About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Friday, September 19, 2008

pacuan kuda

KECAMATAN Ambal Kabupaten Kebumen Jawa Tengah pada liburan Lebaran Idul Fitri mempunyai tradisi menggelar lomba pacuan kuda tradisional. Biasanya pancuan lomba itu dilaksanakan selama empat hari yakni Lebaran ke-4 sampai ke-7.

Sangat menarik menyaksikan lomba pacuan kuda itu. Sayang kemasan yang sangat seadanya, kurangnya profesionalisme penyelenggara dan minimnya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Kebumen membuat event yang menarik tersebut kurang dilaksanakan secara maksimal.

Tahun demi tahun, lomba pacuan kuda itu hanya berjalan begitu-begitu saja. Lokasi yang tidak nyaman, minim fasilitas, dan ketidakdisiplinan pononton membuat lomba itu menjadi kurang menarik. Perlu pemikiran dan sentuhan tangan-tangan kreatif untuk mengubah kegiatan itu benar-benar bisa mengangkat potensi lokasi pariwisata setempat. ***

Wednesday, September 17, 2008

Ketahuan Selingkuh?

BAGAIMANA rasanya terjaring razia saat berduaan di dalam kamar Hotel? Lima orang pria bersama dengan pasangan yang diduga selingkuhannya sudah merasakannya. Mereka terjaring razia yang digelar tim gabungan dari Satuan polisi Pamong Praja (Satol PP) dan Polres Kebumen saat berduaan di kamar sejumlah hotel, Selasa (16/9).

Malu, itu pasti. Lihat saja, saat melihat petugas, mereka langsung gelagapan dan berusaha menutupi wajahnya dengan baju dan jaket. Namun demikian mereka masih tetap bersikukuh bahwa mereka tidak melakukan maksiat. Meski berduaan di dalam kamar dengan pintu yang tertutup, mereka juga menolak jika disebut mengumbar syahwat atau sebuan lainnya yang berkonotasi mesum. “Kami hanya ngobrol-ngobrol saja kok,” kata salah seorang pasangan kepada petugas.

Ada pula yang berdalih hanya istirahat dan membahas bisnis. Namun tetap saja, karena setelah melihat identitas, mereka ternyata bukan pasangan resminya, pasangan itu pun kemudian dibawa ke kantor Satpol PP untuk mendapatkan pembinaan. Ya, pada saat itu, tim tengah menggelar razia hotel, penginapan, serta tempat-tempat yang dicurigai dipakai untuk berbuat maksiat di wilayah kota Kebumen, Karanganyar dan Gombong.

Dimulai pukul 10.00, razia diawali di komplek pasar hewan lama di Tamanwinangun. Namun di tempat itu, tidak satu pun sasaran yang didapat petugas. Petugas yang terdiri 20 personel satpol PP dan dibantu anggota Polres Kebumen itu kemudian menyiris kamar-kamar di Hotel Lukulo. Di hotel yang berada tidak jauh dari pasar hewan tersebut didapati tiga pasangan yang tengah berduaan di dalam kamar nomor 7, 10, dan 11.

Pasangan tersebut rata-rata berusia 40 tahun. Yakni Raun (50), asal Karangjongkeng Kabupaten Brebes bersama pasangannya Jumiatun (39) warga Desa Purbowangi Kecamatan Buayan Kebumen. Kemudian Emi Pariatun (56), asal Desa Puliharjo Kecamatan Puring dengan Darmo Suyoto (53) warga Sidototo Kecamatan Padureso. Sedangkan satu pasangan lagi hanya diketahui bernama Sudar dan Yuyun.

Tim melanjutkan operasi ke hotel Cadaka (dulu bernama Hotel Marsiwo) di Gombong dan menjaring dua pasangan yakni Tri Hartati (47) warga Demangsari Ayah dan Ahmad Nasikin (54) warga Wonoyoso Kebumen serta Mahfud Chozin bersama Waginem keduanya warga Sumpiuh Banyumas.

