About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Wednesday, November 5, 2014

Menggali Batu Badar Besi di Bukit Bulu Beras

Situasi penambangan batu badar besi di Bukit Bulu Beras Kebumen.
DI ANTARA sekian banyak jenis batuan yang ditemukan di wilayah Kebumen, batu jenis badar besi menjadi salah satu yang disukai. Selain keunikannya yakni memiliki kadar besi yang tinggi sehingga nempel jika didekatkan magnet, batuan badar besi super sulit ditemukan di daerah lain.
            Berbeda dengan batuan motif ginggang yang ditemukan di alur Sungai Luk Ulo, sebagian besar batu badar besi diperoleh dengan cara menambang. Salah satu kawasan penghasil batu badar besi terbaik ialah wilayah Kecamatan Karanggayam.
warga menambang batu dengan cara berkelompok
            Di salah satu perbukitan yang disebut Bukit Bulu Beras merupakan lokasi yang banyak ditemukan batu jenis ini. Tak heran, di kawasan yang juga populer dinamakan sebagai gunung badar besi itu banyak dijumpai warga yang sedang menambang batu.
            Penasaran dengan kabar mengenai keberadaan gunung badar besi, Suara Merdeka mendatangi lokasi tersebut, Senin (3/11). Area penambangan batu tersebut ternyata masuk kawasan hutan negara yakni masuk wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Karanganyar. Sedangkan secara administrasi kawasan itu berada di perbatasan Desa Karangmojo dengan Kalirejo, Kecamatan Karanggayam sekitar 25 kilometer dari kota Kebumen.
            Ya, memasuki hutan di perbukitan yang berada sekitar 500 meter dari wilayah desa suasana cukup lengang.  Di antara pohon pinus banyak terlihat gundukan batu seukuran truk. Yang menarik, karena memiliki kadar besi yang tinggi, batu-batu tersebut menempel jika didekatkan dengan magnet. Di balik gundukan itulah, terlihat sejumlah warga menggali tanah mencari batu-batu jenis badar besi warga merah cabai yang saat ini sedang naik daun.
            "Di sini memang gudangnya berbagai macam batu badar besi," ujar Suparno (56) salah satu penambang senior kepada Suara Merdeka di sela-sela menambang.
            Warga Desa Kalirejo, Karanggayam itu menambahkan, area penambangan batu badar besi di wilayah itu ditemukan pertama kali tahun 1995. Sejak itu, penambangan batu dilakukan oleh warga secara tradisional. Hanya saja, akhir-akhir ini saat batu Kebumen sedang moncer, warga kembali antusias menambang batu akik.
            "Setiap hari rata-rata ada sekitar 50 penambang yang bekerja," kata Suparno yang mengaku bergelut di bidang batu sejak tahun 1982 itu.

Gunakan Alat Sederhana
Menggali gua demi sebongkah batu
            Dalam berburu batu, para penambang melakukannya dengan cara berkelompok. Satu kelompok biasanya terdiri atas lima orang penambang. Mereka hanya berbekal alat sederhana seperti cangkul, linggis, betel, dan martil. Karena lokasinya yang tidak bisa dijangkau dengan kendaraan, batu hasil tambangnya diangkut secara manual. Jika bentuknya besar batu itu dipikul secara beramai-ramai.
            "Tidak tentu, kadang bisa dapat hasil banyak tetapi juga hanya menemukan 1 kg," ujarnya Agus Purwanto (25) perajin lain yang mengaku menjual batu badar besi yang bagus Rp 100.000/kg.
            Akibat perburuan batu badar besi tersebut, perbukitan yang banyak ditumbuhi pohon pinus tersebut menyisakan bekas galian. Apalagi warga yang menambang kebanyakan meninggalkan begitu saja bekas galian tanpa mereklamasi. Tentu saja ini sangat berbahaya dan memicu longsornya batu besar yang tidak lagi memiliki penyangga.
            Sebenarnya tidak jauh dari lokasi penambangan, Perhutani memasang papan larangan merambah kawasan hutan sesuai dengan Undang-undang 18 pasal 92 ayat 1. Pada papan peringatan yang dipasang di batang pohon pinus itu disebutkan ancaman pidana atas ketentuan itu cukup serius yakni ancaman pidana paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar.

