About Me

My photo
If god has a permission, i just wanna be a prophet after muhammad. I even have an obsession tobe a god. But that dream has gone after i was born in this world.

Tuesday, September 13, 2016

Kecap Cap Kentjana, Sejak 1960 Menjaga Kualitas Rasa

Para karyawan mengisi kemasan botol kecap 70 ml.
KECAP sepertinya sulit untuk dilepaskan dari khasanah kuliner Nusantara. Kecap-kecap tradisional memiliki penggemar fanatik. Tak hanya fanatik terhadap merek tertentu, banyak penggemar kecap yang fanatik dengan kecap dari daerahnya. Tak heran jika hampir setiap daerah memiliki kecap manis andalan.
    Di Madiun ada kecap Cap Tawon. Orang Majalengka mengenal dua kecap legendaris, Maja Menjangan dan Segi Tiga. Sedangkan di Semarang, yang terkenal adalah kecap Cap Mirama. Palembang ada kecap Cap Bulan dan Cap Merpati, di Tegal orang mengenal merek Djoe Hoa. Makassar memiliki merek Sumber Baru dan Sinar.
    Masyarakat Kebumen memiliki kecap yang sudah menjadi ikon yakni Kecap Cap Kentjana. Kecap Cap Kentjana memiliki sejarah panjang dalam melezatkan kuliner Kebumen. Awalnya perusahaan itu didirikan oleh mendiang Cu Tian Kid dengan nama Perusahaan Kecap Kentjana pada tahun  1960. Saat pertama berdiri pabrik menempati sebuah rumah kontrakan di kampung Wonoyoso, Kebumen.
    Kemudian pada tahun 1970, pemimpin perusahaan dilanjutkan oleh anaknya Iwan Setiawan. Pada tahun 1980, dari Wonoyoso pabrik direlokasi ke Jalan HM Sarbini No 88C hingga saat ini. Regenerasi kepemimpinan terus berlanjut. Saat ini, Iwan Setiawan mulai menyerahkan kepemimpinan kepada ketiga anak perempuannya.

Memasang label kemasan 70 ml
    Lebih dari setengah abad, Kecap Cap Kentjana masih eksis melezatkan masakan masyarakat Kebumen dan sekitarnya. "Tagline sekali dirasa tetap disuka" tak sekadar isapan jempol. Buktinya kecap Kentjana masih tetap disukai konsumen secara turun temurun.
Meski demikian, perjuangan agar bisa bertahan juga tidak mudah. Selain harus bersaing dengan industri besar, perusahaan harus menghadapi harga bahan baku yang tidak murah seperti kedelai dan gula jawa.
    Tak ingin sekadar bertahan, Kecap Kentjana yang diproduksi oleh  CV Srikandi Makmur Sejahtera memilik visi menjadi perusahaan penghasil kecap  terdepan dalam skala nasional.  Untuk itu sejak berdiri tahun 1960 hingga sekarang, masih konsisten menjaga rasa. Meningkatkan kualitas baik dari sisi mutu produk maupun proses produksi.
    Dari sisi alat produksi, jika dahulu hanya produksi dilakukan secara manual, saat ini sudah menggunakan mesin. Kemudian dari sisi organisasi, jika awalnya adalah perusahaan perseorangan, mulai 15 September 2015 menjadi badan usaha dengan nama CV Srikandi Makmur Sejahtera. "Logo perusahaan pun sudah dipatenkan," ujar Drektur CV Srikandi Makmur Sejahtera Iwan Setiawan, baru-baru ini.
Usai dipasang label, kemudian dipacking.
Jaga Kualitas
    Iwan menjelaskan, sampai saat ini, pemasaran terbesar kecap Kentjana untuk memenuhi kebutuhan konsumen di wilayah Kebumen dan sekitarnya. Untuk mengatasi persaingan pasar,  kualitas produk menjadi yang utama. Salah satunya adalah menggunakan bahan baku yang alami.  Pihaknya menggunakan bahan baku utama yakni gula dan kedelai dari masyarakat lokal Kebumen.
    "Untuk bahan baku gula jawa terbaik diambil dari wilayah Petanahan dan Klirong," ujar Iwan Setiawan.
    Pihaknya berupaya menghadirkan produk yang berkualitas selalu menjaga higienis, halal dan bahan baku yang alami.  Konsisten menghasilkan produk dengan kualitas prima.
    "Kecap Kentjana memiliki rasa dan aroma yang khas. Kami menggunakan bahan baku alami mulai dari gula, kedelai dan rempah-rempah tanpa menggunakan bahan pengawet. Itulah yang membedakan kecap Kentjana dengan kecap yang lain," ujanya.
  
