About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Sunday, May 25, 2008

Konser Letto

RIBUAN penonton dan Lettoholic (fans berat Letto,red) yang tumpah ruah di Stadion Chadradimuka, Kebumen seakan tidak rela menerima kenyataan bahwa “Sebelum Cahaya” menjadi penutup konser bertajuk A Mild Live Letto Live in Concer, kemarin. Namun para kawula muda itu tak bisa berbuat apa-apa saat konser itu benar-benar berakhir.

Ya, konser yang menampilkan grub band asal kota gudeg Yogyakarta, Letto itu benar-benar mampu memuaskan hasrat bermusik remaja Kebumen. Tidak kurang dari dua jam, Letto tampil perkasa membawakan 12 lagu tanpa jeda.

Tembang Truth, Cry, and Lie, single hit album pertama mereka dengan judul sama mengawali konser grub band yang digawangi Noe (vokal), Patub (gitar), Arian (bas), dan Dedi (drum) kali pertama di Kebumen. Tanpa banyak basa-basi usai lagu pembuka, grup musik yang bermarkas di Kadipiro itu langsung kembali unjuk kebolehan dengan tembang Kau, Aku dan Obsesiku. Jingkrak penonton tak terelakkan mengikuti racikan irama yang enerjik.

Aksi Noe yang dibalut jaket jeans biru dipadu celana jeans biru ketat benar-benar menyihir ribuan penonton yang memadati stadion tersebut. Terlebih saat Letto melantunkan lagu Sampai Nanti Sampai Mati dan My Liberty Good Bye yang mengajak penonton tidak berputus asa ketika ditinggal pacarnya. Siraman air dari pemadam kebakaran sedikit mampu menyegarkan kembali untuk berjingkrak.

Bukan Letto jika tak bisa meredam kegilaan para penggemarnya. Dengan suara yang melankolik jauh dari kesan cengeng, Noe yang memiliki nama asli Sabrang Mowo Damar Panuluh ini
membuat para penonton larut ikut menyanyikan lagu-lagu seperti Sandaran Hati juga Love of My Life milik band legendaris Queen.

Memang, kekuatan lirik dan musikalitas Letto menjadi magnit setiap ia tampil. Lihat saja, deretan tembang Permintaan Hati, Bunga di Malam Itu, Sampai Nanti Sampai Mati, dan tak terkecuali Ruang Rindu memiliki lirik yang puitis dan filosofis. Lagu yang terakhir itu begitu akrab dengan telinga penonton karena pernah menjadi soundtrack sebuah sinetron di televisi.

Sampai pamungkas, konser berjalan aman. Sebanyak 200 aparat kepolisian diterjunkan untuk menjamin keamanan. Sweeping ketat terhadap penonton yang akan masuk ke lokasi pertunjukan dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Hasilnya, seorang penonton diamankan setelah kedapatan membawa beberapa VCD porno dan sebotol minuman keras di dalam tasnya.

Friday, May 23, 2008

Misteri Batu Pocong di Goa Simbar

BAGIAN barat daya Kabupaten Kebumen cukup dikenal dengan alam perbukitan yang indah. Wisata alam seperti wisata pantai atau geowisata goa-nya juga cukup tersohor. Di perut pegunungan itu juga terkandung potensi tambang batuan alam seperti marmer, fosfat, batu gamping dan andesit yang bernilai tinggi. 

Selain memiliki Goa Jatijajar dan Karangduwur, Kabumen ternyata memiliki potensi keindahan yang luar biasa. Pesona yang masih bersembunyi di balik sunyinya perbukitan di Desa Rogodadi Kecamatan Buayan itu bernama Goa Simbar. Seperti goa yang lain, Goa Simbar, terletak di balik lipatan kawasan pegunungan yang menarik dikunjungi wisatawan yang gemar tantangan alam. 

Memang di bandingkan Jatijajar dan Karanguduwur, Goa Simbar belum banyak dikenal orang bahkan masih tampak alami. Tidak jauh dari Goa Simbar terdapat dua goa lagi yang tak kalah indah, yakni Goa Darat dan Goa Kali. Namun kedua goa yang terakhir tidak terlalu dalam. Hingga kini obyek wisata tersebut masih dikelola pemerintah desa setempat melalui kerjasama dengan Perhutani.
"Goa ini sudah ada sejak lama, tapi baru sekitar dua tahun ini dikembangkan," ujar Mbah Marto (77) juru kunci goa, kemarin.
Goa menjadi tujuan menarik dengan berbagai keistimewaan yang tak dimiliki obyek wisata lainnya. Untuk menjangkau goa ini, diperlukan waktu sekitar setengah jam, mendaki hampir satu kilometer perbukitan. Namun pengujung lebih dimudahkan karena, secara swadaya, masyarakat setempat mengeraskan jalan menuju goa dengan cor-coran semen. Namun upaya itu berhenti di tengah jalan karena terganjal dana.

"Selain itu, sejak dua tahun ini pengujung sudah bisa masuk ke goa, karena sudah dikeduk dengan alat berat selama 21 hari," ujar Satiyah (37) warga setempat.
Sesampai di goa, tanah berlumpur dan genangan air, menyulitkan langkah kaki untuk beranjak. Perlu diwaspadai binatang liar dalam air dan banyaknya runtuhan stalagtit dan stalagmit yang runcing ujungnya. Sejumlah peringatan ditulis agar pengujung tidak membawa pulang batu-batu di dalam goa.

