About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Wednesday, March 11, 2015

Santap Siang "Dhaharan Jawi" di KantiNia

Satu porsi menu Dhaharan Jawi ala KantiNia Kebumen.
 BAGAIMANA pun seorang penggila kuliner telah berpetualang aneka makanan di berbagai daerah nusantara dan mancanegara, tidak akan pernah meninggalkan selera asal. Sebagai orang jawa misalnya, tentu masakan jawa sudah mendarah daging dan tak bisa tergantikan.
    Menu masakan jawa cukup spesial dapat dinikmati di rumah makan KantiNia yang terletak di Jalan Aroengbinang 21 persisnya di depan markas Palang Merah Indonesia (PMI) Kebumen. Di antara menu yang ditawarkan, menu yang diberi nama Dhaharan Jawi atau disingkat dengan Dharwi ini menjadi salah satu andalan dan cukup menjadi favorit para pengunjung.
    Penasaran dengan menu tersebut? Dharwi merupakan satu paket menu yang terdiri atas nasi bakar yang dibungkus daun pisang, kemudian dilengkapi lauk daging ayam goreng atau bakar. Pilihan pengganti lain bisa bebek atau ikan nila dan bawal, tergantung selera. Kemudian tahu, tempe, dan ikan asin yang semua digoreng kering.
    Sayur asem yang dilengkapi dengan jagung muda sangat menggoda selera. Kemudian, sambel bawang dengan cabe rawit merah dan lalapan berupa daun kol dan ketimun muda melengkapi menu yang disajikan dengan cukup spesial tersebut.
    Saat membuka bungkus daun, aroma nasi cukup khas. Nasi bakar juga terasa gurih lantaran terdapat bawang gorang di dalamnya. Lengkap sudah, rasa pedas, asam, asin, dan gurihnya nasi bakar membuat santap siang menjadi kian sempurna. Di satu piring menu Dhaharan Jawi seperti merayakan pertemuan hasil bumi dan kekayaan laut nusantara.
    "Menu dhaharan jawi ini memang sangat cocok untuk hidangan santap siang," ujar Chef KantiNia Iswandi (48), Jumat (6/3/2015).

Aneka Juice
  

 Iswandi yang telah lama malang melintang bekerja di hotel dan restoran di Bali dan Kebumen  menawarkan menu lain yang tak kalah lezatnya. Antara lain kepiting saos padang, bakmie nyemek khas Kebumenan, dan aneka sop seperti sop ayam, iga, buntut, dan asparagus.
    Soal harga, rumah makan yang melayani mulai pukul 09.00 sampai 18.00 tersebut cukup terjangkau. Seperti bakso sehat Rp 7.000, bakmie nyemek Rp 15.000 dan seporsi Dharwi Rp 20.000. Selain itu, beragam minuman ditawarkan mulai minuman panas, teh poci gula batu, kophit (kopi hitam), suhe (susu jahe), hingga tehman (teh manis). Kemudian minumam dingin, eskop, blue ocean, punkstro, hingga coffee float.
    "Ada juga aneka juice seperti jambu, sirsak, mangga, peksay, hingga juice durian," ujar Iswandi menyebutkan pihaknya melayani delivery order dan pesanan nasi box, prasmanan, baik partai besar maupun kecil.
    Di sisi interior, rumah makan yang berdiri sejak Nopember 2014 itu juga cukup menarik. Sebab, di bawa kaca meja makan terdapat contoh motif batik tulis khas Kebumen. Tentu, hal ini patut diapresiasi karena ada rumah makan yang ikut mengenalkan batik khas Kebumen.***

Saturday, March 7, 2015

Bersama Merayakan Cap Go Meh


Rupang tuan rumah Kelenteng Kong Hwie Kiong Mak Co Thian Shang Ze Mu atau Dewi Laut saat diarak.

TRADISI Cap Go Meh atau hari ke-15 Imlek di Kabupaten Kebumen dirayakan dengan penuh kegembiraan.  Sukacita itu tak hanya dirasakan oleh warga keturunan Tionghoa yang memiliki keterikatan dengan kalender solar lunar yang dianut oleh para leluhurnya di Tiongkok. Masyarakat yang bukan keturunan Tionghoa pun ikut ngayubagyo dalam perayaan itu.
Liong Samsi mengawal kirab rupang Kong Co dan Mak Co keliling kota Kebumen.


