About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Saturday, June 21, 2008

Maftuh Fauzi

TANGIS memecah keheningan di kediaman Hj Homimah di Desa Adikarto Kecamatan Adimulyo, Kabumen, Sabtu (26/6) pukul 01.30 saat jenazah Maftuh Fauzi (27) mahasiswa Universitas nasional (Unas) Jakarta tiba dari Jakarta. Kabar duka yang sebelumnya disiarkan layar kaca, kini benar-benar nyata menyelimuti keluarga di desa.

Saat jenazah akan dimakamkan, kedua orang tua Maftuh, Muhammad Sahdi (57) dan Mumfatimah (54) tampak berusaha tegar. Namun mata yang berkaca-kaca itu akhirnya tumpah juga ke pipinya. Ia pun menangis meski tidak tak mengeluarkan suara.
Selain keluarga, sejumlah rekan mahasiswa Maftuh dari Jakarta datang memberi penghormatan terakhir. Sebagian pun ikut histeris. Bahkan salah satu mahasiswi tak kuasa menahan tangis, saat perwakilan keluarga memberi sambutan pelepasan jenazah. Ia pun jatuh pingsan.

Mahasiswi berkerudung hitam dan membawa sebuah kertas bergambar wajah Maftuh tersebut diketahui bernama Kastra. Ia mantan pacar Maftuh. Meski sudah tidak ada lagi hubungan, ia ikut datang ke Kebumen untuk memberi penghormatan terakhir.
Sekitar 45 rekan sekampus yang datang dengan menyewa satu bus tersebut pun ikut berduka.Selama ini maftuh dinilai orang yang baik.

Dede misalnya, mahasiswa satu angkatan dengan maftuh mengaku mengenal almarhum, sebagai sosok yang perhatian, dan Tidak neko-neko.
"Jadi mustahil, jika ia meninggal karena terkena virus HIV seperti yang dituduhkan," katanya. Ares dari solidaritas mahasiswa Unas pun bertekad, mahasiswa Unas akan terus mencari keadilan agar kasus yang menyelubungi rekannya terkuak.

Sang Ayah, Muhammad Sahdi mengaku sudah merelakan kepergian abadi anaknya. Pihak keluarga berkeyakinan kematian merupakan takdir. Keluarga tidak menuntut apa pun. "Kami sudah mengikhlaskan," kata guru SMP Negeri 138 Jakarta itu lirih.


Sejak kecil anak pertama dari tiga bersaudara itu dihabiskan di Jakarta. Masa pendidikan dari SD sampai SMA juga di Jakarta. Sebelum kejadian yang menimpa anaknya, Mahdi mengaku tidak mempunyai firasat apa-apa. Namun perasaan sayang akan kehilangan anaknya itu muncul saat menjalani dalam perawatan di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) sejak 18 Juni 2008.

Meninggalnya Maftuh Fauzi memunculkan solidaritas dari Koalisi Masyarakat Kebumen (KMK) untuk Maftuh Fauzi. Koalisi yang terdiri dari DPC Repdem Kebumen, PC IPNU Kebuman, PC IPPNU Kebumen, Studi F
Mahasiswa Kebumen, LSM Gampil, GAPENSI Kebumen, SeMapi Kebumen, IKAS Kebumen, FPPKS menuntut kepada aparat penegak hukum, agar kasus ini segera ditangani secara serius siapa dalang dan pelakunya.

Rasa kehilangan pun diungkapkan Kepala Biro Hubungan Antar Lembaga Unas Tubagus Muhammad Ali Asgar. Pihak universitas membentuk tim pencari fakta (TPF) dan terus mencari fakta di lapangan terkait penyebab kematian mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris angkatan 2003/2004 itu. "Tanggal 24 Juni hasilnnya akan kami sampaikan ke Rektor," kata Ali Asgar usai pemakaman.

