About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Thursday, October 30, 2008

Derita Salsabil

SELINTAS kondisi kesehatan Salsabil Maitsa Zulfa (7 bulan) tampak normal layaknya balita pada umumnya. Namun siapa sangka, buah kasih pasangan Agus Widodo (28) dan Nurita (26) warga Dusun Pringamba Desa Pohkumbang Kecamatan Karanganyar Kebumen itu memiliki kelainan fisik. Bayi perempuan itu dilahirkan tanpa memiliki lubang anus.

Saat membuang air besar, bayi kelahiran 22 Maret 2008 tersebut mengeluarkan melalui alat kelaminnya. Kondisi tersebut baru diketahui oleh orang tuanya saat bayi tersebut berumur 43 hari. Ketika itu, oleh orang tuanya dia mulai diberi makan selain air susu ibu (ASI) yakni pisang yang dihaluskan. Namun saat hendak buang air besar bayi malang itu selalu selalu menangis. Sedangkan berak yang keluar kecil-kecil seperti batang lidi.

"Itu pertama kali saat saya mengetahui kalau Salsabil tidak memiliki lubang anus," ujar Nurita saat ditemui di rumah orang tuanya, Kamis (30/10).

Melihat kondisi tersebut, akhirnya dia membawa anaknya ke Rumah Sakit Palang Biru Gombong. Di rumah sakit tersebut, anaknya sempat mondok selama tiga hari. Namun dokter rumah sakit tersebut merekomendasikan untuk melakukan operasi setelah bayi tersebut berumur satu tahun.

Setelah pulang dari rumah sakit, kondisi anaknya tidak lebih baik dari sebelumnya. Saat buang air besar, anak semata wayangnya itu meringis seperti tengah menahan sakit yang sangat amat. Dalam kondisi begitu, apalagi tanpa ditungguisuaminya Nurita pun hanya bisa bersedih. Ya, suaminya yang bekerja menjadi satpam di sebuah apartemen di Jakarta hanya bisa pulang sebulan sekali.

"Kami ingin sekali anak kami dioperasi, namun biayanya sangat besar labih dari Rp 10 juta," imbuhnya mengaku prihatin melihat perkembangan anaknya yang tampak kurus yakni memiliki berat badan 5,5 kg. Padahal berat badan balita seusianya sudah ada yang mencapai 8-10 kg.

Berbagai usaha telah dilakukan, termasuk membawanya ke RSUD Kebumen. Namun hanya kecewa yang dia dapat. Pihak rumah sakit mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab, keluarganya tidak tercatat sebagai pemegang kartu Jamkesmas. Kesulitan biaya untuk operasi pun menjadi kendala bagi keluarga muda yang masih hidup menumpang di rumah orang tuanya tersebut.

"Terus terang, uang puluhan juta untuk membiayai operasi terlalu berat untuk kami tanggung," ujarnya sembari berharap ada tangan dermawan yang membantu pembiayaan operasi.

Kasus ini mendapat perhatian serius dari anggota Komisi C DPRD Kebumen M Stevani Dwi Artiningsih. Dengan berbagai cara, anggota dewan dari PDI Perjuangan tersebut membantu mengupayakan agar balita malang itu dapat dioperasi. Sehingga ke depan dia akan melanjutkan hidup sebagai orang normal. Atas rekomendasi dokter, Salsabila bisa dioperasi di Rumah Sakit Dr Sarjito Yogyakarta. Namun sebelum itu, diperlukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter ahli.

"Saat ini Bagian Kesra Setda Kebumen sudah bersedia akan membantu dana untuk menambah biaya operasi," ujar Stevani Dwi didampingi Kepala Desa Pohkumbang Sudiyono saat mengunjungi Salsabil.

Operasi yang akan dilakukan, kata Stevani akan dilakukan tiga kali. Operasi pertama dilakukan untuk membuat saluran pembuangan, kemudian operasi kedua untuk melubangi anus dan operasi ketiga dilakukan untuk mengembalikan fungsi anus seperti pada manusia normal. "Dengan sekuat tenaga kami akan membantu agar Salsabil bisa dioperasi," ujar Stevani.***

No comments:

Post a Comment

terima kasih Anda telah memberikan komentar di blog ini