About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Saturday, December 31, 2011

Semarak pesta kembang api menandai pergantian tahun 2011-2012 di kawasan Tugu Yogyakarta. Foto Ondo Supriyanto 
#Selamat Tahun Baru 2012

Wednesday, October 26, 2011

Sejarah Genteng Sokka

Sisa-sisa cerobong pabrik genteng AB Sokka
KEBERADAAN industri genteng di Kabupaten Kebumen memiliki sejarah yang panjang. Jauh sebelum mengenal genteng, sebagian masyarakat Kebumen telah memiliki keterampilan membuat tembikar. Hal itu didukung jenis tanah terutama di wilayah Sokka, Wonosari, Sruweng, dan Klirong yang cukup bagus untuk dijadikan gerabah.
    Sebelum abad ke-20, masyarakat di Kebumen sudah banyak yang membuat gerabah untuk alat-alat rumah tangga seperti tungku, gentong, padasan, blengker, jambangan, kendil, cowek, jubek dan aneka gerabah lain yang terbuat dari tanah liat. Bahkan sampai saat ini, keahlian turun temurun yang konon persinggungan dengan kebudayaan cina itu masih bertahan. Warisan keahlian membuat gerabah secara turun tersebut sampai saat ini masih diteruskan oleh masyarakat di Desa Gebangsari Kecamatan Klirong yang terkenal sebagai sentra gerabah di Kebumen.
    Munculnya kerajinan genteng di Kebumen bermula ketika sekitar tahun 1920-an, pemerintah kolonial Belanda melakukan penelitian untuk memetakan daerah-daerah yang tanahnya bagus untuk dijadikan atap bangunan. Saat itu dibentuklah Balai Keramik yang berkedudukan di Bandung.
    Adapun, Kebumen merupakan salah satu dari sejumlah daerah yang memiliki potensi untuk dijadikan sentra genteng. Selain Kebumen, daerah lain ialah Karangpilang, Jatim, Cikarang, dan Jatiwangi. Daerah-daerah tersebut sampai saat ini masih terkenal sebagai sentra industri genteng.
    Genteng-genteng tersebut untuk memenuhi pembangunan infrastruktur termasuk untuk dijadikan atap pabrik gula. Bahkan di Kebumen juga saat itu terdapat dua pabrik gula yakni di Prembun yang bekasnya saat ini dijadikan Pos Polisi Prembun. Yang kedua berada di Kebumen yang saat ini menjadi RSUD Kebumen. Gudang pabrik gula itu, saat ini sudah berubah menjadi Gedung Olahraga yang masih belum difungsikan.
    Selain itu, pengenalan genteng sebagai atap juga dilakukan oleh kolonial Belanda. Misi kesehatan dilakukan karena pada saat itu di Jawa terjadi wabah wabah pes. Khusus penyakit pes inilah yang membuat Belanda merasa khawatir, karena banyak tenaga kerja pribumi yang tidak bisa maksimal karena terserang penyakit tersebut.
    Pokok persoalan itu diketahui, ternyata akibat sebagian besar rumah penduduk saat itu masih beratapkan rumbia. Padahal atap tersebut sering dijadikan sarang tikus yang menjadi penyebab wabah pes.
    Untuk pertama kali, Belanda mendirikan sebuah pabrik genteng di Kebumen persisnya di Pejagoan. Namun saat ini bekas pabrik tersebut sudah tidak bisa dilihat lagi karena sudah didirikan bangunan baru yakni SMP Negeri 1 Pejagoan. Pabrik yang didirikan oleh Belanda itulah yang pertama kali berdiri di Kebumen. Namun pabrik tersebut musnah pada masa perang kemerdekaan karena dihancurkan oleh para pejuang. Infrastruktur lain yang dihancurkan ialah jembatan Tembana agar pasukan Belanda tidak bisa melewati sungai Luk Ulo.

Abu Ngamar
    Adapun, orang pribumi pertama kali yang membuat kerajinan genteng di Kebumen ialah H Ahmad. Namun pembuatan genteng masih belum menggunakan mesin. Produksi genteng masih dilakukan secara manual. Akan tetapi dari sinilah cikal bakal industri genteng di Kebumen. Setelah itu, H Abu Ngamar salah satu anak H Ahmad yang mengenal orang Belanda mendirikan sebuah pabrik genteng di Sokka, sekitar 200 meter dari Stasiun Sokka di Pejagoan.
    Atas bantuan guru Sekolah Teknik  itu, mesin pabrik tersebut konon didatangkan dari Jerman. Karena berkualitas baik, produknya banyak digunakan untuk atap sejumlah pabrik gula di Jawa. Merek genteng yang legendaris itu adalah AB Sokka. Sampai saat ini di lokasi pabrik yang berlokasi di Dusun Sokka, Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan masih dapat ditemui lima buah cerobong pembakaran genteng yang kuno yang berdiri kokoh. Namun cerobong tersebut sudah tak lagi pakai. Di kawasan itu pula masih tampak deretan ruang penyimpanan genteng termasuk dari bekas-bekas rel dari dalam pabrik yang tersambung menuju Stasiun Sokka.
    Untuk menelusuri jejak sejarah genteng Sokka, Saya menemui salah satu cucu Abu Ngamar yang bernama Abu Ahmar (63) di kediamannya RT 01 RW 05 Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan. Rumahnya berada sekitar 200 meter dari pabrik genteng kuno itu. Abu Ahmar adalah salah satu keturunan Abu Ngamar yang paham betul soal sejarah genteng Sokka. Bahkan dia kerap dijadikan rujukan bagi para mahasiswa yang tengah menyusun skripsi tentang sejarah genteng Kebumen.
    Abu Ahmar menceritakan, sekitar tahun 1940 sebagian bangunan pabrik AB Sokka hancur akibat perang. Meski cerobongnya tidak ikut roboh, namun selama satu dasa warsa AB Sokka terguncang akibat revolusi fisik. Usaha itu bangkit kembali setelah masa kemerdekaan. Setelah Abu Ngamar meninggal, pengelolaan pabrik genteng dilanjutkan oleh H Ahmad Nasir. Sekitar tahun 1950 usaha pabrik sudah dibantu oleh perbankan yang saat itu bernama Bank Industri Negara (BIN) kemudian beralih nama menjadi Bapindo dan saat ini dimerger menjadi Bank Mandiri.
Dalam pengiriman genteng, AB Sokka memanfaatkan Stasiun Sokka. Untuk itulah dari dalam pabrik dibuat lori kecil hingga bersambung dengan Stasiun Sokka.

Masa Keemasan
    Genteng AB Sokka terus menanjak bahkan berada alam masa jayanya, yakni pada periode 1970-1980. Apalagi pada saat itu, pemerintah merekomendasikan genteng Sokka untuk digunakan sebagai atap di gedung pemerintah. Menurut Abu Ahmar, pembangunan Akabri Magelang yang saat ini bernama Akademi Militer (Akmil) atapnya menggunakan genteng Sokka. Termasuk pusat perkantor di kawasan Kabayoran Baru Jakarta juga menggunakan genteng dari Kebumen.
    Melihat masa kejayaan AB Sokka, menjamurlah industri genteng di Kabupaten Kebumen terutama di Pejagoan yang rata-rata menggunakan nama Sokka. Pada awalnya yang mendirikan pabrik masih keluarga. Namun seiring dengan perkembangan waktu, banyak yang membuat pabrik genteng hingga sebegitu banyak seperti saat ini.
"Padahal pada awal masa Orde Baru hanya ada sekitar ada 10 pabrik saja di Kebumen," ujar Abu Ahmar.
    Bahkan, pabrik genteng Sokka tidak hanya dapat dilihat sepanjang jalan antara di Kecamatan Pejagoan dan Sruweng. Saking terkenalnya genteng Sokka, banyak sekali bermunculan genteng merek "Sokka" dari daerah lainnya seperti di Yogyakarta dan Kabupaten Kudus.***

Friday, July 29, 2011

Sate Klatak "Wong Ndeso"

Satu porsi sate klatak siap disantap.  
SATE klatak sudah menjadi ikon Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Namun bagi orang Kebumen, tidak perlu menempuh jarak lebih dari 100 kilometer untuk menikmati lezatnya sate kambing muda itu. Mengingat jenis sate kambing yang satu ini sudah bisa ditemui di Kebumen, persinya di warung makan "Wong Ndeso" di Jalan Kebulusan, Kecamatan Pejagoan. Letaknya persis di seberang SD Negeri 2 Kebulusan. 

