Postingan

Pagi Istimewa di Punggung Merapi dan Merbabu

Gambar
BEBERAPA waktu terakhir banyak tempat saya kunjungi, tapi tak satupun catatan perjalanansaya tuliskan. Hanya foto-foto teronggok di hardisk laptop yang hampir tak menyisakan ruang kosong. Entahlah, bahkan untuk berbagi gambar di media sosial saja saya malas melakukannya.
Malam ini saya mencoba menuliskan sekelumit perjalanan saat mengunjungi  Desa Samiran, di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Sebuah desa wisata  di antara lereng Gunung Merapi dan Merbabu.
Saya bersama sejumlah jurnalis  dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Mukti Marandesa berkesempatan menikmati suasana desa di punggung Gunung Merapi dan Merbabu. Kunjungan itu difasilitasi oleh kakak Willy the Kids, teman, senior, dan komandan  yang memiliki motto “Jangan pernah lelah berbuat baik”.  Dia adalah AKP Willy Budiyanto SH MH, yang sekarang menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Boyolali.
Berangkat dari Stasiun Kebumen, pukul 12.17 WIB  kami menumpang Kereta Api Wijaya Kusuma Cilacap-Solo dan turun di Stasiun Purwosari sekir…

Jurnalisme Beradab

Gambar
PADA era jurnalistik digital, berkembang dua model perilaku jurnalistik. Pertama, adanya persaingan menyajikan berita secara cepat. Kedua, konsep bersaing mengutamakan kedalaman (indepth)yangmerupakan dekonstruksi terhadap konsep pertama. Kedua model itu merupakan pilihan yang bersifat manajemen. Kedua model itu sesungguhnya sudah menjadi pembahasan jurnalistik di era klasik , ketika media cetak masih maraja. Memasuki abad digital, dengan generasi yang terus bergerak dari milenial ke "generasi Z" untuk -- menandai angkatan kelahiran 1995 hingga 2010 -- praktik jurnalistik pun bergerak beradaptasi dalam memberi sajian kepada pembaca zaman now. Di tengah trend demikian, bertarung pula aneka kepentingan yang berebut ruang pemberitaan, baik politik, sosial, ekonomi. Tak terkecuali aspek primordi kehidupan yang sangat sensitif. Pertarungan itu benar-benar mengguncang moralitas etis jurnalistik. Beragam kasus etis yang menjadi wacana publik bermunculan; kecewa atas ketelanjangan keb…

Mengenang Teguh Twan, Si Pematung Monumen Kemit

Gambar
PAGI ini saya menerima kiriman gambar dari senior Pak Joko Waluyo melalui pesan pintar WhatApp. Isinya tentang kabar kematian seorang seniman, pematung, pelukis sekaligus pemahat, Teguh Twan (79).

Tahun 2011 lalu, saya pernah menuliskan kisahnya secara bersambung di media tempat saya bekerja: Suara Merdeka. 

BAGI sebagian warga Kabupaten Kebumen mungkin masih asing dengan nama Taguh Twan. Tetapi sebagian besar pasti sudah tahu hasil karyanya, paling tidak sering melihat bahkan mengaguminya. Ya, Monumen Perjuangan Rakyat Kemit di Grenggeng, Karanganyar ialah salah satu karya pematung dan pelukis senior yang sudah berusia 72 tahun itu.

Rabu, 5 Oktober pagi, saya berkunjung ke rumah seniman lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta tahun 1960 itu. Rumah kediamannya terletak persis di pinggir Jalan Pemuda No 33 Kebumen. Selain suara anjing yang menyalak, sebuah relief perempuan berambut panjang dan bertelanjang di tembok serambi seolah mengucapkan selamat datang.

Selain relief ter…

Kecap Cap Kentjana, Sejak 1960 Menjaga Kualitas Rasa

Gambar
KECAP sepertinya sulit untuk dilepaskan dari khasanah kuliner Nusantara. Kecap-kecap tradisional memiliki penggemar fanatik. Tak hanya fanatik terhadap merek tertentu, banyak penggemar kecap yang fanatik dengan kecap dari daerahnya. Tak heran jika hampir setiap daerah memiliki kecap manis andalan.
    Di Madiun ada kecap Cap Tawon. Orang Majalengka mengenal dua kecap legendaris, Maja Menjangan dan Segi Tiga. Sedangkan di Semarang, yang terkenal adalah kecap Cap Mirama. Palembang ada kecap Cap Bulan dan Cap Merpati, di Tegal orang mengenal merek Djoe Hoa. Makassar memiliki merek Sumber Baru dan Sinar.
    Masyarakat Kebumen memiliki kecap yang sudah menjadi ikon yakni Kecap Cap Kentjana. Kecap Cap Kentjana memiliki sejarah panjang dalam melezatkan kuliner Kebumen. Awalnya perusahaan itu didirikan oleh mendiang Cu Tian Kid dengan nama Perusahaan Kecap Kentjana pada tahun  1960. Saat pertama berdiri pabrik menempati sebuah rumah kontrakan di kampung Wonoyoso, Kebumen.
    Kemudian pada tah…

Potongan Surga Tersembunyi di Pesisir Kebumen

Gambar
INGIN beradu potensi pantai, Kabupaten Kebumen sepertinya tak tertandingi di Jawa Tengah. Bagaimana tidak, kabupaten yang berada di pesisir selatan Jawa itu memilik garis pantai sepanjang 57,55 kilometer. Garis pantai itu membentang mulai dari Kecamatan Mirit di sisi timur yang berbatasan dengan Kabupaten Purworejo sampai Kecamatan Ayah di bagian barat yang berbatasan dengan Kabupaten Cilacap.
Delapan kecamatan dari 26 kecamatan di kabupaten berslogan “Beriman” itu memiliki kawasan pesisir. Di Kecamatan Mirit memiliki Pantai Rowo  dan Pantai Laguna Lembupurwo. Di Kecamatan Ambal terdapat Pantai Ambal dan Pantai Bocor berada di Kecamatan Buluspesantren. Kemudian Pantai Tanggulangin di Kecamatan Klirong.
Kecamatan Petanahan memiliki Pantai Tegalretno dan Pantai Petanahan dengan keindahan cemara lautnya menjadi pesona tersendiri. Kemudian di Kecamatan Puring, ada pantai Bopong dengan lagunanya yang menawan dan Pantai Suwuk yang saat ini dipoles habis-habisan dari aspek infrastruktur oleh P…