Kepala Kantor Satpol PP Kebumen Ageng Sulistyo Handoko SIP melalui Koordinator Tim Operasi Gigih BJ mengatakan razia tidak hanya digelar sekali saja. Kegiatan serupa juga akan rutin dilakukan selama bulan puasa. "Kami ingin memberikan kenyamanan kepada umat muslim yang menjalankan ibadah puasa," ujarnya.***

Tuesday, September 16, 2008

Dek Ulfy

MELIHAT senyum anak kecil, sulit untuk mengendalikan diri untuk tidak mengambil kamera, lalu memotretnya. Itulah saat aku pulang ke Pati pada awal Ramadan lalu, ketika melihat Dek Ulfy keponakan semata wayangku yang tak lain anak kakakku. Saat habis mandi, langsung aja aku ambil kamera. Dengan boneka lucu milik adikku (yang kini hampir lulus kuliah) beberapa frame aku ambil.

Ya, saat demikian selalu orang tuaku berseloroh, "Kapan kamu memotret anakmu sendiri." Mendengar itu, aku hanya tersenyum dan menjawab sekenanya. "Kapan-kapanlah".

Wednesday, September 10, 2008

peci kebumen

SAAT mengunjungi Desa Bandung, Kecamatan/Kabupaten Kebumen, anda akan sulit melihat warganya berpangku tangan pada siang hari. Meski tetap menjalanan ibadah puasa, mereka tetap aktif dalam kesibukannya yakni memproduksi peci.

Diserambi rumah tampak para ibu-ibu dengan teliti menyelesaikan pembuatan peci. Sementara di jalan desa yang belum beraspal itu banyak berlalu-lalang perempuan membawa kain, kertas maupun peci yang sudah jadi untuk diserahan kepada para perajian yang lebih besar. Ya, begitulah suasana hiruk pikuk Desa Bandung.

Pemandangan itu, tidak hanya terlihat pada waktu siang. Malam hari pun tidak jauh beda. Usai salat tarawih mereka sebagian ada yang lembur menggarap peci mulai dari menjahit hingga finishing sampai dengan pengepakan. Baru sampai larut malam, orang benar-benar selesai dari pekerjaannya. Desa Bandung Kecamatan/Kabupaten Kebumen dikenal sebagai sentra kerajinan peci.Sekitar 150 keluarga dari total 700 keluarga yang ada di desa itu, memutar roda perekonomian dengan menjadi perajin peci. "Dua bulan sebelum lebaran sudah mulai lembur, Mas," ujar Khuriyah (40) warga Bandung yang ikut bekerja kepada salah seorang perajin, Rabu (10/9).

Bukan hanya Khuriyah, Siti Haryati (40) Warga Desa Kalirejo Kecamatan/Kabupaten Kebumen juga ikut terkena berkah. Setiap hari dia datang ke Desa Bandung untuk bekerja mengesum peci-peci yang hampir jadi. Mereka dibayar borongan sesuai dengan hasil yang mereka peroleh.

Menurut salah satu perajin peci, Tholhah (42), Ramadan ini, terjadi peningkatan permintaan mencapai 100 persen dari hari biasa. Peningkatan itu sudah mulai terjadi pada bulan Rajab. Dengan dua orang karyawan, dalam sehari dia bisa membuat sebanyak lima kodi peci."Peci-peci tersebut kami pasok ke sejumlah kota di Jawa Tengah sampai pulau Sumatra," ujar Tholhah sembari menyebutkan Kitab Suci adalah merek peci produksinya.
Dia membuat berbagai model peci. Antara lain model semok, bordir, polosan, dan AC, dan pita. Harga setiap peci bervariasi sesuai dengan model dan kualitas barang. Untuk kualitas rendah harga dari perajin sekitar Rp 11.000/kodi. Ada pula yang harganya Rp 150.000/kodi. "Sedangkan untuk kualitas super, yakni yang bahan dan penggarapannya halus bisa sampai Rp 300.000/kodi," kata Kepala Dusun Kebonsari itu seraya menyebutkan, kondisi Ramadan tahun ini relatif lebih baik dari tahun sebelumnya.
Dia menambahkan, kondisi akan mulai normal kembali setelah bulan Syawal. Sesuai dengan kebisaan, paska bulan haji kondisi bisnis peci mulai lesu sampai bulan Maulud. Setelah itu berangsur-angsur normal kembali dan pada bulan Rajab terjadi peningkatan permintaan sampai akhir puasa."Begitu terjadi setiap tahun. Saat kondisi peci sedang sepi ada sejumlah perajin terutama yang kecil-kecil beralih memproduksi tas, topi maupun seragam sekolah," ujar Tholhah.

