About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Wednesday, December 30, 2009

Motif Batik Kebumen

SALAH satu kekuatan batik sebagai sebuah karya seni asli Nusantara adalah kekayaan motif dan coraknya. Keanekaragaman motif batik inilah yang memubuat meskipun banyak yang mengenakan batik tulis, namun antara satu dengan yang lain tidak ada yang sama motifnya.

Untuk batik Kebumen memiliki motif-motif khas antara lain jagatan, pring-pringan, glebagan, kupat-kupatan dan lainnya. Seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi, motif-motif tersebut terus berkembang. Kegiatan seperti lomba desain motif batik khas Kebumen yang digelar oleh Pemkab setempat juga mendorong perajin batik tulis untuk terus berinovasi bereksperimen mengembangkan motif batik agar tidak stagnan.


"Kalau tidak ada perkembangan motif yang dinamis, pemakai
kain batik tentu akan merasa jenuh," ujar Ketua Paguyuban Batik Lawet Sakti Kebumen H Hamami Abdul Rohman saat ditemui, di kediamannya, Dusun Tanuraksan, Desa Gemeksekti, Kecamatan Kota Kebumen.

Namun persoalan yang dihadapi sekarang ini adalah keterbatasan kemampuan para pembatik terutama yang sudah tua. Mereka sudah kesulitan untuk menciptakan motif baru. Untuk itu dibutuhkan sumber daya manusia yang masih muda untuk dan memiliki kemampun untuk memperkaya motif batik. Sehingga batik khas Kebumen dapat sejajar dengan batik-batik dari daerah lain seperti batik Yogyakarta, Solo, maupun Pekalongan.

"Tentu saja, motif yang dibuat terinspirasi dari budaya Kebumen sehingga muncul kekhasan warna dan coraknya," imbuhnya menyebutkan, dengan kata lain, sekali melihat orang langsung tahu batik tersebut dari Kebumen.

Sampai saat ini, pria yang menggeluti batik sejak kecil itu, mengaku masih menciptakan motif-motif batik baru. Karena tidak bisa mendesain menggunakan software komputer, dia menggambar motif secara manual yakni memakai pensil. Setelah jadi, baru dia serahkan kepada tukang setting komputer untuk dibuat versi komputernya.


Saat ditanya berapa jumlah motif yang telah ia buat, bapak lima anak dengan sembilan cucu itu mengaku sudah lupa. Patut disayangkan, banyaknya karya yang ia buat, motif-motif hasil karyanya itu sama sekali tidak pernah terdokumentasikan dengan baik.


Rata-rata ide dasar pembuatan motif batik berasal dari apa saja. Bisa dari
alam sekitar seperti bunga yang tumbuh di halaman, daun, makanan khas atau saat melihat corak batik yang menurutnya bagus, lalu dia mengembangkan menjadi karya berbeda. Termasuk pewarnaan yang digunakan adalah warna-warna khas Kebumen, seperti biru, merah, ungu, cokelat, hijau dan kuning.

"Sebenarnya Tuhan sudah menyediakan motif yang maha hebat di alam, kita tinggal menirunya ke dalam kain batik," katanya seraya menyebutkan terkadang ia mendapat inspirasi dari lamunan.


Saat ini, imbuh Hamami, perajin batik tulis dihadapkan pada pola perdagangan bebas yang cenderung merugikan. Salah satunya dengan munculnya printing motif batik baik dari pengusaha Indonesia maupun yang berasal dari Cina. Misalnya,motif batik yang baru diciptakan dalam waktu seminggu sudah beredar dengan di pasaran motif melalui printing motif baik yang sama.


"Karena diproduksi secara massal, harga printing motif batik jauh lebih murah," katanya seraya menyebutkan, batik khas Kebumen seperti gringsing, danliris, sidomukti, sudah ada versi printingnya.

Hamami menyebutkan, anggota Paguyuban Batik Lawet Sakti saat ini sekitar 125 pembatik.

Jumlah tersebut tersebar di sentra batik di Desa Jemur Kecamatan Pejagoan, Desa Gemeksekti Kecamatan Kota Kebumen dan Desa Seliling Kecamatan Alian. Dari sekian banyak perajin itu sebagian besar adalah perajin batik tulis.

"Hanya ada satu dua orang saja membuat batik cap," katanya seraya menyebutkan yang harus dilakukan oleh pembatik adalah membuat inovasi dalam segala hal, mulai dari desain batik, materi, hingga pemasaran.***

Wednesday, October 14, 2009

krisis air (2)

MARIYEM menghela nafas panjang setelah semua tiga jerigen yang ia bawa terisi air, kemarin. Pukul 12.00 WIB akhirnya dia pulang berjalan kaki sembari menggendong satu persatu jerigen yang masing-masing berisi 20 liter air.

Untuk mendapatkan 60 liter air bersih itu, warga RT 01 RW 02 Dusun Krinjingan, Desa Tugu, Kecamatan Buayan, Kebumen tersebut harus menunggu selama delapan jam. Air itu sebenarnya berasal dari sebuah mata air di balik perbukitan sekitar 1,5 kilometer dari pemukiman. Namun untuk mendekatkan ke warga, air tersebut dialirkan dengan menggunakan sebuah pipa.


"Airnya sangat kecil. Untuk bisa memenuhi satu jerigen perlu waktu 15 menit," kata Mariyem sela-sela menunggu jerigennya terisi air.


Kecilnya debit air membuat anteran jerigen mengular semakin panjang. Warga pun harus sabar, seperti Mariyem yang mulai antre pada pukul 04.00 WIB dan baru mendapatkan air bersih pada pukul 12.00 WIB. Karena saking lama menunggu, sekitar pukul 08.00 WIB ia sempatkan pulang ke rumah, memasak nasi untuk keluargnya. Dua jam kemudian, ia kembali ke lokasi antrean yang berjarak 500 meter dari rumahnya, untuk melihat jerigen miliknya.


"Soalnya kalau tidak ditunggui, jerigen tidak akan pernah terisi air," imbuhnya.

Mariyem tidak sendirian. Ada ratusan warga di Dusun Krinjingan yang harus sabar mengantre di tempat yang sama guna mendapatkan air bersih. Trisno Sumaryo (52) Ketua RT 02 RW 02 juga harus sabar menunggu. Katanya, antrean semakin panjang saat semakin sore. Bahkan jika di mata air tersebut dipakai warga sekitar, maka air pipa-pipa tersebut sudah tidak lagi mengalirkan air.

"Kalau sudah begitu, kami terpaksa pulang tanpa bawa air meski sudah lama mengantre," tuturnya.

Ya, Desa Tugu merupakan salah satu desa yang menjadi langganan krisis air saat musim kemarau tiba. Kekeringan merata di seluruh desa itu, hanya ada dua RT saja yang relatif kecukupan saat kekeringan mendera. Selainnya 80 keluarga di Dusun Krinjingan, 120 keluarga di Dusun Kaliori, 43 keluarga di Dusun Tugu I, 85 keluarga di dusun Tugu II, 217 keluarga di Dusun Kalisema, harus berjuangan keras untuk mendapatkan air untuk keperluan sehari-hari.

Meski menurut Sekretaris Desa Tugu Bambang Siswoyo, kekekirangan tahun ini tidak separah tahun lalu, namun warga desa itu masih tetap mengandalkan bantuan air bersih dari Pemkab Kebumen. Sebab hingga minggu kedua bulan Oktober ini, air dalam sumur masih belum mengeluarkan air.

"Masih ada kalau hanya untuk sekadar minum dan memasak," katanya.

Terus berulangnnya krisis air di desa itu, bukan berarti tidak ada upaya apapun untuk menanggulanginya. Upaya untuk mencari sumber air selalu saja gagal. Salah satunya bantuan dari ITB yang melakukan pengeboran sedalam 150 meter. Namun meski digali sedalam itu tak sedikit pun bisa mengeluarkan air yang bisa dikonsumsi.

"Sebelumnya mantan kepala desa sini pernah mengebor sampai 70 meter. Namun airnya seperti mengadung minyak," imbuhnya seraya menyebutkan saat dibor sebagian besar struktur bumi didominasi batu cadas.***


Wednesday, October 7, 2009

watu rumpit

MENELUSURI pelosok Kabupaten Kebumen, ternyata banyak ditemui lokasi yang memiliki panorama alam yang menakjubkan. Salah satunya di Desa Giripurno Kecamatan Karanganyar, memiliki sejumlah lokasi dengan panorama yang sulit dicari di daerah lain.

Salah satu yang cukup menarik adalah lokasi yang disebut oleh warga setempat sebagai bukit Watu Rumpit. Dari ketinggian lokasi itu, di sebelah selatan dapat terlihat landscape Kecamatan Karanganyar yang menawan. Tampak pula bangunan Padepokan Sehat Medika yang pimpinan Ki Suman Sri Husada. menarik tatkala sebuah kereta api, tampak seperti ular putih yang merambat pelan di hijaunya tanaman.

"Pada hari Minggu atau libur, banyak warga yang berada di tempat itu sekadar untuk melihat pemandangan alam," ujar Kepala Desa Giripurno, Warisah, kemarin.

Dinamakan Watu Rumpit, karena jalan untuk mencapai lokasi tersebut harus melewati jalan yang berada di kelilingi bebatuan. Batu-batu tersebut terbentuk bukan dibuat manusia melainkan dari proses alam dan sudah ada sejak dahulu kala.

"Dahulu jalannya hanya batu-batu saja. Sekarang sudah halus dan bisa dilewati angkutan pedesaan," ujar kades yang menjabat sejak dua tahun silam.

Dengan potensi alamnya yang manawan, satu-satunya kades perempuan di Karanganyar itu yakin akan bisa mengembangkan desa yang dipimpinnya menjadi daerah tujuan wisata. Sehingga potensi lain dari desa itu dapat tergali.

Memang, selain memiliki Watu Rumpit desa yang berada di ketinggian itu juga memiliki sejumlah spot yang menawan. Misalnya sebelah utara desa terdapat bukit Sipendel, yang dapat terlihat panorama yang tak kalah Indahnya. Dari puncak bukit itu bisa terlihat dengan jelas desa-desa di Kecamatan Karanggayam dan Kecamatan Sruweng.

"Jalan lintas kecamatan juga sudah dibangun, dan dapat dilalui oleh kendaraan," imbuhnya.

Dari data tahun 2009, desa dengan luas wilayah 379 hektare tersebut memiliki 774 keluarga. Jumlah penduduk sebanyak 3.950 jiwa dengan 1960 orang laki-laki dan 1990 perempuan. Sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani, pedagang dan pegawai negeri dan swasta.

