebut memanfaatkan binatang yang banyak dijumpai di hutan hujan tropis itu sebagai salah metode pengobatan alternatif. 
Caranya, lintah ditempelkan pada kulit yang sakit dan menghisap darah kotor pada tubuh manusia.
Sebelumnya ia memberikan sejenis cairan tertentu yang menjadi perangsang intah menyedot darah kotor pada bagian tubuh yang diinginkan. 
"Adapun darah yang diambil juga sesuai susunan saraf penyakit yang diderita," ujar Ahmad Sugeng saat ditemui Suara Merdeka di rumahnya di sebelah balai Desa Kawedusan, Rabu (27/2). 
Bukan sembarang lintah yang digunakannya. Hanya jenis lintah purba yang dipakai dalam praktik pengobatan. Sebab lintah jenis itu tidak mengandung racun. Awalnya ia hanya memiliki 10 lintah, namun bertahun-tahun membudidayakannya, saat ini ia memiliki sebanyak 2.000 ekor lintah. Sejak 1991, bapak dua anak itu mengembangkan metode sedot lintah untuk pengobatan alternatif. 
Namun secara luas, metode itu baru populer pada 2006. Sebelumnya pria yang sehari-hari bekerja di sebuah lembaga pembiayaan itu hanya terbatas untuk mengobati keluarga maupun tetangga yang membutuhkan. Berawal dari gethok tular, banyak orang yang datang berobat. Bukan hanya dari Kebumen, warga dari Sumatera seperti Lampung pun datang berobat. Warga yang datang untuk "disedot" pun datang dari berbagai kalangan. Mulai dari orang biasa hingga pejabat pernah merasakan sedotan itu. Tidak sedikit pula orang kesehatan yang berobat dengan metode sedot lintah. 
Ia pun bersyukur, sebagian besar yang datang berhasil disebuhkan. Dari mulai kanker, asam urat, cidera otot (otot terjepit), sakit kepala sebelah, migrain, bisul, stroke, ginjal, kolesterol, sakit gigi hingga insomnia pernah sembuh dengan metode pengobatan itu. Untuk sekali pengobatan paling tidak dibutuhkan satu hingga 10 lintah. Banyak dan sedikit jumlah lintah sesuai dengan penyakit yang diobati. Semakin berat penyakit yang diderita semakin banyak pula lintah yang dibutuhkan. "Yang penting pasien telaten," imbuhnya mengaku melayani pasien mulai pukul 13.00-17.00. 
Fatah (28) salah seorang yang membuktikan metode tersebut. Warga Desa Tanuraksan Kebumen itu lama menderita insomnia alas gangguan tidak bisa tidur setiap malam. Memperoleh informasi, ia mencoba metode sedot lintah. Manjur, setelah bagian telapak kakinya disedot lintah, ia merasa lebih enak. Bahkan ia sempat terlelap selama satu jam setelah selesai pengobatan. 
"Sekarang pukul 22.00 saya sudah bisa tidur," ungkapnya sembari menunjukkan telapak kaki yang bekas hisapan lintah. 
Pasangan suami istri Solihin (45) dan Lasiyem (40) warga Kawedusan juga berulangkali menjalani terapi sedot lintah. Lasiem pernah mengalami gejala stroke, dan ia bersyukur bisa sembuh tanpa pengobatan di rumah sakit. Begitu juga Solihin semakin yakin karena berbagai keluhan yang ia alami sembuh setelah menjalani terapi tersebut. Warsono (61) bapak Sugeng, menceritakan, pernah seorang menderita kanker stadium tinggi yang datang berobat. Ia mengaku sudah divonis dokter tidak bisa sebuh dan umurnya tinggal 15 hari. 
"Namun atas ijin Allah, dengan pengobatan yang rutin, pasien itu bisa kembali sehat," ujar pansiunan guru SDN Kutosari 4 itu. Pernah ada kejadian menarik, kata dia. Suatu hari, seorang pasien datang sudah dalam kondisi sangat parah. Anehnya, saat diobati, tak satu pun lintah mau menghisap darahnya. Berulang kali dicoba, namun tidak bisa hingga pasien itu pulang. 
"Keesokan harinya ada kabar orang tersebut meninggal," ujar Warsono menyebutkan sebagian besar pasien yang datang sudah berobat terlebih dulu ke dokter. Selain khasiatnya, pengobatan alternatif diminati karena murah biayanya. 
Di tengah tingginya harga layanan kesehatan, pengobatan alternatif benar-benar bisa menjadi jalan lain. Lihat saja, suami Wardani (30) pagawai bagian gizi Puskesmas Alian itu hanya mematok tarif seikhlasnya untuk para pasiennya. Ada yang memberi Rp 10.000, Rp 20.000, sampai Rp 100.000. Bahkan saat ada yang membawa hasil kebun seperti buah pisang atau sayur-sayuran kacang panjang saat berobat tidak mengurangi kualitas pelayanan yang diberikan. 
