About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Wednesday, October 29, 2014

Empat Hari Tak Terlupakan di Pulau Lombok



Jalan Raya di Kawasan Pantai Senggigi
MENGUNJUNGI Pulau Lombok adalah salah satu mimpi saya yang terwujud. Lama sekali ingin membuktikan kabar keindahan alam dan keunikan tradisi dan budaya suku-suku di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dan, akhirnya, 23-26 Oktober 2014  lalu saya mewujudkan mimpi, menjejakkan kaki di tempat-tempat yang sebelumnya hanya melihat di televisi, koran  maupun internet.

Lombokkkkkk!!!!! Begitu kencang saya berteriak saat turun dari pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 0274. Padahal saat sampai di Praya Lombok International Airport waktu menunjukkan pukul 20.00 WITA. Norak banget, ya biarin saja. Secara, lebih banyak penumpang lain yang jauh lebih histeris mendapati dirinya sudah berada di Lombok.

Berfoto narsis dengan latar belakang tulisan “Bandar Udara Internasional Lombok” menjadi  hal pertama yang dilakukan sebagian penumpang setelah sampai di terminal kedatangan. Ada juga yang mimilih mejeng di depan poster “Selamat Datang di Lombok” yang dipasang Angkasa Pura. Tetapi  yang lebih tertarik sebuah poster Surfer Boys, bergambar tiga anak memegang papan surving di pantai saat sunset. “Lombok is always a good idea” begitu bunyi tulisannya.

Selama tiga malam, saya menginap di Puri Senggigi Hotel, sebuah hotel melati di Jalan Raya Senggigi, Lombok Barat sekitar satu jam perjalanan dari airport. Meski secara tanggal saya di Lombok selama empat hari, tetapi hari efektif hanya dua hari karena saya datang Kamis malam dan Minggu pagi harus sudah terbang ke Yogyakarta.

Lokasi tempat saya menginap, menurut petugas resepsionis hotel berjarak sekitar 1,5 km dari Pantai Senggigi. Dan malam pertama, saya sulit pun tidur di hotel.  Bukan karena hotel yang tak nyaman, tetapi lebih karena tak sabar menunggu pagi.

 
Indahnya Pantai Nipah dilihat dari Tanjakan Malimbu, lokasinya di sebelah utara Pantai Senggigi 

Sebait Puisi di Pantai Senggigi

"Dunia itu seluas langkah kaki, Jelajahi dan jangan pernah takut melangkah. Hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya” - Soe Hok Gie

Pagi buta dengan bekal kamera, saya berjalan kaki menyusuri pantai kawasan Pantai Senggigi. Bentang pantai yang luas, pasir putih, dan lambaian pohon kelapa di tepi pantai adalah perpaduan yang sempurna. Tak hanya ingin memotret, saya tiba-tiba ingin sekali menulis puisi.

Hey Ju, di Senggigi aku menulis puisi. Tentang aku, kamu, dan anjing kecil yang kau beri nama Choky. Hey Ju, satu penyesalanku berada di pantai yang Indah ini adalah tanpamu.

Yeah, Pantai Senggigi hanya secuil keindahan di Pulau Lombok. Ternyata ada ratusan destinasi yang layak disinggahi. Di Kabupaten Lombok Barat (Lombar) saja terdapat puluhan objek wisata yang terdiri atas wisata alam pegunungan, pantai, danau, taman laut dan flora dan fauna.

Selain Pantai Senggigi, di wilayah utara terdapat 10 objek seperti Taman Narmada, Pura Lingsar, Taman Wisata Suranadi, Padang Golf Golong, Dusun Tradisional Karang Bayan, air terjun Gripak Gunungsari, Pemandian Aik Nyet, Hutan Sesaot dan Agrowisata Gunung Jae. Di bagian selatan ada Gunung Pengsong, Sentra gerabah Banyumulek, Pantai Kuranji, Pantai Cemara Tebel, Gili (pulau kecil) Nunggu Sekotong, Gili Gede Sekotong,  Gili Tangkong,  Gua Jepang Sekotong, dan wisata pantai Mekaki, Labuan Poh, Sepi, Pengantap, dan Blongas.
Pantai Gili Trawangan
Secuil Surga Itu Bernama Gili Trawangan

Kemudian di Kabupaten Lombok Utara terdapat pulau kecil yang disebut sebagai salah satu surganya NTB; Gili Trawangan. Untuk menuju Gili Trawangan bisa ditempuh dari Kota Mataram dengan naik taksi melalui sepanjang jalan Pantai Senggigi dilanjutkan dengan menyeberang melalui Pelabuhan Bangsal.

