About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Thursday, January 28, 2010

Siapa Peduli Khoriah?

COBAAN berat menguji kesabaran Samirah (35) sebagai seorang ibu. Bagaimana tidak, putri pertamanya Khoriah Nur Mayasari (4) tidak tumbuh secara normal karena penyakit hydrocepallus yang dideritanya.

Ya, kendati anak seusianya telah masuk playgroup, Khoriah belum memampu berbicara pun berjalan. Nyaris, 24 jam ia sepenuhnya bergantung kepada orang tuanya. Buah hati pasangan Samirah dan Danuraharjo warga RT 01 RW 03 Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kebumen itu hanya bisa memandang dengan tatapan memilukan.

"Namun sebagai ibu, saya mengerti bahasa tubuhnya. Misalnya, saat lapar dia akan mengecap-ngecapkan mulut," kata Samirah di rumahnya, baru-baru ini.

Tidak hanya itu, akibat penyakit yang dideritanya, berat tubuh Khoriah hanya mencapai 5,5 kilogram. Ukuran kepala yang tidak proposional dengan tubuhnya membuat kodisi bocah itu semakin memprihatinkan. Kepalanya membesar kontras dengan tubuh yang kurus tinggal tulang.
Tidak cukup itu derita yang menimpa Khoriah. Ternyata, sistem pencernaannya juga tak berfungsi secara baik. Selama ini dia hanya mengkonsumsi bubur, dan harus dibantu obat saat hendak buang air besar yang harganya mencapai Rp 60.000 untuk sebulan.

Berbagai upaya dilakukan orang tuanya. Khoriyah pernah dioperasi dua kali untuk mengeluarkan cairan di kepalanya. Khoriah pernah dirawat RS PKU Muhammadiyah Gombong, di RSUD Kebumen dan dirujuk RS Margono Sukarjo, Purwokerto untuk operasi yang kedua.

Benar, kedua operasi digratiskan, karena dia pemengang kartu jamkesmas. Namun untuk biaya operasional keluarga kesulitan. Apalagi selepas operasi, Samirah masih harus mengontrol kesehatan anaknya ke dokter di RS Margono dengan sekali kontrol biayanya mencapai Rp 250.000.
Itulah yang memberatkan. Suaminya yang seorang buruh bangunan dan dia senditi hanya ibu rumah tangga tak cukup uang untuk membiayai pengobatan. Jangankan berobat, untuk membeli susu saja, keluarga itu sudah kesulitan. Akhirnya, hampir setahun Khoriah tidak lagi memperoleh penanganan dokter.

"Kata dokter, anak saya harus kontrol sebulan sekali sumur hidup. Tapi bagaimana lagi, kami sudah tidak sanggup lagi,” ujarnya dengan mata sembab.

Samirah mengakui, untuk memenuhi kebutuhan susu anaknya, setiap bulah dia mengeluarkan Rp 300.000. Selama 2009, anaknya memperoleh santunan Rp 300.000/bulan dari yayasan penyandang cacat. Namun tahun 2010 ini, dia belum tahu apakah anaknya masih mendapat bantuan itu atau tidak. Pasalnya, santunan itu belum juga datang.

"Biasanya kalau ada bantuan, pak Pos memberi tahu pada awal atau paling lambat pertengahan bulan. Tapi sampai saat ini belum ada pemberitahuan,” katanya.

Samirah mengakui, untuk memenuhi kebutuhan susu anaknya, setiap bulah dia mengeluarkan Rp 300.000. Selama 2009, anaknya memperoleh santunan dari yayasan penyandang cacat Rp 300.000/bulan. Namun 2010 ini, dia belum tahu apakah masih mendapat atau tidak.

"Biasanya kalau ada bantuan, pak Pos memberi tahu pada awal atau paling lambat pertengahan bulan,” katanya menyebutkan sampai saat ini belum ada pemberitahuan.

Saat ini balita malang itu hanya memperoleh perawatan oleh bidan desa setempat. Khoriah masih menunggu bantuan pihak yang mau peduli. ***

Thursday, January 7, 2010

Akhirnya Saya Dipanggil Polisi (2-habis)

"Biasanya di depan pak pulisi, saya banyak bertanya. Namun hari ini saya justru hanya disuruh menjawab." Begitu bunyi dua kalimat yang saya tulis di status Facebook, sesaat setelah duduk di hadapan penyidik Polres Kebumen, Kamis (7/1/2010).

