About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Friday, March 28, 2008

Mbah Masinah

MELIHAT semangatnya, sulit dipercaya jika Siti Masinah (75) sudah lanjut usia. Warga Desa Ampih RT 4 RW 3 Kecamatan Buluspesantren, Kebumen itu tampak masih lebih muda jika dibandingkan dengan perempuan lain seumuran dirinya. Meski, tidak bisa dipungkiri gerutan wajahnya menandai bahwa ia sudah lama merasakan pahit getir kehidupan dunia.

Ya, istri Soewarno (81) seorang pansiunan pelaut itu adalah mantan atlet gerak jalan yang pernah menjadi kebanggan. Namun, kendati asli Kebumen, dalam kariernya keatletannya, ia lebih banyak membela Provinsi Yogyakarta ketimbang tanah kelahirannya. Selama 11 tahun ia pernah menggawangi Persatuan Gerak Jalan Mataram Yogyakarta.


Berbagai event tingkat nasional dan internasional telah banyak ia ikuti. Di antaranya yang cukup prestesius adalah pada gerak jalan Bogor-Jakarta tingkat Asia, kelompoknya bisa meraih juara ke-2. Atas prestasinya itu, ia disambut secara khusus oleh dari Sultan Hamengku Buwono IX.

Kini, ibu delapan anak itu sudah tidak lagi terjun di dunia olahraga. Namun ia masih menyempatkan waktu untuk berolahraga. Jangan heran jika barangkali ada seorang nenek-nenek senam aerobik di depan rumahnya, mungkin itu adalah Mbah Masinah, begitu ia sering dipanggil di kampungnya. Memang selama dua kali seminggu ia masih menjalankan rutinitas itu. Selain itu, ia juga masih membiasakan berjalan kaki.

Dalam menjalankan aktivitasnya, perempuan yang kini aktif dalam pengobatan herbal itu pun lebih senang menggunakan sepeda daripada diantarkan dengan kendaraan bermotor. Ia mau diboncengkan dengan motor jika, memang jaraknya cukup jauh hingga tidak dijangkau dengan sepeda. "Bersepeda membuat saya lebih sehat dan mengeluarkan keringat," begitu dengan singkat ia menuturkan alasannya.

Maka jangan heran jika saat bersepeda genjotan kakinya masih seperti anak muda. Meski sudah lansia, tenaga Mbah Masinah, masih seperti anak remaja. Lihat saja, saat diundang pada pembukaan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) se-eks distrik Kutowinangun, di SD Negeri Bocor Buluspesantren, Mbah Masinah datang dengan mengendarai sepada onthel dari rumahnya di Desa Ampih.


"Saya lebih senang naik sepeda. Lebih santai," ujar Mbah Masinah dalam sebuah perbincangan ringan.


Berkat rajin berolahraga, ia mengakui hasilnya dinikmati hingga usianya sekarang ini. Sejak masih belum menikah hingga memiliki 20 cucu dan tiga cicit ia belum pernah mondok ke rumah sakit karena penyakit. Dengan kondisinya yang masih tetap bugar di usia senjanya itu, ia bersyukur kepada Tuhan. Perasaan syukur itu ia wujudkan dengan terus menjaga kesehatan dan rajin berolahraga.


Meski tak selamanya hidup bisa dilalui dengan mulus, ia bersyukur bisa berhasil membesarkan delapan anaknya. Jangan salah, ia pernah menjadi seorang satpam untuk membantu perekonomian keluarga. Di lingkungan keluarganya, ia bisa dikatakan berhasil dalam mendidik anaknya. Meskipun pada usia senjanya ia harus berjauhan dengan anak-anaknya. Ia kini tinggal berdua dengan suaminya, sedangkan delapan anaknya semua sudah berkeluarga. Mayoritas mereka tinggal di luar kota. Yang terdekat menjadi pengajar salah satu SMA di Yogyakarta.


"Bersyukur masih bisa sering bertemu dengan mereka. Minggu ini saya juga akan ke Jogja karena salah satu cucu saya wisuda," katanya dengan mata berbinar.

Tidak berlebihan jika panitia Popda Se-Eks Distrik Kutowinangun memberikan pernghargaan khusus kepada mantan atlet tersebut. Pada kesempatan itu, Mbah Masinah pun didaulat berbagi pengalamannya kepada siswa-siswa SD. Meski tak ingat secara persis tahun berapa peristiwa itu, ia tetap bersemangat menyebutkan sejumlah prestasi yang pernah ia raih. Kepalan tangan Mbah Masinah pun masih tampak kuat saat ia mengakhiri sambutan dengan berteriak lantang, "Salam olahraga!"

