About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Wednesday, October 6, 2010

Saring "Photo"


Mbah Saring Niswan (68) bersama kamera antik merek Agfa yang pernah dipakai untuk bekerja menjadi  fotografer keliling.


SEDIKIT orang yang setia terhadap profesi yang mereka jalani, salah satunya adalah Saring Niswan (68). Bagaimana tidak, lebih dari 43 tahun,  warga yang saat ini tinggal di  sebuah rumah  sederhana di RT 03 RW 09 Kelurahan Selang, Kecamatan Kota Kebumen itu menjadi seorang tukang foto keliling. Dengan modal kamera itulah dia bekerja keras menghidupi  keluarga hingga mengantarkan delapan anaknya menjadi seorang sarjana.

Kakek yang memiliki  13  orang cucu tersebut mulai memotret sebelum tahun 1964. Setelah lulus Sekolah Teknik Pertama dia ikut bekerja di studio Daya Bakti di kawasan Alun-alun Kebumen. Di studio itulah Saring muda mulai mengenal teknik fotografi mulai dari diafragma, kecepatan, pencahayaan, hingga non teknis seperti komposisi.

Di studio  itu pula dia juga mendalami teknik cuci film di kamar gelap. Merasa stagnan dia akhirnya mencoba peruntungan dengan mandiri.  Dengan sebuah kamera analog yang dia lupa mereknya, dia pun bertekad menahbiskan dirinya sebagai seorang tukang foto panggilan. Sekolah Dasar (SD) di Kebumen menjadi salah satu langganan, yakni untuk foto rapor dan ijazah bagi para siswanya.

Hampir seluruh SD di Kebumen pernah ia kunjungi untuk diambil gambar siswanya. Selain itu, pesta perkawinan juga menjadi sasaran langganannya. Saking terkenalnya sebagai seorang fotografer, Saring pun terkenal dengan nama panggilan Saring Photo. Hingga saat ini, nama alias itu sampai menenggelamkan nama aslinya.

"Seingat saya, paling ramai pada era 1970-an. Sampai-sampai dalam semalam saya bisa motret di tiga tempat," ujar Saring saat ditemui di rumahnya, Rabu (6/10/2010).

Selama puluhan tahun memotret, tentu sudah tak terhitung berapa orang yang sudah dia ambil gambarnya. Foto ijazah dan rapor siswa SD di Kebumen pada era 1970-1980 banyak yang merupakan hasil jepretan suami Susiamah (62), pansiuan guru SD Kalirejo 3 itu. Maklum pada era itu, profesi sebagai tukang foto masih jarang digeluti.

Dalam rentang waktu tersebut, tentu dia juga sudah puluhan kali berganti kamera. Sayang tidak semua kamera yang digunakan masih disimpan. Beberapa kamera yang pernah digunakan dan masih tersimpan antara lain kamera Polaroid SX-70 Alpha I, kamera unik merek Ferrania buatan Italia,  dan kamera merek Agfa film 135 buatan Jerman. Sebagian lagi kamera milik Saring telah hilang maupun berpindah ke tangan orang lain.

“Sebagian yang masih bisa dipakai dibawa oleh satu anak saya yang menuruni hobi fotografi," katanya seraya menyebutkan satu anaknya yang saat ini menjadi guru SD juga memiliki usaha foto dan video shooting.

Setelah 43 tahun mengabdikan diri di bidang fotografi, Saring akhirnya memutuskan pensiun pada 1 Januari 2007 lalu. Dia mengaku bangga menjalani profesi sebagai tukang foto, mengingat dengan itu pula ia mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi seorang Sarjana.  Ya, perlu diketahui delapan foto  laki-laki dan perempuan yang memakai toga dan terpajang  berjajar di diding kamar tamu rumah Saring  itu bukan koleksi langganan, melainkan foto anak-anaknya saat diwisuda.

"Saya ini sudah bodoh, jangan sampai anak-anak saya bernasip seperti orang tuanya," tandasnya pria yang juga memiliki koleksi barang-barang antik itu.

Koleksi barang antik tersebut mulai dari buku kuno hingga keramik kuno asli Cina. Barang-barang tersebut dia dapat saat berkeliling memotret.  Koleksi barang antik tersebut masih disimpan di rumahnya. "Kalau ada yang berminat ya saya jual," imbuhnya. ***

Saturday, September 11, 2010

Awas!!! Belut Lombok Ijo Bikin Ketagihan

JIKA Anda pernah melintas di Kota Gombong dan kebingungan mencari restoran, setelah membaca tulisan ini mudah-mudahan pengalaman itu tak akan terulang lagi. Mengapa demikian, saya akan merekomendasikan satu rumah makan yang layak disinggahi oleh pecinta kuliner yang makan tidak sekadar mencari kenyang. Belut Lombok Ijo Bikin Ketagihan.

Bagi yang belum tahu, Gombong merupakan satu kota kecamatan dari 26 kecamatan di Kebumen sekitar 20 kilometer arah barat dari pusat kota dengan slogan “beriman” itu. Meski hanya kota kecamatan, kota ini lebih populer ketimbang Kebumen. Tidak sedikit orang yang mengira bahwa Gombong merupakan kota tersendiri.

Oh ya, rumah makan yang saya maksudkan ialah Viva’s  Cafe & Resto. Meski di belakang nama ada embel-embel cafe & resto, jangan bayangkan  rumah makan yang berada di Jalan Yos Sudarso (di depan Lapangan Manunggal) ini berdiri megah layaknya restoran di kota-kota besar. Rumah makan yang resmi dibuka pada Juli 2010 lalu dibangun dengan memanfaatkan bekas bengkel mobil. 

Meski restoran ini cukup sederhana, menu yang ditawarkan cukup bisa diandalkan. Boleh dibilang setara dengan restoran di hotel berbintang. Paling tidak, menurut pengakuan pemiliknya, Dwi Anto Sulistiawan, chef yang memasak berpengalaman bekerja di hotel berbintang bahkan ada yang malang melintang menjadi juru masak di kapal pesiar.

Salah satu menu favorit di tempat ini ialah belut cah lombok ijo. Resep menu ini memadukan citarasa bumbu khas china dan tradisional Jawa. Rasanya gurih, asam dan manis. Pokoknya sulit diceritakan, karena itu baiknya langsung saja dirasakan. Awas!!! Belut lombok ijo bikin ketagihan. 


Mengintip cara memasaknya, pertama-tama belut yang telah dibersihkan kemudian di goreng hingga matang. Selanjutnya dioseng dengan bumbu seperti jahe, bawang putih, bawang merah, dan kunyit. Tambahan daun kemangi, saos tiram, kecap dengan sedikit garam, gula pasir serta minyak wijen makin menambah aroma yang menggugah selera. Tidak hanya itu, daging belut dipadu dengan irisan cabai hijau yang ditumis bersama dengan sedikit minyak. Jadilah menu belut cah lombok ijo siap menggoyang lidah penggemar kuliner. 

“Hmmm, makyos..” perpaduan ini menghasilkan citarasa yang unik. Sangat cocok dengan lidah orang Jawa maupun China. Lebih-lebih bagi mereka yang ingin mengurangi kadar kolesterol. Yang jelas rasa belutnya tidak hilang.    

Menurut Dwi Anto dan istrinya Erna Haryanti, standar kualitas masakan di restoran miliknya tak kalah dengan di hotel berbintang. Namun demikian harga yang ditawarkan hanya sekelas pedagang kaki lima. Misalnya, harga seporsi belut cah lombok ijo, harganya sangat terjangkau yakni Rp 10.000.  Banyak juga yang berminat pada menu tersebut. Selama Ramadhan tak kurang 12 kg belut dan 20 kg cabe hijau habis dalam sehari. 