Sementara komoditas andalan yang cukup menopang ekonomi warga adalah kerajinan gula kelapa dan kerajinan lanting. "Gula kelapa dari Giripurno juga dibeli tengkulak untuk stok pabrik kecap di Jakarta," imbuhnya.***

Sunday, September 20, 2009

Pulang Kampung

TIDAK terasa, tahun ini sudah sekitar 15 tahun saya tidak lagi tinggal bersama orangtua di desa. Maklum, sejak duduk kelas dua sekolah menengah pertama saya mulai tinggal jauh dari orang tua. Selama 10 tahun terakhir ini, intensitas saya untuk menengok orangtua di desa juga semakin berkurang.

Saat masih kuliah di Yogya, mungkin hanya sekitar tiga bulan sekali saya pulang kampung. Intensitas itu terus berkurang saat memasuki dunia kerja. Atas nama kesibukan, waktu untuk bertemu dengan keluarga pun semakin tersita. Larut dan menikmati dalam peran sebagai seorang karyawan rendahan, membuat saya mementingkan pekerjaan daripada keluarga.

Kampung saya adalah sebuah desa yang dibelah oleh rawan Jalan Raya Pantura antara Semarang-Surabaya, persisnya di lereng sebelah selatan bukit Pati Ayam. Dukuh Tambakan RT 01 RW 02 Desa Bumirejo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, alamat lengkapnya. Meski masih dalam satu provinsi dari tempat saya tinggal sekarang, sekitar tujuh jam perjalanan darat, terasa sangat jauh untuk ditempuh. Buruknya transportasi umum, membuat saya kerap kali menjadi alasan mengapa saya malas pulang.

Namun, momentum Lebaran memaksa saya mengingat orangtua dan keluarga besar saya di desa. Bahkan, sampai umur menjelang 29 tahun ini, belum satu momentum lebaran pun saya lewatkan tanpa berkumpul dengan keluarga. Doa yang selalu saya panjatkan, tahun-tahun ke depan, semoga saya masih tetap bisa bersama keluarga saat hari raya tiba. Berbagi kebahagiaan dengan orang tua, adik, kakak, paman, keponakan, dan para tetangga dekat adalah kebahagiaan tersendiri.

Pulang kampung juga ibarat mengaca dari mana asal muasal saya ada. Ritus tahunan itu memunculkan kesadaran baru dalam diri saya. Kesadaran itulah yang bakal menjadi spirit untuk menjalani kehidupan saya berikutnya. Misalnya, saat sembahyang Idul Fitri di masjid kampung, sengaja saya memilih barisan paling belakang. Dari lokasi saya berada itu, dapat terlihat hiruk pikuk jamaah. Sesekali menyapa dan berjabat tangan orang-orang yang masih mengenali saya. Termasuk teman-teman yang sama-sama pulang dari perantauan.

Saya sadar, bertahun-tahun kampung ini saya tinggalkan, banyak yang telah berubah. Terutama para penghuninya. Sampai-sampai terkadang saya merasa makin terasing di tanah kelahiran sendiri. Semakin banyak pula wajah yang tak saya kenali, seperti mereka yang menikah dengan orang desa kami. Bagi mereka, saya juga mungkin disebut warga asing karena tak pernah terlihat sebelumnya. Wajah-wajah generasi baru bermunculan di desa saya. Seperti gemerap bocah-bocah yang ternyata adalah anak teman mainku sendiri semasa kecil.

Sedangkan wajah-wajah lama sudah semakin menghilang. Saat menengok pemakaman persis di samping masjid, banyak gundukan tanah baru menandai rumah terakhir warga desa kami. Di pemakaman di tengah desa itulah jasad warga dusun kami akan beristirah menyatu kembali dengan bumi. Maka pemakaman itu sengaja dibuat di tengah pemukiman untuk mengingatkan bahwa kelak di situlah kami bertuju.

Lik Ngatimah dan Lik Jaminah adalah dua orang yang masih belum tua. Namun mereka sudah pergi lebih dahulu untuk selama-lamanya. Mereka menjadi penghuni baru di rumah leluhur kami. Padahal lebaran tahun lalu, tawa renyahnya masih menyapa saya saat berkunjung ke rumahnya, 300 meter dari rumah saya. Namun Lebaran tahun ini tidak bisa lagi saya menjabat tangannya untuk memohon maaf.

Warga di kampung saya sangat menghormati para leluhur. Sebab tanpa leluhur kami tidak akan pernah ada di dunia. Biasanya kepada mereka yang telah mendahului, warga kampung saya selalu menggelar doa bersama. Saat itulah terbersit dalam benak saya, lebaran tahun depan tentu ada yang datang dan pergi silih berganti. Dari yang ada menjadi tidak ada, dan dari yang tidak ada menjadi ada.

Begitulah siklus kehidupan itu saya melihatnya jelas saat pulang kampung. Juga, saat menyaksikan bocah-bocah berebut makanan kenduren, saya tersenyum. Tapi juga sedih. Betapa cepat waktu berlalu. Saya semakin dimakan umur dan jauh meninggalkan masa kanak-kanak. Bagaimana kami belajar berpuasa selama setengah hari. "Puasa Bedug", kami menyebutnya.

Masih lekat dalam ingatan saya, setiap berkumandang adzan dzuhur, saya makan dengan lahap nasi lauk tempe goreng dan oseng-oseng kacang pajang masakan orang ibu saya. Makan segera kami selesaikan setelah mudazin memungkasi puji pujian dan mengumandankan iqamah. Iqomah paling kami benci karena menandai selesai waktu berbuka, dan kami pun melanjutkan puasa sampai bedug maghrib tiba.

Namun, para muadzin di desa kami sepertinya tahu. Setiap adzan dzuhur mereka selalu berlama-lama, seolah memberikan waktu kepada kami, bocah-bocah yang belajar puasa, untuk jenak menyantap makanan dan mencuci mulut dengan jambu wer yang kami kumpulkan dari pinggir kali. Berbeda jika yang menjadi muadzin adalah Lik Wadi. Adzan yang dikumandangkan begitu cepat, yang sulit membedakan antara adzan dan teriakan minta tolong terjadi kebakaran. Dia seolah tak rela memberi waktu jeda kepada kami untuk berbuka. Makan kami pun seperti prajurit yang makan nasi ramsum di bawah hitungan komandannya.

Pernah suatu hari, Lik Wadi digeruduk sejumlah orangtua, gara-gara ulahnya mengakhiri adzan tanpa pujian terlebih dahulu. Seorang anak tersedak karena tergesa-gesa makan. Kami, anak-anak mengusulkan agar dia diskors dari muadzin salat dzuhur selama bulan puasa.

Yah, tidak disangka peristiwa itu sudah 20 tahun berlalu. Lebaran tahun ini, tingkah kelucuan itu saya dapati pada diri anak semata wayang kakak saya. Meski masih kelas satu sekolah dasar (SD), keponakan saya itu sudah belajar puasa walau setengah hari. Ulfi nama, keponakan saya itu. Dia cerdas. Selalu pulang sekolah lebih awal dibanding teman-temannya. Ceritanya, ibu gurunya selalu memberi pertanyaan sebelum pulang sekolah. Siapa yang paling cepat menjawab, dialah yang paling awal pulang. Keponakan saya itu selalu pertama kali mengacungkan jarinya dan berteriak kencang saat menjawabnya.

Lebaran demi Lebaran terus berlalu. Perubahan demi perubahan terjadi. Lahan kosong di dusun saya saat ini semakin dipadati oleh rumah penduduk yang dibangun bergerombol dan saling berhimpit. Keterbatasan lahan membuat seorang anak mendirikan rumah berdesakan dengan orang tuanya. Begitu juga saat melihat orangtua saya semakin sepuh. Kerut di wajahnya mulai bermunculan akibat dimakan usia. Padahal belum banyak saya membalas kebaikannya.

Barangkali kesadaran yang sama dirasakan oleh para pemudik selain saya. Sehingga mereka rela melipat jarak ratusan hingga ribuan kilometer dengan mobil pribadi, kereta api, bus ekonomi, hingga menggunakan sepeda motor untuk pulang kampung saat hari Lebaran. Semoga Allah memberi umur panjang, sehingga kita menjumpai hari raya Idul Fitri 1431 Hijriyah mendatang.

Mohon Maaf Lahir & Batin.


Thursday, August 27, 2009

sagon kelapa

LEBARAN identik dengan suguhan penganan berupa kue kering. Namun sekarang ini tidak banyak lagi dijumpai masyarakat yang menyuguhkan kue kering tradisional seperti sagon kelapa, kue semprong, bolu emprit, dan roti kacang. Mereka lebih memilih kue kering buatan pabrik yang dinilai lebih berkelas dan bagus kemasannya.

Akibatnya kue-kue kering tradisional yang dulu pernah berjaya, semakin meredup popularitasnya. Padahal sebagin besar kue-kue itu diproduksi oleh industri kecil maupun industri rumah tangga. Dampak dari menurunnya permintaan, dari tahun ke tahun produksi para perajin pun terus menurun.

Salah satunya dialami oleh Tarmini (60) perajin sagon kelapa di Dusun Penasapan Desa Kebulusan, Kecamatan Pejagoan, Kebumen. Perempuan yang menekuni usaha kue sagon sejak tahun 1968 itu mengaku sebelum tahun 2000, ia memproduksi penganan yang diolah dari tepung ketan, gula pasir dan kelapa itu setiap hari. Namun saat ini dia hanya memproduksi seminggu dua kali saja.

"Pembuatan hanya untuk memenuhi pesanan dari langganan saja," ujar Parmini saat ditemui di rumahnya, Kamis (27/8).

Saat ini produksi dilakukan setiap hari hanya pada saat bulan Ramadan dan Lebaran. Mengingat bulan puasa permintaan kue sagon meningkat. Dengan dibantu oleh lima tenaga kerja yang masih famili Tarmini dapat menghabiskan 36 kg tepung ketan, 22 kg gula pasir dan 55 butir kelapa. Sagon kelapa yang dikemas dan dilebeli merek "Sari Rasa" itu kemudian dipasarkan ke toko dan pasar tradisional dengan harga Rp 13.000/kg.

"Meski permintaan sagon meningkat, namun masih kalah jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya," ujarnya seraya menyebutkan dia pernah membuat sagon kelapa hingga satu kwintal.

Perempuan yang memiliki delapan anak itu menyebutkan, selain karena permintaan yang menurun, dia mengaku kesulitan mendapatkan tenaga yang ahli membuat kue. Pasalnya, tidak semua orang bisa membuat kue sagon dengan rasa yang gurih.

