About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Saturday, June 21, 2008

Maftuh Fauzi

TANGIS memecah keheningan di kediaman Hj Homimah di Desa Adikarto Kecamatan Adimulyo, Kabumen, Sabtu (26/6) pukul 01.30 saat jenazah Maftuh Fauzi (27) mahasiswa Universitas nasional (Unas) Jakarta tiba dari Jakarta. Kabar duka yang sebelumnya disiarkan layar kaca, kini benar-benar nyata menyelimuti keluarga di desa.

Saat jenazah akan dimakamkan, kedua orang tua Maftuh, Muhammad Sahdi (57) dan Mumfatimah (54) tampak berusaha tegar. Namun mata yang berkaca-kaca itu akhirnya tumpah juga ke pipinya. Ia pun menangis meski tidak tak mengeluarkan suara.
Selain keluarga, sejumlah rekan mahasiswa Maftuh dari Jakarta datang memberi penghormatan terakhir. Sebagian pun ikut histeris. Bahkan salah satu mahasiswi tak kuasa menahan tangis, saat perwakilan keluarga memberi sambutan pelepasan jenazah. Ia pun jatuh pingsan.

Mahasiswi berkerudung hitam dan membawa sebuah kertas bergambar wajah Maftuh tersebut diketahui bernama Kastra. Ia mantan pacar Maftuh. Meski sudah tidak ada lagi hubungan, ia ikut datang ke Kebumen untuk memberi penghormatan terakhir.
Sekitar 45 rekan sekampus yang datang dengan menyewa satu bus tersebut pun ikut berduka.Selama ini maftuh dinilai orang yang baik.

Dede misalnya, mahasiswa satu angkatan dengan maftuh mengaku mengenal almarhum, sebagai sosok yang perhatian, dan Tidak neko-neko.
"Jadi mustahil, jika ia meninggal karena terkena virus HIV seperti yang dituduhkan," katanya. Ares dari solidaritas mahasiswa Unas pun bertekad, mahasiswa Unas akan terus mencari keadilan agar kasus yang menyelubungi rekannya terkuak.

Sang Ayah, Muhammad Sahdi mengaku sudah merelakan kepergian abadi anaknya. Pihak keluarga berkeyakinan kematian merupakan takdir. Keluarga tidak menuntut apa pun. "Kami sudah mengikhlaskan," kata guru SMP Negeri 138 Jakarta itu lirih.


Sejak kecil anak pertama dari tiga bersaudara itu dihabiskan di Jakarta. Masa pendidikan dari SD sampai SMA juga di Jakarta. Sebelum kejadian yang menimpa anaknya, Mahdi mengaku tidak mempunyai firasat apa-apa. Namun perasaan sayang akan kehilangan anaknya itu muncul saat menjalani dalam perawatan di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) sejak 18 Juni 2008.

Meninggalnya Maftuh Fauzi memunculkan solidaritas dari Koalisi Masyarakat Kebumen (KMK) untuk Maftuh Fauzi. Koalisi yang terdiri dari DPC Repdem Kebumen, PC IPNU Kebuman, PC IPPNU Kebumen, Studi F
Mahasiswa Kebumen, LSM Gampil, GAPENSI Kebumen, SeMapi Kebumen, IKAS Kebumen, FPPKS menuntut kepada aparat penegak hukum, agar kasus ini segera ditangani secara serius siapa dalang dan pelakunya.

Rasa kehilangan pun diungkapkan Kepala Biro Hubungan Antar Lembaga Unas Tubagus Muhammad Ali Asgar. Pihak universitas membentuk tim pencari fakta (TPF) dan terus mencari fakta di lapangan terkait penyebab kematian mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris angkatan 2003/2004 itu. "Tanggal 24 Juni hasilnnya akan kami sampaikan ke Rektor," kata Ali Asgar usai pemakaman.

Sebelumnya atas permintaan pihak kepolisian, jenazah mahasiswa jurusan Bahasa Asing angkatan 2003 itu diotopsi oleh tim forensik gabungan RSU Margono Purwokerto, Fakultas Kedokteran Undip, dan Fakultas Kedokteran Unsoed. Otopsi dilaksanakan mulai pukul 06.30 hingga pukul 09.30 WIB di kamar jenazah RSUD Kebumen.

Dalam keterangan kepada wartawan, ketua tim forensik RSU Margono Purwokerto, dokter M Zaenuri Samsul Hidayat didampingi Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Drs Syahroni dan Kapolres Kebumen AKBP Triwarno Atmojo mengatakan, hasil sementara dari pemeriksaan luar dan dalam, telah ditemukan luka memar akibat bersentuhan dengan benda tumpul di kepala bagian belakang. Namun luka tersebut telah mengalami kesembuhan.

Sedangkan, telah dibuka rongga kepala tidak ditemukan tanda-tanda perdarahan atau kerusakan di ronggo kepala. Selain itu, tim juga menemukan luka di dada kiri bagian atas yang telah dijahit dan telah mengalami penyembuhan. Pada pemeriksaan pada rongga dada ditemukan terdapat tanda-tanda infeksi akut pada kedua paru. "Pada rongga di dalam dapat dilihat dengan mata telanjang terlihat terdapat pembesaran hati dan limpa yang akut dan menahun," kata Zaenuri.

Namun, tim forensik belum bisa mengambil kesimpulan penyebab kematian Maftuh Fauzi. Untuk mengetahui penyebabnya, tim forensik mengambil sampel otak, hati, darah, untuk dikirim ke lab FK Undip Semarang. "Hasilnya baru akan diketahui seminggu mendatang," katanya.


No comments:

Post a Comment

terima kasih Anda telah memberikan komentar di blog ini