Selain belut, menu lain yang tak kalah lezat ialah lunjar lombok ijo, ayam lombok ijo, dan bebek lombok ijo. Bukan itu saja, aneka menu ayam, bebek, ikan, sayur, dan chinesse food seperti aneka bakmi, bihun, kwetiau spesial, kwetiau seafood, dan capcay juga dapat menjadi pilihan di restoran itu.
"Selain murah, rasanya juga nikmat. Belut lombok ijo sangat cocok bagi pecinta kuliner pedas seperti saya," ujar Heri Pranoto (45) salah satu pengunjung. 

Selain makanan, aneka minuman panas dan dingin juga tersedia. Ada pula minuman tradisional seperti wedang uwuh gula batu dan teh sirih merah gula batu. Sekadar info, wedang uwuh merupakan minuman tradisional dari Imogiri, Bantul, DIY. Minuman ini terbuat dari berbagai jenis herba seperti rimpang jahe, serutan kayu secang, serutan kayu manis, cengkih, daun pala. Kadang ditambahkan pula batang sereh atau daun jeruk dan dibubuhi gula batu.


"Selain rasanya yang begitu unik, minuman ini juga sangat menyehatkan," imbuh Erna Haryanti.

Letak rumah makan ini cukup strategis yakni berada di pinggir jalan utama jalur selatan. Jika Anda melintasi Kota Gombong, beristirahat sembari menikmati berbagai menu yang ditawarkan Viva’s Cafe & Resto bisa menjadi pilihan alternatif. Selama Ramadhan, rumah makan ini buka pukul 16.00-23.00 WIB. Sedangkan hari biasa buka pukul 10.00-22.00 WIB. 

Jika penasaran, tak ada salahnya mampir dan mencobanya.

Friday, May 7, 2010

Fitriyan Dwi Rahayu

SAAT teman-teman sekolahnya merasa dag dig dug menunggu pengumuman kelulusan Ujian Nasional (UN), Fitriyan Dwi Rahayu (14) justru merasa santai. Siswa SMP Negeri 1 Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Jawa tengah itu masih melakukan kebiasaan sehari-hari, membantu pekerjaan orangtua di rumah, membaca buku, mendengarkan musik dan sesekali bermain gitar. Meskipun hasil UN belum diumumkan, tak pernah terpikir olehnya akan tidak lulus dalam ujian.

Ya, anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Cipto Raharjo (51) dan Sukarni Mugi Rahayu (43) itu yakin akan lulus. Sebab, selama pelaksanaan ujian, dia merasa mengerjakan naskah soal yang diujikan tanpa kesulitan berarti. Bahkan saat mengerjakan soal ujian Matematika, menurutnya hanya satu soal saja ia merasa tidak sanggup mengerjakan.
"Saya sempat berpikir kalau soal Matematika yang diujikan salah he he he," ujar Fitriyan saat ditemui di rumah orangtuanya di RT 04 RW 01 Kelurahan Jatiluhur Kecamatan Karanganyar, Kebumen, Kamis (6/5) petang.

Memang, remaja kelahiran 26 Februari 1996 itu paling senang pada pelajaram Matematika. Bagi remaja yang hobi membaca dan mendengarkan musik itu, pelajaran berhitung sangat mengasyikkan. Dia merasa puas setelah bisa memecahkan satu soal, dan kemudian menyelesaikan soal lainnya."Itung-itungan itu memang asyik. Kadang sampai lupa diri kalau sudah mengerjakan soal, " imbuhnya.

Hasil UN Triyan, begitu panggilannya, memang sangat membanggakan. Nilai yang dicapai dari empat mata pelajaran hampir sempurna yakni 39,8 atau dengan nilai rata-rata 9,95. Bagaimana tidak, hampir semua mata palajaran dia mendapatkan nilai sempurna. Bahasa Indonesia mendapatkan nilai 10, Matematika 10, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) memperoleh nilai 10. Hanya Bahasa Inggris yang mendapat 9,8. Atas capaian tersebut, dia mendapatkan nilai UN tertinggi tingkat nasional.

Cipto Raharjo (51), sang Ayah mengakui Fitriyan memang rajin belajar. Baik saat menjelang ujian maupun tidak, anaknya itu suka mengulang pelajaran di rumah. Waktunya tidak menentu, namun lebih sering belajar pada malam hari. Pantas jika sejak SD anaknya memang cukup pintar. Sehingga waktu masuk SMPN 1 Karanganyar, dia menjadi terbaik ke-2 dan mendapatkan beasiswa selama setengah tahun.

"Dulu sebenarnya akan saya daftarkan ke SMPN 1 Kebumen, namun karena harus menempuh jarak yang jauh, akhirnya masuk ke SMPN1 Karangnyar," kata Cipto seraya menyebutkan, jarak rumah dengan sekolah hanya 3 kilometer.

Untuk mampu mengerjakan soal-soal ujian memang tidak bisa dilakukan secara instan, apalagi dengan cara-cara yang tidak rasional. Perlu proses panjang yakni mempelajari setiap materi pelajaran yang disampaikan. Dalam menghadapi UN, Triyan tidak melakukan persiapan secara khusus. Dia hanya mengikuti bimbingan belajar yang dilaksanakan pihak sekolah. Bahka dia tidak mengikuti bimbingan belajar di lembaga bimbingan pelajaran swasta.

"Namun tradisi belajar itu dilakukan setiap hari sehingga menjadi budaya di keluarga," katanya.
Hasilnya, tidak hanya anak keduanya itu yang berprestasi. Anak pertamanya, Bayu Raharjo Putra merupakan lulusan SMAN 1 Kebumen yang juga memiliki nilai di atas rata-rata. Anaknya yang saat ini tengah mengikuti seleksi di perguruan tinggi itu dahulu juga lulusan SMPN1 Karanganyar. Hasil UN Matematika-nya waktu itu juga memperoleh angka 10.

Sementara itu, kebiasaan membaca ditanamkan oleh keluarga termasuk sang ibu, Sukarni Mugi Rahayu yang sehari-hari bekerja sebagai PNS di Kelurahan Jatiluhur. Kondisi rumah yang menjadi tempat perpustakaan umum kelurahan itu juga mendukung kebiasaan membaca. Dengan koleksi buku dan majalah yang mencapai 5.000 eksemplar kegemaran Fitriyan dan saudaranya untuk membaca buku dapat terfasilitasi. Adapun bacaan kesukaanya, adalah novel tetralogi "Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata.

"Saya paling suka dengan Sang Pemimpi, karena usianya sama dengan aku sekarang," kata Fitriyan sambil buku kedua dari Laskar Palangi itu.

Selain orang tua yang merasa bungah atas pretastasi Fitriyan adalah H Suparmin SPd. Kepala SMPN 1 Karanganyar itu mengaku bangga atas prestasi yang diperoleh siswanya. Bahkan dia mengaku, sudah ditelepon oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Prof Dr Ir Muhammad Nuh terkait prestasi yang diraih oleh anak didiknya.

"Fitriyan memang anak yang pandai di sekolah. Sejak kelas satu, dia selalu mendapat peringkat 1 dan 2," ujar Suparmin yang juga menyampaikan apresiasi kepada para guru di sekolah itu.

Di sisi lain, Suparmin juga merasa bangga karena sekolah yang dipimpinnya mendapatkan peringkat nomor tiga se-Kebumen setelah SMPN1 Kebumen dan SMPN2 Gombong. Prestasi tersebut melebihi SMP yang berstatus Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI).