***
KERAJINAN peci di Desa Bandung, Kecamatan/Kabupaten Kebumen sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Namun hingga saat ini, para perajin masih belum sepenuhnya percaya diri untuk mengakui hasil produksi mereka sendiri. Padahal dari segi kualitas, peci buatan mereka tidak kalah bersaing dengan songkok buatan luar daerah seperti Gresik.

Lihat saja, hampir sulit menemukan perajin yang sudah berani memasang label produksi dari Kabumen dalam kemasan peci mereka. Mereka lebih memilih untuk mengosongkan tanpa dibubuhi embel-embel "made in Kebumen" atau kata-kata lain yang berhubungan dengan Kebumen. Padahal jumlah peci produksi perajin Desa Bandung sudah banyak mewarnai pasaran peci di Jawa Tengah bahkan sampai luar Jawa.

Kondisi tersebut diakui Khairudin (40) salah satu perajin peci di Dusun Tegong. Alasannya, nama Kebumen belum bisa untuk dijual. Ada ketakutan bagi perajin jika dilabeli Kebumen, harga peci di akan murah. Untuk itu, perajin lebih memilih mengosongkan saja. Kondisi tersebut relatif lebih baik, karena tahun-tahun sebelumnya, para perajin masih mencantumkan label produksi Grasik dalam peci buatannya. Padahal peci tersebut merupakan asli buatan Kebumen.

"Saya sudah punya niat memproduksi peci yang berkualitas bagus dengan mencantumkan Kebumen," ujar perajin yang melabeli peci produksinya dengan nama Al Hakim.

Sebenarnya banyak merek peci hasil produksi perajin di Desa Bandung. Beberapa merek yang terkenal antara lain Abbas produksi H Kharir, Kota Santri produksi H Nur Shodik, Ali Jufri produksi H Mahfud, Kitap Suci Super produksi H Khalid atau Dinamor produksi perajin yang sekaligus Kepala Desa Bandung Sulastri Zubair. Perajin lain yang juga sudah memproduksi peci dengan label sendiri seperti KH Masngudin, H Ma'ruf, dan H Khalid. Adapun sebagian perajin yang kecil belum memiliki label sendiri. Mereka pada umumnya masih menginduk kepada label yang lebih besar dan mapan.

Sedangkan kualitas disesuaikan dengan standar merek yang diikuti. Terlepas dari merekm, model peci dibuat perajin Desa Bandung antara lain model semok, bordir, polosan, dan AC, pita dan susun. Kendati sebagian merek peci tersebut belum dipatenkan oleh pemilik produksinya, namun para perajin di desa tersebut tidak membuat merek yang sama dengan perajin lain. Hal itu diakui sebagai bentuk solidaritas dan etika yang dijaga setiap perajin. Namun ada beberapa merek yang bebas dipakai oleh para perajin. Namun merek tersebut untuk kategori peci kualitas rendah.

"Persaingan perajin di Bandung cukup sehat. Kami percaya rejeki sudah ada bagiannya sendiri-sendiri," ujar Khairudin yang pada bulan Ramadan ini memproduksi sebanyak tujuh kodi/hari.

Desa Bandung terkenal sebagai sentra kerajinan peci karena sekitar 150 keluarga dari total 700 keluarga menjadi perajin peci. Mereka terdiri dari perajin kecil sedang hingga perajin yang sudah besar. Untuk ketegori perajin besar dan sendang berjumlah tidak lebih 70 perajin. Selebihnya merupakan perajin kecil. Sebagian lain mereka menjadi perajin tas, topi, kopyah haji, dan seragam sekolah.