Diminati Orang Korea dan Jepang
Batu badar besi merah
BATU jenis badar besi ternyata tidak sekadar disukai oleh konsumen lokal. Batu yang memiliki kandungan  besi cukup tinggi itu juga sangat diminati konsumen luar negeri khususnya pembali asal Korea dan Jepang. Sejak puluhan tahun lalu, jumlah batu badar besi yang dikirim ke luar negeri sudah tak terhitung jumlahnya.
            Fakta itu diakui oleh Khomsin Atmono (46) pengelola Pusat Kerajinan Batu Akik "Cinta Damai" Karanganyar, Kebumen. Sejak tahun 1995, dia menjual batu badar besi untuk konsumen Korea dan Jepang. Saat itu, dia bisa mengirim batu hingga delapan kwintal dalam waktu dua minggu. Harga saat  itu kisaran Rp 30.000/kg.
            "Pembeli Korea dan Jepang suka sekali dengan batu badar besi Kebumen. Meski dikasih harga tinggi mereka tetap ngejar. Saat ditanya dipakai untuk apa, mereka tidak mau menjawabnya," pria yang akrab disapa Kosim itu saat ditemui Suara Merdeka di workshopnya, Selasa (4/11).
            Kosim mengaku, sekarang ini dia relatif sulit mendapatkan bahan batu badar besi, sehingga tidak lagi menjual batu dalam bentuk bahan. Batu yang biasanya dibeli dari para petani dengan harga Rp 50.000 hingga Rp 200.000/kg itu diolah menjadi akik baik untuk cincin, lionting maupun untuk mata ikat pinggang. Setelah digosok dan dipoles, satu biji batu badar besi dipasarkan Rp 250.000-500.000/biji.
            "Sedangkan jika keluar dalam bentuk kristal, harga batu badar besi bisa tembus Rp 1,5 juta/biji," imbuhnya seraya menyebutkan konsumen luar jawa juga cukup menyukai batu Kebumen.
            Ya, di workshop yang berada di kawasan cukup strategis itu, Kosim menunjukkan sejumlah bahan batu badar besi yang dimiliki. Antara lain batu badar besi yang sedang naik daun yakni warna merah cabai. Ada juga batu badar besi warna merah bata, motif bulu macan, pancawarna, hijau cincau. Menurut dia, batu badar besi warna merah cabai sulit ditemukan di daerah lain sehingga cocok dijadikan ikon batuan Kebumen.
            Selain batu bahan akik, Kosim juga menunjukkan batu badar besi poles atau biseki berbentuk mirip kodok hijau. Batu yang dipajang di depan workshopnya itu, sering dilirik pembeli namun dia enggan untuk melepasnya. "Iya memang unik, selain bentuknya seperti kodok hijau, jenis batu ini juga langka sekali," imbuhnya.