"Intinya pengobatan ini adalah untuk sosial," ujar anak kedua dari lima bersaudara itu menyebutkan rata-rata menerima 10 pasien tiap harinya.***

Tobong Gamping

SEBUAH kabar, seorang penambang batu kapur di kawasan tobong gamping tewas terkubur reruntuhan tebing yang ditambang. Pariyati (31) tewas seketika setelah area penambangan di Desa/Kecamatan Buayan, Kebumen longsor. Kabar duka itu pun menyebar kepada ratusan penambang dan pekerja tobong gamping di sejumlah desa di Kecamatan Buyan, Rowokele dan Ayah. Pada waktu itu para penambang pun meningkatkan kewaspadaan, berharap peristiwa tragis tak lagi terjadi. Ya, hampir setengah tahun peristiwa itu berlalu. Ada yang masih ingat, tapi tidak sedikit yang sudah lupa. Bahkan ada pula penambang yang tidak tahu, atau pura pura lupa. Kebiasaan lama kembali dilakukan yakni hirau pada keselamatan. Padahal mereka bekerja tanpa asuransi. Menambang di ketinggian tanpa alat pengaman menjadi kebiasaan. Menggunakan masker dan segala jenis pengaman lain hanya merepotkan. Seolah-olah para pekerja di tobong gamping sudah tak lagi memiliki rasa takut bahaya mengancam setiap saat. Melihat ratusan penambang pekerja tobong gamping di Desa Redisari Kecamatan Rowokele hati serasa miris. Betapa tidak, seolah tidak pernah mengenal rasa takut, di atas ketinggian tebing yang terjal, mereka bergelantungan meruntuhkan bebatuan. Di bawahnya sudah bersiap sejumlah orang menunggu jatuhnya reruntuhan. Belum hilang debu yang timbul akibat reruntuhan batu gamping tersebut, mereka langsung berhamburan. Batu-batu kapur itu kemudian dikumpulkan dan diolah di sebuah tobong yang letaknya tidak begitu jauh dari lokasi penambangan. "Sudah biasa, Mas. Saya sudah 20 tahun bekerja di tobong gamping," ujar Sugiyanto (47) warga Dusun Kalikarang Desa Redisari di sela-sela aktivitas menambang, belum lama ini. Memang, bergelut dengan batu kapur dan gamping bukan pilihan hidup yang dicita-citakan. Tapi bagaimana lagi, pilihan lain yang bisa diandalkan memenuhi kebutuhan keluarga sulit dicari. Pada akhirnya, setiap hari selalu berada di bawah ancaman runtuhnya tebing pun siap dihadapi. Juga berkawan bahaya polusi menjadi risiko yang ia tanggung untuk memperoleh uang antara Rp 25.000-Rp 35.000 setiap hari. Uang sebesar itu ia peroleh dari menambang dari pagi hingga sore. Rata-rata ia bisa mengumpulkan sekitar 30 keranjang. Oleh juragan, sekeranjang batu kapur yang masih mentah dihargai Rp 1.100. "Namun satu penambang dengan yang lain tidak sama. Ada juga yang banyak namun ada pula yang sedikit," katanya. Sugiyanto adalah satu dari ratusan warga yang menggantungkan ekonomi dari bekerja di tobong gamping. Masih banyak pekerja lain di sejumlah desa yang umumnya berada di Kecamatan Rowokele, Buayan dan Ayah. Setali tiga uang juga setiap hari mereka juga berkawan polusi. "Kalau saya hanya untuk sambilan saja. Karena pekerjaan utama adalah bertani," Ahmad Suhadi (55) warga Desa/Kecamatan Rowokele yang ikut bekerja di tobong gamping. Pada bagian lain, penambangan memiliki dua sisi yang berlainan. Di satu sisi, penambangan menjadi gantungan ekonomi warga, namun di sisi lain, merajalelanya penambangan menyisakan bekas-bekas kerusakan. Bukit yang dulu hijau berubah warna menjadi putih gamping. Debu gamping bukan hanya ada di tobong. Di perkampungan penduduk polusi juga mulai mengancam. Apalagi saat ada tiupan angin kencang. Jika sudah demikian, bukan hanya para pekerja tobong yang perlu dipikirkan. Kesehatan anak-anak dan balita juga perlu menjadi perhatian. Mudah ditebak bagaimana dampak yang ditimbulkan jika anak-anak dan balita terus menerus dihadapkan pada tingginya polusi.