About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Thursday, August 27, 2009

sagon kelapa

LEBARAN identik dengan suguhan penganan berupa kue kering. Namun sekarang ini tidak banyak lagi dijumpai masyarakat yang menyuguhkan kue kering tradisional seperti sagon kelapa, kue semprong, bolu emprit, dan roti kacang. Mereka lebih memilih kue kering buatan pabrik yang dinilai lebih berkelas dan bagus kemasannya.

Akibatnya kue-kue kering tradisional yang dulu pernah berjaya, semakin meredup popularitasnya. Padahal sebagin besar kue-kue itu diproduksi oleh industri kecil maupun industri rumah tangga. Dampak dari menurunnya permintaan, dari tahun ke tahun produksi para perajin pun terus menurun.

Salah satunya dialami oleh Tarmini (60) perajin sagon kelapa di Dusun Penasapan Desa Kebulusan, Kecamatan Pejagoan, Kebumen. Perempuan yang menekuni usaha kue sagon sejak tahun 1968 itu mengaku sebelum tahun 2000, ia memproduksi penganan yang diolah dari tepung ketan, gula pasir dan kelapa itu setiap hari. Namun saat ini dia hanya memproduksi seminggu dua kali saja.

"Pembuatan hanya untuk memenuhi pesanan dari langganan saja," ujar Parmini saat ditemui di rumahnya, Kamis (27/8).

Saat ini produksi dilakukan setiap hari hanya pada saat bulan Ramadan dan Lebaran. Mengingat bulan puasa permintaan kue sagon meningkat. Dengan dibantu oleh lima tenaga kerja yang masih famili Tarmini dapat menghabiskan 36 kg tepung ketan, 22 kg gula pasir dan 55 butir kelapa. Sagon kelapa yang dikemas dan dilebeli merek "Sari Rasa" itu kemudian dipasarkan ke toko dan pasar tradisional dengan harga Rp 13.000/kg.

"Meski permintaan sagon meningkat, namun masih kalah jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya," ujarnya seraya menyebutkan dia pernah membuat sagon kelapa hingga satu kwintal.

Perempuan yang memiliki delapan anak itu menyebutkan, selain karena permintaan yang menurun, dia mengaku kesulitan mendapatkan tenaga yang ahli membuat kue. Pasalnya, tidak semua orang bisa membuat kue sagon dengan rasa yang gurih.

"Dulu saya pernah membuat roti kacang, tetapi karena tidak ada tenaganya jadi sekarang tidak memproduksi lagi," imbuhnya seraya menyebutkan dia tidak menggunakan bahan pengawet maupun pemanis buatan dalam produk buatannya.

Penurunan produksi kue tradisional juga dialami para perajin kue tradisional di Desa Surotrunan, Kecamatan Alian. Di desa yang dikenal sebagai sentra industri kue kering itu, saat masih jaya, para perajin bisa menghasilkan ratusan kilogram kue kering setiap hari. Mereka juga masih mudah untuk memasarkan kue buatan mereka kepada pedagang.

"Namun saat ini toko-toko kue sudah tidak ada yang mau dititipi kue kering dengan alasan kue itu sudah tak laku lagi," ujar Ny Asmuni, salah seorang perajin.

Diakuinya, kue tradisional yang diproduksi oleh para perajin masih sangat sederhana dari sisi kemasan dan bentuknya. Hal itu berbeda dengan kue kemasan buatan pabrik yang lebih menarik. Diperlukan inovasi dari para perajin agar penganan tradisional khas Kebumen itu mampu bisa bersaing dengan kue buatan pabrik.

Produksi kue tradisional saat ini, imbuh dia, hanya berdasarkan pesanan warga untuk dijadikan oleh-oleh saat mudik. Menjelang Ramadan perajin kebanjiran pesanan dari warga berbagai desa yang ingin menjadikan kue tradisional sebagai suguhan. "Namun setelah Ramadan, permintaan kembali menurun dan perajin sepi kembali," tuturnya.***


senam lansia

LANJUT usia merupakan bagian dari tahap perjalanan hidup manusia yang tidak bisa dihindari. Sehat meski memasuki usia senja adalah harapan semua orang. Berbagai upaya pun dilakukan untuk menjaga tubuh tetap sehat dan terhindar dari sakit-sakitan.