" Dari 279 siswa yang mengikuti UN hanya satu siswa yang harus mengulang," tandasnya.

Selamat Ya?

Wednesday, May 5, 2010

Hachiko

AKU menangis hari ini. Tidak sampai mengeluarkan suara memang. Hanya air mataku tiba-tiba melimpah membasahi kelopak yang kering. Kurasai tangisan itu, menikmati sensasinya yang luar biasa. Bagiku, menangis adalah sesuatu yang sakral dan istimewa. Terutama setelah aku beranjak dewasa.

Tangisanku bukan sakit hati karena dihianati. Atau khusyu' berdoa bersama saat pengajian. Bukan pula ditinggal pacar atau dipecat dari perusahaan. Aku menangis hanya karena seekor anjing dalam film "Hachiko: A Dog’s Story". Bukan karena aku terpukau oleh akting Richard Gere, melainkan hanya men
angisi kisah kesetiaan anjing yang melebihi batas kelaziman.

Sungguh, aku tak peduli wibawaku anjlok karena menangis di bioskop. Aku juga tak mengerti, padahal saat menonton "Ratapan Anak Tiri" pada masa kecilku tak sedikit pun air mata keluar. Saat adegan kakak beradik Netty dan Susi dipaksa mengepel, mencuci piring dan makan nasi basi oleh ibu tirinya yang kejam aku masih bisa tersenyum. Meski tangisan pilu dua anak tiri itu membuat aku terharu, tapi untuk menangis aku merasa malu. Apalagi sewaktu kecil aku sudah diharamkan menangis. Anak laki-laki pantang menitikkan air mata. Bagitu orang-orang dewasa menasehatiku. Kala itu aku meringis kesakitan, jatuh dari pohon jambu rumah kakekku. Boros air mata adalah aib bagi anak l
aki-laki. Sehingga saat terpaksa menangis, aku harus mencari tempat bersembunyi. (lebay.com)

Kalau pernah menonton film soal anjing seperti "Lassie" (2005) atau "Marley and Me" (2009) dan Anda sudah mewek, saya sarankan membawa tissue saat akan menonton "Hachiko: A Dog’s Story". Yeah, barangkali sedikit membantu mengusap air mata atau malah mengelap ingus yang meler... (:Saat menonton "Marley and Me" hampir saja air mataku tumpah pada adegan Marley sakit-sakitan dan ingin tidur luar rumah. Termasuk adegan Marley disuntik mati dan dikuburkan pun tak membuatku menangis. Meski begitu, film yang dibintangi Jennifer Aniston itu menjadi film fa
voritku. Sampai-sampi file MPEG-nya aku copy ke hard disk... he he he)

"Hachiko: A Dog’s Story" terinspirasi dari kisah nyata seekor anjing bernama Hachiko yang hidup di Jepang, tahun 1923-1935. Di d
epan Stasiun Shibuya bahkan didirikan sebuah monumen patung anjing secara khusus untuk mengenang kesetiaan Hachiko pada majikannya. Kisah lengkapnya lihat di sini, http://id.wikipedia.org/wiki/Hachiko. Kisah Hachiko, sebelumnya pernah dibuat film versi Jepang berjudul "Hachiko Monogatari" yang produksi tahun 1987. Telah banyak pula yang mengulas film Hachiko versi Amerika. Antara lain, baca di sini, http://bicarafilm.com/baca/2010/02/13/hachiko-kesetiaan-pengabdian-dan-cinta.html. Simak juga ulasannya di sini, http://oase.kompas.com/read/2010/03/23/03195823/Hachiko..Kisah.Anjing.Setia.Sampai.Mati, atau http://www.kapanlagi.com/a/hachiko-a-dogs-story.html.

Menonton film ini seolah sang sutradra, Lasse Hallstrom membagi kisah itu menjadi tiga bagian. Sepertiga pertama, penonton diajak merasai bagaimana lucunya si kecil Hachiko. Sepertiga kedua senangnya melihat Hachiko sudah besar. Sepertiga terakhir, memperlihatkan bagaimana kesetiaan, pengabdi
an dan rasa sayang Hachiko kepada tuannya. Adegan yang sederhana, namun justru membuat haru.

Cerita dalam film ini dibuka dengan adegan di sebuah ruang kelas Sekolah Dasar. Ronnie seorang siswa bercerita kepada temen-temannya tentang Hachiko, anjing kakeknya yang dianggap sebagai pahlawan. Dari cerita Ronnie itulah keseluruhan kisah hidup Hachiko dibingkai.


Anjing kecil berjenis Akita Inu tanpa nama diperlihatkan berasal dari Jepang. Oleh seorang biksu, anjing kecil itu dikirimkan ke Amerika. Namun sesampai di Bedridge Station, sebuah stasiun kereta api, anjing kecil itu terlepas. Malam itu, Profesor Parker Wilson, diperankan Richard Gere, pulang dari tempat kerjanya mendapati anjing kecil itu tersesat tanpa tuan di stasiun. Karena tidak ada yang mau mengurus, Prof Parker memutuskan membawa anjing itu ke rumahnya sambil menunggu pemilik aslinya menghubungi. Sayang istrinya, Cate, dimainkan Joan Allen, tidak menyukai rumahnya ada binatang peliharaan. Berbagai cara Parker mengembalikan anjing itu kepada pemiliknya, termasuk menyebar pamflet. Namun seiring waktu dan melihat hubungan Hachi dan suaminya yang begitu akrab, akhirnya Cate menerima anjing itu berada di rumah mereka.


Seiring dengan berjalannya waktu, Hachi tumbuh besar. Suatu pagi Prof Parker akan berangkat mengajar ke kampus naik kereta api. Hachiko tiba-tiba lari mengejar tuannya. Anjing itu ternyata berniat mengantar Prof Parker ke stasiun. Kebiasaan itu terus berlanjut. Setiap p
agi Hachi mengantar dan ketika sore hari Hachi sudah duduk manis di depan pintu masuk stasiun, menyambut kedatangan sang tuan.

Hingga suatu hari, ketika Prof Parker hendak berangkat bekerja, gelagat aneh ditunjukkan oleh Hachiko. Ajing itu seolah tak memperbolehkan Prof Parker meninggalkan rumahnya. Meskipun akhirnya ia berhasil dibujuk dan bersedia mengantarnya ke stasiun. Seperti biasanya, sesampai di stasiun, Hachi disuruh pulang. Namun sebelum pulang kedua sahabat itu bermain-main terlebih dahulu di halaman stasiun. Inilah pertemuan terakhir Hachiko dengan Prof Parker. Sebab setelah itu, Parker meninggal saat memberikan mata kuliah di depan mahasiswanya.

Hachiko mungkin tidak mengenal arti kematian. Sehingga setiap sore, ia kembali ke stasiun menunggu kedatangan Prof Parker. Hingga malam hari yang ditunggu tak kunjung datang, namun ia masih tak beranjak.
Mulai hari itu, Hachi menghabiskan hari-harinya di depan stasiun. Setiap pukul lima sore Hachi ia selalu duduk dan menunggu Prof Parker kembali. Anjing itu tak pernah mengerti bahwa tuannya tak akan pernah kembali. Hachi pun tak lagi tinggal di keluarga Prof Parker setelah mereka menjual rumah lama dan pindah rumah. Hachiko memilih tidur di bawah lokomotif tua di stasiun.