Di kedalaman sekitar tujuh meter dari mulut goa, pengunjung dibuat terkagum-kagum dengan pemandangan stalagtit dan stalagmit yang menempel hampir di seluruh dinding goa. Decak kagum muncul begitu menyaksikan sebuah pilar besar yang terus tumbuh di dalam goa. Garis tengahnya sekitar satu meter seolah sebagai penahan atas goa. Semakin ke dalam semakin mempesona pemandangan Goa Simbar.
Ada sebuah tempat dengan beberapa pilar tegak lurus sebesar tubuh manusia. Penduduk setempat menjulukinya dengan batu pocong. Pilar-pilar ini memang mirip pocong. Di dalam goa juga ditemukan anak sungai. Menurut warga, ujung goa ini memang berakhir di sebuah sungai, namun sulit untuk menjangkaunya tanpa perlengkapan pengamanan. 

"Setahu saya, hingga saat ini belum ada orang yang bisa sampai pada ujung goa tersebut," karanya.
Belum lama ini, ujar Satiyah, rombongan mahasiswa dari Purwokerto berjumlah delapan orang mencoba menembus ujung. Selama dua hari di dalam goa mereka tidak bisa menembus dan akhirnya kembali lagi. Bagian paling menantang dalam Goa Simbar adalah menuruni jurang terjal berbatu dengan ketinggian sekitar 4 meter. Terpaksa berjalan merambat, berpegangan pada dinding goa, karena batu karang tempat kaki menapak, di beberapa bagian runcing dan licin. Latar belakang sejarah ditemukannya goa ini, tak ada keterangan pasti. Sehingga pengunjung hanya bisa menikmati keindahan yang tersimpan di dalam goa saja.
"Dulu yang menemukan orang merumput. Warga juga sudah tahu sejak lama," ujarnya.
Sementara itu, untuk mendukung fasilitas obyek wisata tersebut secara pribadi kepala desa Rogodadi Idah Muyono membangun sebuah kolam renang yang tidak jauh dari lokasi naiknya goa. Kolam tersebut sampai saat ini kolam masih dalam proses pembangunan.

Thursday, May 15, 2008

Waduk Wadaslintang

MENGUNJUNGI waduk Wadaslintang, sudah pasti Anda akan disambut hamparan air yang tenang dan keindahan landscape yang membentang. Selain itu yang pasti dijumpai ketika plesir ke objek wisata di perbatasan Kebumen dan Wonosobo itu adalah banyaknya orang yang serius memancing di pinggir waduk.

Ya, ratusan pemancing di lokasi itu memang ada setiap saat. Saat liburan atau pada hari biasa, dapat dipastikan selalu ada yang memancing ikan. Seolah tidak mengenal waktu, selama 24 jam mereka selalu berada di waduk tersebut.
Ternyata pemancing ikan di tempat itu, bukan hanya mereka yang sekadar hobi. Melainkan ada yang sudah menjadi mata pencaharian sehari-hari. Di lokasi itu, pancing murahan seharga ribuan sampai ratusan ribu itu beradu cepat mendapatkan ikan.

Ada yang hasil pancingan itu dijual untuk kebutuhan. Namun ada pula yang sekadar iseng untuk oleh-oleh keluarga. Kendaraan yang dibawa ke lokasi pemancingan itu pun berfariasi. Mulai yang hanya jalan kaki dari rumahnya, sampai ada yang mengendarai
mobil mewah.

Sadiyo (35) pemancing yang berasal dari Desa Sumberejo, Kecamatan Wadaslintang, Wonosobo misalnya mengaku memancing sebagai pekerjaan sehari-hari. Ia menjual hasil pancingan yang ia dapatkan, berupa antara lain ikan nila, bawal, wader, gurami, dan tawes.

"Harganya Rp 9.000/kg," ujarnya saat menawarkan ikan nila hasil pancingannya kepada sejumlah pengujung, kemarin.

Andree (27) pemancing lain mengaku betah duduk berlama-lama menunggu kailnya. Bersama puluhan pemancing lainnya, dia bisa bisa seharian duduk di pinggir waduk. Untuk melindungi dari panas, ia pun berbekal payung."Saya juga membawa bekal dari rumah," ujarnya mengaku setiap hari memancing ia mendapatkan ikan antara 4-5 Kg.

Berbeda dengan Sunarto (45), ia rela datang dari Purwokerto hanya untuk memuaskan hobi memancingnya. Pertama kali ia tahu lokasi pemancingan itu dari teman kerja
nya dari Kebumen. "Di sini memang ibarat surga bagi orang yang hobi memancing," katanya menyebutkan hasil tangkapanya ia bawa pulang untuk oleh-oleh keluarga.

Yang lebih menarik lagi, bagi penghobi pemancing yang tidak membawa makanan sejumlah warung yang berada di kawasan itu menyediakan berbagai macam makanan. Menu utama yang cukup spesial adalah nila goreng dan pepes nila yang masih segar.