Salah satunya dilakukan oleh para lansia di Dusun Sokka Kidul, Desa Sidokarso, Kecamatan Sruweng, Kebumen. Mereka secara aktif melakukan senam lansia secara rutin setiap. Bahkan sejak 5 Oktober 1999 lalu mereka mendirikan paguyuban senam lansia yang diberi nama "Ngesti Budi Utomo". Seminggu sekali sekitar 22 anggotanya ikut melakukan senam khusus lansia.

Ya, menyaksikan mereka melakukan senam, para lansia yang pada umumnya sudah di atas 70 tahun itu masih tampak bugar. Tawa renyah mereka sesekali terlihat saat melakukan gerakan-gerakan tangan. Masih lengkap dengan mengenakan pakaian olahraga, para lansia itu dengan tidak kalah dengan orang yang jauh lebih muda.

Salah satu lansia yang masih tampak sehat adalah Rusdiman (75). Pansiunan guru SD yang memiliki sebanyak 16 orang cucu tersebut mengaku masih aktif melakukan senam lansia bersama warga lainnya. Pria yang saat ini menjadi ketua Ngesti Budi Utomo itu mengaku cukup merasakan dampak melakukan senam lansia secara rutin.

"Badan jadi lebih sehat, dan untuk mengisi kesibukan," ujar Rusdiman.

Adapun gerakan pada senam lansia itu sengat sederhana. Setiap gerakan menonjolkan adalah gerakan pada tangan untuk melatih saraf dan tulang tetap kuat, serta mendorong jantung bekerja optimal. Dengan gerakan itu berdampak positif terhadap peningkatan fungsi organ tubuh dan meningkatkan imunitas dalam tubuh manusia.

Selain untuk menjaga kesehatan bagi para lansia di dusun itu, paguyuban senam lansia imbuh dia adalah untuk menjaga kehidupan sosial bagi para lansia. Apalagi dengan berkumpul dengan sesama para lansia, banyak hal yang membuat hati senang. Lalu apa yang mereka bicarakan?

"Kalau udah kumpul sesama umur, yang dibicarakan masih kayak anak remaja he he he," katanya seraya tersenyum.

Inspirasi pembentukan kelompok senam lansia adalah saat dia melihat senam lansia di Jakarta yang ditayangkan televisi. Ide itu pun muncul dan disambut antusias oleh para lansia di dusun tersebut. Kegiatan senam rutin paguyuban yang anggotanya umurnya di atas 56 tahun itu itu pun masih bertahan hingga sekarang ini.

D Suwarno (69) salah satu anggota mengemukan, anggota paguyuban senam lansia tersebut anggota berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan. Mulai dari petani, pansiunan guru, pedagang sampai pansiunan tentara seperti dirinya yang merupakan pansiunan TNI AL.

Menurut dia, senam lansia ini bisa untuk menumbuhkan rasa persaudaraan masyarakat di dusun tersebut. Dengan tumbuh persaudaraan di kalangan lansia diharapkan menjadi contoh bagi generasi muda untuk tetap menjaga persaudaraan.

"Yang terpenting adalah menyehatkan badan sehingga lansia lebih produktif," imbuhnya.***

Wednesday, August 26, 2009

kerajinan batok kelapa

BATOK atau tempurung kelapa sepintas hanyalah sebuah sampah yang mungkin tidak berarti bagi sebagian orang. Padahal ditangani oleh tangan kreatif, batok kelapa bisa berganti rupa menjadi karya seni kerajinan yang bisa menjadi peluang usaha.

Adalah Senin (59) warga RT 04 RW 04 Dusun Cilalung, Desa Kejawang, Kecamatan Sruweng, Kebumen yang bisa mengolah batok kepala menjadi sejumlah kerajinan. Dari batok kelapa yang melimpah ruah di Kabupaten Kebumen, ia bisa mengolahnya menjadi sejumlah kerajinan seperti alat rumah tangga, semisal gelas, mangkok, siwur, irus, hingga aksesoris lainnya.