Musim salju, semi, panas dan musim gugur terus berganti namun Hachiko setia menanti. Saking terbiasanya berada depan stasiun, para penumpang banyak yang menyapanya. Bahkan ia mendapat makanan dan m
inuman dari para penjual makanan, serta orang-orang yang berempati padanya. Kisah Hachiko itu kemudian tersebar setelah seorang jurnalis mengangkat kisah itu dan memuatnya di surat kabar.

Sembilan tahun menunggu, Hachiko semakin tua. Tubuhnya kotor tak terawat. Anjing itu juga tak lincah lagi. Sampai suatu waktu ketika hujan salju, anjing itu mati dan ia masih menanti.
Boleh jadi di dunia nyata, adakalanya anjing tak setia pada majikannya. Namun manusia lebih banyak tak setia pada anjingnya. Manusia boleh bersedih saat anjing kesayangan mati. Tapi bukan karena anjing itu mati, melainkan karena merasa tak punya anjing lagi. Tangisan boleh menderu-deru, tapi belum kering tanah kuburan anjing kesayangannya itu, sang tuan telah mendapat anjing baru sebagai penggantinya. Begitulah manusia, sulit bersetia termasuk masalah cinta.

Selama ini, anjing banyak memiliki konotasi negatif di dalam kehidupan sehari-hari. Anjing sering diidentikkan seperti karakter penjilat, oportunis, najis mughalazah, dan hanya setia pada yang memberi makan. Yang pasti, kisah Ashabul Kahfi adalah kisah otentik tentang kesetiaan seekor anjing yang disebutkan dalam Al Quran. Tidak hanya sembilan tahun seperti Hachiko menunggu majikannya di depan stasiun. Namun 309 tahun setia menunggu tuannya yang tertidur panjang di dalam gua. Dalam artian positif, manusia tampaknya perlu belajar pada seekor anjing soal kesetiaan.

(seluruh gambar diambil dari www.google.com)

Friday, April 16, 2010

warta nggondol nyawa

PARA jurnalis di Kota Yogyakarta sungguh luar biasa. Pokoknya layak diapresiasi. Di tengah kesibukan mereka membuat berita, ternyata masih menyempatkan diri untuk berkesenian. Itu terbukti dengan sukses digelarnya pentas ketoprak Warta Nggondhol Nyawa di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu 03 April 2010 malam.

Pemeran dalam pentas ketoprak dalam memeringati Hari Pers Nasional (HPN) itu sebagian besar adalah para wartawan media massa baik cetak maupun elektronik yang bertugas di Yogyakarta. Pementasan itu juga didukung oleh seniman profesional seperti Kelik Pelipur Lara, Marwoto dan Susilo "Den Baguse Ngarso" Nugroho yang merupakan penulis naskahnya.

Selain para seniman profesional sejumlah tokoh juga ikut tampil seperti Hamzah HS (pengusaha), Ari Sujito (Dosen Fisipol UGM), Nuryudi (Kepala RRI Yogya), dan Triwiyono Somaharjo (Kepala TVRI Jogja). Pentas ketoprak wartawan tahun ini merupakan kali kedua. Di tempat yang sama, setahun lalu, saya juga menyaksikan pementasan ketoprak dengan lakon Kabar Mawa Wisa. Saat itu hadir sebagai bintang tamu Rieke "Oneng" Diah Pitaloka.

Lakon Warta Nggondhol Nyawa disutradarai Nano Asmorodono. Lakon ini
berkisah tentang terbunuhnya seorang juru warta di Kadipaten Nusa Rukmi bernama Jaka Palastra. Pembunuhan itu dilakukan atas persekongkolan Demang Durdanta, Lurah Jaya Raga dan Raden
Ayu Wentis Manis. Jaka Palastra dilenyapkan karena tidak mau bekerjasama bahkan menolak amplop yang ditawarkan. Para koruptor dan makelar kasus itu bersekongkol untuk melengserkan Tumenggung Darmasila sosok penegak hukum yang jujur.

Atas politik yang licik, akhirnya, Tumenggung Darmasila dilengserkan. Demang Durdanta menggantikan posisi itu. Kemudian jabatan demang diduduki Jaya Raga yang naik pangkat. Untuk menghilangkan jejak pembunuhan, komplotan ini mengajukan seorang petugas ronda yang menemukan jasad Jaka Palastra yakni Titir dan Gobyok sebagai pelakunya. Mereka berdua dibayar untuk mengaku, merekalah membunuh Jaka Palastra. (Khusus adegan ini mengingatkan saya pada novel Projo dan Brojo karya Arswendo Atmowiloto).

Sementara itu, kabar kematian Jaka Palastra mengusik ketenangan teman seprofesinya. Dimotori juru warta Pracanda dan juru foto Wedhar Sungging, para juru warta bersat
u mengungkap siapa dalang pembunuh Jaka Palastra. Dalam pencarian itulah, mereka tidak hanya menemukan siapa pelaku pembunuhan melainkan juga mengungkap rekayasa pelengseran Tumenggung Darmasila. Sayangnya, sebelum data itu diungkap di media massa, wartawan Pracanda juga ditemukan tewas. Kematian wartawan ini kembali menghiasi halaman media cetak.

Pentas yang dimulai pukul 20.00-22.00 WIB. Lumayan menghibur. Namun bagi penonton yang tidak sempat membaca sinopsisnya sebelum menonton tentu sulit mengetahu detail ceritanya.
Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, Tarman Azzam yang menyak
sikan pentas itu mengaku salut kepada para wartawan di Yogyakarata. Menurut dia, hal itu mesti ditiru oleh wartawan daerah lain di Indonesia.***

Friday, February 12, 2010

Kuli Tinta Bersatu, Selamatkan Sungai dan Mata Air

PERSOALAN yang semakin menjadi ancaman serius bagi warga di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah adalah terjadinya krisis air setiap musim kamarau dan ancaman banjir serta lonsor di musim penghujan. Begitu setiap tahun, datang dan pergi silih berganti sampai oleh masyarakat hal itu dianggap sebagai hal yang biasa.

Dinas Kesatuan
Kebangsaan Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kebumen mencatat, sepanjang 2009 di kabupaten yang terdiri dari 26 kecamatan dan 460 desa itu terjadi 24 bencana tanah longsor. Tanah longsor itu terjadi di 17 kecamatan dan mengakibatkan 123 keluarga menjadi korban. Meskipun tidak sampai menelan korban jiwa, namun kerugian material diperkirakan lebih dari Rp 617 juta.

Sebaliknya, ketika dua bulan tak lagi turu
n hujan bisa dipastikan, banyak aduan masyarakat meminta bantuan air bersih kepada pemerintah kabupaten. Tidak berlebihan, di kabupaten itu terdapat 82 desa yang tersebar di 13 kecamatan di wilayah perbukitan setiap tahunnya mengalami krisis air.
Krisis air terjadi, karena mata air yang menjadi tumpuan warga banyak sudah mengering. Kalau pun masih mengalir, kapasitasnya tidak cukup untuk memenuhi ke
butuhan warga sekitar.Datanglah ke wilayah pegunungan di Kebumen saat bulan Agustus atau September. Anda akan menyaksikan antrean warga di mata air sejak pukul 01.00 dini hari.

Sebagai jurnalis yang bertugas di kabupaten itu, tentu saya dan teman-teman wartawan lain hafal dengan kebiasaan itu. Sudah diketahui umum, pokok persoalan dari semua itu adalah rusaknya hutan, akibat penebangan liar yang sampai saat ini masih selesai direhabilitasi.

