About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Monday, May 12, 2008

Gagal Ginjal (2)

NGATIWON (42) masih teringat betapa terkejutnya, saat ia divonis dokter terkena gangguan ginjal 27 tahun silam. Pada waktu itu, warga Dusun Dukuhtawon Desa Kuwarisan, Kebumen itu hanya pasrah. Bahkan, karena ketiadaan biaya, ia menjauh dari dokter dan memilih menggunakan ramuan tradisional.

"Pada waktu itu bisa sembuh, tapi beberapa waktu kemudian kumat lagi," ujarnya menceritakan perihal penyakitnya.

Puluhan tahun ia menjalani hidup berteman dengan kesakitan yang berkepanjangan. Ia tak tahu, kapan waktu kumat datang. Jika sudah tiba waktunya ia pun didera kesakitan. Ketenangan keluarganya pun lenyap saat ia kambuh. Beruntung, istrinya Misnah (42) setia menemani. Misnah selalu ada saat ia membutuhkannya.

Kini Natiwon bisa tersenyum. Dokter menyatakan dirinya sembuh. Ceritanya, dua bulan sebelum puasa lalu, penyakit yang dideritanya kumat. Lalu ia dibawa ke RSUD Kebumen. Setelah tiga hari di rumah sakit itu, dokter merekomendasikan untuk dirujuk ke PKU Muhammadiyah Gombong. Karena di rumah sakit itu belum ada instalasi Heamo Dialisis (HD).
"Dokter bilang saya harus cuci darah, karena racunnya sudah menyebar," ujar Ngatiwon mengaku awalnya ia tdak mau mengingat biayanya yang mahal.

Akhirnya pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bor sumur itu menjalani cuci darah dengan menggunakan Kartu Askeskin, tentunya setelah melewati jalan panjang mengurus segala persyaratan yang diperlukan. Beruntung, tiga hari menjelang lebaran, setelah 15 kali melakukan cuci darah ia dinyatakan sembuh.

"Ini mukjizat. Sekarang saya tidak sembarangan lagi makanan dan minuman dan obat-obatan," ujarnya mengaku dulu sembarangan mengonsumsi obat dan minuman.

Wakil Ketua Bidang Pelayanan Medis PKU Muhammadiyah Gombong, dokter M Irbabul Lubab menyebutkan sejumlah faktor yang menyebakan risiko gagal ginjal antara lain budaya mengkonsumsi obat sembarangan, mempunyai penyakit kencing manis, darah tinggi tak terkontrol. Selain itu perokok berat juga mempunyai potensi mengalami gagal ginjal.

Menurut dokter Irbabul Lubab, sebenarnya di Kebumen terdapat banyak pasien gagal ginjal yang tidak melakukan cuci darah. Hal itu dikarenakan ketiadaan biaya. Rata-rata mereka berasal dari keluarga yang tidak mempunyai kartu Askeskin.

"Mereka berasal keluarga yang dalam kategori nanggung. Tidak miskin sekali, tapi tidak kaya. Sehingga tidak memiliki kartu Askeskin," ujar dokter Lubab didampingi Bagian Humas dan Pemasaran Supriyadi.

Hal itu, kata dia, patut menjadi perhatian pemerintah, termasuk pemkab Kebumen. Mungkin mereka bisa diberikan subsidi dari APBD agar mereka bisa berobat di rumah sakit. Di sisi lain, ia mengimbau kepada masyarakat untuk tidak sembarangan dalam mengkonsumi obat-obatan. Sebab, mengkomsumsi obat sembarang berisiko tinggi mengakibatkan gagal ginjal. "Jangankan yang sudah miskin, orang kaya pun bisa menjadi miskin karena penyakit ini," ujarnya menyebutkan tanpa subsidi biaya cuci darah memang cukup tinggi yakni Rp 750.000 sekali cuci darah.


2 comments:

  1. Hei,
    riang sekali aku bisa bertandang ke blog-mu. Akhirnya..
    bagus kalau kau merasa miskin kata-kata. setidaknya itu percik api yang akan menyulutmu untuk....PRODUKTIF!
    Ah, Suara Merdeka bukankah menjadi rumahmu yang aduhai?
    Aku benar-benar senang, kita bisa bersambung kata-kata lagi.
    Mungkin, ada kalanya manusia perlu waktu untuk merendamkan segala kata-katanya, pada beberapa waktu

    ReplyDelete
  2. Ya. Aku masih kerap rindu dengan sahabat kita yang telah berpulang pada-Nya.
    Aku ingat semua-muanya.
    Ingat ketawa kerasnya.
    oya, tanggal 29 bulan ini Haul Mbah Kyai. Hmm, kadang "seperti" terasa dipanggil lagi sama WeHa. welehweleh...

    ReplyDelete

terima kasih Anda telah memberikan komentar di blog ini