About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Monday, April 21, 2008

Kayu Nakim

KERINGAT Nakim (58) mulai bercucuran saat menahan berat delapan ikat kayu bakar yang ia bawa meninggalkan rumah dengan meggunakan sepadanya. Maklum jalan yang naik turun harus ia lewati. Hal itu membuat warga Dusun Sempor Desa Kemangguhan Kecamatan Alian, Kebumen tersebut harus berjuang keras menahan keseimbangan agar tidak terjatuh.
Sesampai di jalan yang cukup curam, ia pun berhenti sebentar. Menghela nafas sembari menunggu orang lewat. Setelah ada beberapa warga melintas, ia pun mengeluarkan tali tambang. Ia meminta tolong kepada mereka untuk menahan agar sepeda dengan beban berat itu tidak meluncur ke bawah.
Seperti sudah terbiasa, orang-orang tersebut dengan kompak menarik ke tali tambang ke arah berlawanan. Benar, rem tenaga empat manusia itu berhasil membawa Nakim beserta kayu bakarnya dengan selamat sampai jalan yang datar. Ia pun melanjutkan perjalananya sekitar tujuh kilometer lagi untuk sampai ke kota tempat ia menjual kayu bakarnya.
"Untung pas pergi jalannya hanya menurun saja. Tidak ada yang menanjak," ujar pria paruh baya itu kepada Suara Merdeka, Rabu (23/1).
Layaknya orang Jawa, Nakim selalu mengaku "beruntung". Buktinya ia tidak pernah mengeluh dengan beratnya pekerjaan yang harus dijalani. Meski berjalan puluhan kilometer dengan beban berat ia toh masih bisa bertahan sampai setua itu. Bayangkan, pekerjaan itu sudah ia lakoni selama 40 tahun, yakni sejak ia masih muda sampai lanjut usia.
"Dulu dari rumah sampai sini kayu bakar ini masih dipikul. Sekarang saja sudah menggunakan sepeda," ujar bapak delapan anak itu.
Meski ia masih berjalan kaki, namun sepeda cukup meringankan pekerjannya. Beratnya berbagai jenis kayu seperti akasia, nangka, dan jambu yang biasa ditanggung pundak kanan dan kirinya secara bergantian, sudah diambil alih tenaga sepeda. Usai menjual seluruh kayu bakarnya, ia pun bisa pulang naik sepeda itu.
Beratnya pekerjaan itu membuat Nakim tidak setiap hari berjualan kayu bakar ke kota. Tidak pasti, katanya. Terkadang seminggu sekali, namun pernah juga selama sebulan ia tidak berjualan sama sekali.
"Kalau jualan pasti lakunya. Meski pun terkadang dengan banting harga," imbuh kakek yang mengaku memiliki 21 cucu ini.
Delapan ikat kayu bakar ia tawarkan secara borongan yakni Rp 55.000. Jadi jika dirata-rata satu ikat kayu bakar ia jual dengan harga Rp 6.875.
Nakim tidak sendirian. Di desanya terdapat sekitar 10 orang yang juga menjual kayu bakar. Mereka biasa mangkal di tidak jauh dari perempatan tugu lawet di depan SMP Masehi. Sebelumnya mereka berjualan di lokasi yang kini di bangun gedung bank Danamon. Karena lokasi tersebut dibangun, mereka pindah bejualan di tepi jalan.
Sukijan (70) penjual kayu lainnya, mengatakan biasanya ia menunggu pembeli sampai sekitar pukul 11.00. Ia juga membenarkan, selama ini, kayu bakar pasti laku, meski dengan banting harga sekali pun. Sebab, tidak mungkin untuk membawa pulang kembali kayu bakar dagangannya.
"Pernah kayu bakar yang sebenarnya seharga Rp 38.000, ditawar Rp 20.000 saya kasihkan karena benar-benar tidak ada pembeli lagi," katanya sembari menerawang.
Tak ingat, kapan ia pertama kali berjualan kayu bakar. Yang jelas dari sejak belum kawin sampai memiliki lima anak dan 13 cucu ia masih setia menjalankan pekerjaanya sebagai penjual kayu bakar. Hasil penjualan kayu ia gunakan untuk membiayai kebutuhan keluarga dan pertanian.
Adanya kelangkaan minyak tanah, menurut Sukijan tidak ada pengaruh banyak terhadap penjualan kayu bakar. Harganya juga tidak ikut naik. Karena pengguna kayu bakar sudah tertentu orangnya. Sedangkan, penjualan paling ramai pada bulan besar. "Mungkin kalau sudah tidak ada lagi yang jual minyak, kayu bakar akan jadi mahal," katanya masih menggunakan kayu bakar untuk keperluan memasak.

Sunday, April 13, 2008

Kejaiban Alam di Goa Barat

KEBUMEN bukan hanya memiliki keindahan landscape yang bisa disaksikan dari permukaan bumi. Sebagai kawasan karst, kabupaten itu juga menyimpan berbagai keindahan yang terletak di bawah tanah. Keindahan itu tidak lain tersimpan di tengah kegelapan abadi yakni di dalam goa.

