About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Wednesday, January 28, 2009

Pandan Kuning

SELAIN pesona keindahan alam, ada sisi lain yang menarik di Pantai Petanahan Kebumen. Banyak orang justru lebih aroma mistik di Pesanggrahan Pandan Kuning daripada merasai deburan ombak laut selatan. Lalu apa yang mereka cari di lokasi yang diselimuti mitos itu, berikut laporannya.
***

PANAS terik menyengat tubuh, saat matahari bersinar hampir berada di atas belahan kepala. Hamparan gunung pasir di kawasan Pantai Petanahan tampak begitu panas hingga tampak semacam uap dia atasnya.Namun kondisi itu tidak mengurangi konsentrasi empat orang yang tengah larut bersemedi di pendapa didekat pesanggrahan Pandan Kuning, belum lama ini.

Dengan menghadap ke arah samudera, mereka duduk bersila. Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka. Suasana hening. Hanya ada doa dan mantra yang mungkin mereka utarakan dalam batin. Hanya ada hembusan angin yang menyapu pohon cemara laut yang mulai menghijau dan rerimbun pohon pandan, sedikit mengurangi panas siang itu. Keempat orang tersebut datang dari wilayah yang berbeda. Dua orang diantaranya dari Kebupaten Wonosobo, satu orang dari Kabupaten Purbalingga dan satu lagi dari Kabupaten Kebumen sendiri.

Saat ditemui usai melakukan semedi, mereka blak-blakan mengenalkan diri dan menuturkan maksud dan tujuan melakukan lelaku di tempat itu. Namun dengan catatan mereka tidak mau disebutkan nama lengkap dan asal desa mereka jika wawancara itu dimuat dalam surat kabar. "Takutnya setelah orang desa saya tahu, jika di kemudian hari saya sukses akan dikucilkan orang desa karena dianggap punya pesugihan," ujar pria asal Kecamatan Mojotengah Wonosobo.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai wiraswasta itu sudah dua hari dua malam berada di pesanggarahan itu. Sedangkan maksud dia melakukan ritual adalah untuk berdoa meminta rejeki kepada Tuhan. Adapun dipilihnya lokasi itu untuk melakukan ritual adalah atas petunjuk dari seorang kasepuhan. Dengan melakukan ritual berharap ada pencerahan sehingga dapat mengubah kehidupan mereka selanjutnya.

Percaya atau tidak, tapi begitulah faktanya. Ketika hidup semakin sulit, perekonomian yang menjepit, dan langkah rasional tak lagi bisa menjadi solusi, hal yang berbau klenik pun bisa ditempuh. Bertahun-tahun bekerja namun tidak pernah membuat dia berhasil, maka dia pun memilih jalan mistik untuk menjadikan lantaran mencari rejeki.
"Sampai saat ini belum ada petunjuk apapun," kata pria berperawakan kalem yang matanya mulai sayu itu.
Lain lagi bagi Yono (28) pria asal Purbalingga. Dia melakukan ritual di Pandan Kuning yang konon dipercaya merupakan pesangrahan ratu kidul itu dengan satu keinginan. Yakni mencari kesuksesan hidup. Selain itu, dia sengaja mendatangi lokasi itu untuk menenangkan hati. Saat itu dia masih menjalani ritual itu puasa ngebleng selama tiga hari-tiga malam. Meski mengaku berat, namun demi cita-cita menjadi orang yang berhasil dia mesti tahan dengan halangan yang ada.Dengan puasa dia percaya akan menajamkan mata batin.

"Rencananya saya akan melakukan ritual di tempat itu selama tujuh hari dan tujuh malam," kata pemuda berkulit bersih.