Sungguh menyedihkan, jika m
elihat kenyataan masih tingginya lahan kritis di kabupaten itu yang mencapai 5.253, 38 hektare di kawasan budidaya dan 3.480,62 hektare di hutan negara. Sedangkan lahan yang kondisinya sudah sangat kritis di lahan milik warga mencapai 1.507, 17 hektare dan di kawasan hutan negara mencapai 115,42 hektare. Namun lokasi lahan berada di spot-spot tertentu dengan luasan sekitar lima hektare setiap titiknya.

Kuli Tinta Menanam Pohon
Atas dasar itulah, para kuli tinta yang tergabung
dalam organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kebumen tergerak untuk berbuat sesuatu. Sebenarnya kepedulian insan pers terhadap konservasi wilayah daerah aliran sungai dan mata air sudah dilakukan dengan kritik melalui tulisan. Namun sayang, terbatasnya kemampuan pemerintah daerah menjadi dalih tidak diresponnya kritik itu.

Tak sabar menunggu, wartawan pun menggelar aksi pengghijauan. Bersamaan peringatan Hari Per
s Nasional (HPN) pada 9 Februari 2010 lalu, kami melakukan menanami kawasan Sungai Lukulo di Desa Kutosari dan Desa Pejagoan dengan berbagai bibit pohon seperti matoa, kenari, jabon, dan bibit aren.

Bersyukur, aksi itu juga
mendapat dukungan dari Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Kebumen, sebuah lembaga non pemerintah yang peduli tentang kelestarian kawasan sungai dan Dinas Informasi Komunikasi dan Telematika (Inforkomtel). Yang membanggakan, seluruh jurnalis media cetak maupun elektronik ikut ambil bagian menanam berbagai jenis bibit pohon tersebut.

Aksi tersebut sek
aligus untuk menyindir pemerintah dan masyarakat bahwa orang yang tidak memiliki kepentingan secara langsung saja peduli. Terus terang, para jurnalis merasa bosan menulis isu lingkungan karena seolah masyarakat sudah kebal terhadap berita banjir, longsor, kekeringan. Harapannya, aksi yang dilakukan oleh para kuli tinta itu membuat masyarakat masih memiliki tradisi membuang sampah di pinggir sungai itu tersadar akan pentingnya melestarikan alam.

Mengapa dipilih Sung
ai Lukulo? Menurut Ketua PWI Kebumen Bagus Sukmawan, kawasan itu dipilih karena kondisi kerusakan ekosistem daerah aliran sungai itu sudah semakin parah. Kondisi tersebut membuat tebing sungai sering terjadi erosi hingga mengancam rumah warga yang ada di atasnya.
"Bahkan ada sekitar lima keluarga yang sudah minta direlokasi," kata jurnalis yang akrab disapa Iwang itu.

Ya, sesungguhnya secara kelemb
agaan para jurnalis di Kebumen sangat peduli tentang kelestarian lingkungan. Sebelumnya, pada 29 Januari 2010 para jurnalis juga ikut terlibat dalam aksi penanaman bibit pohon di kawasan sumber mata air yang bekerjasama dengan Forum DAS Kebumen dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Hal itu didorong atas prihatin para wartawan mulai turunnya debit di mata air yang dipakai PDAM.

"Tentu tanpa ada upaya dari lintas sektor, generasi mendatang tidak akan kebagian air bersih," ujarnya.

Mustahil Andalkan Pemerintah
Akibat lahan kritis di kawasan hutan terutama di bagian hulu, fungsi menyimpan air menjadi berkurang. Ketua Forum DAS Kebumen M Suhangi, menunjukkan saat
hujan turun, air langsung mengalir ke sungai dan beberapa saat hilang tak berbekas. Fenomena tersebut menjadi bukti nyata , hutan sudah kehilangan fungsinya menahan air yang digunakan untuk kebutuhan selama setahun ke depan.

"Dahulu ketika hujan turun selama beberapa hari sungai belum terlihat banjir. Namun sekarang ini, sekali hujan turun sungai sudah banjir dengan air kecokelatan warna tanah," imbuh Sujangi.

Menurut dia, meski Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor kayu rakyat di Kebumen cukup tinggi, namun masyarakat tidak bisa berharap banyak dari pemerintah daerah. Pada tahun 2009 dari sektor itu menyumbang Rp 424 juta. Sedangkan PAD dari Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dapat direalisasikan sebesar
Rp 320 juta. Sayangnya, dari dana tersebut hanya sedikit saja yang kembali untuk keperluan rehabilitasi lahan dan hutan.

Minimnya, anggaran diakui oleh Kepala Bidang Kehutanan Dinas Pertanian dan Kehutanan, Ir Sutarno. Dia menyebutkan, tahun anggaran 2010, plafon anggaran untuk rehabilitasi lahan dan hutan hanya Rp 45 juta. Tentu dengan dana bahkan dia sendiri merasa psimistis rehabilitasi lahan kritis di Kebumen bisa maksimal. Mengingat tahun 2010 tidak ada dana dari pemerintah pusat.
Jika sudah begitu kondisinya, slogan One Man One Tree (OMOT), perlu diubah menjadi One Man One Thousand Tree (OMOTT).
Mari, para kuli tinta Indonesia bersatulah. Selamatkan sungai dan mata air dari kerusakan !!!

Wednesday, February 10, 2010

Liburan ke Bromo, Yuk

BARANGKALI saya merupakan orang yang kesekian juta yang telah terpesona oleh keindahan panorama Gunung Bromo. Setidaknya sampai saya menulis note ini, pemandangan di gunung yang berada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru itu benar-benar menakjubkan. Tidak salah jika gunung dengan ketinggian 1.000-3.676 meter dpl itu menjadi FN (Fotografer.Net) Most Wanted 2009 untuk kategori lokasi hunting, mengalahkan nomine lain yakni Kota Tua dan Pulau Belitung.

Boleh dibilang saya menyesal saat mengunjungi Gunung
Bromo akhir Januari 2010 lalu. Mengapa tidak sedari dulu menyempatkan diri meninggalkan rutinitas dengan bertadabur dan mengumi keajaiban alam ciptaan Tuhan. Toh, ternyata untuk mencapai itu lokasi itu tak sesulit yang saya bayangkan. Tidak harus seperti mendaki Puncak Garuda, Gunung Merapi sebelum hilang terkena erupsi 2006. Atau mendaki Merbabu, Lawu atau Semeru yang harus bertaruh nyawa untuk mencapai puncaknya. Untuk sampai di gerbang utama menuju laut pasir di lokasi yang disebut Cemoro Lawang, pengunjung tidak harus berjalan kaki karena sudah tersedia persewaan jeep yang dikelola penduduk setempat.

Untuk mencapai Cemoro Lawang paling enak melalui rute Probolinggo-Sukapura-Ngadisari. Namun juga bisa melalui Tongas/Ketapang-Sukapura-Ngadisari. Kendaraan pribadi maupun angkutan umum hanya bisa sampai
Desa Ngadisari. Adapun jarak antara Probolinggo hingga sampai Ngadisari sekitar 42 kilometer. Kemudian dari Desa Ngadisari ke Cemoro Lawang yang berjarak lebih kurang 3 kilometer bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau naik jeep.

Sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh wisatawan maupun pemburu foto ketika datang di Bromo adalah ingin menyaksikan keindahan sunrise dari Bukit Penanjakan. Misalnya, dari bukit tersebut dapat disaksikan deretan pegunungan yang menawan. Di bagian utara pegunungan Tengger terdapat kaldera Tengger berupa laut pasir Gunung Bromo, Gunung Batok, Gunung Kursi, Gunung Watangan, dan Gunung Widodaren. Tampak terlihat Gunung Semeru yang mengeluarkan asap sulfatara, kokoh menjulang seperti menembus atap langit. Benar-benar mengangumkan.