Di sepanjang perjalanan antara Pantai Senggigi ke Pelabuhan Bangsal, mata kita akan dimanjakan oleh birunya laut. Salah satu spot paling menarik ialah saat berada di Bukit Malimbu atau Malimbu Hill. Dari atas ketinggian bukit itu kita dapat disaksikan indahnya Pantai Nipah dan tiga gili yakni Gili Trawangan, Meno dan Gili Air. Di bukit ini, wisatawan dapat merasakan sensai tandem paralayang menikmati keindahan pantai dari udara.

Gili Trawangan merupakan salah satu dari tiga gili yang berada di sebelah barat laut Lombok yakni Gili Meno dan Gili Air. Gili Trawangan memiliki panjang 3 kilometer dan lebar 2 kilometer. Dengan populasi penduduk sekitar 800.000 jiwa, pulau ini mempunyai fasilitas wisata terlengkap dibandingkan dengan dua pulau lainnya. Bule-bule berjemur di pantai menjadi pemandangan umum, sebagian lebih memilih santai minum bir di kafe yang tersebar di pinggir pantai. Pantas jika Gili Trawangan disebut sebagai eropa-nya Lombok.

Jika di Pantai Senggigi, saya hanya menikmati laut dari daratan, rugi jika di Gili Trawangan tidak merasakan dalam arti yang sesungguhnya. Scuba diving dan snorkeling di pantai Gili Meno salah satu pengalaman istimewa dan tak akan pernah terlupakan. Merasakan air laut yang jernih, menyaksikan terumbu karang yang terjaga dan aneka ikan dan biota laut lain secara lebih dekat memiliki sensasi tersendiri.



Saya bersama tujuh orang menyewa peralatan snorkeling dan perahu motor mengantar dan menunggui kami selama bermain air. Untuk pengalaman ini, setiap orang membayar Rp 150.000. Tetapi bagi yang hanya ingin keliling Gili Trawangan bisa juga menyewa sepeda angin yang disewakan penduduk setempat atau naik cidomo sejenis kereta kuda dengan tarif Rp 125.000 untuk tiga orang.
Dua orang perempuan Suku Sasak menenun songket di Desa Sukarara, Lombok Tengah


Tenun Songket Perempuan Sasak

Puas dengan wisata pantai, mengenal tradisi dan budaya Suku Sasak adalah pelajaran berharga di saat berada  Pulau Lombok. Bukankah saat melakukan perjalanan, bukan berapa banyak oleh-oleh yang kita bawa pulang, tetapi berapa banyak pelajaran hidup yang berhasil kita peroleh. Jika ingin membawa pulang ke dua-duanya, mengunjungi Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah adalah pilihan tepat.

Di desa yang berada sekitar 25 kilometer dari Kota Mataram  ini, kerajinan tenun songket khas Suku Sasak masih lestari.  Di desa ini,  menurut Musthofa (52), tokoh masyarakat Desa Sukarara,  mahir menenun songket masih menjadi kewajiban mutlak bagi perempuan sebagai syarat memasuki jenjang perkawinan.  Jika tak bisa menenun kain, jangan harap bisa menikah dengan pria pujaan hatinya.

”Kain hasil tenunan perempuan itu nantinya akan dihadiahkan kepada keluarga calon suami. Secantik apapun jika tak bisa menenun jangan harap bisa nikah. Jika nekat bisa kena sanksi adat," katanya.

