About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Friday, July 31, 2009

menunggu bedug

PADA bulan Ramadan, ada satu momentum yang paling ditunggu terutama bagi orang beriman yang berpuasa. Azan maghrib. Jika untuk hal lain, menunggu sangat membosankan, menanti adzan maghrib saat berpuasa memiliki sensasi yang tak tertandingi.

Selama hidup, ribuan hingga jutaan kali memaksa kita harus menunggu. Tentu, semua itu kita jalani dengan suasana yang tidak menyenangkan. Saat menunggu bapak pulang dari sawah untuk minta uang jajan, atau menunggu giliran pentas lomba menyanyi saat masih SD, hingga ketika menunggu giliran saat sibuyung akan disunat.

Beranjak besar, ada yang terpaksa merasakan bagaimana menunggu kiriman wesel dari kampung yang tak kunjung tiba. Menunggu pengumuman kelulusan masuk perguruan tinggi seperti dialami ribuan lulusan SLTA malam ini, atau menanti wawancara pertama kali saat melamar kerja. Tentu tidak terhingga untuk disebutkan persatu. Pastinya sulit menemukan bahwa menunggu yang menyenangkan selain menantikan bedug yang disusul azan maghrib berkumandang.

Ya, bunyi bedug maghrib entah siapapun penabuhnya serasa lebih syahdu ketimbang gebukan drum Pepep St 12, atau tidak kalah lincah dari gebukan Eno Netral. Meski bedug ditabuh laki-laki renta hampir seabad, Joe Jordison dari Slipknot tentu kalah mantep. Kencengnya tabuhan Michael “Moose” Thomas dari Bullet For My Valentine masih kalah menggetarkan kelelewar untuk keluar dari sarangnya.

Deretan drumer grup band Dewa mulai Wawan, Bimo, Wong Aksan, Tyo Nugros hingga Agung tidak pernah sanggup menandingi seksinya tabuhan bedug, dari mushola reot di pinggir kali sekalipun. Bunyi bedug tidak pernah berubah. Ritmenya sama, pelan, sedikit cepat, makin cepat dan kembali ke pelan Entah siapa yang menciptakan, hingga tidak ada yang berniat mengganti iramanya.

Selalu ada yang menyenangkan saat nenunggu bedug. Bagi anak-anak di pedesaan, seperti saya, dahulu mencari jambu wer di pinggiran desa tak tergantikan bahagianya. Lain lagi untuk bocah-bocah di pinggiran stasiun, membuat pisau dari paku yang dilindaskan roda kereta sudah menjadi tradisi. Kerasnya jeritan, saat roda kereta melindas paku serupa pisau dapur tak, membuat mereka tak sabar seharian belum makan.

Berjubel di masjid kampus, menghadiri ceramah ilmiah yang menghadirkan pembicara yang berderet gelar adalah salah satu alternatif menunggu bedug bagi mahasiswa tak bermodal. Kelompok ini menamakan diri sebagai aktifis takzilan. Sekitar tahun 2000-an di Yogya, kelompok ini organisir oleh mahasiswa pinggiran, yang begitu rapi sindikatnya.

Ada yang bertugas semacam intel yang mengumpulkan data di mana saja ada ceramah. Ada yang mencatat, dan menjadi korlap. Kebetulah saya salah satu anggota biasa. Ya, tujuan utama sebenarnya bukan ceramah itu, melainkan menu makanan yang dihidangkan para dermawan. Sayang semua itu tidak bisa dibawa pulang.

Namun bagi kalangan berduit atau sekadar dikira borjuis, lebih memilih jalan-jalan di mall, nongkrong di kafe yang sebenarnya belum buka. Memilih alun-alun kota sambil jualan kolak pisang, atau berzikir di depan layar televisi, sampai menghatamkan membaca al kitab sampai 30 juz sambil status di facebook adalah pilihan lain.

Semua masa lalu menunggu bedug begitu manis saat dikenang, meski cukup tragis. Ramadan tahun ini saya belum menyusun rencana mengisi waktu menunggu bedug. Karena mustahil untuk kembali menjadi aktifias takzilan, jualan kolak, apalagi ke mall, karena entah sejak kapan waktu sore sudah saya gadekan atas nama pekerjaan. Bahkan entah berapa lama saya lupa bagaimana warna matahari saat tenggelam kecuali di dalam televisi saat menyiarkan adzan magrib atau dalam foto di internet.

Ah, lama saya telah kehilangan senja.

Berzikir sambil menulis, begitu selalu ingin saya lakukan untuk menunggu suara panggilan itu. Saat jari-jemari menghitung huruf, mengeja kata menjadi kalimat saya berharap ada nilai ibadah. Meski sekadar menyimak ayat-ayat al kitab dari mp3, semoga tidak mengurangi takzimku kepada-Nya. (wallahu a'lam)

Friday, July 10, 2009

Kuliah Managemen di Warung Kelontong

CUKUP lama saya berbincang dengan seorang pedagang warung kelontong di pojok jalan protokol tengah kota di Kabupaten Kebumen, beberapa waktu lalu. Banyak hal kami omongkan, mulai dari semakin sepinya pembeli warung, sampai masalah Pemilu Presiden.