Namun untuk bisa menyaksikan itu semua, diperlukan sedikit perjuangan. Apabila tidak ingin ketinggalan menyaksikan sunrise, sebaiknya datanglah lebih awal sampai di Ngadisari. Terutama bagi Anda yang memakai kendaraan umum, mengingat angkutan rute Probolinggo-Ngadisari tidak beroperasi selama 24 jam. Disarankan pukul 18.00 WIB Anda sudah sampai di Ngadisari. Tidak hanya itu bagi yang menggunakan kendaraan pribadi juga tidak ada salahnya juga datang saat masih terang. Kalau pun terpaksa datang pada malam hari, jalan pegunungan yang berkelok dari Sikapura menuju Ngadisari diperlukan kehati-hatian bagi pengemudi.

Sesampai di Ngadisari, Anda
bisa memesan penginapan sesuai dengan anggaran yang tersedia. Di Ngadisari banyak berdiri hotel dan penginapan dengan harga yang berfariatif. Atau jika ingin lebih menyatu dengan warga Anda bisa memilih home stay, tinggal bersama penduduk seperti yang lebih disukai turis mancanegara. Jangan lupa, untuk memesan tiket jeep lebih dulu. Hal itu untuk mengantisipasi banyaknya pengujung yang akan naik ke Bukit Penanjakan terutama apabila Anda berkunjung saat akhir pekan.

Ada dua paket yang ditaw
arkan pengelola jeep, yakni paket pertama hanya sampai Cemoro Lawang-Gunung Bromo dengan harga sekitar Rp 150 ribu/jeep. Sedangkan paket kedua sampai ke Bukit Penanjakan harga sewa Rp 350 ribu/jeep. Setiap jeep bisa ditumpangi sekitar lima orang. Harga itu sudah termasuk layanan pergi pulang sampai penginapan. Begitulah, sekitar pukul 03.00 WIB dinihari, jika telah memesan tiket, Anda akan dibangunkan untuk persiapan menikmati sunrise dari Bukit Penanjakan.

Selain kamera dan peralatan lain, penting dipersiapakan adalah jaket yang tebal dan penutup kepala untuk menghangatkan tubuh. Mengingat suhu di kawasan gunung tersebut berkisar antara 7-18 derajat celcius. Sebelum berangkat ke Penanjakan, tidak ada salahnya mengisi perut maupun sekadar menghangatkan tubuh dengan minum kopi atau minuman hangat lainnya. Namun hati-hati saat minum minuman panas karena meski tak terasa panas saat diminum, efek di mulut baru terasa jika Anda sudah turun dari gunung dan berada di suhu normal.

"Suhu udara yang sangat dingin, membuat minuman yang panas tidak terasa di mulut saat diminum," kata H Ikhsan Mahmudi, teman jurnalis Surabaya Post yang juga Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Probolinggo.

Sesampainya, di Bukit Penanjakan sekitar pukul 04.00-04.30 caril
ah tempat yang pas memotret. Pasang tripod dan kamera, yang dibutuhkan untuk mengangabadikan gambar. Selain memandang dengan lensa kamera, sesekali menikmati dari ketinggian itu, suguhan keindahan yang menyatu disirami matahari yang baru mengeluarkan sinar merah jingga. Jika hati bergetar saat tangan menekan shutter pada kamera berarti berarti Anda masih normal. Subhanallah/Puji Tuhan.

Usai menikmati sunrise di Bukit Penanjakan perjalanan biasanya dilanjutkan ke kawah Gunung Bromo. Mobil jeep yang menunggu masih setia dan mengantarkan menuruni bukit dengan lincahnya, menerjang lautan pasir yang menakjubkan. Di padang pasir itu, tampak masyarakat Suku Tengger tampak gagah dengan kudanya. Kuda-kuda itu juga disewakan untuk mengantar pengunjung hingga di bawah tangga ke kawah Bromo yang berjarak sekitar 300 meter dari parkiran jeep. Dengan menyewa Rp 100 ribu, Anda akan puas menunggang kuda pergi dan pulang. Bisa juga naik kuda saat pergi menuju kawah, dan saat kembali berjalan kaki atau sebaliknya menjadi pilihan alternatif. Biasanya harga dipotong 50 persennya.

Sekadar informasi, masih di kawasan Tengger tidak
jauh dari Gunung Bromo terdapat objek wisata yang menawan yakni air terjun Madakaripura. Air terjun yang berada di Desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Probolinggo itu berupa deretan air terjun yang sentralnya mencapai ketinggian 200 meter dari dasar jeram. Masih di Probolinggo terdapat objek wisata minat khusus yakni arung jeram Sungai Pakelan. Lokasi sungai ini berjarak 26 kilometer dari Kota Probolinggo. Jarak arung jeram sejauh 9 kilometer dengan kesulitan bervariasi mulai grade I sampai dengan grade III plus sebanyak 30 jeram.

Selain dua objek itu sebenarnya masih ada sejumlah objek. Jika Anda memiliki waktu luang bisa memilih mampir di Pantai Bentar Indah, Pulau Gili Ketapang, Candi Jabung, Candi Kedaton, Danau Ronggojalu, Ranu Segaran, Puncak Argopuro, dan perkebunan teh Andung Biru.

Ag
ar waktu lebih efektif perlu juga membawa peta maupun menggunakan bantuan Google Maps/Google Latitude yang bisa diakses melalui ponsel yang dilengkapi fasilitas Global Positioning System (GPS). Dengan bantuan teknologi itu, Anda maupun orang lain yang terkoneksi bisa memantau di mana posisi saat itu.

Terakhir, ke mana pun tujuan Anda, persiapkan semuanya dengan matang sebelum berangkat berwisata. Sebab, tanpa perencanaan dan persiapan yang matang, terkadang kegiatan
rekreasi justru menimbulkan depresi bagi yang melakukannya. Semoga semua itu tidak menimpa pada diri Anda. Sedang liburan Anda menyenangkan dan pulang membawa kenangan yang indah.

Selamat Berlibur.......




Thursday, January 28, 2010

Siapa Peduli Khoriah?

COBAAN berat menguji kesabaran Samirah (35) sebagai seorang ibu. Bagaimana tidak, putri pertamanya Khoriah Nur Mayasari (4) tidak tumbuh secara normal karena penyakit hydrocepallus yang dideritanya.

Ya, kendati anak seusianya telah masuk playgroup, Khoriah belum memampu berbicara pun berjalan. Nyaris, 24 jam ia sepenuhnya bergantung kepada orang tuanya. Buah hati pasangan Samirah dan Danuraharjo warga RT 01 RW 03 Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kebumen itu hanya bisa memandang dengan tatapan memilukan.

"Namun sebagai ibu, saya mengerti bahasa tubuhnya. Misalnya, saat lapar dia akan mengecap-ngecapkan mulut," kata Samirah di rumahnya, baru-baru ini.

Tidak hanya itu, akibat penyakit yang dideritanya, berat tubuh Khoriah hanya mencapai 5,5 kilogram. Ukuran kepala yang tidak proposional dengan tubuhnya membuat kodisi bocah itu semakin memprihatinkan. Kepalanya membesar kontras dengan tubuh yang kurus tinggal tulang.
Tidak cukup itu derita yang menimpa Khoriah. Ternyata, sistem pencernaannya juga tak berfungsi secara baik. Selama ini dia hanya mengkonsumsi bubur, dan harus dibantu obat saat hendak buang air besar yang harganya mencapai Rp 60.000 untuk sebulan.

