About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Friday, April 29, 2011

Steak Hiu Pantai Selatan

Steak Hiu Viva's Cafe & Resto. Foto Ondo Supriyanto
BOLEH jadi ikan hiu merupakan salah satu predator terkejam di lautan. Namun di daratan, terlepas dari segala kontroversinya, ikan ini menjadi santapan lezat bagi manusia. Nah, di sudut Kota Gombong, Kebumen terdapat sebuah kedai bernama Viva's Cafe & Resto yang menyajikan berbagai menu berbahan daging hiu. Salah satunya adalah steak hiu laut selatan.
    Berbagai varian steak hiu disediakan rumah makan ini. Antara lain steak hiu dengan sauce marinara, black pepper sauce, maupun dengan sauce tiram. Benar-benar menggoda saat steak hiu dihidangkan dengan tambahan sayuran segar dan buah stroberi. Selain tekstur dagingnya halus dan lembut, rasanya juga luar biasa melebihi steak ikan salmon maupun tuna.
    Oleh chef Edi Kurniawan (38) daging ikan hiu yang memiliki bau amisnya menyengat itu disulap dan diolah menjadi steak yang lezat. Steak hiu yang diolah dengan campuran sauce marinara sangat menggugah selera. Karena rasanya yang ekstrim dan sensasi manis, asam dan pedas jenis ini sangat disukai konsumen.
    "Tidak mudah membuat steak hiu, karena sifat dagingnya yang sangat lembut. Jika dipanggang biasa, daging itu akan hancur dan kalau disajikan tentu saja bentuknya tidak sedap dipandang," ujar Edi yang mengaku belajar resep ini dari orang Rusia saat masih bekerja di kapal tanker.
Tiger Shark
    Adapun proses awal memasaknya, dipilih ikan hiu jenis tiger shark berumur tiga sampai lima bulan dengan berat 4 sampai 5 kilogram. Daging hiu ini diperoleh dari para nelayan di sejumlah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di sepanjang pantai selatan di Kecamatan Ayah. Untuk itulah steak ini dinamakan steak hiu laut selatan.
    Setelah diiris daging dipisahkan dari kulitnya kemudian dicuci bersih. Untuk menghilangkan bau amis sebelum dibakar terlebih dahulu daging dilumuri bumbu campuran dari saos tiram, kecap Inggris, bawang bombay, jahe, merica, jeruk nipis dan susu. Sedangkan untuk sauce cukup campurkan bawang putih bawang bombay, cabe, dan mayonaise. Tambahkan stroberi untuk lebih menguatkan rasa asam.
    "Setelah daging dibakar hingga kuning kecoklatan steak hiu pun siap dihidangkan," imbuhnya.
    Erna Haryanti, pemilik kedai tersebut mengatakan, pihaknya sengaja menawarkan menu baru yang biasanya hanya ditemukan di kota-kota besar. Dengan memanfaatkan hasil tangkapan para nelayan pesisir Ayah dirinya coba memberikan hidangan yang banyak mengandung protein. Meski harga perekor hiu saat ini terbilang mahal.
    Namun jangan khawatir, dengan hanya merogoh kocek Rp 17.000 Anda sudah dapat menikmati sensasi satu porsi steak ikan hiu. Steak hiu juga dipercaya dapat meningkatkan vitalitas dan mampu menghangatkan suhu tubuh. Karena daging hiu memiliki kandungan asam folat yang tinggi. Asam folat atau yang dikenal sebagai Vitamin B9 ini diperlukan oleh anak-anak dan orang dewasa untuk memproduksi sel darah merah dan mencegah anemia.
    "Saat cuaca ekstrim seperti saat ini, perlu daya tahan tubuh yang kuat untuk menangkal berbagai jenis penyakit," tandasnya.***