"Dulu saya pernah membuat roti kacang, tetapi karena tidak ada tenaganya jadi sekarang tidak memproduksi lagi," imbuhnya seraya menyebutkan dia tidak menggunakan bahan pengawet maupun pemanis buatan dalam produk buatannya.

Penurunan produksi kue tradisional juga dialami para perajin kue tradisional di Desa Surotrunan, Kecamatan Alian. Di desa yang dikenal sebagai sentra industri kue kering itu, saat masih jaya, para perajin bisa menghasilkan ratusan kilogram kue kering setiap hari. Mereka juga masih mudah untuk memasarkan kue buatan mereka kepada pedagang.

"Namun saat ini toko-toko kue sudah tidak ada yang mau dititipi kue kering dengan alasan kue itu sudah tak laku lagi," ujar Ny Asmuni, salah seorang perajin.

Diakuinya, kue tradisional yang diproduksi oleh para perajin masih sangat sederhana dari sisi kemasan dan bentuknya. Hal itu berbeda dengan kue kemasan buatan pabrik yang lebih menarik. Diperlukan inovasi dari para perajin agar penganan tradisional khas Kebumen itu mampu bisa bersaing dengan kue buatan pabrik.

Produksi kue tradisional saat ini, imbuh dia, hanya berdasarkan pesanan warga untuk dijadikan oleh-oleh saat mudik. Menjelang Ramadan perajin kebanjiran pesanan dari warga berbagai desa yang ingin menjadikan kue tradisional sebagai suguhan. "Namun setelah Ramadan, permintaan kembali menurun dan perajin sepi kembali," tuturnya.***


senam lansia

LANJUT usia merupakan bagian dari tahap perjalanan hidup manusia yang tidak bisa dihindari. Sehat meski memasuki usia senja adalah harapan semua orang. Berbagai upaya pun dilakukan untuk menjaga tubuh tetap sehat dan terhindar dari sakit-sakitan.

Salah satunya dilakukan oleh para lansia di Dusun Sokka Kidul, Desa Sidokarso, Kecamatan Sruweng, Kebumen. Mereka secara aktif melakukan senam lansia secara rutin setiap. Bahkan sejak 5 Oktober 1999 lalu mereka mendirikan paguyuban senam lansia yang diberi nama "Ngesti Budi Utomo". Seminggu sekali sekitar 22 anggotanya ikut melakukan senam khusus lansia.

Ya, menyaksikan mereka melakukan senam, para lansia yang pada umumnya sudah di atas 70 tahun itu masih tampak bugar. Tawa renyah mereka sesekali terlihat saat melakukan gerakan-gerakan tangan. Masih lengkap dengan mengenakan pakaian olahraga, para lansia itu dengan tidak kalah dengan orang yang jauh lebih muda.

Salah satu lansia yang masih tampak sehat adalah Rusdiman (75). Pansiunan guru SD yang memiliki sebanyak 16 orang cucu tersebut mengaku masih aktif melakukan senam lansia bersama warga lainnya. Pria yang saat ini menjadi ketua Ngesti Budi Utomo itu mengaku cukup merasakan dampak melakukan senam lansia secara rutin.

"Badan jadi lebih sehat, dan untuk mengisi kesibukan," ujar Rusdiman.

Adapun gerakan pada senam lansia itu sengat sederhana. Setiap gerakan menonjolkan adalah gerakan pada tangan untuk melatih saraf dan tulang tetap kuat, serta mendorong jantung bekerja optimal. Dengan gerakan itu berdampak positif terhadap peningkatan fungsi organ tubuh dan meningkatkan imunitas dalam tubuh manusia.

Selain untuk menjaga kesehatan bagi para lansia di dusun itu, paguyuban senam lansia imbuh dia adalah untuk menjaga kehidupan sosial bagi para lansia. Apalagi dengan berkumpul dengan sesama para lansia, banyak hal yang membuat hati senang. Lalu apa yang mereka bicarakan?

"Kalau udah kumpul sesama umur, yang dibicarakan masih kayak anak remaja he he he," katanya seraya tersenyum.

Inspirasi pembentukan kelompok senam lansia adalah saat dia melihat senam lansia di Jakarta yang ditayangkan televisi. Ide itu pun muncul dan disambut antusias oleh para lansia di dusun tersebut. Kegiatan senam rutin paguyuban yang anggotanya umurnya di atas 56 tahun itu itu pun masih bertahan hingga sekarang ini.

D Suwarno (69) salah satu anggota mengemukan, anggota paguyuban senam lansia tersebut anggota berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan. Mulai dari petani, pansiunan guru, pedagang sampai pansiunan tentara seperti dirinya yang merupakan pansiunan TNI AL.

Menurut dia, senam lansia ini bisa untuk menumbuhkan rasa persaudaraan masyarakat di dusun tersebut. Dengan tumbuh persaudaraan di kalangan lansia diharapkan menjadi contoh bagi generasi muda untuk tetap menjaga persaudaraan.

"Yang terpenting adalah menyehatkan badan sehingga lansia lebih produktif," imbuhnya.***

Wednesday, August 26, 2009

kerajinan batok kelapa

BATOK atau tempurung kelapa sepintas hanyalah sebuah sampah yang mungkin tidak berarti bagi sebagian orang. Padahal ditangani oleh tangan kreatif, batok kelapa bisa berganti rupa menjadi karya seni kerajinan yang bisa menjadi peluang usaha.

Adalah Senin (59) warga RT 04 RW 04 Dusun Cilalung, Desa Kejawang, Kecamatan Sruweng, Kebumen yang bisa mengolah batok kepala menjadi sejumlah kerajinan. Dari batok kelapa yang melimpah ruah di Kabupaten Kebumen, ia bisa mengolahnya menjadi sejumlah kerajinan seperti alat rumah tangga, semisal gelas, mangkok, siwur, irus, hingga aksesoris lainnya.

Sejak 30 tahun lalu, pria yang memiliki lima orang anak itu sudah menekuni kerajinan tangan tersebut. Berbekal coba-coba, akhirnya dia berani membuat berbagai macam k
erajinan dari batok kelapa. Hingga saat ini, pria paruh baya itu pun masih bertahan menghidupi keluarganya dengan batok kelapa. Ia pun ingin mengembangkan kerajinan yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarga.

Secara umum, proses pembuatan kerajinan batok kelapa oleh Senin masih bisa terbilang sangat sederhana. Peralatan yang digunakan pun masih tradisional. Namun garapan yang dihasilkan relatif cukup halus. Dengan sedikit sentuhan seni lagi, tidak mustahil kerajinan itu bisa tembus ke pasar mancanegara bersaing dengan kerajinan serupa dari Bali maupun Yogyakarta.

Dengan dibantu oleh anaknya, dalam sehari Senin mampu menghasilkan sebanyak satu kodi atau 20 biji kerajinan. Hasil kerajinan itu dipasarkan hingga Bandung dan Jakarta. Oleh para pengepul produk kerajinan itu dipasarkan di supermarket dan sebagian digunakan untuk h
otel.

Masih terbatasnya jaringan yang dimilikinya, membuat produk kerajinan batok kelapa milik Senin hanya dijual kepada pengepul dengan harga yang relatif murah. Untuk siwur dengan gagang kayu kelapa dijual dengan harga Rp 4.000 per biji, sedangkan untuk gagang memakai kayu mlinjo harganya lebih murah yakni Rp 3.000 per biji. Sedangkan harga gelas dari batok kelapa Rp 4000/biji, irus Rp 2.500 per biji.

"Saya juga membuat siwur dengan gagang dari bambu untuk dipasarkan di lokal Kebumen," ujar Senin rumahnya, kemarin.


Kepala Desa Kejawang Wahyu Utomo, ada beberapa perajin yang mengolah tempurung kepala menjadi berbagai kerajinan. Namun dia mengakui masih perlu ada pendamping
an dari pemerintah agar hasil kerajinan batok kelapa yang dibuat warganya bisa bersaing dan memiliki nilai jual yang tinggi.

Dia optimis kerajinan batok kelapa masih potensial untuk meningkatkan kesejahteraan warganya. Mengingat bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat kerajianan cukup mudah untuk didapatkan di Kebumen. Sehingga kerajinan batok kepala tidak mengalami kekurangan bahan baku.

"Apalagi saat ini banyak rumah makan, restoran dan hotel yang tertarik pada perabotan makan dari batok kelapa. Misalnya sendok kuwah, sendok nasi dan lainnya karena alami dan disukai konsumen," ujarnya.***

Wednesday, August 19, 2009

krisis air (1)

DUSUN Kalijambe Desa Kalisana, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah tampak lengang. Di sepanjang jalan desa yang menghubungkan antara Desa Langse dengan Desa Tlepok itu, hanya sesekali lewat warga bersepeda maupun berjalan kaki.

Hamparan sawah di sisi kanan kiri sebagian menghijau oleh daun tembakau siap petik. Namun sebagian lagi tampak menguning sewarna rumput yang mengering.
Musim kemarau membuat sebagian petani tidak mau berspekulasi. Mereka lebih memilih membiarkan lahannya tanpa tanaman.

Maklum, warga di desa itu tidak hanya kesulitan air untuk menyirami tanaman tembakau, melainkan juga sulit mencukupi kebutuhan air bersih. Saat hujan menjauh, air tiba-tiba menghilang laksana ditelan tanah yang merekah. Sumur mengering dan sumber air yang tersisa pun jauh di balik pegunungan.


Pada pertengahan Agustus ini, salah satu sumber yang masih mengalirkan air adalah mata air di Alas Rembes, sekitar 5-7 kilometer dari rumah warga. Dari sumber itulah ratusan keluarga menggantungkan kebutuhan air, untuk minum, memasak, mencuci, dan mandi.

Karena jaraknya yang cukup jauh, warga bersiasat dengan mengalirkan air ke sejumlah bak penampungan air. Bak penampungan air itu merupakan sub terminal yang kemudian diteruskan ke puluhan rumah warga di bawahnya.

Salah satu penampungan air yang masih terjaga berada di depan Mushola Baitul Taqwa. Di bak yang dibangun dengan ketinggian sekitar lima meter pada empat bulan lalu secara swadaya itu dipasang selang yang menuju ke tiap-tiap bak milik sekitar 25 keluarga. Jarak rumah warga dengan penampungan tersebut antara 20-150 meter.

