About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Wednesday, March 21, 2012

Ketika Angin Tak Lagi Bersahabat

Warga-TNI bergotong-royong membenahi rumah rusak.
HARI menjelang maghrib, saat Tasiyah (40) mulai mengandangkan ayam-ayam kampung peliharaanya. Pukul 17.30 biasanya hari masih terang, tetapi Kamis (8/3), suasana di Dusun Nagasari, Desa Ayamputih, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen sudah sangat gelap oleh mendung yang pekat.
Saat sebagian ayam Tasiyah masih di luar kadang, angin yang awalnya sepoi-sepoi  tiba-tiba bertiup kencang. Tiupan angin dari arah pantai itu hingga mengeluarkan suara menderu. Panik bercampur ketakutan, Tasiyah berlari ke sana kemari. Sampai akhirnya dia terpaku saat melihat sebatang pohon melinjo roboh menimpa rumahnya.
Akibatnya, sebagian rumah berbentuk joglo itu hancur. Atap berikut dinding bangunan dari batu bata ambrol. Genteng berserakan di dalam rumah. Padahal saat itu, di dalam rumah itu terdapat Jasmi (80) mertuanya yang sudah renta.
“Saya berteriak-teriak minta tolong, sampai warga berbondong-bondong datang menolong,” ujar Tasiyah kepada Suara Merdeka di sela-sela memperbaiki rumahnya.
Petang itu, angin benar-benar tak lagi bersahabat. Beruntung, mertuanya yang sudah  lanjut usia tidak terluka. Saat pohon ambruk Jasmi berada di ruangan lain. Warga berhasil menyelamatkan lansia itu setelah mencari dalam gelap. Maklum aliran listrik PLN saat itu padam.
Karena rumahnya rusak parah, Tasiyah bersama Mukhasin (45) suami dan mertuanya terpaksa mengungsi ke rumah saudaranya. Keluarga Tasiyah tidak sendirian menghadapi bencana itu,  sebab 14 rumah di desa  pesisir selatan itu juga rusak tertimpa pohon tumbang. Kerusakan tersebar di tiga dusun yakni Dusun Nagasari, Truntung, dan Keburuhan. Bahkan rumah kepala Desa Ayamputih  juga ikut jadi korban angin kencang.
"Ini bencana paling parah yang terjadi sejak beberapa tahun terakhir," ujar Kepala Urusan Pemerintahan Desa Ayamputih Susdarto.
Ya, bersamaan dengan itu angin juga melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kebumen. Kondisi terparah terdapat di wilayah pesisir selatan yakni kawasan yang disebut Urut Sewu. Mulai dari Kecamatan Ambal, Buluspesantren, Klirong, Petanahan, Puring, Buayan hingga Kecamatan Ayah.
Gambaran nyata bagaimana dahsyatnya angin lesus adalah dengan melihat parahnya kerusakan rumah Mulyadi di Desa Grogolpenatus, Kecamatan Petanahan. Akibat diterjang angin, sebatang pohon kelapa tumbang hingga tercerabut akarnya dan terangkat hingga betada di atap rumah. Warga yang melihat kejadian itu  sampai tak habis pikir bagaimana peristiwa itu bisa terjadi.
“Bagaimana keadaanya, kami tetap bersyukur  semua selamat dari musibah ini,” ujarnya.
Kandang Ambruk
Kandang ayam ambruk diterjang angin kecang.
Akibat bencana angin lesus itu, sebanyak 294 bangunan rusak. Dari jumlah itu sebanyak 230 di antaranya adalah rumah penduduk. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kebumen merinci sebanyak 29 rumah rusak berat, 32 rusak sedang dan 169 rusak ringan.
“Total kerugian yang diakibatkan bencana angin kencang mencapai Rp 732, 2 juta,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik pada BPBD Kebumen Drs Muhyidin didampingi Kepala Seksi Kedaruratan Arif Rahmadi SSos.
Selain rumah,  bangunan lain yang rusak terdiri atas mushola, masjid, warung, kandang ternak hingga balai desa. Kerusakan akibat angin lesus tersebut tersebar di 49 desa di 10 kecamatan. Kendati tak sampai mengakibatkan korban jiwa manusia, namun musibah menelan korban hewan ternak. Seekor sapi milik warga Desa Karanggadung, Kecamatan Petanahan dan kambing milik warga Desa Tanggulangin, Kecamatan Klirong mati tertimpa kandang yang roboh.
Dampak angin kencang juga dirasakan oleh peternak ayam broiler di Desa Surorejan, Kecamatan Puring. Mereka merugi akibat belasan kandang ayam rusak akibat terjang angin. Bahkan dua kandang ayam milik Sieng (38) dan Manun (30) roboh hingga rata dengan tanah.
Akibat kadang ayam ambruk, Sieng merugi hingga Rp 80 juta. Kerugian itu ditambah  kerugian akibat 5.000 ekor ayamnya harus dipanen lebih awal. Jika biasanya ayam baru dipanen saat berumur 35 hari, karena kandangnya roboh umur 30 hari pun dia langsung menjualnya ke perusahaan mitra.
“Meskipun kurang lima hari, hasil panen tidak maksimal maksimal,"  ujar Sieng murung.
Setali tiga uang, Manun peternak lain juga resah. Kendati ayam-ayamnya  selamat saat kandang roboh, namun untuk memeliharanya harus ekstra hati-hati.  Pasalanya, 2.500 ekor ayam peliharaanya masih berumur seminggu.
“Dampak kandang roboh membuat ayam menjadi stress,” tandas Manun yang juga mengaku stres. 