Sebelumnya atas permintaan pihak kepolisian, jenazah mahasiswa jurusan Bahasa Asing angkatan 2003 itu diotopsi oleh tim forensik gabungan RSU Margono Purwokerto, Fakultas Kedokteran Undip, dan Fakultas Kedokteran Unsoed. Otopsi dilaksanakan mulai pukul 06.30 hingga pukul 09.30 WIB di kamar jenazah RSUD Kebumen.

Dalam keterangan kepada wartawan, ketua tim forensik RSU Margono Purwokerto, dokter M Zaenuri Samsul Hidayat didampingi Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Drs Syahroni dan Kapolres Kebumen AKBP Triwarno Atmojo mengatakan, hasil sementara dari pemeriksaan luar dan dalam, telah ditemukan luka memar akibat bersentuhan dengan benda tumpul di kepala bagian belakang. Namun luka tersebut telah mengalami kesembuhan.

Sedangkan, telah dibuka rongga kepala tidak ditemukan tanda-tanda perdarahan atau kerusakan di ronggo kepala. Selain itu, tim juga menemukan luka di dada kiri bagian atas yang telah dijahit dan telah mengalami penyembuhan. Pada pemeriksaan pada rongga dada ditemukan terdapat tanda-tanda infeksi akut pada kedua paru. "Pada rongga di dalam dapat dilihat dengan mata telanjang terlihat terdapat pembesaran hati dan limpa yang akut dan menahun," kata Zaenuri.

Namun, tim forensik belum bisa mengambil kesimpulan penyebab kematian Maftuh Fauzi. Untuk mengetahui penyebabnya, tim forensik mengambil sampel otak, hati, darah, untuk dikirim ke lab FK Undip Semarang. "Hasilnya baru akan diketahui seminggu mendatang," katanya.


Sunday, June 15, 2008

ketoprak humor

SENI tradisi bukan sekadar menjadi hiburan semata. Jika pertunjukan digelar secara terkonsep, selain menjadi suguhan menghibur, penoton juga mendapat tuntunan yang bermanfaat. Begitulah kesimpulan ketika menonton pertunjukan, Ketoprak "Pedati" (penurun darah tinggi) pimpinan pelawak Mamiek Prakoso (Srimulat) di lapangan Manunggal Gombong, Kebumen, Sabtu (14/6) malam.

Selain Mamiek, ketoprak yang digelar Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) RI bekerja sama dengan Pemkab Kebumen itu dimeriahkan sejumlah pelawak tersohor, antara lain Tessy, Topan, dan Marwoto. Dengan menu canda khas pelawak Srimulat, mereka mampu menghadirkan tawa dalam "Kembang Karanganyar" yang dilakonkan. Ribuan masyarakat yang memadati lapangan itu pun dipaksa terpingkal karenanya. Sayangnya bumbu-bumbu saru masih saja memberi rasa canda selama pertunjukkan.

Adapun pertunjukan ketoprak humor itu digelar dalam rangka sosialisasi informasi bidang perekonomian, khususnya sektor ketenagakerjaan. "Pada intinya melalui pertunjukkan ketroprak itu untuk melakukan sosialisasi peningkatan martabat Tenaga Kerja Indonesia (TKI)," ujar Kepala Badan Informasi Publik Depkominfo Dr Suprawoto SH MSi.

Pada tahun ini Dekominfo memilih dua kabupaten di Jateng, untuk dijadikan lokasi sosialisasi tersebut yakni Kebumen dan Purworejo. Adapun tema yang diangkat berkait dengan semangat kebangkitan nasional dan peningkatan TKI yang bermartabat. Di sela-sela pertunjukan juga diadakan dialog dengan Kepala Badan Pengiriman dan Perlindungan Tenaga Kerja, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Muh Jumhur Hidayat.

Pergelaran seni tersebut, ujar Plt Bupati Kebumen KH M Nashiruddin Al Manshur digelar Depkominfo di Kebumen untuk kedua kalinya. Sebelumnya, pergelaran wayang kulit dengan tema penyuluhan perdagangan manusia (trafficking) dengan menghadirkan dalang Ki Warseno Slenk juga digelar di Alun-alun Kebumen, beberapa waktu lalu.