Kesulitan Layani Pesanan
Batu badar besi merah cabai
            Meski masih belum kategori langka, Kosim mengaku kesulitan untuk melayani pesanan dalam partai besar yang datang dari Korea. Pasalnya batu badar besi sebagian besar ditambang di kawasan hutan negara. Para penambang tidak sebebas dahulu untuk bisa mendapatkan batu badar besi. "Informasinya, mereka harus kucing-kucingan dengan petugas Perhutani.  Bahkan ada yang menyebutkan penambangan terkadang dilakukan pada malam hari," katanya.
            Ungkapan senada disampaikan oleh Sudarto (37) perajin batu di Sentra Kerajinan Batu "Badar Besi" di Pasar Rabuk Kebumen. Masyarakat cukup antusias membeli maupun memoleskan bahan batu jenis badar besi. Adapun batu badar besi yang saat ini sedang moncer ialah badar besi pancawarna dan merah cabai. "Lebih mahal lagi kalau sudah mengkristal dan tembus kalau disorot cahaya," tandasnya.
            Menurut sesepuh sekaligus pendiri Komunitas "Badar Besi" Bambang Indrajit (47), batu badar besi  merupakan satu dari sekian banyak batuan yang tersebar di Kebumen. Dia menegaskan lagi bahwa Kebumen memiliki kekayaan batuan yang luar biasa  yang terhampar di wilayah Kebumen utamanya di wilayah utara mulai dari Sadang, Karangsambung, Karanggayam.
            "Bahkan di wilayah Kecamatan sempor juga ditemukan batu jenis lavender yang berwarna ungu," tandas Bambang Indrajit seraya menyampaikan perlu komitmen bersama untuk memikirkan masa depan batuan Kebumen. ***

Monday, November 3, 2014

Sungai Luk Ulo Surga Bagi Pemburu Batuan

Para pemburu batu menyusuri hulu Sungai Luk Ulo di Desa Totogan, Kecamatan Karangsambung, Kebumen.

SEMAKIN bersinarnya pamor batuan Kebumen mendorong banyaknya para pemburu batuan alam ini di berbagai tempat. Para pencari batu bukan hanya petani sekitar sungai tetapi datang dari berbagai daerah hingga luar Kebumen. Hulu Sungai Luk Ulo pun menjadi surga bagi pemburu batuan alam baik untuk bahan akik, suiseki, maupun biseki.
Penasaran dengan bagaimana perburuan batu itu berlangsung,  saya mengikuti rombongan pemburu batu, baru-baru ini. Sungai Luk Ulo di Desa Wonosari, Kecamatan Sadang, sekitar 25 kilometer arah utara dari pusat kota Kebumen menjadi tujuan pertama. Pencarian dilakukan menyusuri sungai termasuk di Desa Totogan, Kecamatan Karangsambung.
            Dengan mengendarai mobil, lokasi tersebut bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Menyusuri Jalan Kebumen-Karangsambung, sepanjang perjalanan akan terlihat alur Sungai Luk Ulo yang berkelok-kelok. Sungai yang membelah kabupaten Kebumen itu benar-benar dalam kondisi kritis. Nyaris tak ada batu besar di sungai terbesar di Kebumen. Sejumlah truk pengangkut pasir antre menunggu muatan tidak jauh dari mesin sedot pasir yang meraung-raung. Penambangan pasir liar menjadi persoalan klasik yang tak pernah ada jalan keluarnya.
            Baru setelah melewati kantor Kecamatan Karangsambung yang berhadapan dengan Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung, salah satu Unit Pelaksana Teknis pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sungai Luk Ulo masih sedikit memiliki jeram.
            Sesampai di Desa Wonosari, Kecamatan Sadang, mobil yang kami tumpangi berbelok turun ke sungai. Air sungai yang surut di musim kemarau membuat mobil dobel gardan itu bisa melintasi sungai. Tidak berbeda dengan wilayah hilir, sejumlah penambang pasir tampak melakukan aktifitasnya. Hanya saja, penambangan pasir  di hulu sungai masih dilakukan secara manual tanpa bantuan mesin.
            Ambar Rudiyanto (35) salah satu pemburu batu, mengaku mulai hunting batu ke sungai sejak 2012. Warga Jalan Sriti, Kelurahan Panjer, Kebumen itu paling tidak seminggu sekali bersama adiknya Dwi Martono (33) berburu batu suiseki untuk dikoleksi. Perburuan batu paling bagus dilakukan pada musim kemarau seperti sekarang ini, karena air sungai sedang surut sehingga batuan yang ada di dasar sungai akan terlihat.
            "Biasanya saya hunting batu pada hari Sabtu dan Minggu atau saat hari libur. Pencarian dilakukan sore hingga malam hari saat cuaca tidak terlalu panas dan lebih sejuk," ujar Ambar Rudiyanto di sela-sela berburu batu.
Mencari batu suiseki, kata Ambar yang telah mengoleksi sekitar 50 batu suiseki di rumahnya, memang tidak semudah mencari batu blonos yang dimanfaatkan untuk bahan bangunan. Dalam setiap perburuan tidak pasti membuahkan hasil. Terkadang seharian menyusuri sungai tak satu pun batu suiseki berhasil dibawa pulang.
            "Apalagi mencari batu di Sungai Luk Ulo semakin sulit karena sudah banyak yang berburu. Selain itu harus ekstra hati-hati karena bisa jatuh di lubang bekas galian pasir," ujar pria yang sehari-hari berprofesi sebagai guru tersebut.
             
