About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Friday, April 24, 2009

Nasip TKW Asal Kebumen

KEBUMEN - Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia asal Kabupaten Kebumen yang bekerja menjadi pembantu rumah tangga di Singapura pulang dalam kondisi kritis. Eka Yulianti (25) warga Desa Karangpule RT 3 RW 3 Kecamatan Sruweng, menderita patah tulang di sejumlah bagian tubuhnya akibat terjatuh dari lantai 5 rumah majikannya di Jalan Bukit Batok Street 11 Blok 140 Singapura.

Hingga Jumat (24/4), tenaga kerja yang berangkat ke luar negeri menggunakan jasa PJTKI PT Hasrat Insan
Nurani Cilacap itu masih mendapat perawatan intensif di rumah sakit PKU Muhammadiyah Sruweng. Sebelumnya, korban dipulangkan oleh majikan ke Indonesia melalui bandara Adi Sucipto Yogyakarta tanpa membawa barang apapun, Selasa (21/4). Oleh majikannya, pasien hanya dititipkan di Jogja International Hospital (JIH).

Menurut penuturan Yulianti, dia jatuh dari lantai rumah majikannya sekitar Frebuari lalu karena didorong oleh majikannya bernama Soo Kee Lim. Saat itu dia hendak meminta gaji bulanan, namun oleh majikannya dia justru dimarah-marahi sampai didorong hingga dia terjatuh dari lantai 5.

"Saya juga pernah disundut rokok dan diseterika kaki kiri saya," ujar ibu anak satu itu kepada
Suara Merdeka seraya menunjukkan bekas luka yang dimaksudkan di kaki kirinya.

Korban mengaku tidak terima dengan kondisi anaknya. Mereka mengaku baru mengetahui anaknya menjadi korban penganiayaan oleh majikan, setelah korban bisa bicara. Pasalnya, pihak majikannya selama ini hanya memberitahukan bahwa Yulianti terjatuh karena kecelakaan kerja biasa.

"Saya bersama pimpinan PJTKI sempat menengok ke Singapura selama dua hari. Tapi kondisi anak saya saat itu masih kritis di rumah sakit dan tidak biasa bicara," ujar Bariyah (42) ibu korban.

Bariyah menuturkan, Yulianti berangkat ke Singapura sejak 15 bulan lalu. Namun dia, beberapa bulan bekerja di sana dia sudah mendengar keluhan mengenai potongan gaji. Baru-baru ini dia baru mengetahui fakta bahwa anaknya juga sering mendapat perlakuan kasar dari majikannya.
Sebenarnya dia sudah tidak betah bekerja di Singapura. Namun karena kontraknya selama dua tahun belum habis, dia merasa takut untuk melaporkan ke kedutaan RI
Singapura. Pasalnya dia juga tidak boleh keluar rumah dan hanya terus berada di dalam rumah.

Bariyah menyebutkan, gaji terakhir korban sebesar Rp 2.
967.434 baru dikirimkan kepada keluarga. Uang itu hampir habis untuk biaya perawatan di rumah sakit di Yogya dan biaya ambulance ke Kebumen Rp 1.796.000. Saat ini keluarga bingung karena tidak memiliki biaya untuk pengobatan.

"Kami meminta, anak saya pergi dalam keadaan sehat juga pulang dalam keadaan sehat. Piha majikan harus bertanggungjawab atas nasip anak saya," katanya menyebutkan hingga kemarin
suami korban yang bekerja menjadi sopir pribadi di Jakarta masih sulit dihubungi.

Secara terpisah, Kepala Bidang Tenaga Kerja
Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) Kebumen, Dra Haryati mengaku belum mendapat laporan terhadap kasus dugaan penganiayaan terhadap TKI asal Kebumen. "Kami segera melakukan pengecekan dan memanggil PJTKI yang memberangkatkannya," ujar Haryati. (Sumber: Suara Merdeka)

Tuesday, April 21, 2009

Serum Ular

SERUM bisa ular ternyata tidak hanya mampu menangkal gigitan berbagai macam ular berbisa. Dalam berbagai kualifikasi, serum tersebut juga diyakini mampu menyembuhkan berbagai penyakit yang berkaitan dengan darah dan yang disebabkan oleh virus.

Adalah Snake Hunter Club Indonesia (SHCI) yang mengembangkan serum bisa ular menjadi obat alternatif. Sekitar 200 warga di Desa Somagede Kecamatan Sempor, Kebumen, baru-baru ini mendapat pengobatan dengan cara alternatif tersebut. Perum Perhutani KPH Kedu Selatan sengaja bekerja sama dengan SHCI cabang Purworejo untuk melakukan pengobatan gratis kepada warga desa yang sebelumnya terkena wabah chikungunya.