Perahu Rusak
Perahu nelayan pecah diterjang gelombang/Ondo Supriyanto
Kepala Seksi Kedaruratan Arif Rahmadi SSos menyampaikan, saat menerima laporan, malam itu juga tim BPBD langsung menyisir lokasi bencana dengan membawa gergaji mesin. Gergaji mesin dibawa untuk membantu menyingkirkan batang pohon yang menghalangi jalan maupun fasilitas umum lain. Selain itu, pihaknya juga mendistribusikan bantuan berupa sembako kepada korban bencana.
“Kami juga telah melaporkan kejadian ini ke BPBD Propinsi Jateng dan BNPB Jakarta,” ujar Arif Rohmadi.
Angin kencang pada malam Jumat Pahing itu, juga membuat para nelayan di pesisir selatan semakin menderita. Bagaimana tidak, angin kencang yang menyertai gelombang pasang menerjang perahu nelayan yang disandarkan di pinggir pantai. Akibatnya 30 perahu  milik nelayan rusak dan empat perahu di antaranya  hilang terbawa gelombang. Salah satu perahu yang hilang ialah perahu 5 grosston bantuan pemerintah yang dikelola kelompok nelayan "Samodra Jaya" senilai Rp 230 juta.
Adapun perahu yang rusak milik 17 nelayan Desa Karangduwur, lima nelayan dari Desa Srati, tiga perahu milik nelayan dari Desa Argopeni Kecamatan Ayah. Sedangkan tiga perahu milik nelayan di Desa Pandanlor serta  dua perahu milik nelayan  dari Desa Pucangan. Kerugian akibat rusaknya perahu dan alat tangkap nelayan ditaksir mencapai Rp 350,6 juta. 
Ketua KUD Mina Pawurni Kecamatan Ayah, Bejo Priyono  berharap pemerintah memperhatikan nasib para nelayan di pantai selatan yang kondisinya sekarang sangat memprihatinkan. Sebab, dengan kerusakan perahu nelayan tidak bisa melaut sampai perbaikan selesai. Sedangkan bagi yang perahu tidak bisa diperbaiki, butuh modal besar untuk membeli perahu yang baru.
“Sebab  satu unit perahu 1 grosston harganya sekitar Rp 12 juta,” ujar Bejo Priyono.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kebumen drh  Suhartilah Jumaryanti  menyampaikan, terkait  penanganan jangka pendek, pihaknya mengalokasikan beras cadangan Pemkab untuk membantu  para nelayan, sekaligus untuk mengantisipasi masa paceklik nelayan.
"Guna mengantisipasi datangnya gelombang pasang, nelayan kami imbau menambatkan perahunya di tempat yang aman" ujar Suhartilah.***