Meskipun airnya tidak melimpah, menurut Sinah (52) warga RT 03 RW 03 Dusun Kalijambe, dengan sistem tersebut kebutuhan warga masih bisa tercukupi. Selain itu warga juga tidak harus mengambil air ke sumber air yang jaraknya cukup jauh. Perempuan paruh baya itu pun bersyukur sumber air di Alas Rembes masih mengeluarkan air.
"Dia tidak bisa membayangkan kalau mata air itu tidak lagi mengeluarkan air," katanya membersihkan penampungan air tersebut.

Manisah (30) warga lainnya, mengaku pada musim kering, tidak ada lagi sumber air yang bisa digunakan. Sungai Weleran yang melintas di desanya juga kerontang sebelum waktunya, sehingga tak bisa diandalkan. Maka ibu satu anak itu mengatakan menjaga mata air agar tetap mengalir adalah mutlak dilakukan dan tidak bisa ditawar.


Ya, desa yang sebagian warganya merantau ke ibukota itu belum sampai mendapatkan bantuan air bersih dari Pemkab Kebumen. Musim kemarau tahun lalu juga demikian. Namun pemerintah desa sudah mengajukan bantuan air bersih. Namun tidak lama kemudian turun hujan.
"Meskipun terbatas, kebutuhan air bersih masih tercukupi," ucap Hasyim Kepala Desa Kalisana.

Ternyata, matinya mata air pada musim kemarau dialami beberapa desa, salah satunya Desa Giritirto Kecamatan Karanggayam. Dari tujuh mata air yang ada di desa itu, saat ini tinggal dua yang masih mengeluarkan air dengan debit air menurun drastis. Hal itu perlu dicermati karenanya dampak yang diakibatkan akan lebih luas. Mengingat desa yang berbatasan dengan Banjarnegara itu merupakan daerah hulu yang berfungsi sebagai wilayah tangkapan air.


Di Desa Pohkumbang Kecamatan Pejagoan sejumlah mata air kering lebih awal. Sedangkan mata air yang tersisa semakin menurun debit airnya. Menurut Sekretaris Desa Pohkumbang Rohyat sebelum tahun 1990, di desa dengan ketinggian 185 dpl yang terdiri dari empat dusun tersebut masih banyak sumber air yang masih mengalir meski memasuki musim kemarau.

"Namun sekarang tidak hujan sebentar, sudah mengering," katanya.


Alih fungsi lahan di daerah penyangga (buffer) serta makin bertambahnya lahan kritis menjadi faktor penyebab kelangkaan air. Dari analisis Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumberdaya Pembangunan (LPPSP) Semarang, penyebab lain adalah makin luasnya penyebaran daerah aliran sungai (DAS) yang kritis, kemudian penebangan liar di daerah penyangga.

"Akibatnya makin defisit air di wilayah kekurangan air semakin meningkat serta ketersediaan air di daerah surplus menurun," ujar Ketua LPPSP, Indra Kertati saat mengisi pelatihan pengelolaan SDA berbasis masyarakat di Kebumen.

Di luar itu semua, kesadaran masyarakat untuk menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan mata air menjadi hal yang sangat penting untuk menjaga mata air tetap basah. Upaya sosialiasi peningkatan peran serta masyarakat dalam perlindungan sumber mata air yang dilakukan oleh Kantor Lingkungan Hidup (KLH)N Kebumen juga patut diapresiasi. Namun upaya tersebut tidak berhenti sampai di situ.

"Kami berharap kesadaran masyarakat untuk ikut bertanggungjawab menjaga dan melindungi sumber daya alam khususnya sumber mata air meningkat," tandas Kepala KLH Drs Nugroho Tri Waluyo.***


Wednesday, August 12, 2009

Perajin Gembor

MUSIM kemarau bagai mata uang yang mempunyai dua sisi saling yang bertolak belakang. Satu sisi musim ini dikeluhkan oleh para petani yang menanam padi termasuk warga daerah pegunungan yang dilanda kekeringan. Namun di sisi yang lain, datangnya musim kemarau disambut sukacita oleh para perajin gembor di Desa Mrinen Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Bagi para perajin gembor, musim kemarau membawa banyak keuntungan. Mengingat saat musim kamarau menjelang, permintaan produk itu meningkat. Para perajin pun kebanjiran order dan rupiah yang mereka dapat pun berlipatganda dari hari biasa.

Seperti yang dialami oleh Sipul (65). Baginya, kemarau adalah berkah karena pesanan gembor meningkat dua kali lipat. Istilahnya, berapa pun jumlah yang dia bikin terbeli. Dia bahkan sampai menolak pesanan karena kekurangan tenaga untuk membuatnya.

Kendati dibantu oleh dua anaknya, Sipul masih kewalahan untuk memenuhi orderan. Untuk kejar target pesanan, dia mau tidak mau harus lembur untuk menyelesaikan. Dalam empat hari, dia bersama dua anaknya bisa menghasilkan 40 buah gembor.

"Lembur terus Mas, karena lagi musimnya," ujarnya saat ditemui di rumahnya.

Ya, gembor merupakan semacam tempat air yang dibuat dari seng yang biasa digunakan petani untuk menyirami tanaman. Pada musim kemarau saat ini, gembor menjadi alat bantu pertanian yang sangat dibutuhkan. Biasanya alat tersebut dimanfaatkan oleh petani untuk menyirami bibit tanaman tembakau, cabai, maupun bawang.

Dalam membuat Gembor, Sipul yang menjadi perajin sejak 1980 itu bahu membahu dengan anak-anaknya. Satu orang anaknya bertugas membuat bahan dasar gembor, yakni dari lembaran sing kemudian dibentuk menjadi silinder. Kemudian anak satunya lagi bertugas memang sisi bawah dan aksesoris dengan menggunakan patri. Setelah proses itu, giliran Sipul yang bertugas mengecat dan mengeringkan gembor yang siap dipasarkan.

Selain untuk Kebumen, gembor hasil produksi industri rumah tangga yang diberi merk "Sipul" itu dipasarkan ke sejumlah daerah. Antara lain Cilacap, Purwokerto, Purworejo, Kabupaten Magelang, Wonosobo, Temanggung dan Banjarnegara. Terkadang produksinya untuk memenuhi pesanan dari Semarang dan Yogyakarta.

Harga jual gembor yang dia buat dari seng tebal Rp 50.000. Sedangkan untuk yang kualitas di bawahnya Rp 35.000. Dia menjamin, kualitas gembor buatannya itu akan bisa bertahan hingga 10 tahun.

Namun yang menjadi kendala bagi perajin adalah naiknya bahan baku berupa lembaran seng. Harga lembaran seng sebelumnya Rp 36.000/lembar saat ini naik menjadi Rp 42.000. Sedangkan untuk seng yang sebelumnya Rp 50.000/lembar saat ini sudah mencapai Rp 75.000.

Desa Mrinen merupakan sentra perajin dari seng seperti gembor sampai kompor gas. Adapula warga yang membuat gembor dari bahan kaleng bekas atau yang disebut blek. Salah satunya dilakukan oleh Romelan (44). Harga yang dia tawarkan lebih murah yakni antara Rp 16.000- Rp 17.500.

Bapak tiga anak itu menuturkan, bahan baku pembuatan gembor dari seng dan kaleng. Jenis kaleng yang bisa dimanfaatkan adalah kaleng bekas oli dan lem. Bahan baku tersebut didatangkan dari Banyumas, Purworejo, dan Magelang. Dia juga mengeluhkan kenaikan harga. Yang biasanya harga satu kaleng Rp 4.000 menjadi Rp 5.000.

"Dengan dibantu istri dan anak, saya hanya mampu memproduksi dua kodi saja," tandasnya Romelan seraya bersyukur hasil yang didapat bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. ***

Friday, July 31, 2009

menunggu bedug

PADA bulan Ramadan, ada satu momentum yang paling ditunggu terutama bagi orang beriman yang berpuasa. Azan maghrib. Jika untuk hal lain, menunggu sangat membosankan, menanti adzan maghrib saat berpuasa memiliki sensasi yang tak tertandingi.

Selama hidup, ribuan hingga jutaan kali memaksa kita harus menunggu. Tentu, semua itu kita jalani dengan suasana yang tidak menyenangkan. Saat menunggu bapak pulang dari sawah untuk minta uang jajan, atau menunggu giliran pentas lomba menyanyi saat masih SD, hingga ketika menunggu giliran saat sibuyung akan disunat.

Beranjak besar, ada yang terpaksa merasakan bagaimana menunggu kiriman wesel dari kampung yang tak kunjung tiba. Menunggu pengumuman kelulusan masuk perguruan tinggi seperti dialami ribuan lulusan SLTA malam ini, atau menanti wawancara pertama kali saat melamar kerja. Tentu tidak terhingga untuk disebutkan persatu. Pastinya sulit menemukan bahwa menunggu yang menyenangkan selain menantikan bedug yang disusul azan maghrib berkumandang.

Ya, bunyi bedug maghrib entah siapapun penabuhnya serasa lebih syahdu ketimbang gebukan drum Pepep St 12, atau tidak kalah lincah dari gebukan Eno Netral. Meski bedug ditabuh laki-laki renta hampir seabad, Joe Jordison dari Slipknot tentu kalah mantep. Kencengnya tabuhan Michael “Moose” Thomas dari Bullet For My Valentine masih kalah menggetarkan kelelewar untuk keluar dari sarangnya.

Deretan drumer grup band Dewa mulai Wawan, Bimo, Wong Aksan, Tyo Nugros hingga Agung tidak pernah sanggup menandingi seksinya tabuhan bedug, dari mushola reot di pinggir kali sekalipun. Bunyi bedug tidak pernah berubah. Ritmenya sama, pelan, sedikit cepat, makin cepat dan kembali ke pelan Entah siapa yang menciptakan, hingga tidak ada yang berniat mengganti iramanya.

Selalu ada yang menyenangkan saat nenunggu bedug. Bagi anak-anak di pedesaan, seperti saya, dahulu mencari jambu wer di pinggiran desa tak tergantikan bahagianya. Lain lagi untuk bocah-bocah di pinggiran stasiun, membuat pisau dari paku yang dilindaskan roda kereta sudah menjadi tradisi. Kerasnya jeritan, saat roda kereta melindas paku serupa pisau dapur tak, membuat mereka tak sabar seharian belum makan.

Berjubel di masjid kampus, menghadiri ceramah ilmiah yang menghadirkan pembicara yang berderet gelar adalah salah satu alternatif menunggu bedug bagi mahasiswa tak bermodal. Kelompok ini menamakan diri sebagai aktifis takzilan. Sekitar tahun 2000-an di Yogya, kelompok ini organisir oleh mahasiswa pinggiran, yang begitu rapi sindikatnya.