Pengobatan ditangani langsung oleh ketua dewan guru SHCI, Nursidin Haryanto yang merupakan murid dari pendiri SHCI (alm) Lettu Margana. Dialah saat ini yang bisa meramu bisa ular sehingga memiliki khasiat pengobatan. Pengobatan yang dilakukan cukup simpel, yakni dengan memberikan serum ular yang ditelah dicampur dengan air putih seukuran setengah gelas kecil kepada warga. Pasien yang telah meminum diharuskan tidak makan atau minum selama 15 menit. Setelah itu serum akan bekerja dan serum ular tersebut diyakini sangat efektif untuk digunakan untuk pengobatan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan darah dan virus.

"Beraneka ular berbisa selama ini hanya dimanfaatkan untuk diambil kulitnya sebagai bahan kerajinan. Namun bagi SHCI hewan melata ini ternyata juga bermanfaat bila dijadikan sebagai sahabat sekaligus hewan yang memiliki manfaat bagi kemanusiaan," katanya di sela-sela pengobatan.

Bisa ular dicampur dengan empedu, pankreas, dan bahan-bahan khusus lainnya kemudian diproses menjadi serum. Serum ular itulah yang dipercaya efektif dapat mengobati berbagai macam penyakit terutama penyakit. Mulai dari mulai penyakit yang sepele hingga penyakit yang sifatnya kronis. Sebut saja malaria, tetanus, demam berdarah, rabies atau penyakit dalam seperti, diabetes, tipus, liver, alergi bisa diobati dengan serum bisa ular. Bahkan SHCI mengklaim serumnya mampu mengobati penyakit Antraks, avian inlfluenza (AI) atau flu burung dan HIV/AIDS sekalipun.

Untuk membuktikan serum tersebut, usai minum serum, Haryanto mengigitkan ular ke tangan anggota Muspika Sempor yang hadir. Pertama kali mencoba adalah Kapolsek AKP M Yusuf, Danramil Kapten Mungging. Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK) Dinas Kesehatan Kusbiyantoro SKM MKes yang ikut memantau pengobatan massal tersebut, meski tampak ragu-ragu, juga ikut merasakan gigitan ular taliwangsa. Hanya Camat Sempor Supoyo SSos yang selamat dari gigitan ular karena pada saat itu dia tengah berpuasa sehingga tidak bisa minum serum bisa ular tersebut.

Memang, meskipun luka bekas gigitan taring ular dan permukaan kulit tampak berdarah, peserta tidak merasakan nyeri namun hanya seperti tertusuk duri kecil. Namun demikian, tidak semua yang menyaksikan acara itu berani digigit ular berbisa itu. Beberapa di antara menghindar dengan alasan ingin meminum serum di rumah atau untuk persedian. termasuk sejumlah wartawan yang diminta mencoba gigitan ular tak satupun yang berani. "Nggaklah, takut," kilah Wahyu Kurniwan (28) koresponden Antv.

Menurut Haryanto, tingkat I atau level tiga serum ramuan membuat yang meminumnya akan langsung kebal terhadap gigitan 23 jenis ular seperti dumung macan, taliwangsa, blandotan krawang, tali picis, puspa kajang, gadung, sawah dan dan terhindar beberapa penyakit seperti malaria, tetanus dan demam berdarah, rabies, dan jika terluka akan cepat mengering.

Sedangkan pada tingkat II atau level dua, serum ditambah bisa anti bisa ular gibug, welang, weling, dan gadung luwuk. Pada tingkat ini juga bermanfaat untuk menyembuhkan diabetes, typhus, jantung, lever dan asma. Adapun tingkat III atau level satu, serum akan menyempurnakan ketahanan tubuh secara permanen. Pada level ini bisa mencegah penyakit kanker darah, kanker tulang atau segala macam penyakit yang disebabkan virus. Juga anti bisa ular dumung/cendok/cobra, dan dedak bromo.

"Pada level ini serum permanen di dalam tubuh, tidak perlu diberi lagi," kata dia seraya menyebutkan hampir semua karyawan Perhutani diberikan serum tersebut. Kasdino, salah seorang orang pasien yang mengikuti pengobatan alternatif ini menuturkan, ia pernah menderita penyakit Hepatitis B Kronis. Setelah menjalani perawatan di rumah sakit, ternyata penyakitnya tak kunjung sembuh. Akhirnya dirinya memberanikan diri untuk mencoba pengobatan alternatf ala snake hunter.