Salah satu warung yang menyediak
an menu tersebut adalah milik Umi Ariningsih (37). Tak tanggung-tanggung warung tersebut melayani selama 24 jam non stop. Ibu anak dua itu megaku, ikan-ikan yang ia jual merupakan ikan hasil tangkapan para pemancing. Ikan tersebut dijamin segar karena merupakan ikan liar, bukan dari keramba. Jika diibaratkan ayam, ikan hasil pancingan merupakan ayam kampung, dagingnya lebih enak, sedangkan ikan yang dikeramba ibarat ayam lehor," katanya.

Malik (27) pengujung asal Kebumen mengaku tertarik mengunjungi
area pemancingan tersebut. Ia mengaku sangat menikmati santap siang dengan menu nila goreng dipadu dengan sayur sop sembari memandang ketenangan waduk tersebut.***

Tuesday, May 13, 2008

Ceng Beng

PARSDI (63) warga RT 2 RW 02 Kelurahan/Kecamatan Pejagoan, Kebumen cukup sibuk bersamaan warga keturunan Tionghoa melaksanakan hari raya Qing Ming (Ceng Beng). Apa yang membuat bapak delapan anak itu sibuk? Tidak lain karena jabatan warisan yang dipegangnya yakni menjadi juru kunci di bong Cina yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Ya, sejak orang tuanya meninggal tahun 1990, saat itulah Parsidi secara resmi menggantikan posisi yang telah bertahun-tahun diduduki orang tuanya. Sebagaimana bapaknya Nuri yang menuruni jejak kakeknya menjadi juru kunci kuburan Cina . "Sejak kecil saya sudah akrap di pekuburan Cina, karena sering ikut membantu bapak," ujar Parsidi di sela-sela membersikan salah satu makam keramik, Sabtu 5 April lalu.
Dari sisi bahasa Qing berarti bersih dan ming berarti terang. Namun secara umum Qing Ming dimaknai sebagai hari raya membersihkan kuburan leluhur yang jarang dikunjungi selama setahun. Dalam tradisi Jawa, tradisi semacam itu disebut unggahan, nyadran, ziarah, yang biasa dilakukan pada bulan Ruwah (Sya'ban) menjelang bulan Puasa. Di bong Cina yang berada di perbukitan Widoro Payung itu diberlakukan sistem buka tutup pada Ceng Beng-an tahun ini, yakni dibuka pada 21 Maret dan ditutup pada 5 April.

Selama waktu itu, banyak warga keturunan yang datang ke kuburan leluhurnya yang disemayamkan di bukit tersebut. Mereka menyewa orang-orang setempat membersihkan kuburan yang umumnya berbentuk bangunan dari keramik. "Paling banyak pada bulan Maret dan April kayak saat ini. Selain dari Kebumen bnyak yang datang dari luar kota seperti Yogyakarta, Surabaya, dan Jakarta," ujar Parsidi.
Banyak versi terkait awal mula tradisi Cina itu. Kisah yang cukup terkenal adalah kisah menabur kertas lima warna. Konon setelah peperangan, Kaisar Liu Bang atau lebih dikenal sebagai Gao Zu naik tahta, sedih karena orang tuanya meninggal pada masa peperangan sehingga tidak bisa menikmati kehidupan kerajaan. Ketika pulang ke kampungnya, ia tidak lagi menemukan kuburan orang tuanya karena banyak kuburan yang terlantar.

Akhirnya ia menabur kertas lima warna ke atas langit dengan harapan jika ada selembar yang tersangkut di batu nisan, dan tidak tertiup oleh angin kuburan itu akan dianggap sebagai kuburan orang tuanya. Sejak saat itu orang Cina yang membersihkan kuburan pada perayaan Qing Ming juga menabur kertas lima warna.

Namun demikian ia mengakui dari sekitar 3.000 makam yang ada di bong tersebut, tidak ada separoh yang masih dikunjungi oleh familinya. Sisanya banyak yang sudah tidak lagi dikunjungi. Selama 18 tahun dipercaya menjadi juru kunci bong Cina, Parsidi paham betul mana-mana makam yang secara rutin di ziarahi dan mana yang jarang diziarahi. Termasuk tidak sedikit kuburan yang sudah tidak punya saudara.
"Pernah ada yang sudah 25 tahun baru datang ke sini. Sampai mereka lupa letak makam leluhurnya," imbuhnya sembari menyebutkan pengakuan orang itu ia diberi syarat untuk membersihkan kuburannya.

Ada kecenderungan semakin banyak warga keturunan Tionghoa yang mulai meninggalkan tradisi Ceng Beng. Banyak hal yang menyebabkan hal itu, di antaranya tempat tinggal yang jauh atau sudah tidak ada famili di Kebumen. Belum lagi, banyak keturunan Tionghoa yang tidak lagi menganut Tri Dharma baik Konghucu, Budha maupun Tao. Banyak yang sudah menganut agama lain seperti Kristen dan Katolik serta Islam.

"Bagi orang Kristen berziarah tidak lebih dari sekadar membersihkan kuburan. Selain itu dalam ziarah orang Kiristen tidak ada upacara persembahan, doa dan mendoakan kerabat yang sudah meninggal," tulis JS Kwek dalam bukunya Mitologi Cina dan Kisah Alkitab.