Rindu Serabi Kebumen


Penjual serabi di Jalan Kutoarjo Kebumen
Foto Ondo Supriyanto
"GUE orang Kebumen asli. Cuman sekarang ini lagi di Malaysia. Meskipun di Malaysia tapi masih ingat dengan Kebumen apalagi dengan jajanan Kebumen. Di sini nggak ada soto, bakso, mie ayam, serabi, apalagi sate dan emping khas ambal. Win kangen dengan semua masakan Kebumen."
Demikian tulisan Winarni warga asal Kebumen dalam sebuah situs tentang makanan. Dalam tulisan itu terlihat begitu besarnya kerinduannya terhadap makan khas daerah asalnya.
Ya, saat berada jauh di negeri orang, selain keluarga dan sanak famili, makanan kadang kala menjadi pengikat masyarakat pada tempat asalnya. "Di sini adanya roti canai, nasi lemak, mie tomyam, kuetyaw, muruku India punya," imbuhnya.
Winarni barangkali hanya mewakili kerinduan orang perantauan terhadap kuliner kampung halamannya. Masih banyak orang yang menyimpan kerinduan pada makanan daerah asalnya. Mafhum jika sejumlah makanan khas itu kini tidak dijual luar daerahnya. Barangkali itu untuk memenuhi kerinduan itu.
Boleh jadi saat tinggal di Kebumen Winarni tidak menjadikan makanan khas itu sebagai sesuatu yang istimewa. Kesadaran itu muncul  ketika dia sudah tidak lagi dapat merasakannya. Mungkin rasa kangen itu terobati kalau ada orang Kebumen menjual serabi dan sate ambal di Malaysia.
Dalam kondisi yang demikian, makanan bukan hanya sekadar dipandang sebagai hal yang enak dan tidak enak. Sebab ada romantisme yang membungkus makanan itu sehingga apapun rasanya  menjadi enak. Serabi misalnya, yang hanya dijual pada saat pagi buta tentu saja banyak yang memiliki kenangan dengan makanan itu.
Nurul (27) misalnya, selalu teringat pada saat ia masih sekolah. Setiap hari Minggu ia bersama kakanya lari pagi dan saat pulang selalu tidak  lupa membeli serabi. Saat kuliah dan bekerja di luar kota, saat pulang pun ia selalu menyempatkan membeli serabi.
“Meski tak seenak serabi Solo, saya lebih suka membeli serabi Kebumen," kata warga Pejagoan yang bekerja di Surabaya itu.
Serabi Solo memang  cukup terkenal salah satunya "Serabi Notosuman". Banyak pendatang yang membeli untuk dijadikan oleh-oleh. Rasanya gurih yang khas yang berasal dari santan kelapa. Ada pula yang menjualnya dengan sedikit modifikasi dengan taburan butiran cokelat pada bagian atasnya.
Masih Sederhana
Sementara serabi Kebumen  masih sangat sederhana. Seperti yang dijual Siti Ngakidah (36) di Jalan Kutoarjo persisnya di depan studio  Ratih TV. Warga Kelurahan Panjer itu setiap hari sejak pukul 03.30 sampai 08.30 berjualan serabi. Selama ini dia hanya menjual dua macam yakni serabi gurih dan serabi manis.
"Kalau serabi manis itu dikasih taburan gula jawa," katanya menerangkan.
Dalam sehari biasa dia menghabiskan sebanyak 3,5 kg tepung beras. Namun pada hari Minggu permintaan meningkat sehingga bisa menghabiskan 4-4,5 kg. "Kalau hari minggu banyak yang lari-lari, lalu pulangnya membeli serabi," imbuh Khatimah (60) ibu Idah, panggilan Siti Ngakidah yang membantu berjualan serabi.
Ada lagi penjual serabi yang banyak diminati antara lain serabi Yu Inem yang dijual di perempatan Kuwarisan Panjer dan di sebelah perlintasan kereta api. Pada umumnya penjual serabi berjualan pada pagi subuh sampai setengah tujuh.
Memang di Kebumen, serabi masih dijual dengan sangat sederhana. Padahal jika ada sentuhan lain, baik berupa modivikasi dengan campuran bahan makanan lain, serabi Kebumen  bukan hanya ngangeni orang asli kota itu, melainkan menjadi klangenan siapapun yang pernah merasai.
Tidak mustahil jika serabi Kebumen menjadi aset wisata kuliner melengkapi sejumlah makanan khas yang ada. Boleh jadi saat Winarni atau siapa pun pulang ke Kebumen menjadi bangga, karena makanan khas daerahnya tidak kalah dengan daerah maupun negara lain. Siapa tahu. ***

