About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Wednesday, May 27, 2009

Antara Saya & Kematian

Entah mengapa akhir-akhir ini saya seperti dipaksa melihat berbagai cara orang menghadapi kematian. Saking banyaknya, sulit untuk menghitungnya dan menyebutkan satu per satu bagaimana orang-orang (yang tidak aku kenal itu) meregang nyawa.

Saya juga terpaksa melihat jenazahnya yang ditemukan warga di sembarang tempat seperti seekor binatang yang ternistakan. Ada yang ditemukan warga membujur kaku di pinggir saluran irigasi dan dalam kondisi hampir membusuk. Baunya masya-Allah, membuat perut mual melebihi bau busuk apapun.

Adapula yang akhir hidupnya menjadi korban pembunuhan. Seperti belum lama ini, seorang laki-laki ditemukan mati dalam kondisi telanjangi dan ditenggelamkan di dalam bekas kolam ikan sebuah pekarangan. Sadis pula pelakunya. Selain mulutnya ditambal dengan plester, dua bagian tubuhnya diberi bandul berupa batu yang dimasukkan dalam karung "raskin". Mungkin hal itu dimaksudkan sebagai pemberat agar tubuh korbannya akan tengelam dan tidak diketahui orang lain.

Atau bahkan ada yang lebih sadis. Tubuhnya dimutilasi dan bagian-bagian dibuang di sejumlah tempat yang berbeda. Tidak jauh beda sebagian anggota tubuh korbannya itu juga ditengelamkan di dalam saluran irigasi teknis dengan diberi bandul pemberat agar tidak segera timbul. Adalagi orang yang dipanggil Tuhan dalam kondisi tubuhnya hancur karena tergilas kereta api. Entah karena kurang hati-hati saat menyeberang perlintasan tanpa palang, terlena karena tengah asyik maen handphone, atau yang tampak seperti sengaja mengakhiri hidupnya yang didera kemalangan.

Belum lama ini, seorang bapak, anak dan keponakannya mati secara bersamaan karena terlindas KA Argowilis yang memiliki bobot sekitar 237 ton. Suatu hari ada pula yang sengaja memilih mati dengan cara membakar diri di depan rumanya bersama sepeda motor kesayangannya.

Ada pula seorang pelajar yang mengakhiri hidupnya dengan ujung selendang milik ibunya. Ia ditemukan di pekarangan rumahnya saat aroma busuk mulai menyebar dari tubuhnya. Namun adapula pula yang menderita sakit bertahun-tahun sebelum ajal menjemputnya.Bahkan adapula yang mati tanpa diketemukan jasadnya. Barangkali tubuhnya sudah lenyap dimakan ikan dan hewan laut lainnya. Dia hilang di lautan, karena tenggelam bersama kapal tempat dia bekerja. Ada juga yang hilang saat mencoba mandi di pinggir pantai dan digulung oleh ombak laut selatan yang ganas.

Terkadang saya bertanya, mengapa saya diberi kesempatan melihat semua itu. Padahal sewaktu kecil, kata ibuku, melihat raungan mobil ambulance yang masuk desa saja aku langsung kaget dan jatuh sakit. Itu terjadi saat dua orang tetanggaku mengalami kecelakaan di jalan dan jenazahnya diantarkan ke rumah duka dengan sebuah ambulance.

Jika selama ini, saya diberi kesempatan melihat cara mati, menjadi berpikir bagaimana cara orang-orang yang saya kenal, atau orang tertedekatku. Bahkan aku sempat bertanya-tanya bagaimana cara Tuhan memanggil nyawaku. Apakah seperti si fulan yang mati di pinggir jalan menjadi korban tabrak lari, atau seperti seorang pekerja yang menghembuskan nafasnya saat masih di depan layar komputer, entah saat tengah main game solitaire atau asyik membuka facebook. Atau seperti salah satu tetanggku di kampung yang tertidur lalu tidak bangun lagi.

Saat mati pun ia seperti orang yang masih tertidur dan tengah bermimpi hal yang indah. Makanya ketika ingat itu, terkadang menjelang tidur saya sempat berpikir apakah saya akan bangun lagi. Alhamdulillah, sampai saat ini ketika umurkan sudah menginjak 29 tahun masih diberi kesempatan menjalani kehidupan dengan kondisi yang baik, sehat, meski tidak berlebih dalam materi.

Rejeki, jodoh dan kematian adalah takdir. Maka meski pergi pagi pulang malam, seperti waktu 24 jam sehari semalam terasa kurang untuk bekerja, pendapatan (saya tidak bilang rejeki) yang saya dapatkan hanya pas-pasan. Bahkan terasa kurang.

Lihat saja, berbagai keinginan untuk memiliki sesuatu harus menambung lama untuk terwujudkan. Bahkan dari daftar keinginan itu, dalam konteks materi hanya beberapa persen yang sudah terwujud. Kadang saya juga berpikir, jangan-jangan jatah saya dari Tuhan memang segini. Karena jika diberi yang sedikit berlabih akan lebih berdampak buruk lagi.