Sejak 30 tahun lalu, pria yang memiliki lima orang anak itu sudah menekuni kerajinan tangan tersebut. Berbekal coba-coba, akhirnya dia berani membuat berbagai macam k
erajinan dari batok kelapa. Hingga saat ini, pria paruh baya itu pun masih bertahan menghidupi keluarganya dengan batok kelapa. Ia pun ingin mengembangkan kerajinan yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarga.

Secara umum, proses pembuatan kerajinan batok kelapa oleh Senin masih bisa terbilang sangat sederhana. Peralatan yang digunakan pun masih tradisional. Namun garapan yang dihasilkan relatif cukup halus. Dengan sedikit sentuhan seni lagi, tidak mustahil kerajinan itu bisa tembus ke pasar mancanegara bersaing dengan kerajinan serupa dari Bali maupun Yogyakarta.

Dengan dibantu oleh anaknya, dalam sehari Senin mampu menghasilkan sebanyak satu kodi atau 20 biji kerajinan. Hasil kerajinan itu dipasarkan hingga Bandung dan Jakarta. Oleh para pengepul produk kerajinan itu dipasarkan di supermarket dan sebagian digunakan untuk h
otel.

Masih terbatasnya jaringan yang dimilikinya, membuat produk kerajinan batok kelapa milik Senin hanya dijual kepada pengepul dengan harga yang relatif murah. Untuk siwur dengan gagang kayu kelapa dijual dengan harga Rp 4.000 per biji, sedangkan untuk gagang memakai kayu mlinjo harganya lebih murah yakni Rp 3.000 per biji. Sedangkan harga gelas dari batok kelapa Rp 4000/biji, irus Rp 2.500 per biji.

"Saya juga membuat siwur dengan gagang dari bambu untuk dipasarkan di lokal Kebumen," ujar Senin rumahnya, kemarin.


Kepala Desa Kejawang Wahyu Utomo, ada beberapa perajin yang mengolah tempurung kepala menjadi berbagai kerajinan. Namun dia mengakui masih perlu ada pendamping
an dari pemerintah agar hasil kerajinan batok kelapa yang dibuat warganya bisa bersaing dan memiliki nilai jual yang tinggi.

Dia optimis kerajinan batok kelapa masih potensial untuk meningkatkan kesejahteraan warganya. Mengingat bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat kerajianan cukup mudah untuk didapatkan di Kebumen. Sehingga kerajinan batok kepala tidak mengalami kekurangan bahan baku.

"Apalagi saat ini banyak rumah makan, restoran dan hotel yang tertarik pada perabotan makan dari batok kelapa. Misalnya sendok kuwah, sendok nasi dan lainnya karena alami dan disukai konsumen," ujarnya.***

Wednesday, August 19, 2009

krisis air (1)

DUSUN Kalijambe Desa Kalisana, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah tampak lengang. Di sepanjang jalan desa yang menghubungkan antara Desa Langse dengan Desa Tlepok itu, hanya sesekali lewat warga bersepeda maupun berjalan kaki.

Hamparan sawah di sisi kanan kiri sebagian menghijau oleh daun tembakau siap petik. Namun sebagian lagi tampak menguning sewarna rumput yang mengering.
Musim kemarau membuat sebagian petani tidak mau berspekulasi. Mereka lebih memilih membiarkan lahannya tanpa tanaman.

Maklum, warga di desa itu tidak hanya kesulitan air untuk menyirami tanaman tembakau, melainkan juga sulit mencukupi kebutuhan air bersih. Saat hujan menjauh, air tiba-tiba menghilang laksana ditelan tanah yang merekah. Sumur mengering dan sumber air yang tersisa pun jauh di balik pegunungan.


Pada pertengahan Agustus ini, salah satu sumber yang masih mengalirkan air adalah mata air di Alas Rembes, sekitar 5-7 kilometer dari rumah warga. Dari sumber itulah ratusan keluarga menggantungkan kebutuhan air, untuk minum, memasak, mencuci, dan mandi.

Karena jaraknya yang cukup jauh, warga bersiasat dengan mengalirkan air ke sejumlah bak penampungan air. Bak penampungan air itu merupakan sub terminal yang kemudian diteruskan ke puluhan rumah warga di bawahnya.

