Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2008

Konser Letto

Gambar
RIBUAN penonton dan Lettoholic (fans berat Letto,red) yang tumpah ruah di Stadion Chadradimuka, Kebumen seakan tidak rela menerima kenyataan bahwa “Sebelum Cahaya” menjadi penutup konser bertajuk A Mild Live Letto Live in Concer, kemarin. Namun para kawula muda itu tak bisa berbuat apa-apa saat konser itu benar-benar berakhir.

Ya, konser yang menampilkan grub band asal kota gudeg Yogyakarta, Letto itu benar-benar mampu memuaskan hasrat bermusik remaja Kebumen. Tidak kurang dari dua jam, Letto tampil perkasa membawakan 12 lagu tanpa jeda.

Tembang Truth, Cry, and Lie, single hit album pertama mereka dengan judul sama mengawali konser grub band yang digawangi Noe (vokal), Patub (gitar), Arian (bas), dan Dedi (drum) kali pertama di Kebumen. Tanpa banyak basa-basi usai lagu pembuka, grup musik yang bermarkas di Kadipiro itu langsung kembali unjuk kebolehan dengan tembang Kau, Aku dan Obsesiku. Jingkrak penonton tak terelakkan mengikuti racikan irama yang enerjik.

Aksi Noe yang di…

Misteri Batu Pocong di Goa Simbar

Gambar
BAGIAN barat daya Kabupaten Kebumen cukup dikenal dengan alam perbukitan yang indah. Wisata alam seperti wisata pantai atau geowisata goa-nya juga cukup tersohor. Di perut pegunungan itu juga terkandung potensi tambang batuan alam seperti marmer, fosfat, batu gamping dan andesit yang bernilai tinggi. 

Selain memiliki Goa Jatijajar dan Karangduwur, Kabumen ternyata memiliki potensi keindahan yang luar biasa. Pesona yang masih bersembunyi di balik sunyinya perbukitan di Desa Rogodadi Kecamatan Buayan itu bernama Goa Simbar. Seperti goa yang lain, Goa Simbar, terletak di balik lipatan kawasan pegunungan yang menarik dikunjungi wisatawan yang gemar tantangan alam. 

Memang di bandingkan Jatijajar dan Karanguduwur, Goa Simbar belum banyak dikenal orang bahkan masih tampak alami. Tidak jauh dari Goa Simbar terdapat dua goa lagi yang tak kalah indah, yakni Goa Darat dan Goa Kali. Namun kedua goa yang terakhir tidak terlalu dalam. Hingga kini obyek wisata tersebut masih dikelola pemerintah desa …

Waduk Wadaslintang

Gambar
MENGUNJUNGI waduk Wadaslintang, sudah pasti Anda akan disambut hamparan air yang tenang dan keindahan landscape yang membentang. Selain itu yang pasti dijumpai ketika plesir ke objek wisata di perbatasan Kebumen dan Wonosobo itu adalah banyaknya orang yang serius memancing di pinggir waduk.

Ya, ratusan pemancing di lokasi itu memang ada setiap saat. Saat liburan atau pada hari biasa, dapat dipastikan selalu ada yang memancing ikan. Seolah tidak mengenal waktu, selama 24 jam mereka selalu berada di waduk tersebut.
Ternyata pemancing ikan di tempat itu, bukan hanya mereka yang sekadar hobi. Melainkan ada yang sudah menjadi mata pencaharian sehari-hari. Di lokasi itu, pancing murahan seharga ribuan sampai ratusan ribu itu beradu cepat mendapatkan ikan.

Ada yang hasil pancingan itu dijual untuk kebutuhan. Namun ada pula yang sekadar iseng untuk oleh-oleh keluarga. Kendaraan yang dibawa ke lokasi pemancingan itu pun berfariasi. Mulai yang hanya jalan kaki dari rumahnya, sampai ada yang meng…

Ceng Beng

Gambar
PARSDI (63) warga RT 2 RW 02 Kelurahan/Kecamatan Pejagoan, Kebumen cukup sibuk bersamaan warga keturunan Tionghoa melaksanakan hari raya Qing Ming (Ceng Beng). Apa yang membuat bapak delapan anak itu sibuk? Tidak lain karena jabatan warisan yang dipegangnya yakni menjadi juru kunci di bong Cina yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Ya, sejak orang tuanya meninggal tahun 1990, saat itulah Parsidi secara resmi menggantikan posisi yang telah bertahun-tahun diduduki orang tuanya. Sebagaimana bapaknya Nuri yang menuruni jejak kakeknya menjadi juru kunci kuburan Cina . "Sejak kecil saya sudah akrap di pekuburan Cina, karena sering ikut membantu bapak," ujar Parsidi di sela-sela membersikan salah satu makam keramik, Sabtu 5 April lalu. Dari sisi bahasa Qing berarti bersih dan ming berarti terang. Namun secara umum Qing Ming dimaknai sebagai hari raya membersihkan kuburan leluhur yang jarang dikunjungi selama setahun. Dalam tradisi Jawa, tradisi semacam itu disebut unggahan, nyad…

Gagal Ginjal (2)

Gambar
NGATIWON (42) masih teringat betapa terkejutnya, saat ia divonis dokter terkena gangguan ginjal 27 tahun silam. Pada waktu itu, warga Dusun Dukuhtawon Desa Kuwarisan, Kebumen itu hanya pasrah. Bahkan, karena ketiadaan biaya, ia menjauh dari dokter dan memilih menggunakan ramuan tradisional.

"Pada waktu itu bisa sembuh, tapi beberapa waktu kemudian kumat lagi," ujarnya menceritakan perihal penyakitnya.