Tongseng Pak Mulyorejo

Pembeli menyantap tongseng Pak Mulyorejo. 
Foto: Ondo Supriyanto
BAGI mereka yang mempunyai makanan favorit berupa tongseng, tentu tidak sulit untuk mendapatkannya. Sebab, hampir pasti di setiap warung sate kambing menjual makanan daging kambing berkuah itu. Namun begitu, tidak mudah mendapati penjual tongseng yang tanpa menggunakan penyedap rasa kimia.
    Di Gombong terdapat sebuah warung tongseng yang benar-benar bebas dari Mono Sodium Glutamate (MSG). Warung tongseng Pak Mulyorejo namanya. Warung kaki lima yang berada di Jalan Stasiun Gombong itu, sudah sekitar 58 tahun bertahan menjual menu tersebut tanpa penyedap rasa.
    Warung tongseng di sebelah barat Kantor Pegadaian Gombong tersebut memang tidak hanya sederhana. Melihat keadaannya layak jika warung itu dikatakan seadaanya. Tapi jangan salah, soal rasa, jangan ditanya. Nendang banget alias mak nyus, begitu barangkali dalam bahasa Bondan Winarno, sipembawa acara Wisata Kuliner di salah satu stasiun televisi swasta yang terkenal itu.
    Racikan rempah-rempah seperti manis jangan, kayu manis, jinten, mesoyi, kapulaga, cengkeh, cabe, mrica, tumbar dan pala menjadikan bumbu sangat kental. Ditambah dengan bawang merah bawang putih, serai, kunir, jahe, kencur, dan garam melengkapi aroma yang menggoda.
    Tidak cukup itu, sehingga tongseng Pak Mulyorejo bisa dikategorikan sebagai tongseng yang istimewa. Cara memasak tongseng itu tidak menggunakan kompor melainkan masih bertahan menggunakan arang. Selain itu, tempat memasak daging juga masih menggunakan kuali dari tanah.
    "Beda rasanya makanan yang dimasak memakai arang dengan menggunakan minyak," kata Turinem (51) istri sambungan Mulyorejo.
Rasa Yogya
    Mencoba mencicipi tongseng non mecin itu, ternyata beda dengan tongseng yang dijual sejumlah warung. Sebab rasa lebih didominasi dengan manis. "Suami saya memang orang Yogya, makanya rasa manis cukup menonjol," katanya Turinem.
    Turinem (51) kini menjadi pewaris tongseng Mulyorejo suaminya yang sudah meninggal sejak 28 April lalu pada usia 85 tahun. Warga Desa Jatinegoro Sempor yang tinggal di Gang Wonosari Kelurahan Wonokriyo itu pun bertekat bertahan dengan resep suaminya tanpa menggunakan bahan kimia untuk melezatkan makanannya.
    Selain tongseng, makanan yang masih berbahan kambing juga ada di warung yang buka mulai pukul 09.00-21.00 juga menyediakan gule dan sate. Dengan harga sekitar Rp 11.000 per porsi semua makanan bertahan menggunakan rempah-rempah untuk menyedapkan makanan.  
    Dari kisah Turinem, pada awal berdirinya warung peninggalan suaminya itu terletak di kawasan Stasiun Kereta Api (KA) Gombong. Karena terkena gusuran, sekitar tahun 1993 tongseng dijual secara keliling. Jualan keliling itu bertahan sekitar dua tahun, sampai akhirnya sekitar tahun 1995 menempati pinggir jalan menuju stasiun.
     Meski tergolong lama, warung tersebut masih belum memiliki warung permanen. "Pernah mendirikan warung permanen, tapi karena letaknya kurang strategis, tidak bertahan lama," katanya mengaku dalam sehari, rata-rata ia menghabiskan satu ekor kambing.
    Pelanggan merupakan orang di Gombong. Ada pula yang berasal Kebumen dan Purwokerto."Selain makan di tempat kami juga melayani pesanan dalam jumlah banyak," katanya promosi. ***

Sate Ambal "Pak Kasman"