Dengan menurunnya jumlah warga yang mendatangi kubur leluhurnya, berdampak buruk bagi warga sekitar yang menyediakan jasa pembersih kuburan. Penghasilannya mereka pun menurun sebab jumlah uang yang mereka terima dari orang-orang yang datang menjadi berkurang. Pada saat ramai kurang lebih 100 orang yang mencari rejeki dengan menjadi jasa pembersih kubur. "Sebagian besar orang sini. Tapi ada pula orang desa lain," katanya.

Penurunan pendapatkan juga dialami Parsidi. Sebab, sebagai juru kunci ia hanya mendapatkan bayaran Rp 50.000/bulan dari yayasan. Sisanya ia mendapatkan uang jika ada orang yang memberinya setelah meminta membersihkan kuburan atau menguruskan penguburan. Uang tambahan juga ia dapat saat ada ahli waris yang akan membangun kuburan.
"Pada prinsipnya, saya tidak pernah minta. Kalau dikasih ya diterima kalau tidak ya tidak apa-apa," katanya.

Monday, May 12, 2008

Gagal Ginjal (2)

NGATIWON (42) masih teringat betapa terkejutnya, saat ia divonis dokter terkena gangguan ginjal 27 tahun silam. Pada waktu itu, warga Dusun Dukuhtawon Desa Kuwarisan, Kebumen itu hanya pasrah. Bahkan, karena ketiadaan biaya, ia menjauh dari dokter dan memilih menggunakan ramuan tradisional.

"Pada waktu itu bisa sembuh, tapi beberapa waktu kemudian kumat lagi," ujarnya menceritakan perihal penyakitnya.

Puluhan tahun ia menjalani hidup berteman dengan kesakitan yang berkepanjangan. Ia tak tahu, kapan waktu kumat datang. Jika sudah tiba waktunya ia pun didera kesakitan. Ketenangan keluarganya pun lenyap saat ia kambuh. Beruntung, istrinya Misnah (42) setia menemani. Misnah selalu ada saat ia membutuhkannya.

Kini Natiwon bisa tersenyum. Dokter menyatakan dirinya sembuh. Ceritanya, dua bulan sebelum puasa lalu, penyakit yang dideritanya kumat. Lalu ia dibawa ke RSUD Kebumen. Setelah tiga hari di rumah sakit itu, dokter merekomendasikan untuk dirujuk ke PKU Muhammadiyah Gombong. Karena di rumah sakit itu belum ada instalasi Heamo Dialisis (HD).
"Dokter bilang saya harus cuci darah, karena racunnya sudah menyebar," ujar Ngatiwon mengaku awalnya ia tdak mau mengingat biayanya yang mahal.

Akhirnya pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bor sumur itu menjalani cuci darah dengan menggunakan Kartu Askeskin, tentunya setelah melewati jalan panjang mengurus segala persyaratan yang diperlukan. Beruntung, tiga hari menjelang lebaran, setelah 15 kali melakukan cuci darah ia dinyatakan sembuh.

"Ini mukjizat. Sekarang saya tidak sembarangan lagi makanan dan minuman dan obat-obatan," ujarnya mengaku dulu sembarangan mengonsumsi obat dan minuman.

Wakil Ketua Bidang Pelayanan Medis PKU Muhammadiyah Gombong, dokter M Irbabul Lubab menyebutkan sejumlah faktor yang menyebakan risiko gagal ginjal antara lain budaya mengkonsumsi obat sembarangan, mempunyai penyakit kencing manis, darah tinggi tak terkontrol. Selain itu perokok berat juga mempunyai potensi mengalami gagal ginjal.

Menurut dokter Irbabul Lubab, sebenarnya di Kebumen terdapat banyak pasien gagal ginjal yang tidak melakukan cuci darah. Hal itu dikarenakan ketiadaan biaya. Rata-rata mereka berasal dari keluarga yang tidak mempunyai kartu Askeskin.

"Mereka berasal keluarga yang dalam kategori nanggung. Tidak miskin sekali, tapi tidak kaya. Sehingga tidak memiliki kartu Askeskin," ujar dokter Lubab didampingi Bagian Humas dan Pemasaran Supriyadi.

Hal itu, kata dia, patut menjadi perhatian pemerintah, termasuk pemkab Kebumen. Mungkin mereka bisa diberikan subsidi dari APBD agar mereka bisa berobat di rumah sakit. Di sisi lain, ia mengimbau kepada masyarakat untuk tidak sembarangan dalam mengkonsumi obat-obatan. Sebab, mengkomsumsi obat sembarang berisiko tinggi mengakibatkan gagal ginjal. "Jangankan yang sudah miskin, orang kaya pun bisa menjadi miskin karena penyakit ini," ujarnya menyebutkan tanpa subsidi biaya cuci darah memang cukup tinggi yakni Rp 750.000 sekali cuci darah.


Gagal Ginjal (1)

"Bersinarlah bulan purnama, seindah serta tulus cintanya, bersinarlah terus sampai nanti, lagu ini ku akhiri."

TEPUK tangan bergemuruh menyambung bait tarakhir lirik lagu "Andai Kau Datang" yang pernah dibawakan Koes Plus dan dipopulerkan kembali oleh Ruth Sahanaya, di Hotel Candisari, Kebumen, baru-baru ini.

Rugiyaningsih (28) sang penyanyi pun tersenyum puas saat suaranya yang diringi solo organ itu mampu menghibur hadirin yang hadir.
Gadis asli Gombong kelahiran tahun 1979 itu pun duduk kembali setelah memberikan mikrofon kepada petugas.