Ya, ritual di dalam pesanggrahan biasanya hanya dilakukan pada malam hari. Sedangkan pada siang hari biasanya digunakan untuk istirahat atau melakukan semedi di pendapa pesanggrahan. Begitu setiap hari mereka lakukan. Setelah mereka merasa mendapat semacam pentunjuk maka ritual itu diakhiri. Namun adapula yang tidak mendapat apa-apa meski telah melakukan ritual yang cukup lama.
"Sampai saat ini saya juga belum mendapatkan apa-apa," kata Yono.
Budiyono salah satu petugas objek wisata Pantai Petanahan, menuturkan, Pesanggrahan Pandan Kuning selalu banyak dikunjungi orang yang ini melakukan ritual. Ada yang ingin berdoa untuk memudahkan dalam mencari rejeki, mencari jodoh, pangkat dan kedudukan, atau sekadar menepi untuk mencari ketenangan hati. Mereka biasanya datang atas pentunjuk dari kasepuhan atau datang atas keinginan sendiri. Tidak hanya dari Kebumen, banyak warga luar kota yang secara khusus melakukan ritual di tempat itu.

Entah kebetulan atau tidak, kata dia, Banyak warga yang seteah melakukan lelaku spiritual, doa mereka dikabulkan. Jika demikian mereka kemudian melakukan ritual larungan. Yakni pakaian yang dia kenakan waktu melakukan ritual dilarung ke laut selatan. Soal tradisi larung sesaji itu tidak bisa dilepaskan dengan mitos penguasa laut selatan.

Orang-orang yang merasa berhasil semedi di tempat ini setiap malam Jum'at Kliwon bulan Sura mengadakan upacara larungan mulai sejak siang hari sampai menjelang ayam berkokok. "Yang jelas setiap orang yang sudah mendapatkan apa yang diinginkan, pakaian yang dia kenakan waktu melakukan ritual biasanya dilarung ke lautan," katanya.
***
PADA bagian pendapa, belum tampak adanya aura mistik di kawasan pesanggrahan Pandan Kuning di kawasan Pantai Petanahan, Kebumen. Namun jika sudah memasuki ruangan di sebelah utara pendapa, aroma klenik mulai terlihat. Sejumlah sesaji dan aroma dupa, kepenyan serta harum bunga setaman membuat nuansa lain ruangan yang hanya diterangi sinar lilin itu.

Bagi yang tidak terbiasa mengunjungi lokasi seperti itu, tentu akan membuat bulu kudu berdiri. Kalau tidak, aroma campuran wewangian itu membuat kepala pusing dan perut mual. Namun demikian, banyak orang yang mau berlama-lama melakukan ritual di sana. Selain orang yang memiliki hajat tertentu, pesanggrahan itu juga mejadi tempat favorit paranormal untuk melakukan ritual.

Salah satunya paranormal yang sering melakukan ritual di lokasi itu adalah Kasikun (49). Warga Desa Tegalretno Kecamatan Petanahan itu tampak cukup khusyuk bersemedi di ruangan sempit berukuran 2X3 meter. Matanya terpejam, kedua tangannya sesekali digerak-gerakkan dan mulutnya bergetar. Pria yang menjadi kasepuhan di desanya itu mengaku sering melakukan semedi di lokasi di sana.

Setiap purnama sekali, yakni malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon dia melakukan olah batin di lokasi tersebut. Fungsinya adalah untuk menjernihkan hari dan mempertajam mata batin. "Saya sering ke sini sudah lama ikut bapak saya yang juga seorang kasepuhan," kata Kasikun usai melakukan ritual.

Selain semedi rutin, dia juga kadang datang ke lokasi tersebut jika ingin mendapatkan kesulitan. Sebagai seorang kasepuhan desa, Kasikun seringkali diminta bantuan orang-orang untuk melakukan pengobatan alternatif. Namun terkadang ada penyakit yang sulit ia sembuhkan. Jika demikian dia pergi ke pesanggrahan untuk melakukan ritual.

Dia menceritakan, keberadaannya di lokasi tersebut dalam rangka mencari petunjuk untuk mengobati pasiennya yang menderita penyakit liver. Beruntung, pada malam ketiga melakukan ritual, dia mengaku sudah mendapatkan petunjuk. Dalam semedinya dia seperti diperintah untuk mengambil dua bunga pudak wangi yang mekar di sekitar pesanggarahan guna mengobati penyakit itu.

