Wednesday, August 12, 2009

Perajin Gembor

MUSIM kemarau bagai mata uang yang mempunyai dua sisi saling yang bertolak belakang. Satu sisi musim ini dikeluhkan oleh para petani yang menanam padi termasuk warga daerah pegunungan yang dilanda kekeringan. Namun di sisi yang lain, datangnya musim kemarau disambut sukacita oleh para perajin gembor di Desa Mrinen Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Bagi para perajin gembor, musim kemarau membawa banyak keuntungan. Mengingat saat musim kamarau menjelang, permintaan produk itu meningkat. Para perajin pun kebanjiran order dan rupiah yang mereka dapat pun berlipatganda dari hari biasa.

Seperti yang dialami oleh Sipul (65). Baginya, kemarau adalah berkah karena pesanan gembor meningkat dua kali lipat. Istilahnya, berapa pun jumlah yang dia bikin terbeli. Dia bahkan sampai menolak pesanan karena kekurangan tenaga untuk membuatnya.

Kendati dibantu oleh dua anaknya, Sipul masih kewalahan untuk memenuhi orderan. Untuk kejar target pesanan, dia mau tidak mau harus lembur untuk menyelesaikan. Dalam empat hari, dia bersama dua anaknya bisa menghasilkan 40 buah gembor.

"Lembur terus Mas, karena lagi musimnya," ujarnya saat ditemui di rumahnya.

Ya, gembor merupakan semacam tempat air yang dibuat dari seng yang biasa digunakan petani untuk menyirami tanaman. Pada musim kemarau saat ini, gembor menjadi alat bantu pertanian yang sangat dibutuhkan. Biasanya alat tersebut dimanfaatkan oleh petani untuk menyirami bibit tanaman tembakau, cabai, maupun bawang.

Dalam membuat Gembor, Sipul yang menjadi perajin sejak 1980 itu bahu membahu dengan anak-anaknya. Satu orang anaknya bertugas membuat bahan dasar gembor, yakni dari lembaran sing kemudian dibentuk menjadi silinder. Kemudian anak satunya lagi bertugas memang sisi bawah dan aksesoris dengan menggunakan patri. Setelah proses itu, giliran Sipul yang bertugas mengecat dan mengeringkan gembor yang siap dipasarkan.

Selain untuk Kebumen, gembor hasil produksi industri rumah tangga yang diberi merk "Sipul" itu dipasarkan ke sejumlah daerah. Antara lain Cilacap, Purwokerto, Purworejo, Kabupaten Magelang, Wonosobo, Temanggung dan Banjarnegara. Terkadang produksinya untuk memenuhi pesanan dari Semarang dan Yogyakarta.

Harga jual gembor yang dia buat dari seng tebal Rp 50.000. Sedangkan untuk yang kualitas di bawahnya Rp 35.000. Dia menjamin, kualitas gembor buatannya itu akan bisa bertahan hingga 10 tahun.

Namun yang menjadi kendala bagi perajin adalah naiknya bahan baku berupa lembaran seng. Harga lembaran seng sebelumnya Rp 36.000/lembar saat ini naik menjadi Rp 42.000. Sedangkan untuk seng yang sebelumnya Rp 50.000/lembar saat ini sudah mencapai Rp 75.000.

Desa Mrinen merupakan sentra perajin dari seng seperti gembor sampai kompor gas. Adapula warga yang membuat gembor dari bahan kaleng bekas atau yang disebut blek. Salah satunya dilakukan oleh Romelan (44). Harga yang dia tawarkan lebih murah yakni antara Rp 16.000- Rp 17.500.

Bapak tiga anak itu menuturkan, bahan baku pembuatan gembor dari seng dan kaleng. Jenis kaleng yang bisa dimanfaatkan adalah kaleng bekas oli dan lem. Bahan baku tersebut didatangkan dari Banyumas, Purworejo, dan Magelang. Dia juga mengeluhkan kenaikan harga. Yang biasanya harga satu kaleng Rp 4.000 menjadi Rp 5.000.

"Dengan dibantu istri dan anak, saya hanya mampu memproduksi dua kodi saja," tandasnya Romelan seraya bersyukur hasil yang didapat bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. ***

No comments:

Post a Comment

terima kasih Anda telah memberikan komentar di blog ini