Tuesday, March 18, 2008

Seni Debus

MENDENGAR kata debus, pikiran seseorang akan langsung dibawa pada sebuah atraksi yang sangat berbahaya. Mulai dari uji kekebalan tubuh dengan senjata tajam, memakan bara api hingga menelan kaca dan silet. Benar, kesenian tradisional yang berasal dari Banten itu memang memfokuskan pada kekebalan seseorang pemain terhadap serangan benda tajam.
Dalam perkembangannya seni bela diri itu tumbuh di masyarakat sebagai seni hiburan. Debus pun tidak lagi didominasi oleh orang Banten, karena sudah menyebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tentu pergerakan kebudayaan itu mengalami perubahan menyesuaikan dengan kultur budaya setempat.
Salah satu permainan unik dimainkan Hendro Widodo (20) pemain debus dari Kediri, Jawa Timur. Saat pentas di Gombong, ia mengkolaborasikan seni debus dengan kuda lumping, permainan sulap, serta berbagai macam atraksi. Ia pun menamakan dirinya sebagai pemain debus modern.
Untuk menjadi pemain debus tidaklah mudah. Sebab, sebelum melakukan permainan berbahaya seorang pemain terlebih dulu dibekali ilmu kanuragan dengan menjalani berbagai ritual. Hal itu digunakan untuk membersihkan diri dan memohon pertolongan Tuhan untuk keselamatan.
Pada masa awal seorang pemain debus diwajibkan melakukan ritual puasa. Tidak terkecuali dilakukan Widodo. Ia pernah menjalankan puasa selama 21 hari. Tidak seperti puasa pada umumnya yang diawali pada terbit fajar hingga matahari terbenam, puasa yang dilakukannya selama 24 jam non stop. Ia memulai puasa pada pukul 21.00 dan bisa makan lagi pada pukul 21.00, sebelum melanjutkan puasa kembali.
"Selama menjalani ritual puasa itu, saya memanfaatkan untuk melakukan tirual doa dan mendekatkan diri kepada Tuhan," katanya.
Ritual puasa 21 hari itu harus dilakukan secara terus menerus. Jika pada pertengahan hari gagal, ia harus mengulangi dari awal. Untuk itulah, dalam menjalankan puasa ia mesti konsentrasi agar kuat melewati masa tersebut.
"Setelah itu saya sempurnakan dengan puasa tujuh hari," katanya.
Ada ritual yang cukup menarik dalam menjalankan puasa tujuh hari itu. Yakni ia meninggalkan tujuh rasa yang ada pada makanan. Antara lain rasa pedas, lalu asin, asam, dan manis. "Syukur, puasa yang saya lakukan bisa berhasil," kata pemuda yang sudah menjadi pemain debus sejak tahun 1999 tersebut.
Atraksi memakan silet, gotri, kaca, ditujuk senjata tajam, sudah ia lakukan untuk menghibur penonton. Namun ia mempunyai pantangan yang tidak bisa dilakukan yakni bermain pada waktu Maghrib. "Meski dibayar seberapa besar pun, ia tidak berani melanggar pantangan itu," imbuhnya.
Dari sejarahnya, kesenian Debus tumbuh dan berkembang bersamaan dengan berkembangnya agama Islam di Banten. Tercipta sekitar abad ke-13 oleh seorang tokoh penyebar agama Islam. Pada waktu itu di daerah tersebut masih asing dengan ajaran Islam. Karena banyak kepercayaan dan agama lain yang di anut oleh masyarakat setempat yang pada umumnya masih kuat dengan mistik.
Pada masa penjajahan belanda dan pada pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa, seni beladiri itu digunakan untuk membangkitkan semangat pejuang dan rakyat Banten melawan penjajah. Karena kekuatan yang tidak berimbang, pejuang dan rakyat banten teredesa. Satu satunya senjata yang mereka punya tidak lain seni beladiri debus, dan mereka melakukan perlawanan secara gerilya.