Direktur CV Srikandi Makmur Sejahtera Iwan Setiawan besama putri dan menantunya.
Kunci sukses perusahaan adalah perbaikan berkelanjutan dalam pelaksanaan sistem dan menjamin kesesuaiannya dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Sebagai perusahaan harus mau berkembang. Salah satunya dengan pengembangan sumber daya manusia perusahaan secara terus menerus agar mencapai tingkat kompetensi yang dibutuhkan.
    Saat ini Kecap Kentjana juga meraih prestasi sebagai Perusahan Menengah Terbaik I pada ajang Kebumen Bisnis Forum 2016. Prestasi lain adalah penghargaan Organisation With Outstanding Performance dari PT Total Quality Indonesia pada acara Quality Managemen System.
    Manager HRD Rio Wijaya Chriswandi menyebutkan, kendala terbesar yang dihadapi perusahaan saat ini justru  sumber daya manusia (SDM).  Pihaknya terkendala dalam melakukan rekrutmen SDM. Pasalnya generasi muda Kebumen lebih memilih untuk pergi keluar kota dibandingkan bekerja di Kebumen saja.
    "Kebumen sangat bagus untuk berinvestasi. Hanya saja perlu didukung dengan SDM. Selama ini masyarakat berpikir akan lebih baik jika bekerja di luar Kebumen. Pola pikir yang seperti itu perlu diubah agar iklim investasi bisa lebih baik  lagi," tandas Rio Wijaya Chriswandi. (***)
Kecap Kentjana


Monday, May 9, 2016

Potongan Surga Tersembunyi di Pesisir Kebumen


Indahnya gugusan bukit dan pantai selatan Kebumen.

INGIN beradu potensi pantai, Kabupaten Kebumen sepertinya tak tertandingi di Jawa Tengah. Bagaimana tidak, kabupaten yang berada di pesisir selatan Jawa itu memilik garis pantai sepanjang 57,55 kilometer. Garis pantai itu membentang mulai dari Kecamatan Mirit di sisi timur yang berbatasan dengan Kabupaten Purworejo sampai Kecamatan Ayah di bagian barat yang berbatasan dengan Kabupaten Cilacap.

Delapan kecamatan dari 26 kecamatan di kabupaten berslogan “Beriman” itu memiliki kawasan pesisir. Di Kecamatan Mirit memiliki Pantai Rowo  dan Pantai Laguna Lembupurwo. Di Kecamatan Ambal terdapat Pantai Ambal dan Pantai Bocor berada di Kecamatan Buluspesantren. Kemudian Pantai Tanggulangin di Kecamatan Klirong.

Asyiknya camping di Pantai Lampon.
Kecamatan Petanahan memiliki Pantai Tegalretno dan Pantai Petanahan dengan keindahan cemara lautnya menjadi pesona tersendiri. Kemudian di Kecamatan Puring, ada pantai Bopong dengan lagunanya yang menawan dan Pantai Suwuk yang saat ini dipoles habis-habisan dari aspek infrastruktur oleh Pemkab Kebumen. Di sebelah barat Pantai Suwuk, terdapat pantai yang sangat legendaris dengan aroma mistis, yakni Pantai Karangbolong di Kecamatan Buayan.

Adapun kecamatan yang paling banyak memiliki pantai yang indah adalah Kecamatan Ayah. Berbeda dengan pantai-pantai di kecamatan lain yang datar, pantai di Kecamatan Ayah sebagian besar berada di balik batu karang. Mengunjungi pantai-pantai itu laksana menyaksikan potongan surga yang tersembunyi di pesisir selatan.

Jika dahulu wisawatan hanya mengenal Pantai Logending, saat ini setiap desa di kecamatan itu berlomba-lomba mempromosikan pantai yang mereka miliki. Benar saja, sejumlah pantai yang dahulu tak dikenal, saat ini menjadi destinasi baru wisatawan. Di Desa Pasir, selain Pantai Pasir banyak pantai seperti Pantai Lampon, Pantai Surumanis dan  Tanjung Karang Pengantin.