Seni tenun diajarkan pada perempuan Sasak sejak usia belia, bahkan ada yang sudah mulai belajar sejak usia tujuh  tahun. Seperti Warni (42),  ibu satu anak ini mengaku sudah belajar menenun ketika dia berusia tujuh  tahun. "Kalau tak bisa nenun tak bisalah kita menikah," kata Warni yang mengaku menenun selama delapan jam per hari.

Kain yang ditenun secara manual dan sama sekali tidak menggunakan mesin ini memiliki beragam motif. Mulai dari subhanale, bulan bergantung, motif ayam, bintang empat hingga yang lagi ngehits adalah motif rangrang. Tiap motif memiliki makna sendiri-sendiri. Harganya, mulai dari ratusan ribu sampai jutaan rupiah, tergantung ukuran, tingkat kehalusan kain dan kerumitan motif.

Untuk kain ukuran taplak meja kecil ditawarkan antara Rp 75.000  hingga Rp 150.000. Sedangkan untuk  selendang, syal, dan ikat kepala Rp 150.000. Kain sarung bisa Rp 500.000. Sedangkan kain tenun dengan ukuran yang lebih lebar dan motif rumit dibandrol Rp 1,5 jutaan hingga Rp  3 jutaan. Saya memilih membeli satu syal seharga Rp 150.000 untuk kenang-kenangan.

Selain membeli kain tenun songket, di desa ini wisatawan bisa melihat langsung perempuan suku sasak menenun songket. Bahkan kita juga diberi kesempatan belajar cara menenun. Atau yang ingin narsis bisa berfoto mengenakan pakaian adat Suku Sasak dan foto dengan latar belakang bangunan tradisional. 
 
Rumah adat Suku Sasak di Kampung Sasak Ende

Ketenangan di Kampung Sasak Ende

Mengenal suku sasak, tak lengkap rasanya sebelum mengunjungi kampung tradisional suku sasak. Untuk itu, saya singgah di kampung Sasak Ende, yang terletak tidak jauh dari Desa Adat Sade. Di sini, hanya terdapat sekitar 30 kepala keluarga. Dibandingkan dengan Desa Sade, kampung ini jauh lebih tradisional. Jika ingin menyaksikan masyarakat yang masih benar-benar tradisional,  memilih ke Sasak Ende adalah pilihan yang tepat.

Di desa ini suasana sangat tenang. Wisatawan yang mengunjungi desa adat ini akan disambut ramah oleh  pemandu yang merupakan penduduk setempat. Wisatawan akan diajak mengelilingi sejumlah rumah adat khas Suku Sasak terbuat dari anyaman bambu dan beratapkan rumbia. Tak jauh dari rumah utama,  terdapat bangunan lumbung padi, dapur serta dan kandang ternak. Karena atap serambi yang pendek, untuk memasuki rumah seseorang harus menunduk.

“Bangunan ini mengandung filosofi bahwa seorang tamu harus sopan dan menghormati si empunya rumah,” kata seorang pemandu.
Mengunjungi sejumlah tempat, saya menyakini  Pulau Lombok lambat laun lepas dari bayang-bayang popularitas pariwisata Bali. Alam yang indah ditambah kekayaan budaya dan kreatifitas seni dan tradisi penduduknya adalah modal sosial untuk menjadikan Lombok menjadi pilihan utama tujuan wisata. Maka perkataan apa yang ada di Bali dapat ditemukan di Lombok dan apa yang ada di Lombok tidak mesti didapatkan di Bali adalah benar adanya.

Numpang narsis di sejumlah spot di Pulau Lombok
Sayang, keterbatasan waktu kunjungan membuat tidak semua daftar lokasi wisata di NTB bisa saya kunjungi. Salah satunya tempat yang belum kesampaian saya singgahi adalah Pulau Sumbawa. Ingin sekali menikmati keindah alamnya, dan mengenali tradisi serta budaya Suku Sumba. Tapi Minggu sebelum subuh, saya harus meninggalkan hotel karena waktu boarding pukul 05.30 WITA. Meninggalkan Pulau Lombok dengan maskapai yang sama dengan nomor penerbangan JT 0273, sinar matahari pagi yang mengitip di cakrawala mengantar pesawat yang tinggal landas.  Terima kasih, Lombok untuk empat hari yang tak terlupakan.


