About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Thursday, November 27, 2008

No Smoking?

MELIHAT dua petani yang tengah asyik merasai hisapan lintingan tembakau di pematang sawah di Kecamatan Sadang Kabupaten Kebumen, baru-baru ini, membuat saya cemburu. Meski setiap tahun didera harga pupuk yang melambung, mereka masih tetap bertahan sebagai petani.

Meski bukan seorang perokok, saya tidak pernah berharap suatu saat ada pemeritahan yang kurang kerjaan hingga melarang seorang petani merokok saat bekerja di sawah. Apalagi sampai mereka diwajibkan membayar denda atau dikurung penjara, tidak pernah berharap.***

Friday, November 21, 2008

Naik Rakit

JIKA disuruh mengajukan tiga permintaan, sebagian warga Desa Seboro Kecamatan Sadang Kabupaten Kebumen tentu salah satunya akan mengajukan permohonan untuk dibangunkan jembatan di atas sungai Luk Ulo yang membelah desa mereka. Ketiadaan jembatan membuat mereka terpaksa menumpang rakit untuk menyeberang ke pusat desa, maupun pergi ke kota.

Mainah (40), Harti (45) Sodikun (37) warga Dusun Karanganyar Desa Seboro adalah tiga dari ribuan warga Desa Seboro yang menggunakan jasa "jembatan berjalan" untuk keperluan mengurus surat-surat, ke pasar maupun bekerja baik di instansi pemerintah maupun swasta. Maklum selain Dusun Karanganyar di sisi timur sungai Luk Ulo masih terdapat enam dusun lagi yang bernasip sama dengan penduduk sekitar 3.000 jiwa. Jika tidak menyeberangi sungai itu, warga harus memutar melewati jembatan di Desa Wonosari dengan jarak 4 KM lebih panjang atau melalui Dusun Legok sekitar 5 KM lebih jauh.

Kepala Desa Seboro, Muhadi (41) mengungkapkan, selain digunakan untuk pergi ke pasar atau ke balai desa, jalur itu juga dilalui untuk menguburkan jenazah. Mengingat letak tempat pemakaman umum (TPU) berada di seberang sungai. Bahkan beberapa tahun lalu pernah terjadi, jenazah yang akan dikuburkan hampir hanyut di sungai Luk Ulo.
"Gara-garanya, saat berada di atas rakit, sungai tiba-tiba banjir," kenang Muhadi.

Setiap hari, di sungai tersebut terdapat tiga rakit yang siap menyeberangkan warga mulai pukul 07:00 sampai pukul 16:00. Setiap rakit terdiri dari tiga orang kru, satu orang di depan dan dua lainnya mendorong dari belakang. Sebagai imbal jasa, biasanya warga memberikan uang Rp 1.000 per orang. Sedangkan untuk sepeda motor mereka memberikan Rp 3.000. Meski adapula pula yang hanya memberikan ucapan terimakasih, namun tidak membuat para tukang rakit itu tidak melayani.

"Itung-itung untuk menolong warga," ujar Sutarto (36) salah satu tukang rakit yang mengaku penghasilan setiap hari sekitar Rp 100.000-Rp 120.000 untuk setiap rakit.***

Wednesday, November 5, 2008

batik kebumen

INDUSTRI batik tulis sebagian besar sudah meninggalkan penggunaan bahan pewarna alami. Tidak terkecuali, para perajin batik tulis di Kebumen. Mereka mayoritas menggunakan pewarna kimiawi. Padahal penggunaan zat tersebut membawa risiko bagi perajin dan lingkungannya.

Namun salah satu kelompok perajin batik di Kebumen yang mencoba kembali menggunakan zat alami untuk bahan pewarnaan. Kelompok perajin batik "Kenanga" di Dusun Lengkong Desa Jemur Kecamatan Pejagoan mencoba menggunakan bahan seperti sepet kelapa, mahoni, kunyit buah pace untuk proses pewarnaan batik mereka. Perajin batik yang merupakan binaan Dharma Wanita "Persatuan" Kebumen tersebut akhirnya berhasil membuat sebuah batik dengan pewarna alami.