"Benar. Pada pagi harinya saya melihat ada tiga bunga pudak wangi yang mekar. Padahal sebelumnya belum ada tanda-tanda bunga akan mekar," ujar Kasikun seraya menunjukkan bunga berwarna putih yang mekar dari sebuah pohon pandan.
Pesanggarahan Pandan Kuning sampai saat ini masih diselimuti mitos dan legenda. Konon nama pandan kuning berkait erat dengan kisan cinta Raden Sujono dengan dewi Sulastri yang terjadi sekitar tahun 1601, yakni pada masa Kerajaan Mataran dengan raja Sutawijaya. Sulastri adalah putri Bupati Pucang Kembar, Citro Kusumo.
Oleh ayahnya putri memiliki hidung mancung, muka lonjong bagai telor, kulit kuning dan rambut panjang terurai itu dijodohkan dengan Joko Puring, seorang Adipati di Bulupitu. Sayangnya dia tak memiliki getaran cinta kepada lelaki pilihan orang tuanya. Dia justru jatuh cinta kepada Raden Sujono seorang anak Demang dari Wonokusumo yang menjadi abdi dalem di Pucang Kembar.Setali tiga uang Raden Sujono diam-diam juga memiliki perasan cinta kepada Dewi Sulastri.
Cinta segitiga antara Joko Puring dan Raden Sujono dengan Dewi Sulastri berkembang menjadi prahara di Kabupaten Pucang Kembar. Setelah memenangkan sayembara, akhirnya Raden Sujono berhasil mempersunting putri cantik itu sekaligus menggantikan Citro Kusumo sebagai bupati Pucang Kembar.

Meski Dewi Sulastri sudah bersuami, namun hasrat Joko Puring untuk memiliki Dewi Sulastri belum sirna. Ketika Randen Sujono pergi memberantas berandal di Gunung Tidar, Joko Puring bisa membawa lari Sulastri sampai ke Pantai Karanggadung (saat ini dikenal Pantai Petanahan,red). Untuk mengulur waktu, Dewi Sulastri mau menjadi istri Joko Puring asal dia bisa mendapatkan anggur merah.

Akhir cerita, drama penyenderaan itu diketahui oleh Raden Sujono. Dua orang itu akhirnya bertarung dan dimenangkan Raden Sujono. Ada keajaiban terjadi, yakni Dewi Sulastri yang diikat pada pohon pandan ternyata pandan itu berubah berwarna kuning. Sehingga nama tersebut dipakai untuk memberi nama tempat tersebut.
Konon, pada saat itu, busana yang dipakai oleh Dewi Sulasri juga digantikan oleh Ny Ratu Kidul. Setelah memakai pakaian yang baru busana yang telah kusut dilarung ke lautan. Kedua pengantin baru itu pun beristirahat di bawah semak-semak pandan dan memadu kasih. Setelah ditinggalkan pasangan itu, kemudian tempat itu diminta menjadi tempat peristirahatan atau pesanggrahan Ny Ratu Kidul. Sejak itu pula, tempat tersebut dimanfaatkan banyak orang untuk semedi dan mengheningkan cipta. ***

Thursday, January 15, 2009

Demo Kades

SEJUMLAH warga Desa Kaligending Kecamatan Karangsambung menunjukkan sejumlah poster berisi gugatan terhadap kepala desa saat mendatangi balai desa setempat, Kamis (15/1). Mereka mendesak agar kepala desanya mundur dari jabatannya.
Sumartono yang saat ini menjabat sebagai kepala desa dinilai tidak bertanggungjawab atas jabatan yang diembannya. Warga berteriak seraya membentangkan sejumlah poster yang berisi tuntutan agar kades Sumartono mundur. Padahal saat itu di balaidesa tengah digelar rapat dengan pihak Muspika Karangsambung yang membahas persoalan kades yang sejak 31 Desember 2008 hingga kemarin pergi tanpa pamit.