Pulau Sumbawa tunggu kedatanganku!!!

Tuesday, October 28, 2014

Tenun Songket Khas Lombok


AJARI CARA MENENUN: Dua penenun songket di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) sedang mengajari seorang wisatawan cara menenun. Tak sekadar membeli tenun songket karya para perajin, wisatawan yang berkunjung ke desa ini juga bisa menyaksikan langsung proses pembuatan kain tenun songket dan belajar cara menenun.

PENJUAL TENUN SONGKET: Dua pedagang tenun songket khas Lombok menjajakan dagangan di kawasan Pantai Kuta, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Para penjual kain songket tenun di pantai ini memiliki daya tarik tersendiri baik cara membawa dagangannya maupun keunikan motif pakaian yang dikenakan. Perlu terus dilakukan pembinaan agar para pedagang semakin elegan dalam menawarkan dagangannya kepada wisatawan yang berkunjung.

Monday, October 20, 2014

Demam Batu Akik Melanda

Ini akikku mana akikmu?
 BEBERAPA bulan terakhir, demam batu mulia, batuan bercorak atau akik hingga batuan alam polesan makin digandrungi berbagai kalangan di Kebumen. Mulai dari pejabat, pegawai negeri, polisi, TNI, jaksa, petani, karyawan pabrik, guru, dokter hingga pengusaha euforia dengan batu.
    Fenomena ini cukup menarik mengingat di era 80-an hingga 90-an, batu akik di Kebumen identik dengan perhiasan murah yang dijual di emperan toko. Batu akik banyak dipakai kaum marjinal yang tidak sanggup  membeli emas namun ingin tetap bergaya. Pemakai akik bahkan diidentikkan sebagai dukun karena mengangap batu akik bertuah dan punya daya magis. Meski masih ada yang berbau klenik, saat ini terjadi pergeseran karena sebagian penggemar mulai melihat sebagai estetika.
    Ya, semakin banyak penggemar akik berdampak bergairahnya pasar. Permintaan batu  utamanya batuan khas Kebumen atau Luk Ulo cukup tinggi. Sejumlah workshop maupun perajin batu akik selalu  dipadati pengunjung. Sebut saja Dasa Stone di Jalan Kolonel Sugiyono, Badar Besi di Jalan Pasar Rabuk dan di Bammas Stone di Jalan Es Bening Kelurahan Panjer. Konsumen tidak hanya dari masyarakat lokal tetapi banyak berasal dari luar Kebumen.
    "Memang minat masyarakat terhadap batu akik mulai meningkat, tidak hanya orang tua tetapi di kalangan anak muda," ujar Dasa Warsono (50) pemilik Dasa Stone, Jumat (3/10/2014)
.