Pada awalnya jumlah perajin peci di desa hanya puluhan orang.Namun pada perkembangannya sekitar tahun 1975 banyak karyawan yang sudah lama bekerja kemudian memproduksi peci sendiri. Mereka keluar setelah mengetahui detail kerajinan peci mulai dari bahan baku, pembuatan sampai pemasaran.***

Sunday, September 7, 2008

padi supertoy

DUA orang petani di Desa/Kecamatan Grabag Purworejo, Jawa Tengah membawa sisa-sisa padi supertoy yang bisa dipanen, Sabtu (6/9). Para petani di desa itu sebelumnya melakukan aksi pembakaran padi karena merasa dirugikan karena padi mereka tidak bisa dipanen untuk yang kedua kali. Mereka menuntut kepada PT SHI memberikan ganti rugi.

Nasip petani yang sudah susah menjadi semakin sulit. Mereka menjadi korban uji coba orang-orang besar di Jakarta. Tragisnya, saat ujicoba itu gagal mereka dengan seenaknya ditinggalkan. Para petani kini berjuang untuk menuntut ganti rugi.


Tuesday, September 2, 2008

Pakan Ternak

MUSIM kemarau menjadi pilihan sulit yang harus dihadapi para peternak, tidak terkecuali yang ada di Kebumen. Bagaimana tidak, selain tanaman padi mereka banyak yang gagal panen, mereka juga dilanda kesulitan pakan ternak. Maka jerami kering pun menjadi alternatif buat pakan ternak mereka.

Musim kemarau tahun ini, krisis air juga melanda sekitar 82 desa di kabupaten itu. Akibatnya banyak warga yang kesulitan mendapatkan bersih. Yang membuat saya terenyuh, banyak peternak yang mengaku lebih mementingkan untuk keperluan ternak mereka daripada untuk diri mereka sendiri. Misalnya, ada seorang peternak yang rela tidak mandi karena airnya untuk minum ternaknya.***

Pantai Ayah

PANTAI Ayah di Kabupaten Kebumen, Jateng memiliki keindahan yang cukup menawan. Suatu pagi saya melintasi sebuah jembatan di perbatasan Kebumen-Cilacap. Saat itu, sejumlah nelayan tengah menjaring ikan di sungai Bodho yang bermuara di Pantai Loganding. Saya berhenti sebentar untuk sekadar menikmati alam dan mengabadikannya.***

Lentera Jiwa

tulisan Andy F Noya ini dikutip dari: http://kickandy.com/
BANYAK yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena "pecah kongsi dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan.
Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan power yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri. Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.
Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar.
Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.
Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman.
Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.
Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.
Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri. Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang.
Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanya ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.
Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang -- dan membuat mereka tidak bahagia -- adalah karena mengikuti keinginan orangtua.
Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.
Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.
Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.
Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup.
Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya. Hidup saya, katanya.
Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.***

Desa Kedungringin

KEDUNGRINGIN merupakan nama sebuah desa di Kecamatan Sempor Kabupaten Kebumen. Jalan darat yang berbukit menjadi satu-satunya jalur yang harus dilewati warga untuk pergi ke kota kecamatan. Namun sejak ada jalur air, mereka memilih menggunakan jalur ini sebagai alternatif transportasi. Berikut laporannya.
***
SIANG cukup panas, Warjo (40) bersama beberapa teman pemilik perahu penyeberangan di Waduk Sempor, Kebumen duduk-duduk lesehan di atas parkir. Tidak jauh dari mereka sejumlah perahu besar dan kecil ditambatkan di pinggir waduk. Sembari menunggu penumpang, mereka asyik ngobrol soal jatah raskin yang saat itu sedang dibagikan Bulog Kebumen.

Warga Desa Kedungringin ini merupakan salah satu pemilik perahu jasa penyebarangan dari Desa Sempor ke Desa Kedungringin melalui jalur air. Untuk sampai kedesa tujuan, perahu tersebut menyeberangi waduk.

