About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Tuesday, February 17, 2009

cobek penusupan

BATU-batu gunung bukan hanya bisa ditambang lalu dijadikan untuk fondasi bangunan. Di tangan orang kreatif komoditas itu bisa memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Seperti dilakukan oleh sebagian warga di Desa Penusupan Kecamatan Sruweng, Kebumen yang memilih memanfaatkan batu gunung untuk dijadikan kerajinan cobek.

Dibandingkan dengan penambangan untuk bahan pondasi bangunan, material batu gunung yang dibutuhkan untuk pembuatan cobek relatif lebih sedikit. Artinya, tingkat kerusakan alam yang ditimbulkan pun lebih sedikit ketimbang penambangan lain yang tak jarang menggunakan bahan peledak. Selain dampak kerusakan alam yang cukup besar, penggunaan bahan peledak sangat berbahaya bagi keselamatan para penambangan.

Puluhan tahun Desa Penusupan terkenal dengan kerajinan cobek batunya. Hasil karya orang-orang desa tersebut tidak hanya dipakai oleh warga Kebumen sendiri melainkan sudah dipasarkan ke sejumlah daerah, termasuk ke ibukota Jakarta.

Oleh para perajin, kualitas cobek asal Desa Penusupan juga diklaim tidak kalah dengan cobek buatan para perajin di sentra kerajinan Prumpung, Muntilan Kabupaten Megalang. "Hanya saja, dari material batu, cobek penusupan masih kalah karena perajin dari Muntilan menggunakan baru gunung Merapi," ujar Mundiharjo (48) salah satu perajin cobek, baru-baru ini.

Melihat pembuatan kerajinan cobek di Desa Penusupan itu cukup unik. Berbagai tahap harus dilalui sebelum kerajinan dari batu itu bisa dipasarkan. Pertama batu-batu sebagai bahan dasar cobek ditambang dari pegunungan. Oleh para penambang, batu-batu dibentuk menjadi bundaran-bundaran mirip cobek yang masih kasar.

Di perbukitan Igir Tipis yang merupakan lahan miliki Perhutani, sedikitnya terdapat 12 orang yang bekerja menjadi penambang batu yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan cobek. Pada pagi hari mereka bekerja mulai dari pukul 08.00-12.00 dan pada sore hari mereka kembali bekerja mulai dari 13.00-16.00. Dalam sehari para penambang rata-rata bisa menghasilkan sebanyak 10 cobek kasar. Hasil penambangan yang menjadi cobek setengah jadi itu dijual kepada para perajin lain maupun kepada para pengepul yang menerima barang setengah jadi.

"Satu cobek kasar tersebut biasa dijual dengan harga antara Rp 1500-Rp 2000/buah," ujar Sanuri (50) seorang penampang yang sudah menjalani profesinya itu sejak puluhan tahun yang lalu.

Kemudian dari bahan dasar tersebut para perajin lain bekerja menghaluskan sehingga menjadi cobek yang halus dan siap dipasarkan. Selain dipasarkan di Kebumen, cobek itu juga dipasarkan ke luar daerah seperti Bekasi, Jakarta sampai Banten. Ada perajin yang menjual kepada para tengkulak, namun adapula yang memasarkan langsung. Seperti dilakukan Mundiharjo yang bersama rombongan yang menjual cobek bikinanya sampai ke Slawi Kebupaten Tegal. Cobek buatannya itu dijual dengan harga antara Rp 5.000- Rp 10.000.
"Biasanya dalam sebulan dua minggu membikin di rumah lalu dua minggu berjualan," katanya.
***
Menjadi perajin cobek batu sudah menjadi profesi sebagian warga Desa Penusupan Kecamatan Sruweng, Kebumen selama turun temurun. Sanuri (58) misalnya, tidak kurang dari 20 tahun menggeluti profesi itu. Bahkan sampai memiliki lima orang anak dan empat cucu dia masih setia dengan pekerjaannya; menjadi perajin cobek.

Dari batu gunung itulah nafkah keluarga dicukupi. Berkat karejinan cobek batu, ekonomi keluarga dapat dipertahankan. Selain menjadi buruh tani dan mengerjakan ladang, nyaris tumpuan perekonomian keluarganya berasal dari kerajinan cobek. Maklum hanya itu keahlian yang dia miliki. Maka dia pun bersyukur mendapat warisan keahlian itu dari para para leluhurnya.

"Sejak saya kecil sudah beljar kerajinan cobek. Katanya dahulu kerajinan itu berasal dari Desa Karangjambu, namun orang di desa kami ikut membuat," katanya.

Sanuri mengaku tidak lagi kapan dia pertama kali membuat cobek secara profesional. Yang dia ingat hanya, saat itu harganya masih Rp 25 per cobek. Dia menceritakan pada masa keemasan, hampir seluruh warga Desa Penusupan berpencaharian sebagai pembuat cobek batu. Namun seiring dengan waktu menjadi perajin cobek dan muthu (alat penumbuk bumbu dari batu) kurang diminati oleh generasi muda.

Saat ini perajin yang masih bertahan hanya masih 20 orang saja. Dia juga pernah menikmati masa keemasan sebagai perajin cobek, yakni saat belum ada saingannya. Namun ketika jumlah perajin semakin banyak, apalagi muncul para perajin cobek dari semen kondisi kerajinan semakin menurun.

"Tapi bagaimana lagi, wong namanya sama-sama mencari rejeki," katanya seraya menjamin, cobek yang berasal dari campuran semen dan pasir kualitas masih di bawah cobek batu.

Meski sekilas bentunya hampir sama, Trisno (31) perajin lain, namun dari segi kualitas cobek batu jauh lebih kuat ketimbang berbahan baku campuran menir-semen.
"Cirinya jika cobek batu dibuat mengulek cabe hasilnya masih basah, namun kalau cobek dari semen kering karena airnya cepat meresap ke material cobek," katanya katanya.

Salah satu kendala yang dialami kerajinan cobek menurut Kepala Desa Penusupan Kuswarini adalah masalah pemasaran. Selama ini warga desa masih melakukan pemasaran secara konvensional. Sebagian lagi memilih menjual kepada para pengepul karena kesulitan untuk menjual sendiri.

"Selama ini warga masih berpikir pragmatis, yang penting bisa untuk mencukupi keluarga," kata Kuswarini didampingi Sekdes Partomo.

Kendala lain yang dialami para perajin khususnya penambang adalah bahan baku. Sebab mencari batu mereka harus menambang kawasan hutan negara. Untuk itu mereka menambang di lokasi milik Perhutani dengan membayar sewa tiap bulannya. Namun sewa tidak dibayar dengan uang melainkan dengan cobek.
"Setiap orang penambang batu dikenakan kewajiban menyetorkan 25 buah cobek setiap bulan," ujar Trisno mengaku bertahan menjadi perajin cobek karena tidak punya pilihan lain.***

1 comment:

  1. bagus bener kang.
    aku wong caplang ali
    yang terdampar di jakarta sejak tahun 90
    dan sekarang sudah menjadi pegawai pemda DKI
    kepriwe kabare kampung,

    coba edd fb saya di nasiman gitulo
    aku tunggu, di kampung tinggal di mana??

    ReplyDelete

terima kasih Anda telah memberikan komentar di blog ini