Mobil Land Rover membelah Sungai Luk Ulo di DesaWonosari, Kecamatan Sadang, Kebumen.
Merujuk sejumlah referensi, suiseki dalam bahasa Jepang terdiri atas dua kata sui berarti air dan seki bermakna batu. Unsur air sangat berperan dalam pembentukan secara alamiah melalui proses alam, seperti kikisan air di sungai, derasnya hujan atau gelombang di lautan yang berlangsung selama ratusan, ribuan bahkan jutaan tahun.
            Suiseki merupakan seni batu indah alami yang muncul kira-kira 1.500 tahun lalu, sekitar tahun 618 sampai 907 bersamaan lahirnya seni bonsai. Waktu itu, masanya kerajaan Dinasti Tan dan Sung. Di negeri Tiongkok, suiseki lahir dengan sebutan Shang-Sek atau Yah-Sek. Artinya, batu yang dapat dinikmati keindahannya dalam jenis dan arti yang lebih luas.
            "Batu suiseki benar-benar alami, sedangkan batu yang sudah dipoles dinamakan biseki," ujar kolektor batu Suiseki Putut Agus Indra Sakti (42) yang juga ikut perburuan batu.
            Putut Agus yang juga pemilik workshop Purba Art Stone di Jalan Glatik 24 Kelurahan Panjer, Kebumen menambahkan, batu suiseki terdiri atas tiga kategori ukuran yakni ukuran kecil dengan tinggi 15 cm. Sedangkan untuk medium ukurannya 20-25 cm. Kemudian kategori big size ukuran batu maksimal 35 cm. Adapun berat batu suiseki maksimal 35 kg. Corak, relif, ornamen dan keindahan menentukan kualitas batu suiseki. Selain itu, semakin tua dan semakin keras batu suiseki semakin berkualitas.
            "Yang jelas batu suiseki harus multidimenasi sehingga dilihat dari arah mana saja dapat dinikmati keindahannya," ujar Putut yang berkecimpung sejak empat tahun lalu.
            Selain untuk kepuasan pribadi, Putut juga menjual suiseki koleksinya. Penjualan dilakukan secara online. Soal harga batu suiseki bervariasi  mulai dari ratusan ribu hingga puluhan jutaan rupiah. Saat ini ada beberapa batu koleksinya yang sudah terbang ke luar negeri seperti Myanmar dan Swisserland.

Agus "Mandra" Wantoro menunjukkan sebagian koleksi batuan suiseki dan biseki di serambi rumahnya di Kelurahan Tamanwinangun, Kebumen.
Batuan Suiseki dan Biseki Diminati Kolektor