Berbagai upaya dilakukan orang tuanya. Khoriyah pernah dioperasi dua kali untuk mengeluarkan cairan di kepalanya. Khoriah pernah dirawat RS PKU Muhammadiyah Gombong, di RSUD Kebumen dan dirujuk RS Margono Sukarjo, Purwokerto untuk operasi yang kedua.

Benar, kedua operasi digratiskan, karena dia pemengang kartu jamkesmas. Namun untuk biaya operasional keluarga kesulitan. Apalagi selepas operasi, Samirah masih harus mengontrol kesehatan anaknya ke dokter di RS Margono dengan sekali kontrol biayanya mencapai Rp 250.000.
Itulah yang memberatkan. Suaminya yang seorang buruh bangunan dan dia senditi hanya ibu rumah tangga tak cukup uang untuk membiayai pengobatan. Jangankan berobat, untuk membeli susu saja, keluarga itu sudah kesulitan. Akhirnya, hampir setahun Khoriah tidak lagi memperoleh penanganan dokter.

"Kata dokter, anak saya harus kontrol sebulan sekali sumur hidup. Tapi bagaimana lagi, kami sudah tidak sanggup lagi,” ujarnya dengan mata sembab.

Samirah mengakui, untuk memenuhi kebutuhan susu anaknya, setiap bulah dia mengeluarkan Rp 300.000. Selama 2009, anaknya memperoleh santunan Rp 300.000/bulan dari yayasan penyandang cacat. Namun tahun 2010 ini, dia belum tahu apakah anaknya masih mendapat bantuan itu atau tidak. Pasalnya, santunan itu belum juga datang.

"Biasanya kalau ada bantuan, pak Pos memberi tahu pada awal atau paling lambat pertengahan bulan. Tapi sampai saat ini belum ada pemberitahuan,” katanya.

Samirah mengakui, untuk memenuhi kebutuhan susu anaknya, setiap bulah dia mengeluarkan Rp 300.000. Selama 2009, anaknya memperoleh santunan dari yayasan penyandang cacat Rp 300.000/bulan. Namun 2010 ini, dia belum tahu apakah masih mendapat atau tidak.

"Biasanya kalau ada bantuan, pak Pos memberi tahu pada awal atau paling lambat pertengahan bulan,” katanya menyebutkan sampai saat ini belum ada pemberitahuan.

Saat ini balita malang itu hanya memperoleh perawatan oleh bidan desa setempat. Khoriah masih menunggu bantuan pihak yang mau peduli. ***

Thursday, January 7, 2010

Akhirnya Saya Dipanggil Polisi (2-habis)

"Biasanya di depan pak pulisi, saya banyak bertanya. Namun hari ini saya justru hanya disuruh menjawab." Begitu bunyi dua kalimat yang saya tulis di status Facebook, sesaat setelah duduk di hadapan penyidik Polres Kebumen, Kamis (7/1/2010).

Meski dalam surat panggilan, saya akan diperiksa di ruang Satuan Reskrim, namun ternyata pemeriksaan dilakukan di ruang Tidak Pidana Korupsi (Tipikor). Pemeriksaan dimulai sekitar pukul 09.30 atau terlambat 30 menit dari dari jadwal. Ada 14 pertanyaan yang harus saya jawab, meskipun ada beberapa yang sudah terisi meski aku belum menjawabnya. Semisal pertanyaan apakah saya dalam kondisi sehat jiwa dan memberi jawaban tanpa tekanan.

Saya nggak protes, bahkan bangga karena dinilai sehat ruhani dan tidak tampak seperti orang yang tekanan. Maklum akibat berbagai tekanan seperti ekonomi, ditinggal kabur pasangan atau tak kuat atas tekanan istri yang maniak mengintimidasi melatar belakangi kasus bunuh diri di Kebumen. Empat belas pertanyaan itu dilontarkan penyidik yang terdiri dari Aiptu Sugiyono, Aiptu Sujatno dan pembantu penyidik Bripka Mardi SH hingga pukul 10.50 WIB.

Pengenalan diri mengawali kesaksian saya, karena pertanyaan pertama adalah seputar biodata. Tak mungkin saya lupa siapa nama, berapa umur, di mana tinggal, kapan tanggal lahir dan apa pekerjaan serta siapa nama bapak saya. (Yeah Pak Sugiyono jadi tahu namanya sama dengan nama bapakku...he eh ehe). Sayang, tidak ada pertanyaan mengenai jenis kelamin. Penyidik tampaknya langsung berkesimpulan bahwa saya laki-laki karena mengenakan paduan kemeja dan celana jins serta sepatu gunung.

Mereka tidak sadar bahwa dalam surat panggilan, jenis kelamin saya tertulis perempuan. Mereka tak tahu, padahal akibatnya saya harus rela dipanggil "nona anto", atau juga yang sampai mengusulkan ganti kelamin. Mereka seperti tak berdosa telah mengganti jenis kelaminku, seperti ketika saat saya menurunkan paksa pangkat satu tingkat seorang perwira TNI, dalam tulisanku. (maaf komandan).

Secara umum, pertanyaan lainnya tidak sulit untuk menjawabnya karena pertanyaan normatif . Misalnya, saat ditanya apa tugas wartawan. Halah, gampang. "Membuat berita dan mengirimkan ke redaksi," jawabku secepat Lintang menghitung soal matematika dalam film Laskar Pelangi. Kemudian ditanya lagi apakah caption, saya menjawab singkat sekali. "Keterangan foto." Srategi itulah yang saya pakai untuk menjawab soal ujian mata kuliah Kewiraan, yang dosennya menganggap diktat buatannya melebihi kitap suci agama manapun.

Namun seingat saya, ada satu pertanyaan yang saya jawab namun sebenarnya tak memberi jawaban. Maklum, pertanyaan itu kurang pas untuk ditanyakan kepada saya. Saya diminta menyuruh menilai caption foto yang dibuat teman Chuby benar atau salah. Terus terang saya menjawab soal Benar-Salah (BS) itu pada waktu duduk di kelas 3 Sekolah Dasar (SD) Inpres desa kelahiranku, tahun 1990.

"Kalau disuruh menilai seperti itu bukan kapasitas saya, Ndan. Saya kan nggak punya kewenangan untuk itu karena bukan saksi ahli." Jawaban itu benar nggak sih? Soalnya caption itulah sepertinya salah satu yang dipersoalkan.

Dalam konteks yang berbeda, saya mencontohkan, caption yang tidak pas misalnya foto gambar wajah kapolres tetapi dalam keterangannya ditulis nama bupati. Kapolres bisa saja protes dan media bersangkutan wajib meralatnya. Setelah diralat urusan selesai sampai disitu.

"Seperti halnya jika ada yang salah ketik isian jenis kelamin laki-laki menjadi perempuan, apakah juga harus dilaporkan dengan pasal pencemaran nama baik?"