Untuk diketahui, SHCI berdiri tahun 1964 di Surakarta yang saat ini memiliki anggota jutaan orang tersebar di seluruh Indonesia. SHCI mengembangkan pengobatan alternatif dengan mengunakan media serum ular ular. Selain dipercaya mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, seseorang yang telah meminum serum ini secara otomatis akan memiliki kekebalan terhadap gigitan ular berbisa.***

Santo Payung

KANTOR Pos Cabang Petanahan, Kebumen, Selasa (21/4) dipadati sekitar 1.600 warga miskin yang akan mencairkan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) tahap III Tahun 2009. Seolah tak sabar mendapatkan uang Rp 200.000, ribuan warga dari enam desa yakni yakni Desa Grogolpenatus, Grogolbeningsari, Kebonsari, Nampudadi, Jatimulyo dan Tresnorejo itu rela berdesak-desakan.
Diantara warga miskin itu tampak Susanto Noto Prayitno (42). Warga RT 1 RW 01 Desa Jatimulyo, Kecamatan Petanahan itu sudah menyiapkan syarat-syarat untuk mencairkan uang BLT. Kedatangan pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bengkel payung rusak itu memang tidak menjadi perhatian warga. Maklum sebagian besar tidak mengetahui jika Santo Payung, begitu sapaannya merupakan salah satu calon anggota lagislatif (caleg) untuk DPRD Kebumen dari Partai Gerindra.
Ya, meskipun berstatus sebagai seorang Caleg, Susanto mengaku tidak merasa malu mengantre untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah. Dia sadar, meskipun caleg dia berasal dari keluarga miskin. Baginya urusan caleg sudah berlalu sejak tidak banyak yang mencontreng namanya dalam Pemilu 9 April lalu.
Meskipun tidak lolos di kursi legislatif, namun toh dia masih tetap menjadi tukang "DPR" alias tukang dandan payung rusak. "Ya nggak apa-apa, wong saya magang DPRD juga tidak mengeluarkan uang sama sekali," ujar Caleg nomor 4 untuk Daerah Pemilihan (Dapil) Kebumen 4 meliputi Kecamatan Petanahan, Klirong dan Pejagoan di sela-sela pencairan BLT.
Menurutnya, uang Rp 200.000 yang dia dapatkan itu akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Maklum, profesinya sebagai tukang servis payung keliling terbilang belum bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Tidak terkecuali untuk memenuhi keinginan Susanti istrinya dan dua anaknya yakni Santika (13) dan Hengky Asep Mardika (9).
Meski mimpinya menjadi anggota dewan sudah pupus, namun pria kelahiran Kebumen 17 Juli 1967 itu mengaku tidak stres. Mengingat semua kegiatan kampanye dia tidak mengeluarkan biaya sepersen pun. Dana yang dikeluarkan berasal dari bantuan dari teman-temannya yang kagum dengan keberanian dirinya mencalonkan diri menjadi caleg. Selama ini dia berpegangan pribahasa yang mengatakan gajah berjalan seperti gajah dan semut berjalan layaknya seekor semut.
Dia berani mengatakan, sangat istimewa seorang yang mengeluarkan uang di bawah Rp 100 juta bisa menang dalam Pemilu. Jadi dia tidak berharap banyak karena orang miskin seperti dirinya, memang tidak diperhitungkan oleh masyarakat. Karena masyarakat masih memandang orang dari harta dan kekayaannya.
Dia mengaku masih teringat bagaimana saat kampanye dengan hanya mengenakan kaos oblong dengan membagi-bagi stiker di Pasar Petanahan. Meski perekonimian yang terbatas, tidak mengendorkan tekadnya untuk bermimpi. Ia pun memberanikan diri terjun di dunia politik. Meskipun atas kenekatan itu, membuat Santo banyak menjadi pergunjingan tetangga. Bahkan keluarganya sendiri pun ikut mencibir. Tak jarang pula dengan ulahnya itu ditangapi dengan sinis, bahkah menjadi ajang ledekan. Meskipun demikin masih ada yang angkat topi atas keberanian Susanto melawan arus.
"Pemilu sudah berlalu, saat ini saya kembali ke habitat semula yakni menjadi Tukang DPR," katanya seraya mengkritik pembagian BLT masih acak-acakan.
Menurut Santo pihak desa hanya menginformasikan bahwa hari pengambilan BLT. Padahal hari ini ada tujuh desa yang ikut ambil pada waktu bersamaan. Padahal kata dia, harusnya diinformasikan desa ini mulai jam berapa sehingga pembagian BLT tidak hanya dikuasi oleh orang-orang yang kuat. "Warga lanjut usia harus kalah dengan yang muda," kayanya.
Dulmanto (60) salah warga mengaku sudah antre di Kantor Pos Petanahan sejak pagi pukul 08.00. Namun hingga pukul 14.15 dia juga belum dapat uang Rp 200.000. ***