Adapun lakon "Kembang Karanganyar" dimainkan dalam empat babak. Kisah ini bercerita tentang Demang Rojojampi (Mamik Prakoso), yang sangat percaya dengan sesuatu yang berbau mistis, magis tepatnya klenik. Suatu ketika ia mendapat wangsit melalui mimpinya, kalau anak yang saat ini dikandung istrinya nanti seorang anak laki-laki, ia bakal mengangkat derajat dan martabatnya. Sebaliknya, jika anak perempuan yang dilahirkan akan mempermalukan dirinya.

Ternyata istri Ki Demang melahirkan seorang anak perempuan. Mendengar kabar tersebut, demang memerintahkan pada pembantunya Jalu (Gegok SKar) untuk membuang bayi tersebut. Akhirnya, bayi mungil perempuan itu dibuang. Adegan-adegan selanjutnya dimeriahkan munculnya Madurekso (topan) yang ingin jadi TKI, Abdi (tessy) yang menjadi trobel maker.

Waktu berganti bayi mungil itu tumbuh besar dan menjelma menjadi gadis yang sempurna; Rr Jemani namanya (Wulan). Selain cantik ia juga disukai pinter mencari duit yakni dengan menjadi penari lengger. Pak reko (Marwoto) dan Mbok Reko (Ciblek) yang mengasuh sejak kecil dibikin bangga karenanya.

Kecantikan Rr Jemani itu sampai juga kepada Demang Ragajampi. Setelah tahu status si penari lengger itu, ia berniat mempersunting menjadi Nyai Demang menggantikan istrinya yang meninggal saat melahirkan. Beruntung saat akan mengambil keputusan, Jalu Jati datang untuk mencegah agar majikannya itu mengurungkan niatnya. Ia menjelaskan bahwa lengger Karanganyar tak lain adalah putrinya sendiri yang dulu dibuang.

Friday, June 13, 2008

Potret Kemiskinan

JIKA disuruh memilih, Mbah Lasinem (80) tentu ingin tinggal di rumah mewah yang dilengkapi fasilitas di dalamnya. Sayangnya, warga Dusun Larangan Desa Clapar Kecamatan Karanggayam, Kebumen, itu tidak punya pilihan lain. Kemiskinan yang menjeratnya, memaksa ia tinggal di sebuah rumah reyot di RT 7 RW 2 yang layak disebut gubuk.

Ya, sejak lahir, Mbah Lasinem telah menghuni rumah warisan orang tuanya. Hingga tahun ini, 80 tahun sudah ia mengisi hari-harinya di rumah berlantai tanah dan berdinding bambu. Ia tak sendirian, Tarsih (40) anak perempuan dan kelima orang cucunya menemani.

Memprihatinkan memang, sejak puluhan tahun dihuni, rumah yang hanya memiliki dua ruangan itu juga tanpa dilengkapi fasilitas mandi cuci kakus (MCK). Buang air besar satu keluarga pun dilakukan di sungai. Padahal, pada musim kemarau seperti ini air sungai yang berada sekitar 200 meter dari rumah tersebut juga digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Mbah, Lasiem sudah lama ditinggal suaminya. Berapa tahun, ia sudah tidak begitu mengingatnya. Begitu pula dengan Tarsih. Ia sudah lama menjanda. Lebih dari 10 tahun. Sejak itu, mereka berdua terpaksa menjadi tulang punggung keluarga.

Diakui atau tidak, tanpa keberadaan suami, membuat ekonomi semakin sulit. Jangankan untuk memikirkan rumah layak, mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sudah begitu sulit. Penghasilan kedua janda itu, hanya diperoleh dari membuat tikar anyaman pandan. Padahal penghasilan itu jauh dikatakan mencukupi untuk hanya sekadar membuat dapur mengepul.

"Saya sudah tua, jadi tidak kuat kerja berat lagi," tutur Mbah Lasinem saat ditemui Suara Merdeka di rumahnya, Jumat (13/6).

