About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Sunday, May 11, 2014

Pengakuan Bekas Gembong Narkoba (3-Habis) Jauhi Mafia, Sengaja Mencuri Agar Masuk Penjara

Hadi Suprojo khusyuk berzikir di gubuknya yang berada 
di hutan Blawong, Kebumen.

SEKITAR 11 tahun tenggelam di dunia hitam, Hadi Suprojo (39) merasa hidupnya semakin tidak jelas. Banyak duit dihasilkan dari menjadi gembong Narkoba. Tetapi itu semua tidak membuatnya senang bahkan menjadikan hidupnya tidak tenang. 

"Hidup saya rusak karena kecanduan narkoba. Sekali hirup saya bisa habis sampai 4 gram heroin," ujar Hadi Suprojo saat ditemui Suara Merdeka di gubuknya yang berada di hutan Blawong, Desa Sawangan, Kecamatan Alian, Kebumen.

Untuk mencari ketenangan jiwa, maka setelah selesai transaksi Hadi sering lari mencari tempat sepi. Dia kerap pergi ke hutan di Gunung Slamet dan Kerinci menemui guru spiritualnya. Sedikit demi sedikit Hadi berusaha lepas dari jaringan mafia Narkoba hingga akhrinya, sekitar tahun 1998 dia pulang ke Kebumen.

Awal-awal di Kebumen, bapak delapan anak itu menepi di gua Menganti, perbukitan karst di Kecamatan Ayah. Bahkan di membuang uang Rp 250 juta beserta pistol jenis FN yang biasa dipakai ke laut selatan. "Uang itu saya anggap kotoran sehingga harus dibuang. Kalau itu dikasih orang, sama saja saya memberinya kotoran yang menjijikan," imbuhnya.

Agar semakin lepas dari jaringan gembong Narkoba, Hadi sengaja membantu temannya mencuri gergaji mesin agar bisa masuk penjara. Akhirnya, Hadi ikut ditangkap dan menjadi narapidana di Rutan Kebumen. 

"Kalau saya berada di penjara setidaknya tidak dicurigai disersi," ujarnya seraya mengatakan saat menjadi narapidana dia bertemu dengan Kiai Syaifudin Daldiri yang menjadi pembuna ruhani di Rutan Kebumen.

Bebas dari penjara, Hadi mondok di Pesantren Al Daldiri asuhan Kiai Syaifudin Daldiri atau yang akrab disapa Kiai Khojaki. Selain belajar ilmu agama, dia juga menjalani terapi agar lepas dari ketergantungan Narkoba. Sekitar tiga tahun nyantri, akhirnya Hadi menikah dengan Siti Romidah (29) seorang gadis asal Desan Adiwarno, Kecamatan Kutowinangun.

Sukses Berdagang

Anak-anak Hadi tidak mengenyam bangku sekolah
Setelah menikah Hadi bersama istrinya tinggal di Desa Purwodadi, Kecamatan Kuwarasan. Hadi sempat sukses dengan usaha dagangnya dan koperasi yang didirikannya. Namun dia kembali merasakan bahwa cara dagang yang dilakukan masih banyak menggunakan cara haram. Usaha yang dikelola dikelolanya dibiarkan terbengkalai dan memilih keputusan ekstrim yakni mengasingkan diri dengan hidup di tengah hutan. Bahkan saat ini rumah di Kuwarasan sudah disita bank.

Awalnya, Hadi tinggal di hutan bersama Yulianda temannya saat nyantri di pesantren Daldiri. Tetapi karena mengalami kecelakaan sehingga mengalami patah kaki, Yulianda dan keluarganya meninggalkan hutan dan pulang ke Lampung. Saat ini, Hadi tengah mempersiapkan satu pondokan lagi untuk teman karipnya yang berniat kembali ke sana.

"Rencananya Yulianda akan kembali tinggal di tengah hutan bersama kami," tandasnya.
Keberadaan keluarga Hadi yang tinggal di hutan menjadi perhatian. Banyak pihak yang telah membujuk agar Hadi hidup normal di perkampungan. Bujukan Korlap Front Thoriqotul Jihad (FTJ) Kebumen, Agus Miftahu Astani, jajaran Muspika Alian membuatnya tetap bergeming. Terakhir Sekretaris Daerah (Sekda) Kebumen Adi Pandoyo, Minggu (11/5/2014) naik ke hutan Blawong untuk menemui Hadi dan keluarganya.