Setelah 14 pertanyaan selesai kujawab, saya baca kembali printout sebelum menandatangi berkas pemeriksaan. Setelah beberapa bagian direvisi karena menurut saya tidak sesuai dengan keterangan yang saya sampaikan, baru tanda tangan sakti saya bubuhkan. Maklum setelah tak lagi berkirim surat dengan bapakku, jarang sekali saya membubuhkan tandatangan, kecuali slip gaji setiap bulan. Bagi saya tandatangan kali ini momen istimewa, karena tidak menyangkut diri saya sendiri melainkan masa depan orang lain. (terasa lebay, ya)

Keluar dari pintu ruangan, saya teringat nasehat orangtua dahulu. Bahwa sebisa mungkin untuk menghindari dua hal yakni "lara" lan "perkara". Lara adalah semua yang berurusan dengan penyakit, dokter dan rumah sakit. Caranya, jaga kesehatan sebelum datang penyakit. Adapun "perkara" identik dengan kasus hukum. Tahu aturan dan mentatinya adalah jalan sederhana untuk terbebas darinya. (wallahu a'lam)

*foto http://www.antaraphoto.com


Monday, January 4, 2010

Akhirnya Saya Dipanggil Polisi (1)

PERKARA yang menimpa wartawan Radar Banyumas, Chuby Tamansari dalam kasus pencemarkan nama baik sebagaimana pasal 310 KUHP akhirnya membawa saya berurusan dengan aparat kepolisian. Senin, 04 Januari 2009 pukul 13.46 WIB, saya menerima surat panggilan pemeriksaan dari Polres Kebumen. Surat dalam amplop berkop Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Jawa Tengah Resor Kebumen itu disampaikan dua orang kepada saya di kantor PWI Kebumen, Jalan HM Sarbini No. 29.

Dalam surat panggilan yang tertulis PRO JUSTITIA, No. Pol.: SP/02/I/2010/Reskrim yang ditandatangani oleh Kasat Reskrim Polres Kebumen, AKP Priyo Handoko SH selaku penyidik, saya dipanggil untuk menghadap Aiptu Sugiono di ruang Sat Reskrim Kamis 07 Januari 2009 pada pukul 09.00 WIB. Pemanggilan saya, menurut surat itu, untuk didengar keterangan saya sebagai saksi dalam perkara tindak pidana pencemaran nama baik.

Perkara ini bermula saat Chuby menulis berita tentang isu pembongkaran pemakaman di Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan, Kebumen. Tulisan berjudul "Isu Mayat Hidup Gegerkan Warga Kedawung" itu dimuat menjadi headline hari Sabtu, 10 Otober 2009 edisi Radar Kebumen, dengan dilengkapi foto pendukung serta feature. Namun keluarga yang diberitakan tidak terima dan melaporkan wartawan penulis berita kepada aparat kepolisian, dalam hal ini Mapolsek Pejagoan. Laporan Polisi No. Pol. : LP/08/K/X/2009/Sek Pejagoan itulah yang menjadi salah satu dasar pemanggilan terhadap saya untuk menjadi saksi.

Sebelumnya, pihak kepolisian juga telah memanggil sejumlah wartawan Radar Banyumas, termasuk Chuby Tamansari. Selain itu wartawan Radar Banyumas yang bertugas di Kebumen lainnya juga turut dipanggil pihak kepolisian, yakni Fuad Hasyim dan Cahyo Kuncoro. Memang pemanggilan para wartawan di Kabupaten Kebumen oleh pihak kepolisian tidak seheboh saat Mabes Polri memanggil redaksi harian KOMPAS dan Seputar Indonesia beberapa waktu lalu.

Pemanggilan terhadap wartawan oleh kepolisian terkait sebuah pemberitaan itu disayangkan oleh Ketua PWI Jawa Tengah IV, Drs Komper Wardopo. Mengingat, sebetulnya masalah tersebut bisa diselesaikan dengan mekanisme hak jawab sesuai dengan Undang- undang Pers. Tentu sangat disayangkan apabila harus ada pemanggilan wartawan dengan delik aduan pencemaran nama baik menggunakan KUHP. Hal tersebut dikhawatirkan menjadi preseden buruk bagi tugas wartawan dalam mengakses berita dan menyampaikannya kepada publik.

"Kalau harus diakhiri dengan pelaporan dan pemanggilan wartawan itu juga sama saja memangkas kebebasan pers," ujar Komper Wardopo seperti dikutip sejumlah media.

Sepakat dengan itu. Apalagi pihak Radar Banyumas sesungguhnya menuliskan sebuah berita yang umum. Artinya sudah jelas-jelas publik mengetahui kejadian itu dengan bukti banyak warga yang menjadi saksi di lokasi kejadian. Selain itu Radar Banyumas juga telah melakukan mediasi dan menyarankan untuk menyelesaikan dengan penggunaan hak jawab.
***
Peristiwa itu bermula, saat sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya, Kamis tanggal 08 Oktober 2009 malam. Dalam memory ponsel tercatat pukul 19:21:35 sebuah pesan singkat dari seorang kenalan dengan nomor +628180471xxxx tertuliskan "Tiga kyai bermimpi sama, yg udah mati beberapa minggu masih hidup maka makam depan Pasar keputihan desa kedawung malam ini akan di bongkar."

Saat menerima sms itu, saya kebetulan berada di kantor sekretariat PWI Kebumen. Informasi tersebut kemudian saya sampaikan ke teman-teman yang pada saat itu juga berada di sana. Yakni Fuad Hasyim dan Chuby Tamansari, keduanya wartawan Radar Banyumas. Merasa penasaran, kami bertiga ke lokasi pemakaman yang disebutkan. Hal itu semata-mata naluri jurnalistik dan untuk membuktikan adanya isu tersebut. Saat kami tiba di lokasi, ternyata sudah banyak orang berkumpul di sana. Kedatangan mereka juga karena mendapat informasi akan adanya pembongkaran kuburan. Di lokasi itu kami menggali informasi awal serta mendengarkan cerita yang berkembang di masyarakat.

Adapun cerita yang saya dengar dari masyarakat kurang lebih sama dengan apa yang ditulis oleh Chuby dalam beritanya.

Setelah memperoleh data awal, sekitar pukul 22.00 WIB kami mendatangi Mapolsek Pejagoan untuk menanyakan apakah ada surat masuk atau ijin tentang pembongkaran jenazah. Menurut petugas yang tidak sempat saya catat namanya, dikatakan tidak ada surat ijin maupun pemberitahuan pembongkaran jenazah. Mengetahui kondisi itu, saya memutuskan pulang, mengingat pada jam selarut itu tidak memungkinkan berita itu bisa tayang pagi harinya.

Namun sebelumnya, untuk mengantisipasi keadaan, saya meninggalkan nomor ponsel kepada seorang warga seraya meminta untuk dikabari jika ada perkembangan. Saya pun pulang. Pada pukul 23:13:19 WIB sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya, dari nomor +628783793xxxx, yang berbunyi "Mas maaf cari info sendiri, aku ada perlu,di mkam msih banyak orang." Setelah membalas sms itu, saya beristirahat sampai pagi.

Keesokan harinya, tidak ada informasi lebih lanjut tentang isu tersebut. Apalagi saya disibukkan dengan agenda liputan lain sehingga tidak menindaklanjuti peristiwa tersebut. Di sisi lain, Chuby ternyata tertarik menindaklanjuti sendirian dengan melakukan reportase melengkapi materi tulisan. Hal itu saya ketahui setelah membaca berita tersebut di Radar Kebumen edisi Sabtu 10 Oktober 2009.

Menurut saya, peristiwa itu memang menarik untuk dijadikan sebuah laporan jurnalistik. Betapa sebuah isu begitu kuat hingga mampu menggerakkan masyarakat untuk berbondong-bondong ke pemakaman. Setelah membaca berita itu, saya juga melihat bahwa ada konfirmasi dari Kepala Desa Kedawung Nur Rohman dan Kapolsek Pejagoan AKP Tri Warso Nurwulan yang intinya menjelaskan bahwa isu yang berkembang tersebut adalah tidak benar. (wallahu a'lam)