Di warung yang baru dibuka tiga bulan lalu, tersedia menu spesial sate klatak yang tidak kalah lezat dibanding yang dijual di sepanjang Jalan Imogiri, Bantul.

Salah satu ciri khas sate klatak di Bantul ialah alat tusuknya. Yakni bukan dari bilah bambu yang diruncingkan ujungnya, melainkan jeruji sepeda.  Sedangkan tusuk sate klatak warung "Wong Ndeso" dibuat dari stainless yang dibentuk secara khusus menjadi tusuk daging. Istimewanya tusuk sate itu dibawa langsung dari negara Kuwait. "Stainless tidak bisa berkarat, sehingga lebih higienis," kata Octiana Dwi Astuti (28) si pemilik warung.

Inspirasi usaha sate itu, kata Octiana, saat dia ikut suaminya Nur Salim (35) yang bekerja sebagai perawat di Kuwait. Setahun di negara timur tengah itu, dia memasak daging seperti cara orang sana yakni menggunakan tusuk dari stainless. Maklum di negara itu tidak tumbuh bambu seperti di Indonesia.
"Setelah mengikuti training Purdi E Candra, dan dengan pengalaman kuliner di Kuwait saya berniat membuka usaha warung sate," ibu dua anak itu menambahkan.

warungnya biasa, rasanya istimewa
Satu porsi sate di warung tersebut terdiri empat tusuk. Namun dengan irisan daging kambing muda sebesar ibu jari orang dewasa dijamin empat tusuk tersebut akan membuat Anda puas. Selain bumbu-bumbu spesial, sebagai pemanis hidangan sate disajikan dengan irisan tomat dan mentimun.

Harganya relatif terjangkau. Satu porsi sate klatak ditambah nasi seharga Rp 17.000. Tidak hanya sate, di warung yang buka mulai pukul 09.00-20.00 itu juga menyediakan menu ayam kampung bakar yang tidak kalah spesialnya. Dengan merogoh kocek Rp 13.000 Anda sudah bisa menyantap satu porsi ayam kampung bakar plus nasi.

Adapun soal mengapa dinamakan sate klatak, banyak versi yang beredar. Bisa jadi karena muncul bunyi "klatak klatak" ketika daging dibakar. Atau bunyi "klatak" saat tusuk sate dari besi itu menyentuh gigi. Apapun itu, daging yang empuk, bumbu yang lezat, dan keunikan bentuk dan rasanya, sate klatak "Wong Ndeso" pantas untuk dicoba. Kehadiran warung ini tentu saja menambah pilihan pencinta kuliner untuk memanjakan lidah mereka.
 
"Meski besar-besar, dagingnya matang, mungkin karena dibakar pakai besi," puji Sukirno (28), pengunjung asal Gombong.***

Friday, June 24, 2011

Irma Suryati, Kartini dari Karangsari

Irma memperlihatkan kasil karyanya.FotoOndo Supriyanto
VIRUS Polio boleh saja melumpuhkan kaki Irma Suryati (36). Namun cacat yang dia derita tidak membuat semangat hidupnya turut lumpuh. Meski saat berjalan harus dibantu kayu penyangga, Irma mampu berprestasi bahkan melebihi orang normal.

Dengan keterbatasan fisiknya, perempuan asal Desa Karangsari, Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen itu telah membuktikan bahwa penyandang cacat pun bisa mandiri. Melalui usaha Mutiara Handycraft yang dirintis bersama suaminya Agus Priyanto (34) yang juga seorang tuna daksa, perempuan kelahiran Semarang, 1 September 1975 itu mengembangkan aneka kerajinan dari limbah.

Melalui kreativitasnya, kain sisa industri garmen dibentuk menjadi aneka produk keset yang unik. Desain keset berbentuk bunga, karakter kartun, bentuk binatang seperti panda, kupu-kupu, dan katak, maupun elips adalah di antara hasil karyanya. Keset-keset itu tidak sekadar dijual di pasar lokal, namun telah dipasarkan untuk konsumen luar negeri. Khusus desain kupu-kupu bahkan untuk memenuhi konsumen dari Autralia yang dijual melalui broker dengan harga tujuh dolar per unit.

"Sendangkan keset biasa, dijual di pasaran dengan harga Rp 3500. Sedangkan desain unik dijual antara Rp 25.000 hingga Rp 35.000," ujar Irma Suryati saat ditemui di rumahnya yang dijadikan sebagai pusat usaha kecil menengah penyandang cacat, belum lama ini.

Sampai saat ini, lulusan SMA Negeri 1 Semarang itu memiliki sedikitnya 600 binaan perajin keset. Selain di Kebumen, mereka tersebar di Kabupaten Banyumas, Banjarnegara, dan Purworejo. Sebanyak 150 orang di antaranya merupakan para penyandang cacat khususnya tuna daksa, sedangkan sisanya adalah orang normal. Pada awalnya, mereka diajari bagaimana cara membuat keset, kemudian setelah mandiri pihaknya memasok bahan baku.

Mereka bisa bekerja di rumah sendiri, kemudian hasilnya disetor untuk dipasarkan. Bersama dengan para perajin binaannya, Irma mampu produksi sebanyak 15.000 keset per bulan. Produksi ini masih sangat kurang memenuhi permintaan pasar. Sebab, untuk di Pasar Abang Jakarta saja permintaan bisa mencapai 30.000 keset per bulan. Artinya, prospek kerajinan keset dari kain perca masih sangat luas. Mengingat permintaan yang sangat tinggi itu belum sepenuhnya terpenuhi.

"Saya ingin mengajak para penyandang cacat untuk hidup mandiri termasuk secara ekonomi, sehingga mereka bisa setara dengan orang normal," imbuh Irma yang juga memproduksi boneka dari kain limbah.

Irma dan penghargaan. Foto Ondo Supriyanto 
 Raih Penghargaan
 Semangat, kemandirian dan dedikasinya memberdayakan para penyandang cacat itu mengantarkan Irma terpilih menjadi Wirausaha Muda Teladan Tingkat Nasional tahun 2007 yang diberikan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga. Tahun 2009 dia juga terpilih menjadi Pemuda Andalan Nusantara. Irma menjadi juara I Tokoh Sampoerna Pejuang 9 Bintang 2010 untuk kategori ekonomi kerakyatan. Di tahun yang sama ibu lima orang anak itu dianugrahi Ummi Award 2010 Dedikasi Ibu Indonesia.

Di atas perjuangan untuk mewujudkan kesetaraan kaum difabel itu pantas kiranya Irma dijuluki sebagai Kartini dari Desa Karangsari. Tidak berlebihan pula apabila Bupati Kebumen, H Buyar Winarso SE mengusulkan Irma sebagai calon penerima penghargaan Lingkungan Hidup Nasional Kalpataru tahun 2011 untuk kategori perintis lingkungan. 