Untuk membuat satu tikar anyaman pandan, katanya memakan waktu empat hari. Hasilnya hanya laku dijual kepada tengkulak yang mengambilnya seharga Rp 8.000. Itu berarti, kerja sehari Mbah lasinem hanya menghasilkan Rp 2.000.

Rumah yang cukup sempit menjadi saksi perjuangan Mbah Lasinem dan Tarsih. Namun kedua perempuan itu mengaku sedih ketika cucunya dan anaknya pulang merantau. Rumah itu seakan tidak muat lagi untuk menampung. Saat tidur mereka seperti ikan yang siap dipanggang. Jika sudah begitu, sebagian tidak pulang atau tidur di luar.

Selama ini, hanya satu anaknya Satiman (20) yang masih bertahan de desa. Sehari-hari ia menjadi kuli kasar. Penghasilan yang diterima pun tidak tetap "Anak-anak memang lebih senang merantau karena di desa sulit mendapatkan pekerjaan," imbuh Tarsih dengan suara parau.

Terkadang, Tarsih merasa menyesal tidak bisa mewariskan apa-apa kepada anak-anaknya kecuali kemiskinan. Satu-satunya harta yang dimiliki adalah sapi bantuan IDT. Namun di balik itu semua, ia bersyukur warga di desa itu peduli dengan kehidupannya. Akhir 2007 lalu warga bergotong royong memperbaiki rumah yang hampir roboh itu.

Di desa tersebut, ternyata Lasinem dan Tarsih ternyata tidak sendirian. Pemerintah desa setempat mendata setidaknya terdapat 36 rumah yang kondisinya tidak jauh beda. Mereka tersebar di beberapa dusun antara lain, Dusun Gilar, Alian, Sudikampir, Karangsempu dan Dusun Watu Pundutan.

"Kami sudah mengajukan kepada Pemkab Kebumen agar mereka memperoleh bantuan. Namun hingga saat ini bantuan itu tidak kunjung terealiasasikan," ujar Kepala Desa Clapar Sukirno didampingi Kaur Kesra Sulhani.

Hal yang sama dikatakan Ketua BPD Clapar Rasito. Ia mengakui masih banyak warga Clapar masih pra sejahtera. Perlu berbagai upaya untuk mendongkrak ekonomi masyarakat. "Kami berharap pembangunan tidak hanya dipusatkan di wilayah perkotaan saja," kata Rasito.

Kondisi yang dialami sebagian warga di Desa Clapar itu merupakan sebagian kecil potret kemiskinan di Kebumen. Pendataan Dinas Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Masyarakat (KBPM), jumlah rumah tidak layak huni di Kebumen sekitar 6.200 unit. Namun angka itu menurun dari tahun 2006 yang jumlahnya mencapai 6.500 unit.

Pemkab tidak menutup mata dengan kondisi itu. Berbagai upaya telah dilakukan. Misalnya melalui program Pemugaran Perumahan Pedesaan (P2P) tahun 2006, berhasil direhab 100 rumah. Setiap rumah mendapatkan bantuan Rp 3 juta. Tahun berikutnya, program yang sama bisa membantu renovasi 200 unit rumah di 67 desa. Nilainya bantuan bertambah menjadi Rp 5 juta/unit.

"Pada tahun 2008 ini ditargetkan 360 rumah yang tersebar di 72 desa, akan direnovasi dengan bantuan Rp 5 juta/unit," kata Kabid Ketahanan Masyarakat Drs Sipatmin menyebutkan, anggaran APBD Kebumen yang disiapkan sebesar Rp 1,8 miliar.

Namun karena permintaan bantuan rehab dari masyarakat sangat tinggi, sedangkan dana pemerintah terbatas pihaknya tidak bisa memenuhi seluruh permintaan itu. "Kami akan mengajukan bantuan ke pemerintah pusat guna perbaikan rumah tidak layak huni di Kebumen," tagasnya.

Wednesday, June 11, 2008

masa kecil

Anda yang lahir dan dibesarkan di pedesaan tentu teringat waktu masih duduk di bangku sekolah dasar ketika nonton program Si Bolang yang disiarkan Trans7 setiap pukul 12.00. Ingatan akan segera menuju masa silam di wilayah pedesaan yang belum tersentuh aliran istrik dan teman-teman masa kecil dulu.

