About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Friday, February 12, 2010

Kuli Tinta Bersatu, Selamatkan Sungai dan Mata Air

PERSOALAN yang semakin menjadi ancaman serius bagi warga di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah adalah terjadinya krisis air setiap musim kamarau dan ancaman banjir serta lonsor di musim penghujan. Begitu setiap tahun, datang dan pergi silih berganti sampai oleh masyarakat hal itu dianggap sebagai hal yang biasa.

Dinas Kesatuan
Kebangsaan Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kebumen mencatat, sepanjang 2009 di kabupaten yang terdiri dari 26 kecamatan dan 460 desa itu terjadi 24 bencana tanah longsor. Tanah longsor itu terjadi di 17 kecamatan dan mengakibatkan 123 keluarga menjadi korban. Meskipun tidak sampai menelan korban jiwa, namun kerugian material diperkirakan lebih dari Rp 617 juta.

Sebaliknya, ketika dua bulan tak lagi turu
n hujan bisa dipastikan, banyak aduan masyarakat meminta bantuan air bersih kepada pemerintah kabupaten. Tidak berlebihan, di kabupaten itu terdapat 82 desa yang tersebar di 13 kecamatan di wilayah perbukitan setiap tahunnya mengalami krisis air.
Krisis air terjadi, karena mata air yang menjadi tumpuan warga banyak sudah mengering. Kalau pun masih mengalir, kapasitasnya tidak cukup untuk memenuhi ke
butuhan warga sekitar.Datanglah ke wilayah pegunungan di Kebumen saat bulan Agustus atau September. Anda akan menyaksikan antrean warga di mata air sejak pukul 01.00 dini hari.

Sebagai jurnalis yang bertugas di kabupaten itu, tentu saya dan teman-teman wartawan lain hafal dengan kebiasaan itu. Sudah diketahui umum, pokok persoalan dari semua itu adalah rusaknya hutan, akibat penebangan liar yang sampai saat ini masih selesai direhabilitasi.

Sungguh menyedihkan, jika m
elihat kenyataan masih tingginya lahan kritis di kabupaten itu yang mencapai 5.253, 38 hektare di kawasan budidaya dan 3.480,62 hektare di hutan negara. Sedangkan lahan yang kondisinya sudah sangat kritis di lahan milik warga mencapai 1.507, 17 hektare dan di kawasan hutan negara mencapai 115,42 hektare. Namun lokasi lahan berada di spot-spot tertentu dengan luasan sekitar lima hektare setiap titiknya.

Kuli Tinta Menanam Pohon
Atas dasar itulah, para kuli tinta yang tergabung
dalam organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kebumen tergerak untuk berbuat sesuatu. Sebenarnya kepedulian insan pers terhadap konservasi wilayah daerah aliran sungai dan mata air sudah dilakukan dengan kritik melalui tulisan. Namun sayang, terbatasnya kemampuan pemerintah daerah menjadi dalih tidak diresponnya kritik itu.

Tak sabar menunggu, wartawan pun menggelar aksi pengghijauan. Bersamaan peringatan Hari Per
s Nasional (HPN) pada 9 Februari 2010 lalu, kami melakukan menanami kawasan Sungai Lukulo di Desa Kutosari dan Desa Pejagoan dengan berbagai bibit pohon seperti matoa, kenari, jabon, dan bibit aren.

Bersyukur, aksi itu juga
mendapat dukungan dari Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Kebumen, sebuah lembaga non pemerintah yang peduli tentang kelestarian kawasan sungai dan Dinas Informasi Komunikasi dan Telematika (Inforkomtel). Yang membanggakan, seluruh jurnalis media cetak maupun elektronik ikut ambil bagian menanam berbagai jenis bibit pohon tersebut.

Aksi tersebut sek
aligus untuk menyindir pemerintah dan masyarakat bahwa orang yang tidak memiliki kepentingan secara langsung saja peduli. Terus terang, para jurnalis merasa bosan menulis isu lingkungan karena seolah masyarakat sudah kebal terhadap berita banjir, longsor, kekeringan. Harapannya, aksi yang dilakukan oleh para kuli tinta itu membuat masyarakat masih memiliki tradisi membuang sampah di pinggir sungai itu tersadar akan pentingnya melestarikan alam.

Mengapa dipilih Sung
ai Lukulo? Menurut Ketua PWI Kebumen Bagus Sukmawan, kawasan itu dipilih karena kondisi kerusakan ekosistem daerah aliran sungai itu sudah semakin parah. Kondisi tersebut membuat tebing sungai sering terjadi erosi hingga mengancam rumah warga yang ada di atasnya.
"Bahkan ada sekitar lima keluarga yang sudah minta direlokasi," kata jurnalis yang akrab disapa Iwang itu.

Ya, sesungguhnya secara kelemb
agaan para jurnalis di Kebumen sangat peduli tentang kelestarian lingkungan. Sebelumnya, pada 29 Januari 2010 para jurnalis juga ikut terlibat dalam aksi penanaman bibit pohon di kawasan sumber mata air yang bekerjasama dengan Forum DAS Kebumen dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Hal itu didorong atas prihatin para wartawan mulai turunnya debit di mata air yang dipakai PDAM.

"Tentu tanpa ada upaya dari lintas sektor, generasi mendatang tidak akan kebagian air bersih," ujarnya.

Mustahil Andalkan Pemerintah
Akibat lahan kritis di kawasan hutan terutama di bagian hulu, fungsi menyimpan air menjadi berkurang. Ketua Forum DAS Kebumen M Suhangi, menunjukkan saat
hujan turun, air langsung mengalir ke sungai dan beberapa saat hilang tak berbekas. Fenomena tersebut menjadi bukti nyata , hutan sudah kehilangan fungsinya menahan air yang digunakan untuk kebutuhan selama setahun ke depan.

"Dahulu ketika hujan turun selama beberapa hari sungai belum terlihat banjir. Namun sekarang ini, sekali hujan turun sungai sudah banjir dengan air kecokelatan warna tanah," imbuh Sujangi.

Menurut dia, meski Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor kayu rakyat di Kebumen cukup tinggi, namun masyarakat tidak bisa berharap banyak dari pemerintah daerah. Pada tahun 2009 dari sektor itu menyumbang Rp 424 juta. Sedangkan PAD dari Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dapat direalisasikan sebesar
Rp 320 juta. Sayangnya, dari dana tersebut hanya sedikit saja yang kembali untuk keperluan rehabilitasi lahan dan hutan.

Minimnya, anggaran diakui oleh Kepala Bidang Kehutanan Dinas Pertanian dan Kehutanan, Ir Sutarno. Dia menyebutkan, tahun anggaran 2010, plafon anggaran untuk rehabilitasi lahan dan hutan hanya Rp 45 juta. Tentu dengan dana bahkan dia sendiri merasa psimistis rehabilitasi lahan kritis di Kebumen bisa maksimal. Mengingat tahun 2010 tidak ada dana dari pemerintah pusat.
Jika sudah begitu kondisinya, slogan One Man One Tree (OMOT), perlu diubah menjadi One Man One Thousand Tree (OMOTT).
Mari, para kuli tinta Indonesia bersatulah. Selamatkan sungai dan mata air dari kerusakan !!!

No comments:

Post a Comment

terima kasih Anda telah memberikan komentar di blog ini