Sekilas perempuan tamatan SMA Negeri Gombong itu tidak ada yang berbeda dengan orang lain. Siapa sangka ia sudah divonis dokter gagal ginjal sejak hampir setengah tahun lalu. Kini darahnya setiap seminggu dua kali yakni Senin dan Kamis harus dibersihkan melalui cuci darah di Instalasi Heamo Dialisis di PKU Muhammadiyah Gombong. Sebab di Kebumen, rumah sakit itu satu-satunya yang sudah mempunyai alat tersebut.

"Pertama kali ketahuan gagal ginjal pada Juli 2007 lalu. Berapa kali cuci darah saya sudah lupa," ujar Giyani sela-sela acara ramah tamah keluarga besar pasien Heamo Dialisis.

Berat memang bagi empat bersaudara itu menjalani hidup dengan kondisi tersebut. Namun demikian ia tetap semangat bisa melalui rintangan hidupnya. Hanya saja, setelah divonis, Giyani yang pernah aktif di LSM bidang penelitian itu berat hati mengundurkan diri. "Tidak kuat duduk berlama-lama," imbunya.

Kini sehari-hari ia lebih banyak mengisi waktu di warung yang dibukanya. Baginya, apapun kondisinya hidup itu harus terus berlanjut. Ia juga tidak terlalu bersedih, karena ia tidak sendirian. Ada sekitar 31 pasien Askeskin yang melakukan cuci darah di PKU yang hadir dalam kesempatan itu.
"Dengan berkumpul seperti ini, rasanya ada semangat untuk meneruskan hidup," ujarnya.

Ia bersyukur pemerintah masih memberikan subsidi cuci darah bagi orang tidak mampu. Bagaimana mungkin ia mampu membayar jika tidak menggunakan Askeskin karena mahalnya biaya cuci darah.
"Bagaimana kuat jika sekali cuci darah sekitar Rp 750.000," katanya.

Wakil Direktur Bidang Pelayanan Medis dokter M Irbabul Lubab mengatakan, tujuan digelarnya ramah tamah itu salah satu menjadi terapi psikologis para pasien gagal ginjal. Bahwa mereka menyadari tidak sendirian. "Dengan demikian timbul semangat terus berobat menuju kesembuhan," ujarnya.

Sebelumnya, penanggung jawab Instalasi HD, dokter H Sahid Hidayat SpPD menerangkan ginjal
merupakan organ yang mempunyai pembuluh darah yang sangat banyak (sangat vaskuler). Tugasnya menjadi filter atau membersihkan darah.

Aliran darah ke ginjal kemudian disaring menjadi cairan filtrat. Cairan filtrat ini diproses dalam Tubulus sehingga akhirnya keluar dari kedua ginjal menjadi urin. "Kotoran tubuh dalam bentuk gas dibuah melalui nafas, padat melalui anus dan cair dalam bentuk urin," katanya.

Selain sebagai sistem saringan, membuang ”sampah” ginjal berfungsi menjaga keseimbangan cairan tubuh, memproduksi hormon yang mengontrol tekanan darah, produksi Hormon Erythropoietin yang membantu pembuatan sel darah merah dan mengaktifkan vitamin D untuk memelihara kesehatan tulang.

"Jika terjadi kerusakan ginjal, selain cangkok ginjal fungsi ginjal akan digantikan dengan mesin HD," ujarnya. (bersambung)

Gerabah Gebangsari

Bagian I

KUSMINI (52) menyeka keringat di dahi dengan tangan kirinya. Sementara matanya fokus dan tangan kanannya yang masih mengolah tanah liat pada alat putaran di hadapannya. Setelah bentuk yang diinginkan selesai, perempuan paruh baya itu lalu menjemurnya di halaman rumah bersama buah tangannya yang lain.


Begitu setiap hari Kusmini melakukan pekerjaannya di serambi rumahnya di Desa Gebangsari, Kecamatan Klirong, Kebumen. Perempuan yang tinggal di RT 3 RW 1 Dusun Krajan itu merupakan salah satu dari perajin gerabah yang terdapat di desa itu. Puluhan ibu rumah tangga lainnya juga sama, memproduksi kerajinan gerabah di rumah mereka masing-masing.

Keberadaan kerajinan gerabah di desa yang kini dipimpin Kades Parluji itu sudah ada sejak puluhan tahun silam. Keahlian membuat kerajinan dari tanah liat itu mereka peroleh secara turun temurun. Karena orang tua mereka menjadi perajin gerabah, secara otomatis sejak kecil mereka sudah bersinggungan dengan kerajinan tersebut.

Kusmini misalnya, sejak umur belasan tahun ia sudah dikenalkan membuat gerabah. Sepulang sekolah ia membantu orang tuanya membuat gerabah dari tanah liat. Terhitung sejak kelas enam ia sudah secara total membuat gerabah.

"Awalnya cuma melihat, mencoba lama-lama menjadi sudah biasa," katanya saat ditemui Suara Merdeka di rumahnya, kemarin.


Sampai memiliki rumah tangga sendiri, kehidupan istri Darwito (60) tidak jauh dari membuat gerabah. Ia pun bertekad melanjutkan usaha turun temurun itu agar tidak punah. Hingga memiliki empat orang anak dan seorang cucu, perempuan itu masih cekatan mengolah tanah liat membantuknya menjadi berbagai gerabah.