Dia dinilai berhasil mengolah limbah garmen menjadi aneka kerajinan tangan yang bernilai ekonomis. Berkat usahanya itu, dia mampu mengurangi pengangguran sekaligus mengurangi limbah sekitar lima ton per bulan. Ya, meski kaki lumpuh, Irma telah terbang keliling sejumlah negara di dunia. Antara lain, dia pernah menjadi duta bangsa dalam lomba wirausaha muda tingkat dunia di Beijing, Cina. Tahun 2008 dia terbang ke Melbourne Autralia mewakili Indonesia dalam pameran kerajinan yang disponsori oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, saat itu dijabat Adhiyaksa Dault.
 

Capaian yang diperoleh Irma tidak datang begitu saja. Perlu kerja keras dan proses panjang. Apalagi, seorang penyandang cacat seperti dirinya masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Misalnya, seperti saat melamar pekerjaan, saat itu pula ia ditolak dengan alasan cacat yang dia alami. "Dari pengalaman itulah, saya bertekat membuat usaha sendiri dan mengangkat lebih tinggi derajat penyandang cacat seperti saya," imbuhnya.

Pasangan difabel. Foto Ondo Supriyanto

Diskriminasi Difabel
Hidup dengan kondisi fisik yang tak sempurna memang cukup berat bagi para penyandan cacat. Apalagi diskriminasi bagi para penyandang cacat masih dirasakan di seluruh sektor baik pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, politik, maupun budaya. Berbeda dengan orang normal, di semua sektor tersebut, kepentingan para penyandang cacat selaku kelompok minoritas masih dinomorsekiankan. 


 Irma masih ingat harus menelan pil pahit saat ditolak oleh perusahaan saat melamar kerja, gara-gara dia berjalan menggunakan bantuan kruk. Tidak hanya itu, ketika memulai menjalankan usahanya dia justru diremehkan saat mengajak orang-orang bergabung. Mereka sanksi melihat kaki Irma yang cacat akibat virus polio tersebut. Namun cibiran dan dipandang sebelah mata justru menjadi cambuk untuk pembuktian bahwa orang dengan kebutuhan khusus juga bisa.


"Setelah saya mendapatkan penghargaan, satu per satu orang percaya dengan usaha yang saya jalankan," ujar Irma Suryati menceritakan awal perjalanannya mengelola usaha kerajinan dari limbah garmen.

Dia berkisah, setelah tamat SMAN 1 Semarang, dia tidak melanjutkan kuliah. Tahun 1995 dia memberanikan diri menikah dengan Agus Priyanto yang asli Desa Karangsari, Kebumen. Pasangan tuna daksa itu bertemu saat mereka sama-sama menjalani terapi kaki yang lumpuh layu di Rumah Sakit Orthopedi Solo. Selain mendapatkan terapi, di tempat tersebut mereka juga dilatih membuat kerajinan sesuai minat masing-masing.

"Kami kenal selama dua bulan dan sepakat untuk menikah dan hidup bersama," ungkap Agus Priyanto.

Sebelum menjalankan usaha keset di Kebumen, sebenarnya Irma dan Agus telah memulai usaha di Kota Semarang. Dia menghimpun sesama penyandang cacat yang mengikuti pelatihan di Solo. Saat itu usahanya berkembang hingga mampu merekrut 50 penyandang cacat untuk menjadi perajin keset.

Bahkan pada tahun 2002 usahanya berada di puncak. Omset penjualan hasil kerajinan itu mencapai miliaran rupiah per bulannya. Lewat keset itulah dia mampu membeli rumah dan mobil. Sayang, kebakaran hebat di Pasar Karangjati Semarang tahun 2005 membuat usaha mereka hancur tak tersisa.

"Akibat kabakaran itu, kami merugi sekitar Rp 800 juta. Saat itu kami punya apa-apa lagi," kenang Agus atas tragedi yang mengembalikan keluarganya ke titik nol tersebut.

Hidup Baru Selanjutnya, babak baru kehidupan Irma dilanjutkan di Kebumen, tempat kelahiran suaminya. Dia mencoba bangkit kembali dengan meminta dukungan Bupati Kebumen yang saat itu dijabat Rustriningsih. Gayung bersambut, dengan bantuan bupati yang sekarang menjabat Wakil Gubernur Jawa Tengah itu, dikumpulkan 300 penyandang cacat dan membentuk paguyuban. Irma Suryati terpilih sebagai ketuanya.

"Untuk bertemu bupati juga butuh perjuangan. Saya berkali-kali ditolak oleh pegawai, karena dikira mau meminta sumbangan," kata Irma yang masih memajang poster Rustringsih yang dinilai berjasa bagi hidupnya.

 Seiring waktu, usaha kerajinan berbahan baku kain limbah garmen yang dikelolanya terus berkembang. Tidak hanya memproduksi keset yang omsetnya mencapai Rp 30 juta per bulan, usahanya melebar hingga memproduksi 42 macam kerajinan. Terakhir perempuan yang mengoleksi sekitar 100 penghargaan dari dalam dan luar negeri itu mengembangkan produksi busana muslim.

Irma bahkan telah mendapat order busana muslim dari Jakarta sebanyak 10.000 per bulan. Namun karena keterbatasan tenaga, alat dan modal dia masih belum bisa memenuhi seluruhnya.
 "Hanya sekitar 3.000 potong per bulan yang mampu kami penuhi," imbuhnya.

Irma saat tampil di K!ck Andy Metro TV...Foto:http://kickandy.com 
Melihat pasar yang masih terbuka Irma memperbanyak tenaga kerja. Dia juga memberdayakan ibu-ibu rumah tangga, para waria, pekerja seks komersial (PSK), dan mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Selain pekerjaan sehari, Irma tak jarang keliling Indonesia untuk menjadi instruktur pelatihan bagi penyandang cacat.

 Selain urusan usaha, Irma berusaha menjadi ibu yang baik bagi kelima anaknya. Dia bersyukur, kelima anaknya; Zika Kusuma (13), Hafiz Al Mukni (10), Eksa Mutiara Nabila (5), Nauli Wyadyaksa (2) dan Pandu Yuda (1) tumbuh normal. Bahkan si sulung saat ini duduk di kelas 2 di SMP Negeri 1 Buayan.

Secara ekonomi, barangkali keluarga Irma saat ini tidaklah kekurangan. Saat ini ada satu cita-cita yang masih belum terwujud. "Saya ingin punya pabrik yang seluruh karyawannya para penyandang cacat," katanya seraya tak henti-henti mendorong para kaum difabel agar bisa hidup mandiri.***



Biodata



Nama : Irma Suryati
Tempat Tanggal Lahir : Semarang, 1 September 1975
Pendidikan : SMAN 1 Semarang
Suami : Agus Priyanto

Anak
1. Zika Kusuma (13 tahun)
2. Hafiz Al-Mukni (10 tahun)
3. Eksamutiara Nabila (5 tahun)
4. Nauli Wyadyaksa, (2 tahun)
5. Pandu Yuda (1 tahun)

 
Penghargaan

Wirausaha Muda Teladan 2007 dari Kementerian Pemuda dan Olahraga
Pemuda Andalan Nusantara 2009 dari Kementerian Pemuda dan Olahraga
Perempuan Berprestasi 2008 dari Bupati Kebumen.
Penghargaan dari Jaiki Jepang
Juara I Tokoh Sampoerna Pejuang 9 Bintang 2010
Anugerah Ummi Award 2010 - Dedikasi Ibu Indonesia.
Diusulkan Bupati Kebumen Menerima Kalpataru 2011

