Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Pagi Istimewa di Punggung Merapi dan Merbabu

Gambar
BEBERAPA waktu terakhir banyak tempat saya kunjungi, tapi tak satupun catatan perjalanansaya tuliskan. Hanya foto-foto teronggok di hardisk laptop yang hampir tak menyisakan ruang kosong. Entahlah, bahkan untuk berbagi gambar di media sosial saja saya malas melakukannya.
Malam ini saya mencoba menuliskan sekelumit perjalanan saat mengunjungi  Desa Samiran, di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Sebuah desa wisata  di antara lereng Gunung Merapi dan Merbabu.
Saya bersama sejumlah jurnalis  dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Mukti Marandesa berkesempatan menikmati suasana desa di punggung Gunung Merapi dan Merbabu. Kunjungan itu difasilitasi oleh kakak Willy the Kids, teman, senior, dan komandan  yang memiliki motto “Jangan pernah lelah berbuat baik”.  Dia adalah AKP Willy Budiyanto SH MH, yang sekarang menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Boyolali.
Berangkat dari Stasiun Kebumen, pukul 12.17 WIB  kami menumpang Kereta Api Wijaya Kusuma Cilacap-Solo dan turun di Stasiun Purwosari sekir…

Jurnalisme Beradab

Gambar
PADA era jurnalistik digital, berkembang dua model perilaku jurnalistik. Pertama, adanya persaingan menyajikan berita secara cepat. Kedua, konsep bersaing mengutamakan kedalaman (indepth)yangmerupakan dekonstruksi terhadap konsep pertama. Kedua model itu merupakan pilihan yang bersifat manajemen. Kedua model itu sesungguhnya sudah menjadi pembahasan jurnalistik di era klasik , ketika media cetak masih maraja. Memasuki abad digital, dengan generasi yang terus bergerak dari milenial ke "generasi Z" untuk -- menandai angkatan kelahiran 1995 hingga 2010 -- praktik jurnalistik pun bergerak beradaptasi dalam memberi sajian kepada pembaca zaman now. Di tengah trend demikian, bertarung pula aneka kepentingan yang berebut ruang pemberitaan, baik politik, sosial, ekonomi. Tak terkecuali aspek primordi kehidupan yang sangat sensitif. Pertarungan itu benar-benar mengguncang moralitas etis jurnalistik. Beragam kasus etis yang menjadi wacana publik bermunculan; kecewa atas ketelanjangan keb…

Mengenang Teguh Twan, Si Pematung Monumen Kemit

Gambar
PAGI ini saya menerima kiriman gambar dari senior Pak Joko Waluyo melalui pesan pintar WhatApp. Isinya tentang kabar kematian seorang seniman, pematung, pelukis sekaligus pemahat, Teguh Twan (79).

Tahun 2011 lalu, saya pernah menuliskan kisahnya secara bersambung di media tempat saya bekerja: Suara Merdeka. 

BAGI sebagian warga Kabupaten Kebumen mungkin masih asing dengan nama Taguh Twan. Tetapi sebagian besar pasti sudah tahu hasil karyanya, paling tidak sering melihat bahkan mengaguminya. Ya, Monumen Perjuangan Rakyat Kemit di Grenggeng, Karanganyar ialah salah satu karya pematung dan pelukis senior yang sudah berusia 72 tahun itu.

Rabu, 5 Oktober pagi, saya berkunjung ke rumah seniman lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta tahun 1960 itu. Rumah kediamannya terletak persis di pinggir Jalan Pemuda No 33 Kebumen. Selain suara anjing yang menyalak, sebuah relief perempuan berambut panjang dan bertelanjang di tembok serambi seolah mengucapkan selamat datang.

Selain relief ter…