Hasilnya ternyata tak kalah bersaing jika dibandingkan batik yang menggunakan pewarna kimiawi. Adapun kelebihan pewarna alami yang dahulu dipakai sejak jaman nenek moyang itu adalah aman dan ramah lingkungan. Dari penelitian, efek negatif pewarna kimiawi dalam proses pewarnaan oleh perajin batik tulis adalah risiko terkena kanker kulit. Selain itu, limbah pewarna yang dibuang juga mencemari lingkungan.

"Kami memang baru mencoba dan ternyata berhasil. Kami senang sekali, ke depan akan memproduksi batik tulis dengan pewarnaan alami," ujar Ketua Kelompok Perajin Batik "Kenanga" Baroyah (47) saat ditemui di rumahnya, kemarin.

Penggunaan kembali warna alami oleh perajin batik tidak lepas atas dorongan dari Dharma wanita "Persatuan" Kebumen. Merujuk adanya kebijakan oleh beberapa negara maju terutama di Eropa sejak tahun 1996 melarang penggunaan zat warna berbahan kimia bagi produk footwear, clothing, termasuk batik.

"Kami pernah ikut pameran, ternyata beberapa negara di Eropa senang dengan pewarna yang ramah lingkungan. Untuk itu kami mendorong kepada kelompok batik "Kenanga" menggunakan pewarna yang alami," ujar Mieke Irwanto, Wakil Ketua Dharma Wanita "Persatuan" Kebumen.

Kelompok batik yang beranggotakan 15 orang tersebut juga relatif cukup inovatif dalam mengembangkan batik Kebumen. Atas dukungan Arieke Batik & Craft dan Murni Batik, dilakukan berbagai terobosan untuk mengangkat derajat batik Kebumen ke level tingkat menengah atas. Selain motif yang berfariatif, para perajin juga menggunakan bahan dasar yang berkelas. Tidak saja menggunakan kain mori/premis kualitas nomor satu, mereka juga sudah memakai kain sutera super, kain songket, serat nanas dan kayu rani dari India. Adapun motif-motif yang digunakan di antaranya jagatan rante, undel tombel, gringsing, sirikit, ukel, ripandan dan cengkehan.

"Kami terus mendorong mereka membuat motif-motif baru yang lebih menarik," ujar perempuan dengan Arieke Batik dan Craftnya mengikuti sejumlah ajang pameran nasional dan internasional.

Nyatanya, dengan menggunakan bahan dasar yang berkelas serta motif yang inovatif dan penggerapan yang halus, batik-batik karya kelompok perajin yang pernah menjadi juara I lomba motif Dekranasda 2005 dan juara II lomba motif batik Disperindagkop Kebumen 2008 ini diminati konsumen kelas atas. Pemasaran batik tersebut sudah masuk ke hotel di Jakarta, Balai Graha Santika dan melalui DWP Jakarta.

Di pasaran Harga batik tulis Kebumen cukup tinggi. Misalnya sutera super batik tulis warna biasa Rp 1 juta, sutera super batik tulis berbahan alam yakni dari batok kelapa, kunyit dan daun mangga Rp 1,2 juta. Sedangkan bahan biasa kualitas nomor satu harganya mulai Rp 150.000 sampai dengan Rp 900.000. Tidak hanya itu, sejumlah tokoh juga pernah memakai batik hasil karya perajin ini. Sebut saja, Kartika Soekarno Putri, Seto Mulyadi, dokter Boyke, sejumlah menteri antara lain menteri kesehatan, menteri pertanian, menteri percepatan desa tertinggal, dan Menko Kesra pernah memakai batik hasil karya mereka.

Dengan sentuhan itu, nilai batik Kebumen tidak lagi dipandang sebelah mata dan sejajar dengan batik-batik dari daerah lain di Nusantara. "Industri batik saat ini sangat dihargai oleh negara-negara maju. Harga jual batik yang menggunakan pewarna alami juga cukup tinggi," tandas Mieke.***