Friday, April 29, 2011

Steak Hiu Pantai Selatan

Steak Hiu Viva's Cafe & Resto. Foto Ondo Supriyanto
BOLEH jadi ikan hiu merupakan salah satu predator terkejam di lautan. Namun di daratan, terlepas dari segala kontroversinya, ikan ini menjadi santapan lezat bagi manusia. Nah, di sudut Kota Gombong, Kebumen terdapat sebuah kedai bernama Viva's Cafe & Resto yang menyajikan berbagai menu berbahan daging hiu. Salah satunya adalah steak hiu laut selatan.
    Berbagai varian steak hiu disediakan rumah makan ini. Antara lain steak hiu dengan sauce marinara, black pepper sauce, maupun dengan sauce tiram. Benar-benar menggoda saat steak hiu dihidangkan dengan tambahan sayuran segar dan buah stroberi. Selain tekstur dagingnya halus dan lembut, rasanya juga luar biasa melebihi steak ikan salmon maupun tuna.
    Oleh chef Edi Kurniawan (38) daging ikan hiu yang memiliki bau amisnya menyengat itu disulap dan diolah menjadi steak yang lezat. Steak hiu yang diolah dengan campuran sauce marinara sangat menggugah selera. Karena rasanya yang ekstrim dan sensasi manis, asam dan pedas jenis ini sangat disukai konsumen.
    "Tidak mudah membuat steak hiu, karena sifat dagingnya yang sangat lembut. Jika dipanggang biasa, daging itu akan hancur dan kalau disajikan tentu saja bentuknya tidak sedap dipandang," ujar Edi yang mengaku belajar resep ini dari orang Rusia saat masih bekerja di kapal tanker.
Tiger Shark
    Adapun proses awal memasaknya, dipilih ikan hiu jenis tiger shark berumur tiga sampai lima bulan dengan berat 4 sampai 5 kilogram. Daging hiu ini diperoleh dari para nelayan di sejumlah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di sepanjang pantai selatan di Kecamatan Ayah. Untuk itulah steak ini dinamakan steak hiu laut selatan.
    Setelah diiris daging dipisahkan dari kulitnya kemudian dicuci bersih. Untuk menghilangkan bau amis sebelum dibakar terlebih dahulu daging dilumuri bumbu campuran dari saos tiram, kecap Inggris, bawang bombay, jahe, merica, jeruk nipis dan susu. Sedangkan untuk sauce cukup campurkan bawang putih bawang bombay, cabe, dan mayonaise. Tambahkan stroberi untuk lebih menguatkan rasa asam.
    "Setelah daging dibakar hingga kuning kecoklatan steak hiu pun siap dihidangkan," imbuhnya.
    Erna Haryanti, pemilik kedai tersebut mengatakan, pihaknya sengaja menawarkan menu baru yang biasanya hanya ditemukan di kota-kota besar. Dengan memanfaatkan hasil tangkapan para nelayan pesisir Ayah dirinya coba memberikan hidangan yang banyak mengandung protein. Meski harga perekor hiu saat ini terbilang mahal.
    Namun jangan khawatir, dengan hanya merogoh kocek Rp 17.000 Anda sudah dapat menikmati sensasi satu porsi steak ikan hiu. Steak hiu juga dipercaya dapat meningkatkan vitalitas dan mampu menghangatkan suhu tubuh. Karena daging hiu memiliki kandungan asam folat yang tinggi. Asam folat atau yang dikenal sebagai Vitamin B9 ini diperlukan oleh anak-anak dan orang dewasa untuk memproduksi sel darah merah dan mencegah anemia.
    "Saat cuaca ekstrim seperti saat ini, perlu daya tahan tubuh yang kuat untuk menangkal berbagai jenis penyakit," tandasnya.***

Rindu Serabi Kebumen


Penjual serabi di Jalan Kutoarjo Kebumen
Foto Ondo Supriyanto
"GUE orang Kebumen asli. Cuman sekarang ini lagi di Malaysia. Meskipun di Malaysia tapi masih ingat dengan Kebumen apalagi dengan jajanan Kebumen. Di sini nggak ada soto, bakso, mie ayam, serabi, apalagi sate dan emping khas ambal. Win kangen dengan semua masakan Kebumen."
Demikian tulisan Winarni warga asal Kebumen dalam sebuah situs tentang makanan. Dalam tulisan itu terlihat begitu besarnya kerinduannya terhadap makan khas daerah asalnya.
Ya, saat berada jauh di negeri orang, selain keluarga dan sanak famili, makanan kadang kala menjadi pengikat masyarakat pada tempat asalnya. "Di sini adanya roti canai, nasi lemak, mie tomyam, kuetyaw, muruku India punya," imbuhnya.
Winarni barangkali hanya mewakili kerinduan orang perantauan terhadap kuliner kampung halamannya. Masih banyak orang yang menyimpan kerinduan pada makanan daerah asalnya. Mafhum jika sejumlah makanan khas itu kini tidak dijual luar daerahnya. Barangkali itu untuk memenuhi kerinduan itu.
Boleh jadi saat tinggal di Kebumen Winarni tidak menjadikan makanan khas itu sebagai sesuatu yang istimewa. Kesadaran itu muncul  ketika dia sudah tidak lagi dapat merasakannya. Mungkin rasa kangen itu terobati kalau ada orang Kebumen menjual serabi dan sate ambal di Malaysia.
Dalam kondisi yang demikian, makanan bukan hanya sekadar dipandang sebagai hal yang enak dan tidak enak. Sebab ada romantisme yang membungkus makanan itu sehingga apapun rasanya  menjadi enak. Serabi misalnya, yang hanya dijual pada saat pagi buta tentu saja banyak yang memiliki kenangan dengan makanan itu.
Nurul (27) misalnya, selalu teringat pada saat ia masih sekolah. Setiap hari Minggu ia bersama kakanya lari pagi dan saat pulang selalu tidak  lupa membeli serabi. Saat kuliah dan bekerja di luar kota, saat pulang pun ia selalu menyempatkan membeli serabi.
“Meski tak seenak serabi Solo, saya lebih suka membeli serabi Kebumen," kata warga Pejagoan yang bekerja di Surabaya itu.
Serabi Solo memang  cukup terkenal salah satunya "Serabi Notosuman". Banyak pendatang yang membeli untuk dijadikan oleh-oleh. Rasanya gurih yang khas yang berasal dari santan kelapa. Ada pula yang menjualnya dengan sedikit modifikasi dengan taburan butiran cokelat pada bagian atasnya.
Masih Sederhana
Sementara serabi Kebumen  masih sangat sederhana. Seperti yang dijual Siti Ngakidah (36) di Jalan Kutoarjo persisnya di depan studio  Ratih TV. Warga Kelurahan Panjer itu setiap hari sejak pukul 03.30 sampai 08.30 berjualan serabi. Selama ini dia hanya menjual dua macam yakni serabi gurih dan serabi manis.
"Kalau serabi manis itu dikasih taburan gula jawa," katanya menerangkan.
Dalam sehari biasa dia menghabiskan sebanyak 3,5 kg tepung beras. Namun pada hari Minggu permintaan meningkat sehingga bisa menghabiskan 4-4,5 kg. "Kalau hari minggu banyak yang lari-lari, lalu pulangnya membeli serabi," imbuh Khatimah (60) ibu Idah, panggilan Siti Ngakidah yang membantu berjualan serabi.
Ada lagi penjual serabi yang banyak diminati antara lain serabi Yu Inem yang dijual di perempatan Kuwarisan Panjer dan di sebelah perlintasan kereta api. Pada umumnya penjual serabi berjualan pada pagi subuh sampai setengah tujuh.
Memang di Kebumen, serabi masih dijual dengan sangat sederhana. Padahal jika ada sentuhan lain, baik berupa modivikasi dengan campuran bahan makanan lain, serabi Kebumen  bukan hanya ngangeni orang asli kota itu, melainkan menjadi klangenan siapapun yang pernah merasai.
Tidak mustahil jika serabi Kebumen menjadi aset wisata kuliner melengkapi sejumlah makanan khas yang ada. Boleh jadi saat Winarni atau siapa pun pulang ke Kebumen menjadi bangga, karena makanan khas daerahnya tidak kalah dengan daerah maupun negara lain. Siapa tahu. ***