Beratnya Belajar di Kelas Darurat

MURID SDN Seboro 3 Kec. Sadang, Kebumen belajar di kelas tenda.
SEJAK gedung sekolah mereka retak-retak hingga nyaris ambruk akibat tanah longsor awal Januari lalu,  sebanyak 181 murid SD Negeri Seboro 3 Kecamatan Sadang, Kebumen, terpaksa belajar di kelas darurat. Mereka dibagi dua,  sebanyak 22 murid  kelas satu  dan 18 murid  kelas empat belajar di rumah penduduk.  Sedangkan kelas 2, 3, 5 dan 6  terpaksa menimba ilmu dengan belajar di kelas tenda.
Satu tenda didirikan di halaman rumah penduduk untuk belajar 43 murid kelas dua dan 35 murid kelas tiga. Kemudian tenda lain dibangun di halaman Masjid Jami Baitussalam untuk belajar kelas lima dan enam. Mereka menempati kelas darurat sejak 9 Januari lalu.
Melihat proses pembelajaran yang dijalani para murid itu tampak begitu berat. Tidak hanya bagi para siswa, tetapi juga bagi guru. Apalagi satu tenda dipakai untuk dua kelas tanpa adanya penyekat.
Belum lagi, saat hari mulai siang di dalam tenda terasa sangat panas. Mulai pukul 10.00 tidak jarang keringat para muriud sampai dleweran. Kondisi sangat parah di kelas lima  dan enam  yang rendah sehingga membuat murid tidak kuat mengikuti pelajaran.  Jika sudah begitu, buku pelajaran pun beralih fungsi menjadi kipas angin.
"Saya kasihan melihat anak-anak harus belajar dengan seadanya,"  ujar Fajariyah Suryani guru kelas 3 SDN Seboro 3, baru-baru ini.
Dengan kondisi seperti itu, bisa dipastikan para murid  tidak konsentrasi  dalam mengikuti pelajaran.  Pernah terjadi, saat pembelajaran berlangsung,  tiba-tiba terjadi angin kencang. Para murid pun berhamburan keluar tenda sembari membawa tas dan buku pelajaran. Tidak hanya siswa yang ketakutan, para guru pun setali tiga uang. Melihat suasana yang tidak kondusif lagi,  para guru pun akhirnya sepakat memulangkan murid-murid lebih awal.
"Untuk jangka pendek, kami berharap dibuatkan kelas darurat yang lebih layak," kata Nur Arianingsih AMAPd guru kelas 2 mengakui selama di kelas darurat proses pembelajaran tidak bisa optimal.
Guru Kerja Keras 