BATU suiseki merupakan salah satu karya seni alam yang indah dan penuh misteri. Terbentuk secara alami dari proses panjang selama ribuan, bahkan ratusan jutaan tahun. Hasil proses alami yang panjang itu membuat sebongkah batu memiiki keunikan bentuk dan bernilai seni tinggi.
            Jika ada orang yang tergila-gila dengan batu suiseki dan biseki, Agus "Mandra" Wantoro adalah salah satunya. Mengunjungi rumahnya di Kelurahan Tamanwinangun, Kebumen setiap tamu akan disambut oleh puluhan  batu suiseki dan biseki yang tertata rapi di halaman dan serambi rumahnya. Berbagai bentuk batu suiseki menyerupai gajah, menara, orang sembah yang dikoleksinya. Sedangkan batuan biseki atau yang sudah dipoles mulai batu fosil tumbuhan, batuan kristal, sedimen, badar besi merah, batu doreng, giok jawa, berjajar memenuhi ruang tamu dan keluarga.
            "Ratusan batuan ini merupakan perburuan saya sejak masih bujang sejak 15 tahun lalu," ujar Agus Mandra saat ditemui di rumahnya.
            Batu-batu tersebut dikumpulkan satu demi satu dari hasil perburuan di Sungai Luk Ulo. Untuk batu jenis suiseki dia hanya membersihkan batu yang kotor dengan mencucinya. Sedangkan batu biseki dipoles terlebih dahulu oleh perajin. Setelah dikupas kulitnya, batuan akan muncul warna yang mengkilap. Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai anggota Polri itu mengaku sangat menikmati saat melihat batu-batunya koleksinya.
            "Meski sudah dilihat berkali-kali, saya tidak pernah bosan menikmati keindahan batu suiseki dan biseki," imbuhnya seraya menyebutkan baginya batu merupakan obat mujarab penghilang stres.

Koleksi batuan biseki milik Agus "Mandra" Wantoro memenuhi ruang tamu rumahnya.

            Dia mengakui, jika dilihat secara sepintas, batuan suiseki terlihat biasa saja. Namun jika diperhatikan lebih seksama, bongkahan batu suiseki itu bisa menyerupai berbagai bentuk. Memang diperlukan imajinasi untuk menyingkap benda yang dilambangkan suiseki. Sebab, batu alam itu belum tentu benar-benar mirip benda lain.
            "Memandangi suiseki adalah wahana untuk berimajinasi seluas-luasnya pada rupa dan bentuk imajinatif dari sebongkah batu," imbuhnya seraya menyebutkan imajinasi itu dapat berupa tokoh wayang, bangunan terkenal, rupa seorang tokoh, gunung, air terjun atau malah bentuk berbentuk abstrak.
            Menurut sesepuh Komunitas Badar Besi Bambang Indrajit (47, seni batu suiseki dan biseki mulai dikenal di Kebumen sekitar tahun 1970-an. Meski dalam perkembangannya mengalami pasang surut, pamornya saat ini mulai terangkat kembali seiring dengan menanjaknya popularitas batu akik di nusantara. Saat ini pamor batuan Sungai Luk Ulo semakin naik daun baik di pasaran.
            "Melihat batu suiseki kita seperti melihat alam raya ini dengan kebesaran Tuhan. Dari bentuk dan motif batu suiseki banyak terlihat bentuk yang menyerupai pemandang, simbol binatang dan manusia," ujar Bambang seraya menyebutkan batu suiseki mirip anjing poodle miliknya pernah juara I dalam kontes batu di Jawa Timur. ***

Wednesday, October 29, 2014

Empat Hari Tak Terlupakan di Pulau Lombok



Jalan Raya di Kawasan Pantai Senggigi
MENGUNJUNGI Pulau Lombok adalah salah satu mimpi saya yang terwujud. Lama sekali ingin membuktikan kabar keindahan alam dan keunikan tradisi dan budaya suku-suku di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dan, akhirnya, 23-26 Oktober 2014  lalu saya mewujudkan mimpi, menjejakkan kaki di tempat-tempat yang sebelumnya hanya melihat di televisi, koran  maupun internet.