Karena terlanjut dicap sebagai pendengar yang baik oleh sebagian orang, saya pun mendengarkan kisah pria setengah baya yang saya panggil Koh Chan itu hingga tuntas. Bahkan saat dia lama terdiam, saya masih takut untuk memotong kata-katanya. Barangkali dia tengah berpikir keras untuk mengeluarkan kisah-kisah terbaiknya.

Namanya juga ngobrol, tentu banyak hal dibicarakan. Kami bebas melompat-lompat dari tema satu ke tema lain. Sebebas obrolan warung kopi Lek Masinah (sebuah warung kopi terkenal kampung saya Dukuh Tambakan, Pati), karena tidak ada moderator yang mengatur waktu untuk menjawab. Selama perbincangan itu kami tidak perlu jaga pencitraan diri karena tidak ada satupun kamera menyorot kami berdua.

Sore itu, saya berguru banyak hal tentang kehidupan. Satu pelajaran berharga saya dapatkan. "Mencari uang itu memang sulit. Tapi yang lebih sulit adalah bagaimana mengaturnya," kata Koh Chan seperti mengutip buku kumpulan kata mutiara.

Meski sering berbincang dengan warga keturunan, namun tak banyak yang bisa memberi pangaruh sedahsyat Koh Chan. Setiap kata-katanya penuh makna seperti guru besar yang tengah membacakan pidato pengukuhannya.

Sepulang dari itu, saya pun berjanji akan mempraktikkan semua teori yang saya dapatkan.Saking semangatnya, saya bertekad akan melebihi apa yang ia lakukan. Tentu apa yang saya dapat akan lebih dari apa yang ia peroleh.

Makan malam saya jadikan ujicoba pertama. Kebiasaan makan di warung Padang Jawa (meski tulisannya warung padang yang jual orang Kebumen, he he) pun saya ganti. Warung angkringan pun menjadi pilihan. Tak tanggung, saya hanya membawa uang Rp 4.000 untuk alokasi anggaran makan malam. Jumlah itu sepertiganya jika makan di warung padang yang biasanya meludeskan Rp 12.000 ditambah Rp 500 untuk biaya parkir.
****
Lain dari biasanya tukang angkringan itu memadang dengan curiga. Sepertinya ia tahu saya tidak akan membeli terlalu banyak di warungnya. "Jahe,,,," suara saya henti sebelum bilang kata "susu hangat". Tukang angkring itu pun meneruskan "Jahe susu, anget atau es," katanya. "Jahe anget," tegasku melupakan keiginginan minum jahe susu hangat.

Masih dibakar oleh wejangan, saya makan dengan lahab dua bungkus nasi kucing cuma dengan lauk satu gorengan yang sudah masuk angin. Terakhir jahe hangat tanpa susu itu mengakhiri ritual makan malamku dengan setengah sempurna. "Rp 3.000, Mas." Saya tak percaya mendengarkan, lalu saya ulangi sekali lagi. Jawabannya sama. "Ah, dahsyat. Tersisa Rp 1.000," pikirkan.

Seperti praktisi bisnis multi level marketing (mlm) handal, saya lalu melakukan kalkulasi. Jika saya bisa menghemat lebih dari 60 persen setiap hari tentu dana itu bisa dialokasikan untuk hal-hal besar. Bukan hanya makan malam saja yang harus dihemat anggarannya, untuk sarapan, makan siang, beli pulsa handphone, bayar jasa cuci pakaian, bensin, sampai jatah kontrakan. "Pemikiran yang luar biasa," pikirku.

Sebenarnya muncul gagasan mengurangi sumbangan sosial per bulan. Tapi sontak suara bapak saya muncul tiba-tiba melarang niatan saya. Memang, waktu belum berhemat saja, saya tergolong pelit, tidak tahu apa kata orang setelah saya menerapakan managemen dari perkuliahan di warung kelontong itu.

Malam itu saya sampai terperanjat gara-gara menghitung jumlah penghematan yang saya hitung jika dilakukan selama setahun. Gara-gara kesulitan berhitung, saya tertidur dengan bayangan angka-angka. Maklum nilai Matematika saya sungguh memalukan untuk dipamerkan.

***
Ketika bagun pagi, kamar tidur penuh kertas bekas corat-coret penjumlahan. Persis kamar anak kelas 5 SD menjelang ujian sekolah. Di layar handphone juga masih saya dapati angka dari hasil penjumlahan Rp 17.560.900, yang entah dari hasil penjumlahan mana saja.

Seperti layaknya anak petani, bangun pagi selalu berteriak mencari makanan. Maklum lewat pukul 05.30, orangtua kami sudah hilang ditelan kabut di sawah. Jika sampai jam segitu belum sarapan, kami bisa kelaparan di sekolahan.

Saya pun bergegas ke warung makan. Sebenarnya warung yang biasa di jejali para pegawai negeri dan karyawan swasta saat jam makan siang itu belum dibuka. Namun saya nekat dan setengah memaksa minta dilayani. Hanya ada nasi, rica-cica bebek yang baru matang, teh hangat, dan sejumah sayuran. Dengan lahap saya menyantapnya, sampai saya sadar usai berhitung harus membayar Rp 11.500.

Saya pulang sambil mengingat ajaran "mencari uang itu memang sulit. Tapi yang lebih sulit adalah bagaimana mengaturnya." Sayang sifat pelupa yang akut masih terpelihara. Begitu terus terus berulang sampai hari ini. ***