Tidak hanya itu, kades yang terpilih pada Pilkades 25 Juni 2007 itu menghilang diduga membawa dana pembangunan desa sekitar Rp 22.265.000. Ketua Badan Perwakilan Desa Kaligending Ahmad Pujiono mengatakan, kades Sumartono sudah sering tidak masuk kerja tanpa alasan yang jelas kepada pemerintah desa atau camat. Sedikitnya sudah dua kali Sumartono pergi. Pertama selama 16 hari dari tanggal 29 Agustus hingga 14 September 2008 dan dari 31 Desember hingga kemarin dia juga tidak tampak di balai desa tanpa sebab yang jelas.
"Akibatnya urusan desa menjadi terbengkalai," katanya kepada Suara Merdeka.
BPD Kaligending, kata Ahmad Pujiono menilai kades Sumartono tidak transparan dalam mengelola dana Alokasi Dana Desa (ADD) sehingga timbul dugaan penyimpangan mencapai sekitar Rp 30 juta. Di antaranya, dana bantuan pengembangan TPQ senilai Rp 5,5 juta yang tidak terealisasi, dana program pemberdayaan penyelenggaraan pemerintahan desa dan perangkat sebesar Rp 4 juta yang tidak terlaksana.
Tidak hanya itu, honor ketua RT/RW sebesar Rp 1,65 juta juga belum dibayarkan. Juga uang raskin yang tidak dibayarkan ke instansi terkait. Sumartono juga menghilang dengan membawa uang sisa ADD sebesar Rp 17.265.000 dan dana percepatan pembangunan pertanian sebesar Rp 5 juta. Permasalahan itu oleh BPD telah dilaporkan ke Bupati Kebumen untuk ditindaklanjuti. “Kami mengusulkan kepada Camat Karangsambung agar menunjuk penjabat sementara untuk mengisi kekosongan jabatan," katanya.
Camat Karangsambung Heri Nugroho SH menjelaskan, sesuai Peraturan Daerah (Perda) Kebumen No 5 Tahun 2007 tentang tata cara pencalonan, pemilihan, pelantikan dan pemberhentian kepala desa, yang berhak untuk menghentikan jabatan kepala desa adalah Bupati Kebumen. Sesuai mekanisme, lapoiran itu akan ditindaklanjuti melalui pemeriksaan oleh inspektorat Kabupaten. "Jika terbukti bersalah kepala desa dapat dikenai sanksi administrasi sampai pencopotan,” tegas mantan Camat Bonorowo itu seraya menyebutkan beras raskin telah dibayarkan oleh keluarga kepala desa.
Sekadar informasi kemenangan Sumartono pada Pilkades pada 25 Juni 2007 memang menuai protes. Sehari setelah pencoblosan berakhir, ratusan warga sudah memprotes proses pelaksanaan Pilkades yang dinilai tidak fair dengan mendatangi balai desa. Warga menyatakan belum bisa menerima hasil perhitungan suara yang diselenggarakan panitia Pilkades.
Warga menemukan sejumlah kejanggalan dalam pelaksanaan Pilakdes di desa itu. Antara lain, tidak sesuainya antara nomor urut pada daftar pemilih tetap (DPT) dengan surat undangan, termasuk adanya perbedaan nama pada undangan dengan di DPT. Kejanggalan lain, kartu suara setelah diserahkan ke pemilih tidak ditandatangani ketua panitia. Karena tuduhan tak terbukti dia tetap dilantik menjadi kades.***