Tongseng Pak Mulyorejo

Pembeli menyantap tongseng Pak Mulyorejo. 
Foto: Ondo Supriyanto
BAGI mereka yang mempunyai makanan favorit berupa tongseng, tentu tidak sulit untuk mendapatkannya. Sebab, hampir pasti di setiap warung sate kambing menjual makanan daging kambing berkuah itu. Namun begitu, tidak mudah mendapati penjual tongseng yang tanpa menggunakan penyedap rasa kimia.
    Di Gombong terdapat sebuah warung tongseng yang benar-benar bebas dari Mono Sodium Glutamate (MSG). Warung tongseng Pak Mulyorejo namanya. Warung kaki lima yang berada di Jalan Stasiun Gombong itu, sudah sekitar 58 tahun bertahan menjual menu tersebut tanpa penyedap rasa.
    Warung tongseng di sebelah barat Kantor Pegadaian Gombong tersebut memang tidak hanya sederhana. Melihat keadaannya layak jika warung itu dikatakan seadaanya. Tapi jangan salah, soal rasa, jangan ditanya. Nendang banget alias mak nyus, begitu barangkali dalam bahasa Bondan Winarno, sipembawa acara Wisata Kuliner di salah satu stasiun televisi swasta yang terkenal itu.
    Racikan rempah-rempah seperti manis jangan, kayu manis, jinten, mesoyi, kapulaga, cengkeh, cabe, mrica, tumbar dan pala menjadikan bumbu sangat kental. Ditambah dengan bawang merah bawang putih, serai, kunir, jahe, kencur, dan garam melengkapi aroma yang menggoda.
    Tidak cukup itu, sehingga tongseng Pak Mulyorejo bisa dikategorikan sebagai tongseng yang istimewa. Cara memasak tongseng itu tidak menggunakan kompor melainkan masih bertahan menggunakan arang. Selain itu, tempat memasak daging juga masih menggunakan kuali dari tanah.
    "Beda rasanya makanan yang dimasak memakai arang dengan menggunakan minyak," kata Turinem (51) istri sambungan Mulyorejo.
Rasa Yogya
    Mencoba mencicipi tongseng non mecin itu, ternyata beda dengan tongseng yang dijual sejumlah warung. Sebab rasa lebih didominasi dengan manis. "Suami saya memang orang Yogya, makanya rasa manis cukup menonjol," katanya Turinem.
    Turinem (51) kini menjadi pewaris tongseng Mulyorejo suaminya yang sudah meninggal sejak 28 April lalu pada usia 85 tahun. Warga Desa Jatinegoro Sempor yang tinggal di Gang Wonosari Kelurahan Wonokriyo itu pun bertekat bertahan dengan resep suaminya tanpa menggunakan bahan kimia untuk melezatkan makanannya.
    Selain tongseng, makanan yang masih berbahan kambing juga ada di warung yang buka mulai pukul 09.00-21.00 juga menyediakan gule dan sate. Dengan harga sekitar Rp 11.000 per porsi semua makanan bertahan menggunakan rempah-rempah untuk menyedapkan makanan.  
    Dari kisah Turinem, pada awal berdirinya warung peninggalan suaminya itu terletak di kawasan Stasiun Kereta Api (KA) Gombong. Karena terkena gusuran, sekitar tahun 1993 tongseng dijual secara keliling. Jualan keliling itu bertahan sekitar dua tahun, sampai akhirnya sekitar tahun 1995 menempati pinggir jalan menuju stasiun.
     Meski tergolong lama, warung tersebut masih belum memiliki warung permanen. "Pernah mendirikan warung permanen, tapi karena letaknya kurang strategis, tidak bertahan lama," katanya mengaku dalam sehari, rata-rata ia menghabiskan satu ekor kambing.
    Pelanggan merupakan orang di Gombong. Ada pula yang berasal Kebumen dan Purwokerto."Selain makan di tempat kami juga melayani pesanan dalam jumlah banyak," katanya promosi. ***

Sate Ambal "Pak Kasman"

Foto: Ondo Supriyanto
KABUPATEN Kebumen memiliki banyak potensi yang luar biasa termasuk dalam bidang kuliner. Satu di antaranya yang telah melegenda adalah sate khas Ambal. Keunikan pengolahan, bumbu dan citra rasa satenya yang khas membuat Sate Ambal memperkaya khazanah kuliner di Nusantara.
     Sate Ambal yang diwariskan secara turun temurun itu saat ini telah menjadi identitas kuliner Kebumen. Generasi penjual sate ambal  sate ambal yang masih hidup saat ini ialah Kasman (70). Pengetahuannya membuat sate Kasman diperoleh dari ayahnya bernama Pak Sabar. Sedangkan Pak Sabar yang juga penjual sate belajar orangtuanya bernama Samikin juga merupakan tokoh Sate Ambal. 
    Pak Kasman merupakan generasi ketiga dari tokoh sate Ambal. Tradisi berjualan sate khas Ambal itu juga dilanjutkan oleh kelima anak Pak Kasman. Mereka membuka warung sate di sepanjang jalan Daendels di Desa Ambalresmi, Kecamatan Ambal.
    Jika Anda melintas di Jalan Daendels, aroma asap pembakaran daging ayam mudah tercium saat melintas di Desa Ambalresmi. Selain itu dengan mudah akan menjumpai papan nama warung sate yang terpampang di pinggir jalan. Dua hal itu menjadi semacam penanda bahwa Desa Ambalremi merupakan desa  sate.
    Kebesaran nama Kasman memang menjadi magnet tersendiri. Tidak hak heran jika papan nama warung sate anak-anaknya masih mencantumkan nama Pak Kasman, sebagai pewaris tradisi pembuatan sate ayam Ambal. Di warung sate Bu Klendet misalnya juga masih mencantumkan nama Pak Kasman di papan namanya. Bu Klendet merupakan anak kedua dari lima bersaudara penerus tradisi sate Pak Kasman.
    "Hingga saat ini, kami terus menjaga agar citra rasa Sate Ambal tidak berubah," ujar Bu Klendet di warungnya.
    Ya, sate ayam khas Ambal, selain cita rasanya khas juga unik karena bumbunya menggunakan tempe kedelai dan gula jawa sebagai campuran. Bumbu yang digunakan adalah cabe merah, ketumbar, kemiri, bawang,  merica dan gula merah. Bumbu-bumbu tersebut diuleg sampai halus. Ini tentu berbeda dari sambal sate pada umumnya yang memakai kecap atau bumbu kacang tanah.
    Sate ayam kebanyakan menggunakan daging ayam broiler yang diambil bagian dadanya saja. Maklum harga ayam kampung sangat tinggi. Setelah direbus setengah matang, daging ayam ditumbuk pelan-pelan hingga pipih dan terasa empuk. Potongan daging ayam kemudian dikulet dengan rebusan gula merah yang selanjutnya daging ayam dimasukan ke dalam tusukan sate.
    Penyajiannya sate ambal biasanya dengan ketupat. Namun banyak pedagang yang pragmatis yakni menggantinya dengan lontong bungkus plastik. Penyajian bumbu juga unik yakni tidak ditaburkan di atas sate, melainkan ditempatkan di mangkuk secara terpisah.
    Karena kekhasan dan keunikan itulah, Megawati Soekarnoputri saat masih menjabat sebagai presiden menyempatkan mencicipi Sate Ambal. Tidak terkecuali, para pejabat tingkat provinsi hingga kabupaten selalu singgah untuk merasakan kekhasan Sate Ambal.
    Berbeda dari sate ayam madura yang disajikan sekitar 10 tusuk per porsi, Sate Ambal menyajikannya cukup banyak mencapai 20 tusuk sate per porsi. Irisan daging ayam yang jauh lebih besar dibanding irisan daging ayam Sate Madura. Satu porsi sate Ambal harganya kisaran Rp 16.000. Jika terlalu banyak, pembeli juga bisa memesan setengah porsi alias 10 tusuk saja.
     Bu Klendet  yang mulai mengajarkan berjualan sate anaknya, mengaku dalam sehari, rata-rata bisa memotong sekitar 50 ekor ayam. Bahkan saat hari raya Idul Fitri dia bisa memotong ratusan ayam dalam sehari. Maklum selama liburan Lebaran, Jalan Daendels menjadi jalur mudik alternatif. Dengan demikian banyak pemudik yang melintas dan singgah untuk nyate  sekaligus melepas lelah.***