Tiupan angin kencang yang menerjang tenda, hanyalah satu dari banyak masalah yang diharus dihadapi oleh guru dan murid SDN  Seboro 3.  Menempati kelas darurat berupa tenda, masalah lain ditakuti adalah ketika turun hujan saat jam pembelajaran masih berlangsung.
Setiap pagi, para guru pun was-was saat melihat cuaca terlihat mendung. Mereka selalu berdoa agar hujan tidak turun pada pagi hari. Maklum jika turun hujan saat jam sekolah, proses pembelajaran kemungkinan besar tidak akan bisa dilanjutkan. Apalagi jika hujan itu disertai angin kencang, sulit membayangkan bagaimana bocah-bocah itu bisa belajar dengan tenang.
Menurut Kepala SDN Seboro 3 Suhardi SPd SD,  meski sedikit lebih baik, murid-murid kelas satu dan empat yang menempati rumah penduduk juga tidak bisa belajar dengan  maksimal. Sebanyak 18 murid kelas empat, menempati rumah warga yang berlantai keramik. Pihak sekolah tidak berani menempatkan meja kursi sehingga para murid belajar secara lesehan.
"Namanya juga numpang. Takutnya anak-anak menarik meja kursi hingga menggores lantai," imbuhnya.
Kendati dengan keterbatasan fasilitas, pihak sekolah berusaha keras agar anak didiknya tidak ketinggalan pelajaran. Terutama bagi kelas enam  yang akan menghadapi ujian sekolah dan ujian nasional SD diberikan jam tambahan pada pagi dan usai jam sekolah.  “Guru memang harus bekerja keras agar murid-murid tidak ketinggalan pelajaran,” ujarnya. 

Anggaran Pembangunan
Rusaknya ruang kelas SD seolah tidak ada habisnya. Dari data  Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kebumen tercatat masih ada sekitar 1.017 ruang kelas SD yang rusak. Tingkat kerusakannya variatif, mulai dari ringan sampai berat. 
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Dikpora Suwardjo SPd mengatakan, upaya perbaikan terus dilakukan.Tahun 2012, Pemkab Kebumen siap membangun ruang kelas baru, rehab bangunan rusak berat dan ringan maupun pengadaan perpustakaan dan alat peraga pendidikan. Kegiatan itu dianggarkan dari DAK tahun 2011, DAK tahun 2012 dan APBN tahun 2012.
DAK tahun 2011 yang dilaksanakan pada tahun 2012 sebesar Rp 39,8 miliar. Dana tersebut diperuntukkan bagi pembangunan ruang kelas baru sejumlah 21 ruang beserta mebelernya, pembangunan 65 perpustakaan beserta perabotnya, rehab ruang kelas rusak sedang 270 ruang, serta  rehab ruang kelas rusak berat sebanyak tiga kelas. Selain itu juga untuk kegiatan peningkatan mutu pendidikan berupa pengadaan buku, alat peraga  serta peralatan pendukung TIK di 107 sekolah.
Kemudian DAK tahun 2012 dialokasikan Rp 54,6 miliar. Anggaran itu rencananya untuk pembangunan 76 gedung perpustakaan dan mebeler Rp 7,7 miliar, untuk rehab gedung SD sebanyak 629 ruang kelas rusak sedang Rp 43,7 miliar serta pembangunan 42 ruang perpustakaan Rp 21 miliar.
Selain itu, masih ada juga  dana rehab gedung SD yang bersumber dari APBN 2012 sebesar Rp 25,9 miliar yang penyalurannya langsung masuk rekening sekolah. Yakni untuk renovasi 378 ruang kelas rusak sedang.
"Jadi MoU-nya juga antara pemerintah pusat dengan sekolah penerima," katanya.***

Nelayan Bergelimang Hutang

Perahu nelayan akan mendarat di Pantai Ayah, Kebumen. 