Foto: Ondo Supriyanto
KABUPATEN Kebumen memiliki banyak potensi yang luar biasa termasuk dalam bidang kuliner. Satu di antaranya yang telah melegenda adalah sate khas Ambal. Keunikan pengolahan, bumbu dan citra rasa satenya yang khas membuat Sate Ambal memperkaya khazanah kuliner di Nusantara.
     Sate Ambal yang diwariskan secara turun temurun itu saat ini telah menjadi identitas kuliner Kebumen. Generasi penjual sate ambal  sate ambal yang masih hidup saat ini ialah Kasman (70). Pengetahuannya membuat sate Kasman diperoleh dari ayahnya bernama Pak Sabar. Sedangkan Pak Sabar yang juga penjual sate belajar orangtuanya bernama Samikin juga merupakan tokoh Sate Ambal. 
    Pak Kasman merupakan generasi ketiga dari tokoh sate Ambal. Tradisi berjualan sate khas Ambal itu juga dilanjutkan oleh kelima anak Pak Kasman. Mereka membuka warung sate di sepanjang jalan Daendels di Desa Ambalresmi, Kecamatan Ambal.
    Jika Anda melintas di Jalan Daendels, aroma asap pembakaran daging ayam mudah tercium saat melintas di Desa Ambalresmi. Selain itu dengan mudah akan menjumpai papan nama warung sate yang terpampang di pinggir jalan. Dua hal itu menjadi semacam penanda bahwa Desa Ambalremi merupakan desa  sate.
    Kebesaran nama Kasman memang menjadi magnet tersendiri. Tidak hak heran jika papan nama warung sate anak-anaknya masih mencantumkan nama Pak Kasman, sebagai pewaris tradisi pembuatan sate ayam Ambal. Di warung sate Bu Klendet misalnya juga masih mencantumkan nama Pak Kasman di papan namanya. Bu Klendet merupakan anak kedua dari lima bersaudara penerus tradisi sate Pak Kasman.
    "Hingga saat ini, kami terus menjaga agar citra rasa Sate Ambal tidak berubah," ujar Bu Klendet di warungnya.
    Ya, sate ayam khas Ambal, selain cita rasanya khas juga unik karena bumbunya menggunakan tempe kedelai dan gula jawa sebagai campuran. Bumbu yang digunakan adalah cabe merah, ketumbar, kemiri, bawang,  merica dan gula merah. Bumbu-bumbu tersebut diuleg sampai halus. Ini tentu berbeda dari sambal sate pada umumnya yang memakai kecap atau bumbu kacang tanah.
    Sate ayam kebanyakan menggunakan daging ayam broiler yang diambil bagian dadanya saja. Maklum harga ayam kampung sangat tinggi. Setelah direbus setengah matang, daging ayam ditumbuk pelan-pelan hingga pipih dan terasa empuk. Potongan daging ayam kemudian dikulet dengan rebusan gula merah yang selanjutnya daging ayam dimasukan ke dalam tusukan sate.
    Penyajiannya sate ambal biasanya dengan ketupat. Namun banyak pedagang yang pragmatis yakni menggantinya dengan lontong bungkus plastik. Penyajian bumbu juga unik yakni tidak ditaburkan di atas sate, melainkan ditempatkan di mangkuk secara terpisah.
    Karena kekhasan dan keunikan itulah, Megawati Soekarnoputri saat masih menjabat sebagai presiden menyempatkan mencicipi Sate Ambal. Tidak terkecuali, para pejabat tingkat provinsi hingga kabupaten selalu singgah untuk merasakan kekhasan Sate Ambal.
    Berbeda dari sate ayam madura yang disajikan sekitar 10 tusuk per porsi, Sate Ambal menyajikannya cukup banyak mencapai 20 tusuk sate per porsi. Irisan daging ayam yang jauh lebih besar dibanding irisan daging ayam Sate Madura. Satu porsi sate Ambal harganya kisaran Rp 16.000. Jika terlalu banyak, pembeli juga bisa memesan setengah porsi alias 10 tusuk saja.
     Bu Klendet  yang mulai mengajarkan berjualan sate anaknya, mengaku dalam sehari, rata-rata bisa memotong sekitar 50 ekor ayam. Bahkan saat hari raya Idul Fitri dia bisa memotong ratusan ayam dalam sehari. Maklum selama liburan Lebaran, Jalan Daendels menjadi jalur mudik alternatif. Dengan demikian banyak pemudik yang melintas dan singgah untuk nyate  sekaligus melepas lelah.***