Tetapi mengapa penyakit merasa kekurangan, masih menghinggapi. Apakah saya ini termasuk orang-orang yang kurang atau tidak bersyukur? Sesekali sebagai hamba, saya sempat pula berdoa. Selain mendoakan orang tua, minta dijauhkan dari api neraka, dan di masukkan pada golongan orang yang bertaqwa, secara khusus meminta rejeki.

Meski sebenarnya saya malu, karena seperti anak durhaka yang minta dimanja oleh orangtua. Bahkan kadang-kadang saya berdoa seperti meminjam istilah Gus Mus (KH A Mustofa Bisri) "mendemontrasi" Tuhan. Meski tidak dilakukan beramai-ramai, maklum saya masuk kategori umat yang malas berjamaah; payah.

Kurang lebih mirip seperti doa mengancamnya Madrim dalam cerpen Jujur Prananto yang kini telah difilmkan. Lagi-lagi saya malu, untuk berharap Tuhan akan mengabulkan permintaan itu. Saya menjadi seperti orang Bashrah kini Irak yang bertanya kepada Ibrahim bin Adham tentang mengapa doa-doa mereka tidak dikabulkan?

Tokoh sufi yang termasyhur itu menjawab,"Hal itu dikarenakan hati kalian mati dalam 10 hal."Barangkali saya mengenal Allah, tapi tidak menunaikan hak-Nya. Barangkali aku sering membaca kitab Allah, tetapi tidak mengamalkannya. Barangkali aku mengaku mencitai Rosulullah tetapi tidak mengikuti sunahnya. Aku mengaku membenci setan tetapi ternyata selalu menyetujuinya.

Saya yakin mati itu pasti, tetapi ternyata tidak mempersiapkannya. Saya juga sering bilang takut neraka namun terus membiarkan diri terus menuju ke sana. Saya mendambakan syurga, tetapi tidak pernah beramal untuknya. Saya mungkin terlalu sibuk dengan aib-aib orang lain sampai mengabaikan aib sendiri. Ya, seperti yang aku kira, sering menikmati anugerah Tuhan namun tidak mensyukurinya.

"Kalian setiap kali mengubur jenazah-jenazah, tetapi tidak pernah mengambil pelajaran darinya," begitu jawaban ulama yang hidup sekitar abad VIII masehi itu membuat saya malu sendiri.

Kematian seseorang sebenarnya adalah bernilai pelajaran. Namun selama ini saya mungkin terlalu bodoh karena memadang kematian hanya sekadar memiliki nilai berita atau tidak. Orang yang meninggal dengan damai di rumah dan ditunggui anak istri cucu dan famili justru tidak pernah termuat dalam berita di surat kabar. Kalaupun dipaksa muat harus membayar puluhan juta karena harus memasang iklan duka cita.

Hari ini saya berpikir, dalam kematian yang indah itu ada banyak pelajaran yang menarik. Tidak mesti itu tokoh penting, pejabat negara, artis, ulama kondang. Bukankah manusia sama di hadapan Tuhan, dan sesungguhnya yang paling mulia di di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa tak peduli dia seorang fakir yang tinggal di kolong jembatan. Soal pensifatan orang bertaqwa diterangkan dalam QS Al Baqarah: 2-4 dan QS Ali Imran: 135-5. Ah, saya sudah seperti ustadz saja membawa-bawa dalil dalam celotehan ini.

Kembali pada soal kematian, saya masih akhirnya bersyukur mendapat kesempatan melihat banyak orang yang mati dengan cara-caranya tersendiri. Saya berusaha meski sulit tidak menjadikan kematian sebagai momok yang menakutkan. Seperti diajarkan para sufi, bahwa kematian begitu indah bahkan saat dengan dipenggal atau di tiang gantungan sekalipaun. Mati di jalan yang benar barangkali yang disebut kematian yang indah.Kematian adalah keniscahyaan. Semua orang bakal menghadapinya.

Sama seperti dunia yang fana, jabatan, profesi, kekuasaan tidak ada yang abadi. Sebuah syair Arab tampaknya cukup relevan saya ikut sertakan mengakhiri gerundelan saya, "Bila suatu ketika kau memikul jenazah ke kubur, ingatlah bahwa sesudah itu kau akan dipikul pula. Dan bila kau diserahi kekuasaan, ketahuilah suatu saat kau akan diturunkan/diberhentikan. (Wallahu A'lam)


Sunday, May 17, 2009

Yutuk, Makanan Khas Pesisir

UNDUR-undur laut atau yang biasa disebut sebagai yutuk atau wrutuk biasanya dipakai sebagai umpan untuk memancing. Namun, hewan laut itu juga bisa diolah menjadi penganan yang lezat. Namun yutuk yang digunakan sebagai bahan dasar makanan ini berbentuk lebih besar dibandingkan dengan yang dipakai untuk umpan memancing.

