About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Wednesday, September 10, 2008

peci kebumen

SAAT mengunjungi Desa Bandung, Kecamatan/Kabupaten Kebumen, anda akan sulit melihat warganya berpangku tangan pada siang hari. Meski tetap menjalanan ibadah puasa, mereka tetap aktif dalam kesibukannya yakni memproduksi peci.

Diserambi rumah tampak para ibu-ibu dengan teliti menyelesaikan pembuatan peci. Sementara di jalan desa yang belum beraspal itu banyak berlalu-lalang perempuan membawa kain, kertas maupun peci yang sudah jadi untuk diserahan kepada para perajian yang lebih besar. Ya, begitulah suasana hiruk pikuk Desa Bandung.

Pemandangan itu, tidak hanya terlihat pada waktu siang. Malam hari pun tidak jauh beda. Usai salat tarawih mereka sebagian ada yang lembur menggarap peci mulai dari menjahit hingga finishing sampai dengan pengepakan. Baru sampai larut malam, orang benar-benar selesai dari pekerjaannya. Desa Bandung Kecamatan/Kabupaten Kebumen dikenal sebagai sentra kerajinan peci.Sekitar 150 keluarga dari total 700 keluarga yang ada di desa itu, memutar roda perekonomian dengan menjadi perajin peci. "Dua bulan sebelum lebaran sudah mulai lembur, Mas," ujar Khuriyah (40) warga Bandung yang ikut bekerja kepada salah seorang perajin, Rabu (10/9).

Bukan hanya Khuriyah, Siti Haryati (40) Warga Desa Kalirejo Kecamatan/Kabupaten Kebumen juga ikut terkena berkah. Setiap hari dia datang ke Desa Bandung untuk bekerja mengesum peci-peci yang hampir jadi. Mereka dibayar borongan sesuai dengan hasil yang mereka peroleh.

Menurut salah satu perajin peci, Tholhah (42), Ramadan ini, terjadi peningkatan permintaan mencapai 100 persen dari hari biasa. Peningkatan itu sudah mulai terjadi pada bulan Rajab. Dengan dua orang karyawan, dalam sehari dia bisa membuat sebanyak lima kodi peci."Peci-peci tersebut kami pasok ke sejumlah kota di Jawa Tengah sampai pulau Sumatra," ujar Tholhah sembari menyebutkan Kitab Suci adalah merek peci produksinya.
Dia membuat berbagai model peci. Antara lain model semok, bordir, polosan, dan AC, dan pita. Harga setiap peci bervariasi sesuai dengan model dan kualitas barang. Untuk kualitas rendah harga dari perajin sekitar Rp 11.000/kodi. Ada pula yang harganya Rp 150.000/kodi. "Sedangkan untuk kualitas super, yakni yang bahan dan penggarapannya halus bisa sampai Rp 300.000/kodi," kata Kepala Dusun Kebonsari itu seraya menyebutkan, kondisi Ramadan tahun ini relatif lebih baik dari tahun sebelumnya.
Dia menambahkan, kondisi akan mulai normal kembali setelah bulan Syawal. Sesuai dengan kebisaan, paska bulan haji kondisi bisnis peci mulai lesu sampai bulan Maulud. Setelah itu berangsur-angsur normal kembali dan pada bulan Rajab terjadi peningkatan permintaan sampai akhir puasa."Begitu terjadi setiap tahun. Saat kondisi peci sedang sepi ada sejumlah perajin terutama yang kecil-kecil beralih memproduksi tas, topi maupun seragam sekolah," ujar Tholhah.

***
KERAJINAN peci di Desa Bandung, Kecamatan/Kabupaten Kebumen sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Namun hingga saat ini, para perajin masih belum sepenuhnya percaya diri untuk mengakui hasil produksi mereka sendiri. Padahal dari segi kualitas, peci buatan mereka tidak kalah bersaing dengan songkok buatan luar daerah seperti Gresik.