Soto Bebek Pak Kenthung's

Sejumlah mangkok soto bebek Pak Kenthung's
siap dihidangkan. Foto: Ondo Supriyanto
LAZIMNYA masakan soto memakai daging sapi, kerbau, atau ayam. Namun di Gombong, sebuah warung soto yang diberi nama Kedai Pak Kenthung's menawarkan menu soto unik yang memakai daging bebek.
    Tak sekadar berbeda pada suwiran daging bebeknya, soto bebek di warung yang terletak di Jalan Gereja No 99 Gombong persisnya sekitar 100 meter sebelah selatan objek wisata Benteng Van der Wijck Gombong itu juga sangat unik. Edi Kurniawan (38) pemilik kedai itu membuat sotonya dengan cara memadukan antara soto khas Sokaraja dan soto khas Gombong.
    Selain kuahnya yang buket dari bumbu-bumbu seperti mucang, kacang tanah, rasanya juga gurih dengan kuah kaldu khas soto Sokaraja. Aroma rempah-rempah yang menjadi bumbu utama menjadikan soto bebek tersebut menggoda selera.
    Sebagai penanda ciri khas soto Gombong adalah dilengkapi dengan bergedel yang terbuat dari gethuk goreng. Perkedel yang menjadi pelengkap soto tidak terbuat dari kentang, melainkan dari ketela. Ketela yang dikupas dan dikukus sampai matang, lalu ditumbuk dan diberi bumbu garam dan bawang goreng. Selanjutnya gethuk tersebut dikepal-kepal dan digoreng lalu siap disajikan.
    Mirip dengan Soto Petanahan, soto bebek tersebut juga bisa dimakan dengan campuran nasi atau ketupat. "Respon masyarakat cukup bagus dengan adanya soto bebek. Namun begitu kami juga menyediakan alternatif daging ayam," ujar Edi Kurniawan yang akrab  disapa kenthung karena sosoknya yang gemuk itu.
    Tidak hanya soto bebek, yang menarik di kedai yang buka mulai akhir Desember 2010 ini adalah soto cekernya. Tambahan ceker yang dimasak rica-rica, membuat soto ceker menjadi klangenan tersendiri. Apalagi harga yang ditawarkan cukup terjangkau yakni Rp 5.000 per porsi.
    "Intinya, kedai saya ini semua serba bebek. Sekarang saya juga sedang memperkenalkan rica-rica bebek spesial," imbuhnya seraya menyebutkan rica-rica bebek ditawarkan dengan harga Rp 7.5000/porsi.
    Juniadi (35) pengunjung asal Kebumen mengaku senang dengan soto bebek dan ceker tersebut. Menurut dia selain rasanya yang lezat, harga yang ditawarkan juga sangat terjangkau. Setelah mencoba, dia juga tertarik dengan rica-rica bebeknya.
    "Unik saja, kebetulan saya juga senang dengan daging bebek," ujarnya.***

Lotek Pak Dikun

Pembeli menikmati lotek "Pak Dikun" 
Jalan A Yani Kebumen.
JIKA bingung mencari menu makan, lotek bisa menjadi menu pilihan. Di Kebumen terdapat banyak warung yang menjual makanan berbahan sayur-sayuran itu. Salah satu yang paling terkenal adalah warung rujak dan lotek Pak Dikun di pinggir jalan A Yani Kebumen.
    Meski sederhana, warung yang terletak berseberangan dengan toko mebel Jepara Indah itu selalu dipadati pengunjung. Tidak heran banyak sepeda motor atau mobil yang parkir di depan warung yang berdiri sejak tahun 1992 itu. Pembeli paling banyak biasanya pada saat jam-jam makan siang.
    "Rasanya memang nendang banget. Pedasnya terasa pas," ujar salah satu pelanggan, Bambang Susatyahadi.
    Ya, berbagai kalangan menjadi pelanggan setia warung tersebut. Mulai dari pegawai Pemkab Kebumen, karyawan bank, pegawai pengadilan, guru, dan para pedagang. Banyak pula pejabat yang tidak canggung mampir di warung tersebut. Bahkan Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih saat masih menjabat Bupati Kebumen pernah ngelotek di warung tersebut.
    Apa yang istimewa dari lotek Pak Dikun sehingga membuat banyak pelanggan ketagihan?  Menurut Sodikun (53) si penjual yang asli Desa Candimulyo, Kecamatan Kota itu tidak ada bumbu yang spesial di dalam lotek buatannya. Hanya saja seluruh bahan memang pilihan. Seperti kangkung, kacang, toge, labu jipang, ketimun tidak sembarang dia beli.
    "Saya tidak mau beli asal murah, tapi memastikan bahannya benar-benar bagus," ujar Sodikun (53) sembari menunjukkan  bahan-bahan untuk lotek dan rujaknya.
    Begitu juga bumbu-bumbu seperti kacang tanah, mula merah, cabe, juga memakai bahan pilihan. Termasuk bahan pelengkap seperti bawang goreng dan kerupuk. Khusus kerupuk dia membeli mentah dan digoreng sendiri. Sedangkan lontong tidak diproduksi sendiri melainkan membeli di pembuat ketupat langganan.
    Sodikun mengaku, awal-awal berjualan dia sempat mengeluh karena belum dikenal. Namun sedikit demi sedikit makin banyak pengunjung yang datang dengan membawa teman. Saat ini, dalam sehari, pria didampingi istrinya Khotimah itu mampu menghabiskan 5-10 kg gula merah dan 7 kg kacang tanah.
    "Kadang ada yang pesan secara rombongan," ujarnya seraya menyebutkan satu porsi lotek dipatok harga Rp 7.000 sedangkan satu porsi rujak Rp 6.000.
    Dengan kekhasan loteknya, menurut bapak dua anak itu, banyak orang yang meminta resep lotek darinya. Dia pun tidak segan  membagikannya. "Meski sama bumbunya, jika dibuat oleh orang yang berbeda  maka beda pula rasanya.  Misalnya, meski sekarang saya sudah dibantu oleh keponakan, masih ada pengunjung yang hanya mau dibuatkan saya sendiri," tandasnya.***