Monday, January 12, 2009

Zakat Produktif

DANA zakat sudah saatnya tidak hanya berfungsi konsumtif semata. Dalam rangka untuk pemberdayaan ekonomi umat, zakat pun mulai diarahkan ke aktifitas produktif sehingga berkembang bahkan menjadi dana bergulir (revolving). Muaranya adalah tercapainya peningkatan perekonomian umat melalui zakat.
Laziz Muhammadiyah Cabang Karanganyar, Kebumen sudah empat tahun ini melaksanakan zakat produktif. Selain untuk konsumtif dan pendidikan, zakat yang diberikan kepada kaum dhuafa juga untuk produktif dan produktif bergulir. Untuk penerima zakat produktif bergulir, mereka memiliki kewajiban untuk menggulirkan kembali kepada temannya yang lain. Tentu dengan catatan jika modal yang diberikan mendapat keuntungan.
"Jika dia mendapatkan kentungan dari dana zakat, penerima harus menyisihkan sebesar 2,5 persen dari keuntungan itu. Namun apabila tidak untung berarti tidak ada kewajiban menggulirkan," ujar Ketua Laziz Cabang Karanganyar Warimin BA di sela-sela pembangian zakat kepada kaum dhuafa di balai Desa Candi Kecamatan Karanganyar, Minggu (11/1).
Ya, pembagian zakat yang dihimpun Laziz Muhammadiyah Cabang Karanganyar selama tahun 1429 H tersebut total sekitar Rp 42,06 juta. Dana tersebut berasal dari 86 orang muzzaki dan dua kelompok muzzaki yang kemudian dibagikan kepada 264 dhuafa, tiga kelompok dhuafa, 47 sabilillah perorangan dan satu sambilillah lembaga.
Dari jumlah tersebut, diberikan 45 orang untuk zakat produktif dan 30 orang untuk zakat produktif bergulir, serta tiga kelompok bergulir. Adapaun penerima dana produktif bergulir, besaran dana berbeda satu dengan yang lain. Ada yang mendapatkan Rp 70.000 namun ada yang mendapatkan Rp 150.000.
Suparyanti (40) pedagang kue keliling mengaku mendapat dana zakat Rp 150.000. Dana itu akan digunakan sebagai tambahan modal berjualan kue. Selanjutnya keuntungan berjualan kue nantinya disisihkan dalam sebuah celengan plastik.
"Setahun kemudian dana yang terkumpul akan diserahkan ke Lazis untuk digulirkan kembali," ujar Suparyanti.
Pelaksanaan zakat produktif bergulir yang dikelola Laziz Muhammadiyah Cabang Karanganyar cukup positif untuk mengembangkan perekonomian umat. Meskipun dana bergulir dari dana produktif tidak besar, sejak dimulai empat tahun lalu, dana tersebut terus mengalami peningkatan. Pada tahun ini dana yang berhasil digulirkan sebesar Rp 4.697.650. Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yakni Rp 3.235.000.
"Dana bergulir paling sedikit dari seorang bakul tempe di Karanganyar yakni Rp 20.500. Sedangkan perolehan paling banyak dari tukang kompresor sebesar Rp 638.000," ujar Warimin.
Pansiunan guru di SMKN Karanganyar yang kini masih mengajar di SMK Tamtama itu menambahkan, pada dasarnya konsep zakat produktif bergulir, selain untuk membantu mengembakan perekonomian masyarakat dhuafa juga sekaligus melatih mereka untuk mengeluarkan zakat.
"Penyaluran zakat mal ini sudah tahun ke-8 namuan untuk zakat produktif bergilir baru tahun ke-4," katanya.
Pada kesempatan itu, selain memberikan zakat produktif, Lazis Muhammadiyah Cabang Karanganyar juga memberikan zakat konsumtif kepada 149 dhuafa, zakat pendidikan untuk 40 orang, serta sabilillah 47 orang dan satu lembaga sabilillah. Penerima zakat bervariasi antara Rp 60.000 sampai dengan Rp 350.000.
"Saya senang hari ini mendapat zakat. Uangnya akan saya dibelikan beras," ujar Mbah Murti (70) salah seorang yang menerima zakat konsuntif sebesar Rp 70.000. ***

Sedekah Laut

TRADISI sedekah laut yang digelar oleh nelayan dan warga Desa Rowo Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen berlangsung meriah, Jumat (2/1). Ritual tahunan yang dilaksanakan setiap bulan Suro pada penanggalan Jawa persisnya hari Jumat atau Selasa Kliwon itu dilakukan dengan melarung sesaji ke laut selatan.

Sesaji yang dilarung ke laut berupa seekor kambing yang disisakan daging dan kepala dengan dibungkus kain putih, kembang setaman, tumpeng tolak, tujuh macam pisang, tujuh macam buah, ageman sak pengadek, serta alat kecantikan perempuan itu ditempatkan sebuah wadah yang disebut. Setelah arak mengelilingi desa, sesaji itu dibawa ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Rowo.

Ombak besar yang mencapai lima meter di pantai selatan cukup menganggu kelancaran prosesi larung sesaji. Perahu yang membawa sesaji itu beberapa kali gagak masuk ke laut karena dihadang gelombang tinggi. Setelah 20 menit mencoba menerobos gelombong itu, akhirnya sesaji tersebut bisa dilarung di laut.

Dari TPI sesaji itu dibawa menyusuri Sungai Wawar ke pantai Seletan yang berjarak sekitar tiga kilometer. Sekitar 30 perahu ditumpangi oleh nelayan dan keluarganya. Selain para sesepuh desa, ikut pula dalam perahu jajaran Muspika Kecamatan Mirit. Sesampainya di pantai, kumpulan sesaji yang oleh warga setempat disebut juren itu kemudian dilarung ke tengah lautan.