Lihat saja, hampir sulit menemukan perajin yang sudah berani memasang label produksi dari Kabumen dalam kemasan peci mereka. Mereka lebih memilih untuk mengosongkan tanpa dibubuhi embel-embel "made in Kebumen" atau kata-kata lain yang berhubungan dengan Kebumen. Padahal jumlah peci produksi perajin Desa Bandung sudah banyak mewarnai pasaran peci di Jawa Tengah bahkan sampai luar Jawa.

Kondisi tersebut diakui Khairudin (40) salah satu perajin peci di Dusun Tegong. Alasannya, nama Kebumen belum bisa untuk dijual. Ada ketakutan bagi perajin jika dilabeli Kebumen, harga peci di akan murah. Untuk itu, perajin lebih memilih mengosongkan saja. Kondisi tersebut relatif lebih baik, karena tahun-tahun sebelumnya, para perajin masih mencantumkan label produksi Grasik dalam peci buatannya. Padahal peci tersebut merupakan asli buatan Kebumen.

"Saya sudah punya niat memproduksi peci yang berkualitas bagus dengan mencantumkan Kebumen," ujar perajin yang melabeli peci produksinya dengan nama Al Hakim.

Sebenarnya banyak merek peci hasil produksi perajin di Desa Bandung. Beberapa merek yang terkenal antara lain Abbas produksi H Kharir, Kota Santri produksi H Nur Shodik, Ali Jufri produksi H Mahfud, Kitap Suci Super produksi H Khalid atau Dinamor produksi perajin yang sekaligus Kepala Desa Bandung Sulastri Zubair. Perajin lain yang juga sudah memproduksi peci dengan label sendiri seperti KH Masngudin, H Ma'ruf, dan H Khalid. Adapun sebagian perajin yang kecil belum memiliki label sendiri. Mereka pada umumnya masih menginduk kepada label yang lebih besar dan mapan.

Sedangkan kualitas disesuaikan dengan standar merek yang diikuti. Terlepas dari merekm, model peci dibuat perajin Desa Bandung antara lain model semok, bordir, polosan, dan AC, pita dan susun. Kendati sebagian merek peci tersebut belum dipatenkan oleh pemilik produksinya, namun para perajin di desa tersebut tidak membuat merek yang sama dengan perajin lain. Hal itu diakui sebagai bentuk solidaritas dan etika yang dijaga setiap perajin. Namun ada beberapa merek yang bebas dipakai oleh para perajin. Namun merek tersebut untuk kategori peci kualitas rendah.

"Persaingan perajin di Bandung cukup sehat. Kami percaya rejeki sudah ada bagiannya sendiri-sendiri," ujar Khairudin yang pada bulan Ramadan ini memproduksi sebanyak tujuh kodi/hari.

Desa Bandung terkenal sebagai sentra kerajinan peci karena sekitar 150 keluarga dari total 700 keluarga menjadi perajin peci. Mereka terdiri dari perajin kecil sedang hingga perajin yang sudah besar. Untuk ketegori perajin besar dan sendang berjumlah tidak lebih 70 perajin. Selebihnya merupakan perajin kecil. Sebagian lain mereka menjadi perajin tas, topi, kopyah haji, dan seragam sekolah.

Pada awalnya jumlah perajin peci di desa hanya puluhan orang.Namun pada perkembangannya sekitar tahun 1975 banyak karyawan yang sudah lama bekerja kemudian memproduksi peci sendiri. Mereka keluar setelah mengetahui detail kerajinan peci mulai dari bahan baku, pembuatan sampai pemasaran.***

3 comments:

  1. An,
    Blogmu bikin silau mataku.
    Warnanya terlalu tajam.
    Aku tak mau ganti kaca mata.

    Kapan maen ke rumah?
    ada kopi dan kue.
    Dan sebuah permen coklat, KOPIKO.

    ReplyDelete
  2. Saya Heru 0812 860 3523 punya web "grosirpeci.com" -kumpulan usahawan muda muslim- ingin menjalin kerjasama ama bapak-bapak Desa Bandung ini, barangkali bisa mbantu hubungan.
    Salam

    ReplyDelete
  3. matep dah neh daerah,
    biar puasa pun gak ada alasan buat bermalas2an.
    angkat jempol dah

    ReplyDelete

terima kasih Anda telah memberikan komentar di blog ini