Soto Pak Kun

Inilah soto Pak Kun Kebumen. Foto: Ondo Supriyanto
KULINER terus berkembang seiring dengan kreatifitas manusia. Begitu kesimpulan setelah merasakan soto di warung soto Pak Kun di Jalan Arungbinang No 11 persisnya di depan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kebumen, Jumat (29/4).
Saat dihidangkan, sekilas soto tersebut mirip soto semarang. Bening dengan sayur taoge dan soun. Namun setelah merasakannya, soto yang dihidangkan dengan nasi itu tidak seperti Soto Semarang. Tidak menonjolkan bawang putih juga tidak ada taburan bawang putih sebagai ciri khasnya.
Uniknya, kuah soto ayam tersebut ada karinya. Selain itu, ada tambahan sayur kobis. Selain rasa kari yang cukup menonjol, rasanya juga sangat gurih. Aroma rempah-rempah terasa yang sehingga menggugah selera.
    "Rempahnya terasa banget. Tapi enak, rasanya juga unik," Ariningsih, seorang pembeli menyampaikan testimoninya.
            Menurut pemiliknya Fajar Kuncoro (35), soto tersebut merupakan hasil modifikasi dari berbagai jenis soto di Nusantara. Dia sengaja berkreasi menciptakan citra rasa soto yang berbeda.
Bukan itu saja, bumbu halus soto buatan pria yang juga berprofesi sebagai programer di salah satu radio di Kebumen itu kaya dengan rempah-rempah. Setidaknya ada delapan jenis seperti kapulaga, kunyit, mrica, kemiri, cengkih, kayu manis, serei dan daun jeruk.
"Semua bumbu halus matengnya sempurna, sehingga rasanya juga diharapkan sempurna," ujar Fajar Kuncoro di sela-sela melayani pembeli.
Seorang pengunjung menikmati soto ayam Pak Kun
Foto: Ondo Supriyanto.
Setelah merasakan satu porsi, saya bias mengatakan soto tersebut perpaduan antara soto semarang dengan coto makasar. Namun saat menemukan terdapat risan kobis itu mengingatkan pada soto lamongan.
    Istimewanya lagi, di warung sederhana yang cukup bersih itu juga dilengkapi jaringan internet nirkabel (hot spot). Tak heran jika ada pembeli yang menikmati soto sambil menyalakan laptop.
             Harganya pun dijamin tidak membuat kantong bolong karena hanya Rp 6.000 per porsi. Jika kurang lengkap,  pembeli bisa memilih berbagai makanan lain seperti tempe goreng kering, gorengan atau jeroan. Warung soto yang juga menyediakan menu pecel mediun dan nasi rames itu buka mulai pukul 06.30 hingga 15.00.
    "Untuk hari minggu kita tutup. Tapi rencananya akan jualan di Alun-alun Kebumen," ujar pria bernama udara Andi tersebut.****