Lombokkkkkk!!!!! Begitu kencang saya berteriak saat turun dari pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 0274. Padahal saat sampai di Praya Lombok International Airport waktu menunjukkan pukul 20.00 WITA. Norak banget, ya biarin saja. Secara, lebih banyak penumpang lain yang jauh lebih histeris mendapati dirinya sudah berada di Lombok.

Berfoto narsis dengan latar belakang tulisan “Bandar Udara Internasional Lombok” menjadi  hal pertama yang dilakukan sebagian penumpang setelah sampai di terminal kedatangan. Ada juga yang mimilih mejeng di depan poster “Selamat Datang di Lombok” yang dipasang Angkasa Pura. Tetapi  yang lebih tertarik sebuah poster Surfer Boys, bergambar tiga anak memegang papan surving di pantai saat sunset. “Lombok is always a good idea” begitu bunyi tulisannya.

Selama tiga malam, saya menginap di Puri Senggigi Hotel, sebuah hotel melati di Jalan Raya Senggigi, Lombok Barat sekitar satu jam perjalanan dari airport. Meski secara tanggal saya di Lombok selama empat hari, tetapi hari efektif hanya dua hari karena saya datang Kamis malam dan Minggu pagi harus sudah terbang ke Yogyakarta.

Lokasi tempat saya menginap, menurut petugas resepsionis hotel berjarak sekitar 1,5 km dari Pantai Senggigi. Dan malam pertama, saya sulit pun tidur di hotel.  Bukan karena hotel yang tak nyaman, tetapi lebih karena tak sabar menunggu pagi.

 
Indahnya Pantai Nipah dilihat dari Tanjakan Malimbu, lokasinya di sebelah utara Pantai Senggigi 

Sebait Puisi di Pantai Senggigi

"Dunia itu seluas langkah kaki, Jelajahi dan jangan pernah takut melangkah. Hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya” - Soe Hok Gie

Pagi buta dengan bekal kamera, saya berjalan kaki menyusuri pantai kawasan Pantai Senggigi. Bentang pantai yang luas, pasir putih, dan lambaian pohon kelapa di tepi pantai adalah perpaduan yang sempurna. Tak hanya ingin memotret, saya tiba-tiba ingin sekali menulis puisi.

Hey Ju, di Senggigi aku menulis puisi. Tentang aku, kamu, dan anjing kecil yang kau beri nama Choky. Hey Ju, satu penyesalanku berada di pantai yang Indah ini adalah tanpamu.

Yeah, Pantai Senggigi hanya secuil keindahan di Pulau Lombok. Ternyata ada ratusan destinasi yang layak disinggahi. Di Kabupaten Lombok Barat (Lombar) saja terdapat puluhan objek wisata yang terdiri atas wisata alam pegunungan, pantai, danau, taman laut dan flora dan fauna.

Selain Pantai Senggigi, di wilayah utara terdapat 10 objek seperti Taman Narmada, Pura Lingsar, Taman Wisata Suranadi, Padang Golf Golong, Dusun Tradisional Karang Bayan, air terjun Gripak Gunungsari, Pemandian Aik Nyet, Hutan Sesaot dan Agrowisata Gunung Jae. Di bagian selatan ada Gunung Pengsong, Sentra gerabah Banyumulek, Pantai Kuranji, Pantai Cemara Tebel, Gili (pulau kecil) Nunggu Sekotong, Gili Gede Sekotong,  Gili Tangkong,  Gua Jepang Sekotong, dan wisata pantai Mekaki, Labuan Poh, Sepi, Pengantap, dan Blongas.
Pantai Gili Trawangan
Secuil Surga Itu Bernama Gili Trawangan

Kemudian di Kabupaten Lombok Utara terdapat pulau kecil yang disebut sebagai salah satu surganya NTB; Gili Trawangan. Untuk menuju Gili Trawangan bisa ditempuh dari Kota Mataram dengan naik taksi melalui sepanjang jalan Pantai Senggigi dilanjutkan dengan menyeberang melalui Pelabuhan Bangsal.