Soto Bebek Pak Kenthung's

Sejumlah mangkok soto bebek Pak Kenthung's
siap dihidangkan. Foto: Ondo Supriyanto
LAZIMNYA masakan soto memakai daging sapi, kerbau, atau ayam. Namun di Gombong, sebuah warung soto yang diberi nama Kedai Pak Kenthung's menawarkan menu soto unik yang memakai daging bebek.
    Tak sekadar berbeda pada suwiran daging bebeknya, soto bebek di warung yang terletak di Jalan Gereja No 99 Gombong persisnya sekitar 100 meter sebelah selatan objek wisata Benteng Van der Wijck Gombong itu juga sangat unik. Edi Kurniawan (38) pemilik kedai itu membuat sotonya dengan cara memadukan antara soto khas Sokaraja dan soto khas Gombong.
    Selain kuahnya yang buket dari bumbu-bumbu seperti mucang, kacang tanah, rasanya juga gurih dengan kuah kaldu khas soto Sokaraja. Aroma rempah-rempah yang menjadi bumbu utama menjadikan soto bebek tersebut menggoda selera.
    Sebagai penanda ciri khas soto Gombong adalah dilengkapi dengan bergedel yang terbuat dari gethuk goreng. Perkedel yang menjadi pelengkap soto tidak terbuat dari kentang, melainkan dari ketela. Ketela yang dikupas dan dikukus sampai matang, lalu ditumbuk dan diberi bumbu garam dan bawang goreng. Selanjutnya gethuk tersebut dikepal-kepal dan digoreng lalu siap disajikan.
    Mirip dengan Soto Petanahan, soto bebek tersebut juga bisa dimakan dengan campuran nasi atau ketupat. "Respon masyarakat cukup bagus dengan adanya soto bebek. Namun begitu kami juga menyediakan alternatif daging ayam," ujar Edi Kurniawan yang akrab  disapa kenthung karena sosoknya yang gemuk itu.
    Tidak hanya soto bebek, yang menarik di kedai yang buka mulai akhir Desember 2010 ini adalah soto cekernya. Tambahan ceker yang dimasak rica-rica, membuat soto ceker menjadi klangenan tersendiri. Apalagi harga yang ditawarkan cukup terjangkau yakni Rp 5.000 per porsi.
    "Intinya, kedai saya ini semua serba bebek. Sekarang saya juga sedang memperkenalkan rica-rica bebek spesial," imbuhnya seraya menyebutkan rica-rica bebek ditawarkan dengan harga Rp 7.5000/porsi.
    Juniadi (35) pengunjung asal Kebumen mengaku senang dengan soto bebek dan ceker tersebut. Menurut dia selain rasanya yang lezat, harga yang ditawarkan juga sangat terjangkau. Setelah mencoba, dia juga tertarik dengan rica-rica bebeknya.
    "Unik saja, kebetulan saya juga senang dengan daging bebek," ujarnya.***

Lotek Pak Dikun

Pembeli menikmati lotek "Pak Dikun" 
Jalan A Yani Kebumen.
JIKA bingung mencari menu makan, lotek bisa menjadi menu pilihan. Di Kebumen terdapat banyak warung yang menjual makanan berbahan sayur-sayuran itu. Salah satu yang paling terkenal adalah warung rujak dan lotek Pak Dikun di pinggir jalan A Yani Kebumen.
    Meski sederhana, warung yang terletak berseberangan dengan toko mebel Jepara Indah itu selalu dipadati pengunjung. Tidak heran banyak sepeda motor atau mobil yang parkir di depan warung yang berdiri sejak tahun 1992 itu. Pembeli paling banyak biasanya pada saat jam-jam makan siang.
    "Rasanya memang nendang banget. Pedasnya terasa pas," ujar salah satu pelanggan, Bambang Susatyahadi.
    Ya, berbagai kalangan menjadi pelanggan setia warung tersebut. Mulai dari pegawai Pemkab Kebumen, karyawan bank, pegawai pengadilan, guru, dan para pedagang. Banyak pula pejabat yang tidak canggung mampir di warung tersebut. Bahkan Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih saat masih menjabat Bupati Kebumen pernah ngelotek di warung tersebut.
    Apa yang istimewa dari lotek Pak Dikun sehingga membuat banyak pelanggan ketagihan?  Menurut Sodikun (53) si penjual yang asli Desa Candimulyo, Kecamatan Kota itu tidak ada bumbu yang spesial di dalam lotek buatannya. Hanya saja seluruh bahan memang pilihan. Seperti kangkung, kacang, toge, labu jipang, ketimun tidak sembarang dia beli.
    "Saya tidak mau beli asal murah, tapi memastikan bahannya benar-benar bagus," ujar Sodikun (53) sembari menunjukkan  bahan-bahan untuk lotek dan rujaknya.
    Begitu juga bumbu-bumbu seperti kacang tanah, mula merah, cabe, juga memakai bahan pilihan. Termasuk bahan pelengkap seperti bawang goreng dan kerupuk. Khusus kerupuk dia membeli mentah dan digoreng sendiri. Sedangkan lontong tidak diproduksi sendiri melainkan membeli di pembuat ketupat langganan.
    Sodikun mengaku, awal-awal berjualan dia sempat mengeluh karena belum dikenal. Namun sedikit demi sedikit makin banyak pengunjung yang datang dengan membawa teman. Saat ini, dalam sehari, pria didampingi istrinya Khotimah itu mampu menghabiskan 5-10 kg gula merah dan 7 kg kacang tanah.
    "Kadang ada yang pesan secara rombongan," ujarnya seraya menyebutkan satu porsi lotek dipatok harga Rp 7.000 sedangkan satu porsi rujak Rp 6.000.
    Dengan kekhasan loteknya, menurut bapak dua anak itu, banyak orang yang meminta resep lotek darinya. Dia pun tidak segan  membagikannya. "Meski sama bumbunya, jika dibuat oleh orang yang berbeda  maka beda pula rasanya.  Misalnya, meski sekarang saya sudah dibantu oleh keponakan, masih ada pengunjung yang hanya mau dibuatkan saya sendiri," tandasnya.***