Ada yang bertugas semacam intel yang mengumpulkan data di mana saja ada ceramah. Ada yang mencatat, dan menjadi korlap. Kebetulah saya salah satu anggota biasa. Ya, tujuan utama sebenarnya bukan ceramah itu, melainkan menu makanan yang dihidangkan para dermawan. Sayang semua itu tidak bisa dibawa pulang.

Namun bagi kalangan berduit atau sekadar dikira borjuis, lebih memilih jalan-jalan di mall, nongkrong di kafe yang sebenarnya belum buka. Memilih alun-alun kota sambil jualan kolak pisang, atau berzikir di depan layar televisi, sampai menghatamkan membaca al kitab sampai 30 juz sambil status di facebook adalah pilihan lain.

Semua masa lalu menunggu bedug begitu manis saat dikenang, meski cukup tragis. Ramadan tahun ini saya belum menyusun rencana mengisi waktu menunggu bedug. Karena mustahil untuk kembali menjadi aktifias takzilan, jualan kolak, apalagi ke mall, karena entah sejak kapan waktu sore sudah saya gadekan atas nama pekerjaan. Bahkan entah berapa lama saya lupa bagaimana warna matahari saat tenggelam kecuali di dalam televisi saat menyiarkan adzan magrib atau dalam foto di internet.

Ah, lama saya telah kehilangan senja.

Berzikir sambil menulis, begitu selalu ingin saya lakukan untuk menunggu suara panggilan itu. Saat jari-jemari menghitung huruf, mengeja kata menjadi kalimat saya berharap ada nilai ibadah. Meski sekadar menyimak ayat-ayat al kitab dari mp3, semoga tidak mengurangi takzimku kepada-Nya. (wallahu a'lam)

Friday, July 10, 2009

Kuliah Managemen di Warung Kelontong

CUKUP lama saya berbincang dengan seorang pedagang warung kelontong di pojok jalan protokol tengah kota di Kabupaten Kebumen, beberapa waktu lalu. Banyak hal kami omongkan, mulai dari semakin sepinya pembeli warung, sampai masalah Pemilu Presiden.

Karena terlanjut dicap sebagai pendengar yang baik oleh sebagian orang, saya pun mendengarkan kisah pria setengah baya yang saya panggil Koh Chan itu hingga tuntas. Bahkan saat dia lama terdiam, saya masih takut untuk memotong kata-katanya. Barangkali dia tengah berpikir keras untuk mengeluarkan kisah-kisah terbaiknya.

Namanya juga ngobrol, tentu banyak hal dibicarakan. Kami bebas melompat-lompat dari tema satu ke tema lain. Sebebas obrolan warung kopi Lek Masinah (sebuah warung kopi terkenal kampung saya Dukuh Tambakan, Pati), karena tidak ada moderator yang mengatur waktu untuk menjawab. Selama perbincangan itu kami tidak perlu jaga pencitraan diri karena tidak ada satupun kamera menyorot kami berdua.

Sore itu, saya berguru banyak hal tentang kehidupan. Satu pelajaran berharga saya dapatkan. "Mencari uang itu memang sulit. Tapi yang lebih sulit adalah bagaimana mengaturnya," kata Koh Chan seperti mengutip buku kumpulan kata mutiara.

Meski sering berbincang dengan warga keturunan, namun tak banyak yang bisa memberi pangaruh sedahsyat Koh Chan. Setiap kata-katanya penuh makna seperti guru besar yang tengah membacakan pidato pengukuhannya.

Sepulang dari itu, saya pun berjanji akan mempraktikkan semua teori yang saya dapatkan.Saking semangatnya, saya bertekad akan melebihi apa yang ia lakukan. Tentu apa yang saya dapat akan lebih dari apa yang ia peroleh.

Makan malam saya jadikan ujicoba pertama. Kebiasaan makan di warung Padang Jawa (meski tulisannya warung padang yang jual orang Kebumen, he he) pun saya ganti. Warung angkringan pun menjadi pilihan. Tak tanggung, saya hanya membawa uang Rp 4.000 untuk alokasi anggaran makan malam. Jumlah itu sepertiganya jika makan di warung padang yang biasanya meludeskan Rp 12.000 ditambah Rp 500 untuk biaya parkir.
****
Lain dari biasanya tukang angkringan itu memadang dengan curiga. Sepertinya ia tahu saya tidak akan membeli terlalu banyak di warungnya. "Jahe,,,," suara saya henti sebelum bilang kata "susu hangat". Tukang angkring itu pun meneruskan "Jahe susu, anget atau es," katanya. "Jahe anget," tegasku melupakan keiginginan minum jahe susu hangat.

Masih dibakar oleh wejangan, saya makan dengan lahab dua bungkus nasi kucing cuma dengan lauk satu gorengan yang sudah masuk angin. Terakhir jahe hangat tanpa susu itu mengakhiri ritual makan malamku dengan setengah sempurna. "Rp 3.000, Mas." Saya tak percaya mendengarkan, lalu saya ulangi sekali lagi. Jawabannya sama. "Ah, dahsyat. Tersisa Rp 1.000," pikirkan.

Seperti praktisi bisnis multi level marketing (mlm) handal, saya lalu melakukan kalkulasi. Jika saya bisa menghemat lebih dari 60 persen setiap hari tentu dana itu bisa dialokasikan untuk hal-hal besar. Bukan hanya makan malam saja yang harus dihemat anggarannya, untuk sarapan, makan siang, beli pulsa handphone, bayar jasa cuci pakaian, bensin, sampai jatah kontrakan. "Pemikiran yang luar biasa," pikirku.

Sebenarnya muncul gagasan mengurangi sumbangan sosial per bulan. Tapi sontak suara bapak saya muncul tiba-tiba melarang niatan saya. Memang, waktu belum berhemat saja, saya tergolong pelit, tidak tahu apa kata orang setelah saya menerapakan managemen dari perkuliahan di warung kelontong itu.

Malam itu saya sampai terperanjat gara-gara menghitung jumlah penghematan yang saya hitung jika dilakukan selama setahun. Gara-gara kesulitan berhitung, saya tertidur dengan bayangan angka-angka. Maklum nilai Matematika saya sungguh memalukan untuk dipamerkan.

***
Ketika bagun pagi, kamar tidur penuh kertas bekas corat-coret penjumlahan. Persis kamar anak kelas 5 SD menjelang ujian sekolah. Di layar handphone juga masih saya dapati angka dari hasil penjumlahan Rp 17.560.900, yang entah dari hasil penjumlahan mana saja.

Seperti layaknya anak petani, bangun pagi selalu berteriak mencari makanan. Maklum lewat pukul 05.30, orangtua kami sudah hilang ditelan kabut di sawah. Jika sampai jam segitu belum sarapan, kami bisa kelaparan di sekolahan.

Saya pun bergegas ke warung makan. Sebenarnya warung yang biasa di jejali para pegawai negeri dan karyawan swasta saat jam makan siang itu belum dibuka. Namun saya nekat dan setengah memaksa minta dilayani. Hanya ada nasi, rica-cica bebek yang baru matang, teh hangat, dan sejumah sayuran. Dengan lahap saya menyantapnya, sampai saya sadar usai berhitung harus membayar Rp 11.500.

Saya pulang sambil mengingat ajaran "mencari uang itu memang sulit. Tapi yang lebih sulit adalah bagaimana mengaturnya." Sayang sifat pelupa yang akut masih terpelihara. Begitu terus terus berulang sampai hari ini. ***

Tuesday, June 16, 2009

Jangan Bersedih, Apalagi Gantung Diri

SAYA tertegun, ketika melihat seorang pemuda terbujur kaku tak bernyawa, Selasa (16/6). Bagaimana bisa, pemuda yang masih berumur 25 tahun itu memilih mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri menggunakan tali plastik hanya gara-gara cintanya dihianati oleh kekasihnya.

Entah ide dari mana pemuda bernama Santoso Budi Hantoro itu memilih jalan pintas yang menyakitkan itu. Apalagi sebelum melakukan aksinya
warga Desa Jatisari Kebumen itu
sempat mengirim sms kepada kekasihnya melalui ponsel yang ia pinjam dari temannya.

"Ashadu allaila haillallah waashadu ana muhammadarrosulullah..ma 5fn aq ya ma aq ninggali kamu dengan cara kya begini,ma besok pg ma2 k sn ya..bs ga bs hars ke sn sl y ini psn q yg trhr ma km, aq mt ninggl orng2 yg aq sygi yg aq cnti krn cntq krn ksh syg ktlsnk k setiyaan q km abaikn km khianti km dusti km nodai ya udag ya ma..! ASSALAMMUALLAIKUM..INALILLAHI WA INNAILAHI ROJINGUN.."

Merinding juga saat saya membacanya.
Jangan-jangan anak muda ini salah satu penggemar reality show yang marak diputar di stasiun televisi swasta. Lihat saja, selain mengirim pesan singkat, ia juga menulis surat wasiat untuk keluarganya. Pada tulisan tangan di kertas HVS putih itu, intinya ia meminta maaf karena tidak bisa membahagiakan keluarga.

Kepada keluarga yang masih hidup ia meminta untuk membicarakan bersama-sama soal penyelesaian hutangnya yang ada di bank. (Jika seperti ini, bunuh diri merupakan bentuk lari dari tanggung jawab). Tak hanya kepada keluarga, rupanya ia juga punya pesan khusus untuk pihak kepolisian.

Di akhir surat itu, tertulis bahwa ia gantung diri karena sudah tidak kuat lagi menanggung beban hidup yang semakin sulit. "Jadi aku pesen sama bapak polisi kematian saya ini jangan disusut. Ini pesan saya," tulisnya. Ah, jangan-jangan anda saja ia memiliki handycam akan mendokumentasikan detik-detik kematiannya. (na'uzubillahi min dzalik).

Saya heran, di sebuah kota kecil seperti Kebumen angka bunuh diri ternyata cukup tinggi. Betapa bunuh diri semakin populer di kalangan masyarakat sebagai jalan pembebabasan dari berbagai persoalan dunia. Padahal bagi yang lain, betapa nyawa satu-satunya begitu berharga sehingga apapun dilakukan untuk mempertahankan.

Dalam perbincangan dengan Kepala Satuan Intel Polres Kebumen disebutkan modus paling banyak dilakukan dengan cara gantung diri, minum racun serangga, dan yang terakhir adalah menabrakkan diri di rel Kereta Api. Secara umum penyebab bunuh diri karena stres atau tekanan hidup. Kejadian masa kecil yang suram juga bisa membuat orang ingin melakukan bunuh diri di kemudian hari. Termasuk penyalahgunaan obat (psikotropika) juga memicu timbulnya tindakan bunuh diri.