Musik Aceng

PETIKAN gitar mengiri lirik lagu milik grup band Peterpan yang dinyanyikan sejumlah remaja di komplek Pasar Wonokriyo Gombong, Kebumen. Keindahan bunyi yang dikeluarkan memang tak sesempurna musisi yang membawakannya. Namun melihat bagaimana cara memainkannya, dentingan gitar itu menjadi luar biasa.
Petikan gitar itu dimaikan Aceng (35). Bukan dengan tangan melainkan oleh kedua kaki. Ia duduk di atas kursi, sendangkan gitarnya berada di bawahnya. Jari-jari kaki kanannya lincah memetik dawai gitar, saat yang sama jari-jari kaki kiri cekatan memainkan cord.
Ya, lahir tanpa kedua tangan adalah takdir yang tidak bisa ditolak oleh laki-laki yang bernama asli Albert Doni Setyawan itu. Mengarungi kerasnya kehidupannya, laki-laki asal Desa Watumalang Kecamatan Winoroto, Wonosobo itu hanya bertumpu pada kedua kakinya Kendati dalam keterbatasan fisik kelahiran 12 Desember 1973 itu tidak menyerah untuk terus berusaha membahagiakan keluarganya.
"Tuhan sudah menggariskan demikian. Ia memberikan rejeki melalui kaki saya," ujar Aceng dalam perbicangan ringan dengan Suara Merdeka.
Bahkan dengan kedua kakinya itu, Aceng mampu melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan semua orang normal. Lihat saja, selain bisa memainkan gitar, bapak satu anak itu jago memaikan memain keyboard dan drumb dengan kedua kakinya. Tidak cukup itu , dia juga bisa mengemudikan mobil dan naik motor.
Dengan keahliannya itu, namanya pun sudah tercatat dalam buku Musium Rekor Indonesia (Muri) pada tahun 1994. Ia juga pernah tampil di sejumlah acara televisi seperti di Gong Show, Dorce Sow, Good Morning semuanya di Indosiar. Acara Unik di RCTI, Busyet Trans 7 dan Alamak di Indosiar juga pernah menampilkan kebolehan aksi Aceng.
Berbekal keahliannya itu, ia kini beroleh penghasilan. Satu cita-citanya yakni ingin membahagiakan Suka Eka Putra (3) anaknya dan Irawati istrinya yang ia cintai. Istri yang menerima keterbatasan dirinya dan gigih memberi dukungan menjadikan tekad itu terus membara.
Namun demikian, semangat hiudp itu tidak serta merta muncul dengan sendirinya. Sebagai manusia biasa ia pun pernah mengalami masa-masa putus asa dengan kenyataan bahwa dia berbeda dengan orang lain. Malu, minder, tidak percaya diri, rendah diri, dan hilang harapan pernah ia rasakan.
"Harapan itu pernah musnah saat saya kelas dua SMP," katanya mengenang masa lalu.
Dari kisahnya, saat masih kecil segala kebutuhan Aceng dibantu orang tuanya seperti makan masih disuapi. Tetapi saat umurnya bertambah ia bertekad ingin mandiri. Ia sadar tidak akan bisa seterusnya bergantung dengan orang lain. Ia harus mengandalkan diri sendiri.
Maka, meski menyadang predikat defabel, sejak TK, SD hingga SMP Aceng belajar di sekolah normal di Wonosobo. Saat teman-temannya menulis dengan tangan, ia belajar menulis dengan kaki. Setelah lulus SMP ia melanjutkan di sekolah khusus difabel di Solo. "Di sekolah itulah sejumlah keterampilan saya dapatkan," imbuhnya .
Perasaan malu, minder, rendah diri, dan putus asa itu kini sudah mulai hilang dari diri aceng. Yang ada sekarang ini adalah tekad membahagiakan orang-orang yang menyayangi dan ia cintai. Bersama rombongannya ia menunjukkan kebolehannya dari kota ke kota
Sebelum di Gombong, sebelumnya ia telah berada di Muntilan Magelang. Selanjutnya ia dijadwalkan akan pentas di Banyumas dalam acara yang sama. Dalam sebuah tontonan langka aneh tapi nyata, Aceng menjadi salah satu "bintang"nya. "Saya bersyukur masih diberikan kaki untuk mencari rejeki," tandasnya mengakhiri pembicaraan.