Usai mengaji ramai-ramai bermain di halaman surau kecil. Apalagi saat datang malam purnama, kemeriahan itu benar-benar hadir. Anak-anak bermain grobak sodor, petak umpet, dan kejar -kejaran, sementara orang tua berkumpul saling bergurau. Baru saat malam semakin larut, anak-anak akan pulang ke rumah untuk kemudian besok pergi sekolah. Saat pulang sekolah, anak-anak kembali bermain. Mandi di kali, mencari ikan, berburu kupu-kupu, belalang, dan burung-burung. Maklum, hiburan seperti televisi maupun layar tancap sangat jarang digelar.

Televisi masih menjadi barang langka. Hanya orang tertentu yang memilikinya. Itu pun dengan hitam putih yang dihidupkan dengan accumulator, dan menangkap siaran dengan antena yang mirip tower operator seluller yang marak saat ini. Tak ada pilihan acara, karena hanya TVRI stasiun satu-satunya.

Tentu, semua itu hanya kenangan. Perkembangan teknologi sudah mengubah semuanya. Sosio kultural masyarakat termasuk pergeseran permainan anak-anak. Banyak permainan tradisional yang digantikan televisi, dan game di komputer. Hadirnya game center memikat hati anak-anak kota hingga di pelosok desa untuk melupakan permainan berbasis alam.

Si Bolang atau Bocah Petualang saat ini cukup digemari anak-anak hingga dewasa. Sebab selain sebagai pendidikan bagi anak-anak acara ini pun dapat menghibur karena menyajikan keanekaragaman budaya bangsa dari seluruh indonesia. Acara ini pun menjadi ispirasi anak-anak desa untuk bermain di alam.

Seperti yang dilakukan Jodi (8) dan kawan-kawannya di Desa Semanding Kecamatan Gombong, Kebumen yang terkena demam Si Bolang. Mengaku terpengaruh Si Bolang, mereka kini sering bermain di luar rumah bersama teman seusia mereka.

Jodi yang masih duduk di SD kelas 3 di desanya itu setiap pulang sekolah sering bermain di saluran irigasi waduk sempor untuk mencari ikan. Memang akhir-akhir ini irigasi Waduk Sempor sedang mengalami penggiliran sehingga terkadang tidak dialiri air.
"Senang Mas. Bisa sama-sama dengan teman-teman," kata bocah yang tinggal di RT 4 RW 3 Desa Semanding tersebut.

Jodi tidak sendirian, ada sejumlah temannya yang menpunyai kebiasaan sama. Yoga (8) adalah bocah yang lainnya. Bocah yang duduk di kelas 2 SD Semanding cukup antusias mencari ikan di saluran irigasi. Meski tak juga mendapatkan ikan yang dicari, namun bocah yang mengaku suka menonton Si Bolang itu tatap ceria.

Ia mengaku, ikan-ikan yang didapatkan dikumpulkan menjadi satu. Lalu dibakar dan di makan bersama-sama. Jika tidak demikian, ikan yang mereka dapatkan dibawa pulang untuk dimasak oleh orang tuanya.

Ada perbedaan petualangan yang dilakukan anak saat ini dengan masa kecil orang tuanya dahulu. Dahulu, alat-alat permainan biasa dibuat sendiri dari bahan alam. Namun anak-anak saat ini, seperti Jodi dan kawan-kawannya lebih memilih catra praktis. Misalnya memilih membeli sesek sebuah alat untuk penangkap ikan dengan harga Rp 2.000 daripada membuatnya. "Nggak bisa membuatnya, Mas. Banyak yang menjual kok," ujar Yoga enteng.

Perbedaan lainnya, saat ini tidak semua anak-anak diperbolehkan bermain di alam oleh orang tuanya. Akhirnya mereka pun melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Orang tua mereka khawatir hal itu membahayakan keselamatan anak-anak. "Ada yang tidak boleh Mas, kotor katanya," imbuhnya menyebutkan sejumlah temannya yang bermain diirigasi tanpa sepengetahuan orang tuanya.