Bunuh diri merujuk data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menduduki peringkat 12 sebagai penyebab kematian. Setiap tahun di seluruh dunia tak kurang dari 948.000 orang mati karena bunuh diri. Para pakar memperkirakan, kasus bunuh diri akan melonjak selama 20 tahun mendatang.
Namun begitu bunuh diri, bukan monopoli kalangan ekonomi lemah. Begitu pendapat Prof Dr Sasanto Wibisono, SpKJ yang guru besar Fakultas Kedokteran UI. Kaum intelektual juga punya kecenderungan melakukan bunuh diri.

Ada tiga jenis bunuh diri yang bisa diidentifikasi, yakni bunuh diri anomik, altruistik, dan egoistik. Indikator yang paling kuat untuk orang yang ingin bunuh diri, adalah depresi. Umumnya kondisi itu dibarengi dengan sikap menarik diri dari lingkungan, mood mulai menurun, tidak ada gairah dan kekuatan lagi.

Faktor genetik kemungkinan juga ikut berpengaruh pada tindakan bunuh diri. Sulitnya menghadapi lingkungan, kompetisi, termasuk dalam hal pergaulan, bisa memicu kejadian bunuh diri pada remaja. Sementara derita karena penyakit berat, rasa kesepian, dan tidak mendapat perhatian, sering memicu kaum lansia untuk cepat-cepat meninggalkan dunia fana ini.

Disebutkan pula tanda-tanda orang yang ingin bunuh diri yakni seperti suka membicarakan tentang bunuh diri, bicara putus asa, tidak berharga, dan tak ada yang bisa menolong, mendadak menjadi sangat gembira atau pendiam, tak berminat pada hal-hal yang tadinya digemari, dan sering mengungkapkan hal seputar kematian.

Sedangkan penyebab bunuh diri antara lain, perceraian, perpisahan, putus hubungan, stres dalam keluarga, sakit berat, kehilangan pekerjaan, rumah, uang, status, harga diri, keamanan diri. Faktor ketergantungan alkohol atau narkotika dan kematian sakit berat yang diderita keluarga atau teman serta depresi juga merupakan faktor penyebab bunuh diri.

Kesedihan adalah awal mula dari depresi. Maka kesedihan yang berlebihan itu selayaknya dihindari. Di dalam Alquran dijelaskan bahwa tabiat manusia memang suka sedih dan berkeluh-kesah. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh-kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir," (al-Ma`arij:19-21).

Sebagai manusia, Rosulullah SAW pernah merasa sangat sedih karena penduduk Makkah menolak beriman. Hal ini diterangkan dalam surat asy-Syu`ara ayat 3, “Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu karena mereka tidak beriman."

Pada masa terputusnya wahyu, Rosulullah juga sangat sedih karena cemas Allah telah meninggalkannya. Begitu beratnya kesedihyan yang dialami Nabi pada waktu itu sehingga ia merasa hendak mencam-pkakkan dirinya dari jabal Kubis.

Begitu juga ketika isteri Nabi, Khadijah dan pamannya, Abu Talib meninggal dalam waktu berdekatan. Nabi merasa kehilangan dua orang yang selalu membelanya dan mene-nangkan hatinya menghadapi tantangan dan ancaman dari pihak Kuraisy. Keadaan itu sangat memukul batin Nabi saw. sehingga tahun itu disebut `am al-huzn (tahun dukacita).

Dalam bahasa Arab terdapat sejumlah kata yang mengandung makna-makna sedih. Di antaranya, huzn, iktiyab, jaz’, faz`. Semua kata ini mengandung makna sedih sekalipun bervariasi tingkat berat dan ringannya. Huzn berarti kesedihan, iktiyab kesediahan yang berat dan mendalam, dan jaz` sedih berkeluh kesah.

Menurut DR H Ramli Abdul Wahid MA, kata huzn dan kata jadiannya banyak digunakan dalam Alquran. Kata huzn setidaknya digunakan dalam Alquran 42 kali. Misalnya dalam surat al-Baqarah ayat 38 “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka tidak ada atas mereka ketakutan dan tidaklah mereka bersedih,”

Saat bersedih, membaca buku La Tahzan karya Dr ‘Aidh al-Qarni cukup menjadi pelipur. Dalam mukadimah-nya sang penulis mendedikasikan buku itu untuk siapa saja yang senantiasa merasa hidup dalam bayang-bayang kegelisahan, kesedihan dan kecemasan. Atau orang yang selalu sulit tidur dikarenakan beban duka dan kegundahan yang semakin berat menerpa.

Namun terkadang saat bersedih, menulis puisi menjadi cara kuno yang murah ketimbang dugem menghabiskan duit. Seperti halnya Gibran yang menulis sajak cinta kepada May Zaidah yang dikenang manusia sepanjang masa. Andai saja mereka yang sudah terlanjur bunuh diri dapat bercerita, tentu akan sangat berharga bagi kita untuk menghargai hidup. (Wallah A'lam)***



Tuesday, June 9, 2009

Sambal Belut Bakar

ANDA penyuka makanan belut? Jika ya, tidak ada salahnya mencoba mengunjungi Warung Pak Sunadi di Jalan Raya Kebumen-Kutowinangun KM 9. Warung sederhana di Dusun Kedungtawon Desa Kuwarisan, Kecamatan Kutowinangun, Kebumen itu menyediakan berbagai menu olahan hewan sejenis ikan yang bernama latin Monopterus albus.
Ya, berbagai menu yang disediakan seperti mangut belut, belut kecap, sayur belut, kripik belut, dan menu spesialnya adalah sambal belut bakar. Jika di Yogyakarta, Anda menemukan warung “SS” (Spesial Sambal) yang belutnya yang kecil-kecil goreng kering yang dilumat dengan cabe keriting, bawang putih, dan minyak jelantah, atau warung “Pak Sabar” yang pernah dipuji oleh Bondan Winarno, di Kebumen warung Pak Sunadi dijamin tak kalah sajian menu belutnya.
Maklum selain kelezatannya, harga menu belut di warung itu cukup terjangkau. Dengan mengeluarkan Rp 8.000 Adapat menikmati satu porsi menu sambal belut dengan nasi yang dihidangkan masih hangat. Pantas, apabila para penggila kuliner rela jauh-jauh datang ke warung yang dibuka sejak Desember 2008 itu hanya sekadar untuk mencicipi lezatnya sambal belut yang pedas cabe merahnya.

Sidem Prahara (29) warga Desa Candisari Kecamatan Banyuurip Purworejo, salah satu pengunjung mengaku ketagihan setelah merasakan lezatnya sambal belut bakar di warung tersebut. Dia mengaku mengetahui informasi warung tersebut dari temannya yang pernah mampir di warung tersebut. Kebetulan ia suka dengan masakan belut. Kerena penasaran dia menyempatkan waktu untuk mencoba menu spesial belut sambal di warung tersebut.
"Ternyata pedesnya dahsyat, benar-benar dari cabe, " katanya, Selasa (9/6).
Menu belut di warung Pak Sunadi memang berbeda dari warung yang pernah ada. Bahan baku belut di warung pria yang merupakan anggota TNI berpangkat Kopral Kepala (Kopka) dan sehari-hari berdinas di Koramil 12 Ambal, Kodim 0709/Kebumen itu langsung diambil dari sawah. Dia memiliki tujuh orang kru yang khusus mencari belut di area persawahan.
Dalam sehari, warung yang buka antara pukul 09.00-21.00 WIB itu, rata-rata menghabiskan sebanyak 25-30 kg belut. "Kalau sampai kehabisan saja, saya terpaksa mengambil belut dari pasar," ujar Sunadi seraya menyebutkan sehari-hari warung tersebut dikelola istrinya, Ratmiyati (38).

Saat ditanya rahasia resep menu miliknya, bapak tiga anak itu tidak segan untuk berbagi. Termasuk dia mau memperlihatkan proses awal hingga sambal belut itu siap disajikan kepada konsumen. Mula-mula belut yang hasil perburuan itu dimatikan, lalu dikeluarkan isinya dan dicuci hingga bersih. Setelah itu belut kemudian dibakar.
Tidak sembarangan, api pembekaran bukan berasal dari arang melainkan dari kulit kelapa. Katanya, hasilnya tidak mudah gosong dan menghilangkan bau amis menjadi lebih gurih. Tidak cukup itu, setelah dibakar, kemudian hewan yang mengandung tinggi protein, vitamin A, kalsium, kolesterol, dan lemak jenuh itu digoreng hingga kering. Setelah tidak tampak sisa-sisa lebihan minyak yang menempel pada warna coklat garing si kulit, belut goreng itu kemudian diuleg dengan sambal yang telah disediakan dengan racikan resep yang dimilikinya.

"Menu belut sangat dipercaya memberi stamina seksual bagi pria maupun wanita," ujar pria yang pernah bertugas pada operasi Seroja di Timor-Timur itu. Penasaran, tidak ada salahnya mampir di warung Pak Sunadi, merasakan bagaiman lezatnya belut bakar dan sensasi pedasnya sambal spesialnya.***

Wednesday, May 27, 2009

Antara Saya & Kematian

Entah mengapa akhir-akhir ini saya seperti dipaksa melihat berbagai cara orang menghadapi kematian. Saking banyaknya, sulit untuk menghitungnya dan menyebutkan satu per satu bagaimana orang-orang (yang tidak aku kenal itu) meregang nyawa.

Saya juga terpaksa melihat jenazahnya yang ditemukan warga di sembarang tempat seperti seekor binatang yang ternistakan. Ada yang ditemukan warga membujur kaku di pinggir saluran irigasi dan dalam kondisi hampir membusuk. Baunya masya-Allah, membuat perut mual melebihi bau busuk apapun.

Adapula yang akhir hidupnya menjadi korban pembunuhan. Seperti belum lama ini, seorang laki-laki ditemukan mati dalam kondisi telanjangi dan ditenggelamkan di dalam bekas kolam ikan sebuah pekarangan. Sadis pula pelakunya. Selain mulutnya ditambal dengan plester, dua bagian tubuhnya diberi bandul berupa batu yang dimasukkan dalam karung "raskin". Mungkin hal itu dimaksudkan sebagai pemberat agar tubuh korbannya akan tengelam dan tidak diketahui orang lain.