Soto Pak Kun

Inilah soto Pak Kun Kebumen. Foto: Ondo Supriyanto
KULINER terus berkembang seiring dengan kreatifitas manusia. Begitu kesimpulan setelah merasakan soto di warung soto Pak Kun di Jalan Arungbinang No 11 persisnya di depan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kebumen, Jumat (29/4).
Saat dihidangkan, sekilas soto tersebut mirip soto semarang. Bening dengan sayur taoge dan soun. Namun setelah merasakannya, soto yang dihidangkan dengan nasi itu tidak seperti Soto Semarang. Tidak menonjolkan bawang putih juga tidak ada taburan bawang putih sebagai ciri khasnya.
Uniknya, kuah soto ayam tersebut ada karinya. Selain itu, ada tambahan sayur kobis. Selain rasa kari yang cukup menonjol, rasanya juga sangat gurih. Aroma rempah-rempah terasa yang sehingga menggugah selera.
    "Rempahnya terasa banget. Tapi enak, rasanya juga unik," Ariningsih, seorang pembeli menyampaikan testimoninya.
            Menurut pemiliknya Fajar Kuncoro (35), soto tersebut merupakan hasil modifikasi dari berbagai jenis soto di Nusantara. Dia sengaja berkreasi menciptakan citra rasa soto yang berbeda.
Bukan itu saja, bumbu halus soto buatan pria yang juga berprofesi sebagai programer di salah satu radio di Kebumen itu kaya dengan rempah-rempah. Setidaknya ada delapan jenis seperti kapulaga, kunyit, mrica, kemiri, cengkih, kayu manis, serei dan daun jeruk.
"Semua bumbu halus matengnya sempurna, sehingga rasanya juga diharapkan sempurna," ujar Fajar Kuncoro di sela-sela melayani pembeli.
Seorang pengunjung menikmati soto ayam Pak Kun
Foto: Ondo Supriyanto.
Setelah merasakan satu porsi, saya bias mengatakan soto tersebut perpaduan antara soto semarang dengan coto makasar. Namun saat menemukan terdapat risan kobis itu mengingatkan pada soto lamongan.
    Istimewanya lagi, di warung sederhana yang cukup bersih itu juga dilengkapi jaringan internet nirkabel (hot spot). Tak heran jika ada pembeli yang menikmati soto sambil menyalakan laptop.
             Harganya pun dijamin tidak membuat kantong bolong karena hanya Rp 6.000 per porsi. Jika kurang lengkap,  pembeli bisa memilih berbagai makanan lain seperti tempe goreng kering, gorengan atau jeroan. Warung soto yang juga menyediakan menu pecel mediun dan nasi rames itu buka mulai pukul 06.30 hingga 15.00.
    "Untuk hari minggu kita tutup. Tapi rencananya akan jualan di Alun-alun Kebumen," ujar pria bernama udara Andi tersebut.****

Friday, March 25, 2011

Gurami Bumbu Rujak

Gurami bumbu rujak di Hu-Hah Resto. Foto: Ondo Supriyanto
BOSAN olahan gurami yang disajikan dalam menu goreng, bakar atau asam manis. Anda sebaiknya datang ke Hu-Hah Resto di bilangan Seturan, Depok, Sleman. Berbagai menu gurami yang berfariasi ditawarkan di restoran yang berada di Jalan Melon No 2 atau sekitar 200 meter selatan Selokan Mataram itu.
    Ya, Hu-Hah Resto memiliki menu andalan Gurami dengan olahan bumbu rujak. Selain asam manis dan pedas, menu berbumbu rujak yang segar menjadi kelebihan menu di restoran milik Margaretha Melisa. Melisa, penggilan akrabnya, adalah pengusaha muda yang masih berstatus mahasiswa.
    Menu spesial bumbu rujak itu tidak hanya untuk gurami saja. Ayam maupun seafood bumbu rusak juga menjadi favorit pengunjung. Bagi maniak rasa pedas, dapat dilayani dengan pedas yang nendang. Saat dihidangkan, gurami bumbu rusak makin menggugah selera karena dilengkapi bermacam buah dalam olahan bumbu rujak.
    Itu barangkali yang membuat sajian di restoran yang buka sejak 7 Februari 2011 itu menjadi lebih segar dan nikmat sekaligus menyehatkan. Pengunjung tak perlu buah-buahan segar sebagai makanan penutup karena sudah tersaji bersama menu utama.
    Soal harga, jangan takut membuat kantong bolong. Untuk ukuran restoran yang nyaman itu, harganya sangbat terjangkau termasuk bagi para mahasiswa. Gurami bumbu rujak Rp 22.500 yang bisa dimakan oleh dua orang. Ayam bumbu rujak Rp 10.000, udang atau cumi bumbu rujak hanya dihargai Rp 12.500/porsi. Murah bukan?
    "Segmen yang kami bidik adalah keluarga dan mahasiswa serta masyarakat lain yang ingin menikmati hidangan mewah dengan harga murah," ujar Margaretha Melisa, kemarin.
   Tak hanya itu, di restoran buka mulai pukul 10.00-22.00 WIB itu juga menyajikan sejumlah menu andalan lain. Yakni serba kremes untuk menu bebek, ayam, udang, cumi, dan gurami. Jika menu kremes lainnya menggunakan tepung sebagai bumbu kremes, di Hu-Hah Resto memakai bumbunya sebagai kremes. Dengan demikian, rasa bumbu kremesnya sangat kuat.
    Sedangkan untuk paket hemat, restoran ini menawarkan lima macam paket mulai harga Rp 10.000 hingga Rp 14.500. Berbagai sajian minuman seperti jahe rempah, beras kencur, gula asam dan aneka minuman panas dan dingin ditawarkan dengan harga mulai dari Rp 3.000. Bermacam sayuran, mie, nasi goreng, aneka sup, wader dan snack untuk melengkapi sajian di restoran.
    "Kami juga menerima layanan pesan antar di nomor 0274-6559700," imbuh Supervisor Hu-Hah Resto, Rizwar Rizz.***