Goa Jatijajar di Desa Jatijajar dan Goa Petruk di Desa Candirengga Kecamatan Ayah adalah dua yang sudah populer dan sudah menjadi ikon wisata. Banyak lagi goa yang mulai dikembangkan seperti Goa Simbar dan Goa Darat di Kecamatan Buayan. Ada satu goa yang lokasinya tidak jauh dari Jatijajar yang menyimpan keindahan alam di dalam perut bumi. Namanya Goa Barat.

Goa Barat terletak di Blok Karangpucung Dusun Pulamarta Desa Jatijajar, Ayah, Kebumen. Goa itu dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum, menempuh jarak 42 kilometer dari Kota Kebumen atau 21 kilometer dari Gombong. Lokasi mulut goa itu tidak jauh dari perkampungan. Dengan berjalan kaki, hanya dibutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai di mulut goa tersebut.

Memasuki mulut goa yang cukup kecil, caver/penelusur sudah disambut stalakmit-stalaktit yang masih hidup di dinding atas goa. Namun jangan lupa untuk berhati-hati. Yang terpenting, saat menelusuri alam bawah tanah harus didampingi orang lokal sebagai pemandu. Karena kondisi medan yang cukup berat mewajibkan setiap penelusur membawa peralatan khusus ini. Medan yang sempit, gelap, dan berlumpur perlu membawa alat-alat demi menunjang kegiatan dapat menjamin keselamatan.

Peralatan caving yakni peralatan pribadi dan peralatan single rope technique (SRT), seperti helm speleo(helm khusus untuk penelusuran goa), cover all (pakaian yang dirancang khusus untuk penelusuran goa),descender (alat bantu turun dengan tali, seperti capstand, whale tail, dan rack). Untuk bisa melihat keindahan itu, perlu alat penerangan seperti lampu baterai maupun pitromak.
Jika terus menelusuri sampai kedalaman sekitar 200 meter akan ada fenomena alam yang sangat menakjubkan. 

Di dalam goa itu ternyata terdapat sebuah aliran sungai bawah tanah dengan air yang jernih. Air tersebut muncul dari tanah yang mengalir sepanjang 1.000 meter lalu masuk kembali ke dalam tanah. Balai Pengelolaan Sumberdaya Air (PSDA) Progo Bogowonto Luk Ulo (Probolo) pernah mengukur kapasitas sumber air di di goa tersebut mencapai 255 liter/detik.

Sampai di sungai tersebut, perjalanan semakin berat. Hanya mereka yang memiliki keahlian dan peralatan yang memadai saja yang bisa melanjutkan perjalanan. Jika hanya menggunakan peralatan sederhana lebih baik merasa puas lalu kembali daripada mengancam keselamatan.

Riyono (49) mandor hutan yang biasa memandu penelusur goa mengatakan, panjang Goa Barat diperkirakan mencapai 50 kilometer. Ujung goa itu diperkirakan berada di laut kawasan Karangbolong. Untuk menelusuri diperkirakan membutuhkan waktu 10 hari.

Ia sendiri mengaku sudah pernah menelusuri sampai tujuh hari di dalam goa, pada tahun 2002. Saat itu bersama beberapa warga setempat, memandu empat caver dari Perancis dan Belgia. Tahun 2005 ia kembali memandu empat caver dari Jepang. Namun mereka hanya bertahan selama empat hari saja. "Mereka mengadakan penelitian tentang goa," katanya.

Dalam perjalanan itu, ia menyaksikan keindahan tiga air terjun yang ada di dalam goa. Ketiga air terjun tersebut berada agak berjauhan air terjun pertama 19 meter, kedua 27 meter dan yang ketika 34 meter.

"Benar-benar indah. Karena di dalam tanah kok ada seperti itu,"imbunhya sembari menyebutkan ia juga sering memandu para mahasiswa pencinta alam (Mapala) dari Bandung dan Yogyakarta untuk menelusuri Goa Barat.
Adapun, nama Goa Barat itu, kata Riyono dalam bahasa jawa berarti angin. Dinamakan goa berat karena di goa itu terdengar desisan angin yang keluar dari air yang akan keluar. Suara angin tersebut kemudian oleh warga setempat dijadikan nama goa yakni Goa Barat.

PDAM Kebumen sebenarnya merencanakan akan menggunakan air sungai dalam tanah itu untuk penyediaan air bersih. Namun karena sebagian warga menolak proyek investasi senilai Rp 9,69 itu akan diajukan kembali pada tahun 2009. "PDAM sebenarnya hanya mengambil 50 liter/detik untuk melayani pelanggan di Ayah, Rowokele Kebumen dan Tambak Banyumas," ujar Direktur PDAM Drs Prabowo MM.