Salah satu penampungan air yang masih terjaga berada di depan Mushola Baitul Taqwa. Di bak yang dibangun dengan ketinggian sekitar lima meter pada empat bulan lalu secara swadaya itu dipasang selang yang menuju ke tiap-tiap bak milik sekitar 25 keluarga. Jarak rumah warga dengan penampungan tersebut antara 20-150 meter.

Meskipun airnya tidak melimpah, menurut Sinah (52) warga RT 03 RW 03 Dusun Kalijambe, dengan sistem tersebut kebutuhan warga masih bisa tercukupi. Selain itu warga juga tidak harus mengambil air ke sumber air yang jaraknya cukup jauh. Perempuan paruh baya itu pun bersyukur sumber air di Alas Rembes masih mengeluarkan air.
"Dia tidak bisa membayangkan kalau mata air itu tidak lagi mengeluarkan air," katanya membersihkan penampungan air tersebut.

Manisah (30) warga lainnya, mengaku pada musim kering, tidak ada lagi sumber air yang bisa digunakan. Sungai Weleran yang melintas di desanya juga kerontang sebelum waktunya, sehingga tak bisa diandalkan. Maka ibu satu anak itu mengatakan menjaga mata air agar tetap mengalir adalah mutlak dilakukan dan tidak bisa ditawar.


Ya, desa yang sebagian warganya merantau ke ibukota itu belum sampai mendapatkan bantuan air bersih dari Pemkab Kebumen. Musim kemarau tahun lalu juga demikian. Namun pemerintah desa sudah mengajukan bantuan air bersih. Namun tidak lama kemudian turun hujan.
"Meskipun terbatas, kebutuhan air bersih masih tercukupi," ucap Hasyim Kepala Desa Kalisana.

Ternyata, matinya mata air pada musim kemarau dialami beberapa desa, salah satunya Desa Giritirto Kecamatan Karanggayam. Dari tujuh mata air yang ada di desa itu, saat ini tinggal dua yang masih mengeluarkan air dengan debit air menurun drastis. Hal itu perlu dicermati karenanya dampak yang diakibatkan akan lebih luas. Mengingat desa yang berbatasan dengan Banjarnegara itu merupakan daerah hulu yang berfungsi sebagai wilayah tangkapan air.


Di Desa Pohkumbang Kecamatan Pejagoan sejumlah mata air kering lebih awal. Sedangkan mata air yang tersisa semakin menurun debit airnya. Menurut Sekretaris Desa Pohkumbang Rohyat sebelum tahun 1990, di desa dengan ketinggian 185 dpl yang terdiri dari empat dusun tersebut masih banyak sumber air yang masih mengalir meski memasuki musim kemarau.

"Namun sekarang tidak hujan sebentar, sudah mengering," katanya.


Alih fungsi lahan di daerah penyangga (buffer) serta makin bertambahnya lahan kritis menjadi faktor penyebab kelangkaan air. Dari analisis Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumberdaya Pembangunan (LPPSP) Semarang, penyebab lain adalah makin luasnya penyebaran daerah aliran sungai (DAS) yang kritis, kemudian penebangan liar di daerah penyangga.

"Akibatnya makin defisit air di wilayah kekurangan air semakin meningkat serta ketersediaan air di daerah surplus menurun," ujar Ketua LPPSP, Indra Kertati saat mengisi pelatihan pengelolaan SDA berbasis masyarakat di Kebumen.

Di luar itu semua, kesadaran masyarakat untuk menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan mata air menjadi hal yang sangat penting untuk menjaga mata air tetap basah. Upaya sosialiasi peningkatan peran serta masyarakat dalam perlindungan sumber mata air yang dilakukan oleh Kantor Lingkungan Hidup (KLH)N Kebumen juga patut diapresiasi. Namun upaya tersebut tidak berhenti sampai di situ.