Setidaknya terdapat sembilan perahu besar dengan kapasitas 20 penumpang setia setiap saat mengantarkan warga yang akan pergi ke pasar ataupun sekadar jalan-jalan. Selain itu, sebanyak 30 perahu kecil dengan kapasitas tujuh orang juga menjadi alat yang menghubungkan warga baik yang akan pulang atau pergi ke Kedungringin.

Perahu-perahu itu mayoritas milik warga setepat, baik warga Sempor maupun Kedungringin. Separoh dari jumlah perahu itu ditambatkan pada semacam dermaga kecil di pinggir waduk di Desa Kedungringin. Perahu tersebut mengantarkan warga yang akan pergi ke kota. Sedangkan sisanya ditambatkan di pinggir Waduk Sempor di wilayah Desa Sembor. Perahu-perahu tersebut mengantarkan warga yang akan kembali pulang ke kampung halamannya.

"Sebagian warga memilih menggunakan jalur air karena lebih cepat," ujar Warjo, belum lama ini.
Samirin (39) pemilik perahu lain, menambahkan jika melewati jalur darat, dari sempor ke Kedungringin warga harus melintas jalan berliku dengan menempuh jarak sekitar 15 km. Jalan yang ada pun harus memutar waduk dahulu. Jika melewati arah timur, untuk sampai di Kedungringin harus melintasi beberapa desa yakni Kenteng, Semali dan Karet. Sedangkan jika memutar lewar arah barat, harus melewati Desa Sampang dan Ketileng.

Padahal jika ditempuh dengan menggunakan perahu, jarak Sempor-Kedungringin hanya sekitar 7 km. Dengan memotong kompas menggunakan jalur, paling tidak warga bisa memperpendek jarak 7,5 km dalam sekali perjalanan. Jadi dalam setiap pulang pergi jarak tempuh yang dapat dipotong sepanjang 15 km.

Untuk menggunakan jasa perahu ini, pada umumnya warga desa harus mengeluarkan Rp 5.000 untuk biaya sekali perjalanan dan Rp 10.000 untuk pulang-pergi. Selain kepada warga setempat, pemilik perahu juga menyediakan untuk mengantarkan wisawatan yang ingin mencoba mengelilingi waduk Sempor dengan menggunakan perahu.
***
Waduk Sempor memang menjadi berkah bagi banyak orang, tak terkecuali warga Kedungringin. Selain menyediakan air untuk irigasi persawahan, menggerakkan turbin PLTA dan PDAM, waduk tersebut juga dipakai untuk jalur transportasi alternatif bagi ratusan warga di desa tersebut.

Selain itu, waduk tersebut juga menjadi lahan pekerjaan bagi banyak orang, seperti pencari ikan, pedagang baik di warung atau asongan. Tak terkecuali para pemilik pemilik perahu juga menyediakan untuk mengantarkan wisawatan yang ingin mencoba mengelilingi waduk Sempor dengan menggunakan perahu.

Jika pada umumnya warga desa membayar Rp 5.000 untuk sekali perjalanan, harga tersebut tidak berlaku bagi wisatawan. Apalagi tidak selamanya banyak warga yang memanfaatkan perahu tersebut untuk sarana itu.

Seperti misal, saat saya berada di tempat itu hampir dua jam, belum ada satu pun warga yang datang menggunakan perahu tersebut. Terpaksa seorang penumpang yang sudah datang harus menunggu agak lama. Karena jika satu penumpang dipaksakan diangkatkan pemilik perahu akan rugi, karena tidak sebanding dengan bahan bakar yang mereka keluarkan.
"Kecuali jika membayar lebih dan cocok tetap akan kami angkatkan. Tapi kadangkala kami tidak tega untuk meminta tarif yang agak banyak, terutama bagi warga desa," ungkap Samirin (39) salah satu pemilik perahu.

Akan tetapi berbeda dengan para wisatawan para pemilik perahu, toleransi agak sedikit diberikan. Untuk itu, agar dapat menikmati sebuah panorama cantik dengan sajian yang begitu memesona naik perahu tersebut secara berombongan. Setidaknya itu akan membuat harga lebih murah.
"Lha kalau wisatawan kan, tujuannta ke sini memang untuk senag-senang. Jadi kami menawarkan kalau mereka mau ya diangkatkan, tapi jika tidak ya nggak apa-apa," tambahnya.

