About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Wednesday, October 14, 2009

krisis air (2)

MARIYEM menghela nafas panjang setelah semua tiga jerigen yang ia bawa terisi air, kemarin. Pukul 12.00 WIB akhirnya dia pulang berjalan kaki sembari menggendong satu persatu jerigen yang masing-masing berisi 20 liter air.

Untuk mendapatkan 60 liter air bersih itu, warga RT 01 RW 02 Dusun Krinjingan, Desa Tugu, Kecamatan Buayan, Kebumen tersebut harus menunggu selama delapan jam. Air itu sebenarnya berasal dari sebuah mata air di balik perbukitan sekitar 1,5 kilometer dari pemukiman. Namun untuk mendekatkan ke warga, air tersebut dialirkan dengan menggunakan sebuah pipa.


"Airnya sangat kecil. Untuk bisa memenuhi satu jerigen perlu waktu 15 menit," kata Mariyem sela-sela menunggu jerigennya terisi air.


Kecilnya debit air membuat anteran jerigen mengular semakin panjang. Warga pun harus sabar, seperti Mariyem yang mulai antre pada pukul 04.00 WIB dan baru mendapatkan air bersih pada pukul 12.00 WIB. Karena saking lama menunggu, sekitar pukul 08.00 WIB ia sempatkan pulang ke rumah, memasak nasi untuk keluargnya. Dua jam kemudian, ia kembali ke lokasi antrean yang berjarak 500 meter dari rumahnya, untuk melihat jerigen miliknya.


"Soalnya kalau tidak ditunggui, jerigen tidak akan pernah terisi air," imbuhnya.

Mariyem tidak sendirian. Ada ratusan warga di Dusun Krinjingan yang harus sabar mengantre di tempat yang sama guna mendapatkan air bersih. Trisno Sumaryo (52) Ketua RT 02 RW 02 juga harus sabar menunggu. Katanya, antrean semakin panjang saat semakin sore. Bahkan jika di mata air tersebut dipakai warga sekitar, maka air pipa-pipa tersebut sudah tidak lagi mengalirkan air.

"Kalau sudah begitu, kami terpaksa pulang tanpa bawa air meski sudah lama mengantre," tuturnya.

Ya, Desa Tugu merupakan salah satu desa yang menjadi langganan krisis air saat musim kemarau tiba. Kekeringan merata di seluruh desa itu, hanya ada dua RT saja yang relatif kecukupan saat kekeringan mendera. Selainnya 80 keluarga di Dusun Krinjingan, 120 keluarga di Dusun Kaliori, 43 keluarga di Dusun Tugu I, 85 keluarga di dusun Tugu II, 217 keluarga di Dusun Kalisema, harus berjuangan keras untuk mendapatkan air untuk keperluan sehari-hari.

Meski menurut Sekretaris Desa Tugu Bambang Siswoyo, kekekirangan tahun ini tidak separah tahun lalu, namun warga desa itu masih tetap mengandalkan bantuan air bersih dari Pemkab Kebumen. Sebab hingga minggu kedua bulan Oktober ini, air dalam sumur masih belum mengeluarkan air.

"Masih ada kalau hanya untuk sekadar minum dan memasak," katanya.

Terus berulangnnya krisis air di desa itu, bukan berarti tidak ada upaya apapun untuk menanggulanginya. Upaya untuk mencari sumber air selalu saja gagal. Salah satunya bantuan dari ITB yang melakukan pengeboran sedalam 150 meter. Namun meski digali sedalam itu tak sedikit pun bisa mengeluarkan air yang bisa dikonsumsi.

"Sebelumnya mantan kepala desa sini pernah mengebor sampai 70 meter. Namun airnya seperti mengadung minyak," imbuhnya seraya menyebutkan saat dibor sebagian besar struktur bumi didominasi batu cadas.***


Wednesday, October 7, 2009

watu rumpit

MENELUSURI pelosok Kabupaten Kebumen, ternyata banyak ditemui lokasi yang memiliki panorama alam yang menakjubkan. Salah satunya di Desa Giripurno Kecamatan Karanganyar, memiliki sejumlah lokasi dengan panorama yang sulit dicari di daerah lain.

Salah satu yang cukup menarik adalah lokasi yang disebut oleh warga setempat sebagai bukit Watu Rumpit. Dari ketinggian lokasi itu, di sebelah selatan dapat terlihat landscape Kecamatan Karanganyar yang menawan. Tampak pula bangunan Padepokan Sehat Medika yang pimpinan Ki Suman Sri Husada. menarik tatkala sebuah kereta api, tampak seperti ular putih yang merambat pelan di hijaunya tanaman.

"Pada hari Minggu atau libur, banyak warga yang berada di tempat itu sekadar untuk melihat pemandangan alam," ujar Kepala Desa Giripurno, Warisah, kemarin.

Dinamakan Watu Rumpit, karena jalan untuk mencapai lokasi tersebut harus melewati jalan yang berada di kelilingi bebatuan. Batu-batu tersebut terbentuk bukan dibuat manusia melainkan dari proses alam dan sudah ada sejak dahulu kala.

"Dahulu jalannya hanya batu-batu saja. Sekarang sudah halus dan bisa dilewati angkutan pedesaan," ujar kades yang menjabat sejak dua tahun silam.

Dengan potensi alamnya yang manawan, satu-satunya kades perempuan di Karanganyar itu yakin akan bisa mengembangkan desa yang dipimpinnya menjadi daerah tujuan wisata. Sehingga potensi lain dari desa itu dapat tergali.

Memang, selain memiliki Watu Rumpit desa yang berada di ketinggian itu juga memiliki sejumlah spot yang menawan. Misalnya sebelah utara desa terdapat bukit Sipendel, yang dapat terlihat panorama yang tak kalah Indahnya. Dari puncak bukit itu bisa terlihat dengan jelas desa-desa di Kecamatan Karanggayam dan Kecamatan Sruweng.

"Jalan lintas kecamatan juga sudah dibangun, dan dapat dilalui oleh kendaraan," imbuhnya.

Dari data tahun 2009, desa dengan luas wilayah 379 hektare tersebut memiliki 774 keluarga. Jumlah penduduk sebanyak 3.950 jiwa dengan 1960 orang laki-laki dan 1990 perempuan. Sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani, pedagang dan pegawai negeri dan swasta.

Sementara komoditas andalan yang cukup menopang ekonomi warga adalah kerajinan gula kelapa dan kerajinan lanting. "Gula kelapa dari Giripurno juga dibeli tengkulak untuk stok pabrik kecap di Jakarta," imbuhnya.***