Monday, February 28, 2011

skizofrenia

Wartono (18) sudah sekitar tiga bulan ini hidup dalam pasungan di rumah orangtuanya di Desa Kebagoran, Kecamatan Pejagoan, Kebumen. Foto Ondo Supriyanto.
PEMUDA bertelanjang dada itu jongkok di ruang paling belakang rumah orang tuanya di Dusun Klantang, Desa Kebagoran, Kecamatan Pejagoan, Kebumen, Sabtu (26/2) pekan lalu. Dia terdiam, matanya menerawang kosong, dan kedua tangannya terikat rantai besi yang menyambung mengalungi leher. Ujung rantai yang dilengkapi beberapa gembok tertambat pada kusen yang tak berpintu.
    Pemuda 18 tahun itu bernama Wartono. Sekitar dua tahun lalu Tono sapaannya, mengalami gangguan jiwa berat atau skizofrenia. Tidak diketahui pasti penyebabnya. Sejak tiga bulan lalu, tamatan Sekolah Dasar yang gagal melanjutkan ke SMP itu hidup bergelang dan kalung rantai. Tragisnya, akibat rantai yang mengikatnya terlalui pendek, Tono tidak bisa berdiri. Dia hanya bisa jongkok dengan belenggu rantai di lengan dan lehernya.
    "Sebenarnya kami tidak tega. Tapi jika tidak dirantai dia mengamuk dan merusak seluruh isi rumah,"  kata Kawi (50) ibu kandung Wartono dengan mata berkaca-kaca.
    Kawi menuturkan, keluarga sesungguhnya sudah berikhtiar mengobati anak bungsu dari  delapan saudara itu. Tono pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Magelang selama empat bulan. Kondisinya sempat membaik sebelum kembali memburuk. Kedua kalinya keluarga kembali membawa ke RSJ  dengan membawa sepeda motor.  Perjalanan Kebumen-Magelang lancar.  Hanya ketika ditinggal Muhadi (63)  bapaknya mendaftar di loket, Tono tiba-tiba kabur membawa sepeda motor milik kakaknya.
    "Selama lima hari dia hilang  bersama sepeda motornya dan ditemukan berada di Gunungkidul," ujar  Suratman (39) kakak sulung Tono yang pada waktu itu menyusul ke Gunungkidul.
    Mendengar penuturan Kawi dan Suratman sebenarnya, alasan mendasar tidak dikembalikan Tono ke rumah sakit jiwa karena faktor biaya. Maklum telah banyak harta benda dihabiskan untuk biaya pengobatan selama ini. Selama ini biaya dibantu oleh kakaknya yang sebagian bekerja menjadi pembantu rumah tangga di Jakarta. Akibat keputusasaan itu Tono dibiarkan tanpa pengobatan.
    "Harapannya bisa sehat seperti dulu, tapi kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa," imbuhnya sembari mengusap air mata.
    Sebelum sakit, Tono adalah anak yang baik. Dia rajin membantu mencari rumput untuk pakan sapi.  Namun, perilakunya mulai berubah sejak tidak kesampaian masuk SMP.  Dia jadi pendiam dan jarang bergaul. Keluarga mencoba memasukkan dia ke kejar paket.  Kakaknya bahkan membelikan baju seragam dan buku. Semua itu ditolaknya.
    "Dia sempat merantau ke Jakarta namun hanya bertahan tiga minggu saja. Pulang ke rumah dia makin berperilaku aneh," katanya sembari menyebutkan Tono juga sempat ikut grub kuda kepang.
    Kepala Puskesmas Pejagoan dr Agus Sapariyanto ketika mengunjungi Wartono di rumahnya berjanji akan mengusahakan agar pasien mendapat pengobatan yang layak di RSJ Magelang. "Soal pembiayaan kami mencari solusi sehingga meringankan beban keluarga," imbuhnya.
    Melihat kondisi itu, Agus mengaku prihatin. Menurut dia, pendekatan medis harus diutamakan karena seperti sakit fisik lainnya, gangguan jiwa skizofrenia merupakan gangguan kesehatan. Selama ini stigma sakit jiwa yang dilekatkan kepada pasien membuat keluarga malu dan cenderung tertutup. "Belum lagi keluarga menganggap bahwa pasien jiwa sudah tidak punya harapan bisa sembuh," katanya.
    Untuk itulah Agus Sapariyanto mengusulkan adanya penambahan bangsal khusus penyakit jiwa di RSUD Kebumen. Juga penambahan dokter spesialis jiwa karena saat ini pelayanan selama ini hanya dua kali seminggu. "Jika bisa ditangani di Kebumen, selain lebih dekat dan biaya lebih murah, mereka juga bisa lebih terpantau," tandasnya.
    Gangguan jiwa berat memang sering membuat keluarga pasien terjun dalam jurang keputusasaan. Mengingat terapi yang lambat, harus dalam jangka waktu lama serta terus menerus cenderung mendekatkan keluarga pasien ke jurang kemiskinan. Akhirnya tidak sedikit pasien yang dibiarkan tanpa pengobatan bahkan dipasung karena dianggap membahayakan lingkungan.
    Padahal memasung tidak hanya secara fisik seperti membelenggu tangan dan kaki. Memutus hubungan dengan dunia luar juga akan memperparah kondisi. Merujuk Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1966 tentang Kesehatan Jiwa memasung merupakan pelanggaran hukum. Surat Menteri Dalam Negeri 11 November 1977 juga memerintahkan semua kepala daerah agar melarang warga memasung penderita gangguan jiwa. Pemerintah pun mencanangkan "Menuju Indonesia Bebas Pasung 2014".
    Merujuk data Kementerian Sosial, sedikitnya 36.000 warga di berbagai daerah di Indonesia hidup dalam pasungan karena dikhawatirkan membahayakan keselamatan orang lain. Di luar itu ada sekitar 650.000 orang mengalami gangguan jiwa berat karena tekanan hidup. Di Kebumen, khusus di Kecamatan Pejagoan hanya sekitar 80 orang yang mengalami gangguan jiwa ringan hingga berat. Mereka tersebar di 13 desa dengan rata-rata terdapat tiga hingga delapan warga dalam satu desa. Tertinggi di Desa Pejagoan dan Watulawang satu desa terdapat delapan warga yang terkena gangguan jiwa.
    Di sisi lain, kurangnya pengetahuan keluarga dan kemiskinan menjadi salah satu kendala penanganan pasien. Seperti dialami oleh Daryatin (33) juga warga Desa Kebagoran yang mengalami gangguan jiwa ringan. Bukan diobati, oleh keluarganya dia justru dirantai selama delapan bulan di pekarangan. Padahal dia bisa disembuhkan dengan penanganan yang benar.
    "Terbukti, setelah mendapatkan penanganan, sekarang dia sudah dinyatakan sembuh," imbuh Agus Sapariyanto seraya menyebutkan dalam waktu dekat ini pihaknya mengundang pihak keluarga untuk diberikan pengarahan.***

Tuesday, February 1, 2011

Kelenteng Kong Hwie Kiong

Kelenteng Kong Hwie Kiong
BAGI masyarakat keturunan Tionghoa, Kelenteng bukan hanya sekadar dijadikan sebagai tempat sembahyang. Selain fungsi keagamaan, Kelengteng juga mempunyai fungsi sosial. Bangunan khas arsitektur Tiongkok itu ternyata menjadi sebuah penanda adanya eksisistensi warga keturunan Tionghoa.
    "Secara sosial kelenteng juga berfungsi sebagai pemersatu dan mempererat persaudaraan  antara warga Tionghoa," ungkap Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kebumen Handoko Tan.
   

Di Kebumen terdapat Kelenteng yang cukup tua yakni kelenteng Kong Hwie Kiong. Hingga kini kelenteng itu sudah berumur sekitar 113 tahun. Diyakini, bangunan yang berada di tengah kota tersebut didirikan pada tahun 1898 oleh Liem Ke Gwon seorang letnan keturunan Tionghoa.
    Namun seiring berjalannya waktu dan perang  yang melanda negeri, bangunan kelenteng mengalami kerusakan. Ditinggal mengungsi warga keturunan Tionghoa, mengakibatkan  bangunan itu tidak terurus. Bahkan sejumlah bagian runtuh kecuali beberapa tembok yang masih bertahan hingga sekarang.
   
Pada tahun 1969, oleh salah satu tokoh Tionghoa Kebumen, Lie Nyien Fong, kelenteng tersebut dipugar dan masih kokoh berdiri hingga saat ini. Setidaknya tiga umat beragama yakni Budha, Konghucu, dan Taoisme sembahyang di tempat itu sehingga tempat itu biasa disebut sebagai tempat ibadah Tri Dharma.
    "Kelenteng juga menjadi wujud kerukunan antar umat," imbuh Su I Sye sesepuh di kelenteng Kong Hwie Kiong. Ia menyebutkan kendati berbeda kepercayaan namun warga tetap beribadah di tempat yang sama.   
Pintu masuk Kelenteng
  
  Kelenteng Kong Hwie Kiong memiliki sekitar 15 altar. Adapun dewa yang menjadi tuan rumah di keleteng itu adalah Thien Sang Sing Bo atau dewa laut. Sebagaimana warga Tionghoa yang tinggal di daerah pesisir banyak yang memuja dewa itu. Sementara bagi mereka yang ringgal daerah pertanian,  yang mengandalkan dari hasil pertanian, banyak yang memuja dewa umi atau Hok Tek Ceng Sin.
    "Kebumen kan dekat laut dan banyak masyarakat yang mencari makan dari hasil laut," kata Su I Sye.
    Sebagai kaum minoritas, tak dapat dipungkiri banyak hal yang harus dihadapi oleh warga keturunan Tionghoa. Terlebih pada saat era orde baru yang sekian lama berkuasa, begitu ketat dalam membatasi aktivitas warga keturunan Tionghoa. Sejumlah perayaan pun tak dapat bebas seperti saat ini.
    Bersyukur, sekarang semua sudah terbuka. Bahkan perayaan Imlek pun ditetapkan oleh pemerintah RI sebagai hari libur nasional. Budaya Tionghoa pun sudah menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia.***

Kelenteng memiliki fungsi sosial, yakni mempererat persaudaraan warga keturuan Tionghoa yang berbeda agama dan keyakinan.