Yutuk biasanya diolah dengan cara digoreng dengan campuran tepung bumbu atau biasa disebut dengan peyek yutuk. Di sepanjang pesisir selatan Kabupaten Kebumen, terutama di kawasan objek wisata, peyek yutuk cukup digemari oleh wisatawan. Di sejumlah warung di pantai Bocor atau di pantai Suwuk peyek yutuk dapat dengan mudah dijumpai di sejumlah warung makan. Selain bisa langsung dimakan, peyek yutuk cukup enak untuk menemani makan nasi.

"Rasanya sangat gurih," ujar Hudiyanto (25) warga Krakal Kecamatan Alian saat menikmati Yutuk di salah satu warung di objek wisata pantai Suwuk, baru-baru ini.

Adapun cara pengolahan yutuk menjadi peyek yang siap saji cukup mudah dan praktis. Tidak jauh dengan membuat ayam goreng tepung atau udang goreng tepung. Yutuk diperoleh dari para nelayan seharga Rp 10.000/kg untuk yutuk yang keras dan Rp 20.000 untuk yang empuk.

"Setelah dicuci kemudian direbus hingga masak. Setelah itu ditiriskan yutuk dicampur dengan adonan tepung yang diberi bumbu. Setelah itu digoreng sampai kering," ujar Lehan (50) salah satu penjual peyek Yutuk.

Warga Dusun Suwuk Desa Tambakmulyo yang sudah berjualan yutuk selama lima tahun terakhir itu bisa menghabiskan yutuk sebanyak 30 kg dalam sehari. Maklum peyek yutuk buatannya itu bukan hanya dijual langsung kepada para wisatawan. Melainkan dia juga kepada para pedagang yang berjualan di objek wisata tersebut. Satu biji peyek di warung bu Lehan dijual Rp 750.

"Alhamdulillah, selama dua tahun terakhir pengunjung pantai Suwuk terus meningkat, sehingga penghasilan juga sedikit meningkat," katanya seraya menyebutkan peyek yutuk, dipercaya dapat membangkitkan selera makan.

Selain itu yutuk juga dipercaya memiliki khasiat. Berbagai hasil penelitian menunjukkan undur-undur laut mengandung lemak total yang cukup tinggi, berkisar antara 17,22 - 21,56 persen. Kandungan asam lemak omega 3 total (EPA dan DHA) juga cukup tinggi, berkisar antara 7,75 - 14,48 persen dibandingkan dengan beberapa jenis crustacea lain seperti udang, lobster, dan beberapa jenis kepiting.

Sedangkan kandungan EPA (6,41 - 8,43 persen) lebih tinggi dibandingkan kandungan DHA (1,34 - 6,57 persen). Dengan adanya kandungan asam lemak omega 3 yang dimiliki undur-undur laut diyakini dapat menaikkan kadar insulin dalam tubuh sehingga dapat menurunkan kadar gula bagi penderita penyakit diabetes. Walaupun sudah banyak terbukti khasiatnya tetapi undur-undur sebagai obat alternatif bagi penderita diabetes ini masih menjadi polemik didunia kedokteran hingga sekarang.

"Kalau paling ramai setelah hari raya Idul Fitri. Tetapi saat hari libur atau hari minggu, pengujung juga meningkat," katanya.***

Kelamin Ganda Damas Dwi Andika

DAMAS Dwi Andika (2,5) tampak riang saat bermain gambar-gambaran dengan kakaknya Aditya Fisga (5,5) serta beberapa bocah laki-laki lainnya di serambi rumah nenek buyutnya di Dusun Krajan RT 02 RW 03 Desa Kalirejo Kecamatan/Kabupaten Kebumen, Sabtu (16/5). Sebagaimana lazimnya anak-anak di usai yang lucu-lucunya, permainan mereka dibumbui dengan gelak tawa.

Sekilas tidak ada yang membedakan antara Damas dengan bocah-laki-laki lainnya. Dari pakaian yang dikenakan, tingkah polahnya yang lincah serta cara bertuturnya mengesankan bahwa bocah itu adalah berjenis kelamin laki-laki seutuhnya. Bahkan dalam akta kelahiran yang dikeluarkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kebumen, bocah kelahiran 29 September 2006 itu tertulis jenis kelamin laki-laki.

Namun siapa sangka jika anak kedua dari tiga bersaudara pasangan suami istri Ari Lukito (33) dan Maryatun (30) itu memiliki kelamin ganda (ambiguous genitalia). Pada awalnya orangtua bingung bagaimana memperlakukannya, apakah seperti anak perempuan atau laki-laki. Namun karena berbagai masukan, akhirnya bocah itu diperlakukan sebagai anak laki-laki.