"Sudah turun temurun, Mas. Tapi tidak tahu siapa yang pertamaka kali mengembangkan," ujarnya saat ditemui Suara Merdeka, kemarin.


Di rumahnya itu, Kusmini dibantu anaknya Winda (24) dalam membuat berbagai macam bentuk gerabah. Selepas lulus SMA dan menikah, anak perempuannya itu juga turut membantu membuat gerabah seperti tungku, padasan, blengker, pot bunga, jambangan, kendil, cowek, jubek dan aneka gerabah yang terbuat dari tanah lait.


Setelah terkumpul banyak, gerabah yang sudah dikeringkan itu kemudian dibakar menggunakan kayu. Dalam seminggu pembakaran bisa dilakukan sekali atau dua kali. Itu tergantung dengan jumlah gerabah yang diproduksi. Jika cuaca panas, bisa dimungkinkan dalam seminggu melakukan pembakaran dua kali. Namun saat cuaca mendung, apalagi hujan seminggu hanya bisa membakar sekali saja.

"Jika dirata-rata seorang bisa memproduksi 20 gerabah per hari," imbuhnya.

Selama ini, hasil gerabah yang sudah jadi masih dipasarkan di wilayah Kebumen dan sekitarnya. Biasanya ada pengepul yang membeli gerabah dari perajin untuk dijual kembali di sejumlah daerah. Berapa pun jumlah gerabah yang produksi bisa dipastikan semuanya terserap pasar.


Namun demikian, tingkat kesejahteraan para perajin jauh dari harapan. Sebab, selama ini pendapatan yang mereka dapatkan tergolong kecil. "Sebulan ya paling hanya bisa dapat Rp 300.000," imbuhnya mengaku tidak membuat gerabah saja tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga.


Lihat saja, betapa murahnya harga gerabah di tingkat perajin. Rata-rata satu gerabah harganya berkisar antara Rp 500- Rp 3.000/buah. Gerabah cobek dari tanah liat hanya dijual Rp 500, kendil dan blengker masing-masing Rp 750, padasaan Rp 3.000, pot bunga Rp 1.000, genuk Rp 3.000.

"Itu saja sudah naik, dulu lebih murah lagi," katanya.

Pada umumnya warga yang masih aktif membuat kerajinan adalah para ibu rumah tangga. Sutirem (60), Saini (55), dan Karsinah (23) adalah beberapa perempuan yang juga memproduksi gerabah. Sementara tugas utama laki-laki hanya mengambil tanah yang dijadikan bahan baku. Selebihnya mereka lebih memfokuskan diri menggarap sawah.


"Sektor pertanian masih menjadi tumpuan utama," kata sejumlah perajin mengeluhkan harga-harga kebutuhan pokok yang semakin tak terjangkau.


Bagian II

SEBUAH gapura dengan hiasan bermotif kerajinan gerabah menyambut setiap kali seorang memasuki wilayah Desa Gebangsari Kecamatan Klirong, Kebumen. Kendati tidak terlalu mencolok, namun gapura tersebut cukup menjadi penanda bahwa kerajinan gerabah menjadi ikon desa tersebut.

Memang kerajinan gerabah di Desa Gebangsari belum bisa disejajarkan dengan sentra kerajinan gerabah di desa wisata Kasongan di Kabupaten Bantul DIY. Itu karena penggarapan yang ada di Desa Gebangsari masih sangat sederhana. Bahkan bisa dikatakan secara turun temurun kerajinan gerabah dari tanah liat tersebut belum mendapatkan sentuhan inovasi yang berarti.


Maklum jika kemudian, produk yang dihasilkan tidak mampu bernilai jual tinggi. Sebab gerabah yang dihasilkan hanya untuk keperluan dapur dan jauh dari tujuan karya seni. Sejumlah perajin yang ditemui Suara Merdeka pun masih berpikir sederhana. Mereka sudah puas membuat berbagai gerabah untuk keperluan dapur seperti tungku, padasan, genuk, dengan harga berkisar dari Rp 500 - Rp 5000.


Hasil produksi mereka pun hanya sebatas diambil para pedagang keliling yang selanjutnya dijual ke pasar Gombong, Karanganyar atau Pasar Tumenggungan Kebumen. Alih-alih bercita-cita akan menjual ke luar negeri, bisa bertahan memproduksi saja mereka sudah bersyukur.

"Dari dulu sampai sekarang ya begini saja, Mas" ujar Sukimin (45) salah satu perajin.

Dengan sumber daya manusia (SDM) yang belum memadai, sulit bagi Sukimin dan puluhan perajin gerabah di desa itu untuk berpikir memajukan kerajinan yang telah ada secara turun temurun tersebut. Untuk itu, menjadi kewajiban dari pemerintah daerah terutama dinas terkait untuk memberikan perhatian.

"Kepenginnya ya bisa menjual dengan harga tinggi. Tapi bagimana caranya kami tidak tahu," imbuhnya.