Di sepanjang perjalanan antara Pantai Senggigi ke Pelabuhan Bangsal, mata kita akan dimanjakan oleh birunya laut. Salah satu spot paling menarik ialah saat berada di Bukit Malimbu atau Malimbu Hill. Dari atas ketinggian bukit itu kita dapat disaksikan indahnya Pantai Nipah dan tiga gili yakni Gili Trawangan, Meno dan Gili Air. Di bukit ini, wisatawan dapat merasakan sensai tandem paralayang menikmati keindahan pantai dari udara.

Gili Trawangan merupakan salah satu dari tiga gili yang berada di sebelah barat laut Lombok yakni Gili Meno dan Gili Air. Gili Trawangan memiliki panjang 3 kilometer dan lebar 2 kilometer. Dengan populasi penduduk sekitar 800.000 jiwa, pulau ini mempunyai fasilitas wisata terlengkap dibandingkan dengan dua pulau lainnya. Bule-bule berjemur di pantai menjadi pemandangan umum, sebagian lebih memilih santai minum bir di kafe yang tersebar di pinggir pantai. Pantas jika Gili Trawangan disebut sebagai eropa-nya Lombok.

Jika di Pantai Senggigi, saya hanya menikmati laut dari daratan, rugi jika di Gili Trawangan tidak merasakan dalam arti yang sesungguhnya. Scuba diving dan snorkeling di pantai Gili Meno salah satu pengalaman istimewa dan tak akan pernah terlupakan. Merasakan air laut yang jernih, menyaksikan terumbu karang yang terjaga dan aneka ikan dan biota laut lain secara lebih dekat memiliki sensasi tersendiri.



Saya bersama tujuh orang menyewa peralatan snorkeling dan perahu motor mengantar dan menunggui kami selama bermain air. Untuk pengalaman ini, setiap orang membayar Rp 150.000. Tetapi bagi yang hanya ingin keliling Gili Trawangan bisa juga menyewa sepeda angin yang disewakan penduduk setempat atau naik cidomo sejenis kereta kuda dengan tarif Rp 125.000 untuk tiga orang.
Dua orang perempuan Suku Sasak menenun songket di Desa Sukarara, Lombok Tengah


Tenun Songket Perempuan Sasak

Puas dengan wisata pantai, mengenal tradisi dan budaya Suku Sasak adalah pelajaran berharga di saat berada  Pulau Lombok. Bukankah saat melakukan perjalanan, bukan berapa banyak oleh-oleh yang kita bawa pulang, tetapi berapa banyak pelajaran hidup yang berhasil kita peroleh. Jika ingin membawa pulang ke dua-duanya, mengunjungi Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah adalah pilihan tepat.

Di desa yang berada sekitar 25 kilometer dari Kota Mataram  ini, kerajinan tenun songket khas Suku Sasak masih lestari.  Di desa ini,  menurut Musthofa (52), tokoh masyarakat Desa Sukarara,  mahir menenun songket masih menjadi kewajiban mutlak bagi perempuan sebagai syarat memasuki jenjang perkawinan.  Jika tak bisa menenun kain, jangan harap bisa menikah dengan pria pujaan hatinya.

”Kain hasil tenunan perempuan itu nantinya akan dihadiahkan kepada keluarga calon suami. Secantik apapun jika tak bisa menenun jangan harap bisa nikah. Jika nekat bisa kena sanksi adat," katanya.

Seni tenun diajarkan pada perempuan Sasak sejak usia belia, bahkan ada yang sudah mulai belajar sejak usia tujuh  tahun. Seperti Warni (42),  ibu satu anak ini mengaku sudah belajar menenun ketika dia berusia tujuh  tahun. "Kalau tak bisa nenun tak bisalah kita menikah," kata Warni yang mengaku menenun selama delapan jam per hari.