Friday, March 14, 2008

manusia mini

JIKA disuruh memilih, Andi Romadona (20) tentu ingin hidup normal seperti orang pada umumnya. Namun takdir membuat ia berbeda dengan orang normal . Remaja kelahiran Majenang 30 April 1988 itu hanya memiliki tinggi 90 centimeter dengan berat 11,5 kg. Karena bentuk tubuhnya yang kecil itu, ia pun dijuluki sebagai manusia mini dari Majenang.
Ukuran mini putra dari Supardi (53) dan Srimiyati (47) warga Desa Mulyadadi Kecamatan Majenang Cilacap itu memang sejak lahir. Padahal selama masa kehamilan, kondisi janin normal. Lama masa kehamilan juga normal yakni sembilan bulan. Namun tak disangka saat dilahirkan, berat badan Andi hanya 9 ons dengan panjang 22 cm.
"Saat lahir kepalanya sebesar telur bebek, sedangkan jari-jarinya sebasar batang korek api," ujar Srimiyati kepada Suara Merdeka, di kompleks pasar Wonokriyo, Gombong, Jumat (14/3).
Pada umur satu tahun, Andi sudah bisa berjalan. Pada saat itu, tubuh Andi tidak menunjukkan perkembangan yang berarti. Tubuhnya masih kecil sebesar botol minuman mineral. Saat usia sekolah dia juga sempat masuk namun hanya bertahan sampai kenaikan ke kelas dua.
Kejadian itu sudah 20 tahun berlalu. Namun bagi Srimiyati rasanya baru sebentar. Andi tumbuh seperti anak-anak pada umumnya, meskipun dalam hal ukuran bentuk tubuh andi tidak banyak bertambah banyak. Saat umur 20 ini ia pun masih seperti balita.
Saat membelikan baju anaknya di pasar, Srimiyati pun sering merasa kebingungan. Ia tidak bisa menjawab saat ditanya pedagang mencari baju untuk anak usia berapa. Sebab, meskipun usia anaknya sudah 20 tahun namun baju yang pakai masih ukuran anak usia tiga tahun. Tidak hanya itu, sepatu yang dikenakan adalah sepatu bayi.
Kendatipun anaknya memiliki keterbatasan, tidak mengurangi rasa kasih sayang Srimiyati kepada buah hatinya itu. Ia tidak membedakan kasih sayang antara empat anaknya yang normal dengan Andi yang memiliki keterbatasan. Seluruh keluarga termasuk saudara pun menyayangi Andi.
Srimiyati yakin Tuhan mempunyai rencana tersendiri buat buah hatinya itu. Termasuk bagaimana rejeki itu diperoleh orang sekecil anaknya. Sebab, tidak memungkinkan anak dengan ukuran mini itu bekerja di pabrik seperti orang normal.
Sampai tahun 2001, ia diajak bergabung dengan grup yang memamerkan keanehan keliling kota di Indonesia. Berawal dari sana ia bisa mendapatkan pendapatan. Ya, justru dengan tubuh kecilnya itu, Andi mendapatkan penghasilan. Tak kurang dari 50 kota di Indonesia telah ia singgahi. Surabaya, Bali, dan Jakarta sudah menjadi langanan dia pentas.
"Ia pernah tampil pada acara "Alamak" (reality show di Indosiar,red) dan "Unik" di RCTI," kata Srimiyati bangga.
Andi bagi keluarganya adalah sesuatu kebanggan. Ia pun banyak berjasa bagi keluarganya. Bagaimana tidak, dari hasil pentasnya, ia bisa membantu menyekolahkan adik dan membangunkan bagi rumah orang tua di Majenang senilai Rp 125 juta. "Pendapatan selama pentas melebihi bapaknya yang bekerja di pabrik sepatu Cilegon," ujar Srimiyati.
Dalam perbincanan itu, Andi yang berada di sisi ibunya hanya terdiam. Kepada Suara Merdeka ia justru memperlihatkan kebolehannya berakrobat, seperti mencambuk tangannya sendiri dan main akrobat. Saat ditanya jawaban lebih diberikan ibunya. Termasuk saat ditanya apakah diirinya mempunyai keinginan berkeluarga, ia pun hanya tersenyum.
"Meski kadang seperti anak kecil, dia juga tahu orang cantik. Saya yakin Tuhan menyiapkan jodoh bagi anak saya," ujar Srimiyati.
Adapun keberadaan Andi di Gombong adalah dalam rangka pentas spektakuler gelar tontonan langka. Bersama rombongan ia pentas di Pasar Wonokriyo sejak 1-16 Maret.