Puluhan tahun ia menjalani hidup berteman dengan kesakitan yang berkepanjangan. Ia tak tahu, kapan waktu kumat datang. Jika sudah tiba waktunya ia pun didera kesakitan. Ketenangan keluarganya pun lenyap saat ia kambuh. Beruntung, istrinya Misnah (42) setia menemani. Misnah selalu ada saat ia membutuhkannya.

Kini Natiwon bisa tersenyum. Dokter menyatakan dirinya sembuh. Ceritanya, dua bulan sebelum puasa lalu, penyakit yang dideritanya kumat. Lalu ia dibawa ke RSUD Kebumen. Setelah tiga hari di rumah sakit itu, dokter merekomendasikan untuk dirujuk ke PKU Muhammadiyah Gombong. …

Gagal Ginjal (1)

Gambar
"Bersinarlah bulan purnama, seindah serta tulus cintanya, bersinarlah terus sampai nanti, lagu ini ku akhiri."

TEPUK tangan bergemuruh menyambung bait tarakhir lirik lagu "Andai Kau Datang" yang pernah dibawakan Koes Plus dan dipopulerkan kembali oleh Ruth Sahanaya, di Hotel Candisari, Kebumen, baru-baru ini.

Rugiyaningsih (28) sang penyanyi pun tersenyum puas saat suaranya yang diringi solo organ itu mampu menghibur hadirin yang hadir.
Gadis asli Gombong kelahiran tahun 1979 itu pun duduk kembali setelah memberikan mikrofon kepada petugas.

Sekilas perempuan tamatan SMA Negeri Gombong itu tidak ada yang berbeda dengan orang lain. Siapa sangka ia sudah divonis dokter gagal ginjal sejak hampir setengah tahun lalu. Kini darahnya setiap seminggu dua kali yakni Senin dan Kamis harus dibersihkan melalui cuci darah di Instalasi Heamo Dialisis di PKU Muhammadiyah Gombong. Sebab di Kebumen, rumah sakit itu satu-satunya yang sudah mempunyai alat tersebut.

"Pertama kali ke…

Gerabah Gebangsari

Gambar
Bagian I

KUSMINI (52) menyeka keringat di dahi dengan tangan kirinya. Sementara matanya fokus dan tangan kanannya yang masih mengolah tanah liat pada alat putaran di hadapannya. Setelah bentuk yang diinginkan selesai, perempuan paruh baya itu lalu menjemurnya di halaman rumah bersama buah tangannya yang lain.

Begitu setiap hari Kusmini melakukan pekerjaannya di serambi rumahnya di Desa Gebangsari, Kecamatan Klirong, Kebumen. Perempuan yang tinggal di RT 3 RW 1 Dusun Krajan itu merupakan salah satu dari perajin gerabah yang terdapat di desa itu. Puluhan ibu rumah tangga lainnya juga sama, memproduksi kerajinan gerabah di rumah mereka masing-masing.

Keberadaan kerajinan gerabah di desa yang kini dipimpin Kades Parluji itu sudah ada sejak puluhan tahun silam. Keahlian membuat kerajinan dari tanah liat itu mereka peroleh secara turun temurun. Karena orang tua mereka menjadi perajin gerabah, secara otomatis sejak kecil mereka sudah bersinggungan dengan kerajinan tersebut.

Kusmini misalnya…

Sate Jumbo

Gambar
JIKA melintas di Jalan Raya Petanahan-Puring, Kebumen persisnya di Desa Krandegan terdapat sebuah warung sate dan gule kambing yang selalu dipadati pembeli. Warung itu ditandai dengan spanduk bertuliskan 'Sate dan Gule Kambing Pak Parilan' yang dipasang depan warung. Adapun banyaknya pengunjung dapat dilihat dari jumlah kendaraan bermotor yang diparkir di halaman samping warung.

Secara umum, tidak ada yang membedakan warung sate itu dengan warung sate lainnya. Misalnya, nama warung diambil dari nama sang empunya yakni Parilan. Saat masuk ke dalam, pun tidak ada yang menonjol, bahkan bisa dibilang cukup sederhana. Saat pesanan dihantarkan, baru ada yang cukup istimewa. Yakni ukuran sate yang relatif jumbo dari sate pada umumnya.
"Memang ukuran irisan daging kambing sate kami dipotong lebih besar, sehingga yang makan lebih puas," ujar Parilan, kemarin.

Benar. Menyantap satu porsi sate yang disajikan tanpa tujuk itu membuat puas. Bakaran yang sempurna barangka…

Derita Nisa

Gambar
SOPIAH (28) begitu lekad memandangi buah hantinya yang tergolek di tempat tidur. Ingin rasanya ia menggendong putri bungsu buah cinta perkawinan dengan Mustamin (39) suaminya.

Namun, hasrat itu buru-buru ia lupakan, sadar bayi enam bulan yang ia beri nama Nissaul Khautsari itu tidak memungkinkan untuk digendong. Kepala bayi kelahiran 12 November 2007 lalu tampak begitu besar. Jauh tidak seimbang jika dibandingkan dengan tubuhnya yang kurus. Oleh ibunya, sebuah handuk warna hijau muda dimanfaatkan untuk menutupinya.

Hari demi hari, bayi malang itu hanya dibaringkan di sebuah kamar berukuran 2x3 meter. "Hanya keluar kamar saat dimandikan. Itu pun hanya sebentar. Sebab ia selalu menangis ketika digendong," tutur Sopiah saat ditemui Suara Merdeka di rumahnya RT 6 RW 2 Dukuh Pendul Desa Gondanglegi Kecamatan Ambal, Kebumen, Rabu (7/5).

Dengan mata membendung air mata, Sopiah pun berkisah tentang derita yang menimpa anaknya. Meski dengan berat 1,9 kilogram, saat lahir kondisi N…