 
TERIK matahari mulai menyengat di Pantai Pasir, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Kamis (26/1). Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.30, namun sudah ada beberapa nelayan yang mendarat. Gelombang tinggi yang disertai angin kencang memaksa para nelayan pulang lebih cepat.
           Cuaca yang tak bersahabat memang menjadi momok bagi para nelayan di pantai selatan. Begitu pengakuan Sarmo (40) salah satu nelayan di Pantai Pasir saat ditemui Suara Merdeka. Saat itu, Sarmo bersama  temannya Warjono (43) dibantu oleh dua orang tagog (kuli darat, red)  tengah sibuk membersihkan jaring yang selesai dipakai untuk melaut.
            Di saat cuaca buruk, Sarmo memilih mencari lopster. Selain nilai jualnya tinggi, dia juga tidak perlu menghabiskan banyak bahan bakar. Sebab untuk mencari lopter jarak tempuh hanya sekitar 300 meter dari garis pantai. Menggunakan perahu 1 gross ton dengan mesin motor tempel 15 PK sekali jalan dia hanya menghabiskan 3 liter bensin. Padahal untuk mencari ikan para nelayan bisa mencapai perairan Yogyakarta dengan menghabiskan 10 liter bensin.
            Meski melaut cukup singkat, Sarmo dan Warjono sedikit beruntung. Sebanyak 16 jaring yang mereka pasang pada hari sebelumnya mendapatkan banyak lopster. Dari hasil lelang, uang yang mereka terima sebesar Rp 637.560.  Sayangnya, harga lopster sudah turun kembali setelah Imlek kemarin sempat tinggi. Saat ini, lopster ukuran 1 ons harganya Rp 220.000/kg,  ukuran 0,5 ons Rp 70.000/kg dan ukuran di bawahnya Rp 55.000/kg.
            “Padahal sebelum Imlek lopster ukuran 1 ons bisa tembus Rp 300.000/kg,” ujar Sarmo seraya menunjukkan kwitansi  pembayarannya.
            Kendati cuaca di lautan cukup ekstrim, sebagian besar nelayan di Pantai Pasir masih banyak yang nekat melaut. Mereka yang bertaruh nyawa di lautan rata-rata masih memiliki tanggungan banyak hutang kepada para tengkulak.  Terlebih selain melaut, para nelayan  itu tidak memiliki cara lain untuk menjaga agar dapur tetap ngebul.

Terbelit Hutang       
            Ya, para nelayan di Pantai Pasir memang memiliki ketergantungan yang tinggi kepada tengkulak. Hal itu berbeda dengan nelayan Pantai Menganti di Desa Karangduwur maupun  di Pantai Pedalen, Desa Argopeni yang relatif lebih mandiri.  Bahkan dari pengakuan para nelayan, hutang mereka kepada juragan sangat banyak jumlahnya.
            Jika ditotal jumlah pinjaman para nelayan di Pantai Pasir bisa mencapai miliaran rupiah. Satu nelayan ada yang sampai memiliki hutang kepada juragan mencapai Rp 40 juta. Padahal di pantai tersebut terdapat ratusan nelayan yang terlilit hutang. Pinjaman sebesar itu dipakai untuk membeli perahu, mesin motor tempel, maupun jarring untuk menangkap ikan.
            Konsekuensi dari modal yang diberikan kepada para nelayan, hasil tangkapan ikan yang diperoleh harus dijual kepada para tengkulak yang memberinya modal itu. Karena merasa berhutang  budi,  nelayan pun tak kuasa menolaknya. Celakanya, hasil bertaruh nyawa di tengah samudera itu dihargai lebih rendah  rata-rata 5 % dari harga pasaran. Jika harga ikan pasaran Rp 100.000/kg para nelayan biasanya melepas hasil tangkapan itu  Rp 80.000/kg.
            Sementara itu, karena pendapatan harian nelayan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan, para nelayan pun kesulitan untuk melunasi hutang.  Ditambah biaya sekolah anak yang semakin  tinggi,  tidak sedikit nelayan  yang hutang semakin banyak.  Saking banyaknya jumlah utang yang mereka kumpulkan, ada beberapa kasus sampai perahu mereka rusak, hutang kepada juragan belum bisa terlunasi.
            “Kalau pun perahu ini saya jual, sepertinya tidak cukup untuk melunasi hutang,” Sarmo saat menjawab pertanyaan berapa hutang yang masih dia tanggung  kepada tengkulak.
            Meskipun hidup tetap pas-pasan, dahulu nelayan di Pantai Pasir tidak memiliki banyak hutang seperti sekarang ini. Namun setelah bencana tsunami melanda  pesisir pantai selatan tahun 2006, perahu milik nelayan banyak yang rusak. Gempa 6,8 SR  yang mengakibatkan tsunami di sejumlah tempat seperti di Pantai Pangandaran Jawa Barat, Cilacap dan Kebumen itu meninggalkan banyak masalah bagi kehidupan nelayan. Khususnya bagi nelayan di Desa Pasir yang menderita kerusakan paling parah.
            Saat itulah, awal nelayan di Pantai Pasir mulai berhutang untuk modal membeli alat tangkap. Maklum tidak semua nelayan memperoleh bantuan dari pemerintah. Juga tidak ada lembaga pembiayaan maupun bank yang mau membiayai pembelian perahu bagi nelayan. Salah satu cara yang masih bisa ditempuh adalah berhutang kepada juragan untuk membeli perahu dan perlatan lainnya.
            Modal untuk melaut memang tinggi. Paling tidak butuh 40 juta untuk bisa melaut. Selain perahu, harga mesin motor tempel harganya sangat tinggi. Mesin  motor tempel 15 PK merek Suzuki harganya mencapai Rp 16 juta. Sedangkan untuk merek Yamaha harganya mencapai Rp 19 juta.
            Sementara bagi nelayan yang tak berhutang, mereka pun tidak memiliki perahu. Mereka hanya bekerja menjadi buruh nelayan. Saat melaut dia menggunakan perahu milik juragan dengan sistem bagi hasil. Hasilnya dibagi dua, 50% untuk tekong atau pemilik perahu setengahnya lagi dibagi  untuk dua orang nelayan.
            “Seumpama hasil tangkapan bersih Rp 1 juta, seorang buruh nelayan kebagian Rp 250.000,” kata Warjono, nelayan lainnya.