Sebelumnya, sesepuh nelayan Wongso Wijoyo (61) melakukan ritual. Ritual dilakukan dengan membaca doa dengan disertai membakar kemenyan dan menaburkan bunga ke pantai. Larung sesaji disaksikan oleh ribuan warga di Kecamatan Mirit dan sekitarnya. Mereka tumpah ruwah memadati lokasi pantai untuk melihat dari dekat prosesi larungan sesaji. Ada yang datang menggunakan kendaraan bermotor, namun adapula yang hanya dengan berjalan kaki.

Wongso Wijoyo mengatakan, ritual sedekah laut merupakan tradisi yang setiap tahun dilakukan. Ritual itu dilakukan sebagai simbol ucapan syukur kepada Tuhan karena telah memberi rejeki selama setahun yang lalu. Namun demikian sebagian nelayan masih ada yang menyakini, sesaji merupakan bentuk penghormatan kepada penguasa laut selatan.

Aneka sesaji yang dilarung adalah barang yang diyakini sebagai kesukaan ratu kidul. Ageman yang terdiri dari pakaian batik, konde, serta alat rias kecantikan adalah barang kesukaan ratu laut kidul. "Kami juga berdoa agar dalam mencari rejeki di laut selama setahun ke depan kami mendapat berkah dan lancar dalam mencari ikan," ujar Wongso Wijoyo, di sela-sela ritual.

Kepala Desa Rowo Sarno, menambahkan selama setahun terakhir, hasil tangkapan ikan para nelayan mengalami penurunan. Selain adanya gelombang besar, saat melaut pun sepi tangkapan. Untuk itu, mereka berdoa agar selama setahun kedepan para nelayan yang kehidupannya menggantungkan kondisi alam itu diberikan kemudahan dalam mencari ikan.

Dalam rangkaian sedekah laiut tersebut juga digelar kenduren dilanjutkan hiburan orgen tunggal. Pada malam harinya digelar pergelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Basuki Indro Prayitno yang membedah lakon Dasamuka Ngraman.

"Tradisi sedekah laut dapat dijadikan aset wisata desa yang dapat menunjang pantai Rowo menjadi objek wisata. Ke depan kegiatan itu dikembangkan menjadi wisata budaya mendukung wisata alam pantai," kata Camat Mirit Irfani SSos***

ZAKAT MAL

KEPEDULIAN anak-anak R Abdul Sjukur (alm) dan Hj Suharti (almh) tampaknya perlu ditiru. Sukses menempuh usaha dan karier di ibukota Jakarta, enam bersaudara warga asal Kelurahan/Kecamatan Karanganyar, Kebumen itu membagikan zakat mal senilai Rp 128 juta di kampung halamanya, Sabtu (10/1).

Sebanyak Rp 104 juta dibagikan kepada 515 orang warga miskin dan 47 pelajar dari keluarga kurang mampu di wilayah Kelurahan Karanganyar. Pembagian zakat yang dilakukan dengan bekerjasama dengan pihak Kelurahan Karanganyar itu, setiap orang mendapatkan amplop berisi uang sebesar Rp 150.000. Adapun sebanyak Rp 24 juta disumbangkan untuk perbaikan sarana ibadah yang ada di wilayah Kelurahan Karanganyar.

Bantuan tersebut dimanfaatkan untuk penyempurnaan sarana ibadah.Adapun setiap mushola mendapatkan bantuan berbeda-beda yakni Rp 3 juta, Rp 7 juta dan Rp 10 juta. Enam saudara putra-putri R Abdul Sjukur (alm) yang membagikan zakat mal di kampung halamannya yakni Harianto Iman Santoso, Hariati Dewi Nirwani, Hardiati Palupi Utami, Haryono Satrio Pamungkas, Hardini Pudji Astuti, dan Harsoadi Priyo Utomo.Namun, pada pembagian zakat tersebut mereka tidak hadir dan mewakilkannya kepada seorang famili bernama Slamet Marwoto.