Dalam sehari rata-rata perahu hanya dua kali pulang pergi dari pinggir waduk di Desa Sempor ke Kedungringin. Banyaknya perahu di tempat itu membuat mereka harus berbagi satu sama lain.
Dikatakan, dalam sehari mereka tidak menentu penumpang yang datang. Penghasilan mereka pun tidak menentu, kadang banyak tapi kadang juga sedikit. Paling banyak waktu hari minggu. Selain warga banyak yang memanfaatkan, para wisawatan di Waduk Sempor juga relatif lebih banyak ketimbang dengan hari biasa.

Namun paling sepi terjadi ketika musim kemarau tiba. Saat ini air waduk mulai menyusut. Di wilayah Desa Sempor penyusutan air waduk pada musim kemarau mencapai satu kilometer. Namun di wiayah Kedungringin terjadi penyusutan dua kali lipatnya, yakni dua kilometer.

"Jadi setelah turun dari perahu warga terpaksa harus menempuh jarak tiga kilometer," ungkapnya.

Pada saat itu, penumpang menjadi sepi. Mereka kembali menggunakan jalur darat dengan memutari waduk tersebut. Saat itu banyak perahu yang tidak dijalankan. Mereka kembali menjadi petani, ada yang bekerja lain. Akan tetapi ada yang masih bertahan menunggu warga yang akan menyeberangi waduk sempor atau wisawatan yang ingin jalan-jalan di seputar waduk sambil menikmati panorama indah dan udara sejuk menyegarkan di obyek wisata yang terpadu dengan alam itu.


Masuk ke kawasan waduk setiap pengujung di obyek wisata tersebut dikenai retribusi Rp 2.250 plus asuransi. Parkir bus Rp 5.000, roda empat Rp 4.000 dan untuk roda dua Rp 1.000. ***

Masjid Kauman

KEBERADAAN Masjid Agung Kauman Kebumen, tidak bisa dilepaskan dari sosok KH Imanadi. Dialah pendiri masjid yang kini sudah berumur 176 tahun itu. Makam ulama yang diyakini hidup antara tahun 1775-1850 M itu berada Dusun Pesucen Desa Wonosari,Kebumen.

Belum ada referensi tertulis yang bisa dijadikan rujukan untuk menyingkap sejarah berdirinya masjid agung Kauman. Sumber yang bisa dijadikan patokah adalah cerita lisan turun temurun, termasuk dari keturunan KH Imanadi yang masih hidup.
KH Imanadi adalah putra K Nurmadin atau Pangeran Nurudin bin Pangeran Abdurrahman alias K Marbut Roworejo. KH Imanadi merupakan salah satu punggawa Pangeran Diponegoro yang gigih melawan penjajah.

Dia diyakini sebagai seorang ahli Fiqih dan hukum ketatanegaraan. Adipati Arumbinang ke-IV yang menjadi penguasa Kebumen saat itu berkenan mengeluarkan KH Imanadi dari penjara karena menjadi tahanan politik Belanda. Arumbinang IV konon mendapat wangsit jika ingin kuat maka harus menemui dan bekerjasama dengan KH Imanadi yang menjadi tahanan politik. Bahkan KH Imanadi diangkat menjadi Penghulu Landrat atau Kepala Depag dan Pengadilan Agama pertama di Kebumen.

Salah satu keturunan ke-6 KH Imanadi, M Sudjangi (45) menuturkan saat perang Diponegoro (1825-1830), KH Imanadi yang paling gigih menentang Belanda. Saat itu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat telah dikuasai Belanda. Penjajah Belanda mengangkat adik Pangeran Diponegoro menjadi Hamengkubowono ke-IV (1814-1822M). Padahal mestinya Pangeran Diponegoro yang berhak menjadi Sultan.