Tuesday, June 10, 2008

rustriningsih

KESEDIAAN dicalonkan menjadi wakil gubernur Jateng oleh PDI Perjuangan mendampingi H Bibit Waluyo bukan diterima Dra Hj Rustriningsih MSi, tanpa alasan. Ada dorongan dalam pikirannya, sudah waktunya ia berbuat banyak dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi.

Sejak awal, ia bertekad bukan hanya membawa perubahan pada masyarakat di Kebumen, yang selama delapan tahun ia pimpin. Melalui jabatan politis sebagai wakil gubernur, Rustri yakin dirinya akan memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk mewujudkan tekadnya itu. "Posisi wakil gurbenur, cukup strategis untuk bisa berperan mengatasi persoalan di banyak daerah," kata Rustriningsih dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

Menurut politisi kelahiran Kebumen, 3 Juli 1967, banyak persoalan yang harus diselesaikan antar daerah. Dalam sektor kesehatan misalnya, penyebaran penyakit Deman Berdarah Dengue (DBD) tidak bisa diselesaikan oleh satu kabupaten saja. Termasuk masalah-masalah yang muncul di perbatasan wilayah, diperlukan kerjasama antara daerah untuk menyelesaikannya.


Posisi wakil gubernur bagi lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto dan Magister Administrasi Negara Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, bukan sekadar menjadi pendamping gubernur atau mewakili saat gurbenur berhalangan. Ia bersedia mendampingi Bibit Waluyo pada pencalonan itu, karena adanya komitmen dengan pembagian peran dan tugas yang jelas antara gubernur dan wakilnya. Termasuk adanya pengakuan Bibit, Rustri dinilai ahli dalam bidang pemerintahan, kerena berpengalaman delapan tahun menjadi bupati.

"Yang jelas wakil gubernur, bukan sekadar ban serep yang hanya digunakan ketika ban aslinya bocor," tegas Rustri yang masih menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan Kebumen itu.

Alasan yang diungkapkan itu bakal dibuktikan ketika pada 22 Juni mendatang, ia dipercaya masyarakat Jateng dan terpilih menjadi wakil gubernur. Ia katakan, pembagian tugas dan peran antara gubernur dan wakil gubernur akan menjadi bagian dari program 100 hari kerja saat ia dilantik memimpin Jateng. Di antaranya ia akan menyikapi dan mengkaji Keputusan Gubernur Jateng Nomor 95 Tahun 2003 tentang Tugas dan Kewajiban Wakil Gubernur Jateng.

Dalam keputusan tersebut, dijelaskan tugas wakil gurbenur membantu gubernur dalam melaksanakan kewajibannya, mengkoordinasikan kegiatan instansi pemerintah daerah, dan melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan gubernur. Sedangkan kewajibannya adalah urusan yang mencakup ke dalam pemerintah daerah, urusan menyangkut pembinaan perekonomian dan pembangunan, dan urusan yang menyangkut kesejahteraan rakyat.

Langkah awal ketika ia benar-benar terpilih, akan dimulai dari pengaturan terhadap tugas dan kewajiban gubernur dan wagub, konsolidasi satuan kerja pemerintah daerah (SKPD), menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Jateng 2008-2013, serta melakukan penajaman terhadap visi dan misi, dengan disesuaikan kondisi Jateng saat ini.

Selain itu, ia juga akan menerapkan konsep pemerintahan yang transparan dan partisipatoris. Di mana masyarakat akan ikut berpartisipasi dalam persoalan pemerintahan dan pengambilan kebijakan. Dalam hal itu ia sudah memiliki pengalaman seperti yang selama ini diterapkan di Kebumen. Acara Selamat Pagi Bupati (SPB) yang disiarkan langsung Ratih TV Kebumen dinilai bisa diterapkan di tingkat Jateng untuk menjalin komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat.