"Kami berharap kesadaran masyarakat untuk ikut bertanggungjawab menjaga dan melindungi sumber daya alam khususnya sumber mata air meningkat," tandas Kepala KLH Drs Nugroho Tri Waluyo.***


Wednesday, August 12, 2009

Perajin Gembor

MUSIM kemarau bagai mata uang yang mempunyai dua sisi saling yang bertolak belakang. Satu sisi musim ini dikeluhkan oleh para petani yang menanam padi termasuk warga daerah pegunungan yang dilanda kekeringan. Namun di sisi yang lain, datangnya musim kemarau disambut sukacita oleh para perajin gembor di Desa Mrinen Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Bagi para perajin gembor, musim kemarau membawa banyak keuntungan. Mengingat saat musim kamarau menjelang, permintaan produk itu meningkat. Para perajin pun kebanjiran order dan rupiah yang mereka dapat pun berlipatganda dari hari biasa.

Seperti yang dialami oleh Sipul (65). Baginya, kemarau adalah berkah karena pesanan gembor meningkat dua kali lipat. Istilahnya, berapa pun jumlah yang dia bikin terbeli. Dia bahkan sampai menolak pesanan karena kekurangan tenaga untuk membuatnya.

Kendati dibantu oleh dua anaknya, Sipul masih kewalahan untuk memenuhi orderan. Untuk kejar target pesanan, dia mau tidak mau harus lembur untuk menyelesaikan. Dalam empat hari, dia bersama dua anaknya bisa menghasilkan 40 buah gembor.

"Lembur terus Mas, karena lagi musimnya," ujarnya saat ditemui di rumahnya.

Ya, gembor merupakan semacam tempat air yang dibuat dari seng yang biasa digunakan petani untuk menyirami tanaman. Pada musim kemarau saat ini, gembor menjadi alat bantu pertanian yang sangat dibutuhkan. Biasanya alat tersebut dimanfaatkan oleh petani untuk menyirami bibit tanaman tembakau, cabai, maupun bawang.

Dalam membuat Gembor, Sipul yang menjadi perajin sejak 1980 itu bahu membahu dengan anak-anaknya. Satu orang anaknya bertugas membuat bahan dasar gembor, yakni dari lembaran sing kemudian dibentuk menjadi silinder. Kemudian anak satunya lagi bertugas memang sisi bawah dan aksesoris dengan menggunakan patri. Setelah proses itu, giliran Sipul yang bertugas mengecat dan mengeringkan gembor yang siap dipasarkan.

Selain untuk Kebumen, gembor hasil produksi industri rumah tangga yang diberi merk "Sipul" itu dipasarkan ke sejumlah daerah. Antara lain Cilacap, Purwokerto, Purworejo, Kabupaten Magelang, Wonosobo, Temanggung dan Banjarnegara. Terkadang produksinya untuk memenuhi pesanan dari Semarang dan Yogyakarta.

Harga jual gembor yang dia buat dari seng tebal Rp 50.000. Sedangkan untuk yang kualitas di bawahnya Rp 35.000. Dia menjamin, kualitas gembor buatannya itu akan bisa bertahan hingga 10 tahun.

Namun yang menjadi kendala bagi perajin adalah naiknya bahan baku berupa lembaran seng. Harga lembaran seng sebelumnya Rp 36.000/lembar saat ini naik menjadi Rp 42.000. Sedangkan untuk seng yang sebelumnya Rp 50.000/lembar saat ini sudah mencapai Rp 75.000.

Desa Mrinen merupakan sentra perajin dari seng seperti gembor sampai kompor gas. Adapula warga yang membuat gembor dari bahan kaleng bekas atau yang disebut blek. Salah satunya dilakukan oleh Romelan (44). Harga yang dia tawarkan lebih murah yakni antara Rp 16.000- Rp 17.500.

Bapak tiga anak itu menuturkan, bahan baku pembuatan gembor dari seng dan kaleng. Jenis kaleng yang bisa dimanfaatkan adalah kaleng bekas oli dan lem. Bahan baku tersebut didatangkan dari Banyumas, Purworejo, dan Magelang. Dia juga mengeluhkan kenaikan harga. Yang biasanya harga satu kaleng Rp 4.000 menjadi Rp 5.000.

"Dengan dibantu istri dan anak, saya hanya mampu memproduksi dua kodi saja," tandasnya Romelan seraya bersyukur hasil yang didapat bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. ***