Kegigihan Imanadi yang pernah bermukim di Mekkah sekaligus menunaikan ibadah haji melanjutkan perjuangan ayahnya K Nurmadin dan kakeknya Pangeran Abdurrohman atau K Marbut. K Marbut diyakini masih saudara kandung Pangeran Diponegoro yang juga putra kandung Hamengkubowono ke-III.

Saat itu, Pangeran Abdurrohman diperintahkan Keraton Ngayogyakarta untuk mencari kakak kandungnya yakni K Mursid yang pergi entah kemana. Dia kontra dengan keraton yang sudah dikuasai Belanda. Singkat cerita, Pangeran Abdurahman bertemu dengan K Mursid di tempat lain yang sekarang diberi nama Desa Roworejo.

Maksud hati ingin mengajak kakaknya pulang, namun justru yang terjadi sebaliknya. K Mursid meminta Pangeran Abdurrahman untuk tidak pulang dan bersama-sama melawan Belanda. Akhirnya dia menerima dan bermukim di Desa Roworejo. Sedangkan K Murid pindah ke Legok Pejagoan beranak pinak dan mendirikan Masjid Legok. Makam K Mursid berada di belakang masjid tersebut.

Menurut Sudjangi, setelah Imanadi diangkat Penghulu Landrat I dengan didampingi KH Zaenal Abidin Banjursari Buluspesantren dia diberi hadiah tanah yang cukup luas di barat Alun-alun Kebumen yang kini dikenal dengan Dusun Kauman. Sebagian tanahnya seluas 1872 m2 diwakafkan untuk pembangunan masjid pada tahun 1832. Masjid itu hingga kini dikenal sebagai Masjid Agung Kauman Kebumen.

Ulama kharismatis itu tidak mau asal-asalan memilih kayu terbaik untuk soko guru. Dia mendatangkan kayu jati dari Kadipaten Ambal. KH Imanadi memboyong empat pohon jati, padahal jarak Ambal-Kebumen sekitar 25 kilometer. Dalam versi lainnya, kayu jati yang digunakan sebagai soko guru diambil dari hutan di wilayah selatan Kebumen yakni Buayan dan Petanahan.

Pemasangan empat soko guru itu, konon dilakukan hanya dalam waktu semalam. Yakni atas bantuan khodam (jin Islam) yang bernama Jin Taliwangsa atau Syekh Abdurahman dari Timur Tengah. Jin Islam itu kalah tanding dengan KH Imanadi di Mekkah. Lalu dia minta ikut KH Imanadi kembali ke Kebumen.
"Dia diperbolehkan ikut asalkan tidak mengganggu anak cucu keturunan KH Imanadi di Kabuman," ujar dia menyebutkan cerita itu diperoleh dari turun temurun dari keluarganya.

Empat soko guru masjid pusat kegiatan Islam di Kebumen itu sampai sekarang masih digunakan sebagai tiang penyangga masjid meskipun sudah dibantu cor. Namun kayu jati aslinya tetap digunakan. Itu untuk mempertahankan nilai sejarah soko guru masjid.

Sejak didirikan 1832 M masjid Agung sudah lima kali direnovasi. Renovasi paling besar dilakukan 2005 lalu. Masjid yang berdiri diatas tanah seluas 1872m2 itu sudah tidak mampu menampung jamaah. Akhirnya disepakati untuk ditingkat. Di depan masjid, sebelumnya terdapat kolam untuk wudhu yang mengandalkan air dari saluran irigasi yang ada di tepi jalan. Namun sekarang sudah dipindah ke sebelah utara.

Hingga sekarang Imam Masjid Agung sudah berganti 10 kali yang semuanya masih keturunan KH Imanadi. KH Imanadi yang menikahi dua perempuan dan dikarunia delapan putra. Dia juga meninggalkan 12 tombak pusaka yang digunakan untuk berperang melawan penjajah Belanda. Dulu 12 tombak itu sering dicuci dan dirawat. Namun sekarang tombak-tombak dibiarkan di gudang.
"Kami sangat menyayangkan peninggalan itu tidak dirawat dengan baik," katanya. ***