Aktivitas nelayan menjadi pemandangan khas Pantai Pasir.
Sejumlah pantai nan eksotis terdapat di Desa Srati,  yang memiliki Pantai Pecaron dan Bukit Silayur yang aduhai. Salah satu pantai  yang saat ini sedang moncer di Kebumen ialah Pantai Menganti di Desa Karangduwur. Dengan pasir putihnya, pantai ini semakin dikenal tidak hanya masyarakat Kebumen tetapi popularitas keindahannya sudah dikenal hingga penjuru Nusantara. Belum cukup, pantai-pantai lain yang tak kalah indah adalah Pantai Pedalen dan Pantai  Karangagung di Desa Argopeni.

Dari sekian banyak pantai di Kebumen, hanya empat pantai yang dikelola oleh Pemkab Kebumen dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud). Yakni Pantai Logending, Pantai Karangbolong, Pantai Petanahan dan yang paling baru adalah Pantai  Suwuk. Selebihnya dikelola pemerintah desa setempat melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) bahkan sebagian lagi masih liar alias belum dikelola.


Pantai Menganti

Pantai Menganti, surganya para pemancin ikan.
Desa Karangduwur adalah salah satu desa yang sukses mengelola Pantai Menganti menjadi destinasi baru yang digemari wisatawan. Bahkan pada tahun 2015  pendapatan dari kawasan wisata Pantai Menganti ditaksir mencapai sekitar Rp 2,4 miliar.

“Pengembangan Pantai Menganti juga membawa dampak positif bagi perekonomian warga desa,” ujar Kepala Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah Basir kepada Suara Merdeka, baru-baru ini.

Selain Pantai Menganti,  Pantai Lampon di Desa Pasir juga menjadi pantai yang sangat menarik dikunjungi. Pantai yang sebelumnya tidak dikenal sebagai objek wisata, saat ini makin terkenal sebagai salah satu destinasi wisata.

Pantai Lampon ada yang menyebut sebagai pantai rahasia karena letaknya yang tersembunyi. Maklum lokasinya tertutup oleh perbukitan dan hiruk pikuk aktivitas nelayan Pantai Pasir. Pantai yang tidak terlalu luas ini berada di antara Pantai Pasir dan pantai Tanjung Karang Penganten.

Pantai ini berada di sebuah teluk sempit Pantai Lampon hanya memiliki panjang garis pantai tak lebih dari 100 meter dan lebar. Namun demikian suasana alami masih sangat terasa. Di pantai ini wisatawan dapat menikmati indahnya samudra Indonesia dari perbukitan.

Bahkan saat ini, pengelola wisata desa setempat menyediakan tenda bagi wisatawan yang akan camping di Pantai Lampon. Tidak sedikit wisatawan dari luar daerah yang melakukan camping untuk bisa menikmati matahari terbit atau sunrise di pantai tersebut.

Saat ini pantai tersebut dikelola oleh pemerintah Desa Pasir dengan nama "Wisata Wana Bahari Pasir Indah". Peresmian dilakukan oleh Wakil Presiden RI ke-6 Try Sutrisno, November 2015 lalu.


Poles Pesisir

Pemandangan Pantai Pedalen dilihat dari laut.
Sektor pariwisata menjadi salah satu perhatian Pemkab Kebumen di era kepemimpinan Bupati Kebumen Mohammad Yahya Fuad. Rencana pembangunan bandar udara (bandara) di Kulonprogo diyakini akan berdampak positif bagi Kebumen termasuk di bidang pariwisata. Untuk itu, Pemkab Kebumen sangat serius menggarap kawasan pesisir selatan untuk dipersiapkan sebagai kawasan wisata pantai yang menawan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kebumen Adi Pandoyo menyatakan, pada tahun anggaran 2017 mendatang Pemkab Kebumen akan mengalokasikan anggaran Rp 10 miliar untuk memoles pariwisata pesisir selatan. Anggaran tersebut untuk mendukung wisata pedesaan. Khusus desa-desa di Kecamatan Ayah mulai dari Desa Pasir, Srati, Karangduwur, Argopeni, Ayah, Jatijajar, dan Argopeni digolongkan dimasukkan pada zona pantai.

Terkait dengan pengembangan wisata di pedesaan di daerah pesisir, Adi Pandoyo menambahkan, Pemkab Kebumen akan membebaskan desa untuk berinovasi. Tugas Pemkab Kebumen tinggal mendorong dengan program dan kegiatan yang ada.