Meski dalam surat panggilan, saya akan diperiksa di ruang Satuan Reskrim, namun ternyata pemeriksaan dilakukan di ruang Tidak Pidana Korupsi (Tipikor). Pemeriksaan dimulai sekitar pukul 09.30 atau terlambat 30 menit dari dari jadwal. Ada 14 pertanyaan yang harus saya jawab, meskipun ada beberapa yang sudah terisi meski aku belum menjawabnya. Semisal pertanyaan apakah saya dalam kondisi sehat jiwa dan memberi jawaban tanpa tekanan.

Saya nggak protes, bahkan bangga karena dinilai sehat ruhani dan tidak tampak seperti orang yang tekanan. Maklum akibat berbagai tekanan seperti ekonomi, ditinggal kabur pasangan atau tak kuat atas tekanan istri yang maniak mengintimidasi melatar belakangi kasus bunuh diri di Kebumen. Empat belas pertanyaan itu dilontarkan penyidik yang terdiri dari Aiptu Sugiyono, Aiptu Sujatno dan pembantu penyidik Bripka Mardi SH hingga pukul 10.50 WIB.

Pengenalan diri mengawali kesaksian saya, karena pertanyaan pertama adalah seputar biodata. Tak mungkin saya lupa siapa nama, berapa umur, di mana tinggal, kapan tanggal lahir dan apa pekerjaan serta siapa nama bapak saya. (Yeah Pak Sugiyono jadi tahu namanya sama dengan nama bapakku...he eh ehe). Sayang, tidak ada pertanyaan mengenai jenis kelamin. Penyidik tampaknya langsung berkesimpulan bahwa saya laki-laki karena mengenakan paduan kemeja dan celana jins serta sepatu gunung.

Mereka tidak sadar bahwa dalam surat panggilan, jenis kelamin saya tertulis perempuan. Mereka tak tahu, padahal akibatnya saya harus rela dipanggil "nona anto", atau juga yang sampai mengusulkan ganti kelamin. Mereka seperti tak berdosa telah mengganti jenis kelaminku, seperti ketika saat saya menurunkan paksa pangkat satu tingkat seorang perwira TNI, dalam tulisanku. (maaf komandan).

Secara umum, pertanyaan lainnya tidak sulit untuk menjawabnya karena pertanyaan normatif . Misalnya, saat ditanya apa tugas wartawan. Halah, gampang. "Membuat berita dan mengirimkan ke redaksi," jawabku secepat Lintang menghitung soal matematika dalam film Laskar Pelangi. Kemudian ditanya lagi apakah caption, saya menjawab singkat sekali. "Keterangan foto." Srategi itulah yang saya pakai untuk menjawab soal ujian mata kuliah Kewiraan, yang dosennya menganggap diktat buatannya melebihi kitap suci agama manapun.

Namun seingat saya, ada satu pertanyaan yang saya jawab namun sebenarnya tak memberi jawaban. Maklum, pertanyaan itu kurang pas untuk ditanyakan kepada saya. Saya diminta menyuruh menilai caption foto yang dibuat teman Chuby benar atau salah. Terus terang saya menjawab soal Benar-Salah (BS) itu pada waktu duduk di kelas 3 Sekolah Dasar (SD) Inpres desa kelahiranku, tahun 1990.

"Kalau disuruh menilai seperti itu bukan kapasitas saya, Ndan. Saya kan nggak punya kewenangan untuk itu karena bukan saksi ahli." Jawaban itu benar nggak sih? Soalnya caption itulah sepertinya salah satu yang dipersoalkan.

Dalam konteks yang berbeda, saya mencontohkan, caption yang tidak pas misalnya foto gambar wajah kapolres tetapi dalam keterangannya ditulis nama bupati. Kapolres bisa saja protes dan media bersangkutan wajib meralatnya. Setelah diralat urusan selesai sampai disitu.