Dikatakanya, selama ini ia bersama perajin lainnya belum pernah mencoba membuat gerabah dengan bahan baku lain seperti keramik dan sebagainya. Sebab, bertahun-tahun yang ia buat hanyalah gerabah dari tanah liat yang diambil dari Petahanan dan dicampur dengan pasir selatan. Inovasi yang dilakukan hanyalah membuat efek warna merah, pada sentuhan terakhir. Yakni dengan memberi pewarnaan dari tanah merah yang dambil dari wilayah pegunungan.

"Hasilnya jminim sekali jika dibanding dengan tenaga yang dibuang," tukasnya.

Belum lagi, kenaikan harga kayu bakar membuat perajin mengeluh. Keuntungan yang didapat berkurang gara-gara habis untuk membeli kayu bakar. Apalagi saat cuaca tidak menentu, banyak gerabah rusak. Hujan yang turun secara tiba-tiba menyulitkan perajin memindahkan produknya ke tempat yang teduh.


Para perajin berharap, Pemkab Kebumen memberi pembinaan secara intensif kepada para perajin gerabah utamanya yang masih muda. Dengan adanya pembinaan, diharapkan mereka mampu memproduksi gerabah yang bernilai seni tinggi. Ujungnya nilai produksi gerabah juga akan naik dan kesejahteraan perajin meningkat.


Tidak mustahil jika Desa Gebangsari akan menjadi semacam "Kasogan' yang dimiliki Kebumen yang bisa mengekspor kerajian gerabah yang bernilai jual tinggi. Desa Gebangsari juga bisa mendukung pariwisata, mengingat lokasinya tidak terlalu jauh dari pantai Petanahan.


Tentu hal itu sejalan dengan apa yang dikemukakan Kepala Disperindagkop Dirman Supardi SH. Pola integrasi antara sektor pariwisata dan kerajinan akan diterapkan guana mengembangkan sentra kerajinan di Kebumen. Dengan diterapkan sistem tersebut, kedua sektor itu akan saling mendukung satu sama lain.

Saturday, May 10, 2008

Sate Jumbo

JIKA melintas di Jalan Raya Petanahan-Puring, Kebumen persisnya di Desa Krandegan terdapat sebuah warung sate dan gule kambing yang selalu dipadati pembeli. Warung itu ditandai dengan spanduk bertuliskan 'Sate dan Gule Kambing Pak Parilan' yang dipasang depan warung. Adapun banyaknya pengunjung dapat dilihat dari jumlah kendaraan bermotor yang diparkir di halaman samping warung.

Secara umum, tidak ada yang membedakan warung sate itu dengan warung sate lainnya. Misalnya, nama warung diambil dari nama sang empunya yakni Parilan. Saat masuk ke dalam, pun tidak ada yang menonjol, bahkan bisa dibilang cukup sederhana. Saat pesanan dihantarkan, baru ada yang cukup istimewa. Yakni ukuran sate yang relatif jumbo dari sate pada umumnya.
"Memang ukuran irisan daging kambing sate kami dipotong lebih besar, sehingga yang makan lebih puas," ujar Parilan, kemarin.

Benar. Menyantap satu porsi sate yang disajikan tanpa tujuk itu membuat puas. Bakaran yang sempurna barangkali membuat daging kambing matang dengan merata. Selain itu, daging yang berasal dari kambing muda yang masih segar juga menjadi faktor lezatnya sate di warung yang berdiri sejak tahun 1989.

"Selain muda dan segar saya juga memilih kambing yang gemuk," imbuhnya bapak tiga anak itu.
Nardi (34) warga Petanahan mengaku sebulan sekali ia makan sate di warung itu. Ia juga mengaku ketagihan dengan sate di warung itu. Namun, katanya, di warung itu tidak disediakan makanan pendamping yang bervariasi. "Hanya ada kerupuk dan peyek kacang," katanya.

Namun itu semua tidak mengurangi kepuasan menyantap sate dengan bumbu spesial itu. Warung yang buka mulai pukul 07.00-17.30 itu juga menyediakan berbagai minuman seperti kopi, es teh, susu, dan soda gembira.
"Selain sate, yang tidak kalang spesialnya adalah gule kambing dan ayam kampung bakar," ujarnya promosi.

Parilan menuturkan, dalam sehari ia bisa menghabiskan antara dua sampai empat ekor kambing. Dibantu beberapa karyawan, ia melayani pelanggan dengan sebaik mungkin. Soal harga, di warungnya juga terjangkau. Satu porsi sate Rp 11.000, jika pesan setengah porsi saja hanya Rp 6.000. Gule satu porsi Rp 5.000 dan ayam goreng Rp 7.000-Rp 8.000. Adapun nasi putih dihitung terpisah Rp 1.000.

Dia bersyukur dengan perkembangan warungnya. Meskipun sederhana namun bisa menjadi penyangga ekonomi keluarga. Ia masih ingat, saat masih merintis warungnya, dia juga menjajakan sate secara keliling. Namun seiring dengan banyaknya jumlah pembeli, tahun 1995 ia berhenti berjualan keliling. Sejak saat itu, ia total mengelola warungnya.
"Untuk itu saya berusaha sedapat mungkin menjaga kualitas daging yang menjadi bahan baku sate," tegasnya menyebutkan kualitas daging adalah yang utama bagi penjual sate.