Koleksi Batu Akik Kebumen
     Hal yang sama diakui oleh Bambang Haryono (48) yang mengelola bengkel batu akik dan batu mulia Bammas Stone. Tak hanya mencari batu akik, masyarakat juga mulai hobi terhadap batuan alam baik batu suiseki atau yang sudah dipoles alias biseki. Untuk batu jenis ini, peminatnya dari dalam negeri hingga hingga mancanegara.
    "Batu-batu ini hasil perburuan di sejumlah wilayah di Kebumen," ujar Bambang Haryono yang memiliki ratusan koleksi batuan alam poles di bengkelnya.
    Harga batuan alam ini cukup berfariasi. Seperti batu badar besi hijau dibandrol Rp 7,5 juta, badar besi merah corak besi ditawarkan Rp 15 juta, batu konklomerat Rp 7,5 juta, batu jenis fosil galih kelor Rp 3,5 juta, fosil kayu sempur Rp 750.000.
    Demam batu juga terjadi di Gombong. Paling tidak terdapat lima workshop yang mengolah batuan dari bongkahan besar sampai menjadi cincin di kota tersebut. Salah satunya workshop "Bursa Batu"  milik Miming (42) di Jalan Pemuda 6 Kelurahan Wonokriyo, Gombong. Dalam mengelola usahanya, Miming bekerjasama dengan Agus (52), veteran perajin akik yang sudah malang melintang di dunia per-akik-an sejak 1972.
    "Kami baru buka sekitar empat bulan. Sudah lumayan ramai, kalau di rata-rata bisa menghasilkan 20-an batu yang bisa dijadikan cincin. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 50.000 sampai Rp 1,5 juta," ungkap Miming mengaku omzet Bursa Batu miliknya mencapai Rp 20 juta/bulan.
    Harga batu akik sebenarnya tidaklah terlalu mahal, berkisar antara Rp 50.000 untuk jenis yaspis sampai Rp 1,5 juta untuk jenis badar besi pancawarna. Tetapi jika muncul corak unik dan langka dari sebuah batu akik, harganya bisa melambung tinggi.
    Seperti yang diungkapkan oleh William (40), kolektor akik yang memiliki batu akik bercorak tulisan arab "Allah".  Dia tidak berniat menjual koleksi batu berjenis lavender tersebut dengan harga standar. William mengatakan, batu akik yang diperolehnya dari Desa Ginandong, Karanggayam tersebut akan dilepas.
    "Tapi kalau ada kolektor yang berani menawar Rp 66.666.000 saya lepas," tandasnya seraya dia mengaku memegang batu akik jenis chalcedony bercorak ikan berwarna putih milik seorang kolektor yang dititipkan kepadanya untuk dipoles.

 



Penggemar Batu Akik







Penggemar Fanatik
    Berbeda dengan William yang masih mau menjual koleksinya, Song Ming (60), termasuk kolektor akik yang bisa dikatakan fanatik yang sama sekali tidak berniat menjual koleksinya berapapun harganya. Pria yang mengaku sudah 35 tahun mengkoleksi akik tersebut juga tidak pernah mempermasalahkan harganya ketika berhasrat membeli batu akik yang disukainya.
    "Saya nggak pernah mikirin harga, berapa pun saya beli asal saya cocok. Saya juga tidak berminat berbisnis akik, selama 35 tahun mengkoleksi batu tidak satupun yang saya jual," ujar Song Ming mengaku bercita-cita agar Kebumen punya perkumpulan penggemar batu akik yang resmi.
    Bahkan kalau bisa mendirikan tempat pelelangan batu akik yang resmi. Kalau bisa ada perkumpulan, bahkan kalau perlu kita bikin tempat rumah lelang seperti rumah lelang Christie di London di mana penjual dan kolektor bertemu di satu tempat melakukan lelang.
    Meskipun gemar mengkoleksi akik, Song Ming bukan tipe orang yang senang memakai cincin atau kalung. Menurut dia, tujuan mengkoleksi batu akik hanya untuk menikmati keindahan motif atau corak yang tergambar pada batu koleksinya. Baginya, mengkoleksi batu sama seperti mengkoleksi lukisan. Sang pemilik mendapat kepuasan batin ketika memandang keindahan yang tergambar pada koleksinya.
Batu Akik Kebumen

    Soal harga juga tidak dipermasalahkan oleh Giyono (42),  kolektor akik yang mengaku telah menghabiskan Rp 50 juta untuk mengoleksi akik. Kepala Desa Kedungjati Sempor ini pun mengungkapkan, dia mengkoleksi ratusan cincin  akik serta bongkahan batu yang dipoles sebagai aksesoris penghias rumahnya.
    Baginya, selain sebagai kesenangan, mengkoleksi akik juga sebagai wujud kebanggaan sebagai warga Kebumen yang dianugerahi Tuhan kekayaan alam terutama batuan yang indah. Giyono juga bercita-cita agar bisnis batu akik di Kebumen bisa lebih maju dari daerah lain.

    "Dari segi bisnis batu akik Kebumen masih kalah dengan daerah lain meskipun memiliki kualitas yang lebih baik," katanya mengakui secara marketing Kebumen masih kalah dibandingkan dengan daerah lain. (***)