Meskipun demikian, hingga kini, orang tunya masih ragu terhadap jenis kelamin anaknya yang sebenarnya. Ya, bocah yang terlihat cukup cerdas itu memiliki batang penis yang kecil sebesar buah mlinjo tanpa dilengkapi dengan testis. Namun anehnya di bagian bawah kemaluan tersebut terdapat sebuah lubang kecil berbentuk sayatan mirip lubang vegina pada seorang perempuan. Dari lubang itulah Damas melakukan aktivitas buang air kecilnya.

Kondisi tersebut, menurut Maryatun sudah diketahui sejak lahir yakni dari seorang bidang yang membantu persalinannya. Sebenarnya dia ingin sekali segera memeriksakan anaknya agar segera dilakukan penanganan. Namun karena kondisi ekonomi yang tidak mendukung, ia dan suaminya belum juga memeriksakan anaknya ke dokter maupun rumah sakit.

"Sebenarnya kami ingin segera memeriksakan ke dokter biar tahu janis kelamin anak saya sebenarnya. Sehingga kami tidak salah mengasuhnya," ujar Maryatun saat ditemui di rumah neneknya.

Maryatun mengaku sedih saat melihat anaknya mulai tumbuh besar. Bagaimana tidak, anaknya sudah mulai mempertanyakan terhadap kelainan yang ada pada dirinya. Dia pun hanya bisa tercekat saat anaknya bertanya mengapa punya dia berbeda dengan punya kakak dan teman-temannya.

"Saat mandi bareng sama kakaknya, Damas pernah bilang 'kok titit punya adek nggak sama ya?'. Saya sampai tidak menjawabnya," tutur Maryatun dengan mata berkaca-kaca.

Saat ini yang mereka lakukan adalah mencari informasi adanya pihak yang bisa membantu untuk melakukan operasi terhadap anaknya itu. Maklum dari informasi yang dia peroleh, biaya operasi yang harus dikeluarkan cukup besar. Maklum meski kondisi ekonomi keluarga masih kekurangan keluarganya tidak terdata dalam Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).

"Mudah-mudahan ada yang mau membantu untuk kesembuhan anak saya," harapnya.

Salah satu penyebab ambiguous genitalia menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen dokter H Dwi Budi Satrio MKes dikarenakan gangguan pada pertumbuhan sewaktu masih janin. Selain itu bisa juga dikarenakan faktor hormonal. Adapun penangannya terlebih dahulu harus dideteksi untuk mengetahui jenis kelamin yang sesungguhnya.

"Setelah itu baru dilakukan operasi sesuai dengan jenis kelaminnya tersebut," ujar dokter Budi Satrio seraya membenarkan perlu biasa besar mengingat operasi tidak cukup dilakukan hanya sekali.

Meski tidak merinci jumlahnya, dia menambakan, kasus balita dengan kelamin ganda bukan kali pertama terjadi di Kebumen. Menurut dia, upaya penanganan sebaiknya dilakukan tidak sampai menunggu anak menjadi besar. Diharapkan jika ternyata jenis kelamin anak sebenarnya berbeda dari sebelumnya, perlakukan anak bisa diubah.
"Kalau masih kecil perilaku anak masih mudah untuk dibentuk," tandasnya.***

Thursday, May 14, 2009

Perlawanan Petani Urut Sewu

RIBUAN petani di sepanjang pesisir selatan Kabupaten Kebumen yang tergabung dalam Forum Paguyuban Petani Kabumen Selatan (FPPKS) melakukan aksi demonstrasi di depan gedung DPRD Kebumen, Kamis (14/5). Aksi ribuan petani yang berasal empat desa di dua kecamatan yakni Desa Setrojenar, Brecong Kecamatan Buluspesantren dan Desa Entak serta Desa Petangkuran Kecamatan Ambal itu menolak daerah urut sewu dijadikan lokasi latihan dan uji senjata berat oleh TNI AD.

Massa aksi yang didukung elemen dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kebumen, Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) dan didampingi LBH YAPHI itu menyampaikan aspirasi terkait sengketa lahan antara TNI AD dengan warga yang belum mencapai titik temu.

Dalam pernyataan sikapnya, massa yang diklaim diikuti oleh 2.500 orang itu, menuntut kepada Pemkab dan DPRD Kebumen seta semua instansi terkait untuk mengambil langkah kebijakan untuk menutup pusat latihan TNI AD di wilayah urut sewu.

Para petani juga menolak uji coba senjata berat di urut sewu, menolak rencana penyempurnaan tata ruang dan tata wilayah Kebumen yang menjadikan wilayah urut sewu sebagai wilayah pertahanan dan keamanan. Dinas Penelitian dan Pengembangan (Dislitbang) TNI AD didesak segera memindahkan bangunan yang berada di atas tanah milik petani.

Ketua FPPKS Seniman didampingi koordinator aksi Paryono menjelaskan aksi para petani tersebut merupakan reaksi atas tindak lanjut dari Pemkab Kebumen menyelesaikan sengketa terkait tanah di daerah pesisir itu. Sebelumnya, perseteruan TNI AD dengan warga memanas saat TNI AD melarang warga mendirikan gapura yang dijadikan pintu masuk Pantai Setrojenar.