Keterbukaan informasi juga dilakukan pada seluruh bidang, mulai dari proses proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Tak cukup itu, pemantapan terhadap kebijakan pemerintah pusat di daerah, mengadakan berbagai kajian aturan dan desain sajumlah program antara lain masalah kemiskinan, tenaga kerja, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

Saat menjadi wakil gurbenur ia akan bisa berimprovisasi mengenai kebijakan kesetaraan gender. Saat ini, Rustri mengaku ikut prihatin karena Gender Development Index (GDI) Jateng berada pada urutan ke-12 dari seluruh Indonesia. Selain itu Gender Empowerment Measurement (GEM) atau persepsi ketenagakerjaan antara laki-laki dan perempuan juga berada di nomor urut yang sama.

"Dengan demikian, peningkatan daya saing tenaga kerja perempuan menjadi hal yang penting dilakukan," kata istri H Soni Achmad Saleh Ashari bin Noorjatno yang menikah 13 Juni 2004 itu semangat.

Dalam bidang birokrasi termasuk dalam menata hubungan satuan kerja perlu ada diterapkan kebijakan dengan sentuhan kesetaraan gender. Tentu saja kebijakan itu, tidak lepas dari Baperjagat. "Mungkin sekali, jika memenuhi persyaratan seorang perempuan bisa menjadi sekretaris daerah (sekda) di Jateng," tegas ibu dua anak tersebut.

Guna mewujudkan birokrasi yang kuat, perlu dukungan dari publik. Juga perlu pemerintahan yang kuat termasuk eksekutif yang kuat agar tidak mudah dipengaruhi oleh kelompok-kelompok tertentu. "Modal pertama jika pasangan Bibit-Rustri terpilih adalah, pemerintah akan didukung oleh fraksi terbesar di DPRD Jateng," pungkasnya.

gizi buruk

SITI Khotibah (40) mencoba menenangkan anaknya yang menangis. Meski duduk di sampingnya, suaminya Sodiri (59) tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa diperbuat hanya mengambilkan botol susu, yang masih terisi separo. Tangis bayi itu pun berhenti saat puting botol menutup mulutnya.

Sulit dipercaya jika, bayi yang diberi nama Nurul Surani Istiqomah itu sudah berumur 5 bulan. Ya, saat terakhir ditimbang di puskesmas setempat, bobot bocah itu hanya 1,8 kilogram. Sangat ringan untuk ukuran bayi seumuran dia. Sejak lahir bayi malang itu tidak mengalami pertumbuhan yang berarti.


Bayangkan, lahir dengan bobot 1,3 kilogram, dengan demikian selama lima bulan bobot bocah itu hanya meningkat 0,5 kilogram saja. Meski kedua orang tuanya mengaku anak ke-13 itu sehat, namun kondisi Nurul cukup memprihatinkan. Barangkali, akibat asupan gizi yang rendah membuat tubuh Nurul semakin hari semakin kurus. Kulitnya juga mulai mengkerut, termasuk jari-jari dan matanya yang terlihat cekung. Bocah malang itu juga gampang sekali terserang penyakit.

"Hanya mencret-mencret saja,kok," kata Khotibah tersenyum masam.


Perempuan paruh baya yang sudah 13 kali melahirkan itu seakan tidak merasa risau dengan kondisi anaknya. Kondisi tersebut dirasa wajar dan tidak ada persoalan meskipun, siapa saja yang melihat bayi itu, mengundang rasa prihatin. "Kakaknya, juga lahir dengan bobot yang rendah, yakni 2,5 kilogram, tapi jarang sakit," katanya tersenyum lagi.


Kondisi Nurul yang mengalami kurang gizi itu memang cukup ironis. Saat Pemkab Kebumen menyatakan perang memberantas gizi buruk, ternyata masih ada kasus-kasus seperti itu muncul setiap waktu. Padahal Nurul merupakan gunung es yang hanya sedikit muncul di permukaan. Kemiskinan dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat salah satu faktor pemicu munculnya gizi buruk.

Hal itu juga yang menimpa Sodiri. Ia merasa tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Apalagi sudah beberapa waktu ia tidak lagi bekerja sebagai tukang becak, setelah katarak dan penyakit asma yang dideritanya semakin parah.