Lebih dari itu, ia bersyukur berkat warung itu, ia mampu menyekolahkan ketiga anaknya. Dua di antaranya lulus perguruan tinggi, sudah berkeluarga dan memberikan dua orang cucu. Sedangkan yang terakhir masih kelas dua SMA.
"Sebenarnya saya ingin sekali membuka cabang lain. Tapi jika belum punya bangunan sendiri rasanya belum mantap," ujarnya.



Thursday, May 8, 2008

Derita Nisa

SOPIAH (28) begitu lekad memandangi buah hantinya yang tergolek di tempat tidur. Ingin rasanya ia menggendong putri bungsu buah cinta perkawinan dengan Mustamin (39) suaminya.

Namun, hasrat itu buru-buru ia lupakan, sadar bayi enam bulan yang ia beri nama Nissaul Khautsari itu
tidak memungkinkan untuk digendong. Kepala bayi kelahiran 12 November 2007 lalu tampak begitu besar. Jauh tidak seimbang jika dibandingkan dengan tubuhnya yang kurus. Oleh ibunya, sebuah handuk warna hijau muda dimanfaatkan untuk menutupinya.

Hari demi hari, bayi malang itu hanya dibaringkan di sebuah kamar berukuran 2x3 meter.
"Hanya keluar kamar saat dimandikan. Itu pun hanya sebentar. Sebab ia selalu menangis ketika digendong," tutur Sopiah saat ditemui Suara Merdeka di rumahnya RT 6 RW 2 Dukuh Pendul Desa Gondanglegi Kecamatan Ambal, Kebumen, Rabu (7/5).

Dengan mata membendung air mata, Sopiah pun berkisah tentang derita yang menimpa anaknya. Meski dengan berat 1,9 kilogram, saat lahir kondisi Nisa normal. Saat baru berumur enam hari, Nisa dibawa ke rumah sakit gara-gara menderita panas yang tinggi disertai kejang. Nisa dirawat selama 18 hari. Oleh dokter Nisa divonis radang paru-paru.

Setelah dirawat, Nisa pun sembuh dan diperbolehkan pulang. Selang 20 hari setelah pulang dari rumah sakit, kepala Nisa justru membesar. Awalnya ubun-ubunnya mulai melunak kemudian menjalar ke bagian kepala lain.
"Semakin lama makin membesar," ujar Sopiah berkaca-kaca.

Sebagai orang tua, apapun dilakukan demi kesembuhan anaknya. Selanjutnya anaknya pun dibawa ke rumah sakit khusus anak-anak di Kebumen. Oleh Nisa dirujuk ke rumah sakit Yogyakarta. "Alasannya peralatan di rumah sakit di Kebumen tidak memadai," imbuh Mustamin.


Nisa didiagnosa menderita hydrocephalus. Untuk mengeluarkan cairan yang ada di dalam kepalanya, Nisa harus dioperasi. Besarnya, biaya operasinya antara Rp 10 hingga Rp 14 juta. Saat mendengar itu, ia pun gamang. Ia sudah tidak memiliki biaya lagi untuk membayar pengobatan. Dengan gontai ia pun membawa kembali pulang ke rumah. "Semuanya sudah saya jual untuk pengobatan," imbuhnya. Bekerja sebagai petani yang punya sawah, Mustamin tentu sulit untuk mencari uang Rp 10 juta.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari pun tak ada sisa lebih bahkan kurang. Ia juga anak bungsunya itu belum masuk sebagai peserta Jamkesmas untuk memperoleh pengobatan gratis.
"Sekarang saya masih berusaha mencari pengobatan alternatif yang menurutnya harganya murah," katanya pasrah.

Data di Puskesmas I Ambal, nama Nissaul Khautsari baru dimasukkan dalam validasi saat ini. Nama Nisa belum masuk daftar peserta Askeskin, sebab pada valiasi tahun 2007 ia belum lahir. "Pada validasi tahun ini sudah dimasukkan peserta Jamkesmas," ujar Kepala Puskesmas Ambal I dokter Arif Komedi melalui Pembina Kesehatan Desa Gondanglegi Catur Ernawati.

Nissaul Khautsari ternyata tidak sendirian. Di Kebumen terdapat 15 balita yang menderita penyakit yang sama. Mereka berasal dari 15 desa di 12 kecamatan.
Rentang usia mereka antara satu bulan hingga 13 tahun. Rata-rata mereka berasal dari keluarga yang tak berpunya. Dapat disebutkan di antaranya Difo Afriana (1 bulan), Dimas Fitriadi Ardiansyah (4 bulan), Erni Oktaviani (5 bulan), Wisnu Aji (8 bulan), Alif Dian Saputro (10 bulan), Tiara Nur Bekti Anggraeni (1), Khoeriyah (2), Najib Fikriya (3), Sofiatun (3), Liana (4), Putri Agus Gustami (4), Agus (6), Martin Abdul Salam (10), dan Riyanti (13).

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kebumen dokter H Dwi Budi Satrio MKes hydrocephalus bisa bawaan dari lahir (primer) ada juga yang karena terserang saat anak sudah besar (sekunder). Jika penyakit hydrocephalus merupakan bawaan dari lahir berarti pada saat hamil sang ibu terkena toxoplasma (virus yang terdapat di kucing). "Saat anak sudah besar, biasanya penyakit hydrocephalus diawali dari penyakit flu yang kemudian menginfeksi otak," katanya.