Kain yang ditenun secara manual dan sama sekali tidak menggunakan mesin ini memiliki beragam motif. Mulai dari subhanale, bulan bergantung, motif ayam, bintang empat hingga yang lagi ngehits adalah motif rangrang. Tiap motif memiliki makna sendiri-sendiri. Harganya, mulai dari ratusan ribu sampai jutaan rupiah, tergantung ukuran, tingkat kehalusan kain dan kerumitan motif.

Untuk kain ukuran taplak meja kecil ditawarkan antara Rp 75.000  hingga Rp 150.000. Sedangkan untuk  selendang, syal, dan ikat kepala Rp 150.000. Kain sarung bisa Rp 500.000. Sedangkan kain tenun dengan ukuran yang lebih lebar dan motif rumit dibandrol Rp 1,5 jutaan hingga Rp  3 jutaan. Saya memilih membeli satu syal seharga Rp 150.000 untuk kenang-kenangan.

Selain membeli kain tenun songket, di desa ini wisatawan bisa melihat langsung perempuan suku sasak menenun songket. Bahkan kita juga diberi kesempatan belajar cara menenun. Atau yang ingin narsis bisa berfoto mengenakan pakaian adat Suku Sasak dan foto dengan latar belakang bangunan tradisional. 
 
Rumah adat Suku Sasak di Kampung Sasak Ende

Ketenangan di Kampung Sasak Ende

Mengenal suku sasak, tak lengkap rasanya sebelum mengunjungi kampung tradisional suku sasak. Untuk itu, saya singgah di kampung Sasak Ende, yang terletak tidak jauh dari Desa Adat Sade. Di sini, hanya terdapat sekitar 30 kepala keluarga. Dibandingkan dengan Desa Sade, kampung ini jauh lebih tradisional. Jika ingin menyaksikan masyarakat yang masih benar-benar tradisional,  memilih ke Sasak Ende adalah pilihan yang tepat.

Di desa ini suasana sangat tenang. Wisatawan yang mengunjungi desa adat ini akan disambut ramah oleh  pemandu yang merupakan penduduk setempat. Wisatawan akan diajak mengelilingi sejumlah rumah adat khas Suku Sasak terbuat dari anyaman bambu dan beratapkan rumbia. Tak jauh dari rumah utama,  terdapat bangunan lumbung padi, dapur serta dan kandang ternak. Karena atap serambi yang pendek, untuk memasuki rumah seseorang harus menunduk.

“Bangunan ini mengandung filosofi bahwa seorang tamu harus sopan dan menghormati si empunya rumah,” kata seorang pemandu.
Mengunjungi sejumlah tempat, saya menyakini  Pulau Lombok lambat laun lepas dari bayang-bayang popularitas pariwisata Bali. Alam yang indah ditambah kekayaan budaya dan kreatifitas seni dan tradisi penduduknya adalah modal sosial untuk menjadikan Lombok menjadi pilihan utama tujuan wisata. Maka perkataan apa yang ada di Bali dapat ditemukan di Lombok dan apa yang ada di Lombok tidak mesti didapatkan di Bali adalah benar adanya.

Numpang narsis di sejumlah spot di Pulau Lombok
Sayang, keterbatasan waktu kunjungan membuat tidak semua daftar lokasi wisata di NTB bisa saya kunjungi. Salah satunya tempat yang belum kesampaian saya singgahi adalah Pulau Sumbawa. Ingin sekali menikmati keindah alamnya, dan mengenali tradisi serta budaya Suku Sumba. Tapi Minggu sebelum subuh, saya harus meninggalkan hotel karena waktu boarding pukul 05.30 WITA. Meninggalkan Pulau Lombok dengan maskapai yang sama dengan nomor penerbangan JT 0273, sinar matahari pagi yang mengitip di cakrawala mengantar pesawat yang tinggal landas.  Terima kasih, Lombok untuk empat hari yang tak terlupakan.


Pulau Sumbawa tunggu kedatanganku!!!