Sekda datang membawa bekal sembako dan uang. Selain itu dia juga menawarkan kepada keluarga Hadi khususnya anak-anak diajak di pondok pesantren agar lebih hidup layak. Mendapatkan penawaran tersebut, Hadi mengaku masih akan pikir-pikir.***

*Pengakuan Bekas Gembong Narkoba (2) Gaji Rp 250 Juta Habis untuk Pesta

Hadi Suprojo bersama sebagian anaknya.
TEKAD untuk mengasingkan diri dengan tinggal di tengah hutan Blawong, Desa Sawangan, Kecamatan Alian, Kebumen sudah bulat dijalani Hadi Suprojo (39). Satu setengah tahun tinggal di hutan, istrinya Siti Romidah (29) dan tujuh anaknya sudah terbiasa hidup berdampingan dengan alam.

Pria kelahiran Dusun Kalipuru, Desa Pujotirto, Kecamatan Karangsambung, Kebumen itu tidak ingin anak-anaknya terseret ke dunia hitam seperti dirinya. Meski demikian, dia bersyukur masih menjumpai pintu taubat sehingga bisa lepas dari jerat narkoba dan jejaring mafianya.

Hadi bertutur, kehidupan kelamnya bermula saat dia merantau ke Jakarta setelah putus sekolah kelas 5 Sekolah Dasar (SD). Kehidupan keras di Jakarta membuat Hadi menjadi anak jalanan. Meski masih anak-anak, mencopet, berkelahi, mencuri,  dan mabuk-mabukan menjadi pekerjaan sehari-hari.

Sampai pada akhirnya Hadi bekerja di sebuah klub malam di Jakarta. Awaknya dia hanya sebagai tukang bersih-bersih. Karena dikenal kuat dalam minum-minuman keras dosis tinggi,  Hadi diangkat menjadi kapten bar. Tugasnya menemani tamu-tamu untuk minum-minuman keras. Di klub itulah secara tidak sadar Hadi terseret menjadi seorang kurir Narkoba. Hadi sering disuruh mengantarkan barang oleh tamu klub yang pada akhirnya dia tahu bahwa barang yang dikirim itu adalah heroin.

"Setelah terjebak, saya akhirnya terjun sekalian menjadi seorang kurier narkoba," ujar Hadi.

Meski masih berumur belasan tahun, Hadi selalu sukses dalam menjalankan tugasnya. Statusnya pun meningkat menjadi seorang bandar. Hadi mengaku pernah direkayasa ditangkap oleh timnya meskipun tidak membawa barang bukti Narkoba. Dia dibawa ke suatu tempat, disiksa dan dipaksa menyebutkan nama-nama jaringan.

Naik Pangkat

Pada saat itu Hadi berpikir, jika membongkar rahasia pasti akan dibunuh. Tetapi kalau bungkam dia akan selamat dan akan masuk penjara. Maka kendati dipukuli hingga babak belur dia memilih bungkam. "Saya benar-benar kaget saat itu, karena bos saya muncul dan memberikan ucapan selamat," ujarnya seraya menyebutkan karena dinilai lulus ujian dia pun naik jabatan.

Dalam promosinya, Hadi mengaku sempat mendapatkan pendidikan mafia di Hongkong. Di sana, dilatih teknik menembak, menahan sakit, dan ilmu-ilmu lainnya. Selanjutnya, dia pun terlibat dalam transaksi kwintalan heroin melalui laut. Maka dia pun paham betul siapa pemain kelas kakap peredaran Narkoba di Indonesia yang kebal hukum.

Diakuinya, uang yang dihasilkan dari menjadi bagian jaringan mafia Narkoba cukup banyak. Bagaimana tidak, gajinya dari bosnya warga negara Taiwan dan Nigeria dalam sebulan bisa mencapai Rp 250 juta. Saat itu pecahan uang terbesar Rp 20.000 gambar cengkih. Tetapi uang yang didapat itu selalu habis untuk pesta-pesta.***

Pengakuan Bekas Gembong Narkoba (1) Bertaubat, Memilih Tinggal di Tengah Hutan


Hadi Suprojo mencangkul tanah di dekat rumahnya.