Praktis, ekonomi keluarga disangga oleh istrinya, yang bekerja sebagai petugas penyapu jalan. Pada pagi hari, ia bekerja dari pukul 05.00-07.00. Sedangkan pada malam hari ia mulai bekerja pada pukul 18.00-21.00. Tentu saja, jerih payah itu sulit dikatakan untuk memberi makan tujuh anaknya. "Dari 13 anak saya, yang masih hidup delapan orang yang paling tua berumur 30 tahun," katanya sembari menyebutkan baru anak tertuanya yang sudah berkeluarga sendiri.


Karena terbelit ekonomi, seluruh anak Qodri tidak ada yang sempat mengeyam pendidikan tinggi. Rata-rata hanya tamatan SD lalu bekerja. Termasuk kepada anaknya yang masih duduk di bangku kelas 6 SD. Ia bingung mencari biaya jika ia meminta melanjutkan sekolah. Kini di rumah kecilnya, yang berada di gang sempit itu, sehari-hari Sodiri dan keluarganya menjalani kehidupan. Bersama ketujuh anaknya ia mencoba bertahan menjalani hidup yang kian suram. Namun demikian, ia tidak pernah menyesal telah melahirkan anak-anaknya.


"Saya pernah KB tapi tidak lagi," katanya.


Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kebumen, selama tahun 2007 terdapat 215 kasus balita gizi buruk. Sedangkan data Dinas Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Masyarakat (KBPM), program KB tampaknya belum diminati kaum pria.


Partisipasi pria dalam program KB secara langsung hanya 2,01 persen dari peserta KB aktif sebanyak 153.128 akseptor. Rendahnya partisipasi itu disebabkan adanya anggapan program KB hanya diperuntukkan bagi kaum wanita. Pada 2008 ditargetkan naik menjadi tiga persen dari peserta aktif KB

Monday, June 9, 2008

rakyat kecil

DALAM setiap pemilu rakyat kecil selalu menjadi rebutan elit politik. Kemiskinan mereka selalu saja dijual untuk mengumbar janji dan obral visi misi. Tapi setelah pemilihan itu selesai digelar, dan pemenang telah ditetapkan, saya tak percaya mereka bakal ingat apa yang pernah dikata.
Bahkan sampai hari ini, saya tak pernah percaya dengan pemerintah.

Rakyat dalam proses demokrasi di negeri ini diibaratkan seperti biting yang dibuang setelah digunakan. Dikunjungi sebelum pencoblosan, diberi sembako, uang, dan janji-janji. Setelah perhelatann itu selesai, rakyat kecil kembali pada kodratnya; menjadi orang tertindas, dibuang dan tersingkirkan.

Mbah Karmilah (70) adalah salah satunya. Sejak umur 17 tahun ia sudah nyoblos pemilu. Entah sudah berapa kali, ia tak pernah menghitungnya. Janji yang disampaikan setiap calon selalu sama. Akan menyejahterakan rakyat kecil seperti dirinya. Tapi sejak itu pula hingga ia sudah beranak pinak dan memiliki sejumlah cucu, janji itu tak pernah terwujud. Ia masih tetap miskin. Masih menjadi penjual kacang rebus, dan masih jauh untuk dikatakan sejahtera.

Benar kata Bondan Winarno si pengicip makanan yang bilang makyus itu. Mulai hari ini masyarakat tidak usah mengandalkan pemerintah. Tak perlu terpesona pada janji-janji calon penguasa. Kita perlu mandiri untuk memikirkan diri sendiri. Syukur-syukur memikirkan orang lain. Yang perlu dipegang, jangan pernah merugikan orang lain.

Entahlah mengapa sangat sulit mencari pemimpin yang berpihak kepada rakyat kecil. Atau jangan-jangan pemimpin yang dicari itu hanya ada dua. Pertama sudah mati dan pemimpin yang kedua belum dilahirkan. Apakah kita harus menunggu sampai anjing beranak kucing. Entahlah.