"Seperti halnya jika ada yang salah ketik isian jenis kelamin laki-laki menjadi perempuan, apakah juga harus dilaporkan dengan pasal pencemaran nama baik?"

Setelah 14 pertanyaan selesai kujawab, saya baca kembali printout sebelum menandatangi berkas pemeriksaan. Setelah beberapa bagian direvisi karena menurut saya tidak sesuai dengan keterangan yang saya sampaikan, baru tanda tangan sakti saya bubuhkan. Maklum setelah tak lagi berkirim surat dengan bapakku, jarang sekali saya membubuhkan tandatangan, kecuali slip gaji setiap bulan. Bagi saya tandatangan kali ini momen istimewa, karena tidak menyangkut diri saya sendiri melainkan masa depan orang lain. (terasa lebay, ya)

Keluar dari pintu ruangan, saya teringat nasehat orangtua dahulu. Bahwa sebisa mungkin untuk menghindari dua hal yakni "lara" lan "perkara". Lara adalah semua yang berurusan dengan penyakit, dokter dan rumah sakit. Caranya, jaga kesehatan sebelum datang penyakit. Adapun "perkara" identik dengan kasus hukum. Tahu aturan dan mentatinya adalah jalan sederhana untuk terbebas darinya. (wallahu a'lam)

*foto http://www.antaraphoto.com


Monday, January 4, 2010

Akhirnya Saya Dipanggil Polisi (1)

PERKARA yang menimpa wartawan Radar Banyumas, Chuby Tamansari dalam kasus pencemarkan nama baik sebagaimana pasal 310 KUHP akhirnya membawa saya berurusan dengan aparat kepolisian. Senin, 04 Januari 2009 pukul 13.46 WIB, saya menerima surat panggilan pemeriksaan dari Polres Kebumen. Surat dalam amplop berkop Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Jawa Tengah Resor Kebumen itu disampaikan dua orang kepada saya di kantor PWI Kebumen, Jalan HM Sarbini No. 29.

Dalam surat panggilan yang tertulis PRO JUSTITIA, No. Pol.: SP/02/I/2010/Reskrim yang ditandatangani oleh Kasat Reskrim Polres Kebumen, AKP Priyo Handoko SH selaku penyidik, saya dipanggil untuk menghadap Aiptu Sugiono di ruang Sat Reskrim Kamis 07 Januari 2009 pada pukul 09.00 WIB. Pemanggilan saya, menurut surat itu, untuk didengar keterangan saya sebagai saksi dalam perkara tindak pidana pencemaran nama baik.

Perkara ini bermula saat Chuby menulis berita tentang isu pembongkaran pemakaman di Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan, Kebumen. Tulisan berjudul "Isu Mayat Hidup Gegerkan Warga Kedawung" itu dimuat menjadi headline hari Sabtu, 10 Otober 2009 edisi Radar Kebumen, dengan dilengkapi foto pendukung serta feature. Namun keluarga yang diberitakan tidak terima dan melaporkan wartawan penulis berita kepada aparat kepolisian, dalam hal ini Mapolsek Pejagoan. Laporan Polisi No. Pol. : LP/08/K/X/2009/Sek Pejagoan itulah yang menjadi salah satu dasar pemanggilan terhadap saya untuk menjadi saksi.

Sebelumnya, pihak kepolisian juga telah memanggil sejumlah wartawan Radar Banyumas, termasuk Chuby Tamansari. Selain itu wartawan Radar Banyumas yang bertugas di Kebumen lainnya juga turut dipanggil pihak kepolisian, yakni Fuad Hasyim dan Cahyo Kuncoro. Memang pemanggilan para wartawan di Kabupaten Kebumen oleh pihak kepolisian tidak seheboh saat Mabes Polri memanggil redaksi harian KOMPAS dan Seputar Indonesia beberapa waktu lalu.

Pemanggilan terhadap wartawan oleh kepolisian terkait sebuah pemberitaan itu disayangkan oleh Ketua PWI Jawa Tengah IV, Drs Komper Wardopo. Mengingat, sebetulnya masalah tersebut bisa diselesaikan dengan mekanisme hak jawab sesuai dengan Undang- undang Pers. Tentu sangat disayangkan apabila harus ada pemanggilan wartawan dengan delik aduan pencemaran nama baik menggunakan KUHP. Hal tersebut dikhawatirkan menjadi preseden buruk bagi tugas wartawan dalam mengakses berita dan menyampaikannya kepada publik.