JIKA tak melihatnya sendiri, sulit percaya masih ada manusia yang  tinggal di tengah hutan. Sejak 1,5 tahun lalu Hadi Suprojo (39) bersama keluarganya memilih tinggal di tengah hutan Blawong, masuk wilayah  Desa Sawangan, Kecamatan Alian, Kebumen, Jawa Tengah.
 Bersama Sarmidah (63) ibunya,  Siti Romidah (29) istrinya  dan tujuh orang anaknya, Hadi Suprojo sehari-hari tinggal di gubuk ukuran 3x4 meter. Rumah panggung itu sebagian berdinding papan kayu dan seng.  Sedangkan atapnya dibangun menggunakan asbes. Di dalamnya hanya terdapat dua lembar busa yang dijadikan alas tidur dan rak kayu untuk menempatkan pakaian bersih.
Di belakang rumah panggung terdapat gubuk yang difungsikan untuk memasak.  Di rumah itu tidak ada satu pun peralatan  elektronik termasuk jam dinding sekalipun . Pada malam hari, mereka hidup dalam gelap karena alat penerangan lampu minyak pun tidak tersedia. 
"Ketimbang beli minyak lebih baik untuk membeli beras. Kalau ingin lebih terang bikin perapian saja," ujar Hadi Suprojo saat ditemui di sela-sela kesibukannya bercocok tanam, Rabu (7/5/2014).
Ya, untuk mencapai rumah itu diperlukan waktu sekitar satu jam dengan berjalan kaki. Jaraknya sekitar 4 km dari perkampungan terdekat. Jalur mencapai lokasi pun harus melalui hutan jati dengan jalan yang terjal. Tanpa penunjuk jalan, mustahil bisa menemukan rumah tersebut.
Menurut Hadi, keluarganya sehari-hari makan seadanya. Jika masih ada beras, mereka memasak nasi. Tetapi kalau pun makan singkong, anak istrinya tidak protes. Sedangkan kebutuhan air diperoleh dari mata air yang tidak jauh dari rumahnya.
"Mereka sehat-sehat saja. Kalau sakit pun hanya demam biasa," ujarnya enteng.

Menjual Kayu
Hadi sebenarnya memiliki delapan orang anak dari hasil perkawinan dengan istrinya Siti Romidah (29). Akan tetapi anak pertama yang berumur 10 tahun diakuinya saat ini ikut bersama kakaknya. Jadi anak yang tinggal di hutan bersamanya sejumlah tujuh orang. Anak bungsunya ialah bayi berumur 11 bulan yang lahir saat keluarganya sudah tinggal di hutan. 
"Saat periksa ke desa, kebetulan bayi sudah akan lahir," imbuhnya.
Sehari-hari laki-laki kurus berambut panjang itu bertani di lahan seluas 6.600 meter yang dibelinya dari warga setempat. Aneka tanaman dibudidayakan seperti cengkih, singkong, pisang, jahe, cabe dan tanaman lain. Secara rutin Hadi turun ke desa setiap Jumat. Selain untuk menunaikan salat Jumat, dia juga membawa kayu bakar. Satu ikat kayu bakar dibayar warga Rp 10.000. Kemudian uang itu digunakan untuk membeli beras. 
Sebenarnya Hadi memiliki ponsel, namun barang tersebut hanya hidup saat hari Jumat saja, karena menemui listrik seminggu sekali. "Kalau hari biasa ya mati, karena tidak ada setrumnya," kelakarnya.
Keputusan tinggal di hutan boleh jadi langkah paling ekstrim dilakukan mantan  gembong Narkoba yang masuk dalam sindikat internasional itu. Berhasil lepas dari dunia hitam yang menjeratnya, Hadi menjadi santri di Pondok Pesantren Al Daldiri Kuwarasan, Kebumen. Sebelum memilih jalan sufi dengan uzlah atau menyepi, dia tinggal di Desa Purwodadi, Kecamatan Kuwarasan.
"Saya awalnya berdagang, tetapi merasa masih banyak melakukan kebohongan. Akhirnya mantap tinggal di hutan," imbuhnya seraya mengaku ingin hidup dengan rejeki yang halal dan menjaga kealamian pergaulan anak.
Sampai saat ini, Hadi belum berniat menyekolahkan anak-anaknya. Anak-anaknya dididik membaca dan menulis dan ilmu agama oleh istrinya. "Kalau memang ada sekolah yang benar-benar menerapkan syariat Islam mungkin akan saya sekolahkan, itu pun kalau mampu membiayai," ujarnya. ***