Koperasi Nelayan
            Begitulah, kemiskinan masih menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan nelayan. Tidak terkecuali  nelayan di Kabupaten Kebumen. Sejak zaman dahulu kala realitas kehidupan nelayan memang begitu-begitu saja. Sebaliknya, kehidupan para juragan berkembang pesat. Mereka menjadi semacam raja kecil di perkampungan nelayan yang miskin.
            Para nelayan memang tak lagi mengharapkan bantuan siapa-siapa. Belum lagi saat program pemerintah dirasakan tidak menyentuh kehidupan nelayan kecil yang benar-benar membutuhkan. Padahal dari kerja keras nelayan itu  ikut menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) bagi Pemkab Kebumen.
            Lihat saja, dari data Koperasi Unit Desa (KUD) Mino Pawurni Kecamatan Ayah, nilai produksi bahari nelayan di Kecamatan Ayah tahun 2011 lalu mencapai Rp 27.821.765.837. Dari jumlah tersebut jumlah yang disetor ke kas daerah sebesar 1,85 %  atau sebesar  Rp 514.702.667.
            Ketua KUD Mino Pawurni Bejo Priyono mengatakan, upaya untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan terus dilakukan oleh KUD Mino Pawurni. Salah satunya, melalui program dana simpanan nelayan. Bahkan uang simpanan sebesar Rp 915.070.214 itu telah diserahkan kepada 700 anggota koperasi yang sebagian besar nelayan.
            Di sebutkannya, setiap lelang hasil tangkapan nelayan, sesuai Peraturan Daerah (Perda) dipotong 5 % dan sesuai kesepakatan dipotong 3 %.  Dari potongan itu dirinci 1,85 % untuk PAD,  2,5 % untuk simpanan nelayan dan 1,25 % untuk bakul, 0,40% kegiatan sosial nelayan, 0,30% untuk operasional KUD,  0,20 % untuk dana kematian.  Kemudian 0,05 % untuk desa setempat, 0,05 untuk DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) dan 0,5 untuk dana paceklik.
            "Untuk dana paceklik telah terhimpun sebesar Rp 116 juta yang akan diserahkan bulan Februari mendatang," imbuh Bejo Priyono.***