"Kalau harus diakhiri dengan pelaporan dan pemanggilan wartawan itu juga sama saja memangkas kebebasan pers," ujar Komper Wardopo seperti dikutip sejumlah media.

Sepakat dengan itu. Apalagi pihak Radar Banyumas sesungguhnya menuliskan sebuah berita yang umum. Artinya sudah jelas-jelas publik mengetahui kejadian itu dengan bukti banyak warga yang menjadi saksi di lokasi kejadian. Selain itu Radar Banyumas juga telah melakukan mediasi dan menyarankan untuk menyelesaikan dengan penggunaan hak jawab.
***
Peristiwa itu bermula, saat sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya, Kamis tanggal 08 Oktober 2009 malam. Dalam memory ponsel tercatat pukul 19:21:35 sebuah pesan singkat dari seorang kenalan dengan nomor +628180471xxxx tertuliskan "Tiga kyai bermimpi sama, yg udah mati beberapa minggu masih hidup maka makam depan Pasar keputihan desa kedawung malam ini akan di bongkar."

Saat menerima sms itu, saya kebetulan berada di kantor sekretariat PWI Kebumen. Informasi tersebut kemudian saya sampaikan ke teman-teman yang pada saat itu juga berada di sana. Yakni Fuad Hasyim dan Chuby Tamansari, keduanya wartawan Radar Banyumas. Merasa penasaran, kami bertiga ke lokasi pemakaman yang disebutkan. Hal itu semata-mata naluri jurnalistik dan untuk membuktikan adanya isu tersebut. Saat kami tiba di lokasi, ternyata sudah banyak orang berkumpul di sana. Kedatangan mereka juga karena mendapat informasi akan adanya pembongkaran kuburan. Di lokasi itu kami menggali informasi awal serta mendengarkan cerita yang berkembang di masyarakat.

Adapun cerita yang saya dengar dari masyarakat kurang lebih sama dengan apa yang ditulis oleh Chuby dalam beritanya.

Setelah memperoleh data awal, sekitar pukul 22.00 WIB kami mendatangi Mapolsek Pejagoan untuk menanyakan apakah ada surat masuk atau ijin tentang pembongkaran jenazah. Menurut petugas yang tidak sempat saya catat namanya, dikatakan tidak ada surat ijin maupun pemberitahuan pembongkaran jenazah. Mengetahui kondisi itu, saya memutuskan pulang, mengingat pada jam selarut itu tidak memungkinkan berita itu bisa tayang pagi harinya.

Namun sebelumnya, untuk mengantisipasi keadaan, saya meninggalkan nomor ponsel kepada seorang warga seraya meminta untuk dikabari jika ada perkembangan. Saya pun pulang. Pada pukul 23:13:19 WIB sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya, dari nomor +628783793xxxx, yang berbunyi "Mas maaf cari info sendiri, aku ada perlu,di mkam msih banyak orang." Setelah membalas sms itu, saya beristirahat sampai pagi.

Keesokan harinya, tidak ada informasi lebih lanjut tentang isu tersebut. Apalagi saya disibukkan dengan agenda liputan lain sehingga tidak menindaklanjuti peristiwa tersebut. Di sisi lain, Chuby ternyata tertarik menindaklanjuti sendirian dengan melakukan reportase melengkapi materi tulisan. Hal itu saya ketahui setelah membaca berita tersebut di Radar Kebumen edisi Sabtu 10 Oktober 2009.

Menurut saya, peristiwa itu memang menarik untuk dijadikan sebuah laporan jurnalistik. Betapa sebuah isu begitu kuat hingga mampu menggerakkan masyarakat untuk berbondong-bondong ke pemakaman. Setelah membaca berita itu, saya juga melihat bahwa ada konfirmasi dari Kepala Desa Kedawung Nur Rohman dan Kapolsek Pejagoan AKP Tri Warso Nurwulan yang intinya menjelaskan bahwa isu yang berkembang tersebut adalah tidak benar. (wallahu a'lam)