Kondisi tersebut diperparah dengan pernyataan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Agustadi SP saat melakukan ujicoba Alat Utama Sistim Senjata (Alutsista) di Dislitbang TNI AD. Pada waktu itu, KSAD menegaskan akan melakukan pematokan kembali wilayah latihan TNI antara Sungai Wawar hingga sungai Luk Ulo yang sebelumnya patok dirusak warga. Jika warga mencabut patok di daerah pesisir, TNI akan ditindak tegas.

"Latihan dan pengujian senjata berat yang dilakukan TNI mengakibatkan kerusakan tanaman milik petani. Sedangkan TNI seolah tutup mata atas kerugian yang dialami petani," kata Seniman di sela-sela aksi.

Aksi yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga pukul 13.00 itu berjalan cukup tertib. Rombongan warga yang diangkut sekitar 20 truk tersebut memulai aksinya di Jalan Soetoyo. Massa aksi yang mendapat kawalan ketat dari anggota Polres Kebumen dan Satpol PP itu kemudian melakukan aksi long march mengelilingi alun-alun dan berhenti persis di depan kantor kompleks Setda Kebumen.

Sepanduk bertuliskan "Stop Latihan TNI di Urut Sewu" dibentangkan di barisan paling depan massa. Para peserta aksi juga membawa berbagai poster, antara lain bertuliskan "Petani Bukan Tumbal Keamanan", Bikin lapangan Tembak Kok Rampas Hak Rakyat", "Petani Butuh Tanah Bukan Senjata" dan sejumlah poster lainnya yang intinya penolakan keberadaan pusat latihan TNI di kawasan itu.

Secara bergantian mereka melakukan orasi. Bahkan dalam aksi tersebut juga dilakukan pembacaan tahlil. Di tengah-tengah doa, nuansa haru menyelimuti para petani. Tidak sedikit para peserta aksi terutama kaum perempuan yang menangis saat dilantunkan doa. Satu orang peserta yang pingsan karena kelelahan.

Sementara itu, sejumlah perwakilan petani diterima audiensi dengan para wakil rakyat dan Pemkab Kebumen di gedung DPRD. Mereka ditemui langsung oleh Bupati Kebumen KH M Nashirudin al Mansur dan jajaran Muspida. Antara lain, Kapolres Kebumen AKBP Drs Ahmad Haydar MM, Komandan Kodim 0709 Letkol Inf Sidhi Purnomo, Ketua DPRD H Probo Indartono SE MSi. Tampak juga Kepala Perwakilan Dislitbang TNI AD Mayor Inf Kusmayadi.

Dalam kesempatan itu, Bupati KH Nashirudin menyampaikan, pada prinsipnya pihaknya menampung aspirasi dari warga. Namun persoalan antara warga dan TNI tidak bisa diselesaikan di tingkat daerah. Melainkan harus diselesaikan sampai tingkat pusat. Namun pihaknya berjanji akan membentuk tim untuk menyelesaikan kasus tersebut.

Meski menerima alasan dari Pemkab Kebumen, sejumlah perwakilan petani menuntut, selama persoalan itu belum diselesaikan, mereka meminta pihak TNI AD tidak melakukan aktivitas di kawasan urut sewu.***

Monday, May 11, 2009

perkawinan penghayat kepercayaan

ANGIN para penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa paska diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP) No 37 Tahun 2007 tentang Pelaksaan Undang-undang No 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Para penghayat kepercayaan termasuk yang tinggal di Kebumen sudah bisa mengatur tata cara pencatatan perkawinan dan pemerintah telah mengakui perkawinan mereka.

Ya, sebelum ada aturan tersebut perkawinan para penghayat kepercayaan belum bisa disahkan di catatan sipil, sehingga pasangan tersebut dianggap kumpul kebo. Saat itu para penghayat kepercayaan sulit mencatatkan perkawinannya karena tidak diakomodasi oleh instansi cacatan sipil.

Seperti dikemukakan Ketua Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK) Kebumen Drs Sukiman, diterbitkannya PP No 37 tahun 2007 mengurangi diskriminasi terhadap penganut kepercayaan yang selama ini dikesampingkan hak-hak sipilnya. Padahal saat ini di Indonesia terdapat sekitar 248 organisasi aliran kepercayaan dengan anggota sekitar 9 juta orang.

Adapun di Kebumen kata dia, terdapat sekitar 10.000 orang yang menjadi penghayat kepercayaan kepada Tuhan YME. Penghayat di Kebumen terhimpun dalam sembilan paguyuban penghayat kepercayaan. Yakni, Jaya Sampurna, Sukma Sejati, Paguyuban Jawa Sejati (Pajati), Sapta Darma, Sumarah, Tri Luhur, Mapan, Budaya Bangsa dan Pandan Wangi.