"Dengan pemberian bantuan itu, diharapkan dapat membantu masyarakat yang membutuhkan terutama masyarakat di Kelurahan karanganyar," kata Slamet Marwoto.

Camat Karanganyar R Harjanto SSos yang hadir dalam penyerahan itu mengucapkan terimakasih atas kepedulian dari R Abdul Sjukur (alm) yang memberikan bantuan kepada masyarakat kurang mampu di Keluarahan Karanganyar. Bantuan itu bisa dimanfaatkan oleh warga untuk menambah usaha kecil atau untuk mencukupi kebutuhan harian.

"Harapannya, apa yang dilakukan keluarga bisa menjadi inspirasi warga yang sukses untuk membantu masyarakat yang kurang beruntung," ujar R Harjanto.

Pelaksanaan pembagian zakat tersebut tergolong lancar. Sebab terlebih dahulu calon penerima santunan diberikan kupon oleh kelurahan. Mereka juga mengantre dengan tertib sesuai nomor urut sampai nama mereka dipanggil. "Calon penerima santunan sesuai data warga kurang mampuy di kelurahan, sehingga santunan tersebut tidak salah sasaran," ujar Kepala Kelurahan Karanganyar Samid SIP.

Sejumlah penerima bantuan tampak senang setelah menerima amplop berisi uang Rp 150.000 tersebut. Saimah (65) misalnya mengaku akan langsung menggunakan uang tersebut untuk membeli beras. "Persediaan beras di rumah sudah habis. Kalau melihat di rumah masih ada beras, hati saya sudag tenang," kata Saimah.***

pawai taaruf

PAWAI taaruf dalam rangka memperingati tahun baru 1430 Hijriyah di Kecamatan Gombong, Kebumen berlangsung sangat semarak, Sabtu (10/1). Ribuan peserta yang terdiri dari pelajar dan masyarakat umum ikut memeriahkan pawai yang dilepas oleh Camat Gombong Drs Pudjiono di lapangan Manunggal.
Dari lapangan Manunggal, arak-arakan pawai melalui Jalan Raya Yos Sudarso, Jalan Pasar Wonokriyo, Jalan Potongan, Kantor Pos, Jalan Kartini dan kembali ke lapangan Manunggal dengan jarak sekitar 6 kilometer. Namun peserta dari TK melalui rute khusus yang kebih pendek yakni dari lapangan Manunggal, Jalan Raya Yos Sudarso, Jalan Sartika dan finish di kantor Kecamatan Gombong.
Banyaknya jumlah peserta sehingga memerlukan waktu sekitar 1,5 jam untuk melepas pawai itu. Kelompok pertama pembawa bendera merah putih dari SMKN Gombong dilepas pukul 07.30 dan kelompok terakhir yakni SMPN 3 Gombong baru berangkat dari lapangan Manunggal pukul 09.00. Tidak berapa lama setelah kelompok terakhir dilepas, pembawa bendera merah putih sudah sudah sampai di finish.
Jumlah kelompok yang terdata di panitia, setidaknya terdapat sekitar 61 kelompok yang terdiri dari 15 TK, 19 SD/MI, 9 SMP/MTs, 8 SMA/MA dan, 8 Desa/Kelurahan, dan dua Taman Pendidikan Alquran (TPQ). Bahkan perserta bukan hanya dari kecamatan Gombong saja, ada sebuah SD di Kecamatan Sempor ikut memeriahkan pawai tersebut.
Setiap kelompok berlomba-lomba menampilkan kreatifitas masing-masing. Ada yang menampilkan marching band, sepeda hias, dan kesenian tradisional seperti kesenian rebana dan kentongan. Kelompok Siskamling Desa Kemukus misalnya, tampil unik menggunakan seragam serta hitam seperti akan melakukan ronda malam. Mereka berjalan diiringi nyayian dan kesenian kentongan. Sedangkan STM Purnama Gombong menampilkan berbagai potensi yang dimiliki sekolah itu. Sebuah odong-odong yang ditumpangi oleh siswa cukup menyita perhatian.
"Pesertanya bisa jadi lebih banyak karena ada kelompok yang belum melakukan pendaftaran," kata Is Sarbani salah satu panitia pawai kepada Suara Merdeka di sela-sela acara.***