Seperti saat ritual Jut Bio, sebuah ritual mengarak patung Kong Co dan Mak Co atau dewa-dewi keliling kota, Kamis, 05 Maret 2015, pengiringnya bukan hanya kesenian barongsai dan liong samsi, tetapi juga kesenian tek-tek khas Kebumen, rebana yang dimainkan oleh para santri Pondok Pesantren Al Falah Somalangu, dan para remaja berjilbab yang tergabung dalam  komunitas Gusdurian Kebumen.
Komunitas Gusdurian Kebumen ikut menyemarakkan kirab budaya Cap Go Meh.

Kesenian tradisional Tek-tek turut ambil bagian dalam kirab Cap Go Meh.


Arak-arakan dimulai sekitar pukul 14.30. Adapun rupang Kong Co dan Mak Co yang diarak ialah tuan rumah Kelenteng Kong Hwie Kiong yakni Mak Co Thian Shang Ze Mu", yakni Dewi Laut dan  tuan rumah Kelenteng Hok Tek Bio Gombong, Kong Co Hok Tek Cin Sin  atau Dewa Bumi. Kirap Cap Go Meh itu benar-benar menunjukkan harmoni dalam multikultur.

Pemain liong berjalan tanpa iringan tabuhan saat melintasi Masjid Agung Kebumen.
Sikap toleransi juga ditunjukkan oleh peserta pawai. Seperti saat melintasi Masjid Agung Kebumen, seluruh tabuhan dihentikan guna menghormati umat Islam yang menuaikan ibadah salat Ashar. Pemain barongsai dan liong samsi juga menjadi kalem saat melintasi masjid. Setelah agak menjauh, tabuhan kembali dilanjutkan.

WARGA memberi angpao kepada liong dan barongsai yang melintas di depan tokonya. 
"Setelah sekian lama tak diadakan, tahun ini kegiatan kirab kembali digelar," ujar Ketua Panitia Henki Halim.

Warga dan para karyawan toko foto bersama dengan barongsai.
Simbol Kerukunan

Menurut Ketua Yayasan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kong Hwie Kiong Kebumen, Sugeng Budiawan,  atraksi arak-arakan itu diyakini sekaligus sebagai ritual menghalau musibah yang bisa datang dari darat dan lautan. "Yang jelas, kegiatan ini secara keseluruhan akan menjadi simbol kerukunan umat bergama di Kebumen," ujar Sugeng Budiawan.

Kelenteng Kong Hwie Kiong Kebumen dihiasai oleh warna warni lampu lampion.
Liem Tjen Lay, kepala bagian rumah tangga Kelenteng Kong Hwie Kiong Kebumen menjelaskan bahwa umat di kelenteng meyakini dengan mengarak Dewa Penguasa Laut dan Dewa Bumi maka Dewa-Dewi itu akan bahagia dan kemudian akan memberikan hasil bumi dan laut yang berlimpah bagi seluruh warga Kebumen.

Atraksi liong samsi di halaman Kelenteng Kong Hwie Kiong.
"Kami berharap acara yang akan diadakan setiap tahun itu sekaligus menjadi hiburan bagi warga Kebumen," tandas Tjen Lay.

Warga menyaksikan pesta kembang api di halaman kelenteng.
Pada malam harinya, ratusan warga dari berbagai latar belakang sosial dan budaya tumpah ruah memadati halaman Kelenteng Kong Hwie Kiong Kebumen. Perayaan Cap Go Meh ditandai dengan pesta kembang api. Ratusan warga pun antusias menyambut setiap letusan kembang api dengan tepuk tangan.

Ornamen dua patung naga di atas atap  kelenteng tampak indah  dengan pendaran warna warni  kembang api.
Sebelumnya warga diberikan hiburan berupa atraksi dua barongsai dan liong samsi. Dengan diiringi tabuhan khas, secara bergantian barongsai dan liong melakukan berbagai atraksi yang cukup ekstrim. Atraksi berlangsung semakin meriah, saat banyak warga yang memberikan angpao kepada barongsai dan liong. ***