"Di antara sejumlah paguyuban itu, Budaya Bangsa paling banyak penganutnya yakni sekitar 2.000 orang," ujar Drs Sukirman di sela-sela pencatatan pernikahan pasangan penghayat kepercayaan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Pendukcapil) Kebumen, baru-baru ini.

Satu pasangan penghayat kepercayaan yang perkawinannya yang dicatat oleh Dinas Pendukcapil adalah perkawinan antara Tugiman (32) warga Desa Bumirejo Kecamatan Puring dengan Wahyuni (26). Penyerahan akta nikah pasangan gadis dan duda yang menikah secara adat pada 1 Maret lalu diberikan oleh Kepala Bidang Pencatatan Sipil Supriantoro SSos.

Pesta perkawinan juga digelar selayaknya pesta perwakinan adat Jawa pada umumnya. Yang membedaan ritual perkawinan tidak dilakukan sesuai salah satu agama, namun dengan menggunakan tatacara penghayat kepercayaan Lebih lanjut, Sukirman yang merupakan pemuka penghayat kepercayaan Sukma Sejati itu menambahkan, penghayat aliran kepercayaan, bukan merupakan agama tertentu. Maka dia meminta dalam kolom agama pada KTP atau formulir akta perkawinan tidak disikan dengan agama tertentu alias dikosongkan.

"Begitu pula bagi anak-anak yang menganut kepercayaan di bangku sekolah diharapkan bisa memperoleh pelajaran tentang penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa," katanya.

Kendati sudah ada yang mulai berani menunjukkan diri, banyak penghayat yang masih takut-takut. Maklumlah, stigma tidak beragama yang sering muncul di masyarakat dan dianggap sebagai aliran sesat. Tirani kaum mayoritas terhadap warga minoritas masih mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari.***

Satwa Suwuk

Seekor burung ini ada salah satu koleksi satwa di kebun binatang mini yang berada di objek wisata Pantai Suwuk, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Sayang, satwa-satwa di kebun binatang mini itu tampak kurang terawat.

Meskipun niatnya untuk menjadi slaah satu daya tarik bagi wisatawan, namun sebagian wisatawan yang melihatnya justru merasa kasihan dengan kondisi sejumlah satwa yang kurus-kurus.

Salah satu persoalan klasik yang dihadapi pengelola adalah minimnya anggaran pemeliharaan termasuk memberi makan aneka satwa itu yang diberikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Siapa mau jadi donatur? ***

Saturday, May 9, 2009

Puja Bhakti Waisak

Umat Budha melepaskan lampion di pelataran candi agung Borobudur Kebupaten Magelang, Jawa Tengah pada rangkaian Puja Bhakti Tri Suci Waisak 2553 BE/2009, Sabtu (9/5) sekitar pukul 21.30. Pada saat yang bersamaan dilaksanakan prosesi mengelilingi candi dengan menyalakan lilin.

Rangkaian peribadatan ini dimulai dengan upacara ritual air berkah Waisak di Umbul Jumprit, Parakan, Kabupaten Temanggung dan Puja Bhakti pensakralan Air Berkah oleh Dewan Sangha, Majelis-majelis Agama Buddha & LKBI secara bergantian, Kamis (7/5). Kemudian Air Berkah itu diberangkatkan dari Umbul Jumprit menuju Candi Mendut untuk disakralkan oleh Dewan Sangha, Majelis-majelis Agama Buddha & LKBI.

Pada Jumat (8/5) di Mrapen, Kabupaten Grobogan digelar Upacara Ritual Api Dharma Tri Suci Waisak 2553 BE / 2009 dan dan Puja Bhakti pensakralan Api alam oleh Dewan Sangha dan Majelis Agama Buddha & LKBI secara bergantian. Api alam diberangkatkan dari Mrapen menuju Candi Mendut dan disakralkan oleh Dewan Sangha, Majelis-majelis Agama Buddha & LKBI.

Hari Sabtu (9/5) adalah prosesi dari Candi Mendut menuju Candi Agung Borobudur. Tepat pukul 11.10'01' umat melakukan meditasi bersama menyambut detik–detik Waisak 2553 BE/2009, lalu dilanjutkan Prosesi Waisak dari Candi Mendut ke Candi Agung Borobudur melewati Candi Pawon. Sesampai di Candi Borobudur, umat masing-masing Majelis dan LKBI menuju altar utama Zona II untuk meletakkan sarana puja yang dibawa.
Setelah pelaksanan upacara Seremonial Waisak 2553 BE / 2009 yang dihadiri Presiden RI prosesi waisak yang mengangkat tema "Bersama Buddha Dharma, Kita Tingkatkan Keharmonisan Bagi Nusa dan Bangsa" diakhiri dengan mengelilingi Candi Agung Borobudur dengan menyalakan lilin.***


Tuesday, May 5, 2009

Gua Petruk, Keindahan Alam di Perut Bumi

SELAIN keindahan landscape dari permukaan bumi, sebagai kawasan karst, Kabupaten Kebumen menyimpan aneka keindahan di perut bumi. Keindahan itu tersimpan di tengah kegelapan gua-gua yang berada di balik perbukitan.