Atau bahkan ada yang lebih sadis. Tubuhnya dimutilasi dan bagian-bagian dibuang di sejumlah tempat yang berbeda. Tidak jauh beda sebagian anggota tubuh korbannya itu juga ditengelamkan di dalam saluran irigasi teknis dengan diberi bandul pemberat agar tidak segera timbul. Adalagi orang yang dipanggil Tuhan dalam kondisi tubuhnya hancur karena tergilas kereta api. Entah karena kurang hati-hati saat menyeberang perlintasan tanpa palang, terlena karena tengah asyik maen handphone, atau yang tampak seperti sengaja mengakhiri hidupnya yang didera kemalangan.

Belum lama ini, seorang bapak, anak dan keponakannya mati secara bersamaan karena terlindas KA Argowilis yang memiliki bobot sekitar 237 ton. Suatu hari ada pula yang sengaja memilih mati dengan cara membakar diri di depan rumanya bersama sepeda motor kesayangannya.

Ada pula seorang pelajar yang mengakhiri hidupnya dengan ujung selendang milik ibunya. Ia ditemukan di pekarangan rumahnya saat aroma busuk mulai menyebar dari tubuhnya. Namun adapula pula yang menderita sakit bertahun-tahun sebelum ajal menjemputnya.Bahkan adapula yang mati tanpa diketemukan jasadnya. Barangkali tubuhnya sudah lenyap dimakan ikan dan hewan laut lainnya. Dia hilang di lautan, karena tenggelam bersama kapal tempat dia bekerja. Ada juga yang hilang saat mencoba mandi di pinggir pantai dan digulung oleh ombak laut selatan yang ganas.

Terkadang saya bertanya, mengapa saya diberi kesempatan melihat semua itu. Padahal sewaktu kecil, kata ibuku, melihat raungan mobil ambulance yang masuk desa saja aku langsung kaget dan jatuh sakit. Itu terjadi saat dua orang tetanggaku mengalami kecelakaan di jalan dan jenazahnya diantarkan ke rumah duka dengan sebuah ambulance.

Jika selama ini, saya diberi kesempatan melihat cara mati, menjadi berpikir bagaimana cara orang-orang yang saya kenal, atau orang tertedekatku. Bahkan aku sempat bertanya-tanya bagaimana cara Tuhan memanggil nyawaku. Apakah seperti si fulan yang mati di pinggir jalan menjadi korban tabrak lari, atau seperti seorang pekerja yang menghembuskan nafasnya saat masih di depan layar komputer, entah saat tengah main game solitaire atau asyik membuka facebook. Atau seperti salah satu tetanggku di kampung yang tertidur lalu tidak bangun lagi.

Saat mati pun ia seperti orang yang masih tertidur dan tengah bermimpi hal yang indah. Makanya ketika ingat itu, terkadang menjelang tidur saya sempat berpikir apakah saya akan bangun lagi. Alhamdulillah, sampai saat ini ketika umurkan sudah menginjak 29 tahun masih diberi kesempatan menjalani kehidupan dengan kondisi yang baik, sehat, meski tidak berlebih dalam materi.

Rejeki, jodoh dan kematian adalah takdir. Maka meski pergi pagi pulang malam, seperti waktu 24 jam sehari semalam terasa kurang untuk bekerja, pendapatan (saya tidak bilang rejeki) yang saya dapatkan hanya pas-pasan. Bahkan terasa kurang.

Lihat saja, berbagai keinginan untuk memiliki sesuatu harus menambung lama untuk terwujudkan. Bahkan dari daftar keinginan itu, dalam konteks materi hanya beberapa persen yang sudah terwujud. Kadang saya juga berpikir, jangan-jangan jatah saya dari Tuhan memang segini. Karena jika diberi yang sedikit berlabih akan lebih berdampak buruk lagi.

Tetapi mengapa penyakit merasa kekurangan, masih menghinggapi. Apakah saya ini termasuk orang-orang yang kurang atau tidak bersyukur? Sesekali sebagai hamba, saya sempat pula berdoa. Selain mendoakan orang tua, minta dijauhkan dari api neraka, dan di masukkan pada golongan orang yang bertaqwa, secara khusus meminta rejeki.

Meski sebenarnya saya malu, karena seperti anak durhaka yang minta dimanja oleh orangtua. Bahkan kadang-kadang saya berdoa seperti meminjam istilah Gus Mus (KH A Mustofa Bisri) "mendemontrasi" Tuhan. Meski tidak dilakukan beramai-ramai, maklum saya masuk kategori umat yang malas berjamaah; payah.

Kurang lebih mirip seperti doa mengancamnya Madrim dalam cerpen Jujur Prananto yang kini telah difilmkan. Lagi-lagi saya malu, untuk berharap Tuhan akan mengabulkan permintaan itu. Saya menjadi seperti orang Bashrah kini Irak yang bertanya kepada Ibrahim bin Adham tentang mengapa doa-doa mereka tidak dikabulkan?

Tokoh sufi yang termasyhur itu menjawab,"Hal itu dikarenakan hati kalian mati dalam 10 hal."Barangkali saya mengenal Allah, tapi tidak menunaikan hak-Nya. Barangkali aku sering membaca kitab Allah, tetapi tidak mengamalkannya. Barangkali aku mengaku mencitai Rosulullah tetapi tidak mengikuti sunahnya. Aku mengaku membenci setan tetapi ternyata selalu menyetujuinya.

Saya yakin mati itu pasti, tetapi ternyata tidak mempersiapkannya. Saya juga sering bilang takut neraka namun terus membiarkan diri terus menuju ke sana. Saya mendambakan syurga, tetapi tidak pernah beramal untuknya. Saya mungkin terlalu sibuk dengan aib-aib orang lain sampai mengabaikan aib sendiri. Ya, seperti yang aku kira, sering menikmati anugerah Tuhan namun tidak mensyukurinya.

"Kalian setiap kali mengubur jenazah-jenazah, tetapi tidak pernah mengambil pelajaran darinya," begitu jawaban ulama yang hidup sekitar abad VIII masehi itu membuat saya malu sendiri.

Kematian seseorang sebenarnya adalah bernilai pelajaran. Namun selama ini saya mungkin terlalu bodoh karena memadang kematian hanya sekadar memiliki nilai berita atau tidak. Orang yang meninggal dengan damai di rumah dan ditunggui anak istri cucu dan famili justru tidak pernah termuat dalam berita di surat kabar. Kalaupun dipaksa muat harus membayar puluhan juta karena harus memasang iklan duka cita.

Hari ini saya berpikir, dalam kematian yang indah itu ada banyak pelajaran yang menarik. Tidak mesti itu tokoh penting, pejabat negara, artis, ulama kondang. Bukankah manusia sama di hadapan Tuhan, dan sesungguhnya yang paling mulia di di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa tak peduli dia seorang fakir yang tinggal di kolong jembatan. Soal pensifatan orang bertaqwa diterangkan dalam QS Al Baqarah: 2-4 dan QS Ali Imran: 135-5. Ah, saya sudah seperti ustadz saja membawa-bawa dalil dalam celotehan ini.

Kembali pada soal kematian, saya masih akhirnya bersyukur mendapat kesempatan melihat banyak orang yang mati dengan cara-caranya tersendiri. Saya berusaha meski sulit tidak menjadikan kematian sebagai momok yang menakutkan. Seperti diajarkan para sufi, bahwa kematian begitu indah bahkan saat dengan dipenggal atau di tiang gantungan sekalipaun. Mati di jalan yang benar barangkali yang disebut kematian yang indah.Kematian adalah keniscahyaan. Semua orang bakal menghadapinya.

Sama seperti dunia yang fana, jabatan, profesi, kekuasaan tidak ada yang abadi. Sebuah syair Arab tampaknya cukup relevan saya ikut sertakan mengakhiri gerundelan saya, "Bila suatu ketika kau memikul jenazah ke kubur, ingatlah bahwa sesudah itu kau akan dipikul pula. Dan bila kau diserahi kekuasaan, ketahuilah suatu saat kau akan diturunkan/diberhentikan. (Wallahu A'lam)


Sunday, May 17, 2009

Yutuk, Makanan Khas Pesisir

UNDUR-undur laut atau yang biasa disebut sebagai yutuk atau wrutuk biasanya dipakai sebagai umpan untuk memancing. Namun, hewan laut itu juga bisa diolah menjadi penganan yang lezat. Namun yutuk yang digunakan sebagai bahan dasar makanan ini berbentuk lebih besar dibandingkan dengan yang dipakai untuk umpan memancing.

Yutuk biasanya diolah dengan cara digoreng dengan campuran tepung bumbu atau biasa disebut dengan peyek yutuk. Di sepanjang pesisir selatan Kabupaten Kebumen, terutama di kawasan objek wisata, peyek yutuk cukup digemari oleh wisatawan. Di sejumlah warung di pantai Bocor atau di pantai Suwuk peyek yutuk dapat dengan mudah dijumpai di sejumlah warung makan. Selain bisa langsung dimakan, peyek yutuk cukup enak untuk menemani makan nasi.

"Rasanya sangat gurih," ujar Hudiyanto (25) warga Krakal Kecamatan Alian saat menikmati Yutuk di salah satu warung di objek wisata pantai Suwuk, baru-baru ini.

Adapun cara pengolahan yutuk menjadi peyek yang siap saji cukup mudah dan praktis. Tidak jauh dengan membuat ayam goreng tepung atau udang goreng tepung. Yutuk diperoleh dari para nelayan seharga Rp 10.000/kg untuk yutuk yang keras dan Rp 20.000 untuk yang empuk.

"Setelah dicuci kemudian direbus hingga masak. Setelah itu ditiriskan yutuk dicampur dengan adonan tepung yang diberi bumbu. Setelah itu digoreng sampai kering," ujar Lehan (50) salah satu penjual peyek Yutuk.

Warga Dusun Suwuk Desa Tambakmulyo yang sudah berjualan yutuk selama lima tahun terakhir itu bisa menghabiskan yutuk sebanyak 30 kg dalam sehari. Maklum peyek yutuk buatannya itu bukan hanya dijual langsung kepada para wisatawan. Melainkan dia juga kepada para pedagang yang berjualan di objek wisata tersebut. Satu biji peyek di warung bu Lehan dijual Rp 750.

"Alhamdulillah, selama dua tahun terakhir pengunjung pantai Suwuk terus meningkat, sehingga penghasilan juga sedikit meningkat," katanya seraya menyebutkan peyek yutuk, dipercaya dapat membangkitkan selera makan.

Selain itu yutuk juga dipercaya memiliki khasiat. Berbagai hasil penelitian menunjukkan undur-undur laut mengandung lemak total yang cukup tinggi, berkisar antara 17,22 - 21,56 persen. Kandungan asam lemak omega 3 total (EPA dan DHA) juga cukup tinggi, berkisar antara 7,75 - 14,48 persen dibandingkan dengan beberapa jenis crustacea lain seperti udang, lobster, dan beberapa jenis kepiting.