“Kami secara serius menyiapkan Kebumen menjadi tujuan wisata setelah bandar udara pindah di Kulon Progo dan jalur lintas selatan-selatan (JLSS) selesai dibangun,” ujarnya. ***

Tuesday, March 1, 2016

Merepih Keindahan Bukit Pentulu Indah



Merepih Alam (Foto: Ondo Supriyanto)
 WISATA alternatif di Kabupaten Kebumen benar-benar sedang bergeliat. Setiap desa berlomba-lomba memunculkan potensi wisata yang selama ini tersembunyi. Tidak hanya di pesisir selatan Kebumen menawarkan keindahan pantai-pantai yang masih perawan, di kawasan utara yang dikenal dengan Petai Sewu, pesona alam mulai menjadi magnet wisatawan.

    
Bukit Pentulu Indah adalah salah satunya. Objek wisata yang populer dengan nama Bukit PI tersebut berada di Dusun Dakah, Desa/Kecamatan Karangsambung. Kawasan wisata ini masuk area hutan negara yang dikuasai Perhutani khususnya wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kebumen.

Foto: Ondo Supriyanto
  Sejak tiga bulan lalu, kawasan ini dikembangkan oleh masyarakat sekitar menjadi wisata alternatif. Panorama alam yang indah dari atas ketinggian menjadi daya tarik objek wisata yang berada di antara hutan pinus tersebut. Dari atas ketinggian sekitar 300 mdpl, wisatawan dapat menyaksikan panorama alam yang menawan, terasering persawahan yang indah hingga merepih gugusan perbukitan kawasan cagar alam geologi Karangsambung.
  
Sahabat? (Foto: Ondo Supriyanto)
 
 Dari atas pohon yang disulap menjadi gardu pandang, pada pagi hari dapat dinikmati sunrise yang istimewa. Jika cuaca cerah, dapat terlihat matahari terbit di balik dua gunung kembar yakni Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang berdiri kokoh di arah timur. Tak heran, tidak sedikit pegunjung yang rela berkemah di lokasi tersebut untuk melihat pemandangan langka itu.
    
Di antara hutan pinus (Foto: Ondo Supriyanto)
Ya, keindahan alam itu didukung dengan masyarakat yang sadar wisata. Keramahan penduduk membuat pengunjung nyaman untuk berlama-lama di sana. Saat ini, pengunjung hanya ditarik uang jasa parkir Rp 2.000 untuk sepeda motor dan Rp 5.000 untuk mobil.
  
Naik Daun
  
Teruslah Tersenyum (Foto: Ondo Supriyanto)
 
Nongkrong di ketinggian (Foto: Ondo Supriyanto)
Objek wisata ini, menjadi salah satu destinasi favorit di kabupaten berslogan Beriman itu. Pada hari biasa, dalam sehari uang parkir yang diperoleh rata-rata mencapai Rp 300.000. Sedangkan untuk hari Minggu mencapai Rp 700.000. Lonjakan drastis diperoleh saat tahun baru lalu yang mencapai Rp 8,6 juta.
    Usai menikmati keindahan alam, jangan khawatir tidak jauh dari parkir kendaraan, berderet warung yang didirikan warga sekitar. Ada sekitar 15 pedagang yang selalu menyapa wisatawan mulai pagi hingga malam hari. Kelapa muda menjadi minuman favorit untuk menghilangkan haus setelah menurun puncak bukit. Tempe mendoan, bakwan, dan aneka makanan tradisional lain dijual dengan harga yang cukup murah.
    "Saya sudah tiga bulan ini berdagang di sini. Lumayan bisa tambah penghasilan," ujar Saminah (39) salah satu pedagang mengaku senang dikembangkannya kawasan itu menjadi objek wisata, Minggu (28/2).

Berbekal apel (Ondo Supriyanto)
Jika ada yang dikeluhkan adalah, akses jalan masuk ke lokasi wisata sekitar 1,5 km yang masih buruk. Jalan dusun yang berkelok-kelok tersebut kondisinya sudah rusak parah. Beruntung wisatawan diobati dengan pemandangan di kanan kiri yang menawan. Tak jarang wisatawan berhenti untuk berfoto, tak terkecuali di bekas area penambangan batu diabas yang sebagian sudah menjadi milik LIPI dalam hal ini UPT Balai Informasi dan Konservasi Kebumian (BIKK) Karangsambung.
    

Sejumlah warga berharap pemerintah daerah dapat mendukung pengembangan wisata desa dengan intervensi terhadap peningkatkan infrastruktur dalam hal ini akses jalan. "Kami berharap, jalan menuju lokasi wisata bisa diperbaiki," ujar Saminah. ***