Lihat saja di kawasan Gombong selatan terdapat sedikitnya 174 gua yang tersebar di Kecamatan Ayah, Buayan dan Rowokele. Dari ratusan gua itu, tidak banyak yang sudah dinikmati keindahannya. Gua Petruk di Desa Candirenggo Kecamatan Ayah salah satu yang sudah menjadi lokasi favorit para petualang penelusur gua.

Tidak salah jika 40 pemandu wisata petualangan goa dan karst dari 11 kabupaten di Jateng, awal Mei lalu memilih gua yang memiliki kedalaman hingga 750 meter ini untuk ditelusuri. Namun karena keterbatasan peralatan membuat para penelusur itu baru mampu menjelajahi sampai kedalaman 350 meter saja. Selain keberanian dibutuhkan perlengkapan seperti headlamp, sepatuboot, senter dan helm pelindung kepala dan baju tahan air (coverall) untuk menelusuri gua.

Beberapa meter memasuki mulut gua, batuan stalakmit dan stalaktit yang terbentuk dengan indah seolah menyambut kedatangan. Atap gua berbentuk batu-batu yang menjulur menjadi kesan eksotis. Sedangkan batu-batu unik seperti menyerupai mbah jenggot, harimau kumbang, sampai ada yang mirip tokoh semar dan menyerupai payudara perempuan.

"Selain keindahan alam gua ini banyak menyimpan hal mistik," ujar juru kunci gua Petruk Sukardi (50) sekaligus pemandu di gua tersebut.

Setiap sungai atau sendang di dalam gua itu, kata dia, memiliki mitos sendiri-sendiri. Sedang malih warno dan pamijikan konon airnya mempunyai khasiat dapat digunakan untuk segala macam tujuan. Sedangkan jika mandi atau mencuci muka di sendang asih dan pancuran mangun srono, dipercaya awet muda dan tercapai cita-citanya. ***

Sunday, May 3, 2009

profesi tagog

PROFESI sebagai tagog alias tukang gotong perahu barangkali tidak banyak dikenal oleh masyarakat. Profesi ini tentu saja kalah pamor jika dibandingkan profesi sebagai dokter, guru, pilot, polisi, tentara, ataupun pengusaha. Namun di daerah pesisir banyak warga yang menggantungkan penghasilan dari profesi sebagai tagog.

Ya, profesi tagog memang hanya ditemui di daerah pesisir yang terdapat kampung nelayan. Meski setiap hari mereka berada di pantai untuk mengotong perahu, namun tagog bukan seorang nelayan. Mereka tidak melaut untuk mencari ikan. Pekerjaan mereka sebatas membantu para nelayan menggotong perahu ke tepi laut saat nelayan hendak pergi melaut. Begitu sebaliknya, saat para nelayan datang mereka bertugas mengangkat perahu di lokasi parkir.

Di setiap pantai yang terdapat perahu nelayan, warga yang profesi sebagai tagog masti ada. Dua pantai yang paling banyak terdapat tagog adalah pantai Pasir dan pantai Menganti Desa karangduwur, Kecamatan Ayah.

Di pantai Menganti misalnya ada sekitar 36 orang tagog. Maklum di pantai itu terdapat sekitar 300 perahu nelayan. Jumlah tersebut hampir sama dengan yang ada di pantai Pasir. Sejumlah 36 tagog tersebut terdiri dari enam kelompok. Setiap kelompok terdiri dari enam orang anggota. Masing-masing kelompok ada sayu orang yang mereka tuakan dan dianggap sebagai ketua regu. Setiap regu juga memiliki wilayah kerja sediri-sendiri yakni membantu sekitar 50 perahu.

Salah satu diantara orang yang berprofesi sebagai tagog adalah Satam (57). Warga Desa Karangduwur tersebut sudah 10 tahun menjalani profesi sebagai tukang gotong perahu. Bersama lima orang rekannya dia setiap hari bertugas membantu para nelayan yang akan pergi melaut atau mereka yang mendarat di Pantai Menganti.

Adapun upah yang diperoleh berasal dari pemberian para nelayan. Penghasilan per hari tidak menentu karena jumlahnya pemberian tidak dipatok alias bersifat sukarela. Jika pada saat hasil tangkapan nelayan sedang tinggi, para tagog seperti Satam ikut mendapat limpahan rejeki. Namun jika hasil tangkapan minim, dalam sehari bisa-bisa mereka bisa tidak mendapatkan apa-apa.

"Kalau hari normal biasanya kami bisa membawa pulang Rp 20.000. Namun kalau lagi paceklik ya kadang blong," kata bapak tiga orang anak itu, kemarin.