Sedangkan kandungan EPA (6,41 - 8,43 persen) lebih tinggi dibandingkan kandungan DHA (1,34 - 6,57 persen). Dengan adanya kandungan asam lemak omega 3 yang dimiliki undur-undur laut diyakini dapat menaikkan kadar insulin dalam tubuh sehingga dapat menurunkan kadar gula bagi penderita penyakit diabetes. Walaupun sudah banyak terbukti khasiatnya tetapi undur-undur sebagai obat alternatif bagi penderita diabetes ini masih menjadi polemik didunia kedokteran hingga sekarang.

"Kalau paling ramai setelah hari raya Idul Fitri. Tetapi saat hari libur atau hari minggu, pengujung juga meningkat," katanya.***

Kelamin Ganda Damas Dwi Andika

DAMAS Dwi Andika (2,5) tampak riang saat bermain gambar-gambaran dengan kakaknya Aditya Fisga (5,5) serta beberapa bocah laki-laki lainnya di serambi rumah nenek buyutnya di Dusun Krajan RT 02 RW 03 Desa Kalirejo Kecamatan/Kabupaten Kebumen, Sabtu (16/5). Sebagaimana lazimnya anak-anak di usai yang lucu-lucunya, permainan mereka dibumbui dengan gelak tawa.

Sekilas tidak ada yang membedakan antara Damas dengan bocah-laki-laki lainnya. Dari pakaian yang dikenakan, tingkah polahnya yang lincah serta cara bertuturnya mengesankan bahwa bocah itu adalah berjenis kelamin laki-laki seutuhnya. Bahkan dalam akta kelahiran yang dikeluarkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kebumen, bocah kelahiran 29 September 2006 itu tertulis jenis kelamin laki-laki.

Namun siapa sangka jika anak kedua dari tiga bersaudara pasangan suami istri Ari Lukito (33) dan Maryatun (30) itu memiliki kelamin ganda (ambiguous genitalia). Pada awalnya orangtua bingung bagaimana memperlakukannya, apakah seperti anak perempuan atau laki-laki. Namun karena berbagai masukan, akhirnya bocah itu diperlakukan sebagai anak laki-laki.

Meskipun demikian, hingga kini, orang tunya masih ragu terhadap jenis kelamin anaknya yang sebenarnya. Ya, bocah yang terlihat cukup cerdas itu memiliki batang penis yang kecil sebesar buah mlinjo tanpa dilengkapi dengan testis. Namun anehnya di bagian bawah kemaluan tersebut terdapat sebuah lubang kecil berbentuk sayatan mirip lubang vegina pada seorang perempuan. Dari lubang itulah Damas melakukan aktivitas buang air kecilnya.

Kondisi tersebut, menurut Maryatun sudah diketahui sejak lahir yakni dari seorang bidang yang membantu persalinannya. Sebenarnya dia ingin sekali segera memeriksakan anaknya agar segera dilakukan penanganan. Namun karena kondisi ekonomi yang tidak mendukung, ia dan suaminya belum juga memeriksakan anaknya ke dokter maupun rumah sakit.

"Sebenarnya kami ingin segera memeriksakan ke dokter biar tahu janis kelamin anak saya sebenarnya. Sehingga kami tidak salah mengasuhnya," ujar Maryatun saat ditemui di rumah neneknya.

Maryatun mengaku sedih saat melihat anaknya mulai tumbuh besar. Bagaimana tidak, anaknya sudah mulai mempertanyakan terhadap kelainan yang ada pada dirinya. Dia pun hanya bisa tercekat saat anaknya bertanya mengapa punya dia berbeda dengan punya kakak dan teman-temannya.

"Saat mandi bareng sama kakaknya, Damas pernah bilang 'kok titit punya adek nggak sama ya?'. Saya sampai tidak menjawabnya," tutur Maryatun dengan mata berkaca-kaca.

Saat ini yang mereka lakukan adalah mencari informasi adanya pihak yang bisa membantu untuk melakukan operasi terhadap anaknya itu. Maklum dari informasi yang dia peroleh, biaya operasi yang harus dikeluarkan cukup besar. Maklum meski kondisi ekonomi keluarga masih kekurangan keluarganya tidak terdata dalam Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).

"Mudah-mudahan ada yang mau membantu untuk kesembuhan anak saya," harapnya.

Salah satu penyebab ambiguous genitalia menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen dokter H Dwi Budi Satrio MKes dikarenakan gangguan pada pertumbuhan sewaktu masih janin. Selain itu bisa juga dikarenakan faktor hormonal. Adapun penangannya terlebih dahulu harus dideteksi untuk mengetahui jenis kelamin yang sesungguhnya.

"Setelah itu baru dilakukan operasi sesuai dengan jenis kelaminnya tersebut," ujar dokter Budi Satrio seraya membenarkan perlu biasa besar mengingat operasi tidak cukup dilakukan hanya sekali.

Meski tidak merinci jumlahnya, dia menambakan, kasus balita dengan kelamin ganda bukan kali pertama terjadi di Kebumen. Menurut dia, upaya penanganan sebaiknya dilakukan tidak sampai menunggu anak menjadi besar. Diharapkan jika ternyata jenis kelamin anak sebenarnya berbeda dari sebelumnya, perlakukan anak bisa diubah.
"Kalau masih kecil perilaku anak masih mudah untuk dibentuk," tandasnya.***

Thursday, May 14, 2009

Perlawanan Petani Urut Sewu

RIBUAN petani di sepanjang pesisir selatan Kabupaten Kebumen yang tergabung dalam Forum Paguyuban Petani Kabumen Selatan (FPPKS) melakukan aksi demonstrasi di depan gedung DPRD Kebumen, Kamis (14/5). Aksi ribuan petani yang berasal empat desa di dua kecamatan yakni Desa Setrojenar, Brecong Kecamatan Buluspesantren dan Desa Entak serta Desa Petangkuran Kecamatan Ambal itu menolak daerah urut sewu dijadikan lokasi latihan dan uji senjata berat oleh TNI AD.

Massa aksi yang didukung elemen dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kebumen, Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) dan didampingi LBH YAPHI itu menyampaikan aspirasi terkait sengketa lahan antara TNI AD dengan warga yang belum mencapai titik temu.

Dalam pernyataan sikapnya, massa yang diklaim diikuti oleh 2.500 orang itu, menuntut kepada Pemkab dan DPRD Kebumen seta semua instansi terkait untuk mengambil langkah kebijakan untuk menutup pusat latihan TNI AD di wilayah urut sewu.

Para petani juga menolak uji coba senjata berat di urut sewu, menolak rencana penyempurnaan tata ruang dan tata wilayah Kebumen yang menjadikan wilayah urut sewu sebagai wilayah pertahanan dan keamanan. Dinas Penelitian dan Pengembangan (Dislitbang) TNI AD didesak segera memindahkan bangunan yang berada di atas tanah milik petani.

Ketua FPPKS Seniman didampingi koordinator aksi Paryono menjelaskan aksi para petani tersebut merupakan reaksi atas tindak lanjut dari Pemkab Kebumen menyelesaikan sengketa terkait tanah di daerah pesisir itu. Sebelumnya, perseteruan TNI AD dengan warga memanas saat TNI AD melarang warga mendirikan gapura yang dijadikan pintu masuk Pantai Setrojenar.

Kondisi tersebut diperparah dengan pernyataan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Agustadi SP saat melakukan ujicoba Alat Utama Sistim Senjata (Alutsista) di Dislitbang TNI AD. Pada waktu itu, KSAD menegaskan akan melakukan pematokan kembali wilayah latihan TNI antara Sungai Wawar hingga sungai Luk Ulo yang sebelumnya patok dirusak warga. Jika warga mencabut patok di daerah pesisir, TNI akan ditindak tegas.

"Latihan dan pengujian senjata berat yang dilakukan TNI mengakibatkan kerusakan tanaman milik petani. Sedangkan TNI seolah tutup mata atas kerugian yang dialami petani," kata Seniman di sela-sela aksi.

Aksi yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga pukul 13.00 itu berjalan cukup tertib. Rombongan warga yang diangkut sekitar 20 truk tersebut memulai aksinya di Jalan Soetoyo. Massa aksi yang mendapat kawalan ketat dari anggota Polres Kebumen dan Satpol PP itu kemudian melakukan aksi long march mengelilingi alun-alun dan berhenti persis di depan kantor kompleks Setda Kebumen.

Sepanduk bertuliskan "Stop Latihan TNI di Urut Sewu" dibentangkan di barisan paling depan massa. Para peserta aksi juga membawa berbagai poster, antara lain bertuliskan "Petani Bukan Tumbal Keamanan", Bikin lapangan Tembak Kok Rampas Hak Rakyat", "Petani Butuh Tanah Bukan Senjata" dan sejumlah poster lainnya yang intinya penolakan keberadaan pusat latihan TNI di kawasan itu.

Secara bergantian mereka melakukan orasi. Bahkan dalam aksi tersebut juga dilakukan pembacaan tahlil. Di tengah-tengah doa, nuansa haru menyelimuti para petani. Tidak sedikit para peserta aksi terutama kaum perempuan yang menangis saat dilantunkan doa. Satu orang peserta yang pingsan karena kelelahan.

Sementara itu, sejumlah perwakilan petani diterima audiensi dengan para wakil rakyat dan Pemkab Kebumen di gedung DPRD. Mereka ditemui langsung oleh Bupati Kebumen KH M Nashirudin al Mansur dan jajaran Muspida. Antara lain, Kapolres Kebumen AKBP Drs Ahmad Haydar MM, Komandan Kodim 0709 Letkol Inf Sidhi Purnomo, Ketua DPRD H Probo Indartono SE MSi. Tampak juga Kepala Perwakilan Dislitbang TNI AD Mayor Inf Kusmayadi.

Dalam kesempatan itu, Bupati KH Nashirudin menyampaikan, pada prinsipnya pihaknya menampung aspirasi dari warga. Namun persoalan antara warga dan TNI tidak bisa diselesaikan di tingkat daerah. Melainkan harus diselesaikan sampai tingkat pusat. Namun pihaknya berjanji akan membentuk tim untuk menyelesaikan kasus tersebut.

Meski menerima alasan dari Pemkab Kebumen, sejumlah perwakilan petani menuntut, selama persoalan itu belum diselesaikan, mereka meminta pihak TNI AD tidak melakukan aktivitas di kawasan urut sewu.***