Jumah (40) tagog lainnya mengatakan, tagog di pantai Menganti sebagian besar berasal dari desa Karanduwur. Mereka memilih sebagai profesi sebagai tagog karena berbagai alasan. Diantaranya tidak memiliki perahu. Namun ada pula yang tidak bakat menjadi nelayan.

"Kalau di pesisir seperti ini mau kerja apalagi. Yang penting halal," kata Jumah seraya menyebutkan selama masih kuat dia akan melakoni pekerjaan itu.

Bagi para nelayan, keberadaan tagog cukup membantu kerja mereka. Pasalnya, tanpa bantuan tenaga dari mereka, para nelayan kesulitan saat akan melaut dan mendarat. Mengingat untuk satu perahu rata-rata hanya ditumpangi oleh dua orang nelayan. "Tentu saja tanpa bantuan orang lain, kami tidak bisa mengangkat perahu," ujar Niman, saorang nelayan.***

Langkah Politik Suratno

SEBAGAI seorang sopir angkutan pedesaan (angkudes), Suratno (36) terbiasa duduk seharian di kursi belakang kemudi. Namun warga Desa RT 01 RW 05 Dusun Watutumpang Desa/Kecamatan Karangsambung, itu tidak lama lagi harus membiasakan diri duduk di kursi empuk gedung dewan.

Ya, dalam Pemilu legislatif lalu, pria yang sehari-hari berprofesi sebagai sopir mini bus jurusan Karangsambung-Kebumen itu menjadi salah satu dari 50 calon anggota legislatif yang terpilih untuk duduk menjadi wakil rakyat. Pria kelahiran Kebumen 14 Pebruari 1973 itu mendaftarakan diri menjadi caleg melalui Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan nomor urut 2 di daerah pemilihan (Dapil) 2 yang meliputi Karangsambung, Sadang, Alian, Poncowarno dan Kutowinangun. Meski pada pencontrengan 9 April lalu, ayah dua anak itu meraih suara 1.180 suara, namun dengan suara pas-pasan itu dia beruntung bisa melenggang ke kursi dewan.

"Alhamdulillah, saya telah diberi amanat untuk memperjuangkan nasip rakyat," katanya, baru-baru ini.

Di Dapil tersebut mendapat jatah delapan kursi DPRD. Sedangkan PKS mendapat alokasi satu kursi. Karena mendapat suara terbanyak di partainya maka pria yang selama 13 tahun yang berprofesi sebagai sopir itu berhak menjadi anggota DPRD Kebumen periode 2009-2014.

Suratno menyebutkan, dia mencalonkan diri sebagai caleg hanya bermodalkan niat ingin mengangkat kesejahteraan komunitas supir angkutan. Maka meski sebagai sopir angkutan dengan pendapatan Rp 30.000/hari, dia nekat memberanikan berkompetisi dengan para politisi berkantong tebal.

Namun begitu, dalam proses pencalonannya, suatu hari alumnus SMA Negeri 1 Kebumen tahun 1992 itu sempat ragu. Dengan modal yang cekak itu dia merasa psimistis. Bahkan suatu hari Suratno sempat melontarkan kepada istrinya Siti Safangah (32) niat akan mengundurkan diri dari pencalonan.

Begitu pula Siti Safangah juga mengaku sempat ragu dengan pencalonan suaminya terjun kedunia politik. Dia beralasan karena status ekonomi keluarga yang masih morat-marit membuatnya mereka berdua maju mundur untuk mencalonkan sebagai anggota legislatif. Namun saat mengemukakan niat itu kepada sesama caleg dari PKS bernama Mulyani yang merupakan nomor urut 1 di dapil 2. Namun Mulyani menyarankan agar Suratno tidak usah mengundurkan diri dan menjalani saja dengan lillahi ta'ala.

"Sejak saat itu saya bertekad melanjutkan pencalonan dengan mantap," kata bapak dari Kunti Nailal Muna (6) dan M Saldanlawi (4). Akhirnya uang sekitar Rp 20 juta yang berasal dari uang tabungan dan hasil penjualan perhiasan istri itu digunakan untuk modal kampanye salah satunya untuk membuat baliho, stiker, dan kaos. Sedangkan modal kampanye yang dia pilih adalah dengan melalui pertemuan-pertemuan yang digelar paguyuban.

"Meski saat ini belum begitu paham dengan dunia pemerintahan, saya akan berusaha memperjuangkan kesejahteraan rakyat termasuk awak angkutan desa," tandas pria yang juga menjadi guru ngaji TPQ di desanya.

Sementara itu, di mata teman-temannya, seperti disampaikan Yasir (50), Saring (38), dan Iwan (30), sutarno memiliki merupakan kepribadian yang baik dan sopan serta tampil apa adanya. Banyak di antara teman-teman seprofesinya yang tidak menyangka jika Suratno bakal menjadi caleg terpilih.

"Terpilihnya Sutarno menjadi bukti caleg dengan modal seadanya mampu bersaing dan duduk di kursi legislatif," kata Yasir yang diamini teman-temannya.***